My Future
Chapter 2
Story by Yasuna Katakushi & Vanny Zhang
Typed by Vanny Zhang
Happy reading minna-san ^^ Hope you like it!
Kushina mulai membuka matanya secara perlahan. Perlahan tampak sepasang iris violet yang masih berusaha mengumpulkan kesadarannya dengan cara mengerjap.
Kushina langsung membelalakan matanya ketika menyadari ia berada di suatu tempat yang asing baginya. Kini, ia berada di sebuah kamar dengan sebuah kasur tempatnya tidur tadi. Tampak sebuah meja kayu dengan empat kursi yang tampak mewah. Di atas meja tersebut, tampak sebuah teko teh dengan ukiran yang cukup unik disertai dengan 4 buah gelas kecil yang mengelilinginya dengan ukiran tak kalah unik. Sedangkan, di bagian tembok kamar tersebut, tergantung berbagai lukisan dengan nilai sastra yang cukup tinggi.
Ia mencoba memutar otaknya, mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi kemarin.
Kembali, ia mengingat seluruh hal malang yang menimpanya kemarin. Kematian keluarganya. Kematian kekasihnya. Dan... kematian seluruh klan Uzumaki.
Tiba-tiba, tatapan Kushina berubah menjadi sendu. Ia lupakan sejenak tentang dimana ia sekarang. Dengan perlahan, ia mengangkat tangannya membuat tangannya sejajar dengan mukanya. Tetap dengan pandangan sendu, ia pandang gelang pemberian seseorang yang sangat ia cintai itu.
Tes. Tes. Tes.
Air mata sebening crystal mulai meluncur dari iris violet milik Kushina itu. Ia memegangi gelang berwarna merah itu dengan berlinangan air mata.
Kini, ia sudah tidak memiliki apapun. Hanya tekad dan perasaan balas dendam lah yang ia miliki sekarang. Ia bersumpah di depan gelang pemberian Kazuto, ia pasti akan membalaskan dendam Kazuto dan seluruh klan Uzumaki.
Tapi dia bingung ingin membalaskan dendamnya pada siapa? Madara? Dia tidak tau di mana Madara berada sekarang. Dia ingin segera bangkit mengambil kantung kunainya dan langsung menyerbu markas Madara, dan langsung membunuhnya di tempat. Tapi itu tidak mudah, dimana dia sekarang berada pun dia tidak tau apa lagi harus mengejar Madara yang dia tidak tau berasal dari desa mana?
Krietttt
Kushina langsung menoleh ke asal suara. Tampak lelaki bermata hitam kelam sedang berdiri di depan jendela kamar Kushina.
Sontak mata Kushina langsung membulat melihat lelaki tersebut. Madara Uchiha. Ya, orang yang sangat ia ingin temui sekarang.
Angin bertiup kencang membuat rambut merah Kushina berkibaran menutupi pandangan Kushina. Sejenak, setelah angin selesai berhembus, sosok lelaki yang tadi berdiri di depan jendela kamarnya sudah menghilangi begitu saja, bagai ditelan angin.
"Hnn.." sebuah gumaman membuat Kushina membalikkan badannya- mencari asal suara.
"Kau..." Kushina mengepalkan tangannya erat-erat. Air mata yang tadi sempat berhenti karena ia tahan, kembali mengalir karena emosi.
Dengan seluruh kekuatan yang ia miliki, Kushina mengarahkan kepalan tangannya pada Madara. Namun, bagai kilat Madara dapat menghindar dengan mudah.
"Tenanglah. Bukan aku yang membunuh seluruh klanmu." ucap Madara dengan tenang. Membuat Kushina menghentikan serangannya.
"Apa maksudmu? Sudah jelas bahwa kaulah dalang dibalik semuanya." ucap Kushina berapi-api.
"Tenanglah. Saat itu, mereka hanya mencoba mengkambing hitamkan ku. Kau sudah masuk dalam ilusi buatan mereka." kata Madara dengan nada tenangnya.
Sontak setelah mendengar itu, tubuh Kushina langsung terasa membeku di tempat. Ia tak bisa berbicara apapun lagi. Tenggorokannya terasa tercekat.
"Pembunuh sebenarnya adalah... Namikaze Minato. Pangeran kerajaan ini." kata Madara tepat di telinga Kushina. Setelah mengatakan itu, tubuh Madara perlahan menghilang bersamaan dengan angin.
"Namikaze... Minato..."
Krieettt..
Kushina langsung mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Tampak seorang lelaki berambut kuning dan bermata biru bak batu safir sedang berdiri di depan pintu dengan memasang sebuah senyum manis.
"Kau sudah sadar ya." ucap lelaki yang tidak lain adalah Minato itu.
"Kau..."
"Ah, iya.. Namaku Namikaze Minato. Aku adalah pangeran kerajaan Konoha. Aku yang telah menyelamatkanmu dari serangan di negaramu." Kushina berusaha menahan amarahnya. Ia mengepalkan tangannya erat-erat.
"Bagaimana? Apa kondisimu sudah membaik, eettoo.. Uzumaki-san kan?"
"Panggil saja aku Kushina." kata Kushina setelah menenangkan dirinya.
"Ah, baiklah, Kushina-san. Ini aku membawakanmu makanan." ucap Minato lembut sambil menaruh sebuah nampan berisi sepiring makanan dan segelas air di atas sebuah meja di kamar tersebut.
"Arigatou." kata Kushina sambil memandang Minato dengan sebuah tatapan yang tak bisa diartikan.
"Ada apa? Apa kau masih sakit?" tanya Minato.
"Tidak. Aku sudah baik-baik saja sekarang."
"Ah.. Yokatta."
"Nee... Minato-kun, umm.. Bolehkan aku memanggilmu seperti itu?"
"Boleh. Ada apa?"
"Apa benar bahwa kau yang mem-"
"Oji-sama,raja memanggilmu." seorang lelaki berambut merah acak-acakkan menyela percakapan mereka.
"Ah, arigatou Arashi-kun. Aku akan kesana sekarang juga." kata Minato.
"Kushina-san, aku pergi terlebih dahulu. Jika ada sesuatu yang kau butuhkan, kau bisa memintanya kepada Arashi, dia adalah orang kepercayaanku." kata Minato, sebelum pergi meninggalkan Kushina yang masih terpaku sambil memandang lelaki bernama Arashi itu.
Setelah Minato pergi, Arashi berjalan mendekati Kushina.
"Bagaimana? Apa kau sudah membaik... Imottou?"
"O-onii-chan... Bagaimana kau bisa berada disini?" tanya Kushina terkejut.
"Dia juga menolongku. Sepertinya, dia memang terlalu mudah mempercayai orang lain. Ia bahkan sekarang sudah percaya bahwa aku hanyalah seorang tawanan klan Uzumaki." jawab Arashi.
"Onii-chan... Tapi, aku bersyukur kau baik-baik saja." kata Kushina sambil berhambur memeluk Arashi.
Arashi justru melepaskan pelukan Kushina dari tubuhnya, "mulai sekarang jangan panggil aku onii-chan lagi. Namaku bukan lagi Uzumaki Arashi, aku adalah Harada Arashi." ucap Arashi dengan tatapan dingin sedingin es.
"Kushina-chan, kau harus membantuku membalaskan dendam otou-san dan okaa-san pada orang itu." kata Arashi lagi sambil memegang kedua pundak Kushina dan menggunakan sepasang mata hitam tajamnya untuk memandang mata violet Kushina.
Kushina hanya mengangguk dengan tatapan terpaku pada Arashi yang ia lihat sekarang.
'Apa ia benar onii-chan?' batin Kushina.
Ia heran, karena Arashi yang ia tahu adalah seorang kakak yang hangat, konyol, dan baik. Apa ia Arashi palsu? Atau...
Ia berubah karena dendam?
.
.
.
.
.
.
.
.
TO BE CONTINUED
Wah, kelihatannya udah terlalu lama ya gak kulanjutin. , Gomen ne minna-san. Author Vanny Zhang rada males akhir-akhir ini (?) Hontou ni gomenasai~
Butuh sedikit perjuangan untuk mengembalikan feel dari cerita ini, karena sudah terlalu lama tidak dialnjutkan sehingga feelnya hilang dan itu juga penyebab kenapa chapter kali ini pendek! (Karena feelnya terbang entah kemana (?))
Okey, sekian dulu bacotan dari author satu ini. Jika berkenan, tolong tinggalkan review ya.. Review sesingkat apapun itu akan menjadi semangat bagi author untuk menulis ^^
