Theory of Happiness
.
A Fanfiction by OrdinaryFujoshi
Kuroko no Basuke by Fujimaki Tadatoshi
Cover Image by megumonster
.
.
Chapter 2 : AoKaga Plan (?)
Notifikasi tanda ada pesan baru masuk di handphone warna merah muda milik seorang gadis dengan warna rambut senada berbunyi. Si gadis langsung buru-buru mencari handphonenya yang terkubur di antara barang-barang lain di dalam tas tangannya.
.
From : Tetsu-kun (^3^)
Subject : None
Momoi-san, sungguh sayang tadi tidak menemani Aomine-kun.
.
Jantung Momoi langsung serasa naik ke tenggorokan saking kagetnya. Tidak biasanya pemuda bersurai baby blue pujaan hatinya itu mengirimkan sebuah pesan singkat padanya. Biasanya ia yang mengirimnya lebih dulu, dan hampir semua pesannya diacuhkan begitu saja−kecuali pesan untuk memberitahukan jadwal latihan basket selama mereka SMP dulu.
"KYAAAAA! TETSU-KUN SMS!" jeritnya spontan dengan pekikan melengking.
Semua mata di pusat perbelanjaan tempatnya shopping langsung terarah padanya. Ada yang menatapnya heran, bingung, mengganggapnya gadis gila, tapi ada juga yang menatapnya dengan mesam-mesem mesum, sejenis dengan tatapan Aomine jika melihat Horikita Mai.
Momoi malu sendiri. Wajahnya yang merah padam ditundukkan, disembunyikan dari tatapan orang-orang. Untung saja Momoi baru mulai sesi belanja-nya, belum ada barang yang dipilih, jadi dia bisa langsung keluar dari toko yang lumayan ramai itu dan mungkin tidak akan kembali ke sana lagi. Sesegera mungkin ia pulang ke rumah dan meredam rasa malunya itu. Tak lupa ia akan membalas pesan Kuroko setelah sampai di rumah.
.
.
From : Momoi-san
Subject : Reply
Kyaaa! Tetsu-kun! Jarang sekali sms aku kyaaaa \(^,^)/
Ada apa? Kenapa dengan Dai-chan? Apa tadi Tetsu-kun juga melihat dia one-on-one dengan Kagamin? (^-^)
Apa mereka CIUMAN? (^3^) PEGANGAN TANGAN?.
Mereka masih tetap imut seperti biasa kan?
.
'Ah, Momoi-san. Pertanyaan pertama pasti tentang hubungan Aomine-kun dan Kagami-kun,' Kuroko menghela nafas panjang. Jari Kuroko menari di atas keypad handphonenya, mengetik jawaban untuk si gadis bersurai baby pink tersebut.
To : Momoi-san
Subject : Aomine-kun dan Kagami-kun
Tidak, aku tidak menonton one-on-one mereka. Kalaupun menonton, hasilnya sudah pasti Aomine-kun yang menang.
[Tepat saat itu, Kagami yang sedang menunggu Aomine mandi sambil membaca Monthly Basketball langsung bersin.]
Aku bertemu mereka sedang makan siang di Maji Burger. Tidak, mereka tidak melakukan apa-apa. Hanya berbagi sebuah burger ukuran jumbo dan cola dari gelas dan sedotan yang sama.
Jawaban Kuroko untuk Momoi tidak OOC, jawaban khas tanpa ekspresi seperti biasanya. Setelah mengecek ulang semua pelafalan kanji di pesannya, Kuroko menekan tombol 'Send'. Tak butuh waktu lama bagi pemuda fudan pemula ini untuk mendapat jawaban dari fujoshi akut penggemar AoKaga nomer satu ini. Dalam semenit handphone biru muda Kuroko sudah dibombardir sms dari Momoi.
From : Momoi-san
Subject : KYAAAAA!
TETSU-KUUUNNN~ MEREKA IMUT SEKALIIIII! (QAQ)
.
From : Momoi-san
Subject : DAI-CHAN DAN KAGAMIN!
Tetsu-kun tidak salah lihat kan? Itu mereka kan? Dua orang basuke-baka itu kan? Mereka makan siang bersama? Tetsu-kun yakin mereka tidak pacaran? (QAQ)
.
From : Momoi-san
Subject : Burger-Cola!
Mereka indirect kiss, Tetsu-kun, INDIRECT KISS! Dai-chan dan Kagamin memang imut sekaliii! Aku menyesal tidak ikut tadiii! Tetsu-kun, apa Tetsu-kun sempat memotret mereka?
.
Kuroko senyum-senyum sendiri membaca pesan singkat dari mantan manager di SMP Teikou itu. Sms berikutnya yang dikirim Kuroko adalah pernyataan bahwa ia tidak sempat memotret Aomine dan Kagami yang imut tak terkira itu. Jawaban Momoi datang sekitar 3 menit setelah tombol 'Send' ditekan.
From : Momoi-san
Subject : Kencan!
Aku ada ide, Tetsu-kun! Ayo ke taman hiburan Kiseki Land bersama-sama akhir pekan minggu depan~ Berangkat jam 10 saja! Aku akan berusaha membujuk Dai-chan, dan Tetsu-kun tolong ajak Kagamin ya?
Kuroko mengirimkan pesan berisi persetujuan terhadap usul gadis bermanik merah cherry itu. Tetapi ia tidak buru-buru mengirimkan ajakan terhadap rekan setimnya yang ada di posisi Power Forward itu, ia memilih untuk meninggalkan dulu telepon genggamnya dan mengajak Nigou jalan-jalan sore. Pulang dari jogging bersama Nigou, Kuroko terkejut karena handphone-nya sudah mencetak rekor terbanyak sms yang belum dibaca dan telepon yang tak terjawab : 23 unread messages dan 12 misscall, semua dari orang yang sama. Padahal Kuroko tidak ada dua jam meninggalkan telepon genggamnya.
"Kise-kun..." Kuroko bete membaca semua pesan yang dikirimkan model ceria bersurai kuning terang tersebut. Isi semua pesannya hanya memanggil namanya, dan menanyakan kenapa Kuroko tidak menjawab pesan-pesannya. Subyek pesannya hanya empat huruf dan satu tanda baca : ASAP! As soon as possible, atau meminta si pembaca menjawab pesan pengirim secepatnya. Gampangnya situasi gawat darurat. Kuroko ambil pose Pusing Pala Berbi. Semua itu karena jika Kise yang mengirim, keadaannya belum tentu terlalu gawat. Beda kalau Akashi. Lebih baik dijawab kurang dari semenit atau kepalanya bisa dibotaki habis dengan gunting keramatnya.
Lelah membaca semua pesan Kise, Kuroko memutuskan untuk menelepon copy-cat handal itu.
.
Massugu janai shikousakugo shita bokura no
Juujoumujin ni chikara tsuyou hibi ga koko ni aru
Detarame janai hamidasu gurai no jounetsu de
Hikaru ashiato wo kooto ippai egaite ikou
.
Lagu pada nada sambung terdengar, lagu yang dinyanyikan Kuroko−Kise memaksa ingin merekamnya. Cukup lama juga Kuroko menunggu Kise mengangkat teleponnya.
"Kurokocchi!" Suara khas Kise Ryouta sudah terdengar di ujung telepon. "Kurokocchi kemana saja-ssu! Aku mencemaskanmu, aku merindukanmu, ssu!" protes sang model. Kuroko bisa membayangkan ekspresi Kise sekarang ini. Wajah tampan-cantik khas model Kise pasti sudah dilengkapi dengan sedikit air mata di sudut matanya, dan bibirnya sudah dimanyunkan dengan imutnya.
"Ah, maafkan aku, Kise-kun. Tadi aku mengajak Nigou jalan-jalan," jawab Kuroko datar dan jujur.
"Kurokocchi, hidoi! Kenapa Nigou yang diajak jalan-jalan terus? Aku yang jadi pacarmu ini kapan, ssu!" Kise masih terdengar kesal rupanya.
"Ah, sekalian saja. Minggu depan aku akan pergi ke Kiseki Land dengan Aomine-kun dan Kagami-kun. Ada Momoi-san juga. Kalau Kise-kun mau, Kise-kun bisa ikut," Kuroko menjawab enteng. Semoga saja ini bisa membuatnya lebih tenang−pikir Kuroko.
"Eh? Pergi dengan Aominecchi dan Kagamicchi? Akhirnya mereka jadian dan akan kencan, ssu? Tapi kenapa ada Momoicchi dan Kurokocchi? Kenapa Kurokocchi tidak mengajakku lebih dulu-ssu!" Kise mulai protektif−dan manja−terhadap Kuroko.
Kuroko geleng-geleng kepala. Menghadapi kekasihnya yang kadang sifat clingy-nya kumat–seperti pasien sakit jiwa kurang obat−dan bikin kepala Kuroko pusing tujuh keliling Bundaran HI. "Tidak, mereka belum pacaran. Aku tadinya melakukan ini untuk kejutan bagimu, Kise-kun. Jahat sekali kamu tidak menghargai usahaku."
NICE, KUROKO!
Kalimat Kuroko barusan menancap begitu dalam di hati Kise. Iyakah ia tidak menghargai usaha kekasih surai biru langitnya yang manis cute tak terkira ini? "AAAAA! KUROKOCCHI GOMENASAI! AKU SAYANG PADAMU-SSU!" suara Kise yang memekakkan telinga langsung menembus speaker Kuroko, padahal teleponnya tidak di loudspeaker. Hal ini menyebabkan Kuroko harus menjauhkan telepon genggamnya dari telinga sejarak satu lengan untuk mencegah kerusakan gendang telinganya.
"Kau akan datang kan, Kise-kun?" Kuroko memasang suaranya pada nada ter-moe. Ia tahu Kise pasti akan ikut, dan sudah pasti membatalkan semua jadwal sesi foto hari itu. Sebenarnya ia ingin Kise ikut bukan hanya karena ingin mengajak sang pacar pergi bersama, tapi juga untuk mencegah Momoi terlalu menempel dengannya. Cerdas sekali, Kuroko. Author bangga.
"Pasti, Kurokocchi~~!" suara ceria Kise kembali. "Ah, aku harus melanjutkan sesi foto. Kurokocchi akan kuhubungi lagi, ya? Bye-bee, Kurokocchi!" Telepon ditutup.
'Ah, Kagami-kun.' Kuroko memutuskan untuk menghubungi pemuda bersurai merah-hitam rekannya.
.
Iize enryo naku chikara no sa wo misete yaru
Genjitsu kono ore ni kateru yatsu wa ore dake da
Chotto wa mashi na tokoro misete kureru n daro?
Konnan de oteage ka yo, gakkari daro hanashi ni nan nee
.
Kuroko facepalm. Entah kenapa banyak sekali orang yang menggunakan nada sambung dari lagu orang yang disukainya. Termasuk si pemuda garang beraroma apel feminin ini. Memakai lagu yang dinyanyikan Aomine di kamar mandi−direkam diam-diam, tentunya−dan masih bilang tidak punya perasaan apa-apa pada pemuda dim Power Forward Touou itu.
"Yo, Kuroko. Ada apa?" suara seorang pemuda terdengar di ujung telepon.
"Kagami-kun. Minggu depan ada acara?"
"Aomine belom ngajak one-on-one", Kuroko terbatuk mendengarnya. "Kemungkinan gue nggak ada acara. Oh ya, Kuroko. Kalau lo sakit mending istirahat. Ngapain juga nanyain buat minggu depan?"
"Baiklah, Kagami-kun. Kalau minggu depan tidak ada acara, mungkin bisa menemaniku dan Kise-kun pergi ke Kiseki Land."
"Hah?! Buat apa? Bukannya lo udah ada temen buat pergi? Ngapain ngajak gue juga?"
"Ikut saja," suara Kuroko dimirip-miripkan dengan Akashi. "Taiga, aku absolut. Ketahui posisimu." Kuroko seakan cosplay Akashi.
"I-Iya," suara pemuda di ujung lain telepon agak gemetar, mungkin karena Kuroko sudah punya kemampuan copy-cat kekasihnya, ia jadi mampu meniru suara Akashi dengan baik−cukup untuk membuat Kagami takut.
"Baiklah, Kagami-kun. Itu saja, minggu depan kita akan berangkat pukul 10. Selamat siang," Kuroko mengakhiri dialog telepon itu.
.
"Dai-chan! Kemana saja?" Momoi memanggil pemuda bersurai navy blue itu dengan nama kecilnya. Pertanyaan si gadis sebenarnya tak perlu dijawab karena ia sudah tahu teman masa kecilnya itu dari mana−ngapel, eh, one-on-one dengan rivalnya yang bersurai merah-hitam.
Aomine yang baru pulang−dengan berlari, rasanya ia bisa mati kalau ada orang yang dikenalnya melihat wajahnya memerah di bus mengingat 'keberuntungan'nya hari ini−agak terkejut dengan panggilan dari suara feminin Momoi.
"Mau apa, Satsuki?" tanyanya galak.
"Dai-chan! Jangan galak-galak!" Momoi mencubit pipi Aomine keras-keras. Aomine rasanya sudah risih ingin pergi saja kalau sifat 'mama' ala Momoi kambuh. Bukannya Aomine tidak suka teman masa kecilnya itu menjadi lebih dewasa, melainkan kalau sifat 'mama' Momoi muncul, kesalahan sedikit saja bisa berbuah cubitan membiru di pipi atau lengannya. "Kalau tidak mau jalan-jalan denganku dan Tetsu-kun juga Kagamin minggu depan, bersikap yang baik!" tegur Momoi.
Aomine yang tadinya mengelus-elus pipinya yang mulai sakit, langsung berubah ekspresinya mendengar kata 'Kagamin'. "Jalan-jalan?!" Aomine berubah antusias. "Mau kemana lo sama Tetsu? Ngapain ngajak Kagami juga? Bukannya Tetsu udah pacaran sama Kise? Lo mau dibunuh Kise? Lagian juga Kagami ikut kenapa?" sifat protektif Aomine terhadap Kagami menampakkan diri. Terbukti dari 5 pertanyaan beruntun yang Aomine tanyakan pada Momoi, dua di antaranya menanyakan keikutsertaan Kagami dalam acara coretpiknik keluargacoret itu.
"Memang Kagamin mau ikut kok!" jawab Momoi asal. Sebenarnya ia juga tidak terlalu tahu apa Kagami benar-benar akan ikut atau tidak. "Tanya saja Kagamin sendiri, bukankah kau diam-diam menyimpan nomer ponselnya di ponselmu, Dai-chan?"
Direct hit, Momoi. Aomine langsung membeku di tempatnya. Otaknya sebisa mungkin menahan bibirnya untuk tidak mengatakan 'Tahu dari mana?'.
"Tch," Aomine berdecak kesal pada akhirnya. "Iya, aku ikut!" Aomine memalingkan wajahnya. "Kemana?"
"Kiseki Land. Pukul 10 kita berangkat," Momoi melambaikan tangannya pada Aomine selagi ia berjalan pergi. "Jangan lupa jemput Kagamin kalau mau pergi!" serunya sambil diselingi tawa kecil. Panah imajiner menembus kepala Aomine.
"Iya iya!" Aomine mendesis kesal. Jujur saja, tanpa Momoi ingatkan pun, Aomine sudah pasti akan berdiri di depan pintu apartemen Kagami bahkan dari jam 8 kalau perlu. Atau malah menginap dari hari Jumat.
Tepat sebelum masuk ke kamarnya, tiba-tiba Aomine ingat sesuatu.
'TEME! Kenapa juga gue mau?! Kan gue ketemu Kagami lagi! Gue harus ngomong apa soal c-cium itu?!' Aomine mengerang. Padahal belum ada tiga jam kejadian itu berlalu, dan ia bisa melupakannya begitu saja. Mungkin sebaiknya ia menjemput Kagami minggu depan lebih awal, mengambil lagi baju yang tertinggal sekaligus minta maaf.
Ah, Aomine. Padahal tidak perlu minta maaf juga. Malah seharusnya bukan cuma keningnya yang kamu kecup. Kagami senang-senang saja kok.
Abaikan suara di atas.
.
.
.
Ting tong
Bel pintu apartemen Kagami berbunyi.
"Siapa, Taiga?"
"Ah, paling orang iseng, nggak biasanya Jumat sore gini ada tamu kok."
"Dilihat dulu," pemuda yang duduk di sebelah Kagami menepuk bahunya pelan.
Malas-malasan, Kagami beranjak dari tempat duduknya. Ia berjalan malas ke pintu. "Sebentaaarr!" serunya dari dalam rumah.
Cklek. Pintu terbuka.
"Yo, Kagami!"
"A-AOMINE?!" Pipi Kagami memerah.
"Siapa, Taiga?"
"Cuma sales!" Kagami nyaris membanting pintu apartemennya. Ia tak mau kedatangan tamu tak diundang−Aomine−yang keberadaannya bisa membuatnya blushing terus menerus bak gadis remaja kasmaran. Ah, padahal bagian 'kasmaran'nya benar saja, kalau Kagami mau mengaku.
"Oi! Aku bukan sales!" Aomine tersinggung karena wajahnya yang uhuk-ganteng-uhuk disamakan dengan seorang sales. Aomine tidak tahu saja ia bagi Kagami adalah sales−sales cinta−yang menawarkan diri untuk dipacari. Uhuk. Garing parah.
Tangan Aomine sempat menahan pintu sebelum sepenuhnya menutup.
"Apa sih?" tanya Kagami kesal.
"Ya paling nggak biarin gue masuk, dong! Rumah lo sama rumah gue lumayan jauh, lo tega biarin gue di luar terus?" Aomine melas dengan OOC-nya.
"Ttaku," Kagami membuka lagi pintu corethatinyacoret untuk Aomine. "Masuk," Aomine melangkah masuk.
"Tadaima," katanya, seperti biasa saat masuk ke apartemen Kagami.
"Okaeri," jawab Kagami refleks−tidak sadar sudah menjawab salam Aomine. "Tatsuya! Ada temanku, nggak apa ya?"
DEG!
Bahkan nenek-nenek pun tahu detak jantung keras ini berasal dari siapa. Ah, Aomine lagi-lagi harus memendam kekecewaan karena tidak bisa berduaan dengan Kagami. Kakak beda ibu-beda bapak Kagami, si abang poni alay Himuro Tatsuya, ada di rumah hari ini.
"Ngapain sih ke sini, Aho?"
"Mau bawa lo pulang, eh, mau ambil baju!" Aomine langsung gelagapan begitu separuh kalimatnya mendapat tatapan maut dari si pendekar mata satu abang Kagami ini. Kagami tidak terkejut mendengar separuh kalimat Aomine, karena memang biasanya mereka begitu. Heran kan kenapa mereka tidak sadar perasaan satu sama lain?
"Gitu doang? Kirain mau nginep juga," Kagami berjalan santai ke kamarnya, mengambilkan baju Aomine yang tertinggal di rumahnya. Aomine lega, agaknya Kagami lupa kejadian lain di hari yang sama dengan saat bajunya tertinggal.
"Kalo boleh nginep juga nggak apa deh, gue ngikut aja," Aomine berjalan mengikuti Kagami, tapi segera dicegah Himuro yang menggenggam erat-erat kerah belakang bajunya.
"Aomine-kun, ya? Tunggu di sini saja, gimana?" Lagi-lagi Aomine dihadiahi tatapan maut Himuro.
Takut menentang perintah calon kakak ipar, Aomine memilih duduk tenang di sofa apartemen Kagami.
"Ini, Aomine!" Kagami menaruh kaos putih tanpa lengan Aomine yang sudah terlipat rapi di pangkuan Aomine. "Kalo mau nginep, lo ikut tidur di kamar gue aja yang kasurnya lebih gede, soalnya kamar tamu dipake Tatsuya dan gue nggak punya futon tambahan," usul Kagami dengan polosnya.
"Nggak," aura pembunuh menguar dari tubuh Tatsuya. "Anak dekil ini tidur di sofa saja." Kejam sekali kata-katamu, bang. Sakit hati Taiga dan Daiki mendengarnya−terutama Aomine yang dibilangi dekil.
.
Jadilah. Malam sebelum kencan perdana Aomine dan Kagami, Aomine harus merasakan kejamnya cobaan brother complex Himuro, yang tak henti terus mengeceknya di tengah malam, kalau-kalau ia berani meninggalkan tempatnya di sofa−yang membuat seluruh tubuhnya sakit karena tak bisa meluruskan tubuh−dan menyusup ke kamar Kagami.
.
Sabar, Aomine. Dan Himuro, sadarlah adik kesayanganmu mencintai pemuda dekil ini. Bolehlah Taiga-mu yang manis dilepas dan dititipkan pada Aomine, ya?
.
.
to be continued
.
Ordinary's Note :
Oke! Update level logo PLN karena reviewnya banyaaaaaakkk xD
MAKASIH SEMUA YANG MAU BACA, REVIEW, FAV, DAN FOLLOW! /nangis bahagia /caps nak
Kurang cute? Kurang AoKaga-nya? Kurang KiKuronya? Judulnya gaje? :v
MAAF SEJUTA MAAF! SAYA JANJI CHAPTER DEPAN BAKAL CUTE ABIS DENGAN HINT DAN FLUFFY-NESS BERTEBARAN (juga judul yang lebih jelas)!
Makanya~~~~ Stay tuned! /kedip-kedip genit
Mau jawab review nih sebelum nyudahi bacotan :v
Cik ffureiya : Jangan pingsan dulu, Cik! Mereka masih bakal jadi lebih cute! (Mungkin chapter depan!)
Kyuu : Ada apa dengan bajunya Kagami yang dipinjem Aomine? Warnanya kah? Padahal saya asal ambil loh '-'
CA Moccachino : AoKaga is the best! Terlebih karena ke-dudul-an mereka! Mungkin semalem Aomine mimpi ketiban lucky item-nya Midorima yang bejibun itu? Makanya dia jadi beruntung banget? :v Seriusan ini kocak? AAHH AKU SENENG. Makasih ya!
melmichaelis : Ordin akunnya dua Mel, akun OrdinaryFujoshi ini yang punya Ordin sendiri, dan OrdinaryQ yang akun colab sama Kirigaya Kyuu. Udah apdet halilintar kan? Reviewmu bukan bacotan, aku selalu menunggu review dari kamu dan dari semuanya! /peluk satu satu
suira seans : Request diterima! Ditunggu adegannya di fic ini, ya!
Lazu Hikaru : Ok! Lanjut bacanya, Lazu!
aiailoveyou : JANGAN TEROR SAYA! SUDAH LANJUT, KAPTEN! /hormat
Penikia : Salam apel, Peni! Aomine bakal lebih sering manis-manis sama Kagami, kok! Ditunggu saja yaaahh~~
HakuneAn : There will be more kisses! I promise! Makasih buat reviewnya!
Cukup kicauan saya~ Sekarang saya minta giliran kalian yang berkicau lewat Review ya! Ordin undur diri, ketemu lagi chapter depan! /tebar bunga
