Disclaimer: Masashi Kishimoto
Genre: Romance/Friendship
Rating: T
Pairings: SasuSaku, GaaSaku, SasoSaku.
Keterangan: Fanfic ini AU. Jadi gak ada ninja-ninjaan.
Ceritanya disini Sasuke dan Sasori jadi aktor sekaligus penyanyi terkenal, tapi Sakura tetep jadi siswi biasa. Sakura sahabatan sama Ino dan Hinata. Dan image-nya Hinata beda sama yang seperti biasanya. Dan disini juga Sasuke (sedikit) OOC.
A.N: Gomen… Kemarin saya salah menulis 'FIN', padahal seharusnya 'To Be Continued'. Gomennasai… =.=
Oh ya, saya mau balas review dulu nih…!
Fuyuzakura-hime: Arigatou sudah mau review… Aduh, gomen… Kemarin saya salah menulis –FIN-, sebenarnya 'T.B.C'. Fic ini belum tamat kok.. Saso-kun muncul paling waktu di chapter 4. Yang sabar ya… *ditampar*. Mind to review again? ^v^
Hikari de Natsu: Arigatou sudah review… Duh, saya saja yang buat fic ini juga iri lho sama Sakura. Enak banget ya si Sakura! *di-SHANNARO*. Duh, saya enggak tau kapan Hika-chan *boleh saya panggil gitu kan?* dapat soulmatenya… Mind to review again? ^v^
Hikari Uchiha Hatake: Arigatou sudah review…Senpai pernah nonton serial drama itu ya? Padahal saya saja yang buat fic belum pernah nonton lho… Saya taunya dari teman saya. *A.N: Thank you Lii-chan..!*. Nah, mind to review again? ^v^
Haruchi Nigiyama: Arigatou sudah review… Tenang saja, fic ini masih berlanjut kok ^^… Sas-kun sudah muncul di chapter ini. Tapi Saso-kun masih di chapter 4.. Mind to review again? ^v^
Enjoy… ^_^
Soulmate: chapter 2
Sasuke and Sakura
Fic by: Kinay Saku-chan
Hari-hari Sakura dilewati bersama Gaara dengan sangat menyenangkan. Gaara selalu mengantar-jemput Sakura sekolah, selalu hang-out bareng dan makan bersama. Sakura merasa beruntung banget punya cowok yang perhatian dan sayang banget padanya.
"Kalau dipikir-pikir, kok gue bisa cepet banget ya mutusin buat jadian sama Gaara, padahal kami kan baru kenal, dan sekarang baru jadian sekitar 3 minggu. Hahaha… Cinta emang enggak bisa ditebak dengan mudah…"
Hari ini, sepulang sekolah seperti biasa, Sakura menunggu sang kekasih datang menjemput. Tapi sudah lebih dari satu jam ia menunggu, Gaara belum muncul-muncul juga.
"Ada apa ya? Enggak biasanya dia telat banget. Ditelepon juga enggak ngangkat," gumamnya.
Tiba-tiba handphone-nya berbunyi, masih tetap dengan nada dering 'Eenie Meenie'. Di layar handphone-nya tertera "Gaara calling."
"Halo," sapa Sakura.
"Sakura, maaf… maaf banget ya… Hari ini aku enggak bisa jemput kamu. Soalnya mama-ku tadi masuk rumah sakit. Sakit jantungnya kambuh, jadi tadi aku buru-buru langsung nyusul ke rumah sakit," jelas Gaara.
"Kenapa kamu enggak ngasih tahu aku dari tadi? Kan aku bisa naik taksi."
"Maaf, tadi aku panik, jadi lupa ngasih tahu kamu. Kamu enggak marah kan? Enggak apa-apa kan?"
"Iya, enggak apa-apa kok. Aku juga enggak marah sama kamu. Gimana keadaan mama-mu?"
"Sudah agak baikan kok…"
"Ya sudah, aku pulang dulu. Bye..."
"Bye-bye…"
Sakura sebenarnya kesal banget! Walaupun mengerti dengan keadaan Gaara, tapi tetap saja kesal. Gimana enggak, dia sudah menunggu Gaara selama hampir dua jam.
Sakura pulang dengan perasaan kesal. Karena lagi bete banget, dia lalu pulang dengan jalan kaki, meskipun tadi bilangnya pulang naik taksi pada Gaara. Dengan langkah yang dipaksa (?) cepat, ia berjalan sambil menggerutu.
Sementara dari arah berlawanan seorang cowok yang lagi jalan, enggak sengaja menyenggol Sakura. Emosi Sakura mulai meluap.
"Hei, kalau jalan itu pake' mata donk, jangan asal nabrak saja!" marah Sakura.
"Yang namanya jalan itu pake' kaki, bego!" balas cowok itu.
Sakura memicingkan matanya, menatap cowok itu dengan tatapan penuh kemarahan dan emosi yang meluap-luap, lalu pergi begitu saja. Sakura menyeret kakinya dengan kesal, pergi meninggalkan cowok itu.
Sakura pun enggak tahu kalau cowok yang ditabraknya itu seorang penyanyi sekaligus aktor terkenal, Uchiha Sasuke. Memang sih Sasuke lagi menyamar pake' topi sama kacamata hitam, soalnya bisa gawat kalau ketahuan fans-nya dia lagi jalan di sekitar sana. Tapi, Sakura juga enggak kenal sama Sasuke. Secara, Sakura itu bukan tipe cewek yang suka nge-fans sama artis atau aktor terkenal dan enggak mau ambil pusing soal yang namanya dunia entertainment.
"Mmm… Konoha High School…" gumam Sasuke sambil tersenyum penuh makna saat melihat seragam yang dikenakan Sakura.
"Kabuto… Kabuto…" Sasuke memanggil manajernya.
Terlihat Kabuto, manajernya sedang pusing mengatur jadwal Sasuke. Sesekali ia menggaruk-garuk kepalanya, saking pusingnya dengan jadwal konser dan skandal-skandal yang dibuat Sasuke.
"Ka…bu…to…" panggil Sasuke dengan nada manja, atau lebih tepatnya 'menggoda'.
Kabuto memicingkan matanya. "Ada apa? Apa kamu membuat suatu masalah lagi?" selidik Kabuto penuh kecurigaan.
"Enggak kok. Kamu kok selalu mencurigaiku sih? Aku ada permintaan nih," jawab Sasuke.
"Apa? Aku sudah cukup pusing dengan semua ulahmu dan jadwal konsermu."
"Mmm… Apa boleh aku pindah sekolah?" tanya Sasuke.
"Apa? Pindah sekolah?" Kabuto mengulang pertanyaan Sasuke. "Enggak boleh!" jawabnya kemudian.
"Ayolah…" Sasuke merayu. "Aku janji enggak akan bikin masalah lagi dan akan memenuhi semua jadwal yang kau susun. Jadi, boleh kan aku pindah sekolah?"
"Janji?" tanyanya memastikan dan Sasuke dengan cepat mengangguk. "Memangnya kau mau pindah ke mana?" tanya Kabuto (lagi).
"Konoha High School."
"Apa? Itu kan sekolah swasta umum. Mana ada aktor yang sekolah di sana. Enggak boleh!"
"Tadi kan kau sudah bilang boleh. Kalau enggak dibolehin pindah sekolah, aku akan batalkan show minggu depan," ancam Sasuke.
"Ba-baiklah…" akhirnya Kabuto setuju.
Dia terpaksa setuju, karena ia tahu banget kalau Sasuke enggak pernah main-main dengan kata-katanya. Sasuke itu nekat banget!
Kabuto mengurus kepindahan Sasuke ke Konoha High School dan Sasuke minta supaya ia bisa satu kelas dengan cewek berambut pink yang ditemuinya waktu itu. Semua media massa heboh dengan kepindahan Sasuke ke sekolah swasta umum.
Sementara para siswi-siswi di sekolah itu lebih heboh lagi. Gimana enggak, aktor sebeken Uchiha Sasuke akan sekolah di sana. Itu berarti mereka bisa bertemu sang idola hampir setiap hari.
Hari pertama kedatangan Sasuke ke sekolah barunya, para siswi heboh dan wartawan berdesak-desakkan untuk meliput kepindahannya.
Sakura sangat terganggu dengan kebisingan yang ditimbulkan Sasuke. Apalagi kemunculan Sasuke di kelasnya, XI IPA.1, yang membuat para siswi histeris dan mulai berkumpul di sekeliling Sasuke untuk minta tanda tangan, foto bareng atau sekedar ngobrol-ngobrol saja.
"Ugh, nyebelin banget! Siapa sih dia sampai harus dikerumuni kayak gitu?" gerutu Sakura.
"Loe enggak tau? Dia kan penyanyi yang lagi naik daun," respon Ino.
"Gimana si Sakura tau! Dia kan paling enggak peduli sama yang namanya aktris atau aktor," sambung Hinata.
"Iya juga sih…"
"Masa bodoh dia aktor atau bukan, yang jelas gue merasa terganggu dengan kedatangannya!" tambah Sakura makin kesal.
Sasuke melihat ke arahnya. Sakura menatapnya dengan tatapan penuh kebencian. Sasuke tersenyum. Sakura mencibirnya.
"Oh ya, cewek yang ada di sana itu siapa namanya?" tanya Sasuke kepada salah satu cewek yang ada di dekatnya.
"Yang mana? Mereka kan bertiga."
"Yang rambutnya panjang warna pink itu."
"Ooh… Namanya Sakura. Kenapa? Dia jutek banget loh..!"
'Hn. Jadi Sakura.' Sasuke tersenyum penuh makna. "Hei Sakura, kenapa lihat-lihat? Mau minta tanda tangan juga? Kalau mau ke sini saja, jangan malu-malu…" goda Sasuke.
"Sasuke manggil loe tuh…" beritahu Ino.
"Cih. Dia kira dia siapa? Maaf saja ya… Emangnya gue kurang kerjaan apa sampai minta tanda tangan sama dia? Ke kantin yuk?" Sakura menarik tangan kedua sahabatnya lalu berjalan menuju ke kantin.
"Hei, kok pergi? Enggak usah malu-malu sama gue, atau loe mau foto bareng?" Sasuke semakin menggoda Sakura.
"Eh, gue enggak peduli loe artis sebeken apa, tapi gue cuma mau kasih tahu loe saja kalau ini sekolah, bukan tempat jumpa fans! Lagian, sori saja kalau gue minta tanda tangan and foto bareng sama loe. Mendingan gue foto bareng sama gorila!" labrak Sakura kesal lalu menyusul Ino dan Hinata yang sudah jalan duluan.
"Tuh, jutek banget kan?" komentar cewek tadi.
"Iya, jutek banget. Tapi asyik juga…" tambah Sasuke sambil tersenyum nakal.
Gaara sangat cemas saat membaca sebuah majalah yang memberitahukan tentang kepindahan Uchiha Sasuke ke Konoha High School. Apalagi menurut gosip, Sasuke pindah ke sekolah itu untuk mengejar cintanya. Dramatis banget! Enggak tahu kenapa, feeling Gaara mengatakan kalau cewek yang diincar Sasuke adalah Sakura.
"Sakura, katanya si aktor Sasuke itu pindah ke sekolahmu ya?" tanya Gaara sambil menyetir mobil Volvo-nya.
"Begitulah… Tapi, nyebelin banget! Mentang-mentang dia aktor, dia jadi belagu banget gitu!" ungkap Sakura sebel plus kesal.
Mengingat kejadian tadi saja membuat hati Sakura panasnya bukan main. "Tanda tangan? Foto bareng? Huh! Enggak usah ya..!" seru Sakura dalam hati. Ia benar-benar kesal dengan tingkah Sasuke yang sok kecakepan itu.
"Sakura, aku sayang banget sama kamu. Jangan tinggalin aku ya… Aku enggak bisa hidup tanpamu…" tiba-tiba Gaara mengungkapkan kata-kata yang… Ugh, norak banget bagi Sakura! Tentu saja ucapan Gaara itu membuat Sakura bingung.
"Kenapa? Kau berpikir aku naksir sama si Sasuke? Hahaha… Enggak lah! Tampangnya saja yang cakep, tapi sifatnya nyebelin banget!"
"Aku enggak meragukanmu, aku cuma merasa Sasuke suka sama kamu. Soalnya tadi aku baca majalah yang katanya Sasuke pindah ke sekolahmu karena ingin mengejar cintanya."
"Terus kau pikir kalau cewek itu aku? Hahaha… Enggak mungkin lah. Aku kan bukan Konan, cewek tercantik di Konoha High School. Mana mungkin si Sasuke itu suka sama aku? Percaya deh sama aku…" Sakura menenangkan Gaara.
"Aku percaya kok sama kamu. Cuma enggak tahu kenapa feeling-ku bilang gitu."
"Naluri seorang lelaki..?" goda Sakura sambil tertawa renyah. Gaara yang mendengarnya hanya tersenyum tipis sambil mengangkat bahu.
Ckiit…
"Sudah sampai…" kata Gaara sambil menginjak rem mobilnya di depan kediaman Haruno.
"Hati-hati di jalan ya…" kata Sakura sambil menutup pintu mobil lalu melambaikan tangannya pada Gaara.
Sesampai di kamarnya, Sakura langsung melempar tasnya ke meja belajarnya dan merobohkan tubuhnya di atas ranjang pink bergambar sprei 'Mickey Mouse'. Ia memikirkan kata-kata Gaara lalu tersenyum kecut.
"Ada-ada saja. Mana mungkin Sasuke suka sama gue? Kenal akrab saja enggak. Lucu banget! Lagian orang yang nyebelin kayak gitu kalau suka sama gue, gue pun enggak bakalan mau sama dia. Bisa mati karena kesal kalau gue sama dia. Ih, amit-amit deh…"
Di rumah sebesar istana, Sakura tampak kesepian. Ia hanya hidup sendiri dengan ditemani para pelayannya (A.N: pembantu) dan satpam rumahnya. Orang tuanya sibuk di Paris. Walaupun bukan anak yang broken home, tapi dia tetap saja tampak kesepian dengan suasana yang seperti itu, sunyi dan dingin.
Sakura duduk di balkon kamarnya yang ada di lantai 2. Padahal hari sudah sangat larut, tapi emeraldnya sama sekali enggak memberikan sinyal ngantuk seperti biasanya. Dan sepertinya gadis Haruno ini juga tidak berniat untuk tidur pada saat jam tidur biasanya. Ia tampak melamun. Enggak tahu jelasnya apa yang ia lamunkan.
"Non Sakura,kenapa belum tidur? Masuk yuk… Sudah malam. Enggak baik kalau malam-malam masih duduk di balkon. Nanti sakit loh…" bujuk Ayame. Ayame adalah salah satu pelayan pribadi Sakura, yang juga termasuk teman bermain Sakura saat ia sedang kesepian di 'istana'nya.
"Sebentar lagi. Ayame-san tidur saja dulu. Sakura masih mau duduk di sini, habis enggak bisa tidur sih…"
"Sebentar saja ya, Non… Saya permisi dulu," kata Ayame lalu pergi dari kamar Sakura.
Sakura menengadah ke atas langit, memandangi bintang-bintang yang bertaburan di sana. Pikirannya kosong, tapi seperti ada masalah yang mengganggu pikirannya. Sakura sendiri juga tidak tahu apa itu.
"Kok kayaknya ada sesuatu yang akan datang ke gue ya? Sebenarnya ada apa?" gumamnya sangat pelan.
Seperti biasa, Gaara mengantar Sakura ke sekolah.
"Sakura, malam minggu kita pergi nonton yuk!" ajak Gaara.
"Mm… Boleh, udah lama juga kita enggak pergi nonton bareng," jawab Sakura dengan mimik muka ceria.
"Iya…" Gaara tersenyum tipis.
"Ah, kalau begitu aku masuk dulu ya… Kamu juga, sebaiknya cepat berangkat. Nanti kamu telat sekolah loh…" kata Sakura sambil tersenyum lebar.
"Oke. Bye…" pamit Gaara, setelah itu dia langsung menancap gas menuju Suna High School.
Saat itu juga kebetulan Sasuke melihatnya dari jarak yang lumayan dekat. "Ternyata si pinky itu sudah punya pacar..?" gumam Sasuke dan seketika tampangnya langsung berubah jadi lemas.
Sakura berjalan memasuki gedung sekolah tercintanya sambil senyam-senyum sendiri. Sasuke menyusulnya, menjajarkan posisinya tepat di samping Sakura. "Hei, JIDAT-LEBAR..! Kenapa loe? Kesambet ya? Pagi-pagi udah cengar-cengir kayak kuda gitu?"
"Eh, sejak kapan loe ngganti nama gue yang super keren ini jadi 'Jidat-Lebar'?" protes Sakura ketika sadar kalau Sasuke memanggilnya dengan sebutan 'Jidat-Lebar'.
"Kenapa? Emang kenyataan kan kalau jidat loe itu LEBAR…" jawab Sasuke sambil menarik ujung bibir kanannya sedikit ke atas. "Gue heran, kok cowok loe bisa betah ya pacaran sama cewek yang nyebelin kayak loe. Apa sih bagusnya loe?" lanjutnya sambil mandangi Sakura dari ujung kaki hingga ujung rambut.
"Loe itu…" Sakura mulai terpancing emosi. Suasana hatinya yang sebelumnya berbunga-bunga, sekarang berubah seratus delapan puluh derajat. Menjadi kilat-kilatan petir.
"Kenapa? Enggak bisa jawab?" ejek Sasuke. Senyum meremehkan muncul di bibirnya.
"Ah, udahlah… Ngapain juga gue capek-capek ngeladenin PANTAT-AYAM kayak loe!" jawab Sakura lalu pergi.
"Apa kata loe? Pantat-Ayam?"
"Huh… Mimpi apa sih gue semalam? Pagi-pagi udah ketiban sial ketemu sama orang yang paling menyebalkan sedunia!" gerutu Sakura dalam hati.
Saat pelajaran olahraga, Sakura dan Sasuke disuruh dengan Guy-sensei untuk mengambil bola di gudang perlengkapan olahraga. Sakura sempat protes dan mengusulkan Hinata atau Ino saja yang membantunya, tapi Guy-sensei enggak peduli.
Dan akhirnya, dengan perasaan kesal Sakura menuju gudang perlengkapan olahraga bersama Sasuke.
"Hei, jalannya jangan terlalu cepat donk, santai saja," sahut Sasuke dari belakang Sakura.
"Loe-nya saja yang jalannya lambat banget. Cowok kok jalannya lambat. Cih, malu-maluin banget!"
Sasuke merasa sangat terhina dengan ucapan Sakura lalu ia mempercepat jalannya, dan jadinya sekarang tepat berada di sebelah Sakura.
"Oh ya? Gue akan tunjukin ke loe, kalau sebenarnya gue bukan cowok yang lambat. Kita taruhan main basket 1 on 1, gimana? Loe setuju enggak, jidat lebar?" tantang Sasuke. Seringaian tipis muncul di bibirnya.
Sakura tampak berpikir sebentar, lalu ia mengangguk. "Oke, gue setuju. Tapi, gue mau tanya. Apa sih taruhannya, pantat ayam?" tanya Sakura sambil membalas ejekan Sasuke.
"Yang kalah harus nurutin apa yang diperintahkan sama yang menang. Ini berlaku selama tiga hari. Gimana?"
"Oke. Siapa takut!"
'Lihat saja! Gue akan memenangkan taruhan ini dan memerintah si pantat-ayam ini sesuka gue. Kita lihat saja nanti, mau ditaruh ke mana muka sang aktor terkenal itu. Belum tahu dia ya, kalau gue jago main basket. Lagian seorang seleb biasanya malas olahraga kan? Pasti gue bisa menang dengan mudah,' pikir Sakura. Matanya berkilat sinis.
Tapi tiba-tiba kepala Sakura terasa pusing dan matanya terasa berkunang-kunang. "Aduh, kepala gue terasa sakit… Mungkin ini karena semalam duduk di balkon sampai malam," ujar Sakura dalam hati, sambil memegangi dahinya.
Ino dan Hinata yang melihat keadaan Sakura itu menyarankannya untuk membatalkan taruhannya bersama Sasuke. Tapi Sakura emang keras kepala, jadinya dia tetap enggak mau membatalkan pertandingan itu. Dia akan merasa sangat terhina kalau sampai membatalkannya, apalagi lawannya kali ini adalah Uchiha Sasuke. Bakal malu tujuh turunan kalau dia sampai ngebatalin taruhan ini.
"Gimana? Mau nyerah? Kalau takut kalah, lebih baik loe nyerah aja. Kalau nyerah, hukumannya gue diskon satu hari deh… Jadinya loe tinggal ikuti perintah gue hanya selama dua hari aja. Gimana?" ejek Sasuke sambil tersenyum meremehkan khas Uchiha.
"Siapa juga yang mau nyerah!" jawab Sakura sambil mengangkat sedikit dagunya dan menatap Sasuke tajam.
Mereka lalu memasuki lapangan, memulai pertandingan taruhan itu. Ternyata Sasuke enggak segampang yang dikira. Sakura sudah tampak kewalahan mengalahkan Sasuke, apalagi dengan kondisi badannya yang kurang fit.
Pertandingan masih diungguli oleh Sasuke, dengan skor 12 : 8. Sakura ketinggalan 4 point untuk menyeimbangkan pertandingan. Tapi, kepalanya mulai pusing lagi dan matanya berkunang-kunang. Sakura berhenti sejenak sambil memegangi kepalanya. Seketika tubuhnya ambruk. Dia pingsan. Sehingga menyebabkan satu kelas menjadi panik, terutama Sasuke.
Sasuke yang melihatnya langsung menggendong Sakura ke ruang UKS. Mereka mulai kasak-kusuk melihat tingkah Sasuke yang kelewat dari kata 'peduli' saat melihat Sakura pingsan.
Sakura dibaringkan di ranjang UKS dan Sasuke terus menjaganya. Hinata dan Ino tidak bisa ikut menjaga Sakura, karena saat itu mereka sedang latihan badminton.
"Bego' banget, udah tahu sakit kenapa masih mau ngelawan basket!" ngomel Sasuke sambil menggenggam tangan Sakura.
Sasuke sangat mengkhawatirkan Sakura, gadis yang disukainya. Yup, Sasuke sudah menyukai Sakura saat ia dan Sakura bertabrakan pada waktu itu. Sasuke sendiri tidak tahu, kenapa perasaannya pada gadis pink itu sepertinya melewati perasaan akan 'sahabat'. Tapi yang penting, ia harus melindungi gadis itu demi dirinya.
Sasuke terus menjaga Sakura sampai bel pergantian jam berbunyi. Ia beranjak dari temapt duduknya, lalu pergi. Saat sampai di dekat pintu UKS, Sasuke menengok kembali ke arah Sakura. Dia kembali lalu membungkukkan badannya dan mencium Sakura, tepat di bibir.
Tanpa disadarinya, seorang siswa salah satu anggota fotografer melihat kejadian itu, lalu memotretnya.
T.B.C
Fyuuh… Akhirnya selesai juga chapter 2 *ngelap keringat*. Terima kasih bagi para pembaca yang sudah menunggu fic abal ini ^_^… Oh ya, kemarin saya salah menulis –FIN-, padahal seharusnya 'T.B.C'. Sas-kun sudah muncul di chapter ini…! *bersorak-sorak*.
RnR pliisss…?
~Kinay Saku-chan~
