Chapter 2: Beginning

The Rings, The Vows and The Falsehoods

Park Jimin, 24 y.o (Male)

Min Yoongi, 18 y.o (Female)

Jeon Jungkook, 24 y.o (Female)

(Tokoh akan bertambah seiring berjalannya cerita)

Switch gender, Romance.

Rated: sesuai kondisi aja lol

YoonMin / MinGa / MinYoon, slightly JiKook, BTS, Bangtan Boys, Bangtan Seonyeondan.

WARNING: bahasa non-baku

Ceritanya di chapter ini lagi flashback dari chapter sebelumnya.

Jangan kaget kalo lebih banyak momen JiKook dulu dibandingkan YoonMin LOL

Semoga gak bingung XD

.

FF ini murni hasil imajinasi Ore!

Happy reading!

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Uap panas mengepul di atas cangkir porselin berisikan teh hangat pekat. Seorang pelayan paruh baya membawanya dengan nampan persegi panjang kecil bersama semangkuk bubur untuk dibawa ke ruangan di lantai dua, kamar majikannya.

Perlahan ia mendorong pintu kamar yang tak terkunci tersebut dengan bahu kirinya. "Nyonya Park, makan siang untuk anda." Sahut pelayan itu, Bibi Han, ketika melihat majikannya sudah terduduk dan bersender di tempat tidurnya. Majikannya yang melihat pelayan setianya masuk membalas dengan senyuman lemah. "Terima kasih."

Bibi Han menghembuskan nafas pelan. Ia menaruh nampan dan isinya ke meja kecil di samping ranjang dan kemudian ia duduk di sisi ranjang tersebut untuk mengelus pelan tangan penuh kerutan milik majikannya yang terlihat lesu karena sakit yang dideritanya kini.

"Tenang saja. Hanya pusing biasa karena kelelahan bekerja. Mungkin sudah saatnya saya pensiun hahaha" Sergah Nyonya Park riang walaupun wajahnya pucat. Kerutan di matanya semakin timbul. Bibi Han hanya bisa menggeleng senyum mengetahui bahwa Nyonya Park -yang lebih tua 5 tahun di atasnya- masih saja berdalih layaknya anak muda padahal tubuhnya sudah tidak bisa sekuat dulu.

"Omong-omong.. Anak itu dimana ya?" tanya Nyonya Park tiba-tiba.

"Siapa maksud anda? Tuan Jimin?"

"Memangnya saya punya anak yang mana lagi?"

"Ah, ya.. hanya Tuan Jimin.." kekeh Bibi Han lalu ia meneruskan perkataannya "Tuan muda masih di kantor mengurus hal yang biasanya Nyonya lakukan katanya.."

"hmm" Nyonya Park memegang dagunya dan mengangguk mengerti. "Baguslah. Bocah itu memang serius, ya."

Perbincangan kecil itu terpaksa berhenti karena Nyonya Park merasakan pusing meneror kepalanya kembali. Bibi Han cepat-cepat memberikan teh hangat untuk diminum majikannya agar ia tenang. Pelayan setia itu kemudian membawa punggung majikannya tertidur di ranjangnya dan menyelimuti anggota tubuh bagian bawah nyonyanya lalu memijatnya.

"Sudah tak apa, nyonya?" Nyonya Park hanya menampakan senyum lemahnya dan mengangguk kecil. Setelah dirasa Nyonya Park sedikit tenang, Bibi Han pamit untuk kembali ke dapur.

"Jika Jimin datang, tolong katakan bahwa saya ingin berbicara dengannya."

"Baik, Nyonya. Istirahatlah yang cukup. Dan jangan terlalu memaksa untuk berkerja lagi." kemudian Bibi Han menutup pelan pintu kamar tersebut.

.

.

Gedung-gedung pencakar langit berdiri kokoh di setiap jalan utama di wilayah perkantoran ibu kota Seoul. Di salah satu gedung-gedung yang menjulang tinggi itu terdapat seorang lelaki muda duduk di kursi putar hitam yang sedang berkutat dengan pekerjaannya. Dasi merahnya ia kendorkan karena ia mulai merasa pengap. Rambut hitam legam yang tadi pagi ia sisir rapih ke belakang, kini mulai terlihat berantakan yang membuat poninya jatuh di depan dahinya. Jasnya pun sudah ia lempar di sembarang tempat di ruang kerjanya ini.

"Akhirnya selesai juga." lelaki itu, Park Jimin, bersiul puas akan tumpukan kerjaannya yang sudah ia selesaikan hari ini. Sudah seminggu lebih 4 hari Jimin sibuk di kantor karena menggantikan sementara ibu Jimin sebagai CEO perusahaannya. Punggungnya yang lelah ia renggangkan di sandaran pada kursi putar. Ia melirik jam dinding digital di meja kerjanya. Jam itu menunjukkan pukul 19.12 KST.

Drrrtt.

Terdengar suara getar dari ponsel Jimin yang disenyapkan. Layar ponsel tersebut berkedip-kedip, sebuah pesan teks masuk.

From: Kookie

To: Me

Jiminieeeee. Knp kau lama sekali? Aku sdh setengah jam lebih berada di cafe hny untuk menunggumu : cptlah datang!

Aku rindu padamu.

Jimin terkekeh membaca pesan teks yang ia terima barusan. Hati Jimin menghangat saat membaca kalimat terakhir pesan tersebut. Dengan cepat ia membalasnya,

From: Me

To: Kookie

Tunggu sbntr lagi, sedang bersiap-siap menujumu~

I miss you, too, my Kookie.

Kemudian Jimin merapihkan mejanya dengan cepat, mengambil jas yang ia lempar ke lantai juga tasnya dan bergegas ke parkiran basement mengambil mobilnya untuk menuju sang kekasih, Jeon Jungkook, yang telah menunggu di cafe.

Drrrtt.

Sebuah pesan baru masuk ke ponselnya yang berada di kantung baju Jimin. Di layar tersebut tertulis 'From: Ibu'

.

.

"Jadi cuma jemput terus mengantar pulang sampai rumah saja, nih?" Bibir Jungkook mengerucut sebal. Dengan jengkel, Jungkook masih bertahan duduk di kursi samping Jimin dan kedua tangan Jungkook terlipat.

Ya, mobil Jimin kini sudah berada tepat di depan rumah Jungkook. Setelah menjemputnya di depan cafe tadi, Jimin mengemudikan mobilnya langsung menuju rumah Jungkook untuk mengantarnya pulang. Jimin meringis. Sepintas ia melirik jam di dasbornya, pukul 19.56 KST.

"Maafkan aku, Kookie.." Jimin memegang kedua bahu Jungkook dan memutarnya agar wajah kekasihnya itu berhadapan dengannya. Mata Jungkook kini sejajar dengan tatapan Jimin.

"Tapi, kan kita sudah hampir dua minggu tidak bertemu.." akhirnya Jungkook mengendurkan pertahanannya. Entah kenapa, ia memang lemah dengan tatapan Jimin.

"Aku tahu, maafkan aku. Ibuku sakit, dan ia mengirimiku pesan agar pulang cepat sekarang.." Sesal Jimin pada Jungkook. "Maaf, hari ini juga aku tidak bisa berlama-lama denganmu."

Jungkook terlihat berfikir sebentar seraya menatap pada wajah Jimin yang penuh sesal, lalu menghelas nafas. Kedua tangannya yang tadi terlipat kini menopang wajah Jimin, mengelusnya dengan sayang.

"Iya, deh, dimaafin.." Jungkook mengalah dari egonya. Jimin yang merasa diterima permintaan maafnya tersebut menarik kedua sudut bibirnya. Tangan Jimin membawa telapak tangan Jungkook ke depan bibirnya dan dikecupnya ringan membuat hati Jungkook berdetak sedikit lebih cepat.

"Terima kasih, Kookie.." Jimin terus menaruh tangkupan telapak tangan kekasihnya pada pipinya, merasakan hangatnya sentuhan jemari kekasihnya itu.

Wajah Jungkook merona ketika Jimin menarik tubuhnya lebih dekat ke tubuh Jimin, menyisakan sedikit jarak yang hanya sejengkalpun tak ada. Hembusan nafas Jimin menerpa pipinya yang merah padam.

"Aku rindu padamu, Kookie. Sangat." bisik Jimin seraya menghirup aroma tubuh Jungkook di belakang telinganya yang membuat Jungkook sedikit menggeliat. Jimin kembali menatap mata Jungkook dan menghilangkan jarak kedua bibirnya dan bibir Jungkook. Jimin mencium mesra bibir manis milik kekasih cantik tersebut dan melumatnya kecil.

"Aku juga merindukanmu, Jimin" Jungkook mengalungkan lengannya di leher Jimin dan menekan tengkuknya agar lebih memperketat ciumannya.

Ciuman itu berlangsung beberapa menit. Setelah keduanya telah kehabisan nafas, mereka melepaskannya. Kening Jimin menempel pada kening Jungkook.

"Aku pergi dulu, ya?" Jungkook mengangguk mengiyakan pertanyaan Jimin. Kekasih Jimin tersebut mengecup ringan bibir Jimin kembali. Ia lalu membuka pintu mobil untuk turun. Jimin pun terus bergegas menstarter mobilnya dan melaju pergi setelah melihat lambaian terakhir dari Jungkook yang sudah masuk ke dalam rumahnya.

.

.

Jungkook tak lagi dapat menahan airmatanya yang sedari tadi ditahannya saat bersama Jimin. Ia bingung bagaimana mengungkapkannya di hadapan Jimin, kekasih yang dikencani selama 4 tahun. Ia tak dapat menduga bahwa hal ini akan terjadi pada dirinya dan Jimin... berpisah dengan jarak yang sangat jauh.

Ya, karya lukisnya yang memenangkan sebuah perlombaan telah membawanya untuk terbang ke kota Paris dengan kurun waktu yang tak bisa ditentukan.

Sebenarnya itu yang ingin Jungkook bicarakan kepada Jimin hari ini. Namun sayang, waktu tak sedang tidak berpihak padanya.

.

.

"Ibu gimana keadaannya, bi?" Tanya Jimin terdengar sedikit khawatir kepada bibi Han sesaat setelah ia turun dari sedan merahnya.

"Tadi siang nyonya masih diserang rasa sakit di kepala, tuan muda. Tapi keadaannya sudah mulai membaik." Ucap pelayan paruh baya itu seraya membawa jas dan tas Jimin. "Oh, ya, tuan. Nyonya sedang menunggu anda di kamarnya."

"Oke, aku akan ke sana setelah mandi dan berganti pakaian."

.

.

tok tok

"Masuklah, Jimin."

"Kok, ibu tahu ini aku?" Terlihat cengiran khas Jimin setelah ia membuka pintu kamar ibunya.

Ibunya terduduk di senderan ranjangnya, membenarkan letak kacamata di hidungnya. "Kan ibu yang nunggu kamu dari tadi. Ya sudah pasti itu kamu yang datang. Cepat duduk di kursi ini." Jimin berjalan menuju kursi di samping tempat tidur ibunya.

"Ibu sehat?"

"Ya, syukurlah rasa sakitnya sudah jauh berkurang." jawab ibu Jimin ringan tanpa menoleh ke Jimin sedikit pun. Ia sedang sibuk dengan ponselnya. Sepertinya sehabis menerima telepon. Jimin menyinyir.

"Jadi langsung saja ya," ibu Jimin melepas kacamata dan memberikannya kepada Jimin untuk menaruhnya di meja. "Ibu mau pensiun. Kamu bisa tidak ibu kasih kepercayaan megang perusahaan almarhum ayahmu?"

Pergerakan Jimin untuk sesaat membeku. Akhirnya? Ibu percaya padaku? Batin Jimin terkejut.

"Melihatmu beberapa bulan ini serius menjalankan tugas di kantor dan juga dua minggu ini menggantikan ibu.. tanpa mengeluh sedikit pun, mungkin sudah waktunya ibu pensiun." ibu Jimin melanjutkan.

Tak bisa dipungkiri betapa bahagianya Jimin ketika mimpinya untuk membangun perusahaan ayahnya yang sudah tiada kini akan terwujud. Jimin terbangun dari kursinya, buru-buru memeluk ibunya erat dan tersenyum bahagia. Ia menggumamkan kalimat 'terima kasih, aku akan bekerja keras!' berkali-kali. Ibu Jimin sampai ikut larut dalam kebahagiaan anak semata wayangnya, mengelus pelan punggung lebar Jimin.

Oh, tiba-tiba Ibu Jimin teringat sesuatu. Ia melepas eratan Jimin.

"Tapi, ibu punya satu syarat. Kamu tahu kan ibu kalau melakukan sesuatu pasti sampai akhirnya pun ibu harus melakukan yang terbaik."

Jimin mengerjapkan matanya bingung. Ia hanya mengangguk dan terduduk di ranjang ibunya.

"Ibu ingin semua kewajiban ibu untuk kamu langsung tuntas ketika kamu sudah diberikan kepercayaan membawa Park Comp di pundakmu.." Ibu Jimin menaruh telapak tangannya di ubun-ubun Jimin. "Salah satunya, mengantar kamu ke pernikahan dengan mempelai yang sesuai."

Tik. Mata jimin mengerjap tak paham.

Tik. Mata jimin melebar.

Tik. Seketika jimin sadar apa yang barusan ibu ucapkan.

"PERNIKAHAN?"

Ibu Jimin menutup telinga kirinya mendengar teriakan Jimin di sampingnya. "Duh, nak. Tidak usah berteriak seperti itu." Tunggu. Ini—sungguh!—di luar pikiran yang selama ini ada di otak Jimin!

"Ibu sudah punya calon yang cantik untukmu, loh, Jimin hehe" senyum ibu Jimin terkembang lebar. CALON?! teriak Jimin di dalam hati. Jimin membelalakan matanya.

"Namanya..."

"WAIT, BU." Akhirnya Jimin bersuara setelah sadar dari keterkagetannya. Jarinya memijat pelipisnya yang berdenyut.

Sang ibu terdiam, terlihat sedikit jengkel karena kalimatnya yang belum tuntas dipotong begitu saja oleh anaknya.

"Bu.. oke, pernikahan." demi Tuhan aku masih tak percaya. "Aku menerima itu sebagai syarat, tetapi bisakah calonnya aku yang menentukan?"

Ibu Jimin mengernyitkan alisnya, tak setuju dengan hal yang diutarakan anaknya.

"Kamu sudah punya kekasih?" tanya ibunya kemudian. Jimin mengangguk mantap.

"Benar, bu... Dia seumuran denganku, namanya Jeon Jungkook. Kami sudah mulai berpacaran semenjak di bangku perkuliahaan.."

Ibu Jimin menopang dagunya dengan tangan kanan. Ia terdiam menimbang-nimbang perkataan Jimin barusan. Jimin menatap ibunya dengan melas meminta permohonannya terkabul. Keadaan menjadi hening.

Kenapa sih ibunya selalu bertingkah untuk mengejutkan jantungnya? Jimin mengeluh.

"Ya, sudah. Besok." Ceplos ibu Jimin memecah keheningan.

"Besok?"

"Iya, besok lamar dia. Ibu tunggu jawabannya, ya."

Tuh, kan, Tuhan.. If she wasn't my beloved mother, I would leave her right now. Jimin masih tercengang.

"Jawabannya mana? Mau punya Jimin apa punya Ibu saja?"

"Iya, bu. Besok Jimin akan melamarnya.." Jawab Jimin lemas. Kok, pernikahan jadi seperti hal yang sepele?

"Semoga diterima, ya, anakku. Nah sekarang kau sekarang boleh kembali ke kamar. Selamat tidur." Ibu Jimin menarik selimutnya sampai leher, mematikan dan menyalakan lampu tidur dari sebuah remote control. Kemudian ia menutup matanya.

Jimin berjalan lesu meninggalan ibunya yang sudah tertidur pulas. Ia keluar dari kamar tersebut menuju kamar tidur miliknya. "Apanya yang sakit. Semangat gitu." Cibir Jimin pelan. Dan tadi apa? 'Semoga diterima'?! Sudah pasti Kookie-ku akan menerimanya! Huh. Ibunya benar-benar meremehkannya.

Jimin melempar tubuhnya di atas kasur besarnya kemudian ia membuka ponselnya dan mengetik pesan kepada Jungkook.

Besok pny waktu untuk bertemu?

Ada hal yg perlu ku bicarakan dgnmu. Keke

Beberapa saat, Jungkook membalas dengan cepat.

Apa itu? Besok bs, kok.

Aku jg ingin bicara sesuatu dgnmu. Di cafe biasa.

Jimin membalas kembali,

Rahasia! keke ok, sampai bertemu besok, Kookie-ku.

Good night!

Lalu Jimin pun tertidur dengan mimpi indah yang menggambarkan adegan Kookie menerima lamarannya.

.

.

Langit sudah kembali terang. Burung-burung mulai berisik akan kicauannya. Udara dingin pagi ini menembus masuk dari sebuah jendela kamar di lantai dua, mengusik pemilik kamar tersebut. Terlihat seorang gadis sedang asik meringkuk di atas tempat tidurnya yang empuk nan hangat. Bukannya bangun, ia malah menarik lebih dalam selimut tebalnya. Uhh, dingin. Gumamnya pelan. Pelayannya-entah kapan ia datang-mengeleng melihat tingkah nona mudanya yang susah beranjak dari ranjangnya.

"Nona, lekas bangun."

"Unggg.." gumam nona itu malas.

"Nona cepat bangun. Kalau tidak, Tuan besar bisa marah-marah lagi."

"Nanti, ya. Please? Sebentar lagi.."

"Nona Yoongi.. Ku mohon.." Nona muda tersebut, yang bernama Min Yoongi, mengerang tak suka kegiatan tidurnya selalu diganggu oleh celotehan pelayan dan papanya. Ia terduduk kesal dan segera menapakkan kakinya ke lantai dan memakai sandal rumah berbentuk kelinci putih di bawah ranjangnya.

"Iya, nih, bangun.." Yoongi kemudian berjalan menuju kamar mandi. Pelayan itu memberikan sebuah handuk ke Yoongi untuk mengeringkan tubuhnya nanti. Sebelum Yoongi masuk ke kamar mandi di dalam kamar tidurnya tersebut, pelayannya sedikit berteriak "Nona, sekarang sudah pukul 7.10 dan anda masuk sekolah jam 7.30. Mandi secepat kilat, ya. Tentu kalau tidak ingin melewatkan sarapan pagi dan terlambat datang di sekolah."

"Demi, Tuhan, kenapa baru diingatkan sekarang sih?!" Lalu Yoongi cepat-cepat menutup pintu dan bergegas mandi, secepat yang dia mampu.

.

.

Yoongi menuruni tangga dan berjalan terburu-buru menuju ruang makan. Papa dan mamanya yang sudah duluan duduk meja makan hanya bisa mendengus melihat putrinya selalu terlihat dikejar waktu saat pagi hari.

"Kebiasaan." Cetus papanya dengan galak. "Anak perempuan, kok ada se-selebor kamu." Yoongi hanya bisa meringis mendengarnya. Yoongi tak ada waktu untuk mendebatkan sindiran ayahnya.

"Maaf, pa.." Yoongi menjejalkan roti ke mulut kecilnya dan mengunyah dengan cepat. Kemudian meminum setengah gelas susu vanilla yang sudah dibuatkan pelayannya. Setelah dirasa perutnya penuh, ia berpamitan kepada kedua orang tuanya untuk pergi ke sekolah.

"Aku berangkat. Bye, pa. Bye, ma" Gadis berkulit seputih susu tersebut berlari kecil seraya memakai converse merah di kakinya.

Dari tempat makan tadi, ayahnya tiba-tiba berteriak kepada Yoongi sudah berada di pintu keluar "Yoongi, nanti malam papa mau membahas perjodohanmu dengan anak teman papa. Pulang cepat ya!"

Hah, papa nyuruh apa? Suara papa kecil sekali, Yoongi menerka-nerka. Saat ia ingin kembali bertanya kepada papanya, Yoongi tersadar ia tidak memiliki waktu banyak untuk sampai ke sekolahnya tanpa telat.

"Iya, Pa!" jadilah jawaban sekenanya tanpa tahu apa yang tadi papanya sampaikan kepada gadis bersurai panjang yang dicat hitam kecoklatan itu. Tanpa tahu apa yang akan merubah kehidupannya nanti.

To Be Continued.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

HAIIII, I'M BACK. THANK YOU UDAH BACA FF ABAL ORE,

Maaf Ore lama update :

Untuk chapter ini, sengaja Ore ga ketemuin dulu Jimin sama Yoongi. Biar greget gitu.

Sekalian aja Ore kasih pembukaan kiss scene JiKook HAHAHA /kipas2/

Ore usahain update lebih cepet secepet dosen Ore kasih tugas :'D

(kalo readers mau ff ini berlanjut :'))

Kalo readers punya waktu banyak, boleh R&R nya ya hehehe buat masukan fanfic Ore ke depan biar tambah bagus dan tambah bikin seneng readers(?)

SEE YOU NEXT TIME!

(~^o^)~love~(^o^~)

Balasan buat yang non-login:

Minsunshine: hai halo kalo ga kenal ya kenalan dong XD ini udah dipanjangin dan aku jelasin sekilas Yoongi versi cewenya di atas ya :'D