Hai,, Minna..
Terimakasih yang sudah me-read dan mereview. Walaupun pada saat pertama publish fic ini mengalami eror code.
Bayangan Semu : Terimakasih reviewnya. Ini sudah saya perbaiki. Maaf yaa.. hehe
dara093 : Terimakasih sudah mencoba membaca diantara sampah yang berserakan. Author terharu :)
himawari nara : Author juga suka sama Shikamaru #NAhloh gak nyambung. PLAKK
tare-hare : Yup, thanks buat masukannya. Dinikmati saja ya buburnya. hehe. .
.
.
Tricks
Bermula dari...
Himawari duduk disamping Shikadai dan termenung melihat kea rah kekasihnya, yang juga sahabat karib kakaknya sedang berbaring sambil tersenyum menatapi awan diatas mereka.
"Apa yang lucu, Shika-kun", Tanya Himawari sambil mendongakkan wajahnya menatap awan yang sama. Sepertinya awan itu baik-baik saja. Atau mungkin kekasih barunya inilah yang aneh.
"Entahlah", jawab Shikadai tetap mendongakkan wajah dan tersenyum kearah awan putih yang berarakan diatas langit "Hari ini, dalam pandanganku semua terlihat indah".
"Kecualiā¦", Shikadai mendadak bangkit dari posisi terbaringnya dan segera menarik lengan Himawari dan berlari cepat menuju pohon beringin yang paling besar.
"Eh, kecuali apa?", Tanya Himawari heran dan semakin heran mendapati Shikadai kini bungkam dan seolah mengajaknya bersembunyi. Tapi mengapa mereka harus bersembunyi?
"Aduh gawat", bathin Shikadai mencelos. Tentu saja ini akan terjadi. Ah mengapa laki-laki berambut nanas itu melewatkan kemungkinan itu. Sial, umpatnya dalam hati.
.
.
.
.
.
Jadi, tolong jelaskan pada Shikadai siapa yang mencuri otak cemerlangnya? Makhluk cantik yang kini bersandar dibahunya masih terdiam seribu bahasa meskipun Shikadai yakin dalam benak gadis itu pasti bertanya-tanya. Ah, haruskah ia menyalahkan hormon testosteron yang kini sedang melingkupinnya?
Bisa jadi karena itu Shikadai menjadi kecolongan. Sikap waspada yang biasanya sangat membantu dalam pertarungan team kini seperti meringkuk tepat disudut otaknya.
"Hima", panggil Shikadai sambil menatap senyuman yang selalu Himawari sunggingkan sepanjang hari ini.
"Ya, senpai", jawabnya sambil menengadah menatap balik Shikadai. Raut mukanya tiba-tiba mengernyit melihat pandangan Shikadai yang kini berubah. Oh, ingatlah Shikadai, Himawari ini perempuan. Dia peka terhadap suasana hatimu.
"Senpai sakit?", tanyanya dengan raut muka cemas. Tangan mungilnya meraih dahi Shikadai yang lebar.
"Tidak demam", gumam gadis itu.
"Aku tidak apa-apa", kata Shikadai kemudian. "Sebenarnya..."
Himawari menunggu. Satu detik. Dua detik. Shikadai tetap menggantung kalimatnya.
"Apa?", desak Himawari tak sabar.
"Kita dalam masalah".
.
.
"Masalah, apa masalahnya? Aku tak mengerti, senpai", Himawari bingung. Sepertinya tadi masih baik-baik saja. Apa Shikadai marah karena Himawari memberi makan rusa-rusanya terlalu banyak? Tapi sepertinya bukan karena itu. Kau terlalu banyak berkhayal Himawari. Jika bukan karena itu lalu karena apa?
"Himawari", panggil Shikadai lagi. Suaranya terdengar sedikit berat. Entah kenapa panggilan Shikadai barusan lebih terdengar seksi dalam pendengaran Himawari.
"Ya, Senpai daritadi memanggilku dan membuatku bingung. Ada apa sebenarnya?", Himawari semakin tak sabar menghadapi sikap Shikadai yang mulai aneh. Jangan-jangan dia mulai lapar!Dia mulai lapar? Ambil Sn**ers. #Abaikan. PLAK
"Baiklah", Shikadai menghela napas panjang. "Ia benar-benar bingung bagaimana menjelaskan keadaan yang menimpa mereka saat ini.
"Apa kau tau jika saat ini Boruto dan kawan-kawanku mencarimu?", pancing Shikadai yang sontak mendapat tatapan horor dari lawan bicaranya.
Himawari tau apa artinya jika Boruto mencarinya. Mereka berdua dalam posisi gawat. Boruto bukan orang yang mudah menahan emosi. Tubuhnya akan bergerak lebih dulu daripada otaknya, begitulah Boruto. Tidak seperti pemuda dalam dekapannya ini. Pemuda bersurai kuning itu memiliki emosi yang meluap-luap seperti Tousannya. Bahkan lebih parah.
"Bo-Boruto-nii mencariku? Gawat!", bibir Himawari memucat. Dalam benaknya terputar bayangan wajah marah kakaknya dan wajah babak belur Shikadai.
"TIDAKK", teriakan Himawari sontak membuat sang Nara terkejut.
"Eh, kau tidak apa-apa Himawari? Kau kenapa?", pekiknya cemas sambil mengguncang bahu gadis itu beberapa kali.
"Bo-Boruto nii bisa menghajarmu, Senpai", cicit Himawari yang kini kembali membenamkan wajahnya dalam dekapan Shikadai. Ciee Shikadai cie... #Apasih Lupakan!
"Aku tau", ujar Shikadai ringan seolah-olah ia tidak terbeban dengan kemungkinan buruk tersebut. Tapi jangan panggil dia Nara Shikadai jika ia tidak mewarisi otak jenius ayahnya.
"Aku sudah memikirkan jalan keluarnya. Tapi aku butuh bantuanmu", lanjutnya. "Kau bersedia, Himawari?".
Himawari mengangguk mantap sambil menengadahkan wajahnya. Semangatnya pulih kembali. Apapun yang terjadi, ia akan membantu lelaki yang dicintainya ini. Karena itu adalah jalan ninjanya, putus Himawari.
"Baiklah Senpai, aku akan membantumu bagaimanapun juga. Sekarang apa yang bisa kubantu?", tawarnya sambil tersenyum riang. Himawari tidak tau kalau senyumnya membuat hati pemuda dihadapannya itu menghangat.
"Pertama, tetaplah tersenyum seperti itu. Dan semua bagiku akan baik-baik saja", kata-kata itu entah mengapa meluncur begitu saja dari bibirnya. Padahal yang tadi ia pikirkan bukan itu. "Yang kedua, Kan sudah kubilang jangan panggil aku senpai lagi jika sedang berduaan!".
Himawari meringis. Ia tertawa dalam hati. Pemuda didepannya ini sungguh membuatnya bahagia.
"Iya Shikakun, iya", anggukan Himawari mirip boneka hoka-hoka bento sontak membuat Shikadai semakin melebarkan senyumnya.
"Yang ketiga", lanjut Shikadai. "Tetaplah semangat menyemangatiku. Sisanya aku yang akan urus".
.
.
.
tbc
Kira-kira apa yang Shikadai rencanakan yaa?
Mind to review?
.
.
.
Memang singkat sekali chap ini. Tapi Author usahakan next chap lebih panjang lagi. :)
