Chapter 3: Like a hell I would cry
The Rings, The Vows and The Falsehoods
.
Main cast:
Park Jimin, 24 y.o (Male)
Min Yoongi, 18 y.o (Female)
Other cast:
Jeon Jungkook, 24 y.o (Female)
Jung Hoseok, 18 y.o (Female)
Kim Namjoon, 18 y.o (Male)
(Tokoh akan bertambah seiring berjalannya cerita)
Switch gender, Romance.
Rated: sesuai kondisi aja lol
YoonMin / MinGa / MinYoon
WARNING: bahasa baku dan non-baku dicampur.
.
Maaf janji kemaren mau update malah lupa -_- Nih aku kasih chapter panjang hahaha
.
FF ini murni bikinan Ore!
Happy Reading ;3
.
.
.
.
.
.
Cafetaria di Gedung sekolah Seoyeondan terlihat sedikit ramai. Waktu sudah memasuki jam makan siang. Kebisingan semakin terdengar dari hari-hari biasanya karena setiap meja cafetaria tersebut terisi segerombolan murid dari semua tingkatan sedang sibuk mengadakan rapat dadakan seraya mengisi perut mereka yang keroncongan. Dari semua diskusi-diskusi itu, ternyata mereka membicarakan tema yang sama; Festival Kesenian Seonyeondan ke-XX yang mulai mendekati harinya. Festival ini diadakan setelah Ujian Kenaikan Kelas berakhir.
Di salah satu meja panjang dekat deretan wastafel, duduklah siswi bersurai coklat melebihi bahunya dengan susu kotak rasa vanilla di tangannya, Min Yoongi.
Yoongi yang kala itu sedang bersama beberapa rekan yang menjadi anggota inti persiapan festival di kelasnya, membahas mengenai penampilan mereka untuk Festival Kesenian Seonyeondan.
"Presentase persiapan kita sudah berapa banyak ya untuk festival nanti?" lelaki bertubuh tegap itu—ketua kelas, Kim Namjoon—bertanya kepada Yoongi yang duduk di hadapannya. Yoongi membuka notes kecil yang dia ambil di saku blazer.
"Kostum sudah beres. Latar musik sudah selesai kubuat dengan bantuan Junhyung. Dekorasi tinggal beberapa saja sih sampai latar istana jadi, sempat berhenti soalnya seminggu kemarin kita kan ujian kenaikan." sigap Yoongi mengingat-ingat seraya membaca list di notesnya yang hampir semua sudah di centang merah. Namjoon dan keempat teman lainnya mengangguk tanda mengerti. Pemberitahuan saja, Yoongi adalah sekretaris kelas merangkap sekretaris anggota inti ini.
"Segera selesaikan ya, beritahu anak dekorasi."
"Oke." Yoongi menulis pengingat di notesnya.
"Dan.. Ada kesulitan untukmu, Yoongi?" tanya Namjoon kembali setelah mendengar progress persiapan kelasnya.
"Ada."
Namjoon memajukan wajahnya sedikit ke arah Yoongi. "Apa itu?"
Yoongi menghelas nafas sejenak, menjejalkan notesnya kembali ke saku blazer. Lalu ia merajuk seraya mengerucutkan bibir tipisnya dengan lucu, "Aku yang buat naskah.. aku yang bikin background music-nya.. terus kenapa aku juga yang jadi pemeran utama, sih?"
Semua temannya menahan tawa. Duh, kirain ada apa. Batin teman kelas Yoongi bersamaan. Kecuali Namjoon yang sudah terkekeh gemas melihat sahabat berkulit seputih susu tersebut pura-pura ngambek seraya memanyunkan ujung bibirnya.
"Karena cuma kamu yang cocok jadi putri Cinderella, Yoongi." ujar Namjoon tersenyum. Tangannya memangku kepalanya sendiri di meja.
"Kamu cantik, manusia serba bisa dan elegan. Cerdas lagi. Semacam bisa diandalkan istilahnya. Pas, kan, jadi seorang putri?" Celetuk salah seorang temannya, lalu melanjutkan "Tapi sayang, suka terlambat datang ke sekolah." Dan sukses ia mendapatkan cubitan kecil dari Yoongi yang sedikit malu karena ucapannya barusan. Terlebih lagi jangan ingatkan Yoongi yang susah datang tepat waktu ke sekolah, dong.
"Teman-temanku pintar gombal, ya." Sindir Yoongi sebal lalu disambut tawa geli dari lainnya.
Bel telah berbunyi. Cafetaria berangsur sepi. Yoongi beserta gerombolannya pun berhenti mengobrol, beranjak meninggalkan tempat tersebut menuju kelasnya. Tak lupa Yoongi membuang kotak susu yang tadi ia beli ke tempat sampah.
"Pulang sekolah jangan lupa ingatkan anak-anak di kelas untuk latihan drama ya." Namjoon berkata sesaat sebelum mereka masuk ke dalam kelas.
.
.
Di waktu yang sama, di siang hari yang semakin terik ini..
Jimin duduk termenung membelakangi meja kerja di ruang kantornya, menatap kosong jendela yang mengarah ke arah jalanan besar. Tangan kanan lelaki itu sibuk memutar-mutar benda kecil berbentuk lingkaran yang terbuat dari emas putih. Di bawah kursi kerjanya, tergeletak seikat bunga lily putih yang sudah sedikit layu. Jimin tak memperdulikannya sama sekali. Pikirannya masih melayang pada kejadian tadi pagi. Sampai sekarang masih dirasa menghujam hati dan akalnya...
flashback
Setelah percakapan aneh-yang menurut Jimin malah terkesan seperti mimpi-bersama Ibu tersayangnya semalam, Jimin memutuskan memberi kejutan kepada Jungkook berupa lamaran di rumahnya. Memang sih, Jungkook bilang temui dia saat di cafe saja. Tapi karena timing yang riskan sekarang, mau tak mau Jimin mempercepat geraknya. Takut kehilangan kesempatan katanya.
Jimin pagi-pagi sekali setelah meminum secangkir kopi berpamitan kepada ibunya. Meminta restunya agar ia dimudahkan dalam melamar kekasih berwajah imut seperti kelincinya tersebut.
"Good luck, anakku. Ibu tunggu kabar baiknya ya." Ibu Jimin mencium pipi anaknya dengan sayang, memberi hantaran semangat kepada anaknya. Jimin membalas senyum.
Jimin dengan gerakan cepat menuju garasi di mana mobil kesayangannya terparkir. Kemudian ia mengeluarkannya dan melaju cepat di jalanan.
Ia mampir sebentar ke toko bunga yang sudah buka saat pagi buta, membeli seikat bunga lily kesukaan kekasihnya. Jimin mencium sekilas bunga tersebut seraya bergumam dan tersenyum lembut, "semoga kau menyukainya, Kookie-ku."
Ia mengeluarkan kotak kecil persegi berwarna tosca dari saku celana dan membukanya. Ternyata itu adalah sebuah cincin. Jimin sebenarnya memang sudah berniat melamar Jungkook-lihat, sampai dia pun sudah membeli sebuah cincin untuknya, tapi tidak seterburu-buru ini. Tidak dengan timing seperti ini.
.
.
Mobil Jimin sudah berhenti di depan rumah Jungkook. Lelaki bermata sipit nan tegas itu dengan ragu turun dari mobilnya. Ia kemudian menutup pintu dan mengunci. Berjalan pelan menuju pintu rumah Jungkook dengan perut seolah-olah ada sebuah badai menerpanya.
Kini Jimin terdiam di depan pintu rumah Jungkook. Tangan kanannya memegang bunga lily dan tangan kirinya dimasukkan ke saku celana, memegang kotak cincin berwarna tosca tersebut.
Tanpa ada tanda-tanda, pintu di hadapan Jimin terbuka dan memperlihatkan pemiliknya. Jeon Jungkook. Keduanya mengerjap kaget.
"Jimin?" Tanya Jungkook kaget. Saking kagetnya, ia masih berdiri sembari memegang kenop pintu. Jungkook melirik bunga lily di tangan kanan kekasihnya berkemeja putih itu.
Jimin menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Eh.. hai, Jungkook."
"Ngapain kamu di sini pagi-pagi?"
"Ini aku.. ehm... SURPRISE!" Jimin dengan kikuk merentangkan kedua tangannya setelah memberi Jungkook seingat bunga lily. Jungkook masih terpaku di tempatnya hanya bisa menerima tanpa membantah. Jimin cepat-cepat menekuk kaki kirinya, berlutut. Ia merogoh saku celana dan mengeluarkan kotak tosca persegi tadi. Jimin tersenyum dengan sangat lembut.
"Maaf ini emang gak romantis.." Jimin berhenti sejenak untuk membuka kotak dengan gugup. Kemudian ia sodorkan ke hadapan Jungkook yang melihatnya dengan tatapan tak bisa digambarkan. "but, today I want to keep you in my side forever. Will you marry this stubborn man, my Kookie?"
Deg. Hati Jungkook seperti diremas. Ia mengigit pelan bibir bawahnya, matanya sudah tak bisa menahan lagi aliran airmata yang sejak tadi sudah menggenang. Jimin langsung kebingungan. Ada apa dengan jungkook? Dan Jimin baru tersadar, ada sebuah koper besar di belakang Jungkook dan serentetan barang-barang yang di packing dalam box.
"Jiminie.." isak Jungkook memeluk bunga lilynya yang ia kembalikan ke Jimin. "I.. I can't."
Seketika itu juga dunia Jimin seperti hilang cahayanya. Tubuhnya terduduk lemas di lantai. Barusan.. barusan Jungkook menolaknya?
"Why? I thought you would accept me." Jimin berkata sedikit bergetar.
"Aku harus pergi, Jimin."
"Kemana?"
"Sekolah seni di Paris."
What?! "Kenapa aku gak tahu?!"
"Hari ini, aku mau ngasih tahu kamu."
"Terus apa hubungannya kamu nolak aku sama kamu pergi ke Paris?" Jimin berdiri lalu memegang ke dua pundak Jungkook dengan kasar. Mencari-cari kebohongan yang ada pada perkataan Jungkook. Tapi nihil, inilah kenyataannya.
"Aku mau kita berakhir sampai sini saja, Jimin." isak Jungkook semakin keras. Muka Jimin kini berubah muram, paling muram di antara kehidupan kelam yang pernah ia jalani selama 24 tahun ini.
"Gak bisa." Tegas Jimin tak rela.
Jungkook menepis pegangan tangan Jimin di pundaknya lalu mengelus pipi Jimin sekilas, "Aku pergi gak tahu sampai kapan. Mungkin aku menetap di sana, hari ini juga aku berangkat."
Dada Jimin kembali seperti dijerat tali. Sesak. Kenapa perempuannya tega sekali membuatnya tak bisa bernafas dengan benar?
tin tin.
Taksi bandara datang mengklakson, Jimin menoleh kea rah suara tersebut. Di saat Jimin lengah, Jungkook membebaskan diri dari kekasihnya tanpa peduli sedikitpun pada Jimin yang membeku.
"I wish you happy without me. Please forget about us and so do I." Jungkook mengunci rumahnya. Ia menarik koper besar beserta dua box lainnya mendekati bagasi taksi tersebut dan dengan tersedu-sedu ia membuka pintu kursi penumpang.
"Pak, cepat jalan ke bandara ya."
Ketukan keras dari jendela mengagetkan Jungkook. Itu Jimin, sudah tersadar dari keterkejutannya. Mukanya merah padam antara menahan tangis dan amarahnya.
"JUNGKOOK KAMU GAK BISA SEPERTI INI SAMA AKU."
"JUNGKOOK, TOLONG BUKA PINTUNYA!" teriak Jimin frustasi dari luar. Jungkook menatap nanar Jimin yang masih memaksanya untuk turun.
"Jeon Jungkook.. This is my last chance. Please, open the door. I beg you." Ucap Jimin lirih yang sudah berkaca-kaca. Sungguh, Jungkook sebenarnya sangat tidak tega. Airmatanya kembali meleleh.
Gak bisa, inilah keputusan final-ku. Maafkan aku Jimin, aku tak bisa menyia-nyiakan kesempatanku di Paris. Aku tak bisa memilihmu. Batin Jungkook teriris.
"Gimana, non? Mau dilanjut saja apa temui pemuda itu dulu?"
Jungkook mengusap kasar airmata di pipinya dan dengan tegas nan mantap ia berkata, "Jalan Pak."
Taksi tersebut kemudian pergi, meninggalkan Jimin yang menatap perih seraya jalannya taksi tersebut menjauh darinya.
flashback ends.
Jimin menghembuskan nafasnya dengan berat. Lelaki tampan ini menampakkan senyum kecutnya saat teringat kejadian tadi pagi.
"PERSETAN DENGAN INI SEMUA." Dengan amarah yang memuncak, ia lemparkan cincin di tangannya, membuat cincin terpental entah ke mana. Jimin kemudian bangkit dari kursinya, mengambil bunga lily yang sempat ia berikan pada Jungkook dan membuangnya. Ia kini berkacak pinggang frustasi memandang bunga lily yang mengenaskan.
Intercom ruangan ini pun berbunyi. Dengan malas Jimin menerimanya.
"Ada apa?" Sekretarisnya mengernyit bingung di seberang sana. Tumben ketus, dalam hatinya.
"Ibu direktur datang, Pak."
Jimin memijit keningnya. Serangan kedua. "Suruh beliau masuk."
Segeralah pintu terbuka menampakkan wajah Ibu Jimin yang sudah tak terlihat pucat seperti kemarin. Ia sudah berpakaian resmi layaknya seorang direktur. Senyum menawannya menyapa Jimin.
"Hello, nak. Gimana sama.."
"Ditolak. Puas?" Ketus Jimin yang sudah malas berbasa-basi. Sudah letih hatinya hari ini.
Ibu Jimin terdiam. Kaget sebenarnya. Matanya menangkap raut wajah Jimin yang tak biasanya, terluka. Ia kemudian memeluk Jimin. Berusaha menenangkan hati anak semata wayangnya tersebut.
"Oh, dear.. I'm so sorry to hear that.." Ucap Ibu Jimin tulus. Tapi entah mengapa ia malah menghela nafas lega karena Jimin telah gagal melamar kekasihnya itu. Jahat, ya? Padahal Ibu Jimin sempat yakin Jimin berhasil 100% menjalankannya. Ah, Tuhan berkata lain.
Jimin membalas pelukannya dengan erat. Berusaha mengenyahkan pikirannya yang tertuju pada Jungkook.
"Jadi?" Ibu Jimin menggantung pertanyaannya.
"Jadi apa, bu?" tanya Jimin seraya melepas pelukannya.
"Ingat, kan, Park Jimin?" Jimin masih memasang wajah bingung.
"Kau sudah memakai kesempatan yang telah ibu berikan kepadamu. Kau sudah gagal dalam melamar perempuan yang—katanya—sangat kau cintai itu. Sesuai perjanjian, jika kau menginginkan perusahaan ayah di tanganmu, kau harus menikah terlebih dahulu... dan sekarang ibu yang menentukan siapa yang akan menjadi pendampingmu."
Jimin mendesah tak suka. Here we go. "Harus sekarang kah ibu ngomongin hal ini kepadaku?"
"Loh, kenapa tidak?" Ibu Jimin bertanya seolah itu hal lumrah.
"Ya tidak pas Jimin lagi seperti ini, dong. Ibu mengerti perasaan Jimin tidak, sih? Tolong, jangan seenaknya saja." Jimin menjauhkan dirinya dari ibunya. Amarahnya kembali naik.
Ibu Jimin menggeleng pelan. Ia sungguh mengerti anaknya, sungguh. Maka dari itu ia mencoba membuka hidup Jimin kembali dengan calon pilihannya.
"Sudahlah, nak. Cukup menunggu seseorang yang tidak bersedia hidup bersama denganmu. Datanglah ke festival kesenian Seonyeondan 4 hari lagi untuk bertemu perempuan yang ibu pilihkan. Ibu sayang kamu, loh. Tidak mungkin ibu asal memilih orang, Park Jimin. Siapa tahu dia memang jodohmu?"
Sebelum Ibu Jimin pergi meninggalkan anaknya yang masih dikuasai kemarahan, ia meninggalkan secarik kertas di atas meja kerja Jimin. Kemudian ia bersenandung rendah, menghilangkan diri di balik pintu ruangan Jimin.
Jimin menghembuskan nafasnya dengan kasar kembali. Ia mengambil secarik kertas yang tadi ibunya tinggalkan. Tiba-tiba Ia menatap geram kertas tersebut seakan ingin membakarnya dengan tatapannya yang tajam. Kira-kira begini isinya:
Min Yoongi
kelas 2 SMA Swasta Seonyeondan.
080-XXX-XXX
tolong ya Jimin anakku yang tersuper hubungi dia hari ini juga.
Sms atau tlp atau apalah terserah.
Kita mulai dari sini perjodohannya :)
fighting!
-sincerely, your mom-
.
.
Matahari tengah menenggelamkan dirinya seperti disedot masuk ke dalam permukaan bumi. Hari kini kian menggelap. Tapi tak memungkiri masih adanya aktifitas di sekolah Seonyeondan.
Kelas yang tertulis 2-2 dipenandanya masih terlihat ramai. Ada yang sibuk membuat atap kerucut untuk sebuah latar istana, menyusun kostum secara berurutan dan beberapa aktifitas lainnya dalam mempersiapkan sebuah festival yang diadakan kurang-lebih 4 hari lagi itu. Di sinilah Yoongi dan kawan-kawannya berkutat riuh.
Yoongi mengipas-ngipasi dirinya dengan kertas naskah drama yang dipegangnya. Karena ia sudah berlatih selama satu jam lebih, ia kini sudah mulai terkuras tenaganya. Datanglah Namjoon membawa sebotol air mineral dingin yang ditempelkan di pipi Yoongi. Pemilik pipi mulus tersebut sontak kaget akibat rasa dingin yang tiba-tiba nempel di pipinya. Namjoon terkekeh.
"Nih, minum dulu, putri." Namjoon menyodorkan minuman dingin itu. Yoongi mengambil dengan sebal.
"Huh, makasih ya pangeran. Makasih sudah mengagetkanku." kemudian Yoongi membuka penutup botolnya dan langsung meneguk setengah.
"Kok mendengus sebal sih sama lawan mainnya, putri? Pangeran sakit hati nih." Namjoon pura-pura terluka. Yoongi tertawa melihat mimik wajah ketua kelas sekaligus lawan mainnya di pentas drama ini.
"Apa deh pangeran-putri. Geli dengarnya, tahu. Cukup di drama saja, dong." Hoseok memutar matanya gemas melihat kelakuan kedua sahabatnya. Yoongi dan Namjoon hanya nyengir kuda saja mendengar ocehan Hoseok.
Hoseok adalah seorang perempuan cerewet dan gampang nangis. Namun ia adalah gambaran sahabat yang baik menurut Yoongi. Ada di saat-saat terburuk, menghibur di saat sedih dan tertawa bersama saat sedang bercanda.
Sedangkan Namjoon adalah seorang anak laki-laki yang berwibawa namun penuh humor. Tegas saat serius, melawak saat waktunya bergurau. Catat, ia sangat menjaga Yoongi dan Hoseok. Yoongi juga Hoseok kagum akan itu. Mereka dua bangga memiliki Namjoon sebagai sahabat di sisi mereka.
.
.
tringgg. tringgg. tringgg.
Notif pesan berbunyi dari sebuah ponsel yang tergeletak tak jauh dari tangan Hoseok. Ia lantas mengambil ponsel tersebut dan memberikannya kepada pemiliknya.
"Yoongi-ah, ada pesan." Yoongi mendongak mengambil ponsel yang disodorkan Hoseok lalu menggeserkan layar ponselnya cepat. "Thanks."
INBOX:
-Pak Supir: Nona, Tuan menyuruh anda segera pulang.
-Papa: Kpn pulang? Papa mau ngomong sm kamu, loh.
-081-2XX-XXX: Min Yoongi?
Yoongi menepuk keningnya pelan. Ia lupa akan janjinya dengan papa. Ia bergegas merapihan tas dan membenarkan tali sepatunya yang sempat terurai. Namjoon yang heran melihat Yoongi siap-siap pulang, kemudian bertanya "Ada apa?"
"Namjoonie, aku izin pulang duluan ya. Ada janji sama papa. Bye semua, sorry pulang duluan!" Yoongi berlari seraya melambaikan tangan kanannya ke arah isi kelasnya. Namjoon menggeleng tak habis pikir.
.
.
"Kan tadi pagi saya sudah ingetin nona Yoongi untuk pulang cepat." Ucap supir Yoongi seraya menyetir mobil majikannya di jalan raya. Ia melihat nona mudanya ngedumel sendiri.
"Iya, maaf pak supir. Yoongi lupa." Yoongi menyentuhkan keningnya dengan kaca jendela. Ia sudah mengetikan balasan sms papanya bahwa ia sedang dalam perjalan pulang. Ia terpejam sebentar dan melebarkan kembali matanya yang kecil itu.
Oh, iya tadi ada satu pesan lagi belumku baca.. Ia mengambil ponsel dari tas punggungnya dan menggeser layar untuk membuka kuncinya.
Uhm? dari 081-2XX-XXX? Tidak ada namanya? Apa orang iseng yang mengirimiku pesan teks berupa ketikan namaku? Ia kemudian membalasnya tanpa pikir panjang.
To: 081-2XX-XXX
Yup. It's me. Who's there?
Selang beberapa menit, orang asing itu membalasnya.
From: 081-2XX-XXX
Oh, thx God, it's really u.
Halo, aku Park Jimin.
Salam kenal, Yoongi.
Siapa Park Jimin? Yoongi mencari ke dalam memori otaknya untuk menemukan orang yang dia kenal bernama Park Jimin. Tapi Yoongi yakin, ia tak pernah mengenalnya. Ia membalas penasaran.
To: 081-2XX-XXX
Park Jimin?
Aku tak merasa mengenalmu?
But any way, salam kenal jg^^
Yoongi menekan tombol send. Tak ada 5 menit sekalipun, orang asing yang mengaku Park Jimin itu membalasnya. Cepat sekali sih, pikir Yoongi.
From: 081-2XX-XXX
Wah, kau belum diberitahu ya?
Let's wait and see.
Ih, sok misterius. Tidak usah dibalas lagi deh. Jadi ngeri. Yoongi yang bergidik melempar ponselnya ke jok samping. Pandangannya kini berpindah pada jalanan yang berbelok memasuki gerbang utama kawasan perumahannya.
.
.
Pukul 19.38 KST
Yoongi turun dari mobil membawa tas punggung dan ponsel di tangannya. Rambutnya ia kucir ke atas, menampakkan leher putihnya yang kepanasan. Ia berlari kecil ke pintu dalam garasi rumahnya yang langsung terhubung dengan dapur. Sebelum masuk, ia mencopot converse merah di kaki dan ia letakkan di lemari sepatu yang besar. Ia mengganti alas kaki dengan sandal rumah kelinci kesayangannya.
Pada dasarnya Yoongi itu orang yang mandiri, tertib dan suka kebersihan—kecuali bangun pagi, tentu—. Contohnya setiap sehabis pulang sekolah, ia pasti segera meletakkan sepatu di lemari lalu menyusunnya dengan rapih dan mencuci tangan sedatangnya di rumah. Satu lagi. Walaupun ada pelayan di rumahnya, ia lebih senang melakukan sesuatu tanpa bantuan mereka.
Sampai ketika Yoongi sudah selesai mencuci tangan dan naik ke kamarnya hendak memandikan tubuhnya yang lengket, papa dan mamanya memanggil nama Yoongi dari tempat duduk di balkon lantai dua yang menghadap kolam renang di halaman belakang. Yoongi mendengar sekilas debatan mama dan papanya. Kenapa?
"Yoongi, kemari." Ajak sang mama untuk duduk di lengan kursi itu bersamanya. Yoongi nurut saja.
"Papa mau jodohin kamu sama anak temen papa." Papa berbicara langsung pada intinya tanpa basa-basi. Khas papa Yoongi banget. Yang sontak membuat Yoongi yang baru saja duduk memiringkan kepalanya. Perjodohan?
Mama Yoongi mengelus punggung anaknya, berdesis pelan tak setuju atas keputusan suaminya. Bagaimana ingin setuju. Yoongi berumur 18 tahun, sedang kan calonnya? 24 tahun. Catat, 24 tahun.
"Yoongi gak ngerti papa ngomong apa, sih?" Yoongi menengok ke mamanya, meminta penjelasan.
"Tuh kan, pa.. anak ini masih pure. Gak tega mama.."
"Ma, kan tadi sudah sepakat tidak ada perdebatan lagi." tukas papa Yoongi tegas.
"Ih, kok berantem sendiri malah Yoongi dicuekin. Pa, perjodohan maksudnya yang seperti di buku-buku klasik gitu?"
Papa Yoongi membetulkan letak kacamatanya, memasang wajah serius.
"Gini, Yoongi. Papa kan tidak punya anak laki-laki.. Papa cuma punya kamu sebagai penerus perusahan papa.."
"Terus?" Yoongi mulai mengerti sedikit arah pembicaraan orang tuanya.
"Papa mau kerja sama dengan teman papa, yaitu menggabungkan dua perusahaan. Satu perusahaan papa dan yang satu milik teman papa. Jadilah papa mau warisin semua perusahaan papa ke kamu dan calon suami kamu itu."
Yoongi mencerna kalimat-kalimat papanya. Suami? Memang aku mau menikah cepat? Yoongi mulai berkeringat dingin.. tiba-tiba merasa takut. Ia sama sekali tak pernah berfikir akan menikah. Jangankan menikah, berpacaran saja Yoongi tak mengerti seperti apa!
"Kapan?" tanya Yoongi setenang mungkin ke orang tuanya.
"Secepatnya kalau bisa." jawab papa. Lalu ia menambahkan, "Yoongi, anak papa yang menuruti perkataan orang tua kan?"
Yoongi menggenggam telapak tangan mamanya erat, lalu menghembuskan nafasnya pelan-pelan. Mama Yoongi merasa tangan Yoongi bergetar.
"Iya, pa. Yoongi mengerti."
Terdengar suara lega dari bibir papa Yoongi yang terkesan dingin dan galak tersebut. Yoongi benar-benar tak bisa membantah perkataan seorang paruh baya di depannya ini. Papanya yang membuat Yoongi harus terlihat sangat perfeksionis di segala hal, jadilah Yoongi yang bisa melakukan apapun. Tapi papanya selalu bilang 'mau jadi apa kamu kalau seperti ini?', contohnya ketika anaknya ini selalu bangun terlambat. Kesalahan kecil bukan?
"Ini calonmu, Min Yoongi. Kamu kenali dengan benar ya. Papa tinggal dulu ke kamar." papa Yoongi menyerahkan selembar biodata dan sebuah foto yang menampakan wajah tampan seorang eksekutif muda yang gagah ke tangan Yoongi.
Mamanya masih menemani Yoongi yang membaca biodata 'calonnya'. Mata Yoongi terbelalak sesaat membaca biodata tersebut. Loh, namanya...
"Nak Jimin ini sepertinya anak yang baik. Mama kenal dengan ibunya, dia ramah dan juga wanita yang sopan. Semoga sifatnya nurun ke nak Jimin." Mama Yoongi tersenyum seraya melihat foto calonnya itu.
Park Jimin
13 Oktober 19xx
Pewaris tunggal Park Company
081-2XX-XXX
Jadi yang memberi pesannya tadi itu ternyata—ehem—calon pendampingnya, lelaki asing yang bernama Park Jimin. Entah kenapa Yoongi tergelitik ingin tahu.
To Be Continued
.
.
Kecepetan ya alurnya? Abis aku gemes sih ga ketemu2 Yoongi sama Jimin -_- Bingung gitu kalo ga berbelit-belit.. Tapi insoloh chapter 4 dateng cepet sekalian bawa angin seger buat kemajuan kopel minyoon MWIHIHIHI
Btw makasih yang udah review, ngeritik, ngasih masukan dan ngefav ff abal Ore ;_; ntar aku balesin satu-satu yaaa
.
Kalo readers punya waktu banyak, boleh R&R nya ya hehehe buat masukan fanfic Ore ke depan biar tambah bagus dan tambah bikin seneng readers(?)
SEE YOU NEXT TIME!
(~^o^)~love~(^o^~)
