[KOTORI POV]

.


.

"Saya mengerti... Saya mohon maaf atas segala kekacauan yang telah terjadi"

"Saya akan berbicara dengan anak itu setelah ini, anda tidak perlu khawatir serahkan saja masalah tersebut kepadaku."

"Baiklah, saya mengerti. Terima kasih"

.


.

Dari dalam kamarku aku bisa mendengar mamaku sedang berbicara dengan seseorang di telepon. Apakah ini ada hubungannya dengan Umi-chan? Apakah Umi-chan baik-baik saja sekarang? Malam itu aku tidak menyangka akan menjadi seperti ini apalagi saat itu aku melihat dengan mata kepalaku sendiri ketika dia ditampar oleh ayahnya. Dan aku... aku tidak berbuat apa-apa untuk membelanya.

Rasanya hatiku menjadi sakit saat mengingat kembali bagaimana Umi yang selama ini aku kenal merupakan gadis yang tangguh bisa menangis seperti itu. Entah mengapa aku sendiri juga bisa merasakan bagaimana rasa sakitnya tamparan dipipinya itu. Lalu setelah itu, Umi-chan pingsan dan terjatuh tergeletak di tanah. Aku berlari menghampiri Umi dengan segera untuk memastikan keadaan dia, aku menggenggam tangannya dan memegang lembut pipinya yang basah oleh air mata tersebut, tapi tampaknya dia sudah tidak sadarkan diri.

Pada saat itu aku berniat membawanya pergi meninggalkan mereka, namun pandangan tajam dari mamanya membuatku takut dan melepaskan genggamanku tersebut.

"Lebih baik kamu pulang saja ke rumahmu sekarang. Biarkan kami yang mengurus anak kami, Kotori-san." Kata ayahnya kepadaku dengan suara yang dingin sambil menggendong anaknya untuk pulang ke rumah. Aku pikir memang itu yang terbaik, Tapi... Aku takut... Aku takut jika bahwa kejadian itu akan menjadi pertemuanku yang terakhir kalinya bersama dia.

.


Tok..tok...tok...


.

"Kotori-chan, apakah kamu sudah tidur, nak?" Terdengar suara mama dari luar pintu kamarku. "Mama akan masuk sekarang."

Aku hanya bisa diam terpaku dari atas ranjangku menantikan kedatangan ibuku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Mengingat situasinya sekarang, aku yakin ibuku juga akan sedih jika mengetahui kejadian tersebut. Aku sudah pasrah apabila orang tuaku ingin memarahiku habis-habisan.

Mama lalu berdiri disamping ranjangku dan menatapku dalam-dalam. Dari dalam kelopak matanya yang sayu, aku bisa melihat betapa dia sangat merasa sangat tertekan hingga tidak mampu mengeluarkan kata-katanya. Entah mengapa aku menjadi merasa begitu berdosa untuk bertatapan muka dengan ibuku.

Namun tiba-tiba ibuku memelukku!

"Apakah kamu tidak apa-apa, Kotori?"

Ibuku memelukku dengan erat. Aku bisa merasakan dari belakang punggungku ada air mata yang menetes disana.

"Mama, maafkan aku..." Kataku dengan suara serak.

"Mmmhhh... kamu tidak perlu minta maaf! Tidak ada orang yang perlu disalahkan disini." Kata Ibuku dengan lembut.

"Jadi, apakah kamu merestui hubungan kami?" Tanyaku dengan cemas.

"Tentu saja..." Jawab ibuku dengan suara pelan.

"TENTU SAJA TIDAK!"

Ibuku lalu bangkit memalingkan mukanya membelakangiku.

"Seharusnya aku tahu ini dari dulu... Seandainya dulu aku tidak terlalu keras melarangmu bergaul dengan teman laki-laki. Seandainya aku tahu bahwa keputusanku itu salah... seandainya... huwaaa...!"

Ibu tiba-tiba menangis dan menjerit histeris.

"Ini adalah salah mama yang tidak mendidikmu dengan baik! Aku sudah gagal sebagai orang tua."

"Ma-Mama..." Aku mengulurkan tanganku menyentuh pundaknya.

"Sebetulnya aku sudah tahu sejak saat itu... Dulu kamu pernah berpacaran dengan Honoka, kan?"

"Dulu aku sendirilah yang meminta Honoka untuk tidak melanjutkan hubungan kalian dan tetap sebagai teman saja. Karenanya aku senang ketika mengetahui bahwa dia mendengar perkataanku dan memutuskanmu."

"Aku tahu bahwa kamu bersahabat baik dengan Honoka dan Umi sejak kecil, oleh karena itu aku tidak terlalu mengkhawatirkan hubungan kalian . Tapi sekarang saat aku tahu bahwa kamu berpacaran dengan Umi... Aku sudah tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapimu, Kotori!"

Aku terkejut pada saat mendengar mamaku membentak di depan mukaku. Malam itu telah merubah segalanya didalam hidupku. Aku bertengkar hebat dengan mamaku, aku mempertahankan pendapatku bahwa aku benar-benar mencintai Umi tapi Mamaku menganggap bahwa aku tidak tahu apa-apa tentang masalah cinta.

Pada akhirnya berita itu sampai juga di telinga ayahku. Ayahku lalu membuat keputusan untuk melarangku menemui Umi dan Honoka. Seluruh hari-hariku kini hanya diisi dengan kegiatan kursus belajar design dan membantu ibuku mengurus kegiatan sekolah, aku tidak diijinkan untuk berpergian tanpa ijin mereka. Seluruh kontak di ponselku telah dihapus dan aku tidak diijinkan menggunakan ponsel selain menghubungi kedua orang tuaku.

1 bulan telah berlalu sejak saat itu, hari-hari yang membosankan tanpa ada teman-teman yang menemaniku. Ahh... aku harap bisa mengulang hari-hariku di SMA, ketika aku masih memiliki 8 teman baik yang selalu meluangkan waktunya untuk berkumpul bersama. Aku jadi penasaran bagaimana nasib mereka sekarang?.

.


Lalu pagi itu, sekitar jam 5.00 AM...


.

"UMI-CHAN!", aku kaget setengah mati saat melihat Umi mengetuk jendela kamarku yang ada di lantai atas.

"Pssttt... jangan keras-keras!" Umi menempelkan jari telunjuknya di bibirnya seraya memberi isyarat untuk diam tenang. "Kotori-chan, apakah kamu mau ikut bersamaku sekarang?"

Pada saat itu aku ingin menyakan sebenarnya dia ingin mengajakku pergi kemana akan tetapi entah kenapa bibirku menjadi keluh sehingga tidak mampu menanyakan hal itu. Aku hanya meresponnya dengan menganggukkan kepalaku. Umi tersenyum lebar saat melihat itu. Senyum indah yang hampir saja aku melupakannya.

Umi menungguku di depan pintu rumah, sementara itu aku harus berjuang untuk "kabur" dari dalam rumahku dengan diam-diam tanpa membangunkan mama dan papaku. Singkat kata aku berhasil keluar dari rumahku dengan sukses. Aku melihat Umi membawa sepeda "city bike" miliknya, aku kemudian duduk di belakang sepeda itu sambil memegang pinggangnya. Aku beruntung saat itu aku memilih pakaian baju t-shirt dan celana pendek sehingga tidak terlalu sulit untuk menaiki sepeda.

Kami kemudian berhenti di stasiun kereta api Akihabara. Umi tampaknya sudah menyiapkan tiket kereta api untuk perjalanan berikutnya. Aku jadi khawatir apakah dia berencana untuk mengajakku kabur? Aku tidak menyangka pertemuan ini akan membutuhkan waktu lama. Tanpa sempat membaca lokasi tujuan kereta, aku segera digenggam oleh Umi untuk menaiki kereta tersebut.

Singkatnya, kami berdua tiba di suatu kota kecil. Tampaknya tidak banyak orang yang tinggal di kota itu, suasana pagi itu benar-benar sepi dan aku masih belum mengetahui kemana sebenarnya Umi ingin mengajakku pergi. Kami hanya terus berjalan menyusuri kota kecil itu hingga masuk ke dalam sebuah hutan.

"Umi-chan... Sebenarnya kemana kita akan pergi?" Aku bertanya dengan penuh rasa penasaran. Rasanya perjalanan ini masih sangaaaattt jauh!

"Bertahanlah Kotori, tinggal sebentar lagi kita akan sampai." Jawab Umi sambil terus berjalan dan menggandeng tanganku.

"Ini adalah tempat yang indah, aku baru saja menemukan tempat ini ketika berkelana di dalam hutan kemarin. Aku pikir kamu juga akan menyukainya.", Kata Umi sambil tersenyum.

Aku mengangguk pelan mendengar perkataannya. Entah kenapa aku sekarang menjadi tidak sabar begini?. Seharusnya aku menikmati perjalanan ini... Seharusnya aku tidak mengeluh seperti ini. Tanpa sadar aku merasa ada air mata yang menetes melalui pipiku.

Suasana hutan pada pagi hari itu benar-benar sunyi. Aku bisa mendengar dengan jelas suara rerimbunan pohon yang saling bergesekan satu sama lain di balik kelamnya embun pagi itu bagaikan suara helaan nafas seseorang dalam keputusasaannya. Suasana yang cocok menggambarkan perasaanku saat ini, sepi dan kelam.

"Kita sudah sampai..."

Perkataan Umi itu kemudian segera membuyarkan lamunanku. Aku lalu melihat pemandangan yang sangat ingin ditunjukkan oleh Umi tersebut. Itu adalah sebuah danau dengan air yang tenang. Aku tidak tahu harus berkata seperti apa untuk mengungkapkan perasaanku sekarang. Entah mengapa aku merasakan kegelisahan saat melihat refleksi air danau tersebut.

"Umi-chan, apa maksud semua ini?" aku bertanya kepadanya dengan heran.

"Kotori-chan... apakah kamu ingat saat-saat kita kencan pertama kali?"

"Di danau taman kota?" Jawabku singkat.

"Ya benar...!" Umi tampak gembira mendengar jawabanku itu. "Pada pertemuan terakhir kita disana sempat terjadi kekacauan. Maafkan aku yah Kotori", Umi tersenyum sambil merapatkan kedua telapak tangannya untuk meminta maaf.

"Kenapa kamu harus minta maaf? Aku tidak pernah menyalahkanmu atas hal itu!" Kataku heran.

"Sejak saat itu aku selalu berpikir bagaimana caranya bisa bertemu denganmu kembali namun selama 1bulan ini aku sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk berjumpa denganmu. Aku sebenarnya ingin mengajakmu bertemu di taman itu, tapi aku takut jika kejadian itu akan terulang kembali. Oleh karena itu aku mencari tempat ini dan berhasil menemukannya."

Aku tiba-tiba tertegun mendengar penjelasannya tersebut. Flashback kenangan peristiwa 1 bulan yang lalu itu mau tidak mau kembali lagi di dalam pikiranku. Hatiku terasa sakit saat mengingat hal itu, begitu sakit sehingga tidak ada lagi kata-kata yang bisa keluar di dalam mulutku ini.

"Kotori-chan?" Umi menggenggam erat tanganku sambil menatapku dengan pandangan cemas. Melihat diriku tidak merespon, tiba-tiba dia memelukku dengan erat sambil menangis.

"Kotori... Aku minta maaf... Aku minta maaf!"

"Maafkan aku yang gagal mempertahankan cinta ini."

"Ehh?" Aku benar-benar tidak mengerti dengan perkataan Umi barusan.