Cast: Oh Sehun
Xi Luhan
Other Cast: EXO members and Other
Gengre: Marriage Life,Comedy Love,Friendship and Romance
Rate: T-M
Lenght: Chapter
^^520 I Say '' 훈'' You Say '' 한''^^
.
.
.
HAPPY READING ~~~~~~~
.
.
.
.
.
Author's POV
Sinar matahari pagi ini cukup cerah menyinari kota Seoul, kendaraan berlalu lalang menghiasi jalanan kota ini. Ditambah lagi dengan tidak sedikitnya pejalan kaki yang cukup menandakan untuk memulai aktifitas pekerjaan mereka masing-masing.
Luhan, menikmati pemandangan ini disepanjang perjalanannya menuju tempat penginapannya. Dengan diam dan diam, bukan karena ia tidak mau bicara dengan pria disampingnya yang konsentrasi menyetir, tapi ia memang kehabisan kata-kata, bingung harus berkata apa dan hanya menikmati suasana ini saja. Lagi pula pria disampingnya ini juga diam saja sejak pagi tadi, seperti saat masih dirumahnya.
"Em… lusa aku akan ke Jepang." kata Sehun pelan, tatapan matanya masih menatap lurus kedapan. Walau sebenarnya ia dapat melihat Luhan dari sudut ekor matanya. "Aku dan para member akan menggelar Konser EXOLUXION." tambah Sehun lagi.
"Eum… arraseo." jawab Luhan pelan. Ia juga belum menoleh kearah Sehun. Luhan sebenarnya, juga ingin bicara dengan Sehun. Sungguh situasi canggung seperti ini membuatnya semakin gugup. Apakah Sehun memang seperti yang ada dipikirannya? hanya terbawa suasana saja saat bersamanya? tidak ada perasaan apa-apa? Lalu yang dikatakannya saat hatinya berdebar bila didekatnya? Apa maksud semua itu…
Sebenarnya Sehun benci sekali situasi canggung seperti ini. Tapi apa boleh buat, ia masih belum bisa seperti biasa, jika mengingat kejadian tadi malam dan juga tadi pagi. Ia hanya tidak mau pria cantik ini salah paham, tapi… kenapa Luhan juga diam. Ia malah semakin bingung, harus bersikap bagaimana.
Bodoh, bodoh… kenapa Oh Sehun yang sadis, cool dan juga tampan bisa seperti ini. Haassh, mengingat kata-kata semalam yang menggelikan ia menjadi sedikit malu dan gugup jika menatap wajah Luhan.
Luhan, selain mengingat kejadian malam itu saat dikamar Sehun, ia juga mengingat kejadian dimana pagi tadi Sehun bersama. Didalam kamar Sehun.
"Kau ikut dengan kami bukan?" tanyanya lagi memastikan bahwa Luhan juga akan ikut ke Jepang. Luhan sedikit tersentak, karena ia tadi melamun.
"Apa perlu? Bukankah stylish dan beberapa crew juga banyak yang ikut." jawab Luhan ia menatap kedepan.
"Euh?" Sehun menoleh kearahnya. "Maksudmu, kau tidak akan ikut?"
"Sepertinya, aku masih baru bekerja dengan kalian mungkin para staff juga akan memilih crew yang akan ikut." Luhan menundukkan sedikit kepalanya, ia tetap saja masih belum bisa menatap kearah Sehun.
Sehun hanya bisa diam. Memang benar yang dikatakan Luhan, tapi pria mungil ini seolah memang tidak ingin ikut bersama. Di Jepang, tiga hari tanpa Luhan?
Luhan juga diam, dalam hatinya masih berkecamuk berbagai macam pertanyaan. Ia sebenarnya tidak ingin berkata seperti itu, sebenarnya ia tidak ingin jauh-jauh dari pria ini. Aneh bukan? Apa dia sudah gila, dia takut merindukan Sehun?
Bila, dia ingat kembali saat tadi pagi dan bahkan saat Sehun mulai menciumnya kembali… ada perasaan bahagia yang membuatnya sekaligus malu dengan Sehun seperti ini.
^^FlashBack^^
"Kau tidak mandi?" tanya Sehun pagi itu saat Luhan baru saja bangun, dia masih duduk diatas ranjang. "Kau, lelap sekali saat tidur.." kata Sehun lagi, sambil berjalan mendekat kerahnya. Pria ini baru saja keluar dari kamar mandi, aroma sabunnya sangat khas dan Luhan bisa mencium aroma ini.
Luhan menatap Sehun, ia baru tersadar saat Sehun duduk didepannya. Pria itu itu dengan manis tersenyum padanya. Demi apa, senyum Sehun bisa membuat paginya serasa lebih bersemangat dari biasanya. Dari dekat sini, aroma Sehun bisa tercium olehnya dan juga wajah Sehun terlihat sangat tampan dengan tshirtnya yang menunjukkan sedikit dadanya yang lebar. Lu Manly, kau bisa mati jika terus menatapnya dekat seperti ini.
"Eumh, mungkin aku terlalu lelah, jadi aku tertidur dengan sangat lelap." jawabnya sedikit ragu. "Aku mandi dulu…" Luhan akan beringsut dari tempatnya.
"Sebentar…" Sehun menarik lengannya.
"Mwo?"
"Kau tidak perlu pakaian?" tanya Sehun, menatap Luhan. "Eum maksudku, kau tidak ganti dengan baju lagi? hyungku, ada pakaian jika kau mau_"
"Tidak perlu… " tolaknya, ia kemudian menatap tangan Sehun yang masih ada dilengannya. "Hun-ah, aku mau mandi… sekarang."
Sehun tersadar, dan ia kemudian dengan perlahan melepas tangannya dari lengan Luhan. "Kau, ingin mengajakku mandi?" goda Sehun, karena memang kata-kata Luhan tadi terdengar mirip dengan seperti ajakan untuknya.
"Mwo? Kau gila…" Luhan baru saja akan turun dari ranjang tersebut, tapi tangan Sehun sekarang malah memeluknya dari belakang. Luhan membulatkan matanya, dan menatap Sehun dari samping…
"Yak! Apa yang kau lakukan…." Luhan sedikit berontak.
"Aku hanya ingin memelukmu…hum…" Sehun tersenyum puas sekali, berbeda dengan Luhan yang masih kesal dengannya. "Aku tahu, kau tidak mau pakaian dari hyungku dan memilih tetap memakai baju ini…" kata Sehun lagi.
"Mwo? Apa maksudmu, Oh Sehun!"
"Ne? Aku senang sekali sebenarnya kau memakai baju ini,Luhannie." katanya, Sehun kemudian menundukan wajahnya dan membenamkan dagunya tepat diatas bahu Luhan. "Apa, kau sengaja membuatku tertarik dengan kau memakai baju ini.. hum?" Sehun menatap Luhan dari samping, dengan posisi yang masih sama. Pelukannya… terasa semakin erat dirasa oleh Luhan.
"Aku? Aku membuatmu tertarik? Dengan baju ini….." Luhan menatap Sehun tidak percaya.
"Eum.." Sehun menganggukkan kepalanya pelan. Sehun betah sekali menatap Luhan seperti ini, pria ini sangat cantik, walau ia terlihat acak-acakan saat bangun tidur seperti ini "Kau tahu sekali, apa yang membuatmu terlihat menarik dimataku, selain tubuhmu…" Sehun sebenarnya ingin mengatakan kalau Luhan memang cantik, cantik sekali menggunakan baju ini. Tapi baginya, pujian untuk pria ini sama saja mencari mati…
"MESUM!" pekik Luhan, ia sepertinya akan meronta dengan cepat tangan Sehun menarik lagi tangannya.
"Seh… " Luhan sepertinya memohon agar Sehun membebaskannya dari semua ini.
"Ssttttttttt…." Sehun menutupkan jari telunjuknya tepat dibibir Luhan. "Aku hanya ingin bilang sesuatu padamu…" lanjutnya pelan.
Luhan menatapnya bingung, kenapa raut wajah Sehun tiba-tiba berubah? ia menjadi sedikit tenang sekarang. Dengan pelan Sehun membalikkan badannya agar sejajar berhadapan dengannya.
"Katakan! Ini sudah siang, lagi pula… aku ingin cepat-cepat pulang." kata Luhan.
"Eum, Arasseo…." Sehun memasang senyumnya kembali. Sial bagi Luhan yang sepertinya sudah tidak bisa berkedip untuk saat ini.
"Lu, sebenarnya… aku…" Sehun menghela nafas panjangnya, ia harus bagaimana dengan ini semua. Apa harus mengatakannya, sungguh ini bukan gayanya sama sekali. Tapi…. "Aku sebenarnya….aku… Aish…" Sehun mengumpat sendiri, ia kesal dengan situasi ini.
"Kau ini sebenarnya kenapa sih?" Luhan heran dengan sikap Sehun, bahkan sangat aneh menurutnya.
"Yakk, kau ini! Ini juga salahmu kau yang membuat aku seperti ini, jadi jangan menyalahkan aku jika aku bersikap begini padamu…" kata Sehun kesal. Luhan hanya menggelengkan kepalanya ringan, tidak mengerti dengan Sehun.
"Kau ini aneh sekali ya? Tssk…" sergahnya.
"Kau yang membuatku aneh, dasar pria bodoh. Apa kau juga tidak merasa… merasa…." Sehun menghentikan kata-katanya, "Merasakan sesuatu? Maksudku… hal yang lain pada dirimu saat kau bertemu denganku, atau saat aku…." Sehun menghentikan kata-katanya, ia mulai menatap Luhan lebih dalam.
"Mwo?" tanya Luhan bingung bercampur gugup dengan perubahan sikap Sehun.
"Saat aku mencium mu…." lanjut Sehun pelan.
Luhan tersentak saat mendengarnya kala itu, ia hanya bisa mentap wajah Sehun yang terlihat jelas dari sini dekat sekali. Bahkan ia kini bisa merasakan hembusan nafas Sehun saat Sehun mulai mendekatkan wajahnya, tangannya yang satu kini menarik wajahnya, membelai lembut pipinya, yang saat ini pasti sudah memerah.
"Merasakan hal apa? Ada banyak hal yang aku rasakan padamu, aku mulai kesal… aku mulai marah saat bersamamu, karena kau menyebalkan." Luhan dengan mengumpulkan kekuatannya ia bisa berkata sepert barusan.
"Eum, lalu…" tanya Sehun lagi dengan pelan, seperti gumaman tapi Luhan masih bisa mendengarnya karena Sehun semakin memajukan wajahnya. Matanya menatap lekat wajah Luhan.
"Hun-ah…. kau ini menyebalkan sekali, bagaimana aku menjawabnya jika kau terus memajukan wajahmu…" protes Luhan. Ditelinga Sehun ini bahkan tidak mirip sebuah kata 'protes' melainkan kata yang menurutnya sebuah pengakuan, bahwa pria ini sebenarnya juga merasakan apa yang ia rasakan. Buktinya, ia tahu pria ini juga gugup ia bisa merasakannya sekarang, kerana jarak tubuh mereka semakin menipis seiring Sehun menggeser posisi tubuhnya ini.
"Aku tahu sekarang…" kata Sehun pelan. Matanya menatap tepat dimata Luhan, tatapan mereka bertemu lagi…
"Mwo?"
"Aku tahu jawabannya…" Sehun tersenyum tipis, jarinya mengusap lembut pipinya kemudian turun hingga sekarang dekat sekali dengan bibir Luhan. "Kau belum mengatakannya, tapi detak jantungmu? mengatakan semua itu…" lanjut Sehun lagi.
"Merasakan hal apa? Kau ini sangat membingungankan…" Luhan hanya takut, Sehun tahu ia menyukainya tapi sepertinya ia tahu… Sehun memang tahu hal ini walau ia berusaha mati-matian menahan rasa ini sendiri.
"Hh… bodoh." kata Sehun pelan… Luhan belum sempat menjawabnya, ia sudah merasakan susuatu yang sedikit basah kini ada tepat diatas permukaan bibirnya, ia melihat jelas Sehun memejamkan matanya, jelas sekali didepannya. Bodoh…. kenapa ia malah berdebar? Ya jelas… ia masih berdebar jika Sehun menciumnya seperti ini, tanpa ia duga sama sekali.
Perlahan, ia mulai merasakan gerakan bibir Sehun yang pelan diatas bibirnya, iapun mulai memejamkan matanya, dan entah dorongan dari mana, ia mulai membalas ciuman Sehun yang dirasa sangat manis untuknya. Kenapa Luhan sangat tidak bisa menolak?tidak ada alasan untuknya menolak ciuman Sehun ini, yah… dia memang menyukai pria ini, pria yang bisa membuatnya seperti pria gila dan sangat ketergantungan olehnya.
Sehun melepas tautan bibirnya, ciuman yang singkat membuat Luhan terlihat bodoh karena mengharap ciuman ini akan lama…. Sehun tersenyum padanya dan mengusap bibir dengan jarinya. Sangat lembut yang Luhan rasakan saat ini, gila… ia bisa gila dengan sikap Sehun yang seperti ini. Ya! Sehun-ah, berhenti… atau aku yang akan menciummu lagi? batin Luhan berkecamuk.
Sehun tersenyum tipis, entahlah… akhir-akhir ini Luhan merasa senyum Sehun lain sekali, tidak seperti senyumannya yang dulu.
"Aku… permisi dulu…" kata Luhan singkat.
"Luhannie…" tahan Sehun lagi. "Aku belum selesai…" lanjut Sehun, Luhan menatapnya bingung. Seperti biasa, jantung Luhan berdebar kencang saat menatap Sehun yang kini memiringkan kepalanya, lagi. Untuk menyatukan bibirnya kembali dengan bibirnya. Luhan terkejut dengan tangan Sehun yang menarik tengkuknya, untuk lebih dalam menciumnya. Lumatan bibir Sehun walau terkesan pelan, namun Luhan merasa lebih menuntut dari yang pertama tadi, ia bisa apa selain membalasnya? gila…. Luhan tidak bisa menolak lagi, ciuman yang kedua ini. Bahkan tangan Sehun menyusup kesela-sela rambutnya dan membuatnya sedikit berantakan, ia hanya bisa meletakkan tanganya tepat didada Sehun, untuk menahan tubuh Sehun yang mendekat ketubuhnya.
"Sehun-ah…."
"Eunghhhh….." Luhan mendorong wajah Sehun, dan melepas tautan bibir mereka. Luhan tidak berani berbalik arah, ia tidak berani menatap kearah pintu. Malu….. ia masih malu dengan sesosok yang masuk kedalam kamar ini. Lebih baik, ia mengatur nafasnya dan juga mengusap bibirnya yang basah akibat ciuman barusan.
Sehun, ia menatap kearah pintu dengan kesal, ia masih sempat membersihkan bibirnya didepan seseorang yang baru masuk. Benar-benar… Luhan ingin menendang pria ini, tidak tahu malu.
"Hyung! Kebiasaan, tidak pernah mengetuk pintu. Aish jinja!" kata Sehun kesal. Sementara Sezun, hanya tersenyum tanpa dosa ia hanya bisa tersenyum geli menatap Luhan yang sampai sekarang belum berani berbalik badan.
"Aigoo… hyung minta maaf, Sehunnie. Hyung lupa, disini ada Luhan." kata Sezun beralasan. Sehun menatap hyung nya dengan mencibirkan bibirnya.
"Ya, kenapa masuk kekamarku!"
"Sarapan sudah siap kebetulan sekali, hanya tinggal kita bertiga, eomma dan appa berangkat ke Amerika tadi pagi sekali, makanya aku memberitahumu!"
"Ah, baiklah… aku keluar saja sepertinya aku telah mengacaukan semuanya." Sezun segera menutup pintu kamarnya, sebelum Sehun benar-benar memakannya hidup-hidup.
"Aigoo… bodoh-bodoh!" rutuk Luhan sendiri, Sehun menatapnya aneh.
"Kau kenapa?" tanya Sehun polos. Luhan langsung melemparkan tatapan kesal padanya. "Kau, untuk apa merutuki dirimu seperti itu, memang kenyataan kau bodoh." lanjut Sehun lagi dan ini malah menambah kekesalan Luhan padanya. Bisa-bisanya Sehun berkata seperti itu.
"Kau juga bodoh Oh Sehun!" Luhan menghela nafas berat, "Kau bodoh, bodoh, dan sangat bodoh! Bahkan kau ini idiot sekali, mana ada idol sepertimu… kenapa kau mau mencium pria bodoh sepertiku! Dan itu tidak hanya satu kali, beberapa kali kau melakukannya padaku, apa itu tidak bodoh, huh!?"
"Yak! aku menciummu karena aku…." Sehun mengepalkan tangannya, ia harus menahan ini, tapi…ia tidak bisa jika tidak mengatakannya. "Ya, aku memang bodoh karena kau calon istriku yang ternyata adalah seorang pria cantik bodoh! Puas…"
"…" Luhan terdiam. Sehun merutuki dirinya karena dia tidak bisa mengatakan hal yang sebenarnya pada pria didepannya ini.
"Hhh…. mandilah! Lalu sarapan bersama, Hyung sudah menunggu kita." kata Sehun mengalihkan pembicaraan. Luhan sadar dengan keadaan ini.
"Baiklah…" jawab Luhan pelan. Ia segera masuk kedalam kamar mandi, sementara Sehun masih menatapnya hingga ia hilang dari balik pintu.
"Lu, aku memang bodoh karena aku tidak bisa berkata, bahwa aku memang sangat menyukaimu, entah sejak kapan yang pasti sekarang aku sangat menyukaimu, sepertinya aku sudah mencintaimu… apa ini terlalu cepat? kurasa tidak karena kau pria cantik yang luar biasa bagiku."
^^End FlashBack^^
Tanpa Luhan sadari, mobil Sehun sudah berhenti tepat didepan gedung penginapan Luhan.
"Aku pergi dulu…" kata Luhan berpamitan. Ia masih belum sadar Sehun menatapnya kini, karena sedari tadi Luhan memang tidak berani menoleh kearahnya.
Tangan Sehun tiba-tiba mencegah tangan Luhan yang akan membuka pintu mobilnya.
Luhan sedikit tersentak saat tangan Sehun berada diatas tangannya dengan tepat tatapannya menatap Sehun demikian juga dengan Sehun.
"M..mwo?" tanyanya dengan nada yang tidak bisa ditutupi ia kini sedang gugup.
"Anniya…" jawab Sehun, posisi mereka masih sama.
Luhan menatap Sehun bingung sekaligus gugup. Seolah ini Sehun akan mengatakan sesuatu yang penting.
"Baiklah, aku pergi dulu." kata Luhan lalu membalikkan badannya, seketika Sehun menahan tangannya lagi.
Luhan tidak menoleh matanya hanya menatap tangan Sehun yang masih ada diatas tangannya. Sentuhan tangan pria ini begitu lembut, membuat hatinya berdesir kembali.
"Kau mau apa sebenarnya?" Luhan kembali menatap Sehun. Sehun tampak akan mengatakan sesuatu dengan menatap Luhan lekat-lekat.
"Hari ini, aku tidak ada jadwal bersama member yang lain." jelas Sehun. Luhan masih terlihat bingung.
"Maksudmu?" tanyanya lagi. Sehun mendengus pelan, kenapa pria cantik ini selalu membuatnya semakin gemas saja dengan sikapnya ini. Kenapa tidak bisa mencerna kata-katanya, dan membuat Sehun selalu menjelaskan apa maksud dari kata-katanya. Dasar pria bodoh.
"Eum Luhan Hyung, jadi maksudku kau tetap bekerja hari ini!" tegas Sehun sedikit kesal, ia mencibirkan bibirnya dan menatap Luhan kesal. Sehun menjauhkan tubuhnya dari tubuh Luhan dan meremas rambutnya, kesal.
"Geure! Aku memang bekerja hari ini, lalu apa masalahnya?" tanyanya polos. Ia benar-benar tidak mengerti apa maksud Sehun.
'Oh Sehun, kenapa kau bisa-bisanya menyukai pria seperti ini? Huh? Kenapa? Bahkan banyak gadis yang lebih cantik dan juga lebih pintar dari pria ini, sadarlah kau Oh Sehun. Eh, tapi dia juga cantik, bahkan dia lebih cantik dari siapapun… Ya! Aku pasti sudah gila!'
"Ya ya ya! Kau memang bekerja hari ini. " kata Sehun tanpa menatap Luhan.
pria ini hanya menatap Sehun bingung, dengan wajah malasnya Luhan membuka pintu mobil Sehun. Dia menoleh kebahunya, ternyata masih memakai jas Sehun yang sengaja Sehun pakaikan saat akan pulang tadi.
"Eum, jasmu_"
"Pakai saja dulu." potong Sehun, ia masih duduk didalam mobil sambil menatap Luhan.
"Humm.." Luhan mengangguk ragu. "Gomawo…" pamit Luhan sambil berbalik badan.
"Tunggu sebentar hyung." sela Sehun. Luhan menatapnya kembali. "Apakah kau suka makan?" tanya Sehun.
"M..mwo?" Luhan menatapnya bingung. Sehun tersenyum tipis padanya.
DEG
Senyuman itu kembali lagi menghiasi wajah Sehun membuatnya jantungnya semakin berdegup dengan kencang. Ia berusaha mati-matian menahan wajahnya yang bisa-bisa terlihat gugup didepan Sehunun.
"Baiklah, sampai jumpa nanti sore Lu." kata Sehun tanpa embel-embel ''hyung''.
"Aku ingin makan malam berdua denganmu." lanjut Sehun lagi, tentu saja pria itu masih tersenyum.
Belum sempat Luhan berkedip, mobil Sehun sudah pergi dari hadapannya. Melaju meninggalkan sisa angin yang kini menerpa rambut coklat madu nya. Dia Sehun putra Kyuhyun-Sungmin, pria yang kini membuatnya seperti pria gila yang bodoh.
"Makan malam?" gumam Luhan pelan. "Apa? Apa… maksudnya dengan makan malam. Apa Sehun… Sehun? MAKAN MALAM BERDUA!?" Luhan menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
Dengan langkah malasnya Luhan berjalan menaiki tangga untuk menuju kamarnya. Seulas senyum terkembang dibibirnya mengingat apa kata Sehun barusan.
"Kau bodoh Sehun-ah" Luhan berbicara sendiri. "Dasar pria bodoh… mana ada pria bodoh sepertimu…" kata Luhan lagi. Ia hanya tidak percaya saja, Sehun sangat unik jika akan menyampaikan sesuatu yang membuat harga dirinya sedikit turun didepan Luhan.
"Kau baru pulang rupanya."
Luhan diam saat ia akan membuka pintu flatnya, ia berbalik saat mendengar suara yang sangat ia kenal. Didepannya kini sudah ada sosok yang sangat ia kenal…
"Aku mencarimu tadi malam, hingga pukul dua belas malam, kau belum pulang. Rupanya kau menginap disana." tambah pria itu lagi.
"Um, ada perlu apa kemari?" tanya Luhan dingin. Tuan Yuan tersenyum tipis sambil mendekatinya, dan mengusap puncak kepalanya singkat. Luhan menatap pria paruh baya ini aneh. Tidak seperti biasanya pria ini bersikap manis seperti ini kepadanya, apa dia baru saja terbentur dinding? hingga otaknya sedikit benar.
"Xiao Lu ku sudah besar sekarang." kata Tuan Yuan padanya, "Keluarganya sangat baik padamu bukan?" tambahnya.
"Ne, mereka sangat baik. Tuan Yuan tidak usah khawatir dengan keluarga Sehun, mereka memang sangat baik padaku."
"Arasseo, aku mengenal Tuan Oh Kyuhyun beserta Nyonya Sungmin dengan sangat baik." Tuan Yuan menghela nafas panjang sambil menatapnya intens. "Luhannie, aku sebenarnya sangat tahu perasaanmu saat kau aku paksa secepatnya menikah dengan pemuda itu, Oh Sehun."
"Maksudnya apa? Aku tidak mengerti…" Luhan mengernyitkan dahinya. Ia merasakan ada yang lain dari sikap Tuan Yuan kali ini.
Tuan Yuan lagi-lagi menghela nafasnya. Ia merasa sangat bersalah pada pria cantik ini, membuat pria ini terpojok hanya karena keegoisannya semata. Ia tahu, apa resikonya setelah ini. Pria cantik ini bisa saja berterima kasih atau bahkan malah mencacinya karena sikapnya yang plin-plan.
"Kau tahukan, aku sangat menyayangimu. Sesuai dengan amanat Mama mu padaku Lu."
"Aku tahu, kau sudah sering mengatakan hal ini padaku. Kau juga telah membantuku hidup di Korea sejauh ini." kata Luhan.
"Baguslah…" jawab Tuan Yuan, terlihat puas.
"Aku ingin mengatakan sesuatu hal yang penting untukmu. Aku tidak tahu setelah ini kau akan senang, atau malah membenciku, yang aku ingin adalah kau tidak akan tertekan dengan sikapku padamu, seperti tempo lalu saat aku memakasamu menikah, dan memaksa pemuda itu menikahimu."
"Aku tidak mengerti sama sekali…"
"Dengarkan baik-baik Luhan sayang… aku sudah berubah pikiran."
_oOo_
Luhan Flat
Luhan menghempaskan tubuhnya diatas kasur tipis, dikamarnya. Mata Rusa nya mengerjapkan perlahan dan kini menatap langit-langit kamarnya. Pikirannya masih tertuju dengan apa yang Tuan Yuan katakan padanya.
Kenapa ia malah sedih? bukankah seharusnya ia malah senang… seharusnya ia senang bukan, karena ia sudah tidak terikat perjanjian berdasarkan kesalahan foto ditoilet itu.
"Xiao Lu, aku tidak akan memaksamu untuk menikah dengan pemuda itu, Oh Sehun. Aku akan mencabut ancamanku tentan foto scandalmu dengannya dan kau bebas dengan pernikahan yang terlihat sangat terpaksa itu. Aku tahu, Sehun pemuda itu pekerja keras dia sangat kaya. Kau harus tahu satu hal, dia itu seorang idol. Aku tidak tega membiarkanmu menikah kemudian nantinya kau tidak akan bebas… ini terlalu sulit untukmu. Maafkan aku jika dulu mengancammu."
"Eotte? Kau senang bukan? aku juga tidak akan memaksamu menikah dengan pria yang akan aku jodohkan denganmu, tapi kau perlu tahu. saat kau berada di ELLE+, ada seorang pemuda yang menolongmu dia pemuda yang sebenarnya akan aku jodohkan padamu, rupanya dia sudah tahu tentangmu Luhan, tanpa aku beritahu siapa dirimu. Coba pikirkan baik-baik…"
Luhan seperti merasakan guncangan hebat didirinya bukan, ini bukan gempa bumi atau apa? Ini melebihi gempa bumi sekalipun. Ia harusnya senang? ya… seharusnya ia senang, tapi kenapa dia merasa bersedih… tidak mungkin. Apa Tuan Yuan berkata sungguh-sungguh?
Pria itu, Choi Minho bahkan sudah bilang pada Tuan Yuan… bagaimana ini. Ya, Luhan… kenapa semua seakan berakhir, seperti kau tidak bisa hidup lagi.
"Luhannie…" panggil Tuan Yuan padanya. Ia hanya bisa mengerjapkan matanya menatap Tuan Yuan ragu.
"Ne?" Ia segera menormalkan wajah gugupnya.
"Apa kau sungguh-sungguh mengatakan ini padaku? Kau akan mencabut semua itu padaku?" tanya Luhan ragu.
"Huum… apa kau tidak percaya, aku sungguh-sungguh Lu. Kau bisa pegang janjiku ini. Tanpa menikah, aku tidak akan menyebarka foto murahan itu." kata Tuan Yuan padanya.
"Tapi, keluarga Sehun sudah mengatur semuanya. Pernikahan kami tinggal satu bulan lagi. Mereka sangat baik, bagaimana aku mengatakan pada mereka tentang semua ini? jika aku dan…" ia terhenti sejenak. Seperti berat mengatakan ini. "jika aku dan Sehun batal menikah…" lanjutnya pelan. Ia menundukkan sedikit wajahnya. Matanya terasa panas, entah ia ingin menangis bahagia, atau apa?
"Aku tahu itu berat bagimu. Aku kenal sekali dengan calon mertuamu itu, mereka hanya menyiapkan pernikahan kecil untuk kalian dan tidak banyak orang yang tahu tentang ini, mengingat Sehun adalah seorang idol terkenal. Pernikahan hanya digereja saja."
"Tapi, mereka juga akan mendaftarkan pernikahan kami dicatatan sipil, Sehun yang bilang padaku." tegas Luhan kala itu, ia menggigit sedikit bibir bawahnya takut jika Tuan Yuan membaca gelagatnya, gelagatnya yang sebenarnya ia tidak suka jika ia batal menikah.
"Arraseo Luhan." Tuan Yuan mengangguk singkat.
"Jika kau tidak berani bilang kepada mereka, aku yang akan bilang pada calon mertuamu itu. Serahkan semua padaku_"
"Aku sendiri yang akan bilang…" potong Luhan… "Jika nanti, aku tidak bisa baru aku akan mengabari anda Tuan Yuan." lanjutnya lagi.
Luhan tidak tahu, mengapa ia berkata seperti ini. Ia hanya tidak bisa, jika menolak semua ini. Ia juga bukan siapa-siapa Sehun sebelum ada kesalahan di foto itu. Lalu untuk apa jika ia terus memaksa menikah, jika sudah tidak ada alasan kuat?
"Bagus…" kata Tuan Yuan tersenyum padanya. "Eum, kau masih menjalin hubungan dengan Sehun sebagai sepasang kekasih?" tanyanya.
"Mwo? Euh… kami.. kami…" Luhan menjadi gugup seketika. "Kami masih menjalin hubungan." lanjutnya pelan.
"Baiklah… tapi alangkah baiknya, kamu menjalin hubungan dengan orang biasa. Aku hanya tidak ingin kamu nantinya_"
"Aku tahu. Aku tahu jalan pikiranmu Tuan Yuan. Tapi ini hidupku, jadi sebaiknya kau tidak terlalu jauh ikut campur semua ini." jelas Luhan.
"Aku tahu Luhan. Tapi kau perlu tahu satu hal,Mama mu yang membuat aku begini. Mama mu Xi Hyukjae yang bilang padaku tentangmu, masa depanmu, dan itu ia katakan padaku… jika kau kurang yakin. Aku ada bukti…"
"Mwo?"
"Mama mu menuliskan sebuah surat padaku… " jawab Tuan Yuan singkat. "Aku sebenarnya tidak boleh memberitahukan padamu, tapi sepertinya kau sangat keras kepala."
"Aish… Arasseo apakah Hae Baba mengetahui nya?.." kata Luhan kesal.
" pergi dulu… jaga dirimu dan cepat ambil keputusan Lebih cepat, lebih baik. Aku hanya tidak ingin kau terlalu menderita jika menikah dengan cara seperti ini Kau mengerti…"
"Eum…" jawab Luhan malas. Kini ia menyaksikan punggung pria itu menjauh dari hadapannya Menghela nafas panjang…
"Tidak ada alasan untuk mempertahankan semua ini Luhan. Jalan satu-satunya kau memang harus batal menikah… kau siapa hendak mempertahankan pernikahan dengan dasar scandal murahan seperti ini?" katanya sendiri.
"Sehun-ah… eottoke? Aku tidak tahu harus bagaimana…"
Luhan mengambil ponselnya yang ada didalam tas kecilnya. Ia mengernyitkan dahinya ada sesuatu didalam tasnya, sepertinya ini bukan miliknya.
Dengan penasaran Luhan membuka isi kotak tersebut. Terkejut! Ia membulatkan matanya saat melihat ponsel yang lebih bagus dari miliknya. Sebuah ponsel lengkap dengan gantungan bambi yang yang manis, Luhan mengernyitkan dahinya saat melihat kertas yang tertera diatasnya.
'Ya, Pria toilet… jangan menolaknya! Aku tahu kau pasti akan mengembalikannya padaku sambil memaki-makiku bilang bahwa aku ini hanya pamer padamu iyakan?'
Luhan menatap kertas itu kesal bagaimana Sehun tahu wataknya, memang ia berencana berbuat seperti itu.
'Ponsel ini pemberian fansku, kau tahukan? Whirldwind jumlahnya sangat banyaaakkkkk Lu, mereka semua menyayangiku jadi pasti mereka juga memberiku hadiah yang banyak juga. Berhubung ada yang tidak aku pakai, aku memberikannya untukmu satu saja cukup. Alasanku memberimu bukan karena ponselmu sudah tidak layak yah memang ponselmu sudah tidak layak untuk dipakai kau lihat… warnanya sudah buram dan modelnya… astaga itu ponsel sudah tidak beredar lagi di Korea. Dan satu lagi, ponselmu itu sudah sewajarnya masuk museum kerajaan Korea'
Luhan menggeratkan gigi-giginya, ia kesal membaca tulisan Sehun yang memang sengaja mengejeknya. Dasar! MATI KAU OH SEHUN.
Luhan melihat ponselnya sendiri dan ia hanya bisa tersenyum dengan miris… memang benar yang dikatakan Sehun, ponselnya memang sudah sangat lama… ia tidak bisa membeli ponsel model baru sekarang ini.
''Sudahlah… tidak usah marah atau bahkan kau menyobek kertas ini. Kau emosian sekali seperti seorang gadis yang sedang pms… Tskkk! Malang sekali nasibku, jika aku seumur hidup akan hidup bersamamu yang suka sekali marah-marah. Jadi rubahlah sedikit, bersikap manis padaku dan tersenyum seperti senyum yang biasa kau tujukan pada hyung ku Wu Yifan. Ahh.. sudahlah. Terima saja dan SATU LAGI! JANGAN MENGGANTI WALLPAPERNYA BESERTA NADA PANGGILAN, PESAN, ATAU CHAT! Jika aku sampai tahu! Tunggu pembalasanku… aku jamin,keperawanan mu tidak bertahan lama… Suamimu… Oh Sehun yang tampan.''
"IGE MWOYA?" pekik Luhan frustasi membaca kertas ini. "Awas kau OH SEHUN! Arghhhhhhh…" Luhan hendak meremas kertas itu tapi ia berpikir lagi dan melihatnya kembali.
"Suamimu…?" gumamnya. "Apa kau masih bisa menyebutmu dengan kata Suami jika aku akan memberitahumu yang sesungguhnya Oh Sehun yang jelek?"
Luhan kemudian mengacak rambutnya kesal, marah frustasi dan juga ia dalam kebimbangan sekarang ini.
"Mati saja kau Luhan, mati saja!" katanya sendiri.
_oOo_
EXO Dorm. 11'st floor.
Sehun tidak berhenti tersenyum, bibirnya selalu terkembang dan menghiasi wajahnya. Ia tidak menyadari beberapa pasang mata telah menatapnya dengan tatapan aneh. Dengan senyum riang ia membuka lemari es, hendak mencari sesuatu untuk diminum. Dan matanya menatap satu kotak susu strawberry.
"Hyung, aku minum susumu ne ?!" tanya Sehun ambigu pada Baekhyun yang memang sedang menatapnya dengan beberapa member yang lain.
Baekhyun cukup terkejut mendengarnya, Sehun meminta ijin padanya untuk meminum susu strawberynya? Bukankah hal yang aneh? biasanya dia selalu meminum tanpa meminta ijin, apa dia bukan Sehun? Apa dia malaikat yang menjelma menjadi Sehun? Berbagai pertanyaan muncul dipikiran Baekhyun, Chanyeol, Kyungsoo, Kai dan juga Suho yang kini menatapnya aneh.
"Ya! Kenapa tidak menjawabnya? Masa bodoh denganmu Baekki hyung…." kata Sehun sendiri, kemudian bergabung duduk dengan semua hyungnya itu dan meminum susu tersebut, tanpa wajah berdosa sekalipun.
"Ahh…." Sehun merasakan sangat lega, sudah meminum habis susu ditangannya. Ia kemudian menoleh dan menatap hyung nya… kenapa tatapan mereka aneh.
"Kalian ini kenapa?" tanyanya bingung.
"Kalian seperti melihat hantu saja. Tsskk… " lanjutnya lagi.
"Kau? Kau benar-benar malaikat ya?" tebak Chanyeol.
Sehun kemudian melemparkan tatapan kesal pada hyungnya ini. "Maaf, aku hanya heran saja melihatmu…" lanjut Chanyeol.
"Sehun-ah, kau kenapa?" tanya Kai yang memang ia sangat bingung dengan semua ini.
"Aku? aku kenapa?" Sehun juga bingung.
"Aku baik-baik saja, kalian ini yang aneh!" lanjutnya mencibir melihat kelakuan hyungnya ini.
"Baik-baik saja bagaimana maksudmu? Kau masuk dengan terus tersenyum, seperti orang gila. Apa itu baik-baik saja?!" kata Baekhyun.
Sehun langsung sadar dengan apa yang Baekhyun katakan, apa benar dia seperti itu? Aigoo… memalukan sekali? Kenapa bayangan Luhan muncul disaat yang tidak tepat sial!
"Ahh… Luhan yang membuatmu seperti ini. Aigoo… Luhan hyung sangat hebat ya, membuat titisan setan menjadi orang gila. Kekekek " Chanyeol terkekeh mendengarnya. Bagaimanapun, memang Sehun tadi terlihat aneh.
Suho hanya bisa tersenyum tipis mendengarnya.
"Ya! Suho hyung, kenapa kau juga ikut seperti mereka? Apa aku terlihat aneh… aish jinja!"
"Kau tidak aneh, Sehun-ah, aku rasa kau hanya merasakan bagaimana rasanya berbunga-bunga." jawab Suho.
"Mwo? Berbunga-bunga?" Sehun terlihat bingung. Sementara yang lain masih saja terkekeh melihat wajah Sehun yang malu saat ini.
"Berbunga-bunga bagaimana, Suho hyung? Jelaskan padanya, sepertinya dia belum pernah merasakan rasanya jatuh cinta padahal katanya sudah menjalin hubungan dengan Luhan sangat lama." tambah Kai.
"Kau sedang jatuh cinta Sehun-ah… Eum, lebih tepatnya merasakan perasaan bahagia ketika membayangkan pasanganmu dan kau jadi tersenyum sendiri mengingatnya. Seperti itu." tegas Suho.
Sehun menatap wajah hyungnya ini satu persatu dan semuanya tampak menahan tawa untuknya. Awas saja, jika mereka semua tertawa akan membuat mereka menyesal karena telah menertawakan maknae yang tampan ini.
"Aish… kalian…YAKKKK! Terus saja menahan tawa kalian… Hahhhh!" Sehun bangun dari duduknya, percuma saja ia bersama hyungnya jika semua malah menertawakannya.
"Sehun-ah…" panggil Chanyeol, Sehun berbalik dan menatap Chanyeol.
"Apa?" jawab Sehun ketus.
"Kalau hanya ingin membuat lelucon sebaiknya tidak usah!"
"Aigoo, kau sensitif sekali." Chanyeol tersenyum padanya, "Aku heran, kenapa kau malu sekali. Padahal kau menyembunyikan hubungan kalian sudah lama bukan? Dan berarti memang kau dan Luhan sudah saling mencintainya tapi kelihatannya, kau baru gila sekarang…"
"Ya! Apa maksudmu, dengan gila? Park Chanyeol." Sehun menatap Chanyeol kesal.
"Eumm… maksud Chanyeol, kenapa kau baru terlihat seperti jatuh cinta hanya akhir-akhir ini, kenapa dulu tidak terlihat seperti ini Begitu maksud Yeollie." jawab Baekhyun membela Chanyeol.
Sehun sepertinya dalam masalah sekarang, apa ia harus bilang bahwa ia baru mengenal Luhan saat ditoilet? Tapi tidak… yang ada nanti mereka malah menertawakannya dan posisinya akan terancam sebagai pria satu-satunya yang bisa memiliki Luhan.
"Apa kau tidak tahu bagaimana rasanya bercinta dengan pasangan?" tanya balik Sehun. Matanya menatap semua hyungnya, terutama pada pasangan ribut ChanBaek. "Kalian belum pernah merasakannya bukan?" Sehun tersenyum miring, melihat wajah bodoh dan takjub hyungnya ini.
"Nah, makanya kalian terlihat bodoh. Kalau kalian pernah merasakannya, pasti tahu alasan kenapa aku menjadi seperti ini."
Sehun meninggalkan semua orang dengan masuk kedalam kamarnya, tersenyum puas sekaligus geli mengingat apa yang ia katakan barusan.
"Sehun-ah, sudah menjadi pria dewasa sekarang…" kata kai menerawang.
"Eum… dia jauh lebih keren sekarang, seperti pria dewasa, melebihi Suho hyung." tambah Baekhyun membuat sang leader menatapnya dengan tatapan membunuh.
"Sehun terlihat keren saat berkata seperti itu…" kata Chanyeol, Baekhyun langsung menatapnya aneh.
"Kau ini membaca fanfic kita saja kau ketakutan apalagi kau sampai ingin seperti Sehun? Yang benar saja…" gerutu Baekhyun.
Chanyeol seketika sadar ia sedang kurang enak dengan Baekhyun dan segera menjauhkan dirinya dari Baekhyun.
"Kalian berdua terlihat mengerikan! Tskk… dan kau Yeol hyung, masih saja ketakutan itu hanya fanfiction, dasar bodoh!" Kai menyentilkan jarinya didahi Chanyeol. Chanyeol hanya meringis saja.
"Memangnya, Chanyeol hyung kenapa? Apa Fanfic ChanBaek mengerikan seperti beberapa bulan yang lalu?" tanya kyungsoo.
"Aku sudah berhenti membaca fanfic seperti itu, sejak dalam cerita itu Chanyeol membunuhku setelah ia berhasil meniduriku karena ia cemburu melihat aku dengan orang lain.." Baekhyun berkata sambil menatap ngeri kepada Chanyeol.
"Ya! Kau juga seperti itu…. kau memperkosaku hingga aku… hingga aku frustasi karena kau meninggalkan aku dan aku mati bunuh diri dengan cara yang mengenaskan…" jawab Chanyeol manja.
Semua terkekeh mendengar ceita dua mahkluk ini, terutama Kai ia sampai memegang perutnya.
"Aish! Jinja! Mengerikan… " kata kai, "Paling enak membaca Kaisoo!" kata Kai berbangga hati. "Kyungsoo hyung selalu romantis padaku…" Kai tersenyum membayangkan.
"SuLay juga…" sahut Suho. "Lay Hyung selalu perhatian padaku, dia selalu melakukan yang terbaik untukku disetiap fanfic yang aku baca. Tapi… Lay hyung sangat tidak suka jika aku berselingkuh dia pecemburu…"
"YA! STOP! Jangan membahas fanfiction lagi, aku masih takut… sungguh hyung.. aku masih sedikit ngeri melihat Chanyeol." kini Baekhyun mulai bergelayut pada Kyungsoo disampingnya.
"Kalian apa-apaan…." Kyungsoo menatap aneh Chanyeol
"Yeol! Kau mau hubungan kita putus jika kau terus seperti ini padaku? Huh!" protes Baekhyun yang kecewa pada Chanyeol.
"Astaga! segeralah kalian bertobat, ya Tuhan, ampunilah semua orang yang ada didepanku ini. Ampunilah semuanya ya Tuhan."
Semua kini menatap sesosok yang tengah berdiri didepannya Kris. Siapa lagi kalau bukan pria penceramah itu. Entah sejak kapan dia masuk kedalam dorm dia lebih misterius dibanding Xiumin.
"Kalian, tetap saja ya Aigoo, aku pusing mendengar nama couple kalian."
"Bilang saja kau iri, iyakan?!" kata Chanyeol
"Kau selalu menjadi orang ketiga dalam setiap hubungan kami…" lanjutnya lagi.
Semua tertawa melihat ekspresi wajah Kris yang sepertinya kalah memang benar yang dikatakan mereka.
_oOo_
Luhan tampak menatap Sehun yang sedang melakukan dance , ia menatap Sehun yang dengan baik melakukan pekerjaannya. Pikirannya terus menerawang bagaimana caranya ia mengatakan bahwa Tuan Yuan telah memutuskan untuk mencabut semua ancamannya untuk menyebarkan foto itu yang bisa membuat karir dan masa depannya hancur.
Ia segera bangun dari duduknya ketika dance sudah selesai, tampak Sehun bersalaman dengan bintang tamu yang hadir. Ia kini melihat Sehun yang berjalan kearahnya sambil terus memberi salam pada seluruh crew yang ada. Sehun belum menatapnya ada beberapa orang yang melepas microphone, serta memberi arahan padanya.
Dari sini, Luhan merasa yakin dia memang bukan apa-apa bila dibanding orang-orang yang telah membuat Sehun sukses. Punya hak apa dia hingga ingin pernikahan terus berjalan, sementara Sehun sama sekali tidak mencintainya, mungkin juga akan senang jika pernikahan ini batal.
"Mana minumku…" perintah Sehun, Luhan sepertinya belum sadar jika Sehun sudah ada didekatnya. "Lu… mana minumku?" panggil Sehun lagi.
"Lu…." Sehun menepuk pundak pria ini Luhan tersentak ketika melihat Sehun sudah ada didekatnya kini.
''Hun, kau sudah_"
"Kau melamun?" Sehun menatap Luhan, "Kau dari tadi sedikit aneh Hyung? Apa kau sakit?" tanya Sehun memastikan.
"M..mwo? Ahh… anniya." jawab Luhan gugup.
"Tadi kau bilang apa?" tanyanya lagi.
Sehun menatap Luhan lekat tidak biasanya pria ini seperti ini. Apa dia ada masalah? Wajahnya memang terlihat sedikit pucat, tidak seperti biasanya yang terlihat lebih fresh. Sehun menempelkan punggung tangannya tepat didahi Luhan.
Luhan tersentak, kemudian menepis tangan Sehun.
"Kau apa-apaan. Banyak orang dan kalau tertangkap kamera wartawan_"
"Kau sakit Lu? Kau sedikit demam…" kata Sehun mengabaikan apa kata-kata Luhan. Pria cantik ini diam dan meraba sekitar lehernya memang ia sedikt kurang enak badan, sejak dari rumah Sehun ia memang tidak enak makan jadi ia memang belum makan sama sekali.
Semua kata-kata Tuan Yuan terus saja berputar dipikirannya, membuatnya sedikit stress dengan ini semua. Kenapa disaat seperti ini semua malah menjadi semakin pelik.
"Nan, gwenchana!" kata Luhan pada Sehun ia berusaha terlihat baik-baik saja saat ini. Sehun hanya bisa mengangguk pelan ia memang khawatir dengan keadaan pria ini, tapi Luhan meyakinkan bahwa memang semuanya baik-baik saja.
"Eum, kau tadi bilang apa?" tanya Luhan lagi.
"Anniya…. aku hanya memanggilmu saja tadi." jawab Sehun berbohong. "Kajja…" tangan Sehun hendak menarik tangan Luhan, Luhan segera menepisnya.
"Ini tempat umum, Oh Sehun." Sehun sadar kemudian hanya mencibir Luhan dengan bibirnya.
"Kalau bisa, aku congkel mata mereka semua agar tidak bisa melihatku saat bersamamu!" Sehun menggerutu kemudian berjalan mendahului Luhan. Pria cantik itu hanya menggeleng pelan sambil tersenyum simpul.
"Eum,Luhan?"
Langkah Luhan terhenti saat ada yang memanggilnya. Ia berbalik dan menatap seorang pria yang menggunakan kemeja biru tengah menatapnya dan tersenyum. Sungguh pria itu tampan sekali senyumnya juga…. Aigoo. Luhan membulatkan mata Rusa nya, ia ingat siapa pria itu.
"Anda? Tuan Choi?" tebaknya. Pria itu tersenyum sambil mendekati Luhan.
"Ne, senang bertemu denganmu lagi Luhan." kata Minho sambil memberi salam, begitu juga Luhan ia juga memberi salam padanya. Ia ingat seketika dengan apa kata Tuan Yuan, pria ini yang sebenarnya akan dijodohkan dengannya. Memang selera Tuan Yuan tidak buruk, pria ini terlihat sangat elegan dan juga tampan. Sayang sekali, ia sudah tidak bisa lagi menyukai pria ini hanya Sehun pria menyebalkan yang telah menguasai hatinya saat ini.
"Eum, kenapa kau bisa ada disini?" tanya Luhan sedikit ragu.
"Aku tadi bertemu pamanku, kebetulan pamanku sedang ada disini dan_"
"Pamanmu, bekerja disini? Atau pamanmu adalah_"
"Dia pamanku." tunjuk Minho pada seseorang yang tengah berbicara pada seluuruh staff disini. Luhan menutup bibirnya, bukankah itu PD-nim acara ini?
"Euh? Mianhae…" Luhan tersenyum malu.
"Aku mengira, pamanmu karyawan disini." lanjutnya lagi.
"Boleh aku memanggilmu LuLu saja. Dengan Luhan, membuatku tidak akrab denganmu tapi kalau kau keberatan aku bisa_"
"Tidak apa-apa, panggil aku semaumu Tuan Choi." potong Luhan.
"Jangan panggil Tuan Choi, panggil namaku saja Lu bukankah lebih akrab seperti ini?" Minho lagi-lagi tersenyum dan Luhan mengakui pria ini memang tampan kalau saja ia bertemu dengan pria ini lebih dulu, akan sangat lain ceritanya.
"Ne, Minho Hyung."
"Luhannie!"
Luhan tersentak saat ada yang memanggilnya dan ia paling hafal dengan suara ini. Suara yang sepertinya beraura buruk baginya, ia bisa merasakannya saat ini. Luhan menatap Sehun yang kini sedang berdiri tak jauh dari tempatnya kini, pria itu menatap Luhan tajam seolah akan menerkamnya dan membunuhnya dengan sadis.
"Eum, aku permisi dulu ada pekerjaan lagi yang harus aku kerjakan." Luhan segera meninggalkan Minho yang terlihat masih ingin bicara lebih banyak dengannya.
Sehun mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras dan tatapannya terus menatap Luhan yang kini sudah ada didepannya.
"Maaf, tadi aku hanya berbicara sebentar dengan_"
"Pria itu lagi? Dia menyukaimu ya?" tanya Sehun dingin.
"Mwo? An.. anniya, kau bicara apa baru bertemu dua kali, kau langsung menganggap dia menyukaiku." jawab Luhan gugup.
"Aku melihatnya begitu semoga saja firasatku salah."
Luhan hanya bisa menekuk sedikit wajahnya ia tidak bisa membohongi Sehun, sebenarnya pria itu yang akan dijodohkan kalau saja Sehun tahu tamatlah riwayatmu Luhan.
"Kajja!" Sehun langsung menarik pergelangan tangan Luhan untuk mengikuti langkahnya, Sehun tidak peduli dengan apa yang Minho lihat. Dengan terpaksa Luhan menurut saja dengan apa yang Sehun lakukan padanya.
_oOo_
At Apartement.
Luhan menatap heran pada ruangan ini, lebih tepatnya ini adalah apartement mewah yang pernah ia lihat sebelumnya. Ini sangat luas dan desainnya juga mengagumkan.
"Yak, ini tempat siapa? Saudaramu?" tanya Luhan pada Sehun yang kini sepertinya mulai menyiapkan makanan untuk makan mereka berdua. Makanan yang sengaja ia beli tadi dan ia sama sekali tidak bisa memasak.
"Saudaramu sengaja ya membeli apartement ini, satu gedung denganmu agar mudah mengawasimu? Mungkin mereka memang penggemar EXO." kata Luhan sendiri. Sehun mengabaikan apa kata Luhan. Ia menyalakan kompor untuk menghangatkan makanan yang sudah ada didalam lemari es. Makanan buatan eommanya khusus untuk Luhan.
"Ya! Sehun-ah, kau ini sedang apa huh?" Luhan berjalan mendekati Sehun yang sepertinya sibuk sendiri pria yang mengenakan kemeja dan menggulung lengan kemejanya hingga kesiku dari belakang saja ia terlihat sangat tampan.
"Aigoo… " kau memanaskan makanan ini.
"Igeo… tombolnya belum kau tekan, Aish…" Luhan membantu Sehun yang sepertinya memang payah sekali, menyalakan kompor listrik saja dia bingung Dasar.
"Kau, tidak punya keahlian sama sekali ya dalam hal memasak. Tssk!" cibir Luhan pada Sehun. Sehun hanya diam, ia bisa apa? memang benar kenyataannya.
"Ya!" pekik Sehun.
"Menyalakan kompor saja tidak bisa ada orang sepertimu… sulit dipercaya."
"Aish… kompor didorm tidak seperti ini. Ini kompor keluaran terbaru dan aku sengaja memesannya untuk memudahkan kau memasak kelak, kau tidak mengerti sama sekali. Tssk!"
Luhan tertegun mendengar apa kata Sehun, Sehun sengaja memesannya? Lalu… apartement ini? jangan bilang kalau apartement ini adalah miliknya? YA!
"M..mwo? Kau bilang apa barusan?" Luhan memicingkan matanya. Sehun mendengus kesal padanya, yang memang sangat keterlaluan bodohnya.
"Bodoh! Tidak ada siaran ulang…" Sehun segera meninggalkan Luhan dan ia sibuk menyiapkan piring dan peralatan makan lainnya.
"Hun-ah! Apartement ini kau sewa bukan?" Luhan menatapnya kini. Sehun tidak menoleh kearahnya ia sibuk sendiri sepertinya.
"Ya! Jawab aku atau aku akan pergi dari sini sekarang juga…."
"Aku tidak menyewanya, aku sudah membelinya." jawab Sehun santai.
"Gila… kau kurang kerjaan ya? membeli tempat ini. Bukankah kau tinggal didorm? lagi pula rumahmu itu besar sekali. Untuk apa kau_"
"Kau bisa diam tidak!" potong Sehun menatap Luhan.
"Aku membelinya untuk kita berdua. Untukmu, siapa lagi. Masih bertanya untuk apa membelinya? Jangan bodoh Lu, kita akan segera menikah, apa iya kita akan tinggal didorm bersama member yang lain? Lalu, apakah aku harus pulang kerumah? Terlalu jauh dan pastinya sangat melelahkan." jelas Sehun.
Pria cantik ini hanya bisa tertegun mendengar penjelasan Sehun. Ya Tuhan, Sehun bahkan sudah mempersiapkan semua ini ia benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran pria ini. Kadang membuatnya melayang, kadang juga menyebalkan membuatnya kesal setengah mati.
"Sejak kapan, kau membelinya?"
"Apa penting bagimu?" tanya Sehun balik. "Tidak perlu kau tahu, sekarang saatnya makan. Kajja…"
_oOo_
Luhan menatap meja makan yang kini memang sudah penuh terisi dengan banyak sekali makanan, ia hanya bisa menatap heran apa sanggup makanan sebanyak ini habis oleh mereka berdua.
"Ini yang kau maksud makan malam, huh?" Luhan menatap Sehun.
"Hu'um! Ini namanya makan malam Lu." jawab Sehun tersenyum puas. "Makanya, tadi aku bertanya padamu apa kau suka makan dan kau menjawab 'Iya' yah… jadi aku mengajakmu menghabiskan makanan ini."
"Jadi menurutmu, aku sanggup menghabiskan ini semua?" Luhan menggelengkan kepalanya. "Kau pasti sakit jiwa!" Luhan mencibir pada Sehun.
"Aish… jangan berbicara terus, kajja! Aku sudah sangat lapar… waktunya makan…" Sehun dengan wajah senangnya ia mulai menyumpitkan lauk dan memasukkan kedalam mulutnya hingga penuh.
Luhan tentu saja heran melihat Sehun yang sepertinya sangat bahagia seperti ini. Kemudian ia berpikir, apa ia tega mengatakan hal tersebut pada Sehun tentang pernikahan mereka? Bahkan Sehun sudah mempersiapkan ini semua, jadi kalau semuanya batal bagaimana?
'Ya Luhan kenapa kau memikirkan perasaan Sehun, bukankah ini juga baik untuk Sehun? ia tidak perlu repot-repot lagi mengurusimu nanti menjadi seorang suamimu. Sehun pasti akan sangat senang jika mendengarnya mereka batal menikah yah kau harus berusaha Luhan, kau pasti bisa mengatakannya.'
"Yak! Kau melamun lagi Lu…" sentak Sehun, Luhan segera tersadar dan mulai menyantap makanan yang ada didepannya.
"Makan yang banyak, awas saja jika ini tidak akan habis!" ancam Sehun dengan mengacungkan sumpitnya kearah Luhan.
"Setelah habis, baru kau minum obat supaya demammu segera turun. Aku tidak mau besok kau malah sakit besok kau harus mengantarku kebandara."
"MWO? Mengantarmu?" pekik Luhan.
"Apa kau mau ikut? aku bisa saja mengajakmu, tapi tidak sebagai asisiten kami. Karena staff sudah memilih siapa saja yang akan ikut bersama rombongan." jelas Sehun,Luhan segera menggelengkan kepalanya.
"Tidak perlu."
"Aku akan ke Jepang disana kurang lebih empat hari." Sehun menghentikan aktifitas makannya. Ia menatap Luhan yang ada didepanya, empat hari tanpa melihat wajah pria cantik didepannya ini? sungguh sangat menyakitkan menurutnya. Entalah, kenapa ia bisa takut kalau saja ia tidak akan melihat wajah pria imut ini lagi.
"Empat hari…" gumam Luhan pelan. Empat hari? ia tidak akan bertemu lagi dengan Sehun selama itukah rasanya empat hari? Pasti ia akan merindukan Sehun. Lalu kapan ia akan bilang kalau pernikahannya batal?
"Hu'um empat hari mungkin bisa saja lebih." jelas Sehun padanya.
Entah kenapa ia merasakan sesak luar biasa didadanya. Rasanya sangat tidak enak sekarang, ia ingin sekali mengatakan pada Sehun bahwa ia pasti akan merindukannya tapi…
"Ya! Habiskan makanmu… dan jangan lupa, minum obat." perintah Sehun.
"Eum…"
"Oh, ya… malam ini kau tidur disini karena kami berangkat besok pagi sekali. Jadi akan lebih mudah nanti jika kau tidur disini saja." Sehun menatap Luhan yang mendongak menatapnya. Tatapan sendu pria ini membuat hatinya berdesir. Ya Tuhan, bagaimana cara mengatakan bahwa dia ingin sekali mengajak Luhan pergi walau hanya di Jepang dan empat hari. Sehun merasa ini akan berlangsung sangat lama tanpa Luhan disampingnya.
"Ne, arasseo!" Luhan langsung menyetujuinya sepertinya ia memang sengaja tidak menolak perintah Sehun. Ia hanya ingin membuat Sehun senang disisa waktunya bersama Sehun, karena setelah ia mengatakannya. Mungkin hubungan mereka tidak akan seperti ini lagi.
"Aku akan menginap disini."
_oOo_
Incheon Airport
07.00 am KST
Pesawat akan berangkat tiga puluh menit lagi, Sehun bersama member EXO serta para crew sudah siap untuk masuk kedalam. Luhan hanya bisa berjalan dibelakang Sehun, sebelum pria ini memasuki ruang tunggu.
Sehun berbalik kearahnya, dan menatap pria ini lekat. Luhan cukup terkejut saat tiba-tiba Sehun hendak membisikan sesuatu padanya.
"Ikuti aku sekarang!" bisiknya cukup terdengar walau ia menggunakan masker. Luhan menatap Sehun yang sekarang berjalan didepannya meninggalkan rombongan mereka.
Sehun berbelok dan Luhan juga mengikutinya, sebenarnya pria ini mau kemana? Luhan saja bingung dibuatnya.
Grep!
Luhan terkejut saat Sehun menariknya kedalam pelukannya, sangat erat sekali Sehun memeluknya. Apa Sehun tidak takut tertangkap kamera saat sekarang ini. Luhan mengedarkan pandangannya tempat ini sepi sekali jelas ini letaknya dibawah tangga.
"Hun? Apa kau tidak takut jika_"
"Biarkan seperti ini dulu… tidak akan ada yang melihat kita, aku jamin itu." kata Sehun pelan terdengar sekali ia masih memakai maskernya. Luhan hanya bisa diam ia belum membalas pelukan Sehun. Pria ini memeluknya dan ia merasa sangat nyaman sekarang tapi entah kenapa dia malah ingin menangis saat ini mengingat semuanya akan berakhir.
''Hun-ah…"
"Lu, biarkan aku memelukmu sebentar lagi… aku pasti akan sangat merindukan ini aku pasti akan merindukanmu Luhannie hyun." jawab Sehun pelan. Luhan mengusap bulir krystalnya yang telah menetes tanpa ia sadari.
"Aku tahu…"
Sehun melepas pelukannya setelah mendengar suara serak Luhan ia menatap wajah pria ini lekat. Sesaat kemudian ia melepas maskernya.
"Kau juga akan merindukanku-kan?" tanya Sehun memastikan.
"Kau pasti merasakan apa yang aku rasakan nanti saat aku di Jepang." lanjutnya tidak bisa menatap wajah Sehun ia tidak kuasa menatap wajah Sehun yang sangat dekat dengannya.
"…" Luhan diam, ia belum bisa menjawabnya walau pasti jawabannya ia pasti akan merindukan pria ini. Kenapa Sehun berkata bahwa ia merindukannya? Apa Sehun menyukainya? Kalau benar… ini akan sangat rumit.
Sehun menarik dagu Luhan untuk menatap wajahnya dengan jelas.
"Kau? menangis?" tanya Sehun memperhatikan detail wajah Luhan yang saat ini memerah, memerah bukan karena malu memerah karena Luhan menahan mati-matian laju air matanya yang hendak keluar.
"Anniya, sudah kubilangkan aku memang kurang enak badan mungkin ini pengaruh kondisiku sekarang." jawabnya berbohong.
"Um? Baiklah… aku pergi dulu." Sehun melepas tangannya yang menggenggam tangan Luhan.
"hati-hati, jaga kesehatanmu dan jangan lupa makan yang banyak Lu!" Sehun mengusap puncak kepalanya singkat.
"Eum arasseo. Aku pasti baik-baik saja kau jangan berlebih seperti itu."
"Kau ini, tsskk.." Sehun mencibir.
"Sudah, aku pergi. Hati-hati…" Sehun berbalik dan meninggalkannya.
"Euh?" Sehun menghentikan langkahnya ia menoleh kebelakang dan menatap Luhan yang masih menatapnya. "Lu…" panggil Sehun.
"Eum?"
Sehun bergerak cepat hingga sudah ada didepannya lagi. Luhan menatapnya bingung, "Hun, ada apa lagi?" tanyanya bingung.
Sehun tidak menjawabnya ia dengan cepat menarik tengkuk Luhan dan satu tangannya menarik pinggangnya membuat tubuhnya menempel lekat pada tubuh Sehun, menipiskan jarak antara mereka berdua. Luhan membulatkan matanya merasakan sapuan bibir Sehun diatas bibirnya, mulai melumat bibirnya bergantian dan bergerak sangat cepat. Ia tidak tahu entah alasan apa kali ini Sehun menciumnya, apa mungkin ini ciuman terakhirnya? Karena nanti ia akan mengatakan hal tersebut setelah Sehun pulang dari Jepang. Secepatnya, Luhan pasti akan mengatakannya pada Sehun.
Luhan merasakan tubuhnya terhempas didinding, karena Kyuhyun membawanya sedikit menepi. Ia merasakan lumatan-lumatan bibir Sehun yang semakin dalam dan terkesan memang tergesa-gesa serta sedikit menutut. Ia bisa apa? Membalas ciuman ini yah membalas ciuman ini karena memang ia juga pasti akan merindukan Sehun dan juga ciuman ini karena ia tidak akan bisa merasakannya lagi nanti saat ia dan Sehun sudah tidak terikat apa-apa lagi.
"Eunghh…" Sehun melepas ciumannya dan segera memakai maskernya kembali.
"Aku pergi… hati-hati Lu." Sehun segera berlalu dari hadapannya meninggalkannya yang masih mengatur kontrol nafasnya yang berat dan mengusap bibirnya pelan dengan jarinya.
"Sehun-ah, kau baik-baik disana. Aku pasti merindukanmu, pasti… maaf jika aku mengecewakanmu nanti." gumam Luhan lirih Ia merosot duduk dan menghapus segera air matanya yang kini malah menetes semakin deras.
"Sehun-ah, jebal… jangan menyukaiku aku pria yang tidak pantas untukmu. Biar aku saja yang merasakan perasaan ini padamu… "
T
B
C
HunHan Next Episode!
''sehun-ah, memang sebaiknya kau tidak usah menghubungiku. Ini lebih baik dari pada aku terus mengharapkanmu itu membuatku semakin sulit''
''Sebenarnya Lu, jika kau bertemu dahulu denganku sebelum kau bertemu dengan kekasihmu posisi itu milikku. Posisi calon mempelai prianya."
"Geure! Kau benar aku memang gila Lu… kau tidak tahu? bagaimana aku di Jepang tanpa menghubungimu sama sekali padahal aku sangat ingin menghubungimu. Aku akui, aku sudah terbiasa denganmu disisiku kau tidak tahu rasanya seperti apa disana tanpa ada kau, kau tidak akan tahu Lu…"
sesuai permintaan reader kan fast update? untung gue lagi kaga ada kerjaan jadi bisa cepet xD gue syeudih elahh TL Sosmed gue ngomongin Luhan bakal cepet nikah gue yang Lufans bisa apa? minta unname twt sama fb kalian dong boleh? gak maksa kok ai nokorovovo ;v udah ahhh gue kangen HunHan bangettttt gue suka iri sama Chanbaek padahal Chanbaek otp gue juga hagshags makasih review dan kritikan nya aku bukan mau pemes bikin ff hunhan tapi biybiy cuma pengen nyalurin otak fujo biybiy yang nista ini huwahahaha...
Anyeonggggg!
^^520 I Say '' 훈'' You Say '' 한''^^
