[Normal POV]
.
.
"Apa maksudmu Umi?", Kotori melepaskan pelukan Umi tersebut dan bertanya kepadanya dengan penuh keheranan.
"Aku... Aku telah dijodohkan dengan seseorang." Jawab Umi dengan lirih
"BOHONG!" jawab Kotori dengan tidak percaya.
"Kamu pasti sedang bercanda kan?" Kotori melanjutkan kata-katanya sambil menangis. "Umi-chan, cepat katakan kepadaku, ini bohong kan?"
Umi hanya menundukkan kepalanya tanpa bergerak sedikitpun dari tempatnya berdiri seperti berusaha mengacuhkan perkataan Kotori.
"UMI-CHAN!", Kotori berteriak keras kepada Umi. "KALAU BEGITU APA MAKSUDMU MENGAJAKKU KE TEMPAT INI!"
"Aku.. aku ben-c...", Belum sempat Kotori menyelesaikan kata-katanya mendadak Umi segera mendaratkan ciumannya ke bibir gadis itu. Kotori kaget saat menyadari Umi telah menciumnya.
"Kotori, aku mohon jangan ucapkan perkataan itu!" Kata Umi setelah melepaskan ciumannya. "Karena masih aku mencintaimu... Untuk sekarang dan selamanya!"
"Aku juga mencintaimu, Umi-chan! Huaaa... aaaaa..." Kini giliran Kotori yang memeluk Umi sambil menangis. "Kenapa takdir begitu kejam kepada kita! Seandainya aku adalah seorang pria pasti tidak akan seperti ini jadinya."
Tidak ada lagi kata-kata yang terucap dari mulut mereka selain tangisan air mata yang mengalir deras dari mata mereka masing-masing. Setelah suasana haru tersebut, Umi lalu mengajak Kotori ke ujung geladak di tepian danau itu. Mereka berdua duduk saling bersebelahan dengan erat memandangi air danau yang sunyi itu.
Kotori melemparkan sebuah batu kerikil ke danau sehingga muncul riak air yang membuat pantulan gelombang meluas secara teratur yang memecah keheningan air danau tersebut. Sambil melihat riak air itu Kotori mengenang saat-saat berharga yang telah dia alami bersama dengan Umi. Semuanya tampak begitu berharga bagi dirinya. Tidak ada sedikitpun rasa penyesalan di dalam hati Kotori saat dia bersama dengan Umi.
Umi juga merasakan hal yang sama ketika dia melihat refleksi wajahnya di air danau itu menjadi kabur akibat pantulan gelombang. Dia merasa bahwa perasaan cintanya juga tidak mungkin bisa digantikan oleh orang lain selain dari Kotori. Dari dalam hatinya dia mempertanyakan apa yang salah dengan perasaan cinta ini?
.
.
"Oh iya...!"
Tiba-tiba Kotori memecah suasana murung itu dengan suara antusias.
"Aku baru ingat, aku belum cerita yah kalau aku berhasil mendapatkan uang beasiswa untuk study fashion-ku di Amerika. Aku akan segera berangkat ke Amerika 1 bulan lagi, aku pikir itu akan menjadi hal yang menyedihkan untukku, tapi..."
"Umi-chan..." Kata Kotori dengan senyum lebar.
"Bagaimana kalau kamu ikut aku ke Amerika? Dengan begini kita bisa menikah dan hidup bersama disana!" Kata Kotori dengan antusias.
Umi dengan muka terperangah mendengar ucapan Kotori itu. Di dalam hatinya yang paling dalam dia ingin sekali mengungkapkan betapa senangnya dia mendengar kabar itu. Tapi seperti ada dinding tebal yang mengurung hatinya, Umi tidak mampu mengeluarkan rasa bahagia tersebut.
"Aku..." Umi tersenyum kecil kepadanya. "Aku tidak bisa, Kotori."
"Aku adalah pewaris Sonoda Dojo milik keluargaku. Jika aku pergi ke Amerika bersamamu maka itu sama saja aku menghapuskan nama keluarga Sonoda di masa depan."
"Kamu tahu kan, nama klan Sonoda yang ada di belakang namaku ini adalah nama keluarga dari garis keturunan ibuku. Dan aku adalah satu-satunya anak penerus tunggal dari marga keluarga ini sekarang. Tentu saja aku tidak bisa melakukan itu."
"Tapi kan..." Dengan perasaan sedih Kotori tidak mampu meneruskan kata-katanya itu.
"Kotori-chan?..." Umi memegang tangan Kotori yang lembut sambil tangan satunya menyibak rambut coklat abu-abu dia. Pertemuan kedua mata mereka itu menceritakan lebih banyak tentang isi hati mereka tanpa perlu mengeluarkan sepatah katapun.
"Baiklah, aku mengerti..." Kata Kotori memecah suasana sedih itu sekali lagi.
"Umi-chan, kamu tidak perlu merasa bersalah atas hal ini. Kita berdua sama-sama tahu bagaimana ujung dari perjalanan kasih kita ini. Bahkan jika kita meneruskannya maka hingga sampai di ujung akhir dunia sekalipun kita melarikan diri, masalah ini sama sekali tetap tidak akan ada habisnya."
"Karena itulah..." Kotori dengan nafas terputus-putus berusaha untuk menyelesaikan kata-katanya itu. "Karena itulah aku akan melepaskanmu pergi."
Senyum getir terpasang di raut wajah Kotori ketika menyelesaikan kata-katanya itu. Umi tahu betapa sakitnya perasaan hati Kotori saat ini. Perasaan Umi saat ini juga terpecah belah, di satu sisi dia merasa bersyukur karena Kotori bisa mengerti itu, tapi disisi lain dia merasa bahwa melepaskan kekasihnya itu berarti akan menjadi pertemuan terakhir mereka.
.
.
"Hei, Kotori... Mau naik ke perahu?" Umi mengajak Kotori untuk berlayar di tengah danau itu. Kotori menganggukkan kepalanya tanpa mengeluarkan suaranya. Mereka berdua kemudian berjalan bergandengan tangan menuju perahu kecil yang diikat di sisi kiri geladak itu.
"Tunggu sebentar."Tiba-tiba Kotori melepaskan genggaman Umi dan berlari ke bagian dalam hutan seperti hendak mencari sesuatu.
"Kotori-chan? Apakah kamu sedang kehilangan sesuatu?" Tanya Umi dengan cemas.
"Tunggu disana sebentar, Umi... Aku... Ahh... Dapat!"
Tidak lama kemudian Kotori kembali dengan membawa beberapa tangkai bunga. Kotori lalu memberikan bunga itu kepada Umi.
"Apa ini Kotori?" Tanya Umi.
"Mmmhh... Bukan apa-apa." Kata Kotori sambil tersenyum.
"Apakah kamu ingat pertemuan terakhir kita? Pada hari itu kamu sempat memberikanku bunga Anemone. Kamu tahu, sampai saat ini aku masih menyimpan bunga itu di rumah. Dan kemudian aku baru menyadari bahwa aku ternyata belum sempat memberikan hadiah balasan untukmu."
"Selama ini aku terus memikirkan hadiah apa yang cocok untuk diberikan untukmu. Tapi tidak ada satupun yang dapat mewakili perasaanku ini. Maaf Umi-chan, aku hanya mampu memberikan Bunga Lily putih ini untukmu."
"Jika bunga Anemone itu berarti Antisipasi dan Harapan, maka bunga Lily Putih ini memiliki arti Tulus, Sederhana dan Kesucian. Umi-chan, Entah mengapa aku selalu teringat kepadamu setiap kali melihat bunga ini, karena itulah aku pikir bunga ini cocok untukmu."
Dengan penuh perasaan haru Umi lalu memeluk Kotori dengan erat. Umi tidak mampu lagi menahan perasaannya, dia pada akhirnya membiarkan air matanya terjatuh dengan deras di bahu Kotori. Untuk terakhir kalinya dia ingin merasakan sekali lagi sentuhan kulit Kotori, Untuk terakhir kalinya dia ingin merasakan langsung detak jantung di dada Kotori itu secara langsung.
"Terima Kasih, Kotori-san."
Umi lalu mengenggam tangan Kotori mengajaknya untuk naik ke perahu itu dan berlayar ke tengah danau.
.
.
"Yah, kalau begitu... Yuk, kita sama-sama naik perahu ini ke danau
Kalau nanti kamu lelah mendayung, tidurlah dalam dekapanku
Karena di dalam mimpi, kita masih bisa terus saling mencinta"
.
My Anemone Heart... My Lily White...
.
A/N: Cerita ini adalah challenge dari salah satu temanku yang memintaku untuk menjelaskan arti lagu Kinjirareta Futari. FYI, Jika kamu adalah fans JKT48 mungkin kamu tahu bahwa satu minggu kemarin (5/7) sempat ada sebuah artikel dari web/blog bernafaskan-keagamaan yang menuliskan bahwa JKT48 mendukung LGBT hanya karena dia mendengar lagu ini SEKALI saja.
FYI, lirik versi JOT untuk lagu ini sudah memiliki MAKNA yang BERBEDA dari versi AKB. Hal yang membuat berbeda adalah pengaburan makna di chorus ke-2nya, yang menggubah lirik aslinya "Jika aku tidak dilahirkan sebagai seorang wanita... Jika aku terlahir sebagai seorang pria" menjadi "Jikalau dahulu aku tidak terlahir seperti ini". Karena itulah mencampurkan arti lagu dari 2 grup ini ke dalam satu konteks yang serupa itu benar-benar kesalahan yang fatal!
Lagipula, sebagaimana ini adalah lagu theater, kamu HANYA bisa mendengarkan lagu ini di THEATER JKT48 saja, dan tidak mungkin ditampilkan di acara TV layaknya lagu single. (dimana setlistnya sendiri [Seishun Girl] sudah berakhir sejak bulan april kemarin - selain bisa mendengarnya di CD Theater-nya dan di konsernya (maybe?). Lagipula lagu ini sudah ada sejak 1 tahun yang lalu tapi baru diributkan hari ini? WTF! INI SENGAJA NYARI RIBUT YAH? (lagipula kalo emg nyari ribut kenapa gak lagu lainnya, SGJWS misalnya? :v )
Anyway, bagaimanapun juga pandangan terakhir saya adalah DUKUNG YURI IDOL, DEMI FANSERVICE YANG LEBIH BAIK!
Balik ke cerita, ternyata nulis cerita pake tema Yuri kayak gini itu bener-bener sulit yah. Sepertinya saya kapok nulis beginian. Jadi maaf yah kalo isi ceritanya gak bagus, tapi kalo ada respon bagus sepertinya saya masih bisa menuliskan 1 cerita ttg ini lagi. (entahlah...)
.: Cerita ini disponsori oleh Wedang Jahe Kalengan (bohong kok :p ). Minuman pria-pria kesepian, mengandung 0% alkohol, 80% wedang jahe aseli, 10% cinta dan 10% kegalauan. Menghangatkan badan, hati, dan jiwa. | dan didukung oleh FAN48BACKUP (yang ini beneran). FAN48 adalah tempat dimana para fans idol bisa mendapatkan info dan berbagi cerita tentang 48G dan Idol Group J-pop lainnya. :.
