Theory of Happiness

.

A Fanfiction by OrdinaryFujoshi

Kuroko no Basuke by Fujimaki Tadatoshi

Cover Image by megumonster

.

.


Chapter 3 : Kiseki Land, Saksi Bisu Romansa AoKaga


Sebelah mata Aomine terbuka, menampakkan warna biru tua irisnya. Badannya pegal-pegal karena semalam harus tidur di sofa kalau masih mau tubuhnya utuh, tidak tercabik ganasnya abang dari si harimau unyu-unyu−Himuro Tatsuya. Untungnya pagi ini seluruh bagian tubuhnya masih utuh, bahkan ia sampai mengecek bagian yang tertutup baju dan celananya. Semalam Aomine mimpi yang membangunkannya pagi ini adalah bintang seksi favoritnya−Mai-chan−tapi pagi ini yang kejadian lebih baik lagi. Bukankah Sabtu pagi ini akan menjadi hari yang baik bagi Aomine, jika pagi-pagi saja yang pertama kali dilihatnya adalah sosok malaikat yang manis bukan kepalang?

"Ah, Aomine. Lo udah bangun?" Kagami menyapa. Terlihat tangannya memegang selimut warna biru tua, mungkin sebenarnya ia hendak menyelimuti Aomine yang tampaknya masih ingin melanjutkan mimpinya. "Hari ini jadi pergi, kan?"

"Pagi, Kagami," Aomine menjawab sapaan Kagami dengan dua kata. Suaranya masih suara serak dan berat sekali, nada bicaranya masih terdengar malas, rambutnya model bedhead, iler di ujung mulutnya belum dilap, iler yang menetes di bantalnya masih belum kering, bentuknya mirip Pulau Jawa−menandakan ia benar-benar baru bangun. Kagami yang melihatnya sebenarnya ingin fanboying (?) sendiri, jarang-jarang ia bisa melihat Aomine versi tergantengnya−baru bangun.

"Cium selamat pagi gue ma—" kata-kata Aomine terputus karena merasakan hawa pembunuh di belakang Kagami−yang muncul dari abang pendekar mata satu. "Pagi... Himuro-nii...?"

Sapaan (sok) ramah Aomine yang diharapkan dapat meluluhkan hati sang abang dari harimau unyu hanya direspon dengan senyum sinis dari Himuro.

"Tatsuya!" Kagami menoleh ke belakang, heran. Sejak kapan kakaknya juga punya kemampuan muncul tiba-tiba seperti Kuroko?

"Taiga," panggil si abang dengan nada sayang. "Mau pergi kemana dengan bocah dakian ini~? Abang ikut, ya~?"

Aomine langsung komat-kamit satu isi kitab suci. Berdoa semoga saja jawaban Kagami berikutnya cukup pandai untuk membuat abangnya tercinta berhenti mengikuti mereka atau paling tidak berhenti mencoba membahayakan nyawa Aomine.

"Ah, cuma mau ke Kiseki Land, bareng Kuroko juga, kok, Tatsuya. Nggak perlu terlalu cemas," Kagami tersenyum manis sekali.

"I-Iya! Sama Satsuki juga!" Aomine menambahkan, berharap nyawanya bisa lebih terselamatkan dengan lebih banyak orang yang ikut dalam jalan-jalan mereka hari itu, sehingga Himuro tak perlu mengawasi demi memastikan adik tercintanya pulang dengan keadaan masih perjaka.

"Berempat?" tanya Himuro. Aomine mengangguk kuat-kuat sampai rasanya sebagian isi kepalanya ada yang terkocok keluar. Kagami mengangguk sedikit ragu, tapi senyuman di bibirnya tetap tidak hilang. Himuro akhirnya mau tak mau percaya juga pada adik dan calon adik ipar yang masih belum dikonfirmasi itu. "Jangan pulang malam ya, Taiga," sebagai kakak yang baik, Himuro mengingatkan. "Aku harus pergi sekarang. Jaga dirimu dari tangan dan tampang mesum bocah dekil itu, ya," Himuro menatap Aomine sinis untuk yang terakhir sebelum melangkah keluar pintu apartemen Kagami.

"Aomine..?"

"Ya, Kagami?"

"Maaf ya, Tatsuya emang selalu gitu."

Entah kenapa Aomine merasa ada yang membuat hatinya terasa tergelitik setelah mendengar kalimat Kagami. Ia terkekeh gugup.

"Kalo dia mau kenalan sama kamu, dan tau kamu orang baik... Pasti dia nggak bakal gini reaksinya," Kagami meneruskan kalimatnya dengan wajah yang polos tingkat dewa.

"K-Kagami..." Aomine memegang kedua bahu Kagami. Diterjangnya sang uke maji tenshi sampai tubuhnya terbaring di lantai apartemen Kagami yang beralas karpet coklat muda.

"Ahomine! Ngapain sih lo?! Lo berat, tau! Aomine! Oi!"

Cklek

"Taiga, maaf, aku lupa—"

"T-TATSUYA—?" "HI-HIMURO-NII..."

.

.

"K-Kuroko... Momoi... Maaf.. Ada.. Tambahan 2 orang... Tidak apa kan? Ahaha," Kagami tertawa kikuk.

"Momoi-san dan Kuroko-kun, ya?" Himuro melambaikan tangannya santai.

"Muro-chin... Aku pikir kau akan mengajakku ke tempat lain..." si titan ungu memandang kekasihnya bete.

"Atsushi, di sini juga katanya dijual maibou rasa baru yang belum banyak dijual... Makanya aku juga mau mengajakmu ke sini," Himuro menggenggam tangan Murasakibara dengan tenang.

Aomine iri melihatnya. Rasanya ingin ia melampiaskan semua kekesalannya pada calon kakak ipar, tapi sepertinya itu akan menjadi pilihan terbaik untuk menghancurkan hubungannya dengan Kagami mengingat Kagami sangat sayang pada abangnya.

"Kurokocchi! Maaf aku telat-ssu!" dari kejauhan terlihat seseorang bersurai kuning yang melambai-lambaikan tangannya pada keenam orang lain yang berdiri di gerbang Kiseki Land sambil terus berlari ke arah mereka. "Eh? Murasakibaracchi? Dan Himuro Tatsuya-kun, ya?"

"Ngapain nih model pirang alay ikut?!" Aomine yang terkenal cukup sebal dengan suara Kise yang cempreng dan mengganggu−menurut Aomine−mengeluh.

"Kise-kun, sebaiknya tidak berteriak-teriak tadi," Kuroko memperingatkan Kise dengan nada lembut. "Aomine-kun..." Kuroko men-death glare Aomine.

"Gomen, gomenna, Tetsu. Bercanda, bercanda!"

Momoi girang bukan kepalang. Enam orang, tiga pasang pemain basket dengan pasangannya masing-masing, satu hari di Kiseki Land. Hari ini akan menjadi hari terbaik sepanjang hidup seorang Momoi Satsuki. Untung saja kamera beresolusi tinggi sudah ada di dalam tas tangannya, bisa kapan saja memotret pasangan pebasket humu di depannya. Modus Momoi diselimuti dengan alibi menyatukan Aomine dan Kagami berdasarkan data yang telah dikumpulkannya. Momoi yakin betul takkan ada satupun rencananya hari ini yang gagal, bahkan dengan penjagaan ketat Himuro pada Kagami. Dalam hitungan jam, OTP-ku akan jadi official−pikir Momoi.

"Kalau begitu, ayo masuk, ssu!" Kise−yang entah bagaimana sudah memegang tiket masuk Kiseki Land, meninju udara di atas kepalanya dengan bersemangat, mengajak keenam orang yang lain masuk.

.

.

"Mau main apa, nih?"

"Itu, Kurokocchi! Yang itu!" tunjuk Kise pada permainan arung jeram.

"Aku ingin main yang biasa saja, Kise-kun."

"Aku lapar, Muro-chin..."

"Makan pocky-ku saja, Atsushi. Ada di dalam tas."

"Sugee... Tempat ini gede banget!"

"So... This is Japanese Amusement Park? Awesome!"

Ketujuh orang dengan warna rambut berbeda-beda itu mulai berjalan mengitari Kiseki Land, sekali-sekali berhenti untuk minum atau berdiskusi akan main apa.

"Nee! Itu, itu!" tunjuk Kise pada sebuah wahana−roller coaster.

"Baiklah," Kuroko menganggukkan kepalanya.

"Eeehh?! Kuroko? Lo nggak takut?" Kagami kelihatan terkejut.

"Muro-chin, ayo naik..." Murasakibara kelihatan sedikit bersemangat karena Himuro sudah diseretnya menuju antrian roller coaster.

"Murasakibara! T-Tatsuya!" seru Kagami.

"Ayo!" Momoi sudah berjalan cepat mengejar keempat pemuda yang mengantri di wahana yang memacu adrenalin tersebut. Antriannya tidak terlalu ramai, untungnya.

"Yosh!" Aomine juga mengambil ancang-ancang untuk mengejar yang lain. "Eh? Kagami?" Aomine menoleh, dan mendapati Kagami masih mematung di tempatnya. "Kagami~ Lo takut?" ledeknya. "Ah, lo mah! Gini doang mah kecil, kan? Ayo buru!" diseretnya Kagami yang masih berusaha memberontak, menolak untuk naik roller coaster yang tinggi puncaknya bahkan mencapai lebih dari 50 meter tersebut.

.

"Kurokocchi! Sini, sini!" Kise menepuk-nepuk bangku di sebelahnya. Kuroko mengangguk, lalu menempati tempat di sebelah Kise.

"Maaf... Tempat ini kosong?" Momoi bertanya sopan pada seorang gadis yang duduk di bangku tepat di belakang Kise dan Kuroko. Setelah mendapat persetujuan, Momoi mengambil tempat tepat di belakang Kuroko.

"Nee, Kurokocchi! Kalau takut pegang tanganku yang erat ya, ssu!" Kise masih berkicau dengan girangnya. Momoi sebenarnya agak cemburu karena ia masih menaruh rasa pada Kuroko, tapi karena imutnya Kise dan Kuroko, ia melupakan perasaannya pada Kuroko−fangirling lebih menyenangkan baginya ketimbang terus memikirkan Kuroko.

"Taiga, di sini saja," Himuro duduk di kursi yang terletak dua baris di depan Kise dan Kuroko. "Atsushi dan kamu, bocah dekil, di depan kami saja," Himuro tersenyum penuh arti.

"T-Ta—"

"Muro-chin, aku mau duduk denganmu saja, aku tidak mau duduk di sebelah Mine-chin..." Beruntung benar Aomine dan Kagami karena kekasih Himuro sifatnya kadang kekanakan dan manja. Himuro sendiri jadi tidak tega.

"Ya sudah, ya sudah..." Himuro dengan insting ke-abang-annya (?) mengalah. "Taiga, hati-hati, ya," Himuro mengingatkan. Masih tidak rela, rupanya. Biarkanlah adikmu dekat dengan calon pacarnya, Bang Himu. Sekali saja.

Senyum langsung mengembang di wajah Aomine. 'Akhirnyaa! Arigatou, Himuro-nii!' batin Aomine meneteskan air mata bahagia.

"Kagami, Kagami!" panggil Aomine yang langsung melesat ke bangku paling depan. "Di sini saja!" serunya.

Masih gemetar, Kagami melangkahkan kakinya dengan malas menuju tempat terdepan.

"Lo masih takut? Ada gue kookk! Tenang aja... Kalo lo takut pegang tangan gue yang kenceng, jangan dilepas, ya!" Aomine... Meng-copy Kise rupanya.

Rupa-rupanya beda efeknya. Kalo Kise yang bilang, reaksi dari Kuroko adalah pipi Kuroko bersemu merah dan ia memberikan anggukan kecil, lalu tangan Kuroko akan diselipkan diantara jemari Kise. Tapi kalau Aomine yang bilang, terlebih dengan ekspresi pede yang overdosis dan tak lupa wajahnya yang selalu terlihat mesum.. Hadiahnya adalah jitakan dan makian keras dari Kagami. Tapi Aomine rapopo kok. Semua itu bentuk sayang Kagami−katanya. Padahal Aomine sendiri tak yakin si harimau maji tenshi itu benar-benar menaruh rasa padanya atau tidak.

.

.

.

"HOEEEKKK!"

Ada seseorang yang muntah rupanya. Mungkin karena tak kuat, terlalu pusing naik roller coaster yang kecepatannya lebih dari 80 km/jam itu.

"Aomine?!"

.

Aomine kehilangan citra kerennya di depan sang crush, Saudara-saudara.

.

"Aominecchi tidak apa-apa-ssu?"

"Nggak apa-apa gundulmu itu, Kise... HOEEEKK!"

"Aomine-kun, kenapa memaksakan diri ikut tadi.."

"Dai-chan!"

"Mine-chin payah..."

"Tch, karma karena hampir memperkaos adikku pagi ini."

"Aomine... Minum dulu.." sebuah botol berisi air mineral disodorkan.

"Arigatou na, Kagami..."

Kagami menepuk-nepuk punggung Aomine, sesekali memijat tengkuk pemuda dim itu perlahan. Ah, perhatian sekali. Momoi dengan sigap langsung mengambil sebuah foto dengan kameranya. Tak lupa ia mematikan flash kameranya.

Setelah insiden (?) itu, mereka bertujuh memutuskan tidak akan lagi main di wahana yang memacu adrenalin. Bisa-bisa kalau mereka tetap nekat, Aomine tidak hanya muntah, tapi bisa jadi ia akan pingsan. Tapi kalau pingsan mungkin akan jadi berkah untuk Aomine, karena Kagami akan mencemaskannya−harapan Aomine sih begitu−lalu mungkin Kagami akan merelakan first kiss-nya sebagai CPR untuk Aomine−ini harapan dan fantasi Aomine juga.

"Lebih baik main permainan biasa dulu saja, minna-san," usul Kuroko.

"Kurokocchi hidoi! Aku kan ingin main yang seru-seru, ssu!"

Kuroko tidak merespon.

"Makan dulu saja, aku lapar..." entah kali keberapa Murasakibara mengusap-usap perutnya.

"Ah, setuju. Sudah jam 12," hanya dalam soal makanan Kagami bisa satu pikiran dengan Murasakibara.

"Gue masih mual..." wajah si pemuda gosong masih pucat.

"Aku mau beli es krim saja."

"Ah, Momoi! Aku juga mau, soft ice cream yang paling besar ya! Aku mau pesan cheeseburger dulu!" Para pembaca pasti tahu dialog siapa ini.

"Kise-kun, tolong pesankan aku Vanilla Shake saja, aku tidak begitu lapar.."

.

"Muro-chin, adikmu tumben makan sedikit..." tunjuk Murasakibara pada Kagami.

"Sedikit apanya? Sepuluh itu nggak sedikit, Murasakibara!" Aomine menatap wajah Kagami yang sedang makan−pipinya menggelembung dua kali dari ukuran biasa−sambil geleng-geleng kepala.

"Dibilang sedikit pun porsi makan Kagamicchi tetap banyak, ssu..."

Kuroko menyeruput Vanilla Shake-nya dengan tenang.

Bahkan sebelum Momoi kembali, 10 cheeseburger yang dipesan Kagami sudah ludes. Murasakibara masih makan dengan tenang−sambil sesekali minta disuapi Himuro. Kise masih flirting dengan Kuroko yang masih minum Vanila Shake-nya dengan tanpa ekspresi. Sayang sekali tangan Momoi penuh, ia tidak bisa memotret 'homoments' tiga pasang pemuda di hadapannya ini.

"Kagamin!" panggil si gadis.

Pemuda bersurai merah-hitam dan pemuda bersurai navy blue yang semeja dengannya menoleh bersamaan.

"Es krim pesananmu?" Momoi menyerahkan soft ice cream vanilla itu pada Kagami. "Ki-chan! Popsicle-mu!" Momoi melempar sebungkus popsicle jatah dua orang pada Kise, yang ditangkap dengan baik oleh Kise.

"Kurokocchi~~" Kise membuka bungkus popsicle warna biru muda itu, mematahkan popsicle menjadi dua, lalu memberikan sepotong pada pemuda bersurai biru muda di depannya. Kise menawarkan popsicle di tangannya untuk Kuroko, dan Kuroko melakukan hal yang sama. Singkatnya, mereka berdua suap-suapan popsicle. Momoi tak ketinggalan momen untuk memotret KiKuro diam-diam. Murasakibara dan Himuro yang tidak makan es krim malah bermain pocky game. Memori kamera Momoi langsung berkurang untuk sekitar lima foto MuraHimu.

Kagami, seperti biasa, begitu bertemu makanan, pasti langsung ludes. Begitu pula dengan soft ice cream vanilla di tangannya, yang jadi mangsa kurang dari dua menit yang lalu. Sudah berkurang hampir tiga perempatnya, bahkan Aomine yang ingin minta tidak dibagi. Terlalu enak, ya, Kagami? Jadi nggak rela bagi-bagi? /jangan iklan woy

"Kagami," Aomine menggerak-gerakkan telunjuk di depan bibirnya. Mengisyaratkan Kagami kalau makannya berantakan, krim warna putih menyelimuti bibir atasnya.

'EEHHH APA INI? APA ITU ISYARAT UNTUK MINTA CIUM?!' Kagami panik sendiri dalam hatinya. "A-Ano... Aomine... Ada Tatsuya.. J-Jang—"

"Makannya jangan berantakan dong," Aomine mengusapkan tissue ke wajah Kagami yang belepotan es krim.

Cieee Kagami. Ngarep yaaaa~~

Itu suara hati Author tolong diabaikan saja.

.

.

"Ayo lanjutkan bermain, ssu!"

"Kise-kun, tolong jangan tarik-tarik aku begini." Kuroko berusaha melepaskan diri dari Kise yang terus menerus menggenggam pergelangan tangannya kuat-kuat.

"Di depan ada apa itu? Rumah hantu, ya?"

"Muro-chin, ayo ke sana.."

"Dai-chan? Kagamin?" Momoi menengok ke belakang, memastikan kedua basuke-baka itu baik-baik saja.

"Aah.. Aku lupa. Taiga, kau takut hantu, kan?" Himuro memang kakak yang perhatian. Saking perhatiannya, aib adiknya yang biasanya selalu terlihat keren di depan teman-temannya tak sengaja disebut.

"A-Aku nggak takut kok!"

"Kagamin kalau takut menunggu di luar saja... Dai-chan juga takut hantu, kok. Iya kan, Dai-chan?"

"A-Aku nggak takut, Satsuki! Jangan ngarang!" sangkal Aomine. "Aku masuk, kok! Ayo buruan!" Tanpa sadar Aomine menggenggam tangan Kagami lalu menyeretnya masuk ke rumah hantu.

"A-o-mi-ne-kun..." Aura pembunuh Himuro lagi-lagi muncul.

"T-Tidak apa-apa, Himuro-kun... Dai-chan tidak seburuk itu, kok..." Momoi tetap membela ship-nya.

"Ya, kecuali Aominecchi suka koleksi majalah mesum, ssu!"

"Dan kadang-kadang nggak sopan Mine-chin itu.."

"Tapi Aomine-kun sebenarnya baik, Himuro-san. Percayakan saja Kagami-kun padanya."

Ucapan keempat orang yang masih berada di luar bersamanya rupanya cukup mengetuk hati si abang poni lempar. Ah, bang. Dengarkan saja lah. Aomine itu baik dan keren juga ganteng kok! Yah, ia cuma dekil, gosong, malas, mesum, bodoh, sombong, dan egois sih... Err.. Itu nggak 'cuma' juga kali ya. Pokoknya, Himuro, bolehlah Taiga-mu yang unyu-unyu itu untuk Aomine!

.

Sementara itu, di dalam rumah hantu...

"Oi! Aomine! Ngapain sih narik-narik gue?!" Kagami masih berusaha melepaskan diri. "Mana kuat banget lagi! Sakit tauk!

"Katanya lo nggak takut?" tanya Aomine. Suaranya sudah agak gemetar.

"Gue takut, bego!"

"Anjir! Sama dong!"

"Aomineeee! Napa sih lo bego banget?!"

"Lo juga bego! Ngapain tadi bilang nggak takut kalo lo ternyata takut?!"

"Ahooo! Isi kepala lo ketinggalan di rumah?!"

"Jangan salahin gue dong, Bakagami!"

"HUWAAAA!" salah seorang yang menggunakan kostum dari kain kafan putih yang diikat-ikat tiba-tiba melompat di depan kedua lelaki bertubuh besar tersebut.

"AAAAAA!" Keduanya berteriak spontan. Setelahnya, Aomine langsung lari ketakutan.

"AOMINEEEE! BANCI LOO! GUE JANGAN DITINGGAL WOOYYY!" Kagami ikut lari tunggang-langgang. Semoga saja Aomine yang langkahnya lebar-lebar itu masih terkejar.

"KAGAMIIII!" Aomine balik lagi dan bertemu dengan Kagami tak lama setelah Kagami lari.

"Lo kenapa?!"

"I-itu..."

Ada setan-setanan lagi. Kali ini lebih parah, sepertinya. Sesosok pria yang wajahnya tertutup topeng berwarna putih, dengan ornamen-ornamen cipratan darah di baju dan topengnya. Tak lupa sebuah gergaji mesin di tangannya.

"I-itu... Asli?!"

"KAGAMI LO JANGAN BIKIN GUE TAMBAH TAKUT!"

"Mending cabut! Aomi—"

"ANJIR LO PADAAAA! JANGAN KEJAR GUEEE!" Aomine ternyata sudah di depan lagi, sedang menghentak-hentakkan kakinya dari pelukan erat sosok yang berpakaian suster tapi ngesot-ngesot di lantai.

Ah, citra keren Aomine pokoknya langsung berkurang skornya menjadi minus seratus dua puluh tiga seharian ini.

.

.

"HUUUUAAAAAAAA!"

Terdengar pekik melengking yang agak berat suaranya (gimana sih?!) dari dalam rumah hantu. Kedengarannya sih suara itu mendekat.

"Pasti suara Taiga," tebak Himuro. "Dia kan penakut banget. Masa main game The Crooked M*an aja teriaknya kenceng banget sampai tetangga satu lorong komplain semua."

"Yakin, Muro-chin/Himurocchi/Himuro-kun?" Tunjuk keempat orang yang akhirnya tidak masuk ke rumah hantu itu pada sosok dekil yang baru saja keluar dari rumah hantu.

Rahang bawah Himuro jatuh ke tanah begitu saja. Ia langsung lari menerjang sosok berkulit dekil yang masih pucat wajahnya itu−Aomine−sampai mereka berdua jatuh ke tanah. Wajah Aomine yang pucat tambah pucat begitu matanya yang tadinya membentuk huruf X (?) menangkap gambar orang yang ada di depannya. "H-Halo, Himuro-nii..."

"Taiga mana?!" Himuro balik galak lagi pada Aomine. "Taiga kok kamu tinggal begitu saja?! Nggak jantan kamu! Kamu masih berani bilang kamu laki-laki?!" Himuro kalap. Bagaimana kalau adiknya yang paling unyu-unyu, yang paling tembem, paling maji tenshi dan paling ia sayang pingsan ketakutan di dalam sana?

"Tatsuya!" sebuah suara menahan Himuro yang sudah siap saja untuk menghajar Aomine habis-habisan.

"Taiga kamu baik-baik saja?"

"Kagami-kun hebat, tidak seperti Aomine-kun."

"Lo nyindir, Kuroko?!"

"Iya, ssu. Kagamicchi santai sekali, tidak seperti Aominecchi!"

"Diem lo, pirang alay!"

"Mine-chin ternyata memang payah.."

"Kenapa sih nggak ada yang belain gue?!"

.

Emang nggak bakal ada, Aomine. Disini kan kamu lagi nista-nistanya. Ah, jangan cegat Author buat minta tambahan duit setelah selesai syuting, ya. Acting kamu masih kurang ketimbang Himuro.

Author cuma ekting jadi sutradara, kok.

.

Kembali ke Kagami yang masih di peluk-peluk abangnya yang khawatir setengah hidup sama dia, dan kepala warna-warni lain yang masih dengan santainya meledek Aomine yang tampang preman tapi ternyata penakut sekali

"T-Tatsuya.. Aku nggak apa-apa, kok.. Tenang aja.. Yang di dalem kan... Nggak asli, kan?" Kagami akhirnya sukses melepaskan diri dari pelukan abangnya. Karena 'bantuan' dari Murasakibara juga, sebenarnya. "Aomine?" Kagami mengulurkan tangan pada pemuda dim yang masih terduduk di tanah karena tadi ditubruk oleh Himuro.

Aomine menyambut tangan itu dengan bahagia. Digenggamnya tangan yang berkulit lebih terang dari kulitnya itu, lalu ia berdiri di atas kakinya sendiri. Berdikari (?)

"Jaa.. Mau main apa lagi?"

"Satu lagi saja, ssu! Aku jam 4 sore ini ada pemotretan!"

"Di Yosen juga ada latihan basket hari ini, kan, Atsushi?"

"Satu lagi aja, ya.." Aomine dan Kagami meletakkan tangan di dagu masing-masing, mencoba berpikir.

"Aku tahu!" seru Momoi bersemangat. "Ferris in wheel!" tunjuknya pada roda raksasa yang terlihat dari segala penjuru Kiseki Land saking besarnya. "Ayo mengantri sekarang! Semoga saja antriannya tidak panjang!" Momoi melangkahkan kakinya meninggalkan enam pemuda lainnya.

Sebenarnya ada alasannya Momoi memilih kincir ria raksasa itu untuk dijadikan destinasi terakhir mereka. Siapa yang tidak pernah dengar tentang mitos jika pasangan berciuman ketika cart-cart kecil yang mereka naiki mencapai puncak kincir ria, maka cintanya akan abadi−atau semacamnya−itu? Yah, mungkin para gadis sering mendengar dan membicarakannya. Tapi bisa jadi pemuda-pemuda itu tidak. Jadi pada dasarnya, Momoi ingin pasangan-pasangan pemain basket humu itu naik bersama pasangan mereka masing-masing, lalu sempat ber-'anu' ria di puncak kincir ria. 'Anu' yang dimaksud di sini adalah ciuman. Catat itu, Aomine.

.

"Aku tidak mau naik, Muro-chin.. Pendek dan kecil sekali cart-nya."

"Aku naik di sini, ya!" Momoi naik lebih dulu ke cart pertama yang kosong.

"Sendiri, Momoi-san? Aku ikut saja, toh Atsushi tidak mau."

"Boleh saja, Himuro-kun!"

"Taiga, ayo—"

"Maaf, tapi cuma dua orang yang bisa masuk dalam satu cart," ujar petugas yang mengatur orang yang akan menaiki wahana ferris in wheel itu dengan sopan.

Segera Himuro berusaha melangkahkan kakinya keluar dari cart itu, ia ingin bertukar tempat dengan Aomine. Tapi tangannya ditahan dengan lembut oleh gadis yang sudah lebih dulu duduk.

"Percaya saja, Himuro-kun," kata-kata Momoi berusaha menenangkan Himuro. Mau tak mau Himuro pasrah saja. Toh apa yang bisa diperbuat Aomine pada Kagami? Tak mungkin dalam waktu singkat ia sempat melakukan apa-apa pada Kagami. Yah, itu sih yang ada di pikiran Himuro.

"Kurokocchi! Ayo!" Kise sudah menggandeng Kuroko masuk ke cart berikutnya.

"Nah... Kagami?" Aomine menawarkan tangan kanannya untuk digandeng Kagami. Kagami mengangguk kecil, pipinya merona kemerahan.

Keduanya melangkah masuk ke cart bercat merah dan biru tua.

"Sempit, ya?"

"Duduk sebelah gue aja, Kagami."

"Bego! Tambah sempit lah!"

"Nggak apa-apa kali... Sempit enak kok," kata-kata Aomine yang ini ambigay sekali. Entah apa yang ada di pikirannya. Semoga bukan fantasi kotor yang bisa membuat kincir ria ini runtuh seketika karena amukan Himuro.

Kagami tetap tidak mau. Ia duduk di kursi seberang Aomine. Kincir ria raksasa itu mulai berputar pelan. Keadaan di dalam cart merah-biru itu awkward sekali. Tidak satupun dari pemuda yang ada di dalamnya bertukar kata. Kagami asyik memandangi sepatu Air Jordan No. 1 Classic merah-hitamnya seakan sepatunya adalan benda paling bagus di dunia, Aomine memandang ke luar jendela yang tertutup rapat itu. Angin sepoi-sepoi sore hari bertiup masuk melalui ventilasi udara di bagian atap cart. Keduanya masih tenggelam dalam diam sampai cart sudah setengah perjalanan menuju puncak.

"Kagami," panggil Aomine.

"Ya?"

"Lo seneng hari ini?"

"Gue seneng, kok," senyum tulus terkembang di wajah Kagami. Membuat Aomine rasanya ingin melonjak bahagia saat itu juga kalau saja ia tidak tergantung di ketinggian lebih dari 25 meter di atas tanah.

"J-Jaa," Aomine memulai. "Lo p-pernah denger tentang... Ferris in wheel.. Puncak.. Ciuman?" Aomine tak mampu menyusun kata-kata yang lebih baik untuk menggambarkan maksud hatinya.

"Maksudnya?" Kagami tak paham.

"K-Kalo c-cium.. Di puncak ferris in wheel... Lo yakin nggak pernah denger?"

Wajah Kagami memerah bahkan sampai ke daun telinganya. "M-Maksud lo apa?"

Dalam dua detik, cart yang dinaiki Aomine dan Kagami akan sampai di puncak ferris in wheel. Lebih baik Aomine segera melakukan sesuatu atau kesempatan emas akan lenyap begitu saja di depan matanya.

"Kagami..."

"Ao...mine?"

"Gue.. cinta sama lo."

Tepat sesudah pengakuan cinta singkat yang tidak terdengar ragu-ragu itu, sebuah kecupan hangat bibir Aomine menyentuh bibir kemerahan Kagami. First kiss yang agak canggung, tapi tetap begitu berarti untuk kedua sejoli itu. Beberapa detik kemudian, kecupan singkat selama di puncak ferris in wheel diputus.

"M-Maaf," Aomine-lah yang menarik diri dari kecupan itu.

Kagami masih membeku.

"K-Kalo lo nggak suka sama gue... Juga nggak apa-apa. Maaf ya udah main nyosor gitu aja," Aomine menyembunyikan wajahnya dari pandangan Kagami.

"Aomine..." panggil Kagami lemah.

Aomine menoleh, manik shappire bertemu manik crimson.

"Gue nggak bilang gue nggak suka itu, kan.." Kecupan yang tadinya diputus Aomine dilanjutkan oleh Kagami. Beberapa saat sebelum kincir ria berhenti di bawah, kecupan lembut penuh perasaan pasangan yang baru saja mengkonfirmasi perasaan satu sama lain diputus.

.

.

.

"Momoi-san, kau lihat ekspresi Kagami-kun setelah turun dari ferris in wheel tadi?" tanya Kuroko di kereta sepanjang jalan pulang.

"Aku melihatnya, ssu!"

"Kagamin terlihat bahagia, kan? Iya kan?"

"Benar. Apalagi ditambah keduanya tidak melepaskan tangan satu sama lain sesudahnya."

"Aku agak cemas dengan Aominecchi, ssu.. Apa Himurocchi masih akan marah padanya?"

"Ah, yang itu tidak perlu dicemaskan!" Momoi mengedipkan sebelah matanya pada Kise dan Kuroko.

.

.

"Taiga, kenapa bocah dekil ini tidak pulang? Bukankah rumahnya searah dengan Momoi-san?"

"Muro-chin... Sudahlah..." Murasakibara menepuk bahu Himuro.

"Tatsuya..."

Aomine melepaskan tangannya dari genggaman Kagami. Ia berlari kecil ke depan Himuro, lalu ia membungkuk dalam-dalam di depan Himuro.

"Himuro-nii!" Aomine berseru. "Percayakan Taiga padaku, percayalah, Himuro-nii! Aku tidak akan menyakiti perasaannya, aku akan menjaganya seperti Himuro-nii menjaganya! Satu kesempatan dari Himuro-nii, akan kugunakan sebaik-baiknya untuk membuat Taiga bahagia!"

Tiga pemuda yang berdiri di hadapan Aomine terkejut bukan kepalang, bahkan Murasakibara. Tidak pernah satupun dari mereka melihat Aomine sampai seperti ini. Sebuah permintaan yang tulus−dan sopan−dari bibir Aomine.

"Pfft—Hahahaha!" Himuro tak mampu menahan tawanya. "Ahaha... Aomine, Aomine! Tidak perlu sampai seperti ini! Tentu saja aku percaya padamu!" Himuro menepuk bahu Aomine. "Aku percayakan Taiga padamu, ya!" senyum tulus tergambar di wajah Himuro. "Tapi sekali saja kamu apa-apakan dia..." senyum Himuro berubah menjadi aura pembunuh sekali lagi.

"A-Aku janji, Himuro-nii!"

"Baiklah! Aku dan Atsushi harus kembali ke Yosen. Kalian berdua, hati-hati, ya! Dan selamat untuk kalian!" Himuro melambaikan tangannya pergi. "Dan Aomine, panggil aku Tatsuya saja!"

.

.

Nah, Aomine, Kagami? Akhirnya dapat izin dari Himuro juga, ya? Selamat untuk kalian!

.

.

to be continued

.


Ordinary's Note :

HAI HAI!

Update kali ini adalah rekorku update! Kurang dari 30 jam! Ini karena aku nggak puas sama chapter sebelumnya yang kurang asupan. SANGAT kurang asupan. Tapi kali ini asupannya lebih banyaaaaaakkk xD

Masih kurang asupan kah? :v Masih ada chapter-chapter berikutnya... Ditunggu saja~~

Beberapa penjelasan untuk bagian-bagian terakhir :

Momoi bilang "Yang itu tidak perlu dicemaskan" karena dia udah gelar KMB singkat sama Himuro selama di ferris in wheel. Momoi berperan sangat besar untuk membuat kapalnya berlayar secara official. Jujur, ini harapan saya untuk diri sendiri, biar kapal-kapal saya makin terasa nyata dan official HUAHAHAHAHA

Chapter ini adalah jawaban semua insan yang nggak puas dengan chapter sebelumnya. Ordin harap kalian semua puas kali ini.

.

Ketemu chapter depan! Jangan lupa Review-nya untuk update kilat lagi yaaa~~

Salam fujo dan Salam ganteng!

OrdinaryFujoshi

.

P.S. : Cik ffureiya, nggak nyampe 4k sih... Tapi ini chapter paling panjang yang pernah aku tulis. Tolong dianggap masuk hitungan :v /lalu saya ditimpuk