Cast: Oh Sehun

Xi Luhan

Other Cast: EXO members and Other

Gengre: Marriage Life,Comedy Love,Friendship and Romance

Rate: T-M

Lenght: Chapter

^^520 I Say '' 훈'' You Say '' 한''^^

.

.

.

HAPPY READING ~~~~~~~


.

.

.

.

.

Author's POV

Luhan menggeliatkan badannya setelah ia merasakan matanya yang silau karena sinar matahari pagi masuk kedalam celah cendela kamarnya. Dengan perlahan ia mulai membuka matanya dengan sempurna, terdiam sesaat saat matanya menatap ponsel pemberian Sehun yang tergeletak disampingnya.

Tangannya meraih ponsel tersebut, dilihatnya sejenak, kemudian wajahnya tampak muram. Ia masih berharap akan ada pesan, ataupun panggilan yang tidak terjawab dari satu-satunya nomor yang tersimpan diponsel ini. Tapi, nyatanya. Hal itu tidak terjadi. Dilihatnya lagi, ponsel miliknya… tetap tidak ada satupun pesan atau panggilan dari seseorang yang sangat ia harapakan.

Pikirannya menerawang bagaimana kata-kata Tuan Yuan padanya, bagaimana kata-kata Sehun saat dibandara, ciuman pria itu dirasa Luhan paling menyesakkan untuknya, bagaimana tidak, ia menikmati ciuman itu sambil menahan air matanya agar tidak keluar saat itu.

"Sehun-ah…" gumamnya pelan. Luhan juga heran, kenapa ia sangat lemah? tidak.. ia tidak boleh seperti ini terus.

Ia harus semangat hari ini, tidak boleh seperti kemarin yang hanya berdiam diri dikamarnya, sambil menangis? Ia bukan gadis, tapi kenapa semua berubah saat ia menyukai dan mencintai pria itu. Oh Sehun. Hebat sekali telah membuat Luhan seperti mayat hidup.

"Dua hari Luhan, ia tidak memberimu kabar? bagus bukan… jadi kau…" Luhan menghentikan kata-katanya sejenak. "Kenapa disini seolah aku yang menginginkannya? Ya Bodoh!" rutuknya sendiri.

Apa Sehun telah melupakannya? Ya, Luhan kau bodoh sekali.

"Yah! Aku harus semangat. Luhan, kau harus semangat, sekarang waktunya bekerja. Kau tidak boleh lemah hanya karena pria itu tidak memberimu kabar. Fighting…"

Dengan cepat ia berdiri dan menuju kamar mandi dan cukup tahu saja. Ia kemarin juga belum membasuh dirinya dengan setitik air. Menyedihkan sekali.

_oOo_

pria ini masih betah menatap ponsel yang ada ditangannya, bukan karena ia sedang mengetik pesan atau apa, yang ia lihat hanya gambar wallpapernya, foto seseorang yang menyebalkan baginya karena telah membuatnya gila dengan merindukan kehadiran pria itu disampingnya. Oh Sehun, yah dialah pria itu, siapa lagi?

Sudah setengah jam ia duduk dihalte yang dekat dengan penginapannya, bukannya tidak ada bus yang lewat, ia hanya sibuk menatap layar ponsel pemberian Sehun, sehingga ia tidak menyadari bahwa sudah ada dua bus lewat.

Luhan menghela nafas berat, mendongakkan kepalanya dan menatap lurus kedepan, pikirannya terus tertuju pada Sehun, Sehun dan Sehun. Entahlah, ia seharusnya senang karena Sehun tidak mengganggunya, mengingat sudah dua hari Sehun tidak mengirimi pesan padanya, teleponpun juga tidak. Luhan berpikir, untuk apa Sehun memberinya ponsel kalau ia tidak menghubunginya sama sekali. Dasar pria bodoh, menyebalkan.

Yah! Dia akui, salah satu alasan menyalahkan Sehun karena dia memang merindukan pria itu.

"Tskk… ada pria bodoh seperti aku?" Luhan tersenyum kecut, "Dua hari Luhan, dan dua hari lagi, kamu akan berpisah maka manfaatkan waktu ini untuk menjauh dari pria itu, singkirkan nama Oh Sehun dari pikiranmu. Singkirkan…" Luhan berkata sendiri. Sesaat kemudian ia menghela nafas panjang lagi, merutuki dirinya sendiri.

Ia kemudian tersadar ketika melihat jam tangannya, "Astaga! Jam sepuluh!" pekiknya. "Luhan memang benar jika kau bodoh, bagaimana bisa kau terlambat!"

"Luhan hyung…"

pria ini mencari-cari sumber suara yang memanggilnya, tatapannya terhenti ketika menatap seseorang yang tengah ada didalam mobil, mengenakan kaca mata hitamnya dengan senyuman yang sangat manis.

"Kris." gumamnya pelan.

"Kajja! Kau mau ketempat kami bukan?"

Luhan hanya mengangguk singkat, Kris kemudian mengajaknya untuk masuk kedalam mobil. Dengan segera Luhan juga berjalan menghampiri mobil Kris.

"Kris, kenapa pagi-pagi kau lewat sini? Memang kau mau kemana?" tanya Luhan. Kris belum menjawabnya, pria ini sibuk menatap wajah Luhan yang sepertinya agak sedikit lain.

"Yakkkk Krisssss…" panggil Luhan memastikan.

"Ne? Ah, masuklah, kebetulan aku tadi baru saja dari rumah. Tadi malam aku tidur dirumah Lu kau tau kan aku dan baekhyun tidak ikut konser ke jepang karena sakit."

Luhan sudah ada didalam mobil Kris dan duduk tepat disebelahnya. "Eum, jadi kau tidur dirumah akhhh aku ingin menemui baekhyun"

"Kau sakit?" tanya Kris tiba-tiba. Luhan segera menatap Kris, ia sedikit terkejut, apakah memang wajahnya terlhat seperti orang sakit? Ya Tuhan, Lu kau mengenaskan sekali, si bodoh itu yang membuatmu seperti ini? Hah!

"Ann..anniya." sangkal Luhan dengan cepat ia menghadap lurus kedepan. Kris masih memperhatikannya dari samping. Wajah Luhan memang tidak seperti biasanya, sedikit kurus? Apakah ia ada masalah dengan Sehun? Atau masalah lainnya?

"Eum, Sehun tadi mengirimi aku pesan, dia bertanya padaku. Apakah kau baik-baik saja. Aku heran sekali padanya, apa mungkin dia tahu keadaanmu sekarang."

"Mwo? Sehun mengirim pesan? Padamu Kris?" Luhan terkejut karena memang sejak Sehun berangkat ke Jepang, pria itu seolah menghilang tanpa jejak.

"Ne? Wae? Apa dia tidak mengirimimu pesan?" Kris menatap Luhan heran, sementara Luhan hanya diam, ia belum bisa menjawab.

"Aku kira, dia sudah mengirim pesan untukmu dan menanyakan keadaanmu, lalu kau berbohong dengan mengatakan kau baik-baik saja, makanya Sehun bertanya padaku tentang keadaanmu. Nyatanya… Kau tidak baik-baik saja." jelas Kris.

"Aku baik-baik saja…" jawab Luhan pelan. Ia kemudian menekuk wajahnya, Kris merasa tidak enak hati melihat Luhan yang sepertinya bersedih. Sehun keterlaluan sekali menurutnya, tidak memberi kabar pada Luhan, yang jelas-jelas pria cantik ini sangat merindukannya.

"Aku bisa melihatnya, walau kau mengelaknya." tambah Kris lagi, "Apa kau merindukannya?" tanya Kris pada Luhan.

Luhan terdiam cukup lama, ia harus berkata Iya! Tapi tenggorokkannya tercekat, ia sedih jika mengingat ia ingin bertemu Sehun, tapi setelah itu ia harus mengatakan yang sebenarnya. Ia harus berpisah.

"Ne, aku merindukan Sehun." Luhan tertunduk dengan mengusap pipinya sekilas, ia mengalihkan pandangannya menatap jendela luar, agar Kris tidak tahu ia sudah meneteskan air mata.

Kris terdiam, ia mendengar suara parau yang keluar dari bibir pria cantik ini. Dengan perlahan Kris mengusap pundak Luhan, mencoba membuat Luhan sedikit tenang. Ia tidak tahu kenapa Luhan menangis selain karena merindukan Sehun, Kris yakin ada masalah diantara Sehun dan Luhan. Dan ia tidak berhak ikut campur terlalu jauh.

'Sehun-ah, memang sebaiknya kau tidak usah menghubungiku. Ini lebih baik, dari pada aku terus mengharapkanmu, itu membuatku semakin sulit'

_oOo_

Luhan memastikan barang yang dibawa Kris telah masuk kedalam mobil semua. Ia kembali melihat Kris yang kini masih berbincang dengan salah satu staff produksi Film yang sedang ia bintangi. Ternyata syuting Film tidak semudah yang ia bayangkan. Ya, memang sekarang ia sedang menjalankan pekerjaannya dengan menjadi asisten Kris.

Pekerjaannya ini setidaknya bisa membuatnya sedikit mengalihkan pikirannya yang terus saja tertuju pada Sehun, walaupun ia sebenarnya juga masih belum sepenuhnya bisa.

Luhan menunggu Kris yang kini sepertinya pria ini sudah selesai dan berjalan kearahnya.

"Kau lelah ya?" tanya Kris saat sudah ada didepan Luhan, pria ini hanya terrsenyum renyah melihat sikap Luhan.

"Anniya, bukan aku lelah karena bekerja denganmu melihatmu saja aku sudah lelah. Apalagi kau yang menjalaninya?" jawab Luhan.

Kris tersenyum mendengarnya.

"Tapi kau senang, bekerja denganku bukan? Dari pada dengan Sehun?" goda Kris. Luhan terkejut.

"Hahaha, aku hanya bercanda Ge." lanjut Kris.

"Bagaimanapun Sehun, kau pasti akan tetap suka walau dia semena-mena denganmu."

"Anniya, aku lebih senang bekerja denganmu dari pada dengannya." jawab Luhan. Walau sebenarnya ia juga sudah menerima jika harus bekerja dengan Sehun sangat menyenangkan jika berada didekat Sehun. Tapi ada alasan lain sehingga dia lebih suka dengan Kris sekarang.

"Benarkah?" Kris terkejut. "Sehun harus tahu…" lanjutnya terkekeh.

"Eum, Kelihatannya kau memikirkan dia terus kau merindukannya? Hum?" goda Kris lagi.

Luhan memasang senyum palsu. Ia memang merindukannya, tapi ia tidak tahu kapan Sehun akan kembali, pria itu kini belum memberinya kabar sama sekali.

"LuLu?"

Kris dan Luhan menoleh seketika saat ada suara yang tiba-tiba memanggilnya. Luhan menatap sesosok yang kini tengah berdiri tidak jau dari tempatnya.

"Ahh… " Luhan menundukkan wajahnya, memberi salam.

"Minho…" kata Kris.

"Kris? Lama tidak bertemu denganmu…" balas Minho. Keduanya sama-sama tersenyum, Luhan sendiri yang terlihat sedikit kikuk diantara mereka.

_oOo_

Luhan masih terdiam, belum berani mengucapkan satu patah katapun untuk mengalihkannya, ia kemudian menyantap makanan yang memang sudah ada dimejanya, begitupun pria yang kini tengah duduk didepannya. Alih-alih mencairkan suasana pria itu kini mulai meminum moccacino ice miliknya.

"Eum, kau tidak pesan makan?" tanya Luhan pada Minho yang memang hanya memesan minuman saja. Luhan sebenarnya tidak enak, karena hanya dia yang memesan makanan. Tahu begini dia tadi juga memesan minuman saja tapi memag dia sangat lapar.

"Anniya.. kau makan saja. Melihatmu makan aku jadi kenyang sendiri." jawabnya tersenyum.

"Ya, kau_" Luhan tertahan.

"Kau membuatku seperti pria manly yang kelaparan saja." lanjutnya.

"Hahaha manly hahahaha. Bukan begitu, aku sudah makan tadi saat dikantor jadi aku memang sengaja saja mengajakmu makan kesini ini tempat favoritku." jelas Minho padanya.

"Benarkah?" Luhan menatapnya, sambil memakan lagi makanannya, pria cantik ini rupanya memang kelaparan. "Pasti dengan kekasihmu, benarkan?" lanjutnya.

"Tidak. Aku kesini sendirian, aku tidak punya kekasih." jawab Minho.

"Dan, kau adalah orang pertama yang aku ajak kesini."

Luhan membulatkan mata Rusa nya tidak percaya, ia hampir saja tersedak karena terkejut. Orang pertama? Pria ini tidak sedang merayunya bukan? kenapa seolah Minho sudah menyatakan kalau ia barus saja menyukai pria ini. Ini membuat Luhan seketika sulit untuk merubah raut wajahnya.

"Wae? Apa ada yang salah dengan ucapanku? Tapi, aku berkata benar." kata Minho.

"Eum, bu…bukan begitu. Hanya saja, mendengar aku yang pertama kau ajak kemari, seolah hanya aku saja temanmu atau aku ini _"

"Aku tahu." potong Minho.

"Aku mengajakmu kesini karena memang kau satu-satunya pria cantik yang membuatku merasa nyaman."

Seolah mendapat sebuah jakpot dengan sejumlah uang yang sangat banyak, Luhan lagi-lagi terkejut. Walau ia sebenarnya tahu arah pembicaraan Minho padanya.

Ia menyesal tadi kenapa dia ikut, kalau ternyata Kris ditengah jalan membatalkan ingin makan bersama. Dan sekarang hanya mereka berdua, sepertinya dugaan Luhan sedikit benar pria ini sepertinya memang ingin dekat dengannya, melebihi seorang teman. Apa ini ada hubungannya dengan Tuan Yuan.

"aku rasa, kau sudah tahu tentangku dari Tuan Yuan." kata Minho pelan. Luhan hanya bisa diam. Ia tidak tahu harus bagaimana.

"Eum, aku sudah tahu kemarin lusa. Dia yang memberitahuku setelah aku bertemu denganmu saat ada pemotretan EXO distudio milikmu." jelas Luhan.

Pria ini menjadi sedikit merasa tidak enak pada Luhan.

"Apa kau juga tahu, aku telah mengetahui dirimu dan itu tanpa kau tahu?" tebak Minho.

"Humm… tuan yuan memberitahuku." jawab Luhan pelan. Minho hanya tersenyum mendengarnya, tersenyum karena kebodohannya sendiri.

"Kenapa kau malah tersenyum?" Luhan heran menatapnya. Kalau seperti ini memang pria ini juga tidak kalah tampan dari Sehun? Tapi, kenapa ia tetap saja lebih memilih Sehun paling tampan dimatanya. Ya, kenapa malah mengingat Sehun. Sadar Lu, kau sedang bersama pria lain.

"Aku hanya merasa malu LuLu." jawabnya,

"Aku minta maaf karena telah lancang jika mengetahui tentangmu seperti itu, memalukan sekali." gerutunya sendiri.

"Gwenchana. Wajar saja kau ingin tahu, karena kau penasaran, pria seperti apa yang ingin Tuan Yuan kenalkan padamu."

"Dan ternyata pria itu sepertiku, pasti kau sangat terkejut bukan? Pria miskin dan juga_"

"Aku justru tidak melihat itu… itu tidak termasuk dalam point penting untuk menjadikan pria cantik sepertimu sebagi seorang pendamping hidup. Aku justru melihat sisi lain dari dirimu saat itu. Kau pria istimewa yang pernah aku lihat dan sekarang aku senang bisa mengenalmu lebih dekat."

Luhan sepertinya akan jatuh dari kursi jika ia tidak berpegangan pada kursi yang kini tengah didudukinya karena perkataan pria ini yang mengejutkannya, lagi lagi dan lagi.

_oOo_

Dengan langkah gontai ia mulai mneyusuri gedung penginapan ini, menuju pintu kamarnya. Pikirannya sangat kalut sekarang. Apa yang harus dia lakukan sekarang.

"memikirkan kata Minho saja membuatku pusing, apalagi nanti jika Sehun pulang? Astaga, mati saja kau Lu mati saja. Yah, itu lebih baik…"

Luhan mengacak rambutnya sendiri. Belum berniat membuka pintunya ia malah bersandar dan duduk disana, didepan pintu kamarnya seperti seorang pengemis. Menyedihkan.

"Andai saja, Minho tidak mengucapkan kata itu… aku tidak akan terlalu pusing. Baba pulanglah. Aku ingin pergi denganmu saja. Aku lelah…" gumamnya pelan.

"Tapi, pria sepertimu bukannya memilih pria yang dari kalangan sepertimu, maksudku, aku ini tidak pantas jika bersamamu. Dan kau pasti tahu, jika aku akan segera menikah… dengan kekasihku."

"Ne, aku tahu LuLu. Sebelum kau mengatakannya aku sudah tahu, kau akan menikah dengan kekasihmu. Lagi pula, aku hanya ingin dekat denganmu…" jawab Minho santai. Pria ini sepertinya sangat pandai mengatur emosinya sendiri, ia tahu kalau sebenarnya ia sangat tidak terima Luhan akan menikah, seharusnya posisi itu miliknya. Kalau saja, tidak terjadi sesuatu.

"Sebenarnya, jika kau bertemu dahulu denganku sebelum kau bertemu dengan kekasihmu, posisi itu milikku."

Luhan tidak menyangka sama sekali jika pria ini akan sangat blak-blakan mengatakan ini padanya. Yah, memang benar kalau saja ia menerima pasti pria didepannya ini yang akan menjadi suaminya, bukan Sehun?bukan pria yang membuatnya menangis terus-terusan.

"Hahaha, kau jangan mengambil serius perkataanku LuLu, aku hanya bercanda." lanjut Minho.

"Eh? Emm, bukan begitu Aku hanya sedikit terkejut. Maafkan aku, aku sebenarnya dulu sangat tidak suka jika Tuan Yuan menjodohkan aku dengan relasinya jadi semua itu murni aku yang menolaknya. Kau seharusnya membenciku." jelas Luhan.

"Aku tidak bisa LuLu? Bagaimana ini… kenapa aku malah tidak bisa membencimu."

Luhan menatap pria ini, begitu teduh sekali tatapan pria jelas dari sorot matanya yang mengatakan bahwa ia memang tulus. Apa Luhan yang salah atau apa? Dia juga tidak tahu.

"Aku sudah menyukaimu, sejak aku melihat dengan mataku sendiri… bagaimana dirimu sebenarnya. Tepat setelah Tuan Yuan memberiku fotomu, setelah itu, aku mencari keberadaanmu… dan aku tidak menyesal sama sekali setelah itu."

Luhan tidak tahu…. ini bagaimana? dia ingin berlari jauh sekali, tapi kakinya seperti tidak bisa digerakkan. Pria ini seolah menyatakan bahwa akulah yang harusnya menjadi suamimu, bukan pria lain. Tapi dengan cara yang sangat halus.

"Terserah, kau menganggapnya apa.. tapi jika saja kau tahu, yang paling aku sesali adalah saat Tuan Yuan mengatakan pembatalan semua kata-katanya, untuk tidak boleh mengenalmu lebih jauh, dan juga tentang perjodohan itu… semuanya seperti mimpi buruk untukku." tambahnya. Membuat Luhan merasa sangat bersalah tapi ia bisa apa? Ia tidak bisa melakukan apa-apa untuk pria yang masih duduk didepannya.

"Kau tidak perlu merasa bersalah. Inilah takdirnya… kau dan aku memang tidak bisa bersatu, kecuali kau_"

Luhan mendongak, menatapnya bingung."Mwo?" tanya Luhan.

"Kau dan kekasihmu tidak jadi menikah, aku harap kau mengijinkan aku, untuk mendekatimu lagi…"

Luhan menghela nafas panjang mengingat kata-kata terakhir itu, sungguh ini membuatnya bingung. Choi Minho dengan sangat terang-terangan mengaku padanya. Tapi, jika ia harus memaksakan diri untuk menyukai pria itu, sangat mustahil… bahkan hatinya kini masih dikuasai satu nama yang membuatnya ingin mati saja.

Luhan mengernyitkan dahinya saat mendengar suara rapp dan itu jelas-jelas suara Sehun. Tapi dari mana asalnya? Luhan mencoba melihat ponsel yang ada didalam tasnya ponsel pemberian Sehun.

Pria cantik itu membulatkan matanya dengan jelas namanya Sehun terpampang dilayar datarnya itu.

"M..mwo? Sehun?" Luhan sepertinya belum siap jika ia harus berbicara dengan pria ini. Ia belum siap sama sekali. Aneh sekali, bukankah memang ia menginginkan Sehun menghubunginya?

Luhan tidak menjawab teleponnya, ia hanya membiarkan ponsel sehun itu terus berdering yang membuat Luhan konyol. Sehun sengaja memasang sendiri diponsel itu. Menyebalkan sekali.

Ponselnya itu kembali berdering benar-benar membuat Luhan kesal dan juga gugup. Yah, semuanya melebur menjadi satu saat ini. Sehun benar-benar membuatnya kehilangan akal.

"Yob_"

"Ya! Kau lama sekali menjawabnya kau kemana saja huh? Apa kau ada diluar dengan pria lain!"

Belum Luhan menjawab suara protes Sehun terdengar sangat memekakkan telinganya sungguh membuat sakit telinganya saja. Apa dia selalu seperti ini, sangat sulit merubah kebiasaannya yang seenakknya sendiri.

"Pelankan suaramu atau aku tutup teleponnya." kata Luhan.

"Jangan mengalihkan pembicaraan kau ini bersalah. Jawab dulu pertanyaanku…" kata pria ini lagi. Luhan sedikit lega bisa mendengar suara Sehun lagi. Walaupun ia akui ia gugup saat ini.

"Aku sedang ada dikamar sedang tidur. Dan kau menganggu tidurku. Kau bersalah meneleponku seperti ini, mengangguku tidur dan menunduhku bersama pria lain memangnya aku pria macam apa huh dan aku ini manly!" jelas Luhan.

Terdengar suara kekehan Sehun dan itu membuat Luhan bingung.

"Ya, kau tertawa. Aku sedang marah padamu Oh Sehun!"

"Arasseo, Luhan hyung kau marah denganku, karena kau terlalu merindukanku dan aku belum mengabarimu sama sekali bukan?"

Luhan sedikit tersentak Tampak raut malu kini menghiasi wajahnya.

"M…Mwo? Kenapa kau percaya diri sekali aku merindukanmu? Hei,Tuan Oh… sadarlah, kau ini tengah bermimpi. Aku tidak merindukanmu." jelasnya.

"Kalau aku tengah bermimpi, berarti jika dalam nyata kau memang merindukanku?" jawab Sehun.

"Euhh?" Luhan tidak tahu harus menjawab apa. Dasar pria ini selalu memancing emosinya.

"Baiklah, aku tidak akan memaksamu mengatakannya." kata Sehun pelan.

Luhan terdiam, ia tidak bisa mengucapkan apa-apa saat ini. Sebenarnya ia ingin memaki Sehun dengan kata-kata yang sangat kejam mengatakan kalau Sehun bodoh sekali membiarkan dia seperti mayat hidup disini tanpa ada kabar darinya, mengatakan bahwa Sehun sangat kejam bersikap seenaknya sendiri tanpa memperdulikan bagaimana Luhan disini.

"Kau tidak menggoda hyungku saat aku jauh darimu?" tanya Sehun.

"Kau selalu saja berpikir aku seperti itu menyebalkan sekali…"

"Karena aku tahu, bagaimana kau saat bersama hyung ku, kau selalu saja membuatnya senang didekatmu. Lain sekali saat kau bersamaku, kau tidak pernah tersenyum saat seperti kau bersama hyungku. Dan itu membuatku iri dengan hyungku Lu."

Suara Sehun terdengar serius walau memang nadanya sedikit pelan, tidak saat seperti tadi saat pertama Luhan menjawab teleponnya.

"Itu karena kau menyebalkan makanya aku tidak tersenyum padamu." jawab Luhan.

"Apa aku seperti itu? Tapi aku paling tampan daripada hyungku, aku juga paling pintar, aku paling muda dari hyungku. Apa kau tidak_"

"Ya! Oh Sehun…" sentak Luhan kesal.

"Kalau kau menelpon hanya untuk membicarakan hal yang tidak penting sebaiknya matikan saja teleponnya, aku mau_"

"Aku merindukanmu…" potong Sehun cepat. Luhan terdiam sesaat apa kata Sehun barusan? Dia tidak salah dengar.

"Aku benci sekali mengucapkan kata ini tapi kenyataannya begini… aku memang merindukanmu Lu." lanjut Sehun pelan.

Luhan terdiam seolah terhipnotis oleh kata-kata Sehun barusan. Sehun juga begitu Dia belum bicara lagi setelah mengatakan hal ini padanya.

"Apa kau sudah makan? Kau selalu saja lupa makan malam, makan yang banyak." kata Sehun dan sekarang nada bicaranya sepertinya sudah kembali seperti semula.

"A..aku, aku sudah makan tadi." jawab Luhan pelan yah.. dia sudah makan bersama Choi Minho. Walau intinya dia cukup merasa bersalah pada Sehun tapi tidak dipungkiri sekarang ia ingin tetap mendengar suara ini.

"Baiklah… cepat tidur jangan lupa kunci pintunya. Hati-hati…" kata Sehun padanya.

"Eumh satu lagi, tunggu aku kembali."

Luhan hanya diam saja saat mendengar kata Sehun yang sepertinya sangat menyesakkan baginya. Ia ingin sekali berteriak bahwa ia juga merasakan apa yang dia rasakan saat ini, tapi percuma saja ia nanti akan mengatakan perpisahan dan itu tidak berguna.

"Eum, aku tutup teleponnya." kata Sehun padanya,Sehun sebenarnya ragu memutus sambungan teleponnya tapi mau bagaimana lagi. Luhan tahu sebenarnya Sehun mengharap kata-kata darinya, walau hanya sekedar menanyakan apa kabar Sehun disana tapi ia tahan.

"Ne, tutup saja." jawabnya pelan. Terdengar suara helaaan nafas Sehun yang berat.

"Selamat malam Lu."

"Sel_"

'Tutuututtttttttttt…..'

Luhan mendengar nada telepon yang sudah terputus, Sehun memutuskan teleponnya sebelum ia membalasnya. Luhan tetap meletakkan ponselnya ditelinganya Pandangannya menatap kedepan dengan mata yang memerah. Menahan gejolak emosinya mati-matian.

"Sehun-ah, apa kau baik-baik disana? Kau istirahat yang cukup disana? Jangan minum bir atau wine terus-terusan aku tahu kau suka sekali mabuk jaga kesehatanmu…" kata Luhan sendiri dengan suara yang parau karena tenggorokannya tercekat.

"Aku Merindukanmu juga…." kata Luhan lagi seperti ia berbicara dengan Sehun ditelepon.

"Hati-hati, aku akan mematuhi apa katamu." lanjutnya lagi.

Luhan meletakkan ponselnya dengan cepat ia mengusap pipinya sendiri yang sepertinya ia tidak sadar teleh meneteskan air matanya. Entahlah, mendengar suara Sehun yang sepertinya benar-benar merindukannya ia merasa sangat bersalah padanya.

"Sehun-ah, maafkan aku…" gumamnya pelan.

_oOo_

EXO Dorm, 11'st floor

Luhan membuka pintu dorm tampak sepi sekali apa dia datang pagi sekali? Tapi tidak ini sudah cukup siang. Kris dan Baekhyun?

Luhan menatap meja makan masih tampak kosong tidak ada makanan. Ia menghela nafas panjang ini dikarena Kyungsoo tidak ada didorm jadi tidak ada makanan hasil melingkis kemeja merahnya yang panjang kemudian membuka lemari es berusaha mencari bahan makanan yang bisa dimasak. Lagi pula, ia nanti hanya menemani Kris ketempat bermain film saja.

"Kau mau memasak apa sini biar aku bantu." kata Baekhyun yang tiba-tiba muncul disamping Luhan.

"Ah kau sudah sembuh? Tapi apa kau bisa memasak?" tatap Luhan tidak percaya, Baekhyun hanya memainkan bibirnya gemas.

"Ya aku sudah sembuh! Lu hyung Memangnya aku Sehun tidak bisa memasak. Walau aku ini tidak setampan Sehunmu karena aku cantik dimata yeollie dan kau harus tahu keahlian memasakku hyung!" jawab Baekhyun terdengar sedikit menggoda Luhan dengan nada sedikit protes dan manja.

"Aigoo… kenapa urusan wajah disangkut pautkan? Aku hanya tidak yakin saja kau bisa memasak."

"Itu sama saja kan aku ingin mencoba menjadi istri terbaik yeollie kelak…" kata Baekhyun.

"Sini, biar aku bantu Mau memasak apa kakak iparku yang cantik?"

Luhan menatap Baekhyun dengan kesal memanggilnya kakak ipar dan cantik hell ingin sekali ia menyumpal bibir ganas itu.

"Ya, aku belum menikah dengan Sehun, lagi pula hal itu tidak akan terjadi." Luhan berkata pelan ia kemudian sadar dengan apa yang ia katakan. Baekhyun mengernyitkan alisnya.

"Apa? Apanya yang tidak akan terjadi?" tanya Baekhyun bingung.

"Ah, tidak… bukan apa-apa." jawab Luhan gugup.

"Kajja kita mulai memasak, Baek tolong cuci sayurannya aku akan membuat capcay." lanjutnya seolah tidak mengabaikan pertanyaan Baekhyun.

Baekhyun masih menatap Luhan bingung memang belakangan ini Luhan sedikit aneh. Apa karena pria yang sama cantiknya ini merindukan Sehun hingga sampai ingin membatalkan pernikahannya?

"Kau merindukan Sehun, LuLu hyung?" Baekhyun menatap Luhan dengan wajah yang serius.

"Euh?" Luhan menoleh kesamping tepat menatap masih tampak kemudian membalas dengan senyuman dan mengusap puncak rambutnya.

"Sini mana sayurannya biar aku cuci hyung." kata Baekhyun mengalihkan pembicaraannya.

"Ahh, igeo baekkie…" Luhan kembali pada konsentrasinya ia mengambilkan sejumlah bahan untuk Baekhyun.

Sesaat ia mendengar ponselnya sendiri berbunyi nada pesan. Luhan merogoh saku celananya.

'Sehun sudah kembali dari Jepang atau belum Lu? Jika sudah cepat katakan padanya bicarakan baik-baik masalah ini. Lagi pula aku yakin, pria itu tidak benar-benar ingin menikahimu karena profesinya itu. Kalau kau tidak berani mengatakannya biar aku saja yang mengatakan ini pada orang tuanya'

Jantung Luhan berdebar sangat keras membaca pesan ini. Tuan Yuan memang tidak main-main dengan semua ucapannya. Ia harus mengatakannya setelah Sehun tiba di korea. Tapi, bagaimana caranya? Tidak boleh tidak kau harus mengatakannya Lu harus.

"Ya, Lu hyung kau kenapa?" Luhan tersentak saat Baekhyun memanggilnya.

"Kau sakit ne?" tanya Baekhyun.

"Eum anniya. Aku baik-baik saja." Luhan segera memasukkan ponselnya.

"Kajja, kita lanjut memasak." lanjutnya.

Baekhyun masih menatap Luhan aneh. Lalu pandangannya tertuju pada seseorang yang tengah menatapnya dengan tatapan aneh.

_oOo_

Luhan berjalan dengan langkah malas seperti biasanya. Lalu dia membuka pintu sebelum ada seseorang yang memanggilnya.

"Xiao Lu…"

Ia menoleh dan dadanya sedikit berdebar karena melihat sosok yang tengah berdiri tak jauh dari tempatnya kini. Luhan membatalkan untuk membuka kamaranya. Pria itu berjalan mendekat dan tersenyum padanya.

"kenapa kau tidak membalas pesanku? Dia belum kembali dari Jepang?" tanya pria itu. Luhan membasahi sedikit bibirnya ia seakan takut sekali jika bertemu dengan orang ini.

"Eum belum." jawab Luhan singkat.

"Aku tadi sangat sibuk sehingga aku tidak sempat membalas pesanmu."jawabnya berbohong. Tuan Yuan hanya tersenyum mendengarnya ia tidak bisa marah walau ia tahu sebenarnya pria ini berbohong.

"baiklah! Aku hanya memastikan keadaanmu saja. Dan satu lagi aku ingin tahu jawabanmu_"

"Arasseo, aku akan mengatakannya pada Sehun jika pernikahan ini akan batal. Kau tidak perlu ragu padaku." jawab Luhan menatap kearah Tuan Yuan.

"Aku akan bilang juga pada orang tuanya." lanjutnya pelan.

"Bagus…" kata Tuan Yuan.

"Baiklah, silahkan beristirahat. Hati-hati… selamat malam."

Pria setengah baya itu akhirnya berbalik dan meninggalkan Luhan yang kini tengah menatapnya.

"Andai saja Sehun bukan seorang idol bukan seorang member EXO…" gumamnya pelan.

_oOo_

Luhan flat

Luhan menatap meja kecil yang ada didepannya dengan bersiku seolah menatap makanan itu dengan malas. Apakah ia sanggup menghabiskan semua makanan itu. Kalau ia tidak makan keadaannya makin terpuruk.

"Ramen…" gersahnya. Ya, ia sengaja memasak makanan itu karena ia tahu ini makanan kesukaan Sehun. Siapa tahu dengan memakan makanan ini hatinya kembali tenang.

"Baiklah…selamat makan Luhan." dengan cepat ia mengambil Ramen dengan sumpitnya. Ia memasukkan kedalam mulutnya dan mengunyah dengan penuh sekali dimulutnya. Ia mengingat apa kata Sehun, harus makan banyak jangan lupa makan malam. Dan ini membuatnya harus makan walau dengan perasaan sesak setelah ia mengingat apa kata Tuan Yuan.

Tidak peduli dengan hatinya yang berlawanan dengan cara makannya yang seperti orang kelaparan. Ia menahan air matanya agar tidak tumpah saat makan seperti ini. Jelas, ia mengingat saat Sehun berada disini makan bersamanya.

Luhan dengan susah payah menelan makanannya karena tenggorokkannya tercekat menelan ludah saja sangat sulit. Ia mati-matian menahan air matanya mengingat semua apa kata-kata Sehun yang terekam jelas dimemorinya.

"Ya! Makan Luhan bodoh kenapa kau malah mengingatnya. Dasar bodoh!" katanya sendiri.

Ting!
Luhan mendengar pintunya berbunyi. Ia membiarkannya ia berpikir hanya orang yang iseng.
Ting!
Pintunya berbunyi kembali. Luhan meletakkan sumpitnya dengan kesal.

"Aish jinja! Tuan Yuan… "

Luhan berjalan menuju pintu sebelum itu mengusap pipinya dan juga matanya yang sedikit basah karena air matanya yang tidak sadar telah menetes dengan sendirinya.

Ceklek! Luhan membuka pintunya.

"Ya, untuk apa kesini _"

Luhan tidak melanjutkan kata-katanya karena melihat sesosok yang sudah berdiri didepannya ini. Pria itu menatapnya tajam matanya terus tertuju padanya. Apalagi tertutup dengan masker dan juga topinya pria ini terlihat sedikit menyeramkan.

"Ka…kau?" suara Luhan terdengar gugup.

Sehun juga belum menjawabnya, ia masih betah menatap wajah Luhan, wajah Luhan yang sangat ia rindukan. Benar-benar sangat ia rindukan. Mata, hidung, bibir, dan semua anggota tubuh Luhan, ia perhatikan secara detail. Seolah memastikan bahwa pria ini tidak kenapa-napa ia baik-baik saja.

"Apa kau lupa denganku, huh?!" kata Sehun pada Luhan.

"Ta..tapi… ini bukan mimpi? Kau tidak…"

Sehun mendorong tubuh Luhan untuk masuk kedalam dan menutup kembali pintunya dengan kasar menggunakan kakinya. Sehun menahan pinggangnya dengan tangan kanannya.

"Yakkk, kau masih bilang ini mimpi?" Sehun melepas masker dan topinya. Luhan memang sepertinya sangat terkejut melihat Sehun ada didepannya dan kini dengan jarak sedekat ini. Ia seperti kehilangan kendali saat ini karena memang ia lupa cara berpikir dengan baik.

Luhan belum menjawabnya, ia hanya sibuk menatap detail wajah ,dia hanya memastikan ini bukan halusinasinya saja. Ini nyata Lu dia benar Oh Sehun. Tapi, bukankah masih besok ia dari Jepang kenapa hari ini sudah sampai di Korea.

"Ya!" panggil Sehun…

"Kau Oh Sehun?" kata Luhan dengan bodohnya membuat Sehun tersenyum dengan smirknya. Tangan Sehun kemudian meraih pipi Luhan dan memiringkan kepalanya, dengan cepat ia menyatukan bibirnya dengan bibir Luhan, Luhan cukup terkejut hanya bisa mengerjapkan matanya kemudian ia mulai memejamkan matanya saat merasakan bibir Sehun mulai bergerak diatas bibirnya, menyesap bibirnya pelan, dan melumat bibirnya bergantian. Ciuman ini, ciuman ini milik Sehun. Yah, memang benar ia tidak sedang bermimpi. Dirasa Luhan sudah membalasnya, Sehun kemudian melepasnya tautan bibirnya dan menatap Luhan kembali.

Luhan membuka matanya dan tatapannya kembali menyatu dengan Sehun.

Sehun tersenyum simpul padanya membuat hatinya kembali berdesir. Lagi lagi seperti ini, ia sulit sekali mengatur detak jantungnya jika Sehun bersikap seperti ini.

"Sepertinya kau belum sadar sepenuhnya?" kata Sehun tersenyum miring padanya.

"Apa memang kau sangat merindukan ini…" Sehun mengusap pipinya yang kini sudah memerah menahan malu.

"An..anniya. Kau… ! Semaumu sendiri berkata seperti itu. Dasar, menyemmmpphhhh….hhh" Luhan membulatkan matanya saat tiba-tiba Sehun dengan cepat kembali menyatukan bibirnya disaat ia tidak menduganya sama sekali. Luhan berusaha mendorong tubuh Sehun agar melepas ciumannya ini tapi yang ada Sehun malah menarik tubuhnya semakin dekat hingga tidak ada jarak diantara mereka. Sehun seolah mengatakan bahwa ia sangat merindukannya saat ini berpisah dengannya adalah hal yang terberat walau hanya tiga hari saja. Sehun memiringkan kembali kepalanya dan kembali menyatukan bibirnya, memenuhi bibir Luhan dengan ciumannya yang sekarang temponya lebih lembut.

Luhan sadar, ia tahu sekali ia bisa merasakan rasa rindu yang teramat dalam dihati Sehun, tapi ia bisa apa? Ia juga merindukannya. Dan ia yakin, Sehun juga mengetahuinya melalu ciumannya ini.

Luhan sudah kehilangan kekuatan untuk memberontak ataupun menolak saat tangan Sehun mulai menyusup disela-sela rambutnya yang untuk menekan kepalanya, untuk memperdalam ciumanya lagi. Luhan bisa apa, ia hanya bisa membalas perlakuan Sehun padanya dengan ganti melumat bibir tersenyum disela-sela ciumannya, ternyata pria dihadapan nya ini juga merasakan hal yang sama. Benar-benar merindukannya, yah setidaknya ia merasa lega setelah ia tahu bahwa Luhan juga merindukannya. Entahlah, atau hanya perasaannya tapi Sehun merasakan itu dari ciuman Luhan saat ini. Ini yang Sehun suka dari Luhan, pria cantik ini selalu bisa membuatnya bahagia. Walaupun sebenarnya ia sangat lelah…

Dengan bertemu Luhan, seolah tenaganya yang telah habis kembali terisi walau hanya menatap pria cantik itu sekali tapi ia akui ia bahagia.

_oOo_

"Asshhh…." Sehun keluar dari kamar mandi dengan raut wajah yang menakutkan, ia kesal sekali dengan Luhan. Dengan berganti tshirt dan juga handuk ditangannya, ia menatap Luhan yang kini duduk santai sambil menatap layar televisi.

"Ya! Kau tidak merasa bersalah sama sekali…" kata Sehun cantik ini menoleh kearahnya dengan tatapan datarnya. Seolah memang ini bukan duduk tepat disebelahnya kini.

"Ini bukan salahku ini juga salahmu. Kau sendiri yang menciumku dengan sangat rakus. Tanpa bertanya dahulu padaku."

Sehun mengerjapkan matanya berulang-ulang mendengar apa kata Luhan barusan.

"M..Mwo? Kau…" Sehun memicingkan matanya.

"Kau pikir, aku saja yang mencium dengan sangat rakus? Huh! Hei nyonya Oh… apa kau lupa membalas ciumanku dengan hal yang sama bahkan tanganmu hampir merontokkan rambutku yang keren ini karena kau terus meremas dan mmppp.."

Luhan menutup bibir Sehun dengan tangannya karena ia tidak tahan dengan ucapan pria ini. Ia bisa gila jika Sehun seperti ini membuatnya malu saja. Walau memang benar begitu kenyataannya.

Luhan sadar apa yang dilakukannya kemudian melepas masih menatapnya kesal.

"Kalau tidak ada yang memulainya, aku juga tidak akan seperti itu…" kata Luhan menatap kelayar televisi. Sungguh ia malu sekali jika Sehun membahasnya.

"Oh kau masih malu ternyata baby Lu Tssk!" goda Sehun.

"Ya! Terserah apa katamu…" gersahnya ia kembali fokus dengan apa yang ia tonton saat ini.

"Aish… bibirku masih pedas sekali.. " Sehun kembali menggosok bibirnya memang terlihat memerah saat ini bukan karena ciumannya dengan Luhan, yah memang itu juga penyebabnya. Tapi, ada hal lain yang menyebabkan itu menjadi sangat merah saat ini.

"Mwoya? Kenapa jadi seperti ini…" Luhan menatap bibir Sehun.

"Jangan digosok terus menerus, kau ini…" lanjutnya.

"Makanya ini salahmu. Seharusnya sebelum aku menciummu lagi kau bilang padaku kau baru makan apa. Aku yakin itu bukan Ramen. Tapi kau sengaja memakan sambal untuk membuatku seperti ini bukan?!" kata Sehun sinis padanya.

"Kau menyebalkan sekali." Luhan bergegas bangun dari duduknya.

"Yakkk, kau mau kemana?!" pekik kemudian mencari sesuatu dimeja tempat rias nya.

"Igeo…" Luhan menyerahkan sesuatu pada Sehun. Sehun menatapnya bingung.

"Ini apa?" duduk disebelahnya tentu saja dengan wajah kesalnya sambil menatap Sehun.

"Kapas…" kata Sehun lagi.

"Diamlah…" perintah Luhan. Ia kemudian menuangkan cairan pembersih wajahnya kedalam kapas dan menempelkan tepat dibibir Sehun.

"Mpppp…" Sehun terdiam saat kapas itu sekarang ada tersenyum geli melihat wajah Sehun.

"Ya! Untuk apa kau…"

"Jangan banyak bicara!" potong Luhan.

"Dengan begini bibirmu tidak akan panas, sebentar lagi juga akan sembuh. Jadi biarkan kapas itu tetap menempel. Kau mengerti?"

Sehun hanya pasrah mendengar apa perintah pria cantik ini, yah memang benar. Ia merasa bibirnya sekarang sudah tidak terasa panas lagi. Luhan kembali menatap layar televisi.

"Eumh, Lu?" panggil menoleh padanya. "Aku lapar…bisa kau buatkan aku makanan tapi jangan Ramen yang pedas itu… aku tidak_"

"Aish!" Luhan heran dengan sikap Sehun, apa dia salah makan saat di Jepang? hingga sikapnya aneh sekali. Apalagi dengan ber aegyeo seperti ini.

"Kau kesini selalu saja menghabiskan jatah makananku! Baiklah hanya ada ramyun… jangan protes!"

"Aigoo… dengan suamimu saja kau pelit sekali…"

"Suami? Aish! Baiklah-baiklah akan aku buatkan… Tuan muda Oh Sehun."

Sehun menganggukkan kepalanya, sambil tersenyum pada hanya membalasnya dnegan mencibirkan bibirnya.

"Aku mengerti! Istriku kau sangat pengertian sekali dengan suamimu ini."

"YA! Berhenti berkata seperti itu…"

_oOo_

Luhan masih belum bisa memejamkan matanya, pria cantik ini tidur menyamping dengan terus berusaha untuk tidur tapi ia tetap saja tidak bisa memejamkan matanya. Iya pikiran nya terus saja memikirkan apa yang harus ia lakukan besok mengatakannya pada Sehun dan juga mengatakan pada orang tuanya Ini membuatnya pusing.

Tapi disaat yang tidak terduga, Luhan merasakan sesuatu melingkar diperutnya Sebuah tangan. Luhan menoleh ternyata Sehun sudah ada disampingnya.

"Aku tahu kau belum tidur hum…" kata Sehun dengan suaranya yang terdengar sengaja menenggelamkan wajahnya tepat disebelah bahu Luhan sambil menghirup aroma dalam-dalam pria rusa ini.

"Aku tahu kau tadi tidur diluar kenapa kau sekarang disini." balas Luhan, ia belum menatap Sehun sepenuhnya karena posisinya masih sama.

"Aku tahu, kau akan tidur setelah aku memelukmu seperti ini." kata Sehun lagi seolah tahu apa yang dialami Luhan saat ini, gelisah.

"Aku malas berdebat denganmu Lepaskan pelukanmu dan tidurlah diluar…"

"Kau memikirkan apa hingga belum bisa tidur?" tanyanya mengabaikan apa kata Luhan barusan.

"Aku,..tidak memikirkan apa-apa." jawab Luhan berbohong, ia merasa sedikit geli saat merasakan hembusan nafas Sehun yang keluar dari hidung dan juga bibir pria ini saat mengenai kulit sekitar bahu dan lehernya karena saat ini Sehun menyibakkan kemeja nya.

"Lalu, kenapa kau juga belum tidur?" tanya balik Luhan.

"Aku tidak bisa jauh darimu, makanya aku sulit sekali tidur…"

"Jawaban macam apa itu? Kau belajar merayu dari mana huh? Menggelikan." cibir Luhan.

walau nada bicaranya pelan tetap saja terdengar kesal Sehun terkekeh mendengar kata Luhan.

"Astaga. Apa itu terdengar merayu? Menurutku tidak sama sekali aku tidak suka cara seperti itu." tegas Sehun.

"Tapi tetap saja itu termasuk kata rayuan…"

"Tidak Lu!" bantah Sehun lagi.

"Iya!" balas Luhan kembali. Sehun dengan cepat merubah posisi tubuhnya dan juga posisi tubuh Luhan, tentu saja Luhan terkejut. Sekarang Sehun sudah berada diatas tubuh Luhan dengan kakinya yang satu ada ditengah sela-sela kaki Luhan dan tangannya yang satu menopang tubuhnya agar tidak seutuhnya membebani Luhan.

"ige mwoya?" Luhan terkejut pada Sehun.

"Ne ige mwoya? Tssk…" Sehun tersenyum miring pada Luhan.

"Menurutmu? Katamu aku suka merayu? baiklah aku tidak akan merayumu akan aku lakukan sesuatu dengan caraku sendiri." lanjut Sehun.

Luhan menelan ludahnya dengan sangat sulit sekali karena tatapan mata Sehun yang tajam sekaligus membuatnya merasa gugup. Sebenarnya ia tidak boleh gugup seperti ini. Ia seharusnya menendang kaki Sehun agar tubuhnya tidak berada diatasnya.

"mwoya? Apa yang kau lakukan?" Luhan mengangkat tangannya untuk mendorong tubuh Sehun, tapi dengan cepat pula tangan Sehun menahan tanganya.

"Jika saja kau sudah menjadi istriku aku tidak akan menunggu lama."

"Mwo! Yakkk menunggu lama? Kau gila…"

"memang! Kau benar aku memang gila kau tidak tahu? bagaimana aku di Jepang tanpa menghubungimu sama sekali. padahal aku sangat ingin menghubungimu Aku akui, aku sudah terbiasa denganmu disisiku kau tidak tahu rasanya seperti apa disana tanpa ada kau, kau tidak akan tahu…"

"…" Luhan tidak menjawabnya walau ia sendiri merasakan bagaimana rasanya ia seperti mayat hidup saat Sehun tidak ada dan entah kenapa ia malah tidak berontak sekarang saat tangan Sehun mengusap pipinya pelan.

'Sehun-ah aku sama sepertimu, aku merasakan apa yang kau rasakan bahkan lebih, aku sakit sekali saat ini sesak mengingat besok aku akan mengatakan kata-kata yang sangat aku benci'

"Aku tahu, pasti akan memakiku dengan kata-kata saat aku tidak menghubungimu. Tapi aku sadar semuanya butuh proses, kau tidak dengan mudah bisa menyukaiku. Pasti kau akan berpikir dua kali untuk bisa mencintaiku."

"Sehun-ah, kau kenapa seperti ini jangan berlebihan_"

"Aku bicara apa adanya? Apa ada yang salah dengan apa yang aku rasakan? Aku bukan type pria seperti ini dan kau membuatku kehilangan harga diri didepanmu dan perlu kau tahu aku benci sekali situasi dimana aku akan…."

Luhan menanti kata-kata apalagi yang akan keluar dari bibir Sehun karena sepertinya pria ini belum selesai mengatakan sepenuhnya apa yang hendak ia sampaikan padanya.

"mwo?" kata Luhan.

"Anniya…" gumam Sehun pelan.

"Sehun-ah, aku sesak sekali tidak bisakah kau bangun dari tubuhku?" Luhan menatap posisi Sehun yang masih diatasnya.

"Aku belum selesai bicara, tidak mau!"

"Aigoo kau mau bicara apa lagi? Aku sudah cukup mendengar semuanya darimu dan itu membuatku_"

Luhan terdiam saat bibir Sehun menempel dibibirnya Sehun sangat tahu cara membuat Luhan diam dan juga mengalihkan sikap gengsi pria ini. Bibir Sehun bergerak pelan menyesap bibirnya perlahan kemudian melumatnya bergantian dengan lembut. Sehun melepas ciumannya kemudian dengan cepat ia mencium kening Luhan. Membenamkan bibirnya disana agak lama seolah menyampaikan rasa sayangnya pada Luhan. Luhan seperti diatas angin lagi, lagi dan lagi. Sehun suka sekali membuatnya jantungan seperti ini. Mencium tanpa Luhan duga dan dengan tiba-tiba. Tapi ia kenapa senang dengan perlakuan Sehun yang seperti ini.

"Tidurlah…" Sehun bangun dari tubuhnya kemudian memeluk tubuhnya kembali.

"Aku akan memelukmu seperti ini jangan protes dan biarkan seperti ini…"

Luhan merasakan pelukan erat Sehun dilingkar perutnya ia juga bisa merasakan hembusan nafas Sehun yang sedikit menggelitik kulit lehernya.

"Hun…"

"Eum…" jawab Sehun pelan. Sehun sudah memejamkan matanya karena ia ingin menikmati pelukan ini dengan dalam.

"Apa kau tidak akan marah dan membenciku?"

"Untuk apa aku marah dan membencimu? Hum?" jawab Sehun kini suaranya terdengar sedikit berat.

"Aku sudah bersalah padamu…" kata Luhan lagi.

"Kau boleh membenciku…" lanjutnya lagi, Luhan sebenarnya ingin sekali mengatakan ia sangat mencintai pria ini. Tapi nanti yang ada akan semakin rumit karena pernikahan juga akan batal.

"Kau bicara apa hum?" Sehun sepertinya memang tidak tahu apa maksud Luhan.

"Apapun itu, aku tidak pantas membencimu…"

"Tapi kau tidak tahu_"

"Aku tahu Lu, kau jangan mengacaukan ini dengan mengatakan kalau kau menyukaiku kau tahu? aku semakin tidak bisa tidur nantinya." potong Sehun.

"Tidurlah sekarang… aku akan tetap memelukmu…"

Luhan belum sempat menjawabnya Sehun sudah seenaknya saja berkata seperti itu. Walaupun itu benar tapi Luhan akan tetap menyangkalnya sampai ia tidak kuat lagi menyembunyikan perasaanya.

_oOo_

Sehun dengan penampilannya yang masih dengan matanya yang sembab dan juga dengan masker yang menempel menutup sebagian wajahnya membuat Luhan menatapnya aneh.

"Ya cepat kau harus segera kembali kedorm sebelum siang…" Luhan menarik paksa tangan Sehun,sepertinya Sehun masih mengantuk. Ia sesekali memejamkan sudah memakai sepatunya, tapi Sehun? ia malah bersandar di dinding dengan mata terpejam.

"Hun! Pakai sepatumu ini sudah jam delapan. Aku tidak mau yang lainnya berpikiran yang macam-macam tentang kita…" ucap Luhan Ia kemudian menggoyangkan tubuh Sehun.

"Yaaakkkkk!"

"Eumh aku masih mengantuk tidak bisakah satu jam lagi Lu?" Sehun mulai membuka matanya.

"Ini, sepatumu cepat pakai!" dengan malas akhirnya juga menuruti apa kata Luhan Tentu saja ia masih menggerutu.

"Kajja!"

Luhan membuka pintunya dan Sehun ada dibelakangnya saat mulai menutup pintu dan berjalan… Ia sangat terkejut ada seseorang yang tengah menyaksikan nya dengan Sehun.

"Kalian rupanya?"

"Tuan Yuan…" gumam Luhan, mata pria itu terus menatap Sehun begitu juga Sehun. Ia menatap pria itu aneh Kenapa pria itu pagi-pagi sekali ada ditempat Luhan apa ada sesuatu lagi?

"Untuk apa kau ketempat Luhan?" tanya Sehun.

"Bagus, kau ada disini." jawab Tuan Yuan.

"Xiao Lu, apa kau sudah mengatakannya? Kau sudah mengatakan padanya…" Tuan Yuan menatap cantik ini tampak gugup sekaligus menatap tajam pada Tuan Yuan dan juga Luhan. Rasa kantuknya kini seperti hilang saat ia mulai mencium gelagat aneh dua orang didepannya ini.

"Uum, aku belum_"

"Katakan apa? Ada yang kau sembunyikan dariku Lu?" tanya Sehun menggigit bibir bawahnya ia takut sekali mengucapkan ini. Tapi, ia harus mengatakannya.

"Lu, lebih cepat kau katakan akan lebih bagus…" tambah Tuan menatap nanar pada Tuan Yuan dan kini pandangannya tertuju pada Sehun.

"Sehun-ah…" kata Luhan pelan.

"Tuan Yuan telah mencabut semua tuntutannya pada SM ent, tentang foto kita berdua." katanya lagi dengan tegas namun ia merasa sangat sesak sekali.

"Kau tahukan maksudnya? nama baikmu, keluargamu dan juga EXO tidak akan menjadi buruk karena scandal kita sudah tidak akan disebarkan. Jadi dengan ini maka aku putuskan_"

"LUHAN!" pekik Sehun menatap Luhan geram. Tangannya mengepal ia seolah tahu apa maksud Luhan kali ini.

"Dengarkan aku!" tegas Luhan dengan matanya yang memerah. Ia menghela nafas panjang sebelum melanjutkan kata-katanya lagi.

"Kita tidak perlu menikah untuk menutupinya tidak perlu adanya pernikahan untuk menutupi semua ini. Karena semuanya akan baik-baik saja." Luhan dengan susah payah ia menahan laju air matanya, ia masih menatap Sehun, begitu juga sebaliknya. Sehun masih menatapnya dengan sorot mata yang tajam dan rahangnya mengeras. Seperti ada batu besar menghantam dadanya saat Luhan membatalkan pernikahan ini.

"Kau sudah jelas! jadi_"

"Aku tidak mau!" potong Sehun, "Aku tetap tidak mau! Aku ingin tetap menikah denganmu!" jelas Sehun membuat Luhan menatapnya tidak percaya.

Tuan Yuan juga menatap Sehun tidak percaya bagaimana pemuda ini bersikeras menikah dengan Luhan apa telah terjadi sesuatu dengan mereka berdua. Tapi tidak mungkin Luhan bukan pria semacam itu.

"Hun… kau tidak_" gumam Luhan.

"Aku tidak akan melepasmu begitu saja Lu!"

T

B

C


HunHan Next Episode!

'Sehun-ah, kau lama sekali. Kami sudah berkumpul, katanya kau mau main bersama kami hingga malam? Eoh?!'

"Aku tidak baik-baik saja, aku sedang tidak baik-baik saja." katanya dengan suara paraunya.


Mind TO Review?.

Big Thanks To readeulnim duh saya terhura oh ini nama Fb saya ''Selubiy HunHannie Deer'' itu fb nista saya bhaq! aku tanpa kalian bukanlah apa-apa hyaayaa Anyeonggggg!


^^520 I Say '' 훈'' You Say '' 한''^^