Cast: Oh Sehun
Xi Luhan
Other Cast: EXO members and Other
Gengre: Marriage Life,Comedy Love,Friendship and Romance
Rate: T-M
Lenght: Chapter
^^520 I Say '' 훈'' You Say '' 한''^^
HAPPY READING ~~~~~~~
.
.
.
.
.
Author's POV
SM Building (,)/
EXO Room!
Sehun mengusap wajahnya yang penuh dengan peluh dengan handuk kecil putihnya, dan menselanjarkan kakinya untuk beristirahat dari latihan dance yang baru ia jalani dengan beberapa member EXO. Ia menghela dan mengatur nafasnya yang berat karena tenaganya seperti terkuras habis-habisan, ini dikarenakan juga ia kemarin yang tidak mengikuti latihan sehingga ia harus menjalani double latihan. Sangat melelahkan….
"Igeo…" Kris menyerahkan sebotol air mineral pada Sehun. Sehun mendongak dan menatap Kris, dengan wajah datarnya ia menerima botol air mineral tersebut. Sehun menerimanya tanpa mengucapkan sepatah kata pada Kris, ia hanya meminum air tersebut hingga separuh botol.
Kris kemudian duduk disampingnya, dan menatap Sehun dari samping. Seperti ada yang ingin ia tanyakan.
"Luge tidak masuk hari ini?" tanya Kris.
Sehun menghela nafas berat, ia tahu sebenarnya Kris sudah tahu dengan kabar bahwa ia menginap ditempat pria itu tadi malam, tidak hanya Kris, bahkan semua member EXO tahu itu. Tapi bukan Sehun kalau tidak bisa mengatasi masalah ini.
"Dia bekerja hari ini, tapi aku kurang tahu jam berapa dia akan datang. Sedikit terlambat mungkin, Dia sedikit lelah." jawab Sehun santai. Matanya mengedarkan pandangannya, dan menatap Chanyeol yang tengah berjalan kearahnya.
"Lelah, euh?" Kris menatap Sehun, Sehun juga demikian.
"Wae?" Sehun sedikit terkejut dengan reaksi Kris ini. "Kau sepertinya terkejut sekali, dia tidak sakit hyung, hanya lelah saja." tambah Sehun lagi.
Kris hanya sedikit teringat dengan kata-kata Suho melalui telepon tadi sebelum latihan, saat Suho datang ke flat Luhan, menanyakan keberadaan Sehun, dan ternyata dongsaeng kesayangannya itu memang berada disana. Dan yang membuat Kris terkejut ketika Suho bilang, ada hal yang sangat aneh disana. Sehun mencari kemejanya dan keluar dari kamar Luhan dan Suho yakin, tidak mungkin kalau tidak terjadi sesuatu.
Kris masih mencerna kata-kata Sehun, ia masih berpikiran positif tentang hubungan Sehun dan juga Luhan, pria yang membuatnya sedikit mengalihkan perhatiannya. Tapi perasaan itu tidak mungkin ia teruskan, Sehun mencintai Luhan, dan sebaliknya. Pikirnya.
"Aigoo… yang semalaman bersama." goda Chanyeol mengagetkan lamunan Kris. Chanyeol duduk tepat ditengah-tengah antara Kris dan Sehun. Sehun hanya mencibir dengan bibirnya, melihat aksi hyungnya yang menyebalkan.
"Apa?" sergah Sehun menatap Chanyeol yang kini sedang tersenyum padanya. Senyum yang seperti menggoda Sehun.
"Aku rasa kau sudah_"
"Aku tahu arah bicaramu Tuan Park…" potong Sehun. "Kalian pasti ingin menanyakan, apa yang terjadi antara aku dan Luhan semalam, bukan begitu?"
Chanyeol membulatkan matanya, ia tidak tahu kalau Sehun akan dengan mudah mengerti apa maksudnya.
"Dari awal kemunculan foto itu, kalian pasti tahu, apa yang sudah aku lakukan pada Luhan bukan? Nah… jadi wajar saja jika aku menginap ditempat Luhan, tidak perlu aku jelaskan kalian pasti sudah tahu, apa yang aku lakukan semalam." jelas Sehun menatap lurus kedepan.
Kris dan Chanyeol menatap heran pada Sehun, kenapa dongsaengnya seperti ini. Bahkan ia terang-terangan mengatakan apa yang ia lakukan, walau dengan kalimat yang samar.
"Sehun-ah… kau benar-benar melakukannya?" Kris menatap Sehun tidak percaya.
Sehun menghela nafas berat. Percuma kalau ia akan menjelaskan yang sebenarnya, pikiran semua orang terhadapnya dan juga Luhan sudah terlalu jauh. Jadi lebih baik, ia berbohong saja. Setidaknya sangat mengasyikan membuat semua hyungnya terkejut seperti ini.
"Aku, mengira kau dan Luhan hanya sebatas… yahh…" Chanyeol tidak melanjutkan, maksudnya adalah Sehun dan Luhan memang menjalani sebuah hubungan, tapi ia tidak mengira kalau ada hubungan yang lebih intim, sepertinya.
"Rupanya, kau sekarang sudah dewasa." Chanyeol tersenyum geli memandang Sehun. Sehun mengalihkan pandangannya, ia tidak sanggup berbohong jika Kris terus menatapnya. Ia tahu, Kris cukup terkejut. Tapi mau bagaimana lagi, ia merasakan Kris menyukai Luhan dan cara ini ampuh untuk mengikis perasaan hyung-nya ini.
'Maafkan aku hyung, suatu saat, aku pasti akan menceritakan yang sebenarnya padamu…'
Sementara, Chanyeol dan Kris masih ada duduk bersama Sehun, matanya menangkap sesosok pria cantik yang baru saja datang. Dengan seperti biasa pria cantik ini terengah masuk kedalam ruang latihan. Membenahi sedikit kuncir diatas poninya yang sengaja ia jepit sekarang. Kemudian memberi salam pada semua member, termasuk dirinya.
DEG
Jantung Sehun tiba-tiba berdebar saat pria itu membungkuk kearahnya. Sekelebat bayangan saat Ia mengatakan kata-kata sebelum ia pergi bersama Suho, membuat ia sedikit gugup.
Ia merasakan lengan Chanyeol menyikut lengannya, tapi ia diam saja. Ia lebih fokus menatap pria yang sekarang sedang bersama Kyungsoo dan juga Baekhyun. Sepertinya Luhan akan dikenalkan pada Chen dan juga Xiumin.
Tunggu! kenapa mata Sehun seolah tidak ingin lepas dari pandangannya menatap Luhan. Dengan stylenya yang sekarang, Luhan itu terlihat jauh menarik dimatanya. Luhan memperlihatkan kaki indahnya dengan celana pendek berwarna putih yang ia pakai, lalu kenapa sepertinya baru sekarang Sehun lebih detail memperhatikan penampilan pria ini.
Dan juga… dahinya, mata ini yang sekarang jelas terlihat. Sangat indah, dan tentu saja, Luhan terlihat sangat cantik sekarang. Sungguh, diluar dugaan. Jantungnya kembali berdebar begitu kencang. Dengan susah payah ia menelan ludahnya, melihat dengan jelas betapa indahnya pria itu, dari ujung rambut hingga ujung kaki, semuanya indah dimatanya.
"Ya, Sehun-ah…" panggil Suho, Sehun sedikit berjingkat. Sial, ia ketahuan sedang menatap Luhan oleh Suho. Dan disampingnya, Chanyeol sudah tidak ada. Ia bahkan tidak tahu, Chanyeol pergi dari sampingnya. Seberapa lama, ia menatap pria itu.
"M..mwo?" Sehun berusaha menstabilkan raut wajah dan juga suaranya.
"Kau tidak ingin mengenalkan Luhan pada mereka? Maksudku Chen dan Xiumin? Ne?" kata Suho.
"Ahh… biarkan mereka berkenalan sendiri." jawab Sehun enteng. Bukannya apa, ia tidak mau jika berada didekat Luhan. Pasti ia akan teringat kata-kata menggelikan itu lagi. Malu… ya, ia akui ia malu jika berada didekat pria itu sekarang.
"Kau yakin?" tanya Suho sekali lagi, "Baiklah…" Suho berdiri dan berjalan menjauh dari Sehun untuk bergabung dengan member yang lain.
Sehun mencibirkan bibirnya saat semuanya sedang tertawa bersama dengan Luhan, termasuk Xiumin dan juga Chen yang sesekali melirik kearahnya. Sial… ini tidak bisa dibiarkan. Arrghhh…
_oOo_
"Annyeong Maaf aku terlambat." sapa Luhan yang baru saja datang kepada semua member yang ada didalam ruang latihan ini. pria ini membungkukkan badannya, kepada semua member tak terkecuali Sehun yang sedang duduk disalah satu sudut ruangan ini bersama Kris dan juga Chanyeol.
Tapi, pandangan mata Sehun kearahnya dirasa Luhan cukup aneh. Sebaiknya ia tidak usah kesana dari pada ada hal-hal yang tidak diinginkan. Mengingat ia datang terlambat hari ini. Karena ada sesuatu hal yang mendadak tadi.
"Woaa… Annyeong Luge. Gwenchana…" balas Baekhyun dan Kyungsoo bersamaan. Matanya menangkap dua sosok makhluk yang belum ia lihat sebelumnya, tapi ia pernah melihatnya dalam MV OVERDOSE. Tentu saja ia tahu…
"Kalian pasti… Xiumin dan juga Chen. Ne? " tebak Luhan menunjuk pada mereka berdua yang tengah menatapnya. "Em.. maaf jika aku lancang memanggil kalian_"
"Tidak apa-apa Luhan." tambah Chanyeol yang kini ada ditengah-tengah mereka.
"Ne.. benar. Kau asisten baru kami benarkan?" tebak Xiumin sambil tersenyum padanya.
"Geure. Kalau tidak sebagai asisten, mana mungkin aku disini." jawab Luhan tersenyum juga. "Ahh… Xi Luhan imnida, bangapseumnida." kata Luhan memperkenalkan diri.
"Aigoo… manis sekali." kata Chen yang melihat Luhan tersenyum. "Ah ne. Chen imnida. Bangapseumnida Nyonya Oh." kata Chen tersenyum.
"Ommo… jangan memanggilku seperti itu. Panggil namaku saja, akukan bekerja pada kalian." Luhan menyembunyikan wajah malunya saat ini. Kris yang didekatnya hanya tersenyum geli, ia melirik Sehun yang sedang duduk dengan tatapan yang sulit diartikan.
Ia puas sekali melihat Sehun seperti itu, setidaknya ia melihat wajah dongsaengnya yang sangat-sangat menggemaskan.
"Kau pasti sudah tahu aku. Xiumin member di EXO M" Xiumin melirik kearah Sehun yang kini sedang duduk sendirian, sementara Suho sudah berjalan kearah mereka.
Serempak membuat semuanya tertawa mendengar ini.
"Jinjaa…. woaa, aku senang bertemu denganmu Xiumin Ge'' timpal Luhan
"Ne, Luhan juga perlu tahu member EXO yang lain, seperti Chen dan juga Xiumin." tambah Baekhyun.
Terdengar suara kekehan member lain, seperti Kris dan juga Suho. Mereka sepertinya tidak bisa menahan tawa melihat wajah Sehun, Baekhyun dan juga yang lainnya, termasuk Chen yang terlihat kebingungan. Bagaimana bisa Chen dan Xiumin tidak tahu. Ditambah wajah Baekhyun yang menurut Chanyeol sangat lucu untuk ditertawakan
"Aku tahu…" jawab Sehun menatap semua.
Luhan yang ada disampingnya, hanya bisa diam. Ia bisa apa kalau sudah seperti ini. Merasakan aura Sehun yang membuatnya sedikit takut untuk berkata ataupun menggerakkan badannya, ini aneh. Hanya karena Sehun disampingnya, ia bisa seperti ini. Seharusnya ia bisa saja, pergi dari sini dan berpura-pura seolah-olah tidak terjadi sesuatu.
"Eum, sayang… "
Luhan membulatkan matanya seketika saat mendengar Sehun memanggilnya 'sayang'. Ia menoleh kearah Sehun, pria itu juga menatapnya tanpa ada rasa bersalah sekalipun tampak diraut wajahnya yang terlihat sangat tampan dengan sedikit berkeringat.
"Persiapkan tasku, sebentar lagi aku ada latihan dance bersama kai dan Lay hyung" tambah Sehun lagi sebelum Luhan protes.
"Tunggu?" Xiumin menatap Sehun dan Luhan bingung. "Kali…kalian berdua? Hun kau memanggil Luhan… sayang…" tanya Xiumin bingung.
"Sayang?.. apakah kalian berdua?" Chen tampak kebingungan juga.
'Bodoh. Sayang tentu saja panggilan untuk orang yang kita sayangi, kekasih lebih tepatnya. Kalian pikir, Luhan masih belum ada yang memiliki? Hum! Hanya aku yang bisa menyukainya.. dan memilikinya.'
Sehun melihat wajah kedua orang didepannya ini. Seketika Sehun sadar dengan apa yang ada dihatinya, apa menyukainya? Jadi.. menyukainya, menyukai Luhan. pria toilet itu. Sehun menggelengkan kepalanya pelan. Apakah benar, semua rasa ini. Aigoo… Dengan susah payah Sehun menormalkan raut wajahnya.
Sehun dengan wajah puas dan tersenyum miring menatap kedua hyungnya yang masih penasaran. Wajah mereka berdua sangat lucu menurut Sehun.
"Kalian belum tahu?" Sehun merangkul pundak Luhan dengan tangan kanannya, pria cantik itu terkejut dengan perlakuan Sehun yang tiba-tiba seperti ini. Ia menatap Sehun dengan tatapan membunuh.
Ia meronta, tapi tetap saja, Sehun semakin erat merangkul pundaknya.
"Dia calon istriku… kami akan segera menikah." jawab Sehun bangga.
"A…Apa! Menikah?" pekik Xiumin dan Chen serempak.
_oOo_
Other Room at SM Building
Luhan duduk dengan menatap Sehun dan juga dua orang lainnya, Lay dan juga Kai yang tengah meliuk-liukan badan nya untuk lagu mereka yang baru. Tapi tatapannya kini terkunci pada Sehun, pria itu dengan badan seksi dan wajah tampannya yang nyaris sempurna. Membuat ia enggan mengalihkan pandangannya dari pria itu, Oh Sehun.
Walaupun ia sempat kesal pada Sehun karena kejadian diruang latihan tadi, membuatnya ingin menendang Sehun dengan sekuat tenaganya, apalagi saat ia mengingat kejadian diruang ganti. Sangat memalukan.
"Ada pria gila seperti dirinya… Aish!" Luhan menggelengkan kepalanya ringan, ia tidak mau terlihat bodoh dengan mengingat kejadian tadi. "bodoh, bodoh…" rutuknya sendiri. Saat tidak diduga, Sehun menoleh, menatapnya, tatapan mereka berdua bertemu. Pria itu tersenyum kearahnya.
DEG!
Luhan seperti kehilangan kendali seketika saat melihat senyuman pria titisan setan itu. Senyuman yang tidak biasa. Ia tidak mau terlihat gugup, ia kemudian melemparkan tatapan kesalnya pada Sehun.
Tapi, dasar Sehun. Yang lain sibuk menggerakan badan nya dan konsentrasi mendengarkan arahan, tetapi Sehun malah menutup wajahnya dengan kertas dan menatap Luhan dengan senyuman dan jari telunjuknya ia letakkan tepat dibibir bawahnya, kepalanya menghardik kearah Luhan. Seolah memberi kode pada pria rusa itu.
Luhan sadar dan tahu dengan jelas apa yang Sehun maksud.
"Gila…" gumam Luhan pelan melihat tingkah Sehun.
"Sehun-ahh…" suara seseorang memanggil Sehun. Sehun mengembalikan posisi kertasnya untuk tidak menutupi wajahnya dan kembali menghadap mereka.
"Rasakan…" cibir Luhan melihat Sehun kembali pada pekerjaannya.
Luhan menahan senyumnya, ia bisa gila hanya karena ini semua. Tanpa sengaja ia menatap Sehun lagi. Entahlah, ia merasa sangat senang sekarang, mengingat kejadian diruang ganti tadi. Bayangan itu kembali muncul.
"Yaaa…" pekiknya saat ia merasakan tangan Sehun ada dipinggangnya, menariknya hingga ia benar-benar tersudut, dan tubuhnya sudah menempel pada loker yang ada disana. Sehun menatapnya dengan tatapan mendetail, menulusuri wajahnya. Tubuh Sehun jelas-jelas menghimpitnya.
"Se…Sehun-ah. Kau kenapa? Baiklah, aku sudah menurut padamu, aku sudah menyiapkan dan mengambilkan tas untukmu. Sebentar lagi kita berangkat!" katanya mengalihkan suasana.
Ia tahu, saat Sehun meminta mengambilkan tasnya dengan panggilan 'sayang' jelas Luhan menolak, ia tidak beranjak dari tempatnya. Baru saat Sehun menatapnya geram, ia baru berangkat dan menuruti apa kata pria itu. Memang, sangat menyebalkan, seenaknya sendiri, tapi ia bisa apa? Ia seperti tidak berdaya oleh tatapan Sehun padanya.
"Kau terlambat." gumam Sehun, masih dengan tatapan yang seperti tadi.
"Apa? Terlambat? Maksudmu apa?" tanyanya bingung. Sehun hanya tersenyum miring padanya, kemudian menarik tangan Luhan untuk digenggamnya. Menyelipkan jarinya kedalam jari-jemari Luhan. Sehun melihat jari-jemari Luhan, kemudian menatap wajahnya lagi. Luhan sekarang merasakan getaran yang sangat hebat didadanya, sentuhan jari-jari Sehun disela-sela jari tangannya, membuat ia seolah ingin pingsan saja saat ini. Ia tidak bisa bernafas dengan normal…
"Kau lupa, kau ini harus menurutiku, dan kau juga telah sepakat untuk bersikap seperti sepasang kekasih didepan semua hyungku, tapi apa? tadi kau sepertinya lupa Lu." kata Sehun pelan.
"Arasseo, aku ingat. Tapi bukanlah aku juga sudah melakukannya dengan baik. Kau ini seenaknya sendiri." jawabnya.
Luhan beringsut ingin melepaskan diri, Sehun dengan sekali hentakan memojokkan tubuhnya kembali. Ia menatap Sehun dengan nafas yang sedikit berat karena ia berusaha ingin lolos dari himpitan tubuh Sehun ini. Ia bingung dengan sikap Sehun yang memang solah-olah dia ini miliknya, dan tak seorang-pun bisa memiliknya. Apa Sehun lupa? ini hanya formalitas semata.
"Kau bergerak terus!" Sehun menahan tubuhnya.
"Kau mau apa huh!? Kau tidak lihat, ini jam berapa? nanti terlambat…" Sehun melihat jam ditangannya sekilas, kemudian menatapnya kembali.
"Masih, sepuluh menit lagi. Aku ingin memberimu hukuman padamu Lu."
"Mwo? Hukuman? Kau pikir kau siapa, seenaknya memberiku hukuman?! bukankah, aku sudah_"
"Aku siapa!" pekik Sehun menatap Luhan kesal, "Kau lupa? aku ini Oh Sehun pria yang akan menikahimu Lu! Calon suamimu, lebih tepatnya, jadi jangan pernah bertanya lagi siapa aku dan kenapa aku berhak atas dirimu."
Luhan ternganga mendengar apa kata Sehun sekarang. Ini sebagian dari akting, apa ini memang kenyataan perasaannya? Perasaan Sehun padanya? Tidak mungkin pria ini menyukainya cukup dia saja yang gila menyukai pria seperti ini. Tidak mungkin….
"Ka…kau Oh Sehun calon suamiku memang benar, tapi kau lupa satu hal." katanya pelan Sehun mengernyitkan alisnya. Ia rupanya melupakan satu hal.
"Kita, seperti ini hanya karena tuntutan foto itu semata, Sehun-ah." lanjutnya pelan. Sehun mendengus kesal, ia mengerjapkan matanya sesaat pandangannya masih tertuju pada pria imut ini.
"Aku tahu itu!" jawab Sehun singkat, "Tapi, apakah status sebagai calon suami tidak berhak atas calon istrinya? walaupun itu tuntutan foto tapi setidaknya sepasang calon suami istri saling mendekatkan diri itu sangat wajar menurutku."
"Ne, tapi itu tidak seperti kenyataan… ini seperti mimpi tidak akan nyata." tegas Luhan. Sebenarnya Luhan hanya ingin tahu, seperti apa perasaan Sehun padanya nyatanya jawaban Sehun hanya seperti itu. Ia sangat bingung harus bersikap bagaimana dengan Sehun, karena ia sudah menyukai pria ini sejak pertama pria ini berhasil menciumnya pertama kali.
"Ini kenyataan. Kau mau tahu jika kita dalam dunia nyata, bukan mimpi?" Sehun memiringkan kepalanya menatap Luhan lekat.
"Euh?" Luhan menatap Sehun, sial… ia seakan terbius oleh tatapan dan juga aroma pria ini. Sungguh, sehabis mandi… pria ini jauh terlihat memabukkan, aroma Sehun jelas membuatnya seperti terhipnotis untuk terus menatap wajah pria ini.
"Ini bukan mimpi Lu…" Sehun tersenyum miring, sebelum kemudian ia memejamkan matanya untuk mendekatkan wajahnya kewajah Luhan. Tangannya masih menggengam tangan Luhan dan tangan satunya menahan tubuh pria ini agar tidak bergerak dari posisinya sekarang.
Gila… ini gila… Luhan merasakan kembali ciuman lembut dari bibir Sehun, sungguh baru tadi pagi ia merasakan hal yang sama. Sekarang ia sudah merasakannya kembali. Ini memang candu baginya, ia tidak bisa menolak, saat bibir Sehun mulai bergerak sedikit menuntut diatas bibirnya. Lumatan-lumatan kecil kini berubah menjadi sedikit agresif. Ia lupa, ia harus melawan pria ini, yang ada ia malah membuka mulutnya dan memberi celah pada Sehun untuk menciumnya lebih dalam lagi. Tangannya sudah melemah, dan tangan Sehun melepas genggamannya untuk meraih wajah pria ini.
Kenapa semua ini terasa berbeda, Luhan merasakan perasaan lain yang ada pada diri SeHun saat ini. Tapi… apakah ia akan terus seperti ini? Membiarkan pria ini menguasi dirinya terus-terusan. Dengan inisiatifnya sendiri, Luhan berusaha melepaskan diri dari semua ini yang membuat ia menjadi kecanduan dengan ciuman pria ini. Saat Sehun masih sibuk menginterupsi dengan lumatan dibibirnya, Luhan yang memang sudah membalasnya ia menggigit sedikit bibir bawah Sehun, dapat! Luhan malah menggigitnya dengan sangat keras, sepertinya ia gemas sekali dengan tingkah Sehun.
"Ahh…." Sehun melepas tautan bibirnya, dan memegang bibir bawahnya yang sedikit memerah karena gigitan Luhan. Sehun menatap Luhan kesal, nafasnya masih terdengar berat mengingat ia memang sangat 'sibuk' mencium bibir pria ini, tanpa ampun.
"Kau gila Luhan!" pekik Sehun meringis. Beruntung tidak berdarah tapi ia masih merasakan sakit. Sementara Luhan, hanya memasang wajah tanpa dosanya. 'rasakan' batin Luhan.
"Aku, Aku hanya ingin_"
"Aku akan membalasnya dengan lebih mengerikan dari sekedar menciummu Lu!" potong Sehun, membuat Luhan terkejut. Sehun sangat kesal kali ini bagaimana bisa disaat ia masih menikmati ciumannya pada Luhan, pria ini telah mengacaukan segalanya dengan menggigit bibirnya sangat keras. Apa Luhan tidak merasakan apa yang ia rasakan, melalui ciumannya. Ini gila… yakk Oh Sehun kau sudah gila, dan ini semua karena pria toilet ini. Menyebalkan…
"Mengerikan? Kau seperti pembunuh berdarah dingin…" sergah Luhan. Dengan cepat Sehun memojokkan kembali tubuh Luhan. Luhan menelan ludahnya dengan susah payah. Ia tidak mungkin jatuh kedalam pesona ciuman pria ini lagi. Sudah cukup semua ini… tapi ia sepertinya tidak bisa.
"Hhh… kau kira, kau akan mudah lepas, jika sudah berada dalam genggaman seorang Oh Sehun." kata Sehun dengan seringainya.
"Kau lupa! kita sudah terlambat… dan aku yakin_"
"Aku tidak peduli!" potong Sehun lagi. Luhan sepertinya kehabisan akal, bagaimana bisa ia bertemu dengan pria yang sedang ada didepannya ini. Dan kenapa pria ini tidak bosan menciumnya dengan cara aneh seperti ini. Walaupun ia menyukainya, tapi Luhan tidak mau terlihat seperti pria yang begitu mudah jatuh kepelukan seorang pria.
"Kita sudah terlambat!" pekik Luhan lagi, ia meronta dengan kekuatan yang ia miliki. Sehun-pun juga tidak mau kalah, ia terus saja bersaha menahan tubuh Luhan ini. Lumayan menguras tenaga, tubuhnya yang memang kecil namun kekuatannya tidak bisa diremehkan.
Luhan mendorong tubuh Sehun dengan satu tangannya, Sehun menahan pinggangnya dan Luhan berhasil melepas genggaman tangan Sehun,
"Sehun… lepas tidak!"
"Tidak!" Sehun menarik tubuh Luhan untuk terus dalam dekapannya,
"Kau gila…" Luhan berusaha meloloskan lagi, ia membalikkan badannya dan mendorong kuat tubuh Sehun, tapi saat ia berusaha lolos.
BRUUKKKKKK!
Keseimbangan tubuhnya tidak stabil saat berusaha lepas dari tahanan tangan Sehun, dan akhirnya…. Ia terjatuh dilantai dengan keadaan yang sama sekali ia tidak pernah duga. Ia tidak akan mengira jika 'pergulatan' kecilnya dengan Sehun, akan berakhir seperti ini.
"Akhhh…." pekik Sehun yang sepertinya menahan berat beban tubuh Luhan yang sekarang ada diatasnya. Pinggangnya sedikt ngilu… Pria ini berjingkat kaget, melihat tubuhnya yang ada diatas tubuh Sehun.
"Aigoo…" Sehun meringis karena ia belum bisa bangun dari tidurnya, karena Luhan masih shock dengan posisinya, dengan seperti ini, ia bisa merasakan detak jantung Sehun dengan jelas. Membuatnya lupa akan tujuannya semula.
Luhan mengerjapkan matanya sesaat menatap wajah Sehun yang ada dibawahnya ia masih terbaring, dengan separuh tubuhnya diatas dada Sehun. Sehun menatapnya juga ia juga baru sadar dengan posisinya. Luhan, pria ini tengah menatapnya. Jantungnya… jantungnya…
"Sehun-ah… kenapa kau lama seka_"
Sehun dan Luhan sadar ada suara yang mereka sangat hafal. Tapi kalau untuk bangun sepertinya sudah terlambat, bahkan pria yang memanggilnya kini tengah menatapnya dengan Luhan pria itu menutup mulutnya dengan tangannya. Terkejut!
"Ahh…" Luhan bangun dari tubuh Sehun dan membenarkan pakaiannya beserta tatanan rambutnya. Ia menekuk wajahnya, tidak bisa menatap jelas wajah Lay yang masih merasa malu. "Lay.." gumamnya pelan.
Sehun sudah berdiri dan menatap Lay didepannya, "Sepertinya kita sudah terlambat Sehunnie…" kata Lay pelan.
Ia sepertinya takut menatap wajah Sehun, ia merasa sudah menganggu seekor singa yang sedang menikmati tidurnya. Dan kali ini, wajah Sehun telihat menyeramkan karena ia telah melihat pemandangan yang menurutnya sangat langka dan juga mengapa Sehun akan melakukan dengan Luhan diruang ganti? bukankah tadi malam Sehun sudah bertemu dengan Luhan? Astaga… Lay menggeleng pelan.
"Ne, aku tahu! Kajja…" Sehun meraih tasnya dan kemudian melenggang pergi tanpa menoleh kearah Luhan. Lay juga sepertinya ingin cepat-cepat pergi dari sini.
"Oh, ya!" Sehun berbalik kearah Luhan yang masih ada dibelakangnya. Ia mendongak menatap Sehun.
"Yang tadi belum selesai Lu!" Sehun tersenyum miring padanya. "Kau harus tanggung jawab dua kali, pinggangku dan juga bibirku!"
"Mwo!" pekiknya.
"Lu!" panggil Sehun. "Xi Luhan!" panggilnya sekali lagi.
"Yaaa! Luhannie, kau tidak mendengar teriakanku… Aigoo…"
Luhan terkejut mendengar suara yang sedikit memekikkan telinganya. Ia tersadar, Sehun sudah ada didepannya menatapnya dengan wajah yang seperti biasanya kesal. Kemudian ia menatap sekelingnya tampak Kai dan Lay menahan senyum mereka melihat kelakuan Sehun padanya.
"Kau sedang membayangkan aku ya? Astaga… " kata Sehun menatap Luhan dengan wajah seriusnya, sementara Luhan ia terkejut mendengar apa kata Sehun padanya. "Akui saja, aku ini tampan dan mempesona Luhannie." tambahnya pelan dan seperti bisikan pada Luhan.
"M..mwo?" Luhan sedikit gugup, dan ia berusaha menormalkan raut wajahnya. Kenapa Sehun sampai tahu apa yang ia lakukan. Aishh… apa dia mempunyai indra ke-enam.
"Kami, pergi dulu… Sehunnie, Luhannie hyung." sapa Lay sambil berjalan disebelah Kai, keduanya tersenyum aneh melihat Sehun dan Luhan.
"Emm… Sehun." Kai berbalik menatap Sehun.
"Apa." Sehun menatap Kai bingung.
"Eum… Selamat." kata Kai singkat, Sehun mengernyitkan alisnya.
"Selamat? Selamat apa?" tanya Sehun bingung seperti biasa tingkah hyungnya yang satu ini cukup aneh dan sulit untuk diterka oleh akal sehat.
Kai menatap Luhan yang sepertinya Pria cantik itu juga bingung sama seperti Sehun.
"Selamat atas keberhasilanmu Sehun-ah kau menjadi seorang pria dewasa bersama Luhan." kata Kai mantap. Dengan wajah tanpa dosanya, Kai pergi begitu saja diikuti oleh Lay yang berjalan bersamanya.
Sehun dan Luhan tampak masih berpikir dengan apa kata Kai barusan. Sosok pria dewasa? Bersama Luhan… Apakah maksudnya ini?
"Yaaa! kkamjong anehhh…" gerutu Sehun, tapi sayang kai sudah berjalan menjauh disaat ia akan membalas hyungnya ini.
"Dewasa? Bersamaku?" Luhan masih bingung. Sehun menatapnya dengan menggelengkan kepalanya, ada pria bodoh sepertinya. Astaga…
"Ayo! Tidak usah memikirkan apa kata Kai hyung yang aneh itu tidak penting." Sehun menarik tangan Luhan untuk berjalan seiringan dengannya.
"Aku tahu, apa maksudnya." kata Luhan pelan. Sehun menoleh kearahnya.
"Euh?"
"Kai berpikir seperti itu karena kau ingin menikahiku." jawab Luhan polos. Sehun menahan senyumnya dasar pria bodoh. Tapi Sehun senang melihat sikap Luhan yang seperti ini.
"Kau bodoh sekali…" Sehun menatapnya tidak percaya "Dewasa maksudnya, aku sudah berhasil merebut keperawananmu. Bodoh hahaha…" Sehun melepas genggaman tangannya dan berjalan mendahuluinya.
Luhan masih terpaku ia masih mencerna apa kata-kata Sehun barusan. Keperawanan? apa itu artinya sama dengan? Dan berarti itu adalah…
Ia menggelengkan kepalanya…
"YAKKKKKK! OH SEHUNNNNN MESUMMMM!"
_oOo_
Luhan flat
18.00 KST
Luhan menatap lagi jam dinding kamarnya kenapa Sehun juga belum datang batinnya.
Ia kemudian menatap seluruh penampilannya dicermin, sudah lama ia tidak memakai pakaiannya ini. Sejak perekonomiannya menurun drastis ia tidak lagi bergaul dengan teman-temannya yang notabene adalah keluarga yang kaya raya. Sehingga ia lebih memutuskan untuk menyendiri tidak ada teman lagi yang mau bergaul dengannya yang jatuh miskin.
"Ya Luhan. Kau jangan bersedih. Fighting…" kata Luhan mengepallkan tangannya keatas. Ia berusaha tersenyum walaupun itu sulit karena sekarang ia sedang memikirkan Mama dan Baba nya. Ia kembali memikirkan apa kata Tuan Yuan saat ia bertemu tadi didepan gedung penginapannya. Pria setengah baya itu tampak berbeda saat melihatnya yang baru saja pulang dari pekerjaannya. Sepertinya ada raut kesedihan terpancar diwajahnya. Entahlah Luhan juga tidak tahu kenapa.
"Yang aku dengar kau akan kerumah keluarga calon suamimu nanti, bukan begitu Luhan?" tanya Tuan Yuan padanya. Ia hanya mengangguk singkat.
"Aku berharap yang terbaik untukmu. Aku kenal dengan Tuan Oh, calon ayah mertuamu. Dia orang yang baik walau ia sedikit keras tapi dia sangat menyayangi calon suamimu itu. Jadi aku yakin dia akan menyayangimu juga."
"Eum…" jawabnya pelan. Ia sebenarnya malas membahas masalah ini dengan Tuan Yuan, karena ia takut kalau Tuan Yuan bertanya macam-macam tentang Sehun, yang ia tidak tahu.
"Kalau sudah, aku ingin masuk."
"Baiklah… semoga sukses. Aku yakin, mereka akan menerimamu dengan baik." tambah Tuan Yuan padanya.
TING
TING
Luhan sedikit terkejut ketika mendengar pintunya berbunyi, ia kemudian melangkahkan kaki untuk membuka pintunya.
Ceklek!
Luhan menatap sesosok yang kini tengah berdiri didepannya, pria itu memakai kemeja hitam yang pas melekat ditubuhnya yang tinggi, terlihat rapi dan sekaligus tampan. Tapi ia memasang wajah kesalnya saat menatapnya walau hanya matanya saja yang terlihat ia tahu Sehun sedang terlihat kesal dengannya. Dengan segera pria itu membuka maskernya. Sekarang jelas sekali wajah Sehun yang tampan sekaligus mengerikan. Seperti biasa aura setan seketika ia rasakan saat ini.
"Kau lama sekali membuka pintu. Bahkan aku sudah menekan bel berulang kali. Apa yang kau lakukan didalam sehingga k_"
Sehun tidak melanjutkan kata-katanya, ia kini malah menatap penampilan pria didepannya ini dengan wajah yang cukup terkejut. Pandangannya menatap Luhan dari atas hingga bawah, sial… ia tidak bisa berkedip. Dengan susah payah ia mengembalikan wajah normalnya agar tidak terlihat bodoh didepan pria yang sungguh cantik sekaligus imut ini.
"Hun…" panggil Luhan pelan. Ia cukup tahu Sehun memperhatikan detail wajahnya, Luhan merasa penampilannya terlihat aneh dimata Sehun.
"Aku terlihat aneh ya?" tanyanya lagi memastikan, Sehun kembali menatap wajah Luhan. Ia diam… sesaat kemudian Sehun hendak tersenyum, tapi ia tahan.
"Anniya. Tidak ada yang aneh.." jawab Sehun singkat tapi matanya masih menatap Luhan.
"Kajja…" Sehun membalikkan badannya dan berjalan mendahului Luhan. Sementara Luhan hanya bisa diam melihat tingkah Sehun yang sepertinya sudah biasa baginya. Tidak heran lagi setelah mengenal pria itu dengan mudah ia langsung tahu segala hal yang ada didiri Sehun, terutama sikap Sehun yang satu ini.
_oOo_
Twosome Coffee
Myeondeong.
Pria setengah baya itu meletakkan Iphone setelah dari tadi ia sibuk melihat segala sesuatu yang berhubungan dengan Sehun. Ia berpikir sejenak dengan menyeruput secangkir kopi yang masih hangat aroma kopi yang harum ini saja bisa membuatnya sedikit releks.
Memang beberapa hari ini ia sedikit cemas dengan apa yang telah ia berbuat pada Pria yang sudah ia anggap sebagai putranya sendiri, walau kenyataan pria itu masih tidak menyukainya. Tapi demi janjinya dengan Mama pria itu yang membuatnya seperti merasa berdosa jika pria itu merasa kesusahan.
"Selamat malam, Tuan Yuan." sapa seseorang yang baru saja datang.
Pria yang barusan datang tersebut memakai kemeja hitamnya dan terlihat rapi sangat tampan mencerminkan sosok yang kharismatik.
"Ahh, kau sudah datang…" jawab Tuan Yuan. Pria tersebut kemudian duduk berhadapan dengannya. "Jangan memanggilku dengan Tuan kalau sudah diluar lingkungan kerja." tambahnya lagi.
"Ahh, aku hanya belum terbiasa…" jawab pemuda itu sedikit menyembunyikan rasa malunya.
"Panggil saja, paman Minho." katanya lagi. Pemuda yang bermarga Choi itu akhirnya mengangguk dengan tersenyum padanya.
'Dia pemuda yang baik aku yakin dia bisa melindungi Luhan dan menjaganya kelak. Dari pada ia harus mendapat tekanan jika harus menikah dengan seorang idol apalagi Oh Sehun aku tahu… pria itu banyak sekali pairingnya bersama banyak gadis fansnya sangat banyak sekaligus menakutkan dan ini tidak mudah untuk Luhan lalui… Tapi apakah Luhan, apakah Luhan benar-benar mencintai Sehun? Aku rasa mereka berdua menikah dengan terpaksa karena aku yakin Sehun belum siap untuk menikahinya. Dan kalau dengan Minho, pemuda ini pasti siap menikahi Luhan. '
"Paman, kau kurang sehat?" panggil Minho mengangetkannya, "Wajahmu sedikit pucat? Apa kau sakit?" tanyanya lagi.
"Ah. Anniya. Hanya ada sedikit pekerjaan yang menguras pikiran kau jangan khawatir aku baik-baik saja." jawab Tuan Yuan berbohong, sementara Minho hanya menerima jawaban itu dengan menganggukkan kepalanya saja.
"Eum, bagaimana kabarmu? aku dengar kalian merambah hingga Amerika dan mengeluarkan merk baru." kata Tuan Yuan basa-basi.
"Ne, sementara Appa yang mengurusnya disana jadi untuk pasar kami yang di Korea dan Asia, aku yang mengurusnya, paman." jawab Minho sedikit canggung jika menyebutnya dengan paman.
"Daebak Minho." puji Tuan Yuan, "Kau masih muda tapi kau sudah bisa melakukan pekerjaan ini, aku bangga padamu." lanjutnya.
Minho hanya tersenyum mendengarkan nya.
"Eum, aku dengar kau sudah bertemu dengan Luhan, setelah membaca pesanmu kemarin lusa aku jadi penasaran reaksimu saat pertama bertemu dan katamu lagi kau langsung mengenalinya. Kau hebat sekali…"
"Aigoo… paman jangan membuat aku malu aku hanya menebak namanya saja dan dia langsung mengangguk walaupun dia sedikit bingung." jawabnya dengan tetap tersenyum pada Tuan Yuan.
"Dia cantik bukan?"
"Dia memang cantik lebih cantik dari yang ada difoto dan aku baru melihat pria secantik dirinya paman. Tapi sepertinya aku sedikit terlambat bukankah dia akan menikah dengan kekasihnya?"
"Paman minta maaf padamu Minho, paman merasa tidak enak jika seperti ini seharusnya paman_"
"tidak perlu meminta maaf paman, ini bukan salah siapa-siapa." sepertinya Minho memang sedikit kecewa tapi ia berusaha menyembunyikan wajah kekecewaannya itu. "Aku sudah mencari tahu tanpa seijin paman mengenai dirinya setelah aku mendapat foto dan alamat tempat tinggalnya darimu. Dia Pria yang mandiri dan kuat. Maafkan aku telah lancang_"
"Kau menyukainya?" potong Tuan Yuan. Minho sedikit tersentak. "Aku sebenarnya belum rela dia menikah dengan pria itu… pria yang katanya menjadi kekasihnya tapi aku yakin Luhan juga belum siap menikah."
"Maksud paman?"
"Kau tenang saja, aku sudah tahu apa yang harus aku lakukan Minho. Jangan khawatir aku tidak akan membuat Luhan sakit hati."
_oOo_
Sehun Home.
Mata pria itu kini hanya tertuju pada makanan yang ada didepannya ia belum berani menatap kedepan menatap wajah Ibu, Ayah dan juga kakak Sehun, pria yang kini duduk tepat disampingnya.
"Sehun menceritakan banyak tentangmu dan ternyata kami tahu sekarang. Kau memang sangat cantik Luhan." kata Tuan Oh pada Luhan.
Luhan mendongak sesaat ia tidak percaya dengan apa yang pria setengah baya ini katakan. Sehun bercerita tentangnya bercerita apa? Membuat penasaran saja.
"Ne, Sehunnie bodoh sekali. Kenapa memberitahu kami tentangmu setelah foto kalian terungkap." jelas Sezun, kakaknya Sehun. "Tapi, aku tahu alasan Sehun menyembunyikanmu dari kami semua."
"Euh?" Luhan menatap sang kakak Sehun.
"Karena Sehun takut kehilanganmu." Sezun tersenyum pada Luhan
"Dia takut kalau kau menjadi incaran semua member EXO, makanya dia menyembunyikanmu rapat-rapat. Iyakan Hun?" tambah Sezun.
BLUSSHH
Wajah Luhan tidak henti-hentinya mengeluarkan semburat merah. Kali ini Sehun juga merasa malu dengan apa yang kakaknya katakan.
Kenapa Sehun merasa malu? seharusnya dia tidak begini. Tidak boleh, tidak boleh. Aigoo… apa begini rasanya menyukai seseorang. Astaga Hun, ini bukan sifatmu. Dasar bodoh.
"Hyung kau bosan hidup. Aigoo…Ayo kita makan." Sehun mengalihkan rasa malunya dengan melahap makanan yang ada didepannya.
"Makan yang banyak Luhan jangan sungkan." suara lembut seorang perempuan padanya siapa lagi kalau bukan Nyonya Oh. Luhan sedikit mendongak dan menganggukkan kepalanya saja.
Ia masih merasa malu, walau tadi mereka sempat berbincang diruang keluarga untuk perkenalan diri tapi rasanya masih saja tetap malu.
"Tidak usah malu, apa Sehun melarangmu makan terlalu banyak?" celetos kakaknya Sehun.
"Ya, hyung!" pekik Sehun, "Kenapa kau bisa berkata seperti itu, aigoo…"
"Anniya… Sehun tidak melarangku." sela Luhan, dengan sedikit malu akhirnya ia mulai menyumpitkan makanan dan memasukkannya kedalam mulut. Luhan merasakan makanan ini sangat enak, tiba-tiba ia teringat masakan sang Mama… ini mengingatkannya pada saat ibunya memasakkannya.
"Wae? Tidak enak ya?" tanya Tuan Oh alias Oh Kyuhyun yang melihat ekspresi wajah Luhan sepertinya berbeda.
Sehun menoleh dan menatap wajah Luhan, pria cantik itu mengunyah pelan makanan tersebut dan belum menjawabnya.
"Anniya, ini sangat enak aku belum pernah memakan makanan seenak ini selama aku pindah ke Korea." jawab Luhan apa adanya. "Aku seperti memakan masakan Mama." tambahnya pelan. Memang sejak datang ke Korea, ia dan Baba nya selalu membeli makanan yang sudah masak. Dan ini memang berbeda dengan makanan yang ada dirumah Sehun.
Semuanya kini menatap Luhan dengan perasaan bersalah. Terutama Sehun, ia menatap sendu wajah pria ini. Ia telah menemukan sisi lain dari Luhan.
Tanpa Luhan duga, ia merasakan genggaman tangan Sehun yang tiba-tiba, Luhan melihat tangan kirinya sudah ada yang menggenggamnya erat sekali. Sehun, dia menatap ragu Sehun yang kini juga menatapnya. Sepertinya perasaan Luhan saat ini sedikit nyaman dengan adanya genggaman tangan itu.
"Eum… maafkan aku, aku tidak bermaksud_"
"Gwenchanayo, ini aku yang memasak. Kalau kau rindu masakan Mama kau boleh datang kemari, sesukamu." sela Nyonya Oh.
"Iya benar. Kau boleh kesini sesukamu lagi pula kau akan menjadi bagian keluarga kami jadi harus lebih sering bersama-sama bukan? Untuk mengenal lebih jauh lagi." tegas Oh Kyuhyun.
Luhan tersenyum ragu, sungguh ia masih sangat malu dengan ini semua. Ia masih tidak enak dengan keluarga Sehun, walaupun ia tahu keluarga ini sangat baik padanya mengingat ia bukan dari keluarga kaya dan telah membuat anak laki-laki satu-satunya mereka menikah diusia muda dengan cara yang seperti ini.
"Maaf, aku jadi merepotkan kalian."
"Tidak perlu minta maaf Lu, justru kami yang harus meminta maaf karena adikku yang telah membuat kau menjadi seperti ini. Aku sebenarnya sangat malu padamu…" kata Sezun sambil menatap Sehun dengan tatapan yang sulit diartikan.
Luhan tidak percaya dengan apa kata Luhan barusan kenapa jadi dia yang harus malu. Sementara Sehun melesatkan tatapan membunuh kearah kakaknya ini.
"Hyung!" pekiknya, "Kenapa kau seolah-olah sangat membenciku hum? Aku ini adikmu bukan? Menyebalkan sekali…" gerutu Sehun yang tidak terima.
"Kau memang adikku, siapa bilang kau kakakku? Aku hanya tidak yakin kau bisa melakukannya Sehun-ah."
"Mwo? Melakukan apa… ?" tanya Sehun bingung.
"Apa harus dijelaskan disini?" Sezun menatap wajah Sehun dan Luhan kemudian menatap wajah Eomma dan Appanya bergantian. "Kenapa, kau bodoh sekali tssk!" Sezun sepertinya frustasi dengan sikap Sehun ini yang begitu bodoh.
Yang Sezun maksud adalah bagaimana Sehun bisa 'melakukan hubungan' dengan seorang pria.
Luhan yang sepertinya paham hanya menekuk wajahnya sambil kembali menyantap makanan yang ada. Sehun terus menatap wajah kakanya kesal, karena kakaknya secara tidak langsung menjatuhkan harga dirinya didepan Luhan.
"Eomma, lihatlah anakmu ini… hyung terus saja_"
"Kau manja sekali…" potong Sezun, membuat Luhan menahan senyumnya melihat sikap Sehun yang sepertinya masih seperti anak kecil. "Kau tidak malu dengan Luhan? Calon istrimu itu sangat pekerja keras dan terlebih lagi dia mandiri tinggal sendirian. Dan kau? Kau masih beruntung mempunyai kami."
"Dia sangat takut jika datang terlambat pasti kau akan memarahinya habis-habisan dan yang pasti kau akan menyuruh Luhan melakukan sesuatu yang tidak semestinya. Itu dirimu kan? Oh Sehun adikku sayang…" tambah Sezun lagi.
"M…mwo?" Sezun melongo mendengar apa kata kakak nya barusan. Kenapa dia sampai tahu mendetail tentang bagaimana ia memarahi Luhan. "Hyung tahu? dari Suho hyung atau Kris…? yak pasti naga itu yang memberitahunya iya kan? Itu fitnah hyung, aku tidak per_"
"Ya! memang Kris yang memberitahunya." sela Sezun, "Tapi, Luhan semakin mempertegasnya. Dia juga mengakui itu saat tadi pagi aku bertemu dengannya. Sebenarnya dia takut mengakui kejahatanmu didepanku tapi aku paksa akhirnya dia mengakui juga." jawab Sezun tersenyum bangga sekaligus puas.
Sehun memicingkan matanya, ia menatap Luhan, tapi Luhan tidak menatapnya. Pria itu tahu kalau Sehun akan seperti ini jika tahu ia bertemu dengan Sezun tadi pagi, dan dengan alasan ia ditraktir sarapan akhirnya, ia mengaku kalau Sehun memang seperti itu padanya.
"Aigoo… kalian ini kenapa berdebat dimeja makan. Kajja, lanjutkan makannnya." sergah Kyuhyun sang kepala keluarga.
"Awas saja kalian berdua…" desis Sehun. Ada dua nama dalam targetnya kali ini, Kris dan Luhan. Termasuk kakaknya ini. Dalam pikirannya kini hanya berpikir apa saja yang Luhan katakan pada kakaknya ini, dan juga apa saja yang Sezun katakan pada Luhan. Ini membuat Sehun bertanya-tanya. Ia harus mengetahuinya apapun caranya.
Sehun menoleh kesamping menatap Luhan. Wajah pria ini terlihat polos dan seperti tanpa dosa membuat Sehun semakin gemas padanya.
"Sehun-ah!" panggil Ayah nya, Sehun mendongak dan menatap Kyuhyun Appa.
"Ne?"
"Appa lupa mengatakan ini padamu semua persiapan Appa yang mengatur. Lagi pula dalam jangka satu bulan sebelum kau menikah, kau pasti sangat sibuk bukan begitu."
"APA? SEBULAN!" pekik Luhan, ia sangat terkejut mendengar jangka tempo pernikahan yang sangat cepat dirasa.
"Apa, Sehun belum memberitahumu pernikahan kalian memang sebulan lagi."
_oOo_
"Sehun-ah, sudah jam sepuluh malam… kau tidak mengantarku pulang hum?" tanya Luhan saat mereka duduk diruang keluarga sementara Sehun asyik dengan permainan di ponselnya.
Luhan menatap Sehun kesal, setelah makan malam dan membicarakan rencana pernikahan yang dirasa sangat cepat sebulan bayangkan sebulan.
Sehun belum menjawab apa kata Luhan barusan, ia lebih fokus dengan permainan yang sedang ada didepannya ini. Dia sudah lama tidak memainkan games yang ada dirumahnya, karena kesibukannya ia jarang bisa pulang kerumah.
"Hun…" panggil Luhan kesal.
"Kenapa kau ingin pulang? Beri aku satu alasan supaya aku bisa mengantarmu pulang." kata Sehun, tatapan matanya masih fokus pada permainan gamesnya.
Luhan mendengus kesal. Kenapa pria ini masih saja menyebalkan kenapa tidak bisa membuatnya menuruti kata-katanya dan kenapa selalu dia yang menurutinya. Sabar… Lu. Sabar. Salahmu sendiri kau menyukai pria ini. Ini akibatnya, kau selalu tidak bisa terlalu marah dengan pria ini.
"Karena, ini bukan rumahku, aku ingin tidur diflatku dengan nyaman!" jawab Luhan.
Sehun menghentikan aksinya, meletakkan ponselnya dan menatap Luhan, tentu saja sorot mata ini yang membuat jantung Luhan berdebar kencang. Entah, walau terlihat sedikit menyeramkan kenapa Sehun jauh terlihat tampan.
"Siapa bilang ini bukan rumahmu?" tegas Sehun, Luhan diam dan menatapnya, "Ini juga rumahmu, karena kau calon istriku. Kau bodoh atau apa huh?" tambah Sehun lagi.
Luhan benar-benar tidak mengerti jalan pikiran Sehun. Sebenarnya apa yang membuatnya mengatakan ini, membuat bingung saja. Yang membuatnya sedikit berdebar lagi adalah, setiap Sehun mengatakan dia adalah calon istrinya.
"Ya, Sehun-ah aku memang bodoh. Sekarang, intinya kau mau mengantarku pulang apa tidak?!"
"Menurutmu?" Sehun ganti bertanya. Luhan menghela nafas lagi sampai kapan Sehun akan membuatnya terus bersabar. Dan satu lagi, tubuh Sehun semakin mendekat kearahnya.
"Terserah, aku pulang sendiri!" Luhan beranjak dari duduknya. Dengan satu tarikan Sehun kembali membuatnya duduk kembali.
"Aish… kau ini keras kepala sekali." Sehun menatap Luhan kesal. Begitu juga sebaliknya. "Kau tidak akan pulang malam ini!" tambah Sehun.
"Mwo?!" Luhan mengerutkan keningnya, "Maksudmu aku_"
"Kau menginap disini!" kata Sehun seraya berdiri dari tempatnya. Luhan membulatkan matanya, menginap disini? Apa Sehun sudah gila…
"Kau_"
"Kau pasti mengira aku yang ingin kau menginap disini bukan?"
Gila, bahkan Sehun tahu, apa yang ada dipikiran Luhan. Ia kemudian menggelengkan kepalanya pelan.
"Eomma yang memintaku. Dia sebenarnya tidak ingin kau tinggal disana lagi disana kau sendirian, ditempat yang sempit dan juga_"
"Mwo? Eomma. Apa kau menceritakan ini juga pada Eommamu?!" potong Luhan. Sehun menoleh menghadapnya kini. Memang benar Sehun menceritakan ini pada Eommanya, selain itu Sehun sebenarnya tidak suka Luhan tinggal ditempat yang seperti itu. Tidur beralaskan kasur lantai yang tipis.
"Kajja… kau akan tidur dikamarku." kata Sehun mengalihkan pembicaraan.
"Kamarmu?" Luhan semakin terkejut, "Kau gila, atau apa? Tidak mau…" tolaknya.
"Terserah saja, apa kau mau tidur dengan Eomma dan Appa? Hum.."
"Dengan Sezun hyung, itu jauh lebih baik dari pada tidur denganmu!" Luhan rupanya tetap bersikukuh tidak mau tidur sekamar dengan pria mesum itu. Menakutkan.
"Apalagi dengan hyung, aku tidak mau kau tercemar dengan sifat iblis darinya lagi pula kau ini milikku, jadi kau harus menurut padaku Lu…" Sehun menarik pergelangan tangan Luhan agar mengikutinya berjalan. Tapi pria ini tetap ingin menolak.
"Kata siapa aku ini milikmu, dan satu lagi, kita belum resmi menikah aku tidak mau terjadi hal-hal yang bisa merugikanku dan_"
"Kau takut aku menidurimu Lu." kata Sehun langsung tepat sasaran. "Aku bukan pria semacam itu. Memang mereka membiarkan kau tidur sekamar denganku karena mereka mengira aku sudah melakukannya padamu. Jadi kau tahukan maksudku ini?" kata Sehun pelan dengan mendekatkan tepat ditelinga Luhan.
Lalu, dia bisa apa sekarang. Menuruti apa kata Sehun? Tidur sekamar dengannya… Aigoo.. semoga dia pulang dalam keadaan selamat.
_oOo_
Mata Luhan masih mengamati setiap sudut ruangan kamar Sehun. Begitu rapi dan tampak sekali berjajar koleksi berbagai macam kaset games turunan sang ayah dan juga beberapa kaset film. Rupanya dia juga senang menonton film.
Luhan duduk tepat dipinggiran king size yang sangat nyaman, sudah lama sekali ia tidak merasakan tidur diranjang yang seperti ini. Seulas senyum simpul terkembang dibibirnya.
Aroma kamar ini juga sangat menenangkan, berbeda dengan kamarnya. Matanya juga menatap setumpuk kotak yang masih terbungkus rapi oleh kertas kado, dan beberapa tas kertas ada diatasnya. Mungkin itu hadiah dari fansnya, ia tahu Sehuun mempunyai banyak sekali penggemar dari kalangan gadis-gadis.
Ia kini merasa pria yang sangat tidak berguna jika melihat kepopuleran Sehun, pria yang tidak mempunyai apa-apa, tidak tahu apa-apa tentang Sehun tapi sekarang kenapa dia malah akan menikah dengannya. Ini suatu musibah atau keberuntungan? Atau malah ini adalah awal dari bencana untuknya?
Ceklek!
Luhan menatap Sehun yang kini baru selesai dari kamar mandi. Pria itu kini terlihat lebih fresh dengan rambutnya yang masih basah karena keramas, ditambah dengan panampilannya yang hanya menggunakan celana pendek dan juga kemeja putihnya. Pria ini seperti seorang pangeran yang sangat tampan dimata Luhan.
Sehun berjalan kearahnya dengan mengusapkan handuk dirambutnya, Luhan segera mengalihkan pandangannya, ia tidak sanggup berlama-lama melihat Sehun yang seperti ini. Sangat mempesona. Kenapa sifat setan nya seperti dia jauh lebih mempesona dibanding seorang malaikat? Luhan masih saja bingung dengan hal ini.
Apakah cinta tidak memandang semua ini?
Greepppppp….
Luhan merasakan ranjangnya sedikit bergerak, Sehun sudah duduk tak jauh dari sampingnya. Apa pria ini mau membuat Luhan mati saat ini juga dengan ia duduk disampingnya tanpa rasa bersalah karena ia terlalu mempesona?
Gila… Luhan merasakan ia sudah sangat gila. Debaran jantungnya mulai kambuh, tidak terkontrol. Mencium aroma shampo dan juga sabun yang Sehun pakai masih jelas tercium olehnya. Membuatnya tidak bisa bergerak, menjauh.
"Kau tidak mandi?" tanya Sehun menjernihkan suasana yang tadinya sedikit canggung.
"Tidak usah, sudah malam." jawabnya singkat. Ia belum berani menoleh kesamping, menatap Sehun.
"Oh, ya sudah." Sehun mengangguk pelan. "Eum, kalau kau masih lapar biar aku ambilkan makanan lagi buatmu." tawarnya.
Padahal Sehun sebenarnya juga canggung, entahlah kenapa seperti ini jadinya. Tidak seharusnya beginikan? Dia seharusnya bersikap ketus dan jahat seperti biasanya pada pria disampingnya ini. Menguras informasi tentangnya yang bertemu Sezun, kakaknya tadi pagi.
"Anniya, aku masih kenyang." jawab Luhan lagi, masih sama ia menjawabnya dengan pelan dan belum berani menatap Sehun.
Sehun menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal. Sial… kenapa dia juga berdebar-debar sekarang. Ini tidak mungkin kau Oh Sehun. Apa ini benar kau? Seorang pria tampan, dan juga sangat jahil bisa mati kutu seperti ini. Tidak mungkin…
Tapi kenyataannya sekarang…
"Eum, kau tidak mau mengganti Jas mu? Sezun hyung ada pakaian untuk kau tidur, lagi pula badan kalian juga sama…"
Luhan menoleh kearah Sehun. Untuk apa pria ini membahas pakaian tidur. Ini hanya semalam saja ia tidur disini, kenapa sepertinya repot sekali.
"Euh?"
"Maksudku ukuran badan kalian sama… sama-sama kecil dan juga pendek." jawab Sehun dengan wajah datarnya, ia juga menatap Luhan.
"MWO!" pekik Luhan. "Tsskk… memang aku kecil dan pendek, tapi aku tidak sepertimu. Walaupun kau tinggi, dan sepertinya kau sangat pintar. Tapi, kelakuanmu masih seperti anak kecil saat bersama dengan eommamu tadi bukan begitu Sehun-ah." Luhan membuat nada diakhir dengan logat eommanya Sehun.
Sehun membulatkan matanya ia tidak percaya dengan apa yang pria ini katakan. Baru saja suasana sedikit mencair dengan pembicaraannya, tapi sekarang kenapa aura pertengkaran kembali mencuat. Aigoo…
"K..kau?" Sehun menatapnya kesal, "Ahh… baiklah. Sekarang kau tidur." Sehun mengalihkan pembicaraan. Ia melihat ranjangnya begitu juga dengan Luhan.
"Aku tidur disofa saja. " kata Sehun lagi sambil mengambil bantal dan gulingnya.
"Mwo? Aku saja yang disofa. Kau kan pemilik kamar ini jadi sebaiknya kau tidur disini saja." tolaknya. Sehun menatap Luhan bingung, ada pria sepertinya. Bukankah ia seharusnya suka tidur dengan bed seperti ini, karena Sehun tahu dikamar Luhan hanya ada kasur lantai yang tipis.
"Kau keras kepala sekali." Sehun bersikeras, kemudian ia mengambil selimut yang ada diatas ranjang. "Kau tinggal tidur saja masih protes? Gengsimu sangat besar sekali Nyonya Oh?"
"Siapa yang gengsi Tuan Oh? Aku hanya tidak ingin tidur diranjangmu. Arasseo!"
"Jadi, kau juga ingin tidur disofa denganku?" goda Sehun yang sepertinya mulai kesal dengan tingkah Luhan.
"Tidak denganmu, aku tidur disofa sendirian." tegasnya. "Lagi pula, siapa yang mau tidur denganmu lagi sudah cukup kau menyusulku tidur waktu itu!" tambahnya.
Sehun mendegus kesal. Sial, ia ingat lagi kejadian pagi itu. Padahal ia mati-matian menahan untuk tidak mengingatnya.
"Terserah… Aish jinja!" pekik Sehun, dengan tangannya yang kuat ia menarik selimut itu lagi. Selimut yang berada didekat Luhan.
"Sini…" pekik Sehun saat menarik selimutnya yang ditahan oleh Luhan.
"Tidak mau, aku saja yang tidur disofa." kata Luhan sambil menggeleng. Aigoo.. dia semakin cantik dengan wajah yang seperti itu, Sehun-ah sadarlah… kau kenapa malah menatapnya.
''LUHAN! Berikan selimutnya…" Sehun menarik lagi selimut itu.
"YAKKK, TIDAK MAU!" Luhan bersikukuh tidak mau. Akhirnya Luhan dengan kekuatannya juga menarik selimutnya. Begitu juga dengan Sehun, ia tidak mau mengalah sepertinya. Ia tidak mau dikalahkan oleh seorang pria seperti Luhan.
"Baiklah! Yang mendapat selimut, akan tidur disofa!" kata SeHun.
"Siapa takut…"
"Aish…" Sehun meringis karena kekuatan Luhan juga sangat kuat sepertinya. "Kau kecil-kecil kuat juga ternyata…" Sehun menarik kuat selimut ditangannya, seiringan dengan Luhan yang menariknya kuat.
Sehun memutar otaknya, berpikir sejenak. Kalau seperti ini bisa dipastikan Luhan akan menang. Kemudian ia tersenyum miring pada Luhan.
"Lu, kau tahu…" kata Sehun sambil menahan selimutnya dan juga bantalnya agar tidak jatuh ketangan Luhan.
"Euh?"
"Kau sangat cantik." kata Sehun singkat. Dan hasilnya, Luhan mengerjapkan matanya sesaat ia cukup terkejut dengan apa yang Sehun katakan. Sehun mengatakan kalau dia sangat cantik? benarkah?
"Ahhh…" pekik Luhan tiba-tiba saat ia hilang kendali, oleh selimutnya dan juga tubuhnya.
BUGG!
"K…kau?" Luhan tercengang ketika tubuhnya kini jatuh tepat diatas tubuh Sehun. Sehun menatapnya dengan senyuman miring, seolah dia yang menang sekarang. "Kau licik sekali Oh Sehun." tambahnya lagi.
"Kau tahu itu bodoh!" Sehun menyentilkan jarinya didahi Luhan. pria itu mendengus kesal kemudian beringsut bangun dari tubuh Sehun.
Entah dorongan dari mana tangan Sehun malah mendekap erat tubuh Luhan, pria cantik itu menatapnya kesal. Ditatapnya wajah Luhan dari jarak sedekat ini, serta aroma pria cantik ini yang selalu ia sukai. Sepertinya sekarang ia sudah tahu satu hal, saat merasakan getaran didadanya saat dekat dengan pria rusa ini.
"Hun-ah…aku ingin bangun!"
"Lu, kau tidak merasakan detak jantungku yang begitu keras saat ini?" kata Sehun mengabaikan apa kata Luhan.
"Mwo?" Luhan sedikit bingung. Tatapan mata Sehun tidak seperti beberapa detik yang lalu, kini sepertinya sangat teduh. Aroma Sehun semakin menyeruak dihidungnya. Memabukkan.
"Kau tidak berdebar-debar sekarang?" tanya Sehun lagi. Sehun dengan cepat membalikkan posisinya, hingga pria ini sekarang ada dibawah kendalinya. Dengan begini, ia semakin puas menatap Luhan.
"Sehun-ah, kau bicara apa?" Luhan sebenarnya tahu apa maksudnya, hanya ia tidak mau terlihat bodoh saat ini.
"Sekarang, kau merasakan debaran jantungku bukan?" Sehun meletakkan tangan Luhan tepat didadanya, Luhan terkejut. "Kau tahu? ini selalu berdebar saat denganmu. Aku tidak tahu ini apa, yang jelas, aku hanya ingin kau tahu… kau selalu membuatku gila dan tidak bisa sadar akan siapa aku sebenarnya."
Luhan diam… bagaimana ia harus bersikap sekarang? Bagaimana ia harus menjawab kalau ia juga merasakan hal yang sama dengan Sehun rasakan. Sial… dia selalu tidak bisa berontak dengan ini semua.
"Kalau kau belum berdebar, aku akan membantunya untuk sedikit berdebar." kata Sehun dengan senyumnya. Bukan senyuman setan melainkan senyum yang sangat manis, sungguh ia sangat tampan sekarang matanya ketika tersenyum astaga.
Belum sempat Luhan bertanya, ia sudah merasakan bibir Sehun diatas bibirnya. Ia mengerjapkan matanya sesaat, merasakan bibir Sehun yang sedikit basah mulai menekan bibirnya dan bergerak sangat pelan, melumatnya bergantian.
"Kau belum merasakannya?" Sehun kembali bertanya pada Luhan. Pria ini bisa apa sekarang selain merasakan debaran jantungnya yang begitu cepat, tapi ia tidak bisa berkata apa-apa.
Sehun kembali memiringkan wajahnya kembali, memenuhi bibir pria cantik ini dengan ciumannya yang syarat akan perasaan dihatinya. Niatnya hanya ingin pria ini berkata seperti dirinya, tapi Luhan malah diam, tidak menjawab, jadinya ia malah melakukannya lagi. Dan sepertinya ia juga tidak menolak ciumannya. Kapan ia tidak tergoda dengan ciuman Sehun anak tampan Oh Kyuhyun?
Suasana yang hening dan juga nyamannya kamar ini membuat Sehun sedikit lupa akan sesuatu ia sebenarnya ingin menahan untuk tidak mencium pria ini, tapi selalu tidak bisa. Ia bukannya merendahkan harga diri pria ini, tapi inilah yang ia bisa ia mengatakannya dengan mencium Luhan,
Bibir Sehun kini tidak berada diatas bibirnya lagi, Gila…. Luhan kenapa membiarkan Sehun mencium bagian yang menurutnya sangat memabukkan. Ia merasa Sehun sangat lihai, dengan semua perlakuannya padanya. Hingga kini bibir Sehun turun dilehernya, mengecup dan menghisap bergantian dengan pelan di permukaan kulit sekitar bahu dan tulang selangkanya ia juga tidak bisa menolaknya. Ini mudah bagi Sehun untuk melakukannya karena memang kemeja Luhan juga memperlihatkan bahunya yang indah.
Tangannya kini bahkan menyusup disela-sela rambut basah Sehun. Nafas mereka berdua terdengar berat dan saling beradu satu sama lain. Luhan sepertinya ia akan hilang kendali saat merasakan tangan Sehun sudah menaikkan sedikit kemeja nya hingga ia merasa tangan pria ini mengusap pelan kulit mulus pahanya dan…
"Hhh… ."Entah dorongan apa Sehun menarik wajahnya dari aktifitasnya. Nafasnya masih terdengar sangat berat. Sehun segera bangun dan menghela nafas panjang. Ia juga merapikan sedikit rambutnya. Debaran jantungnya masih terdengar keras, begitu juga Luhan dia masih mengatur nafasnya yang berat. Ia belum bangun dari tidurnya.
"Tidurlah disini, biar aku saja yang disofa." Sehun hanya mengambil bantal dan guling saja tanpa mengambil selimutnya. Ia berjalan menuju sofa panjang yang ada dikamar ini.
Luhan tidak percaya, kenapa ia bisa seperti ini. Gila ia seperti pria murahan saja. Lihatlah, Sehun membiarkannya sekarang ia merapikan rambut dan kemeja nya yang hampir saja lepas oleh tangan Sehun.
"Pabo-pabo!" rutuknya sendiri. Ia menarik selimut untuk menutupi sebagian badannya. Dan kembali memikirkan hal yang baru saja terjadi padanya. Kenapa Sehun bertingkah aneh sebelum menciumnya.
Luhan kembali menatap Sehun yang ada disofa tanpa selimut, ia sebenarnya tidak tega melihat Sehun seperti itu. Tapi kalau tidur satu ranjang? sepertinya akan sangat fatal…
Sehun kini merebahkan tubuhnya disofa tanpa selimut dan pikirannya menerawang, memikirkan apa yang baru saja ia lakukan pada Luhan. Ia hampir saja melakukan hal yang lebih jauh pada Luhan. Perasaannya sangat meledak-ledak, tidak mudah mengendalikan ini semua. Apakah benar ia memang tidak bisa jika tidak tanpa Luhan. Ia ingin selalu Luhan ada untuknya…
"Oh Sehun, kau sudah gila." desisnya sendiri. "Lu, bagaimana ini… aku sepertinya sudah masuk dalam permainanmu. Aku tidak bisa menghindarinya lagi, sangat sulit Lu? Bagaimana bisa ini terjadi padaku…"
"Satu bulan lagi? Sepertinya ini akan sangat lama, aku tidak yakin bisa menahan ini semua…"
T
B
C
HunHan Next Episode!
"Lu, aku tidak akan memaksamu untuk menikah dengan pemuda itu. Aku akan mencabut ancamanku tentan foto dengannya, dan kau bebas dengan pernikahan yang terlihat sangat terpaksa itu. Aku tahu, Sehun, pemuda itu pekerja keras, dia sangat kaya. Kau harus tahu satu hal, dia itu seorang idol. Aku tidak tega membiarkanmu menikah kemudian nantinya kau tidak akan bebas… ini terlalu sulit untukmu. Maafkan aku jika dulu mengancammu."
"Sehun-ah, diantara kita sudah tidak ada yang memaksa kita untuk menikah, foto bodoh itu sudah dicabut oleh Tuan Yuan, jadi tanpa menikah denganku, EXO dan juga nama baik keluargamu akan tetap aman."
''KITA TIDAK PERLU MENIKAH BUKAN BEGITU?''
Hahhhhh astaga maap BiyBiy telat apdet/? You know lah Reader-nim saya sibuk banget jadi ketua Paskil anak SD bhaq! dan semoga chapter ini suka yah tapi kalau gak suka yah ampunin BiyBiy lol ini juga gue ngebut banget sekali lagi maap yah Telat duhhh!
Gue udah mutusin FF ini MPREG jadi si Kyu Harabeoji/? bakal punya cucuk/? *ketawa syaiton bareng Kyuhyun*
oh iya gue mau nanya gue bingung siapa yang jadi istrinya Kyuhyun cubak? kalo Sungmin dia udah jadi suami orang hikssss *gakcuathayati* jadi gue minta saran nya buat orang yang mendampingi kakek Kyuhyun hahahah *digebuk Sparkyu*
POKOK NYA JANGAN LUPA REVIEW NYA *Maksa banget* yah kecuali buat pembaca gelap yang males ngerivew di kotak review inget ini bulan puasa gak takut apa gelap-gelapan /apacubak
Anyeonggggg!
^^520 I Say '' 훈'' You Say '' 한''^^
