Chapter 2 : A Latter Of Memories
Kindergarten
Melingkar. Jika kau tak mampu menemukan jalan lurus untuk melangkah maju, maka berputarlah, berbalik arah dan berfikir; mungkin lebih baik jika berjalan di tempat atau diam dan menunggu. Sampai waktu - yang katanya ingin menjadi teman baikmu - sudi kembali padamu lalu berbisik, "tidak ada tikungan di depan sana."
Jika saat membuka mata tapi kau tetap tidak dapat melihat apapun di depanmu, itu artinya mata hatimu yang gelap. Rabalah ia dengan salah satu telapakmu hingga kau merasakan jantungmu mulai mengarat dan mengelupas, meninggalkan kerangka lama dan akan berbalut kulit yang baru. Tunggulah ia sampai berwarna pelangi hingga memberimu wangi.
Dan, jika kau bernafas tapi kau masih tetap bisa menari gemulai di dalam air, maka itulah suatu pertanda bahwa dunia ada di pihakmu. Pertahankan ia, jangan pernah lepaskan, sekalipun ia mengerang dan mengancammu untuk pergi dengan sorotnya. Jangan takut, karena itu hanyalah sebuah gertakan kecil yang sengaja ingin membuatmu mundur.
Sebab kau tahu persis apa dan siapa yang dapat membuatmu untuk bisa hidup di dalam masamu.
Daehyun tidak berniat untuk melakukan hal apapun seperti yang dilakukan teman-temannya yang lain. Entah berkejar-kejaran mengelilingi deretan meja-kursi, atau meneriakkan kata hompimpa lalu bersembunyi, ataupun menyusun balok-balok plastik berwarna-warni untuk dibuat istana di atas lantai. Daehyun lebih memilih duduk tenang di bangku putih kecil dan melipat kedua tangannya di depan dada - bersandar. Jam makan siang sudah selesai delapan menit yang lalu, itu berarti sekarang adalah waktunya untuk bermain; berlarian, bercanda dan bergurau atau berebut mainan sampai ada salah satunya yang menangis. Tapi Daehyun tidak tertarik dengan itu semua.
Karena ada alasan kenapa berdiam di meja-kursi lebih asyik.
Adalah sosok di sudut ruangan ini, di deretan meja guru paling depan, satu-satunya hal yang membuat Daehyun tertarik dan tidak mau mengalihkan perhatian dari dia. Dia yang sendirian dan terdiam. Dia yang sepertinya juga tidak ingin bermain dengan yang lain. Menggenggam pensil warna di tangan kanannya dan menantang buku gambar di hadapannya. Sebelum masuk ke dalam ruangan ini, Daehyun sempat melihat dia bergelantungan manja pada lengan seorang wanita; melarangnya untuk pergi sampai sekolah usai - mungkin itu ibunya. Karena setelah pelukan terakhir dilepas, mereka saling melambaikan tangan dan si wanita mencium kedua pipi gemuknya sebelum pergi. Lalu sosok itu mulai berjalan memasuki gerbang sambil sesekali menoleh ke belakang, memastikan jika ibunya masih ada di sana untuk melihatnya menjauh. Daehyun mengikuti langkah kakinya, menyimak secara detail sosok itu dari balik punggungnya sampai mereka tiba di sebuah ruangan. Ruangan yang penuh dengan anak-anak yang seusia dengan dirinya; dan dia. Sebuah ruangan yang dindingnya dicat berwarna-warni dengan berbagai gambar kekanak-kanakan sebagai pemanis. Sebuah ruangan yang mereka sebut kelas. Dia sudah menemukan tempatnya untuk duduk.
Daehyun masih memperhatikan; masih mencoba untuk membaca segala yang ingin diketahui, melihat dia dari kejauhan. Sosok itu duduk tenang di sisi kanan bangkunya, selisih dua baris dari tempatnya duduk. Tidak terjangkau tapi juga tidak terlalu dekat. Setelah mengeluarkan buku gambar dan sekotak pensil warna ajaib dari dalam tasnya, dia mulai menggambar. Memilih pensil warna hijau untuk memulai imajinasinya, membuat sebuah titik dari tengah lalu menariknya kebawah menjadikan sebuah garis yang tak simetris seperti sebatang tangkai bunga. Dia mengulanginya tiga kali, kemudian mengganti pensil warna hijau menjadi kuning. Mata Daehyun masih mengawasi dan mulai berdebat dengan dirinya sendiri, bagaimana caranya untuk menjadikan dia sebagai temannya? Daehyun ingin menjadi temannya.
Pagi tadi, dia mengangkat tangan saat ibu guru memanggilnya Yoo Youngjae untuk memastikan bahwa semua murid baru sudah ada di dalam ruang kelas. Di hari pertama masuk sekolah. Ya, namanya adalah Youngjae, pemilik pipi gemuk itu adalah Youngjae, dia yang dilihatnya saat pendaftaran sekolah waktu itu adalah Youngjae. Temannya kelak. Daehyun baru tahu hari ini. Dan, sekarang dia mulai penasaran dengan apa yang digambar Youngjae di sudut sana.
Cukup lama Daehyun bergunjing dengan dirinya untuk mencari cara bagaimana untuk bisa menjadikan Youngjae sebagai temannya. Karena sepertinya Youngjae tidak terlalu suka banyak bicara. Daehyun memutar otak, tidak mungkin untuk mengajaknya berlarian karena Youngjae sedang merangkai sesuatu di permukaan buku gambarnya. Tidak mungkin pula merebut balok-balok plastik yang sedang disusun oleh teman-temannya lalu melemparkannya di atas meja Youngjae.
Menggambar. Buku gambar dan pensil warna-warni.
Matanya membulat, Daehyun teringat sesuatu. Dia juga memiliki buku gambar di dalam ranselnya, tapi dia tidak memiliki pensil warna. Dia melirik ke arah Youngjae lagi dan melihat sekotak pensil warna tergeletak di sana, di atas meja. Mungkin akan lebih masuk akal jika dia beralasan ingin meminjam pensil warna. Bibirnya tersenyum, Daehyun mulai menggali ranselnya, mencari buku gambar dan menjadikannya sebagai alibi.
"Aku akan meminjam pensil warna yang tidak akan dia gunakan. Aku tidak ingin merusak imajinasinya hanya karena dia kehilangan satu warna yang nantinya akan dia butuhkan."
Daehyun berjalan menghampiri meja Youngjae.
Dengan langkah-langkah kecil, perlahan dia mulai mendekat.
"Apa aku boleh meminjam ini?" Daehyun langsung mengambil salah satu pensil warna yang masih berada di dalam kotak; putih, tanpa menunggu persetujuan dari pemiliknya.
Youngjae menghentikan gerakan mewarnainya dan menoleh ke arah suara. Merasa terganggu dengan kehadiran orang baru. Keningnya mengerut dan bibirnya mengerucut. Daehyun tersenyum melihat ekspresi Youngjae, tapi dia tidak mendapatkan senyum balasan dari Youngjae.
"Kau menggambar bunga matahari? Aku suka bunga matahari, gambarmu bagus!" Daehyun mendekat. Youngjae terkejut dengan aksi Daehyun dan buru-buru mengamankan buku gambarnya. Dia tidak suka diganggu saat dia sedang menggambar.
"Kenapa kau suka menggambar?"
Sadar, Youngjae menoleh ke arah suara, lagi. Melihat seorang anak laki-laki yang berdiri terhalang di depan mejanya; menggenggam salah satu pensil warna miliknya. Dia tidak tahu, dia belum mengenal anak ini. Rambut warna coklat, mata warna coklat, kulit warna coklat dan oh, dia bahkan tidak membersihkan sisa cokelat yang masih teroles di sekitar mulutnya. Youngjae menggeleng kalem, tidak berniat untuk menjawab semua pertanyaan dari... siapa dia? Yougjae menggeleng lagi, dia sedikit menjauhkan buku gambarnya dari jangkauan si tahu hal buruk apa yang akan dilakukan anak ini pada hasil karyanya, jangan sampai gambarnya rusak, tidak, lebih tepatnya, jangan sampai suasana hatinya menjadi rusak, Youngjae masih ingin melanjutkan menggambarnya. Tapi sudah terlambat.
"Apa aku boleh menggambar bersamamu?"
Youngjae sedikit panik. Dia tidak suka kehadiran anak ini yang membuat konsentrasinya pergi. Tidak suka. Youngjae ingin menjawab, atau setidaknya berkata 'tidak mau' atau 'jangan menggangguku'. Tapi Youngjae tidak boleh bicara kepada orang asing; pesan dari ibunya. Youngjae menahan nafas dan berkali-kali mengedipkan mata, menahan sesuatu yang akan meleleh dari sana. Kalau saja ibunya mau menemaninya sampai jam sekolah selesai. Sehari saja.
Daehyun mulai mendekatkan wajahnya, melihat dengan jelas wajah Youngjae yang menatapnya penuh tanya. Cantik. Rambut hitamnya berkilau, mata sipitnya sangat bening, hidung Youngjae mungil, tidak sama seperti miliknya yang agak besar. Cantik. Daehyun ingin mencubit kedua pipi Youngjae hingga meninggalkan bekas warna merah muda di permukaan kulitnya yang putih. Sekali lagi, Youngjae akan menjadi temannya. Youngjae itu cantik dan Daehyun suka.
"Jangan begitu, aku bukan orang jahat," dengan spontan Youngjae langsung berdiri dari bangkunya karena Daehyun ingin menyentuh pipinya. Dia takut.
Ini bukan penolakan
Daehyun kembali ke posisinya berdiri. Meletakkan buku gambarnya di atas meja, dekat dengan buku gambar milik Youngjae. Mata Youngjae membulat, dia melepaskan buku gambarnya, dia baru sadar! Bukan, buku gambarnya terlepas dari tangannya karena serangan mendadak dari seorang anak laki-laki di depannya terhadap pipinya.
Dia harus meminta maaf; pada buku gambar, karena bunga matahari yang di tanam ibunya di halaman rumah kini kacau.
Youngjae ingin menangis. Dia harus menangis karena tidak bisa menyelesaikan gambarnya. Tapi anak laki-laki di depan mejanya tidak mau pergi. Youngjae melirik buku gambarnya, ingin meraihnya. Kemudian melirik anak laki-laki di depannya, bagaimana dengan pensil warna yang berada di genggaman tangan lain? Youngjae melirik buku gambarnya lagi, dia harus menyelesaikan bunga matahari untuk diberikan kepada ibunya, tapi dia takut pada orang di hadapannya. Matanya kembali melihat ke arah tangan yang menggenggam pensil warnanya, itu miliknya, dia harus memintanya kembali.
Buku gambar dan bunga matahari.
Pensil warna dan orang asing.
Mata Youngjae mulai memanas. Warna putih tidak banyak diperlukan. Tapi itu adalah miliknya. Sekotak pensil warna hadiah dari sang ibu.
Buku gambar...
Pensil warna...
Bunga matahari...
Orang asing...
Matanya berpindah-pindah. Dia benar-benar ingin menangis sekarang. Dia tidak mau berangkat ke sekolah lagi.
Tapi setidaknya dia harus menyelesaikan bunga mataharinya.
Mata Youngjae kembali pada buku gambarnya yang tergeletak berdekatan dengan buku gambar milik si peminjam pensil warna.
Buku gambar dan pensil warna.
"Namaku..."
Kalimat Daehyun terhenti sebelum dia sempat memperkenalkan dirinya pada Youngjae. Dan, sekarang gantian dia yang panik karena semua teman-temannya melihat kearahnya; arah mereka berdua - Daehyun dan Youngjae. Suasana kelas mendadak menjadi sunyi. Ibu guru yang tadinya berada di meja lain mulai berjalan cepat menghampiri mereka. Daehyun semakin panik. Ini bukan salahnya, dia tidak melakukan hal apapun, dia hanya ingin menggambar bersama Youngjae dan berteman dengannya.
Daehyun tidak tahu. Dia tidak tahu kenapa jadi seperti ini. Baru saja dia merusak imajinasi Youngjae. Tidak mungkin Youngjae akan menyelesaikan gambarnya.
Karena sekarang, Youngjae menangis.
For your information: jangan bingung kenapa bisa ada matahari di atas sana... it's because spesial untuk di chapter A Latter Of Memories ini semuanya flashback ya...
Maap kalo saya membingungkan pembaca :3
