Previous Chapter

"Dia tidak apa-apa. Karena itu kuyakin Sakura akan sadar."

"Sasori … boleh ku bertanya sesuatu?—tentang hubunganmu dan Gaara."

"Kau banyak pikiran—kutahu itu."

.

.

.

"Aku tahu namun aku tetap mencintaimu … Sakura."

"Aku adalah orang terbodoh di dunia ini yang mencintai calon adik iparnya sendiri."

"Sakura—kumohon bantu aku untuk menyelesaikan akhir dari ini semua. Akhir di mana kubisa memilikmu tanpa harus menyakiti Sasuke."

.

.

.

Naruto©Masashi Kishimoto

Gisei©Mizuira Kumiko

Rate : T+

Genre : Romance/Angst/Hurt-Comfort

Alternate Universe

Warning : OoC, GaJe, Typo's, rushing

.

Enjoy, Minna!

.

.

.

Pemuda itu sama sekali tak menyangka akan disudutkan oleh sesuatu yang di sebut dengan keputusan menyangkut hidup dan mati seseorang.

Perasaan—hati yang tersakiti bisa diibaratkan suatu benda yang apabila rusak, maka tidak ada gunanya lagi. Benda mati itu akan di buang dari pada dibiarkan merusak pemandangan.

Namun, hati manusia tidak bisa seperti itu. Jika hati seseorang sudah disakiti atau tersakiti maka hati yang sudah rusak itu tidak bisa di buang. Kalau pun bisa akan percuma saja karena pengganti hati itu tidaklah akan sama seperti yang pertama.

Dengan kata lain … jika kita sudah mencintai seseorang namun kita disakiti, kita tidak bisa membuang begitu saja perasaan cinta kita. Menggantinya dengan orang lain pun usaha yang sia-sia. Kalau pun bisa ingatan-ingatan di dalam kepala kita akan mengingatkan setiap sel di dalam tubuh kita akan perasaan tersebut.

Singkat kata … kita tidak bisa menghilangkan rasa cinta itu atau pun menggantinya dengan cinta yang baru.

Mungkin hal itu lah yang paling tepat untuk keadaan hati pemuda itu. Ia tidak bisa menghapus rasa cintanya pada wanita itu. Ia tidak bisa menghilangkan rasa cintanya pada wanita itu. Dan ia pun tidak bisa melepaskan rasa cintanya pada wanita itu. Dan ia tidak sudi untuk mencari pengganti posisi wanita itu dihatinya.

Pemuda itu sangat mencintainya melebihi dirinya sendiri.

Dan pada saat ia menyadari keberadaan cintanya di mana semuanya sudah terlambat. Cintanya telah meninggalkannya dan bersanding dengan pria lain. Dan pria lain itu adalah adik kandungnya sendiri

Apakah ini hukuman baginya? Pikir pemuda tersebut dan memejamkan kedua mata sembari menikmati embusan angin sore yang menerpa wajahnya dari tempat ia berbaring kini.

Ya, mungkin masalah yang kini menimpanya adalah hukuman yang diturunkan Tuhan padanya. Hukuman karena selama ini ia mengulur-ngulur waktu dan menyangkal perasaannya sendiri—bertahun-tahun lamanya.

Ah, pemuda itu pun bahkan tidak tahu kapan ia menyimpan rasa cinta ini pada gadis itu. Dan entah dari kapan juga ia berusaha menyembunyikannya. Dan karena tersembunyi itu lah kini perasaan itu tiba-tiba saja berontak di dalam hatinya dan meminta untuk meronta keluar sebagaimana mestinya terjadi beberapa tahun silam.

Pengecut.

Pemuda itu bahkan menjuluki dirinya sendiri seperti itu.

Ia terlalu pengecut sampai pergi menghindari cintanya sendiri.

Dikatakan pengecut mungkin bisa dikatakan jika pemuda itu mempunyai hati yang lembut. Jika tidak, apa arti 'diam' yang selama ini ia lakukan?

Ia hanya diam saat cintanya mulai menjauh. Ia hanya diam saat cintanya mulai memilih pria lain. Dan ia hanya diam sebagaimana ia mencintai gadis itu dalam keheningan hati.

Pemuda itu membuka kedua matanya saat di rasa ada kehadiran orang lain di dalam kamarnya. Serta merta ia bangkit dari acara berbaringnya di atas sofa yang menghadap tepat ke luar balkon. Ia melirik sosok yang berdiri dekat ambang pintu di dalam kamarnya dengan senyuman tipis di bibir. "Ada apa?" Tanyanya santai.

Beda halnya dengan sosok yang berdiri di ambang pintu tersebut. Sosok itu adalah Sakura yang kini sudah resmi menginap di kediaman Uchiha terhitung dari lima jam lewat sepuluh menit yang lalu. Wanita itu sesekali menunduk dan menatap ujung sandal kelincinya dengan wajah Itachi. Mungkin saja gadis itu sedang membandingkan wajah tampan Itachi dengan seekor kelinci. Ahaha.

"Sakura … " Itachi berjalan mendekat seraya tersenyum lembut pada wanita itu.

"Makan malamnya sudah siap. A-aku disuruh oleh Ibu untuk memberitahumu," ucap Sakura dengan intonasi yang begitu cepat membuat Itachi sedikit tidak mengerti.

"Aku mengerti." Itachi sama pintarnya dengan Uchiha Sasuke. Hal yang diucapkan buru-buru oleh Sakura bukanlah hal besar yang patut ia pikirkan jauh. Hanya perkataan simpel akibat dari rasa gugup yang berlebihan. "Ayo."

Dan Sakura hanya bisa terpaku saat Itachi menarik pergelangan tangannya dan melangkah keluar kamar. Dan membiarkan pintu kamarnya tetap terbuka.

Sakura sungguh bingung dengan apa yang dipikirkan oleh pemuda yang kini hanya terlihat bagian punggungnya saja. Dipikirkan seribu kali pun ia tetap tidak mengerti. Kenapa pemuda itu selalu bertingkah seolah hal yang terjadi beberapa jam lalu sebelum sampai di rumah ini adalah angin lalu?

"Aku bersikap seperti ini bukan karena menyepelekan masalah kita berdua."

Sakura tersentak saat tiba-tiba saja Itachi berkata sesuai dengan apa yang di dalam kepalanya beberapa detik lalu. "Aku …"

"Bisakah kau bersandiwara saat dihadapan Ibu dan Ayah nanti?"

Sakura langsung menundukan kepalanya dan menghentikan langkahnya. Karena tangannya yang di genggam oleh Itachi membuat pemuda itu juga ikut berhenti melangkah.

Itachi memutar badannya untuk menghadap Sakura dan menyentuh bahu kanannya. "Apa kau tahu jika selama ini aku hanya bersandiwara dihadapanmu … baik saat dihadapan Ayah-Ibu dan Sasuke?"

"A-apa …" Ucap Sakura yang seketika langsung mengangkat wajahnya. Terlihat sekali sorot mata emerald yang gadis itu miliki memerlihatkan keterkejutan. " … maksudmu?"

Tanpa berniat menjawab pertanyaan dari Sakura, Itachi langsung melengos pergi tanpa sekali pun menatap balik pada sepasang emerald yang kini masih menatap kepergiannya.

"Apa yang kau maksud dengan 'bersandiwara', Itachi?" batin Sakura dan menyentuh bagian dadanya dengan tangan gemetar.

Meski jawaban akan pertanyaan itu masih memenuhi setiap sudut di dalam benaknya, akhirnya Sakura memutuskan untuk menyusul Itachi pergi ke ruang makan. Karena di samping tidak ingin membuat keluarga Uchiha yang lain menunuggu lama, ia pun tidak ingin menimbulkan kecurigaan yang nantinya akan semakin menambah masalah yang tengah dihadapinya semakin pelik dan rumit.

Maka dengan hal itu akhirnya Sakura mulai kembali melangkahkan kedua kakinya menuruni setengah anak tangga untuk menuju bagian koridor kanan. Melewati bagian dapur maka kini ia sudah sampai di depan pintu ruang makan.

Ruangan yang didominasi oleh warna krem di mulai dari warna lantai marmer, kursi, gorden bahkan taplak meja pun memiliki warna yang serupa. Dan sesaat dirinya memasuki ruangan tersebut ia sudah di sambut dengan senyuman hangat oleh Mikoto.

"Kenapa kau lama sekali, Nak?"

Sakura berjalan secepat mungkin untuk membantu Mikoto menata meja makanan dengan piring-piring berisi makan malam mereka. Namun, karena ketidak hati-hatiannya Sakura tersandung sebuah kaki kursi dekat bak pencuci piring.

"Ah!" Pekik Sakura lumayan kencang yang membuat semua mata di sana mengarah padanya.

"Kau tidak apa-apa, Nak Sakura?" Tanya Fugaku yang hendak beranjak dari duduk santainya di kursi untuk membantu Sakura ketika tiba-tiba saja Itachi mendahului pergerakannya.

Sakura mengerang sakit ketika mencoba untuk berdiri. Dan wanita itu merasakan firasat buruk tiba-tiba menyerang hatinya. Entah bagaimana bisa ia memiliki perasaan seperti ini. Seperti bakal ada kejadian yang memperburuk masalahnya.

Karena terlalu memikirkan firasat yang didapatnya membuat Sakura tidak sadar ketika akhirnya ia merasakan tubuhnya terangkat dan melayang di udara.

"Eh?" Pekiknya terkejut dan menatap sepasang lengan kokoh yang melingkari punggung dan bawah lututnya.

Itachi berjalan santai dengan Sakura di dalam gendongannya.

Fugaku yang melihatnya hanya tersenyum dan Mikoto pun terkekeh kecil dengan tindakan anak sulung mereka.

Sedangkan Sakura hanya menunduk dengan wajah memerah sesaat Itachi sudah mendudukannya di atas kursi.

"Sepertinya kakimu terkilir," ucap Itachi yang tiba-tiba saja berjongkok di hadapan Sakura dan meraih pergelangan kaki kiri wanita itu.

"Kakiku baik-baik—aaakkkh!" Sakura tidak bisa lagi menahan rasa sakit ketika jemari Itachi menyusuri sekitar pergelangan kakinya.

"Apa perlu pergi ke rumah sakit?" Tanya Fugaku yang nampak khawatir ketika melihat raut kesakitan dari wajah Sakura.

Sakura langsung menggelengkan kepalanya dengan senyuman kecil di bibir. "Tidak usah. Aku bisa mengurusnya sendiri."

Fugaku mengangguk dan Mikoto pun kembali duduk ketika beberapa detik lalu akan berjalan meraih sebuah telepon yang tertempel di dinding untuk menghubungi dokter keluarga Uchiha.

Sedangkan Itachi sendiri masih tetap berjongkok sambil mengelus pergelangan kaki Sakura. Dan Sakura yang menyadari hal itu berdehem kecil untuk menutupi rasa malunya. "Sudah merasa lebih baik. Terima kasih, Itachi."

"Aa." Meski terlihat ada raut tidak suka dari wajah Itachi, namun pemuda itu mengerti ucapan Sakura dan menduduki kursinya kembali tepat disampingnya.

"Nah, mari kita makan. Dan untukmu Sakura … Ibu sudah memasakan makanan kesukaanmu malam ini. Habiskan yaaa!" Ucap Mikoto dan mendekatkan piring makanan kesukaan Sakura kehadapan wanita itu.

Sakura menelan ludahnya dengan keringat dingin. Bukan karena ia tidak suka dengan kehadiran makanan kesukaannya, namun melihat jumlah makanan dari piring itu ia ragu untuk bisa menghabiskannya semua seorang diri. Kalau pun ia berkilah untuk tidak menghabiskannya, sungguhlah ia merasa tidak enak pada Mikoto yang sudah bersusah payah membuatkannya.

"Aku akan membantumu menghabiskannya." Tiba-tiba saja Itachi bergumam rendah yang hanya dapat Sakura dengar membuat wanita itu sekali lagi di buat terkejut. Terlebih ketika sumpit yang di pegang oleh pemuda itu mendarat di piring makanan kesukaannya.

Sakura merasa jika Itachi selalu tahu apa yang sedang dipikirkan dan meresahkannya. Dan hal itu bukanlah sesuatu yang membuatnya senang melainkan … gundah.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Mikoto masuk ke dalam kamar tamu di mana Sakura akan tidur malam ini. Di kedua tangannya ia membawa sebuah ember kosong dengan ukuran kecil. Sedangkan ada sebuah kantung plastik hitam didalamnya. Sekilas saat ia berjalan ada asap kecil yang mengepul keluar dari dalam kantung plastik tersebut. "Apa masih terasa sakit?" Tanyanya sesaat sudah memasuki kamar Sakura.

"Sedikit … " Jawab Sakura yang perlahan menurunkan kaki kirinya ke bawah ranjang dengan hati-hati.

"Pasti sakit sekali …" komentar Mikoto dengan ringisan kecil di bibir.

Sakura bingung mau menanggapinya bagaimana lagi selain menganggukan kepalanya.

"Aku akan memindahkan keberadaan kursi itu ke tempat lain. Karena gara-gara itu kau tersandung sampai kuku jempolmu patah begitu."

Sakura merasa tidak enak hati pada Mikoto. Baru saja ia belum satu hari menginap di rumah ini sudah ada kejadian seperti ini.

Lalu, bagaimana kedepannya nanti? Pikir Sakura dengan helaan napas pendek.

Mikoto berjongkok di depan lutut Sakura dan menaruh ember kecil itu dihadapannya. Selanjutnya ia menuangkan sejumlah kecil air yang ia ambil dari dalam kamar mandi di dalam kamar itu dan mencampurkannya dengan bongkahan kecil es batu. Selagi membuat air itu menjadi dingin Mikoto mengambil tempat duduk di tepi ranjang dan mengusap pelan belakang kepala Sakura.

"Rasanya seperti mimpi."

"Eh?" Sakura mengerjapkan matanya beberapa kali saat memandang wajah Mikoto yang terlihat begitu bahagia dihadapannya. Dan dalam sekejap saja ada perasaan hangat yang mengalir dari dada ke hatinya. Begitu nyaman dan ia tidak ingin kenyamanan itu hilang untuk ia rasakan.

"Melihatmu ada di depanku rasanya seperti mimpi. Kupikir aku tidak akan pernah bertemu denganmu lagi. Kau tahu, Nak? Keinginan Ibu tidak pernah berubah sejak dulu."

"Keinginan?"

Mikoto mengangguk dan kemudian memeluk tubuh Sakura dengan usapan lembut di punggung wanita itu. "Aku ingin kau menjadi menantu Ibu."

Sakura mengigit bibir bawahnya untuk tidak terisak menangis. Meskipun kini air mata sudah meleleh keluar dari sudut-sudut matanya.

"Ibu ingin kau berada di tengah-tengah keluarga kami. Menjadikanmu bagian keluarga Uchiha adalah keinginan Ibu sejak dulu. Sejak saat pertama kali Sasuke membawamu ke rumah ini."

"Be-benarkah?"

Mikoto melepaskan pelukannya dan baru Sakura sadari jika kedua pipi wanita cantik itu juga basah akan air mata. "Benar. Bukan hanya karena kau adalah anak angkat teman baik Ibu, melainkan karena aku ingin sekali menganggapmu sebagai salah satu anakku. Satu-satunya anak perempuan yang aku punya, dan menjadi menantu pun tak jadi masalah. Intinya … Ibu ingin kau tinggal di rumah ini."

"Aku akan sangat bahagia sekali untuk mewujudkan keinginan Ibu. Dan sebenarnya Sasuke sudah … melamarku."

Mikoto nampak terkejut bukan main dengan ucapan Sakura. Ia terlihat begitu tak percaya sampai mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali.

Sakura mengangkat jemari kirinya dan menunjuk keberadaan cincin putih di jari manisnya. "Cincin ini adalah pemberian Sasuke. Maaf jika kami belum menceritakannya. Itu karena kami ingin membuat kejutan untuk kalian semua."

"Tch! Anak itu memang selalu suka seenaknya," desis Mikoto dengan wajah serius yang membuat Sakura terpaku kini. Sakura sama sekali tak pernah menyangka jika Mikoto bisa menampilkan ekspresi seperti itu diwajahnya.

Menyadari Sakura tiba-tiba menjadi diam, Mikoto segera merubah ekspresinya kembali. Ia menghapus kedua pipinya yang basah dan kemudian memberikan senyuman manis pada Sakura. "Jika kau sudah menerima lamaran Sasuke, itu artinya kau sudah menjadi bagian dari keluarga Uchiha. KYAAAAA~aku sudah tidak sabar untuk mengurus semua persiapan pernikahan kalian nanti."

Sakura tertawa garing melihat kini Mikoto heboh sendiri mengenai bagaimana baiknya pesta pernikahan itu digelar.

"Omong-omong, Sakura," ucap Mikoto seraya bangkit berdiri dan berjalan menuju pintu keluar kamar. "Apa Sasuke menghubungimu?"

"Eh?"

Mikoto berkacak pinggang seraya menghela napas kasar. "Kau tahu? Kadang Ibu merasa kesal dengan sikap tidak peduli Sasuke. Karena sampai sekarang dia belum menghubungi orang rumah mengenai keadaannya di sana. Jadi, apakah dia sudah menghubungimu?"

Senyuman di wajah Sakura beberapa saat lalu lenyap digantikan seraut ekspresi resah. "Sasuke … belum menghubungiku."

"Hmm … apakah menurutmu hal ini cukup aneh?" Tanya Mikoto seraya melangkah keluar kamar Sakura. Dan suara derap langkahnya pun kini mulai tak terdengar.

Di dalam kamar itu kini menyisakan Sakura seorang yang kini diam terpaku. Benar. Sakura berpikir cukup aneh bagi seorang Uchiha Sasuke untuk tidak memberikan kabar padanya. Biasanya, entah satu atau dua jam pemuda itu akan menghubunginya sekadar menanyakan dirinya sedang apa atau menanyakan apa ia sudah makan apa belum. Dan kini sudah satu hari penuh pemuda itu belum menghubunginya.

Sebuah miscalled tidak termasuk hitungan.

Sakura mengigit bibir bawahnya ketika lagi-lagi ada sesuatu yang membuat hati dan pikirannya gelisah. Dan perasaan itu datang selalu saat ia memikirkan soal Sasuke.

Menggelengkan kepala beberapa kali juga menepuk kedua pipinya Sakura mulai mencelupkan kaki kirinya ke rendaman air dingin. Saat detik pertama Sakura menyerngit kaget akan rasa dingin air itu. Namun, di detik-detik berikutnya sebersit rasa nyaman mulai merayapi pergelangan kakinya yang bengkak dan membiru.

"Sasuke … kau sedang apa di sana? Kenapa tidak menghubungiku?" Batin Sakura dan melemparkan punggungnya pada ranjang. Ia membiarkan kedua kakinya tetap berada di bawah. Dan di detik berikutnya kedua kelopak mata wanita itu menutup seiring pemilknya yang tenggelam dalam sebuah mimpi.

Pada saat ia membuka kedua matanya ia berada di suatu tempat asing namun hatinya seolah ia mengenal tempat ini. Keningnya mengerngit dan kedua matanya menyipit saat seberkas sinar masuk menembus retina matanya.

"Kau baik-baik saja, Sakura?"

Sebuah suara yang mengandung nada bertanya dan tersirat rasa khawatir itu menyerbu memasuki gendang telinganya. Sesaat ia diam dengan bibir terkatup rapat. Sebelah alisnya terangkat ketika mendapati ada sosok Gaara dihadapannya. "Gaara?"

"Hn." Pemuda yang dipanggil Gaara itu pun hanya mengangguk dan setelahnya menghela napas lega sesaat gadis dihadapannya ini bangun dari berbaringnya. "Kenapa keluar rumah saat kau sedang sakit?"

Gadis yang kini terduduk dihadapan pemuda itu hanya menyentuh keningnya dan juga memijit pelipis kiri dan kanannya bergantian. "Aku—kenapa bisa?"

"Kau pingsan di tengah jalan." Jawab Gaara pendek dan kemudian duduk tepat disamping keberadaan gadis tersebut. Ia mengeluarkan sebuah botol mineral dan satu kotak bekal makan siang yang dibungkus dengan kain lucu berwarna merah bermotif binatang panda. Ia kemudian membuka pembungkus kain bekal tersebut dan menyodorkannya pada gadis disampingnya beserta botol mineral miliknya.

"Ini … "

"Bekal yang kau siapkan untukku tadi pagi, dan aku sudah cukup kenyang untuk menghabiskannya."

"…"

"…"

"…"

Tak mendapat respon seperti yang diinginkannya pemuda bernama Gaara tersebut langsung mengambil sebuah onigiri berukuran kecil dan memasukkannya bulat-bulat langsung ke dalam mulut gadis tersebut. Tanpa bisa gadis itu cegah kini di dalam mulutnya penuh dengan nasi kepal.

"Dia bilang kau belum makan sejak pagi."

"Dia?"

Tuk!

Gaara mengetuk pelan dahi Sakura dengan jari telunjuk dan tengahnya. "Sudah makan saja. Dan habiskan, ingat!" Ucapnya tegas seraya mengacak-ngacak rambut gadis tersebut dengan senyuman tipis di bibir.

"Bagaimana bisa aku sampai ada di sini?" Tanya gadis tersebut seraya memandang sekeliling ditengah kegiatannya mengunyah makanan—membuat kedua pipinya yang sedang mengembung begitu terlihat menggemaskan.

Kini gadis itu tengah duduk berselonjor kaki di sebuah taman dengan alas sebuah rerumputan yang tebal. Pantas ia bisa tidur dengan nyaman jika alas tidurnya empuk seperti kasur king size dirumahnya.

Pemuda bernama Gaara tersebut nampak merengut terheran-heran dengan pertanyaan gadis tersebut. "Kau berjalan sambil tidur."

"Heh?" Gadis tersebut nampak membulatkan kedua matanya, seperti sangat begitu terkejut dengan kenyataan yang baru didengarnya.

Melihat wajah pucat yang kini menghiasi keseluruhan wajah gadis tersebut membuat Gaara langsung membenarkan ucapannya dan tidak main-main lagi. "Hanya bercanda."

"…"

"Kata dia kau berniat menemuiku di kampus, tapi saat di tengah jalan kau tiba-tiba saja pingsan. Dan tertidur seperti orang mati," ucap Gaara setengah mengejek di akhir kalimatnya.

"Enak saja kau bilang," ucap gadis tersebut tidak terima dan memukul keras lengan kanan pemuda tersebut. Kedua pipinya menggembung dengan rona merah di pipi. Membuat wajahnya nampak bulat seperti buah apel.

Karena rasa gemas, pemuda tersebut langsung menarik kedua pipi gadis tersebut berlawanan arah. "Rasakan ini," ucapnya dengan disertai seringaian kecil di bibirnya yang tipis.

"Ugh! Sa-sakit," erang gadis tersebut dan mencoba menjauh juga melepaskan tarikan pemuda tersebut pada pipinya. Setelah berhasil lolos ia langsung menangkupkan kedua tangannya pada kedua pipinya seraya mengerucutkan bibir. "Baka!"

Sedangkan Gaara hanya mendengus geli melihatnya.

"Seharusnya kau mengikuti sarannya. Jika kau ingin pergi keluar menemuiku, kau bisa memintanya untuk menemanimu. Kuyakin dia bersedia, karena baginya kau itu adalah—

"Dia yang kau maksud itu … sia—"

"Sakura."

Serta merta gadis itu menengokan kepalanya ke samping kanan kepada orang yang telah memanggil namanya, di mana kini dihadapannya berdiri sebuah siluet bayangan seseorang yang sosoknya membelakangi sinar matahari. Membuat Sakura harus menyipitkan mata untuk memperjelas siapa sosok tersebut.

Dari siluet itu terbentuk tubuh seorang pemuda yang tingginya hampir menyerupai Gaara. Selebihnya tidak ada. Bentuk wajah maupun gaya rambut pun tidak jelas.

"Siapa?" Bisik Sakura pelan.

"Aku … "

Sakura langsung membuka kedua matanya dengan napas tersengal. Banyak titik-titik keringat yang menghiasi dahi serta bagian lehernya.

"Maaf. Apa aku sudah membangunkanmu?"

Belum sepenuhnya sadar dengan arti mimpi yang dialaminya barusan, Sakura harus dikejutkan dengan kehadiran Itachi di dalam kamarnya. Sakura merasa cukup bingung dengan keadaan sekitarnya kini.

"Pintu kamarmu terbuka … " Itachi berkata dengan nada gugup meski sudah ia berhasil menutupinya dengan ekspresi wajah datar. Dan kedua mata onyx pemuda tersebut berusaha menghindar untuk tidak menatap sepasang emerald milik Sakura yang kini menatapnya.

Kebalikannya, Sakura sama sekali tidak menangkap ada nada gugup dari jawaban pemuda tersebut. Dan baru wanita itu sadari juga kini ia sudah dalam posisi benar berbaring di atas tempat tidur. Seingatnya, saat di awal ia membiarkan setengah tubuhnya menggantung kebawah karena kaki kirinya yang di rendam dengan air dingin.

Itachi yang menyadari kebingungan di wajah Sakura langsung menjelaskannya. "Terlalu lama di kompres dengan air dingin pun tidak bagus. Aliran darah dikakimu bisa membeku."

Mendengar jawaban Itachi sudah membuat Sakura mengerti dengan jelas. Karena melihat pintu kamarnya yang terbuka sehabis kepergian Mikoto dari kamarnya, pemuda itu datang mungkin untuk mengecek keadaannya. Dan karena ia sudah jatuh tertidur dan tanpa sadar kaki kirinya sudah terlalu lama direndam dalam air dingin, membuat pemuda itu berinisiatif untuk mengangkat kakinya dan juga membenarkan letak posisi tubuhnya agar berbaring dengan nyaman.

Dengan rasa malu yang sekali lagi dirasakannya, Sakura berucap terima kasih dan berniat mengambil selimut untuk menutupi tubuhnya. Ia akui udara pada malam hari untuk bulan ini begitu dingin.

Namun tangannya kalah cepat dari Itachi. Selimut itu sudah membukus seluruh tubuhnya dan menyisakan bagian leher ke atasnya. Perlakuan pemuda tersebut entah kenapa tiba-tiba saja membuat jantungnya berdebar kencang.

Dan debaran jantung itu kian menggila saat Itachi menundukan wajahnya. Dan tanpa bisa ia pikirkan apa yang sedang terjadi, bibirnya telah berada dalam kecupan hangat bibir pemuda tersebut. Ciuman ketiga mereka yang membuat keduanya lupa akan kehadiran seorang pemuda lain yang kini jauh dari mereka.

.

.

.

.

.

.

.

.

##Sacrifice##

Sampai menjelang pagi tiba Sakura sama sekali tidak bisa menutup matanya dan pergi tidur. Ini semua karena kejadian beberapa jam lalu. Mengingatnya membuat wanita itu langsung mengubur wajahnya yang memerah sempurna ke balik bantal dan menyembunyikan tubuhnya di dalam selimut.

Sebuah erangan tertahan meluncur keluar dari bibir Sakura. Entah, setelah kejadian tersebut apa yang mesti dilakukan olehnya. Tentu bersikap biasa saja tanpa memerdulikan atau memikirkan kejadian itu akan dilakukannya. Ia hanya perlu bersandiwara sebagaimana pemuda itu memintanya.

Tapi, wanita itu sekali lagi berpikir dan menimbang ulang sebelum melakukan hal itu. Jangan kira bersandiwara itu mudah—semudah membalikkan telapak tangan. Sebuah perasaan ikut terlibat didalamnya.

Dan harus Sakura akui jika kini perasaannya sungguh kacau-balau. Kepalanya begitu sakit memikirkan apa yang harus dilakukannya setelah ini.

Sakura meraba bibirnya sendiri dan lagi-lagi jantungnya berdebar begitu kencang. Ia sendiri pun tidak tahu apakah yang sedang dirasakannya ini. Tidak mungkin rasa yang kini memenuhi rongga dadanya adalah … cinta.

Dan tidak mungkin juga ia bisa jatuh cinta pada pria lain selain calon suaminya sendiri. Baginya Sasuke adalah satu-satunya cinta yang ia punya dan miliki sekarang.

Lalu, sebenarnya … bagaimanakah perasaan dirinya pada Itachi?

Apakah benar-benar cinta?

Rasa sayang?

Rasa kasihan?

Atau hanya sebuah kesenangan semata yang ingin dicicipi olehnya semenjak kepergian Sasuke?

Apakah itu artinya ia kesepian?

Segala pikiran berkecamuk di dalam hati dan kepalanya. Ditambah ia tidak tertidur setelah kejadian itu. Membuat kepalanya pening dan berdenyut sakit.

Sreett!

"Nak Sakura?" Tanya Mikoto yang sudah menarik pelan selimut yang menutupi keseluruhan tubuh Sakura.

Entah kenapa bisa, saat suara Mikoto terdengar membuat jantungnya berhenti berdetak selama satu detik dan ia menahan napas. Mungkin karena terkejut dengan kehadirannya yang tiba-tiba disaat pikirannya sedang tidak fokus.

"Ibu … "

"Kenapa bersembunyi dibalik selimut? Apakah kau kedinginan? Kau sakit?" Cerca Mikoto bertubi-tubi membuat Sakura bingung untuk menjawabnya.

Mikoto menaruh telapak tangannya pada dahi Sakura dan ia bisa merasakan suhu tubuh wanita tersebut yang berbeda dengan manusia normal pada umumnya. "Kau demam. Pantas saja wajahmu merah."

Bahkan Sakura sama sekali tidak merasa jika ia demam. Dan bahkan ia pun tidak merasakan jika suhu tubuhnya panas. Yang ia rasakan adalah wajahnya yang memanas dan detak jantung yang cepat saat ia mengingat kejadian itu.

Dan lagi-lagi sepertinya ia hanya merepotkan Mikoto soal demam yang dialaminya. Akhirnya Sakura mencoba untuk bangun dan menyibakan selimutnya. Ia menurunkan kedua kakinya ke bawah dan memaksakan untuk berjalan menuju kamar mandi.

Namun, sesaat sudah berdiri tubuhnya limbung dan ditahan oleh Mikoto.

"Sudah, berbaring saja. Demammu tinggi, Nak," ucap Mikoto khawatir melihat wajah Sakura yang begitu pucat disertai bulir keringat yang membasahi pori-pori kulit wanita itu.

Karena Sakura begitu merasa tubuhnya lemah tak bertenaga, akhirnya ia menuruti perkataan Mikoto dan juga membiarkannya membantunya untuk kembali berbaring.

"Tunggulah. Ibu akan membelikanmu obat. Dan sementara itu Ibu akan meminta Itachi untuk menemani dan mengawasimu."

Bagaikan terkena sambaran petir Sakura langsung membulatkan kedua matanya disertai keringat dingin. Bibirnya bergetar hendak mengucapkan sesuatu seperti kalimat bantahan jika ia tidak ingin ada Itachi berada didekatnya saat ini.

Namun, sekali lagi Sakura berpikir, apa akibat dari bantahannya tersebut?

Tentu, Mikoto akan bertanya kenapa demikian dirinya tidak ingin bersama Itachi. Dan ia sudah pasti tidak akan mampu menjawabnya atau lebih tepatnya ia tidak bisa. Ia tidak bisa menjawab dan menceritakan kejadian itu.

Karena Sakura berharap kejadian itu hanya diketahui olehnya dan pemuda itu saja. Akan gawat jika ada orang ketiga yang tahu. Terlebih orang itu adalah Mikoto, calon Ibu mertuanya sendiri.

"Apa ada sesuatu yang ingin kau makan?"

Pertanyaan dari Mikoto kembali membawa Sakura ke dunianya.

"Tidak ada, terima kasih."

"Ya, sudah. Istirahatlah!" Ucap Mikoto dan menepuk-nepuk dada Sakura dibalik selimut.

Setelahnya wanita berambut panjang hitam kebiruan itu melangkah keluar kamar Sakura. Dan tak jauh kemudian, Sakura dapat mendengar suara Mikoto tengah bersahutan dengan suara seorang pria. Yang begitu Sakura hafal siapa pemilik suara tersebut. Siapa lagi jika bukan Itachi yang tengah menjawab ucapan dan permintaan Mikoto mengenai menemaninya sementara.

Dan tak lama kemudian terdengar suara derap langkah kaki yang menuju kamarnya. Buru-buru Sakura menutup rapat kedua matanya dan mencoba untuk bernapas senormal mungkin. Dan juga menetralkan detak jantungnya yang kian meningkat sesaat ia bisa merasakan ada yang sedang duduk di tepi ranjangnya.

Dan setelahnya Sakura bisa merasakan ada sebuah tangan yang bermain-main diwajahnya. Ia merasa ada sapuan halus pada bagian sisi wajahnya. Dan kejadian itu berulang-ulang disertai desah napas orang yang kini duduk tak jauh di mana dirinya terbaring.

"Melihatmu terbaring sakit karena demam seperti ini … membuatku teringat akan kejadian yang sudah berlalu beberapa tahun silam."

Sakura hanya mampu mendengarkan tanpa bisa merespon apapun karena saat ini ia harus tetap berpura-pura sedang tidur. Dan sejujurnya wanita itu tengah kebingungan akan arti dari ucapan Itachi. Pemuda itu menyinggung soal dirinya beberapa tahun silam, yang itu artinya ia pernah mengalami kejadian yang sama seperti ini.

Pertanyaannya, kenapa ia tidak bisa mengingatnya sama sekali? Tidak, lebih tepatnya yang teringat itu samar-samar. Dan mengenai arti dibalik mimpi yang kemarin malam ia alami apakah ada hubungannya?

"Kejadian yang menimpamu saat ini persis sekali dengan kejadian waktu itu."

"Waktu kapan?" Batin Sakura bertanya.

"Kau yang terbaring lemah, dan aku yang duduk di sampingmu untuk menemani dan menjagamu. Apakah kau mengingatnya, Sakura?"

"Tidak. Aku tidak mengingatnya. Itachi, sebenarnya apa yang sudah terjadi diantara kita di masa lalu sebelum aku bertemu dengan Sasuke?" Sakura kembali bersuara di dalam hatinya. "Beritahu aku."

"Saat itu meski aku melarangmu pergi keluar, kau tetap bersikeras ingin pergi menemui Gaara dikampusnya. Tanpa kusadari kau melarikan diri dari kamarmu di saat aku terlelap tidur. Kau tahu? Saat itu aku begitu panik dan hampir menelpon polisi dan menyatakan kau hilang."

Itachi terkekeh kecil seraya masih memainkan ujung rambut Sakura dan sesekali mengusap pelan bagian samping wajah wanita itu.

"Dan kekeraskepalaan dirimulah akhirnya kau pingsan di tengah jalan. Beruntung aku segera menemukanmu dan segera menghubungi Gaara."

"Jadi … sosok pemuda yang sedang mengulurkan tangannya padaku di mimpi itu adalah … Itachi?" Batin Sakura yang kini merasakan dadanya sesak secara tiba-tiba.

Entah kebenaran apalagi yang akan terungkap dan entah bagaimana pula ia harus menyikapi kebenaran tersebut.

Sudah terlalu banyak kejadian yang terungkap di masa lalu kini dan menyisakan berbagai rasa di dalam hatinya. Ia sungguh kebingungan, bagaimana cara yang tepat agar tidak menyakiti Itachi maupun Sasuke? Namun, satu hal yang pasti yang kini Sakura pikirkan. Apakah cara tanpa saling menyakiti dan disakiti dalam sebuah hubungan itu … ada?

Yang jelas, Sakura tidak bisa memikirkannya untuk saat ini. Setidaknya tidak dalam keadaan suhu tubuh tinggi dan kepala berdenyut.

Dan pada akhirnya Sakura kembali jatuh terlelap dengan sejuta pertanyaan di dalam kepalanya mengenai hubungan antara dirinya, Itachi dan Sasuke.

Biarkanlah untuk beberapa jam saja ia bisa tidur nyenyak tanpa memikirkan beban apapun di atas pundaknya. Biarkanlah ia menikmati mimpi indah dengan hanya dirinya seorang saja di dunia mimpi.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Satu minggu adalah waktu yang sangat singkat, bahkan satu bulan pun akan terasa begitu cepat berlalu jika saja kita menikmatinya. Lain halnya dengan apa yang dialami oleh Sakura. Satu minggu bagaikan satu tahun lamanya. Dan satu hari bagaikan satu bulan, satu menit bagaikan satu jam dan satu jam bagaikan satu detik.

Katakanlah dirinya hiperbolis mengenai perumpamaan waktu yang dilaluinya. Namun, memang demikian hal itulah yang dirasakannya selama satu minggu penuh tinggal bersama di bawah naungan rumah kediaman Uchiha.

Bukannya ia tidak betah menghabiskan waktu dengan mengobrol, membantu membereskan dan merapikan sudut-sudut rumah atau bahkan merapikan isi gudang bawah tanah. Ah, dan juga jangan lupakan kegiatan berkebun yang dilakukannya bersama Mikoto Uchiha kemarin pagi. Kenangan dan pengalaman kedua yang dirasakannya saat berada di bawah terik sinar matahari langsung.

Ucapkan selamat tinggal pada demam yang dialaminya ketika beberapa jam menginjakan kaki di kediaman Uchiha. Terhitung ia tiga hari sakit, otomatis waktu yang bisa dipakainya untuk melalukan kegiatan yang sudah disebutkan diatas hanya berselang tiga hari saja.

Dan selang tiga hari itu juga Itachi selalu berada dekat dengan dirinya. Pemuda itu memberikan sebuah perhatian yang entah kenapa selalu berakhir menyakiti diri pemuda tersebut. Karena ia selalu menolak menerima perhatian dan kebaikan pemuda tersebut.

Alasannya sudah jelas karena ia berusaha menjaga jarak dengan Itachi. Keadaan yang membuatnya harus berperilaku demikian. Rasanya akan lebih baik jika dirinya dari mulai sekarang menjauhi Itachi dan berharap jika perasaan aneh yang dirasakannya pasca ketidakhadiran Sasuke menghilang dengan sendirinya. Dan tentunya ia harus melakukannya sebaik mungkin tanpa harus ketahuan oleh Mikoto. Di berbagai kesempatan Sakura selalu berusaha berdekatan dengan Mikoto yang dianggap oleh wanita itu adalah sebuah usaha dirinya untuk mendekatkan diri dengannya.

Sakura merasa ia jahat saat ini. Menyakiti Itachi beserta perasaan tulus yang dimiliki pemuda tersebut untuk dirinya. Namun, jika ia tidak berbuat hal seperti ini ia pun akan menyakiti hati Sasuke dan hatinya pun ikut terluka.

Mengorbankan perasaan seseorang tidaklah bisa kita lakukan secara mudah. Jika menyangkut soal perasaan, persoalan yang mudah pun akan menjadi sulit.

"Hahhhhh!" Sakura menghela napas lelah setelah memasukan potongan pakaian terakhir ke dalam tasnya. Setelahnya ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan dan sedetik kemudian sebuah senyuman kecil terpatri dibibirnya.

Kamar yang ditempatinya sudah rapi setelah ia membereskannya lima belas menit yang lalu. Kakinya yang terkilir pun sudah sembuh meski kadang masih ada denyutan kecil yang terasa.

"Sudah siap?" Tanya Mikoto di ambang pintu.

Sakura buru-buru menutup resleting tasnya dan mengangkatnya. Kemudian melangkah mendekati Mikoto dan keluar ruangan itu.

"Itachi akan—"

"Tidak perlu." Dan Sakura langsung merutuki dirinya karena terlalu cepat menjawab ucapan Mikoto. Dan kini wanita berambut biru dongker itu memasang wajah heran dengan sebelah alis terangkat ketika menatapnya. "Maksudku, tidak perlu repot-repot. Aku bisa meminta temanku untuk menjemput."

Mikoto masih menatap wajah Sakura dengan ekspresi tak terbaca. Ia menghentikan langkahnya dan menatap Sakura dengan tatapan serius. "Apa kau dan Itachi—"

Deg!

Seketika perasaa was-was merayapi hatinya. Mungkinkah Mikoto telah mengetahu ada sesuatu antara Itachi dan dirinya?

"—sedang ada masalah?"

"Ibu." Itachi memanggil Mikoto dari anak tangga bawah.

Mikoto mengalihkan pandangannya dari Sakura pada Itachi yang kini berjalan mendekati keberadaannya. "Kau sudah siap mengantar Sakura?"

"Sudah kubilang, Bu. Tidak perlu—"

"Aku akan tetap mengantarmu, karena aku yang menjemputmu saat itu."

Sakura langsung bungkam seketika setelah mendengar penuturan santai pemuda tersebut. Dengan memasang wajah dingin Sakura langsung pamit pada Mikoto dengan memberikan pelukan. Dan tanpa banyak bicara ia berjalan menuruni anak tangga tanpa memandang wajah Itachi.

Biarkanlah apa yang dilakukannya beberapa detik lalu membuat Mikoto heran dan membuat seraut ekspresi sedih tergambar di wajah Itachi. Ia sudah tidak peduli, rasa sesak dan bersalah pada keluarga Uchiha mulai menggerogoti hati dan pikirannya. Ia ingin segera bertemu dengan Sasuke. Ia ingin menenangkan diri di dalam pelukan Sasuke.

Tak disadari oleh wanita itu kedua pipinya sudah basah akan air mata.

Dan Itachi yang menyadari jika wanita yang dicintainya menangis hanya bisa mengepalkan kedua tangannya dan mencengkram erat bagian dadanya.

Tak tahu kah kau Sakura? Bukan hanya hatimu sajalah yang terluka. Tapi, jauh sebelum itu sudah ada hati lain yang begitu menderita menunggu kedatangan dan kehadiran sosokmu di dalamnya. Yang meski kini kehadirannya telah ada, tapi hati itu tak bisa dimiliki seutuhnya.

Karena mungkin setengah hati itu sudah kau berikan pada yang lain.

Itachi … orang yang selama ini hatinya terluka menunggu kehadiranmu.

##Sacrifice##

Kesunyian melanda perjalan di mana saat ini Sakura dan Itachi yang tengah berada dalam satu mobil. Melaju lurus dengan kecepatan sedang menembus udara malam hari yang begitu dingin.

Langit gelap gulita tak ada satu bintang pun yang menunjukan wujud terangnya. Mulai ada kilatan petir putih yang memecah gelapnya langit. Dan sudah mulai turun rintik hujan sebelum volume air itu bertambah menjadi hujan deras.

Sakura memalingkan wajahnya melihat keluar jendela. Seketika rasa dingin menyergap permukaan kulitnya sedingin suasana kaku yang tercipta disekelilingnya.

"Kenapa?" Itachi akhirnya bersuara seraya tanpa melirik wajah Sakura yang kini memandang ke arahnya.

"Apa maksudmu?"

"Kau menghindariku. Apa kau pikir aku orang yang bodoh tanpa bisa menyadarinya?"

"Perlukah aku menjawabnya, Itachi?" Sakura balik bertanya seraya kembali memalingkan wajahnya dan menatap benturan-benturan rintik hujan menerpa samping jendelanya.

Itachi tak menjawab selama beberapa detik. Namun, terlihat jika kedua tangannya yang sedang memegang stir kemudi mengerat membuat ujung-ujung jarinya memutih. Rahanya mengeras dengan bunyi gemeletuk gigi seraya menggigit bibir bawahnya.

Dan baru disadari oleh Sakura jika laju mobil yang sedang dinaikinya itu bertambah cepat. Ia segera mencengkram sabuk pengamannya dengan wajah panik bercampur ngeri. Kedua mata emerald-nya memandang was-was wajah Itachi yang sedang menahan amarahnya. "I-Itachi, bi-bisa kah—"

"Aku tidak bisa."

"Itachi—pelankan mobilnya."

"Tidak akan."

"Demi Tuhan, ada apa denganmu?" Sakura akhirnya sedikit meninggikan suaranya dan mencengkram bahu Itachi.

Itachi segera memandang wajah Sakura dengan pandangan tajam. "Katakan kenapa kau berusaha menghindariku? KATAKAN, SAKURA!"

"Karena aku tidak ingin menyakitimu lebih dari ini."

Sakura hanya bisa membulatkan kedua matanya saat tiba-tiba saja Itachi kembali menambahkan kecepan laju mobilnya tanpa memandang ke depan dan malah masih menatapnya. Dan selanjutnya terdengar suara tawa dari bibir pemuda tersebut.

"Kau sudah menyakitiku jauh sebelum ini. Lalu, untuk apa kau berhenti? Meski pun seperti itu aku tidak akan menyerah. Aku akan mendapatkamu apapun yang terjadi."

Sakura menggelengkan kepalanya dengan derai aliran air mata yang membasahi pipinya. Ia merasa yang kini sedang tertawa dengan wajah dingin dihadapannya ini bukanlah Itachi.

"Apa yang terjadi padamu … Itachi?"

Masih tetap memandang Sakura dan menambah kecepatan mobilnya Itachi terkekeh kecil mendengar pertanyaan dari wanita bersurai merah muda itu.

"Kau benar-benar wanita jahat. Kau sengaja melupakan kehadiranku di masa lalu dan menggantinya dengan kehadiran adikku."

"Apa maksudmu?"

"Memang bukan kesalahanmu sepenuhnya, setengahnya adalah kesalahanku sendiri. Jika saja aku tidak pergi saat itu mungkin kau akan bisa lebih mudah memutuskan siapa yang pada akhirnya akan bersamamu. Dan jika saja penyakit sialan itu tidak menggerogoti tubuh Gaara maka seharusnya saat-saat ini tidak akan terjadi."

Sakura semakin membulatkan kedua matanya ketika mendengar nama Gaara disebut oleh Itachi. "Bagaimana kau bisa tahu tentang Gaara?"

Ckiiiittttt!

Itachi langsung mengerem mendadak dan membuat tubuh keduanya terdorong ke depan. Beruntung ada sabuk pengaman yang menahan tubuh keduanya untuk tidak terdorong keras ke depan dan menghantam kaca mobil.

"Turunlah! Sudah sampai."

Meski sudah mendengar ucapan Itachi, Sakura bergeming di tempat duduknya tanpa berniat untuk turun.

"Apa yang kau tunggu?"

"Kau mengenal Gaara?" Sakura bertanya seraya membuka sabuk pengaman dan memajukan tubuhnya mendekati Itachi. Kedua tangan mungilnya mencengkram bahu Itachi.

Itachi hanya terdiam dengan bibir terkatup rapat, meski pandangan matanya bersiborok dengan emerald milik wanita bersurai merah muda yang kini memandangnya dengan sorot mata tegas.

"Kenapa kau diam saja? Cepat jawab perta—"

Set!

Itachi balas mencengkram kedua bahu Sakura dan semakin merapatkan diri pada wanita bersurai merah muda itu. "Perlukah aku menjawabnya?"

Membalikkan pertanyaannya yang pernah diucapkan oleh Sakura, dan tanpa bisa menghindar kini Sakura terperangkap dalam dekapan Itachi. Dan pemuda itu kembali mencium bibirnya. Kali ini lebih intens dengan campuran kegiatan menjulurkan dan melilitkan lidah.

Itachi mencium bibir Sakura penuh dengan keposesifan dan keagresifan yang kini baru wanita itu rasakan.

Sakura mulai berontak dengan mendorong dada Itachi namun hal itu malah membuat Itachi melakukan lebih padanya dengan meremas helaian rambutnya dan dorongan pada tengkuknya.

Dan pada akhirnya Sakura menggigit bibir bawah Itachi agar ia bisa terlepas. Hal itu berhasil membuat Itachi refleks menghentikan ciumannya. Sakura segera mengangkat tangan kanannya dan mendaratkan telapak tangannya pada pipi Itachi.

PLAAAKKK!

Sakura menamparnya begitu keras membuat ruam kemerahan langsung tercetak jelas di pipi kiri Itachi. Dengan napas tersengal, wajah memerah, rambut berantakan serta bagian bibir yang sedikit bengkak, Sakura segera keluar dari mobil beserta menarik kasar tasnya. Dan tanpa berniat menutup pintu mobil wanita itu berlari menembus hujan untuk masuk ke dalam apartemennya.

Menyisakan Itachi di dalam mobil seorang diri yang kini nampak terlihat shock saat menyadari kesalahan fatal yang telah dilakukannya. "Sial!" umpatnya kasar dan memukul dashboar mobilnya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sakura terus berlari dengan tubuh basah kuyup. Segaris aliran air mata masih mengalir dari matanya dan sebuah isakan kecil mengalun sedih dari bibirnya. Mengindahkan tatapan bertanya orang-orang pada keadaannya Sakura segera naik lift dan menakan tombol nomor lantai di mana apartemennya berada.

Dengan tubuh gemetar dan kedua lutut lemas, Sakura menabrakan bagian punggungnya pada dinding lift seraya memejamkan kedua matanya erat. Sedetik kemudian tubuhnya merosot jatuh terduduk dengan kepala tertunduk dalam. Dan tetesan air berjatuhan dari ujung-ujung rambutnya.

Ting!

Pintu lift sudah terbuka menandakan ia sudah sampai di lantai di mana tujuannya. Tapi, tubuh Sakura sama sekali tidak bergerak untuk berdiri. Ia masih tetap jatuh terduduk dengan kedua bahu gemetar.

Dan wanita itu tak menyadari ada sosok pemuda berbadan tegap yang berdiri mematung melihat kearahnya dengan sorot mata onyx khawatir. "Sakura?" Ucapnya dan segera masuk ke dalam lift menghambur memeluk tubuh rapuh wanita yang dicintainya.

"Sa-su-ke?"

"Apa yang terjadi? Kenapa kau seperti ini?"

Bukannya menjawab pertanyaan dari Sasuke, Sakura langsung memeluk erat tubuh pemuda tersebut dan menangis kencang. Membuat Sasuke kebingungan dengan apa yang harus dilakukannya. Dan pada akhirnya Sasuke segera menggendong Sakura di depan tubuhnya beserta membawa tasnya keluar dari lift.

Pemuda itu sama sekali tidak tahu hal apa yang dialami oleh Sakura sampai membuatnya menangis kencang seperti ini. Ia baru saja tiba sekitar sepuluh menit yang lalu ke apartemen ini. Ya, tentu ia kembali ke Jepang secara diam-diam tanpa sepengetahuan siapa pun termasuk asistennya.

Segudang perasaan rindu menyergap hatinya yang haus akan kehadiran Sakura di sisinya. Karena itu ia memutuskan untuk menemui Sakura dan datang diam-diam tanpa memberitahunya kalau ia sedang menunggu di dalam apartemennya. Ini adalah salah satu bentuk kejutannya darinya untuk Sakura.

Namun, sekarang terjadi yang sebaliknya. Ia dikejutkan dengan keadaan yang dialami oleh Sakura.

"Katakanlah padaku Sakura! Apa yang membuatmu tampak berantakan seperti ini?" Ucap Sasuke di tengah perjalanan dirinya menggendong Sakura di dalam dekapannya.

Hanya diam.

Sakura sepertinya sama sekali tidak mau menjawab pertanyaan dari Sasuke yang lagi-lagi memikirkan jawabannya saja sudah membuat hatinya sesak. Tubuh dan pikirannya lelah. Dan dekapan hangat serta kehangatan yang disalurkan oleh lengan kokoh yang menahan berat tubuhnya ini begitu ia sangat rindukan dan inginkan.

Dan Sasuke sendiri hanya bisa menghela napas dan menelan kekecewaan tak mendapat jawaban dari bibir calon istrinya tersebut. Bukan hanya karena rasa rindu yang menggerogoti hatinya untuk segera menemui Sakura, melainkan ada hal lain yang ingin ia tanyakan dan pastikan jawabannya.

Tetapi, melihat keadaan Sakura kini membuat Sasuke urung mengutarakan maksud kedatangannya ke Jepang dalam waktu singkat dan diam-diam. Pria itu akan menunggu disaat di mana waktu yang tiba di mana dalam keadaan Sakura yang lebih baik.

Biarkanlah saat ini ia membiarkan Sakura menumpahkan segala kesedihannya dalam bentuk air mata yang pastinya akan membantu membuat ia merasa lega.

.

.

.

Sasuke tiba di depan pintu apartemen Sakura dan pintu itu terbuka setelah Sasuke memasukkan kunci pada lubang kunci pintu tersebut. Mendorong dengan kaki kanannya, Sasuke melangkah masuk tanpa perlu menguncinya. Karena memang hal tersebut juga tidak memungkinkan. Membuka pintu saja susah apalagi harus menutupnya. Kedua tangannya dipakai untuk mendekap Sakura.

"Aku ingin ke kamar saja."

Lama tak bersuara dan hanya diam akhirnya Sakura membuka suaranya meski itu bukan jawaban melainkan permintaan tolong.

Tanpa banyak bicara Sasuke membawa Sakura ke dalam kamarnya setelah sebelumnya melempar sembarang tas bawaan wanita itu ke atas sofa.

Lantas ia menidurkan Sakura ke atas tempat tidur. Dan baru disadari oleh pria bermata onyx tersebut jika seluruh tubuh Sakura basah kuyup. Mendesah pelan Sasuke hanya menyeka bekas air mata di pipi Sakura. "Kau dari mana?"

Sakura lagi-lagi hanya diam tak menjawab dan malah membimbing tangan kanan Sasuke yang menganggur di samping tubuhnya ke pipinya. Dan wanita bersurai merah muda tersebut langsung menutup kedua matanya sambil menggumam kata 'hangat'.

Perlakuan yang diperlihatkan oleh Sakura langsung membuat sebuah senyum hangat terlukis di bibir Sasuke. Ia menatap intens wajah Sakura yang mengkilap karena basah oleh air hujan dan air matanya.

Perhatiannya teralihkan pada leher jenjang Sakura yang tertempel banyak helaian rambutnya. Dan pandangannya terus meluas pada seluruh tubuh wanita tersebut yang di mana pakaian yang dikenakannnya melekat erat mengikuti seluruh lekuk tubuhnya.

Tak disadari olehnya sendiri pemuda tersebut menelan ludahnya gugup. Ia segera menggelengkan kepalanya saat sepintas pikiran liar mengisi isi kepalanya. Berniat untuk mendinginkan isi kepalanya Sasuke segera menarik pelan tangannya yang berada pada pipi Sakura.

Gerakannya yang tiba-tiba tersebut membuat Sakura langsung membuka matanya dengan tatapan sedih.

"Sasuke?" Ucap Sakura dengan nada bertanya dan akhirnya beranjak duduk menghadap pemuda tersebut.

"…" Sasuke hanya terdiam dan memerhatikan saat bibir kecil milik wanita itu bergerak mengucapkan namanya.

Sakura mengerutkan keningnya ketika menyadari jika Sasuke berkali-kali meneguk ludahnya disertai raut tersiksa di wajahnya. Dan ketika ia memerhatikan lebih dalam ke dalam mata onyx-nya ada sebuah rasa haus akan sesuatu. Mengikuti gerak bola mata Sasuke yang menatap tubuhnya dan kembali memalingkan muka membuat wanita itu langsung paham.

Dengan kedua pipi yang bersemu merah Sakura langsung melingkarkan kedua lengannya pada leher Sasuke dan berbisik ditelinganya. Suaranya yang serak karena sehabis menangis terdengar begitu seksi di dalam pendengaran Sasuke. "Kau menginginkannya?"

Sasuke sangat terkejut ketika mendengar penuturan langsung Sakura. Ia malu untuk mengakuinya namun hal itulah yang memang dari tadi menyiksa pikirannya.

"Kenapa kau tidak menjawabnya, Sasuke?"

"…" Sasuke masih terdiam seiring dengan deru napasnya yang semakin berat. Dan irama jantungnya berdetak begitu kencang seiring desiran asing yang begitu memabukan mengalir disetiap aliran darahnya kini.

"Kutahu kau menginginkannya … karena itu … "

"…"

"…"

"…"

"… akan kuberikan."

Dan pertahannya sebagai seorang pria runtuh sesaat Sakura mengakhiri penuturannya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Itachi memandang ragu tangan kanannnya yang berada di gagang pintu. Hati dan pikirannya sedang menimbang apakah hal yang dilakukannya ini adalah keputusan yang baik dan tepat apa tidak. Kejadian tidak mengenakan yang terjadi antara dirinya dan Sakura masih membekas dengan jelas di dalam ingatannya. Terang saja, kejadian itu terjadi baru berselang sekitar sepuluh menit yang lalu.

Dan disinilah pemuda itu berada kini. Berdiri kaku di depan pintu apartemen Sakura dengan berperang melawan pikirannya. Tetesan air nampak berjatuhan di bawah kakinya yang berasal dari ujung jaket yang dikenakannya. Rambutnya lepek karena basah. Keadaan pemuda itu sama seperti Sakura, basah kuyup karena terkena derasnya air hujan di luar sana.

Menghela napas kecil seraya memejamkan mata barang sebentar akhirnya pemuda itu mendorong gagang pintu tersebut ke dalam.

Sekilas ada kernyitan didahinya ketika membuka pintu. Pemuda itu berpikir betapa cerobohnya Sakura untuk tidak menutup pintunya apartemennya, dan baru disadari olehnya juga jika kunci apartemen ini masih menggantung pada lubang kunci.

Merasa sangat khawatir dengan keadaan Sakura kini karena disamping akibat dari kejadian tidak mengenakan tersebut Itachi segera berjalan cepat memasuki apartemen tersebut. Kedua mata onyx-nya menyipit memerhatikan sekeliling ruangan yang sepi di depan matanya.

Dan saat ia mencoba melangkah lebih jauh lagi ke dalam ia mendengar sesuatu. Seketika pirasat buruk memenuhi rongga dadanya dan membuatnya sesak;sakit. Jantungnya pun entah kenapa mendadak memompa dengan cepat darahnya membuat tubuhnya lemas seketika.

Mengabaikan pirasat buruk tersebut, Itachi kembali melangkah mendekati asal suara tersebut.

"S—Sasukeee~"

DEG!

Itachi tertegun di depan pintu kamar Sakura. Meski ia tidak ingin melihatnya, meski hati dan pikirannya menolak untuk tidak melakukannya. Tapi, kini tangannya terjulur memegang knop pintu dengan gemetar. Tanpa menimbulkan suara decitan pintu yang terbuka pemuda itu melakukannya. Ia mendorong pelan pintu tersebut, tak sampai semua. Hanya baru sepereempatnya saja sudah membuat jantungnya serasa ditarik kuat untuk meninggalkan rongganya. Begitu sakit dan perih.

Kedua mata onyx-nya terbelalak lebar memerlihatkan keterkejutan. Bibirnya bergetar melihat pemandang di depan matanya. Kedua lututnya lemas bukan main.

"Sasukeee~"

Itachi memundurkan langkahnya dengan pelan dan kemudian membalikkan badannya. Berjalan dengan sorot mata kosong meninggalkan pintu yang di mana didalamnya memerlihatkan adegan dimana membuat hatinya remuk seketika.

Setelah berdiri diluar pintu apartemen Sakura, pemuda itu jatuh terduduk dengan setitik air mata yang membasahi pipinya. Rasanya saat itu juga ia ingin mati ketika melihat atau pun mengingat saat dimana wanita yang dicintainya tengah disentuh oleh pria lain.

Dan pria lain tersebut adalah adiknya sendiri. Ia terlambat. Sudah terlalu terlambat untuk meraih cintanya.

Haruskah ia menyerah saat ini juga? Setelah selama ini ia bersabar dan berusaha? Setelah sekian lama kehadirannya di sisi wanita itu meski secara sembunyi-sembunyi?

Ya, sudah pasti ia harus menyerah. Sudah tidak ada harapan lagi untuknya mendapatkan hati Sakura. Sudah tidak ada kesempatan lagi untuknya. Ia harus merelakannya.

Lalu, pertanyaannya apakah ia mampu melakukannya?

Tentu tidak.

Itachi mencengkram sisi kepalanya dan derai tawa kecil mengalun dari bibirnya.

Benar. Pemuda itu harus menyerah dan membiarkan adik kandungnya berbahagia dengan wanita yang dicintainya.

Beranjak berdiri dari depan pintu apartemen Sakura, pemuda itu kembali berjalan dan memasuki lift. Ia memandang pantulan menyedihkan dirinya pada kaca.

Seperti manusia yang tidak memiliki jiwa, pemuda itu keluar dari dalam lift dan masuk ke dalam mobilnya. Di dalam mobil ia kembali terdiam seraya mulai memasukkan kunci pada mobilnya dan pergi dari sana.

"Aku menyerah," ucap Itachi lirih.

Meski ia mengatakan seperti itu, tapi kenapa kini di bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman?

Apa maksud dari senyuman itu?

.

.

.

.

.

.

.

Cinta itu buta.

Tetapi cinta yang sesungguhnya tidaklah buta, itu semua tergantung pada hati manusia yang telah terluka dan kemudian menjadi buta.

Namun, terkadang orang yang hatinya telah terluka tidak akan pernah lagi memikirkan tentang perasaan orang lain.

Mereka egois.

Egois dan berpikir tanpa tahu jika hal itu bisa membuat luka yang mereka miliki semakin menganga lebar.

Jadi, apa yang harus dilakukan oleh seseorang jika hatinya tersakiti?

Membalasnya atau kah membiarkannya?

Dan Itachi tidak memilih keduanya. Jadi, apa pilihannya?

.

.

.

.

Tsuzuku

Balasan review non-login :

#Fila : Iya, sama. Tapi, udh q benerin. Maaf, q salah memasukkan file-nya. *ojigi* Berkenan untuk mereview kembali?

#Raditiya : Err… ga pa2 Iya ya? Hahahahaha. Q sengaja kok*di-chidori*
Eh, tapi ada kemungkinannya loohhh. Tapi, q orangnya ga tegaan. Di sini Sasu udh menderita bngt. Tp Sakura juga sama menderitanya kok. Btw, ini Aditya, ya? O.o

#SasuSaku Uchiha : Sakura ga jahat kok. Tp, sekrang impas dong. Sasuke juga kan sempet jahat ninggalin Sakura. Hahah. Review lagi?

#Sukikei : Gomen. Q salah masukin filenya. Hahahaha*ketawagaring

#Maya Kimnana : Sou ka? Jika menyangkut soal perasaan dan cinta siapapun akan terlihat sama bodohnya. Mereka akan dibutakan oleh cinta. Bukankah itu pada kenyataannya? Sudah banyak kasusnya kan? Bahkan ada yang sampai mau bunuh diri. So, isi dari fic ini tidak lebih dari cerminan kejadian di dunia nyata. Tapi, tergantung kamu melihatnya dari sisi mana. ^^

Hm… lupakan soal Sakura yang jadi peran utama wanita di sini. Soalnya q ga suka pem-bashing-an karakter. Kita pakai objek yang tidak ada hubungannya dengan anime/manga atau siapapun. Objek di sini hanya sebuah 'model'.

Memang di dunia ini ada beberapa hal yang tidak pantas diperebutkan. Dan itu pun tergantung dari sudut mana kita memandang hal tersebut. Oke. Menurutmu, hal apa yang membuat kamu merasa jika seseorang itu tidak pantas diperebutkan dan pertahankan?

Apakah dari sifatnya yang buruk? Dari sikapnya yang tercela? Dari fisik? Dari masa lalu seseorang tersebut?

Sebenarnya q juga ga terlalu paham. So, jika berkenan … kmu boleh me-review lagi dn berikan jawabannya.

Oh, ya, q berkata panjang lebar karena alasan slh satunya adalah km mengatakan jika Sakura di fic ini murahan. Dan q bingung … dari segi mana terlihat begitu dimata kmu? Q hanya mengambil contoh sesuai kenyataan.

Di dunia ini sudah ada banyak yg dibutakan oleh cinta.

Tak terkecuali aku, orang lain, semuanya, bahkan mungkin diri kamu sendiri tanpa km sadari.

Setiap orang punya cinta dengan berbagai variasi dan jenis.

Q hargai review km krn bagiku cukup menarik untuk dibahas. Aplgi km mengatakan jika 'laki-laki itu bodoh' di sini.

#Dhave ga bisa login : Hahahaha. Itachi ga bisa q serahin gitu z. Hm-hm… cepat atau lambat pasti akan ketahuan oleh Sasuke maupun sama Mikoto. Dhe-chan… knp dirimu ga bs login? Lupa password?

#Lovelove : Maaf. Q ga ngerti.

#Miaa : Maaf. Ga bsa diganti krn alurnya memang dh q buat seperti ini. ^^ Review?

#Jacquelin : Endingnya? Lmyn msh lama. Soal pair diakhir nanti … hehehhe. Ga bs ksh bocoran nih. Oke… ini udh diupdate. Review lg yaaa?

#Moon Angel : Heiii… q suka nick namenya. Kyknya bagus buat dikasih judul fic seperti itu.^^
Q memang berpikir dr awal stlh mslh Gaa-Karin mau ditamatin. Tp q berpikir lgi kyknya terlalu singkat dan biasa. Punck konfliknya kurang 'gereget'. Jadi, q kembangin alurnya berdasrkan plot yang sudah ada. Masalah ending q blm bs berkata bnyk. Tunggu z yaaa… haha. Itu memang tujuanku. Arigatoooo^^

#Nabila : Sama siapa yaaa? Hayo tebak. Ahahahaa. Makasih buat jempolnya.

#Lupa kata sandi : Sasori? Dame. Dia 'boneka' aku. Q ksh Orochimaru z yaaa… wkwkwkwk*digiles*

.

.

Yoooshhh! Balas review udh~

Hmm… q ga akan berkata bnyk krn word-nya udh kebanyakan. Haha.

Q cm mau bilang Minal Aidin Walfaidzin bagi yang merayakannya. Hehe.

Selanjutnya … err… apa ya…

Soal update-an fic yang ngaret pke bangt, maaf. Q lg sibuk yg pke 'bngt' juga. Ini jg q ngetik pas lbr lebaran. Dan tgl 13 nnti q dh mulai msk dan kembali keativitasku yg padat. Jadi, maaf bagi yg nunggu untuk update-an fic ini.

Terus, soal sequel obsession msh dlm tahap pemikiran bagaimna sebaiknya pembukaannya.

Lalu, juga q berencana membuat Sequel juga Prequel dari fic ku yg berjudul : You're the Only One. Tdnya itu oneshot.

Sore jaaa ….

Mata neeee~

.

.

REVIEWS