Chapter 4: It wasn't strange at all

The Rings, The Vows and The Falsehoods

Main cast:

Park Jimin, 24 y.o (Male)

Min Yoongi, 18 y.o (Female)

Switch gender, Romance.

Rated: sesuai kondisi aja lol

YoonMin / MinGa / MinYoon, BTS, Bangtan Boys, Bangtan Seonyeondan.

WARNING: bahasa baku dan non-baku dicampur

.

Banyak percakapannya di chapter ini huhuhu ampe pusing. Ceritanya chapter 4 itu potongan lengkap dari chapter pertama yang Ore jadiin prolog. Semoga ga bingung wkwkwk

.

FF ini murni punya Ore!

Happy reading, guys!

.

.

.

Jari Jimin mengetuk-ngetuk setir kemudi tak sabar. Sedan merah kesayangannya sedang berhenti akibat traffic jam. Entah apa sebabnya, satu jam sudah mobilnya berdiam diri di antara deretan panjang kendaraan-kendaraan yang terhenti.

Dan saat-saat hening seperti sekarang yang lelaki sensual ini benci.

Jungkook.

Sedang apa dia? Apakah pesawatnya sudah take off? atau malah sudah land off di Paris? Kenapa tadi Jimin tak menyusulnya ke bandara? Kenapa langkahnya menjadi ragu...

Jimin menyambar ponsel pintar keemasan berlambang buah di dasbor. Jimin membuka kontak dan men dial-up seseorang. Kepada siapa lagi Jimin menelepon kalau bukan pemilik nama My Kookie di kontak Jimin, yaitu Jeon Jungkook. Ia tempelkan ponselnya pada telinganya.

The number you are calling is not active. Please try again in a few minutes.

Shit. Dia mematikan ponselnya. Umpat Jimin dalam hati. Jari-jari tangan kanan Jimin menggosok kedua matanya yang terasa panas. Keningnya ia sandarkan ke setir kemudi. Don't cry don't cry...

Ketika Jimin ingin memasukkan ponsel ke saku jasnya, ia merasa ada sesuatu di dalam saku jas tersebut. Jimin merubah posisi punggung belakangnya menyandar pada kursi. Ia keluarkan benda tipis tadi dari dalam saku. Secarik kertas.. yang tadi siang ibu berikan padanya.

Lama Jimin bolak-balik membaca kertas di tangannya itu. Bibir Jimin melafalkan nama 'Min Yoongi' berkali-kali dengan suara kecil. Kendaraan di depan masih saja belum bergerak.

"Siswi kelas 2 SMA? Ibu serius menjodohkanku dengan anak kecil ini?" desis Jimin tak percaya. Apa yang ibu Jimin harapkan dengan menikahkan seseorang gadis berusia 18 tahun dengan anaknya yang berusia hampir seperempat abad? Kemudian ia teringat perintah ibunya di kertas tersebut untuk menghubungi siswi Seonyeondan itu. Ibu Jimin ini adalah tipe-tipe yang jika kemauannya tidak dituruti maka kelakuannya makin menjadi-jadi. Dengan penuh keluh dan sungguh terpaksa—karena takut ibunya akan menyulitkannya nanti—ia menyimpan nomor Yoongi di kontak ponselnya.

Kirim pesan saja deh. Lumayan membuang waktu dan mengalihkan pikiranku terhadap Jungkook. Tapi, enaknya sebagai permulaan mengetik apa, ya? Jimin terlihat berfikir. Ide tiba-tiba terlintas dalam benaknya. Jimin mengetik singkat sebuah pesan ke nomor Yoongi yang sudah ia simpan di ponselnya.

To: Min Yoongi

Min Yoongi?

Tombol 'send' pun akhirnya Jimin tekan. Yah, namanya juga permulaan. Jimin memastikan dulu nomor itu benar atau salah…

Alasan sih sebenarnya. Sudah pasti itu nomornya Yoongi. Ia hanya tak tahu ingin mengawali apa selain bertanya konyol seperti itu. Ia tertawa sendiri membaca pesan yang ia kirim tadi.

tin tin! tin tin!

mobil di belakang Jimin membunyikan klaksonnya tidak sabar. Selama ia asik berkutat di ponselnya, ternyata kemacetan sudah berangsur lancar. Mobil di depan Jimin sudah melaju entah ke mana. Jimin melempar ponselnya buru-buru ke kursi di sampingnya. Ia segera saja bergegas memasukkan gigi dan menekan gas untuk menjalankan sedannya.

.

.

Sesudah Jimin memarkirkan mobilnya di garasi, ia masuk ke dalam rumahnya. Jimin melepas jeratan dasi yang melingkar di leher seraya berjalan menaiki tangga. Tak lantas memasuki kamarnya, Jimin malah menghempaskan pantatnya ke sofa panjang yang nyaman dekat rak buku tinggi sembari menggecek ponselnya. Kok, si Yoongi belum membalas? Apa benar salah sambung, nih?

Belum sepat Jimin berfikir jauh, ponsel Jimin bergetar. Sebuah pesan masuk.

From: Min Yoongi

Yup. It's me. Who's there?

Fiuh. Baru saja Jimin ingin mengecek nomornya salah atau tidak, gadis bernama Yoongi itu akhirnya membalas. Aku kira beneran salah sambung, batin Jimin lega. Jimin mengetik balasan,

To: Min Yoongi

Oh, thx God, it's really u.

Halo, aku Park Jimin.

Salam kenal, Yoongi.

Sembari Jimin menunggu balasan Yoongi, ia bangkit dari sofa dan berjalan menuju kamarnya. Jimin membuka semua kancing kemeja yang ia pakai tadi, menampakkan dada bidang dan perut yang bisa dikatakan sangat-sangat menggoda bagi kaum hawa.

Ponsel Jimin bergetar, Jimin merogohnya dari saku. Ah, Yoongi ternyata lambat juga membalasnya.

From: Min Yoongi

Park Jimin?

Aku tak merasa mengenalmu?

But any way, salam kenal jg^^

Hah? Serius, nih, gadis ini belum tahu siapa yang sedari tadi mengirimi pesan kepadanya? Besar kemungkinan juga ia belum tahu kabar tentang mereka berdua dari orang tuanya.

To: Min Yoongi

Wah, kau belum diberitahu ya?

Let's wait and see.

Melihat tidak ada tanda-tanda Yoongi merespon pesannya kembali, akhirnya lelaki berambut hitam itu menaruh ponsel emasnya di nakas samping ranjang. Kemudian Jimin melepas kemejanya, melenggang masuk ke kamar mandi untuk membasuh tubuhnya dari semua penat yang ada.

.

.

Yoongi sedang mengeringkan rambut coklat halusnya menggunakan sebuah hairdryer sembari duduk di depan meja rias. Tatapan gadis mungil tersebut terpaku pada pantulan dirinya di cermin. Malam ini Yoongi menggunakan setelan piyama berwarna jingga pastel bergambar beruang-beruang lucu menghiasinya. Wajahnya merona merah—saking putihnya kulit Yoongi—akibat terlalu lama berendam di bathtub barusan. Yah, singkatnya, penampilan Yoongi saat ini membuat semua orang ingin memeluk erat tubuhnya yang terlihat rapuh.

Papa... Haruskah aku melakukan ini semua? Tanya Yoongi dalam hati seraya menatap pantulan matanya. Seakan tersadar dari lamunan, Yoongi mematikan pengering rambut yang sedari tadi menderu bising di kamar tidurnya. Rambut Yoongi sudah tak basah lagi. Kemudian dilipatnya pengering rambut tersebut dan menyimpannya kembali di laci lemari kecil dekat meja rias.

tringgg.

Yoongi mendapatkan sebuah pesan.

Seraya membaringkan tubuh yang letih di kasur empuknya, Yoongi menggeser layar ponsel. Iya bergulir ke kanan mencari posisi nyaman. Alis gadis itu seketika terangkat ke atas mengetahui siapa yang mengirimi teks sekarang.

From: 081-2XX-XXX

Kok, gak balas?

Oh, lelaki itu mengirim sebuah pesan! Buru-buru Yoongi menyimpan nomor tersebut dan menamainya 'Park Jimin'.

.

.

Siapa yang akan menyangka bahwa semalaman suntuk Yoongi dan Jimin menikmati kegiatan saling bertukar pesan. Tidak ada yang pernah menyangkanya, bukan? Yoongi dan Jimin sendiri pun dibuat heran. Awalnya memang sedikit awkward, tetapi syukurlah pada akhirnya mereka sudah satu langkah menjadi dekat tanpa mereka sadari. Semua karena gurauan Jimin terhadap Yoongi yang membuat gadis cantik tersebut tak bisa menahan tawanya.

(notes: huruf dicetak miring pesan dari Yoongi, yang dicetak tebal pesan dari Jimin)

"Kok, gak balas?" Jimin mengetik pesan dengan gemas. Sehabis ia mandi yang memakan waktu lama pun, si Yoongi ini sama sekali tak membalas pesan terakhirnya. Tangan Jimin jadi gatal sendiri.

"Eeeeh, maaf. maaf." Yoongi membalas cepat setelah tahu itu Jimin.

"Finally, u reply me. Ngomong-ngomong, udah tau?"

"Tau soal apa, ya?"

Loh, Yoongi belum tahu juga?"Km blm dikasih tau sm orang tua km?"

Yoongi tersadar akan percakapannya dengan papa sebelumnya. "Ah.. soal yang itu.."

"Yang mana?"

"Yg mana apanya?"

Ih. Jimin geregetan. Ada, ya, orang nanya malah di tanya balik? "Duh, ganti deh pertanyaannya. Km tau siapa aku?"

"Park Jimin."

"Dari siapa?"

"Dari km. Kan sblmnya km sendiri yg ngasih tau ke aku." Yoongi balas dengan polosnya.

"Berarti km blm tau." Jimin menghela nafas.

Apa sih maksud laki-laki ini? Yoongi gemas sendiri. Ia lalu terduduk di kasurnya. "Belum tau apa sihhhh."

"Kau.." Jimin sedikit ragu. Namun ia melanjutkan "Kau dijodohkan denganku, Yoongi."

Mulut Yoongi membulat sempurna dan menyuaran 'o' dengan panjang. Ternyata benar itu yang Jimin maksud. kemudian ia membalas, "Kalau itu aku udah tau, kok."

"Loh, katanya blm dikasih tau sama orang tua km?" Jimin mengetik di layar ponselnya seraya duduk pada kursi kerja di kamar. Kedua siku tangannya menumpu pada meja.

"Siapa yg bilang blm?"

"Tadi ditanya tau aku dari mana, km jawab dr pesan aku sebelumnya. Bukan dr orang tua km."

"Emang benar gitu... Trs sehabis dapat pesan dr km, baru deh papa ngomongin km." balas Yoongi sedikit sebal. Ia mengirim pesan dua kali, "Salah sendiri dong, nanya kok berbelit-belit. Kan, aku jadi gak paham."

Eh? Memang benar Jimin terlihat berbelit-belit? Jimin jadi malu sendiri. "Oh, begitukah? hahaha maaf."

Yoongi mendengus. Ia rebahkan lagi tubuhnya. Kini kepalanya miring ke kiri. Tangan dan tatapan Yoongi masih asik menempel pada ponsel pintarnya.

Sebelum sempat membalas pesan Jimin, lelaki itu mengirimi sebuah pesan lagi.

"Min Yoongi. Kita ulang perkenalan kita, yuk."

Yoongi tersenyum. "Boleh."

"Park Jimin. Panggil Jimin saja ya^^. 24 tahun." Jimin merasa geli membaca ulang pesannya tersebut. Terkesan sok imut pakai emotion segala.

Well, Jimin lebih tua daripada dirinya. "6 tahun, ya.. umurku 18 tahun. Min Yoongi. Panggil Yoongi."

"Memang kenapa kalau beda 6 tahun? Gak suka sama yang oppa-oppa?"

Yoongi terkekeh. "Mau banget dipanggil 'oppa'?"

Jimin pun terkekeh pelan. "Gak ada maksud begitu, ya.."

"Jimin oppa.." Keduanya merona merah. Kok, mereka berdua mendadak merasa seperti direbus? Yoongi mengipas-ngipaskan wajahnya dengan telapak tangan dan Jimin sendiri mengipas-ngipasi tubuhnya dengan cara menarik-narik kausnya.

"Hahahaha jadi malu km panggil begitu."

"Eeeeh, ya sdh aku tak manggil begitu lagi." Ketik Yoongi dengan wajah memerah.

"Tidak apa, kok, Yoongi^^ santai saja" Lagi-lagi Jimin kelepasan memberi '^^' pada pesannya.

Yoongi menggigit bibirnya. Benar tak apa? "Um.. Ya sudah.. Jimin oppa.."

"Ternyata km bs merasa malu jg ya hahaha"

"Huuu, ya bs, dong!"

"I wonder how your face is like.. I mean, it should be like..." Jimin menggantung pesannya.

"Like what?" tanya Yoongi penasaran.

"Like a pig, probably?"

Exactly. Yoongi pun seketika tertawa. "Enak saja. Mana ada babi, babi kan gendut. Aku kurus tau."

"Eeeh, who knows. Aku kan gak tau km aslinya bagaimana." Jimin menerka-nerka.

"Aku tau wajahmu, kok. Dikasih papa, foto km."

"Kok, curang? Ibuku tak memberikan fotomu padaku. Ini namanya seperti membeli kucing dlm karung." Balas Jimin bercanda. Tetapi, sungguh, ibunya sama sekali tidak memberi selembar foto Yoongi kepada Jimin.

"Jahatnya aku disamakan dgn barang :( Aku tidak sejelek itu kaliii" Yoongi tertawa.

"Coba buktikan."

"Ayo, bertemu! Eh tapi.. 3 hari terakhir ini aku sibuk mempersiapkan festival kesenian di sekolahku :("

Jimin sedikit tertarik. "Wah, asik, dong. Kelasmu menampilkan apa?"

"Rahasia." Yoongi menutupi fakta bahwa kelasnya mengadakan pentas drama. Karena dia mendadak malu.. malu kalau dialah pemeran utamanya.

"Huuu. Gak seru deh, ya."

"Biarin."

Jimin berfikir kemudian. Ia ingat ibunda tercintanya lagi yang menyuruhnya untuk datang menemui Yoongi di festival sekolahnya. Dia jadi berinisiatif, "Gimana kalau aku datang ke sekolahmu?"

"Untuk?"

"Ketemu km. First meeting gitu istilahnya hahaha"

Yoongi menimbang-nimbang cukup lama. Yah, nanti dia jadi tahu aku berperan sebagai Cinderella… Tapi, tidak mungkin Yoongi melarangnya datang, bukan? Ia hembuskan nafas pelan lalu membalas Jimin, "Oke, deh. Km kabari aku saja."

"Ok, nona manis."

"Katanya blm tau wajahku. Kok, udah main panggil si babi ini manis-manis saja?" Cibir Yoongi.

Jimin terkekeh membaca balasan dari gadis—yang katanya—kurus tersebut. "Every girl is pretty and sweet. Km jg termasuk."

Belum bertemu saja sudah gombal. Tapi Yoongi tetap tertawa saja membacanya. Sayup-sayup mata Yoongi sudah ingin terpenjam. "Dasar gombal. Sudah, ah. Aku mengantuk. Besok km kerja, kan? Aku jg harus pergi ke sekolah."

"Yes, mam. Ya sdh, see u at your school in 3 days. Selamat tidur, Yoongi." balas Jimin sambil menguap.

"See you soon, Jimin oppa. Selamat tidur."

Kemudian keduanya menaruh ponsel di nakas dekat tempat tidur, mematikan lampu, dan menutup pelan kedua mata di tempat tidurnya masing-masing dengan perasaan yang tak bisa diartikan menggelayuti mereka sampai ke alam mimpi.

.

.

.

Beberapa hari kemudian…

Siang ini tidak dirasa terlalu panas maupun dingin. Sepertinya cuaca baik sedang mendukung berlangsungnya festival kesenian di Sekolah Swasta Seonyeondan yang ke-XX. Seluruh sekolah dipenuhi oleh pengunjung yang ingin menikmati acara tahunan sekolah ini. Murid-murid pun terlihat sibuk mempromosikan acara yang kelasnya masing-masing tampilkan.

Jauh dari keramaian, terlihat seorang pria berjaket hitam dengan rambut di sisir rapih ke belakang tengah bersandar pada sedan merah mewahnya yang terparkir di halaman bagian depan gedung sekolah tersebut. Ia melipat kedua tangannya. Ia berdiri dalam diam, seolah tenggelam di pikirannya yang kalut. Matanya menatap hampa ke arah orang-orang yang berlalu-lalang di sekolah itu.

"Ingat, kan, Park Jimin?" suara menjengkelkan ibunya kembali terputar di otaknya. "Kau sudah memakai kesempatan yang ibu berikan kepadamu. Kau sudah gagal dalam melamar perempuan yang—katanya—kau cintai itu. Sesuai perjanjian, jika kau menginginkan perusahaan ayah di genggaman tanganmu, kau harus menikah terlebih dahulu… dan sekarang saatnya ibu yang menentukan siapa yang akan menjadi pendampingmu." Batin Jimin beradu keras. Jimin menghembuskan nafas dengan kasar.

"Sudahlah, nak. Cukup menunggu seseorang yang tidak bersedia hidup bersama denganmu. Datanglah ke festival kesenian Seonyeodan untuk bertemu perempuan yang ibu pilihkan. Ibu sayang Jimin, loh. Tidak mungkin ibu asal memilih pendamping seumur hidupmu, Park Jimin. Siapa tahu dia memang jodohmu?"

Dan di sinilah Jimin berdiri—meliburkan diri satu hari dari kantor—. Berdiri di depan gerbang sekolah swasta Seonyeondan, menunggu sesosok perempuan belia asing yang belum pernah ia lihat. Dari sebuah fotonya? Oh, Tuhan, tolong jangan tanyakan itu kepada Jimin karena Jimin pun tak sekalipun pernah memegangnya—terima kasih, tentu saja—karena ibunya sama sekali tidak berniat memberinya selembar pun.. Kejutan katanya.

Dan yang paling buruk, Jimin masih merasa nyeri jika teringat wajah terkasihnya, Jeon Jungkook. Ya, Jimin masih mencintai perempuan yang telah menolak lamarannya mentah-mentah karena perempuan itu—Jungkook—telah pergi ke Paris meninggalkannya di sini.

Jimin mengacak-acak rambutnya pelan menyadari bahwa mengapa di hari ia ditolak dan ditinggal pergi oelh Jungkook, ia tidak mengejarnya di bandara.. Di dasar hatinya yang paling dalam, ia tidak bisa menunggu Jungkook sampai Jungkook kembali ke sisinya. Mau bagaimana pun—memang—ambisinya meneruskan perusahaan ayahnya adalah yang paling utama di hidupnya. Ia tersenyum miris mengenang kenangan indah selama 4 tahun berjalan dengan perempuan yang ia cintai dengan mudahnya diserahkan sampai di sini saja.

Ambisi liarnya mengalahkan perasaan cinta yang mengalir hangat selama 4 tahun.

Ya, sudahlah. Toh, Jungkook saja tak peduli perasaanku menjadi seperti apa saat ia menolak usahaku untuk bersama dengannya, Jimin berkata dalam hati yang kecewa.

Pilihannya sekarang hanya dengan siswi Seonyeondan ini. Satu-satunya hal yang bisa kau lakukan setelah orang yang kau cintai menyakiti harga diri dan hatimu, Jimin… Jadi, turuti saja keinginan ibumu. Batin Jimin memantapkan hatinya agar tidak ragu dalam pilihan mendukung ambisi dan egonya.

Saking lamanya Jimin berenang dalam pikirannya sendiri, ia sampai tak sadar bahwa ada seseorang siswi berlari dengan susah payah mendekati mobilnya.

"Per-permisi?" siswi tersebut menepuk pelan pundak kanan Jimin, menyadarkannya dari lamunan. Keringat siswi tersebut keluar dari kedua pelipisnya yang membuat rambut depannya sedikit basah, ia terengah-engah akibat berlari menggunakan sebuah gaun berlengan panjang. Jimin yang telah sepenuhnya tersadar, spontan menengok ke arah suara siswi itu berasal.

Jimin menautkan alis dengan heran setelah melihat penampilannya yang tak biasa. Mata Jimin menatap dari ujung rambut kecoklatan yang digelung ke belakang sampai kebagian sepatu kaca yang dipakai siswi itu. Apa ini? Seorang putri dari dongeng mana yang sedang berdiri di depannya? Siswi—yang ternyata sangat cantik—itu menyadari keanehan pada dirinya hanya bisa menggigit bibir bawahnya dengan penuh sesal seraya mengumpat pelan 'seharusnya aku ganti pakaian dulu!'.

Jimin membuka mulutnya ingin bertanya tetapi siswi tersebut menyelaknya. "Ah-ini.. Ini aku baru saja selesai mementaskan sebuah drama Cinderella. Kelasku mengadakan kegiatan drama di festival kesenian sekarang.." selanya siswi itu dengan malu-malu.

Jimin terkekeh kecil yang mengetahui siswi ini telah salah mengartikan pandangannya, lalu ia membalas "Oh, nggak.. Mungkin kau sedang menjelaskan mengapa penampilanmu seperti ini, tapi—oh!—sungguh maksud aku bukan itu yang ingin kutanyakan. Ya, walaupun penampilanmu ini juga harusku tanyakan setelahnya." Senyum Jimin ramah tepat melihat ke wajah siswi tersebut. Manis, itulah kata pertama yang terpikirkan oleh Jimin setelah melihat wajahnya.

"Lalu?" tanya siswi itu bingung.

"Aku sedang menunggu seseorang di sini… dan aku kesulitan menemukannya karena terlalu banyak orang yang berlalu-lalang. Bisakah kau membantuku?" pinta Jimin serius seraya menaruh jari telunjuk kanannya di dagu.

"Ah!" siswi itu menepuk keningnya, seakan baru tersadar akan hal yang harus ia lakukan sebelumnya. Jimin mengernyitkan alisnya. Siswi manis itu menggeser layar ponsel di tangannya. Kemudian ia menekan beberapa tombol lalu menempelkan ponsel ke telinga kiri.

Terdengar ringtone dari saku jas yang dikenakan Jimin. Siswi bersurai coklat itu mengembangkan senyumnya dan mengulurkan tangan kanan putih nan mungil miliknya ke depan Jimin. "Halo, Jimin oppa. Mungkin aku yang sedang dicari olehmu?"

Jimin terbelalak kaget. Memang sebelumnya Jimin mengirim sebuah pesan ke nomor yang telah ibu Jimin berikan kepadanya untuk memberitahu ke perempuan tersebut bahwa Jimin akan datang berkujung dan memberi petunjuk kapan dan di mana Jimin akan menunggu.

"Min Yoongi?" ternyata siswi ini adalah Min Yoongi, yang tanpa Jimin sadari di beberapa hari ini waktunya sudah banyak dihabiskan untuk membalas pesan-pesan darinya, dari gadis yang dijodohkan dengannya. Jimin menyambut uluran tangan Yoongi dengan antusias.

"Is it you?" tanya Jimin tak percaya sekali lagi yang mengundang kekehan kecil dari Yoongi.

Yoongi mengangguk seraya tersenyum memandang Jimin. Well.. Jimin persis sama seperti bayangan dibenaknya dan selembar foto yang diberikan oleh papa. Sepasang mata tajam yang jika tersenyum akan melekung membentuk segaris panjang, tubuh tegapnya yang proposional dan senyumnya yang manis nan menawan. Dua hal baru merayap pikirannya sesaat setelah Yoongi melihat Jimin secara langsung; auranya yang mempesona dan aroma maskulin dari parfum mahal yang dikenakannya. Perfect.

"Pantas saja…" ucap Jimin menggantung, membuyarkan pikiran Yoongi terhadap Jimin.

"Pantas kenapa?"

"Pantas saja aku gak bisa menemukan kamu, Yoongi. Mataku hanya tertuju pada orang-orang yang mirip dengan seekor babi saja, sih." Dan Yoongi yang merasa dirinya sedang diejek, dengan sebal memukul pelan dada Jimin. Jimin menyambutnya dengan tawa keras.

"Saat di sms dan di aslinya masih tetap senang iseng mengejekku, ya. Bagus." Yoongi menggembungkan kedua pipi putihnya yang dipoles blush on tipis berwarna merah muda. Jimin jadi gemas ingin mencubit pipi tersebut, tapi ia urungkan niatnya. Baru ketemu sudah main cubit-cubit, kan rasanya aneh saja gitu.

"The real me ya seperti ini. Senang menjahili orang, apalagi menjahili si babi." Lirik Jimin sepintas ke arah Yoongi, masih dengan tawa menghiasi bibirnya.

"Ih, aku bukan babi!" potong Yoongi cepat. "Sudah cantik gini memakai gaun Cinderella, malah dikatakan seperti babi." Gadis berkulit putih itu dengan bangga memutarkan tubuhnya untuk memamerkan gaun yang terjuntai panjang ke bawah kepada pria di depannya. Jimin menatapnya dengan pura-pura jengah. Padahal, sih, di dalam hatinya Jimin memuji sekali penampilan Yoongi sekarang yang bak seorang putri asli keluar dari negeri antah berantah di sebuah dongeng. Cantik yang elegan. Simple namun menawan. Jimin yang keras kepala tak ingin mengakuinya.

"Dari pada waktumu habis hanya untuk mengejekku, ayo cepat masuk ke dalam sekolah. Festivalnya sangat meriah, loh." Dengan patuh, Jimin mengekor di belakang Yoongi yang berjalan memasuki gerbang sekolah swasta Seonyeondan tersebut.

.

.

Selama Jimin berkeliling di sekolah swasta yang luas tersebut, tatapannya seolah terpusat pada hal-hal yang dipandangnya di depan.

Bukan.. Bukan kemeriahan dari festivalnya yang membuat ia terfokus. Tapi beberapa adegan yang terekam oleh mata kepalanya sendiri, membuat otaknya seakan tersentil sadar; Yoongi's allure.

Diam-diam batin Jimin menarik kata-katanya yang mengejek Yoongi adalah seekor babi. Bagaimana bisa seekor babi yang hanya berjalan biasa saja mampu membuat orang-orang di sekelilingnya menengok ke arah babi tersebut? Bagaimana bisa seekor babi yang sedang berjalan biasa saja didatangi beberapa pria yang terlihat sekali mencoba flirt terhadap babi itu? Apa pantas Yoongi disebut babi? Tapi babi, kan memang lucu.. menggemaskan seperti Yoongi.. Duh. Apa, sih, yang Jimin pikirkan?

"Yoongiiii, kemana saja kau?" Seorang lelaki berkostum kesatria, Namjoon, tiba-tiba datang dan—hei!—melingkarkan lengan kanannya di leher Yoongi dari belakang. Jimin sedikit menaikkan alis kanannya tak suka.

"Lepaskan, Namjoonie. Sesak, ah." Yoongi melepas lingkaran lengan Namjoon dari leher mulusnya. Namjoon hanya tersenyum saja.

Kemudian Yoongi memperkenalkan Namjoon, sahabatnya, kepada Jimin. Jimin menjabat tangan Namjoon dan berucap "Park Jimin" sembari menyunggingkan senyum. Oh, seorang sahabat… Oke. Entah kenapa Jimin tersenyum. Tersenyum lega?

Namjoon dengan senang hati membalas Jimin, "Panggil saja Namjoon." Dan setelahnya ia berbisik kepada Yoongi.

"Siapa, nih?"

"Teman, kok." Yoongi sedikit gelagapan. Namjoon menatap Yoongi menyelidik, tetapi sahabatnya itu malah buang muka pura-pura tak melihat. Namjoon menaikkan bahunya.

"Pokoknya kamu punya hutang cerita sama aku dan Hoseok." Sesudahnya Namjoon pamit. Sebelumnya ia menyuruh Yoongi berganti pakaian dan mengikuti Namjoon untuk kembali ke kelas.

.

.

Jimin berjalan beriringan dengan Yoongi menyusuri koridor anak kelas 2. Dan tentu, banyak pria buas—menurut Jimin—masih saja memandang Yoongi dengan intens. Ia jadi sedikit risih.

Kok, malah Jimin yang risih? Yah, sudahlah. Intinya ia tak suka Yoongi dilirik-lirik dengan tatapan seperti ingin menggodanya. Tangan Jimin yang sudah habis kesabaran dari awal, menyambar tangan kanan Yoongi untuk digandengnya selama berjalan menuju kelas 2-2. Radar Jimin tiba-tiba berubah menjadi mode proteksi terhadap Yoongi. Sontak Yoongi kaget dengan perlakuan Jimin yang berbeda itu. Tak tahu harus berbicara apa, Yoongi hanya menunduk malu dan memancarkan rona merah di wajahnya. Perasaan asing menggelitiki perut dan hatinya mana kala Jimin menggenggam tangannya dengan erat.

"Aku harus ganti baju dan kembali ke kelas, oppa. Setelah pentas drama, kelasku membuka café. Kamu mau mampir atau pulang saja?" tanya Yoongi sesampainya di depan kelas. Tangan mereka masih saling terkait.

"Aku menunggumu sampai selesai." Jawab Jimin.

"Hah? Tidak usah…"

"Yup, sana kerja!" Jimin mendorong masuk Yoongi ke dalam kelasnya membungkam pernyataan tidak setuju dari perempuan manis yang tangannya masih Jimin genggam dengan erat.

To be Continued

.

.

.

MWUEHEHEHE DI CUT DULU YA PERTEMUAN PERTAMA GAJE YOONMIN. DILANJUTIN DI CHAPTER DEPAN.

Fiuh akhirnya ketemu juga Yoongi sama Jimin. Chapter ini super ngebut alurnya terus maafkeun ya kalo chapter ini ga jelas banget. Trs apalah itu sms-an kembali ke jaman dulu wkwkwkwk jadi kengen ;3

.

Buat semua yang udah mendukung ff ini; pm, ngereview, ngefav, ngefollow;

THANK YOU A LOOOOT~~~~~ aku ada karena kau ada /nge wink/

.

Kalo readers punya waktu banyak, boleh bgt R&R nya hehehe buat masukan fanfic Ore ke depan biar tambah bagus dan tambah bikin seneng readers(?)

SEE YOU NEXT TIME!

(~^o^)~I love U~(^o^~)