Theory of Happiness
.
A Fanfiction by OrdinaryFujoshi
Kuroko no Basuke by Fujimaki Tadatoshi
Cover Image by megumonster
.
.
Chapter 4 : Idiot Boyfriends
"Kagami."
Yang dipanggil tidak menjawab. Pemuda bersurai merah-hitam itu malah membenamkan kepala merahnya ke bantal dan terus tidur, ia mengabaikan suara bariton yang berusaha membangunkannya.
"Oi, Kagami! Bangun!" kali ini suara itu berusaha membangunkannya lebih keras. Tubuh Kagami yang masih terlelap juga mulai diguncang-guncang. Tetap tidak ada reaksi dari pemuda Ace Seirin itu.
"KAGAMI TAIGA!" kali ini suara itu terdengar sangat keras. Rupanya orang yang berusaha membangunkan Kagami berteriak persis di sebelah telinga kanannya.
Kedua mata Kagami langsung terbuka−terkejut. Manik crimson yang tadinya bersembunyi di balik kelopak matanya terlihat. Kagami langsung duduk di kasur yang dipakainya tidur, gerakan tiba-tiba ini membuat kepalanya terasa pening. "Apaan sih lo, Aomine?!" Kagami mendengus kesal. Sebelah tangannya masih mengacak rambutnya yang berantakan sekaligus memijat perlahan pelipisnya yang masih berkedut, Kagami menguap. "Bangunin gue juga nggak harus teriak di sebelah telinga, kan?!"
"Ya habis lo nggak bangun sih, gue pikir lo udah ilang," jawab Aomine santai sambil mengubah posisi tubuhnya−agak berbaring di atas dada bidang Kagami.
"Aomine, you fucker!"
Aomine menyandarkan tubuh bagian atasnya lebih dekat dengan kulit Kagami, mendekatkan wajahnya yang berkulit dim dengan kulit putih wajah Kagami. Bibirnya ditempelkan perlahan ke bibir kemerahan Kagami, memberikan pemuda yang baru saja bangun itu sebuah morning kiss−yang diharap Aomine bisa meredam emosi Kagami. "Pagi, Kagami," sapa Aomine dengan senyum terkembang di wajahnya, lengan Aomine yang kekar dan panjang memeluk tubuh Kagami.
"Pagi, Aomine," Kagami membalas senyum kekasihnya. "Jarang banget lo bisa bangun lebih pagi dari gue."
"Gue laper."
"Ah, ketebak."
Aomine masih bergeming di tempatnya, lengannya masih memeluk Kagami, dagunya disandarkan pada bahu pemuda bersurai merah-hitam di pelukannya. Manik shappire masih menjelajah ekspresi bangun tidur kekasihnya itu. "Kagami, lo punya kebiasaan tidur nggak pake baju?" tanyanya.
"Enggak kok, emang kenap−What the fuck?!" Kagami terkejut bukan kepalang melihat penutup tubuh bagian atasnya sudah menghilang entah kemana. Pasti ulah Aomine. Untung saja celana pendek yang membalut tungkai Kagami masih utuh.
Aomine terkekeh bodoh. Lucu sekali ekspresi Kagami yang sedang marah pagi-pagi−pikirnya. Aomine puas sekali bisa sedikit usil pada pemuda yang belum lama ini dipacarinya−setelah dapat izin dari abang poni lempar dari pemuda maji tenshi ini, tentu saja.
"Ahomine!" seru Kagami sambil mendorong tubuh Aomine menjauh dari tubuhnya. Rupanya Kagami tidak mau mengubah rating fanfic ini.
Aaaahh... Kagami... KENAPAAA?! Aku maunya : you, Aomine, ehem. NOW.
Nggak. Itu suara hati author sesat. Inget bulan puasa woy.
Aomine beranjak dari tempat tidur Kagami, separuh berlari, menghindari lemparan bantal dari kekasihnya. "Ba—kaa~" Aomine menjulurkan lidahnya ke arah Kagami. Kekanakan sekali.
.
Aomine menjatuhkan dirinya di atas sofa ruang tamu apartemen Kagami, di tangannya sudah ada sebungkus keripik yang diambilnya tanpa sepengetahuan Kagami dari lemari makanan di dapur. Kagami sepertinya masih mandi atau menyiapkan sarapan mereka pagi ini.
"Aomine! Mandi!" suara Kagami terdengar dari arah dapur. Rupanya Kagami sedang memasak.
Aomine beranjak dari tempatnya duduk, tangannya mengambil handuk yang tergantung di dekat balkon apartemen, tepat di seberang kamar mandi dan di sebelah dapur. "Gue mandi kalo lo ikut, baknya cukup buat berdua, kan?" ujarnya sambil berjalan menuju arah kamar mandi
Seketika sebuah pisau melayang dan menancap di kusen kayu pintu kamar mandi. Entah Kagami belajar melempar benda tajam dari Akashi atau Dagger dari fandom seberang−karena sebelah sudah menstrem. "Nggak," jawaban ketus dari Kagami terdengar mengerikan.
"Kagami..."
"Nggak. Lo mesum sih. Mentang-mentang dibolehin Tatsuya macarin gue jadi cari-cari kesempatan. Ketauan Tatsuya aja, kelar idup lo!" Kagami kembali fokus memasak.
Aomine manyun. "Iya, iya..." Untung Aomine tidak ditawari sabun lagi. Sudah tidak perlu nyabun sepertinya−abaikan. Author lagi mabok congyang.
.
.
"Kagami~" Pagi-pagi, sifat kekanakan Aomine kumat lagi [kitakore!]. Tiba-tiba dari belakang memeluk tubuh kekar berkulit putih susu Kagami. Padahal tubuh Aomine masih dingin-dingin basah karena habis mandi, handukan tidak kering.
"Aomine apaan sih?!" gerutu Kagami kesal.
"Masak apa?" tanya Aomine, padahal dia tahu persis Kagami memasak karaage dan tamagoyaki.
"Kan liat bisa," Kagami menjawab singkat sambil terus memasak−tentu dengan pergerakan yang terbatas karena Aomine masih menempel (?) di tubuhnya. "Aomine, lo kalo mandi gak bersih," komentar Kagami sambil melirik lengan kekar kekasihnya.
"Eh?"
"Itu daki masih nempel semua."
Aomine langsung melepaskan diri dari Kagami, sebuah tamparan mendarat di bokong coretseksicoret Kagami.
"Apaan sih, Aho?!" Kagami berbalik ke belakang dengan ekspresi wajah kesal, di sela-sela jarinya terselip pisau dan garpu silverware layaknya butler ganteng dari fandom seberang. Didapatinya Aomine berdiri kesal dengan posisi kuda-kuda, alis biru tua agak raven di wajahnya hampir menyatu, kerut diantara kening dan hidungnya makin bertambah.
"Lo bego apa gimana sih?! Kulit gue emang gini!"
"Oh, iya ya."
Krik krik
Bahkan jangkrik sebenarnya enggan berbunyi. Hanya saja kesunyian yang awkward dan situasi garing mengalahkan lawakan senpai Kagami yang punya hawk eyes itu kurang afdol kalau tidak ada si jangkrik.
Masih agak kesal, Aomine 'mengelus' bokong Kagami untuk kedua kalinya, lalu melangkah gagah keluar dari area dapur yang rasanya sumpek kalau dua pemuda yang tingginya hampir 2 meter itu tetap di sana. Salah satu harus keluar, dan Aomine-lah yang mengambil langkah itu sebelum pisau atau alat makan lain melayang ke arahnya.
Aomine memilih duduk tenang di karpet coklat muda di depan TV Kagami, tentu sambil menonton salah satu rekaman game NBA yang Kagami punya. Rasanya malas ia bergerak lagi, udah posisi wenak. Tidak lama, Kagami datang bawa pengganjal perut-nasi, karaage, tamagoyaki, dan sup miso.
"Cuma seporsi, Kagami?"
"Habis lo nyebelin," jawab Kagami santai, ia mulai makan dengan lahapnya sampai kedua pipinya yang tembem unyu itu terkembung dua kali ukuran semula.
'Kampret,' pikir Aomine. "N-Nyebelin gimana?" tanyanya.
"Apaan main buka-buka baju orang yang lagi tidur. Bukan mukhrim tauk!"
Perempatan imajiner memenuhi wajah dekil Aomine. Kagami macam cewek lagi PMS-batinnya. Biasanya keisengan Aomine (yang sebenernya cukup nyebelin itu) ditanggapi dengan suara tawa ala malaikat turun dari surga Kagami, atau senyum yang membuat Bang Mine serasa meleleh di tempat.
"Kagamiiiii~~" Aomine meletakkan dagunya di atas meja tempat mereka (Kagami doang sih sebenernya) makan. Puppy eyes—mata seperti mau pup, salah—melengkapi ekspresi melas Aomine. Tampangnya dibuat-buat seperti belum makan 3 hari, padahal kemarin malam kulkas Kagami dikuras perut karung Aomine.
Pemuda redhead yang dipanggil tidak merespon, mulutnya masih penuh makanan. Pemuda kurang terang yang dikacangi gitu aja ngambek, sifat manja yang nggak pas dengan wajah garang seorang Aomine Daiki makin menjadi-jadi. Mungkin dampak sering kumpul coretkebocoret dengan pasangan Kise-Kuroko. Sifat manja Kise pada Kuroko sudah menggerogoti (?) tubuh, jiwa, dan raga Aomine bak virus. Kerasukan apa Aomine hari ini, ia ingin praktek manja-manja dengan Kagami—yang biasanya berhasil dengan sukses antara Kise dan Kuroko—harapan Aomine sih, Kagami akan blushing cute macam Kuroko, lalu jatuh ke pelukannya, memanjakannya seharian—tak lupa di kasur juga.
"Tch," Aomine mendecak kesal. Agaknya, Kagami tak mempan dibanjiri kombo imut moe-moe Aomine. Yang ada malah Kagami sedari tadi menahan tawa karena Aomine jadi kelihatan aneh sekali. Bayangkan saja, wajah garang nan sangar berkulit kurang terang ala Aomine Daiki, diganti dengan senyum-senyum (sok) moe yang bibirnya dimonyong-monyongkan mirip ikan, tak lupa pipinya digembungkan dan manik navy blue Aomine, entah kenapa bisa tersorot kesan melas. "Kagami..." Aomine tak tahan lagi. Agaknya bertingkah sok imut membuat perutnya makin keroncongan. "M-Maaf," kedua tangan berkulit cokelat itu ditangkupkan di depan wajah. Mata Aomine tak mampu melihat ekspresi Kagami, pasti dia tertawa—pikir Aomine. Sepertinya untuk orang-orang macam Aomine, berpikir lebih baik kalau perut kenyang—maklum otak ada di perut.
Selama sekitar dua detik pertama tidak ada respon. Aomine memberanikan diri menatap manik crimson Kagami—mungkin Kagami tidak melihatnya meminta maaf dengan cara nista itu. "Kagami?" tanyanya dengan suara pelan.
"Pffftttt-Bahahahaha!" sedikit nasi dan kuah miso muncrat dari mulut Kagami. Bagaimana tidak? Aomine sebegitu laparnya sampai mau meminta maaf karena menjahilinya pagi ini—dengan cara yang sama sekali tak terduga. Ditambah, cairan bening di sudut mata Aomine. Sebenernya malah tingkah Aomine sekarang mengalahkan unyu-unyunya si model pirang Kise Ryouta [Kise : Authorcchi hidoi-ssu!].
Aomine masih manyun bebek. Tawa renyah Kagami yang membuat fans-nya diabetes seketika itu tidak membuatnya kenyang—tentu saja. "Oi!" gerutunya kesal. Aomine mencomot sepotong karaage dari piring Kagami. "Makan bagi-bagi! Gue laper nih!"
"Nggak!" dengan sigap telapak Kagami memukul pelan punggung tangan berkulit gosong yang sudah mencapit sepotong ayam goreng tepung itu. "Salah sendiri tadi pagi pake usil segala!" Kagami melanjutkan sesi makannya dengan santainya, Aomine dibiarkannya mupeng.
"Kagamiii~~" Lapar Aomine menjadi-jadi. Ah, sayang tidak ada maibou coklat Murasakibara yang bisa mengurangi rese-nya Aomine kala ia lapar. "Bagian gue mana, brengsekkk?!" tanya Aomine yang kelaparan berat.
"Nggak ada," Kagami melahap sepotong tamagoyaki. Tepat sebelum seluruh bagian tamagoyaki bertamasya ke perut Kagami, Aomine melahap olahan telur itu, langsung dari mulut Kagami. Entah bagaimana bibir keduanya tidak bertubrukan meskipun gerakan Aomine termasuk golongan 'tiba-tiba dan cepat sekali'.
"Enak," komentar Aomine sambil terus mengunyah tamagoyaki buatan Kagami. Kagami tak tahan lagi. Ia makin bete diganggu Aomine—yang memang luar biasa rese kalau lagi lapar.
"Tch," Kagami bangkit berdiri, berjalan menuju dapur. Diambilnya nampan berisi nasi yang menggunung di mangkuk, lengkap dengan lauk pauk dalam jumlah yang lumayan banyak. Meskipun kesal, Kagami tetap memasakkan bagian Aomine. Ceritanya Kagami tsundere nih yeeee... Tsundegami (?)
"Aomine, nih makan-"
Melihat pemuda dim yang dicuragi jelmaan black panther itu, Kagami langsung speechless. Ditinggal tidak ada semenit ke dapur saja nasi bagiannya sudah hampir tamat. Ditambah Aomine tertangkap tangan pelaku yang menyantap habis nasi di mangkuk Kagami. Mulut pemuda dim ini penuh, ditambah sedikit nasi yang berceceran di pinggir bibirnya.
Black aura yang sewarna dengan aura Hyuuga saat memasuki mode clucth langsung menguar dari tubuh Kagami. "Ah, enak, Aomine?" tanyanya dengan senyum yang sama dengan senyum pelatih basket Seirin—senyum manis yang mengumbar aura dari neraka. Aomine buru-buru menelan apapun yang ada di dalam mulutnya. Sayang agak terlalu cepat.
"Uhuk.. K-Kagami.. Uhuk!" Aomine menepuk-nepuk dadanya sendiri, berusaha melancarkan jalan makanan yang belum terkunyah sempurna itu masuk ke kerongkongannya. Tangan corethitamcoret Aomine bergerak menuju meja, berusaha mengambil segelas air.
Bruagh!
Terlambat.
"AAAAAAKKK! BAKAGAMI! ITTE ITTE! BAKAGAMI!" seru Aomine—kesakitan.
"Huh, rasain," ujar Kagami enteng sambil memegangi kedua tungkai Aomine.
Aomine yang lapar memang greget. Porsi si pipi tupai diembat juga. Alhasil boston crab legendaris ala Seirin no kantoku jadi hadiah spesial untuk Aomine.
.
.
.
"Itadakimasu."
Akhirnya Aomine dibolehkan makan juga. Dengan syarat porsinya dikurangi, tapi. Dikurangi hampir setengahnya. Aomine sedikit galau jadinya. Tapi masih untung lah, bisa makan. Aomine makan dengan tenang. Kagami juga ikut makan—dari porsi yang dikurangi dari mangkuk Aomine.
"Masakan lo enak, Kagami," komentar Aomine enteng. "Nikah sama gue yak," lanjutnya. "Ah, defense-nya bagus," manik shappire masih belum lepas dari game NBA di TV apartemen Kagami.
"Ya, ya," Kagami menjawab monoton. "Shoot!" Kagami berseru pelan. "Score," lanjutnya.
Trrrtttt
Ponsel merah tua Kagami di sofa bergetar.
"Tatsuya?" gumam Kagami ketika melihat nama kontak pengirim pesan singkat di layar ponselnya. "Tumben sms doang. Biasanya telepon," ujar pemuda bersurai merah gelap sambil menekan tombol di ponselnya untuk membuka pesan.
.
From : Tatsuya
Subject : None
Taiga, ada acara hari ini?
.
Kagami mengetik jawaban dengan cepat.
To :Tatsuya
Subject : Reply
Tidak. Kenapa?
.
Jawaban masuk kurang dari semenit.
From : Tatsuya
Subject : Streetball
Ada streetball. Dengan teman-teman Atsushi juga. Mungkin mau main ke sana hari ini? Oh, iya. Aomine di sana?
.
"Siapa, Kagami?" Aomine penasaran melihat Kagami asyik sendiri dengan ponselnya.
"Tatsuya," jawab Kagami singkat.
"Tatsuya-nii?!" Mata Aomine membelalak. Ada apa kakak ipar tiba-tiba mengabari—pikirnya.
"Nggak usah pake '-nii', gue yang adeknya aja nggak pake," Kagami mencubit pipi cokelat Aomine perlahan. "Ini, dia bilang ada streetball. Mau ikutan?"
"Terserah," jawab Aomine.
Kagami mengetik lagi di ponselnya.
To : Tatsuya
Subject : None
Ya, Aomine ada di sini. Nanti kami akan ke sana. Streetball dengan teman Murasakibara? Siapa?
.
Jawaban Himuro berikutnya membuat Kagami makin bersemangat. "Oi, Aomine-teme, cepet makannya," Kagami menghabiskan nasi di mangkuknya dalam sekali telan. "Cepetan, kalo nggak gue tinggal."
"Eh, eh, Bakagami! Mau kemana?"
"Streetball against the Generation of Miracles," Kagami menjawab dalam Bahasa Inggris, sambil membawa peralatan makannya ke tempat cuci piring. "You better hurry, dumbass," Kagami sudah berjalan ke tempat sepatu dekat pintu keluar, menyiapkan Air Jordan Classic No. 1 warna merah-hitamnya.
.
.
.
to be continued
.
Ordinary's Note
HOLA! Kali ini apdetnya nggak kilat, MAAF BANGEETT! Ordin terserang wabah WB rupanya. Berdampak sama panjang chapter kali ini. PENDEK KALIIII! BAH.
Chapter ini full AoKaga—dan ke-idiot-an mereka. Yeah. Tapi diapdet sesiangan selama bulan puasa gini, jadi no hints. Sumimasen. Hint cukup dengan kebodohan mereka saja. Kalo sampe kissu-kissu kok takut bikin yang puasa batal alasan, padahal aslinya mah cuma gara-gara WB
Janji lah ya, chap depan bakal lebih ulululululu. Chap depan multipairing. Yes. MidoTaka, KiKuro, MuraHimu—lagi, mungkin. Yang shipper dari pairing di atas, berbahagialah HAHAHAHAHAHAHAHA /ketawa gaje
Okelah. Tunggu saja chap depan. Kemungkinan baru habis lebaran di post karena akan bertebaran hint humu di segala tempat. AHAAAYYY
Juga untuk habis lebaran : Ret M. Yey. Yang fujo akut penggemar smut macam saya berbahagialah :'v
SAMPAI KETEMU CHAP DEPAN! Special thanks buat semua yang bersedia meninggalkan jejak berupa review, fav, dan follows! Juga buat mbak/mas silent reader!
Salam FUJO!
Ordinary.
Let's ship AoKaga as long as we live in AOKAGALAXY!
