Naruto (c) Masashi Kishimoto

Lampauimu (c) Salada

.

PART 1-D

.

.

"Tapi kau sudah janji!" Boruto melotot marah pada sosok pirang dewasa yang duduk di balik kursi hokage. Kemarin sang Ayah sudah berjanji akan mengajaknya berlatih untuk menyempurnakan rasengan yang dia pelajari—agar dia bisa menunjukannya di depan sensei penguji besok. Tapi janji tinggal janji. Seperti biasa Nanadaime Hokage tidak bisa menepati janjinya pada sang anak, karena kesibukannya mengurus desa.

Naruto mendesah frustrasi. Dia melirik Shikamaru, Sasuke, dan Kakashi yang berdiri di belakang Boruto. Mereka sedang membahas mengenai masalah keamanan daimyo, yang sore ini akan berkunjung ke Konoha, ketika Boruto menerobos masuk dan menginterupsi. "Maafkan Ayah, Boruto. Mungkin lain kali," bujuknya mencoba sabar.

"Lain kali apa? Ujian akhirku akan dilaksanakan besok! Memangnya Ayah mau aku memperlihatkan jutsu yang masih belum sempurna pada Sensei penguji, agar aku tidak lulus dari akademi?!" Boruto menggigit bibir, matanya berkaca-kaca, siap menangis. Dia benar-benar kesal pada Ayahnya yang lagi-lagi tidak menepati janji untuk berlatih dengannya. Yah. Ayah memang selalu tidak punya waktu untukku, pikir Boruto sedih.

"Boruto." Naruto tidak tahu harus bersikap seperti apa menghadapi putranya yang sedang merajuk seperti ini. Yah, dia paham Boruto selama ini selalu berbuat kenakalan untuk menarik perhatiannya. Dia tahu Boruto kesepian dan merindukan kasih sayang seorang Ayah. Tapi Naruto tidak bisa berbuat banyak. Sebagai seorang Hokage, dia harus mengutamakan kepentingan desa daripada keluarga. Dan pembahasan tentang keamanan pemimpin Negara api ini juga sangat penting. "Sekali lagi Ayah minta maaf. Ayah …"

"TIDAK PERLU MINTA MAAF! AKU BENCI AYAH! AYAH PEMBOHONG!"

Boruto berlari keluar dari ruangan Hokage. Meninggalkan Naruto yang mengerang sedih, dan ketiga orang dewasa lain yang tampak perihatin melihat hubungan Ayah dan Anak tersebut. Ah. Kesibukan si Ayah dan kesepian yang dialami si anak, butuh quality time dan pembicaraan yang baik agar keduanya bisa saling memahami. Diam-diam mata gelap Uchiha Sasuke tampak sedih, kelakuan Boruto yang merajuk minta dilatih oleh Naruto, mengingatkan dia pada Sarada yang saat sarapan tadi pagi minta dilatih olehnya untuk persiapan ujian akhir besok. Namun Sasuke tegas menolak dengan alasan sibuk. Beruntung Sarada tidak meneriakinya—seperti Boruto meneriaki Naruto—dengan kata benci.

Naruto berdehem. Dia mencoba untuk bersikap biasa setelah 'insiden kecil' singkatnya dengan Boruto yang menginterupsi pembicaraan tadi, "Mari kita lanjutkan pembahasannya." Keempat orang dewasa itupun melanjutkan penting mereka.

Lima belas menit kemudian.

"Nanadaime-sama!" seorang shinobi muda berpangkat chunnin kembali menginterupsi pembicaraan penting empat ninja dari klan elit itu.

"Ada apa Tatsu?" Naruto mengernyit melihat ekspresi cemas berlebihan dari si chunnin muda.

"Dia kembali berulah dengan mencoret patung Hokage. Kita tidak bisa memperlihatkan ini pada pemimpin Negara yang akan berkunjung!"

Mengetahui apa yang dimaksud Tatsu, dengan cepat Naruto melompat turun dari kursi dan berlari menuju balkon. Mata birunya melotot ngeri melihat tulisan berukuran raksasa yang ditulis menggunakan cat berwarna hitam di gunung hokage, tepat di atas ukiran keenam patung kepala hokage.

NANADAIME PEMBOHONG. TAK TEPATI JANJI PADA ANAK.

Tulisan itu bergaris bawah dengan anak panah yang menunjuk tepat pada patung kepala milik Uzumaki Naruto. Seolah merasa kurang, pada pipi patung kepala Naruto dibubuhi sebuah tanda tangan lengkap dengan ikon smile milik Uzumaki Boruto.

"Borutooo~" geram Naruto sembari melompat jauh salah satu atap rumah penduduk. Kemudian melayang dari satu atap ke atap lain, dengan tujuan gunung Hokage. Dia ingin menangkap dan memberi pelajaran pada anaknya yang nakal.

.

.

"Apa Boruto sedang berdemo?" Nara Shikamaru mendengus geli melihat kelakuan anak Naruto. Dia bersama Kakashi, dan Sasuke sedang berada di balkon kantor Hokage, menonton kekacauan yang dibuat Boruto.

"Hn."

"Naruto seharusnya tidak perlu terlalu keras pada Boruto. Bukannya dia juga seperti itu waktu seumuran Boruto?" Kakashi menerawang, mengingat Naruto kecil yang dulu mencorat-coret patung kepala Hokage ketiga, untuk mengalihkan perhatian agar teman-temannya bisa membebaskan Yota, si bocah edotensei.

Shikamaru dan Sasuke sama-sama mengangguk setuju mendengar perkataan Kakashi,

.

.

Sementara itu Uchiha Sarada yang sedang berdiri bersama beberapa penduduk lain di kompleks pertokoan Konoha, sambil mendongak—menonton kekacauan yang dibuat Boruto, hanya bisa menggeleng saat matanya menangkap banyangan dua kepala pirang yang tampak 'berseteru' di atas gunung itu. Dia tahu siapa mereka … Nanadaime-sama dan putranya si payah Boruto.

"Dia benar-benar konyol," gumamnya pelan sembari melangkah pulang menuju rumah.

.

.

PART 1-D, FINISH.