Naruto (c) Masashi Kishimoto
Lampauimu (c) Salada
.
PART 1 B
.
Uchiha Sarada menatap Uchiha Sasuke dengan sorot mata sedih. Di acara sarapan keluarga pagi ini, dia sudah memberitahu sang Papa mengenai keberhasilannya meraih nilai tertinggi dalam uji ketangkasan di akademi kemarin. Namun respon 'Hn' datar yang diberikan Papanya membuat dia kecewa. Hanya sang Mama yang antusias pada berita itu. Dia tampak gembira, bertepuk tangan seperti anak kecil dan mengatakan bahwa Sarada adalah putrinya yang terhebat dan nomer satu.
Bukannya Sarada tidak bahagia dengan respon yang diberikan Mamanya, tapi sekali-kali dia ingin mendapatkan pengakuan dari Papanya. Laki-laki yang hanya mempunyai sebelah tangan yang diakui oleh Nanadaime Hokage sebagai sahabatnya itu, baru dua bulan ini pulang ke rumah dan kembali ke keluarganya. Sejak pertemuan pertama di insiden menara dan penculikan Mamanya yang dilakukan oleh Uchiha Shin, Sarada tidak pernah sekalipun berlatih dengan sang Papa ataupun mendapat pujian dari beliau, padahal dia sangat ingin sekali.
"Oh ya Sarada-chan, dua minggu lagi kau dan teman-temanmu akan lulus dari akademi kan?" tanya Uchiha Sakura sambil melirik suaminya penuh arti.
"Hn. Iya Ma."
"Dan setelah itu kau akan menjadi genin dan dipilih untuk masuk sebuah tim yang beranggotakan tiga orang."
"Hn." Sarada lagi-lagi mengangguk mendengar perkataan Mamanya. Dia menatap wajah Papa dan Mamanya bergantian, lalu mengernyit. Dia agak heran kenapa Mamanya yang cerewet dan bersemangat, bisa menikah dengan Papanya yang pendiam dan judes.
"Ada berita bagus untukmu," kata Sakura. Dari senyum di wajahnya dia seperti akan memberitahu sesuatu yang menyenangkan.
"Hn?"
"Papamu sudah menyelesaikan misi beratnya, dan mulai sekarang dia akan terus berada di Konoha."
Berita basi Ma. Sarada merotasikan bola matanya. Dia juga tahu kalau Papanya akan terus berada di Konoha sejak dua bulan lalu.
"Dan dia akan jadi jounin pembimbing untuk salah satu tim genin yang akan dibentuk di angkatan kalian."
Sumpit Sarada terjatuh di mangkuk nasinya yang hampir kosong. Bergantian dia menatap wajah mama dan papanya dengan ekspresi tak percaya.
"Benarkah itu Pa?"
"Hn."
Walaupun Uchiha Sasuke menjawabnya dengan jawaban singkat nan ambigu, tanpa sedikitpun mengalihkan atensinya dari lauk dan nasi yang menjadi menu sarapan pagi, tapi Sarada mengerti kalau makna jawaban 'Hn' dari papanya adalah iya.
Sarada kembali bersemangat menyelesaikan sarapan. Dalam hatinya membuncah sebuah harapan baru, dia ingin papanya menjadi jounin pembimbing untuk timnya. Agar mereka bisa berlatih bersama, dan Papa bisa melihat perkembangannya.
Melihat anaknya yang kembali bersemangat Uchiha Sakura tersenyum tipis. Dia mengerling sebal pada sang suami yang tidak peka pada perasaan anak mereka. Apa dia tidak bisa berhenti bersikap tsundere, walau pada anaknya sendiri? Pikirnya. Mendapat kerlingan balasan dari Sasuke, yang seolah bertanya, 'Apa?' membuat Sakura cengengesan dan melanjutkan sarapannya.
.
.
.
"Bagaimana hasil uji ketangkasanmu kemarin?"
"Baik," jawab Boruto sambil terus menyuapkan nasi ke dalam mulut. Enggan bertatap mata langsung dengan ayahnya.
"Siapa yang menjadi lawanmu kemarin?" Naruto bukannya tidak tahu apa yang terjadi pada putranya kemarin. Dia mendapatkan laporan yang sangat lengkap dari Konohamaru mengenai kelakuan Boruto, hanya saja dia ingin anaknya jujur.
"Uchiha Sarada. Si cewek jadi-jadian," jawab Boruto geram. Naruto mendengus tertawa mendengar jawaban anaknya. Cewek jadi-jadian? Yah, setahunya anak Sasuke dan Sakura itu memang tomboy, tapi menurut Naruto, dia manis kok. Sementara Hinata, yang sedang menyuapi si bungsu Himawari, melongo.
"Kau bertarung melawan anak perempuan?" wanita Uzumaki berdarah Hyuuga itu sangat tidak suka jika putranya menyakiti anak perempuan. Dia ingin Boruto tumbuh menjadi ninja yang hebat seperti ayahnya, dan juga bisa melindungi adik perempuan dan juga teman-temannya (terutama teman perempuan yang lemah).
"Hmmm." Boruto cepat menghabiskan nasi dan lauk di mangkuknya. Dia tidak ingin mengingat kejadian kemarin, ketika Uchiha Sarada mempermalukannya. Dia benci seringai sombong gadis itu.
"Kau menyakitinya?" tanya Hinata khawatir.
"Aku akan mengalahkannya," gumam Boruto pelan penuh tekad. Naruto mendengar ucapan anaknya, namun dia berpura-pura tidak dengar. "Aku selesai." setelah minum air putih beberapa teguk, dia segera beranjak ke arah pintu. Dia akan pergi ke akademi.
"Boruto-kun. Kau belum menjawab pertanyaan ibu, apa kau menyakiti Sarada-chan?"
"Tidak," jawab Boruto sambil lalu sembari memakai sepatunya. "Aku pergi." Dia pamitan.
"Iya hati-hati, Nak."
"Hmm."
Hinata menatap punggung putra sulung yang menghilang di balik pintu dengan sorot cemas. Dia kemudian menoleh ke arah Naruto yang tampak mendesah.
"Jangan khawatir. Anak seumuran Boruto memang sedang labil-labilnya," ucap Naruto seolah mengerti apa yang ada di pikiran sang istri.
Hinata mengangguk. Lalu kembali menyuapi Himawari.
.
.
.
—Ayahku tidak pernah ada waktu untuk berlatih ataupun mendengarkan keluh kesahku sebagai anak. Pak Tua itu terlalu sibuk dengan urusannya sebagai Hokage. [Uzumaki Boruto]
—Papaku tidak pernah sekalipun mengakui atau memujiku. Dia malah mengatakan bahwa pecundang bodoh yang payah sepertimu sebagai orang yang kuat. Cuih. Yang benar saja, aku bahkan lebih kuat darimu. [Uchiha Sarada]
.
.
PART 1 B, FINISH
