Cast : YunJae and others
Disclaimer : the story is mine, cast belong to themselves
Genre : Romance, Hurt, Fluff, Action
Current mood : Heol….
Warning!
Yaoi/BoyXBoy, Typo(s), Delusi tingkat tinggi, Author Newbie, Gaje, No EYD, No Bash, No Flame, No War, No Money, Don't like don't bash it 〆(・∀・@)
.
.
Dua
© Red Taby
.
.
.
.
Jaejoong POV
.
"Aku akan menikah dengan namja Jung itu hanya dengan satu syarat"
"Katakan…"
"Aku ingin kau melepaskanku dan Junsu"
"Baik. Aku akan melepaskan kalian berdua jika kau berhasil membunuh Jung Yunho"
"….."
"Aku akan melakukanya"
.
Hah….hah…hah….
Namja keparat ini memang tidak punya hati.
Dia tetap menggagahiku meskipun keadaanku seperti ini. Wajahnya sama sekali tak terbaca. Namun dari deru nafasnya yang memburu dan suhu tubuhnya yang semakin panas, aku tahu dia sedang menikmati apa yang tengah dilakukanya saat ini.
Kepalaku serasa berputar.
Tubuhku remuk.
Rasa sakit sudah lama sekali tak pernah kurasakan kini kembali datang.
Banyak orang bilang sebelum ajal menjemputmu biasanya kenangan sepanjang hidup akan muncul kembali seperti rol film yang otomatis berputar. Aku merasakannya sekarang.
Masa kecilku yang penuh rasa sakit, masa remaja yang kulalui dengan menjadi budak bagi orang lain, dan tentu saja secuil kebahagiaan bersama keluarga kecilku di masa dulu.
Apakah ajalku sudah dekat?
Aku sudah siap dengan semuanya….namun satu hal yang masih membuatku bimbang.
Junsu….
Satu-satunya orang yang kusayangi saat ini.
Siapa yang akan menjaganya jika aku tak ada?
Maafkan aku…
Aku tidak bisa menepati janjiku padamu.
Mungkin kita akan bertemu lagi suatu saat nanti di kehidupan yang akan datang.
Hyung menyayangimu Junsu-ah…
.
.
.
.
.
Plek
Namja cantik itu akhirnya kehilangan kesadaranya setelah beberapa jam berjuang untuk tetap sadar. Yunho memandang wajah pucat Jaejoong dengan datar. Dia tetap melanjutkan pekerjaanya dan menumpahkan benihnya di dalam tubuh namja berkulit putih bersih itu.
Tubuh besarnya beranjak dari tempat tidur dan berjalan pelan mengambil kimononya yang berserakan di lantai. Yunho memakainya kembali dan berdiri tepat di samping tubuh ramping Jaejoong yang terkulai lemah di pinggir ranjang. Mata musang Yunho menelusuri setiap lekuk tubuh namja cantik itu dengan tatapan yang sulit dijabarkan.
Srak
Yunho mencabut pisau kecil yang sedari tadi menancap di paha mulus Jaejoong menyebabkan pemiliknya merintih pelan di dalam tidurnya. Yunho lantas merobek sprei yang sudah tidak karuan bentuknya dan mengikatnya di paha Jaejoong. Namja tampan itu kembali terdiam memandangi sosok cantik yang terlihat menyedihkan itu tanpa mau bergerak sedikitpun.
Tangan besarnya menelusuri pipi tirus Jaejoong dan mengusap lelehan air mata yang menetes pelan tanpa disadari oleh pemiliknya. Namja cantik itu menangis dalam tidurnya.
"Sakitkah?"
Yunho berbicara entah pada siapa.
Yakuza tampan itu meraih telepon genggamnya kemudian menghubungi seseorang.
"Panggilkan dokter"
.
.
.
.
.
"Kau benar-benar gila Jung Yunho!"
Yeoja bertubuh mungil itu melotot pada namja bermata musang yang sama sekali terlihat cuek dengan wajah tanpa dosa. Dokter cantik itu mulai membersihkan luka-luka namja cantik yang dia yakini adalah istri sah sahabatnya itu dengan pandangan miris. Bagaimana bisa namja musang itu memperlakukan istrinya sendiri seperti ini?
"Lebih baik kau menjadi perjaka tua jika kau memperlakukan istrimu seperti ini. Tidak usah menikah selamanya! Demi Tuhan Jung Yunho! Namja secantik ini…apa yang kau lakukan padanya?!"
"Ck. Jangan terkecoh oleh parasnya, namja itu hampir saja membunuhku Ayumi-chan" Yunho menghisap cerutunya kemudian menghembuskanya pelan.
"Nani? Namja i-ini ingin membunuhmu? Tapi…dia terlihat rapuh dan tubuhnya begitu ramping…"
"Ya...kepalaku bocor karenanya" Yunho membiarkan Yoochun mengobati beberapa luka ditubuhnya.
"Ya Tuhan….kau mendapatkan istri yang unik Yunho-san" Ayumi memberikan cengiranya yang khas.
Yunho mendengus keras ketika mendengar pujian dari sahabatnya. Namja tampan itu memandang wajah istri cantiknya yang terlihat pucat seolah tak bernyawa.
'Kita lihat saja…'
.
.
.
.
.
Sudah empat hari lamanya namja cantik itu tak sadarkan diri. Dia terlalu banyak kehilangan darah sehingga menyebabkan proses penyembuhanya berjalan dengan lambat. Namun dengan kegigihan dokter Ayumi dan dibantu dengan ramuan turun temurun yang sudah disiapkan, keadaan namja cantik itu semakin membaik. Setelah menunggu selama seminggu penuh, namja cantik itu akhirnya tersadar dari tidur panjangnya.
"Ugh…"
Jaejoong memegangi kepalanya yang berdenyut-denyut sakit. Pandangan matanya masih sedikit kabur. Namja cantik itu mengurungkan niatnya untuk bangun dan memilih untuk merebahkan tubuhnya kembali. Tanganya meraba beberapa bagian tubuhnya yang diperban.
"Aku masih hidup…"
Mata bulatnya meneliti ruangan tempatnya berada. Bukan kamarnya yang dahulu diperkenalkan untuknya melainkan sebuah ruangan khusus dengan nuansa putih yang hampa. Tidak ada barang lain disana selain tempat tidurnya dan sebuah sofa yang juga berwarna putih di pojok ruangan. Jaejoong meraba permukaan dinding yang ada di sampingnya dan menemukan bahwa dinding itu telah dilapisi spon busa. Ruangan apa ini?
"Oh sudah bangun rupanya"
DEG
Jaejoong sontak menolehkan kepalanya ke arah suara berat itu berasal. Dia menemukan seorang namja dengan seringai menyebalkan tengah berjalan ke arahnya dengan sebuah nampan berisi makanan. Namja bertubuh kekar itu kemudian duduk di sampingnya dan menyuguhkan piring berisi makanan yang dibawanya ke arah Jaejoong.
"Makanlah"
Jaejoong memandang tajam namja tampan itu tanpa ada niatan untuk menerima makanan yang disodorkan kepadanya.
"Kenapa kau tidak membunuhku?"
Yunho sedikit terkejut ketika istri pendiamnya itu tiba-tiba bersuara. Mata musangnya meneliti wajah rupawan namja cantik itu dan tersenyum remeh.
"Tidak secepat itu sayang…."
Yunho tersenyum lembut dengan wajah yang mengerikan.
"Tubuhmu yang ketat itu terlalu nikmat untuk disia-siakan. Aku akan membiarkanmu hidup sebentar lagi untuk melayaniku hingga aku puas. Dan setelah aku bosan….baru aku membunuhmu. Atau jika kau beruntung….."
"Aku akan memberikanmu pada yakuza lain sebagai simpanan atau mungkin anak buahku mau menerimamu sebagai simpanan mereka-"
PLAKKK!
Wajah tampan Yunho terhempas ke samping. Namja musang itu merasakan panas dipipinya ketika Jaejoong menghantamkan telapak tanganya dengan keras. Dia melihat wajah isterinya yang memandangnya penuh kebencian. Yunho kembali tertawa remeh dan meletakan nampan makanan yang dibawanya di atas sofa yang ada di pojok ruangan.
Hah….
"Sepertinya kau sudah cukup sehat untuk membuat bibirku kembali berdarah sayang…"
Yunho membuka jas hitam yang dipakainya dan juga kemeja putih yang membungkus tubuh kekarnya dengan lambat, sengaja mempertontonkan ototnya yang terlihat keras. Namja tampan itu melemparkan jasnya ke sembarang arah kemudian menyeringai ke arah Jaejoong.
"Should we play?"
.
.
.
.
"Ahh!"
Namja tampan itu ambruk di atas tubuh mungil istrinya ketika kenikmatan itu mengalir di seluruh tubuhnya. Hidung mancungnya mengendus leher jenjang istrinya dan menyesapnya lembut menghasilkan tanda merah yang menonjol di kulit putih istrinya. Yunho tersenyum puas.
Mata musangnya melirik wajah cantik Jaejoong yang basah dengan keringat dan terlihat letih. Bibir hatinya mencoba mencium bibir cherry istrinya namun Jaejoong yang geram menggigit bibirnya hingga berdarah kembali.
'Damn! Kucing sialan!'
Yunho mengumpat dalam hati. Namja tampan itu mencabut kejantananya dari tubuh Jaejoong dan memakai bajunya kembali. Perhatianya masih tertuju pada tubuh ramping istrinya yang terkulai lemah tak berdaya di atas ranjang.
"Jangan berpikir untuk bunuh diri karena kau tidak akan mampu melakukanya. Kamar ini sudah dibuat khusus agar kau tidak mampu melakukan hal yang berbahaya. Makan makananmu dan terimalah nasibmu dengan lapang dada" Yunho mengusap kasar darah yang ada di bibirnya.
"Setidaknya kau masih beruntung bisa menikmati tubuhku sedangkan banyak orang lain yang rela mati namun tidak bisa merasakanya" Yunho menyeringai melihat mata bulat istrinya berkilat tajam.
"Baiklah. Aku akan mengunjungimu lagi nanti"
Yunho tersenyum remeh ke arah Jaejoong kemudian melenggang pergi meninggalkan ruangan itu dengan senyum kemenangan di bibirnya.
.
.
.
.
Tiga hari berlalu….
Para maid yang ada di kediaman Jung itu mulai ketakutan saat mendengar bahwa tuan mereka akan segera datang dari China. Yunho tengah melakukan kunjungan ke negeri panda tersebut untuk agenda jual beli kokain senilai milyaran dollar.
Lalu apa yang membuat para maid itu ketakutan?
"Aduh…bagaimana ini?" salah satu maid itu menggigiti kukunya gelisah.
"Ahh…kita akan kehilangan kepala kita jika Yunho-sama mengetahui semuanya!"
Kedua maid itu saling berpelukan dan menangis tersedu di pundak masing-masing. Satu hal yang membuat mereka ketakutan. Isteri cantik tuanya itu sama sekali tidak mau makan.
Jaejoong menolak semua jenis makanan yang dibawakan oleh para maid dan mengusir mereka keluar. Sudah tiga hari ini namja cantik itu tidak makan. Tubuhnya semakin melemah dan pucat. Orang-orang yang ditugaskan untuk merawatnya sudah mencoba untuk memaksanya namun malah menuai hasil yang mengerikan. Namja cantik itu mengamuk dan menusuk salah satu anak buah Yunho dengan garpu.
"Apa yang kalian lakukan?"
Deg
"…."
.
.
.
.
.
Brakk
"Bangun!"
Yunho berjalan cepat menuju tempat tidur Jaejoong dan menarik lengan namja cantik itu tapi tubuhnya terlalu lemas untuk bergerak. Yunho berdecak tidak suka ketika melihat wajah isterinya yang pucat pasi. Bibir mungilnya yang biasanya berwarna semerah camellia kini terlihat pucat dan kering. Mata bulatnya terlihat kosong dan dikelilingi dengan lingkaran hitam.
"Kau benar-benar ingin mati eoh?" desis Yunho geram
"…."
Jaejoong tidak mengucapkan sepatah katapun dan memandang suaminya itu dengan pandangan dingin. Namja cantik itu tidak akan mengalah begitu saja pada namja sialan itu. Dia tidak takut dengan apapun, meski dengan Jung Yunho sekalipun.
"Kemarilah!"
Yunho mengayunkan tanganya pada salah seorang maid yang tengah memandangnya ketakutan. Yeoja berpakaian hitam putih itu akhirnya berjalan dengan kaki bergetar menuju ke arahnya. Yunho yang kalap langsung menarik kerah baju yeoja malang itu hingga dirinya terjatuh ke lantai.
Cklak
"Kyaaa"
Maid-maid lain menjerit ketakutan ketika Yunho mulai menarik senapan miliknya dan menodongkanya di kepala yeoja itu.
"Lihatlah dengan jelas akibat kelakuan sombongmu itu…sebuah nyawa akan melayang sia-sia…"
Mata musang Yunho berkilat menakutkan. Wajah tampanya berubah bengis tanpa belas kasihan.
Jaejoong masih dengan muka esnya, menatap Yunho dengan pandangan datar. Namja cantik itu melirik wajah ketakutan maid tak bersalah itu dengan pandangan yang tak kalah dingin. Mata rusanya dengan berani memandang balik ke arah Yunho. Namja cantik itu seolah menantang Yunho untuk melakukanya.
Yunho tersenyum sadis.
"HA HA HA HA" namja tampan itu tertawa lepas dengan nada yang mengerikan.
Maid-maid yang ada di ruangan itu mulai terisak menyesali nasib teman mereka yang menyedihkan dan mengutuk sikap Jaejoong yang tidak punya belas kasihan. Anak buah Yunho yang lain tidak berani berkutik. Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Selama ini tidak ada orang yang berani membantah boss mereka. Semuanya selalu tunduk pada perintahnya atau kejadian mengerikan akan menimpa mereka.
Yunho menghentikan tawanya dan kembali menyeringai pada sosok isteri cantiknya. Namja tampan itu memanggil salah satu anak buahnya yang kemudian membawa seorang namja lain bersamanya.
"Tidak! lepaskan aku! Hiks..hiks…tolong!"
Deg
Namja bertubuh gembul itu meronta dari cengkeraman Yoochun dan menangis keras. Dia sangat ketakutan. Mata sipitnya bergerak liar mencoba mencari jalan keluar. Saat dirinya menemukan sosok lain yang begitu dirindukanya.
"Hyung!"
"Jaejoong hyung!"
Namja cantik itu merasakan dunianya seolah runtuh seketika.
Yoochun menundukan tubuh namja itu di kaki boss-nya kemudian berjalan menjauh. Yunho meraih surai namja berwajah imut itu dan ganti menodongkan pistolnya ke lehernya. Jemarinya bersiap menarik pelatuknya kapanpun dia siap.
"Hiks…h-hyung…."
Mata bulat Jaejoong terasa panas. Namja cantik itu menggigit bibirnya dengan keras.
.
.
"Junsu…"
.
.
Bersambung…..
