Chapter 5: No words can explain

.

The Rings, The Vows and The Falsehoods

Main cast:

Park Jimin, 24 y.o (Male)

Min Yoongi, 18 y.o (Female)

Other cast:

Jung Hoseok, 18 y.o (Female)

Kim Namjoon, 18 y.o (Male)

Switch gender, Romance.

Rated: sesuai kondisi aja lol

YoonMin / MinGa / MinYoon, BTS, Bangtan Boys, Bangtan Seonyeondan.

WARNING: bahasa baku dan non-baku dicampur

.

Highly recommended nonton video Connie Calbot ngecoverin lagu Lay Me Down di youtube dulu deh baru baca chapter ini. Biar greget~

.

FF ini asli bikinan Ore!

Happy reading :3

.

.

.

"Katakan kepadaku sekarang juga, siapa pria yang tadi datang bersamaan denganmu?" Yoongi yang baru saja meloloskan dress hitam selutut bermotif bunga dari ujung kepalanya di toilet tiba-tiba diberi pertanyaan dari Hoseok, sahabat Yoongi. Yoongi tak lantas menjawab pertanyaan Hoseok, malah membenarkan lipatan bawah rok dress yang ia kenakan.

Penampilan Yoongi saat ini sangat berbeda dari sebelumnya yang terkesan mewah memakai gaun Cinderella. Dipadu dengan stocking hitam membungkus kaki langsing gadis seputih susu tersebut dan beralaskan boots coklat tua semata kaki, Yoongi kini terlihat sangat chic dan manis. Yoongi menggerai rambut coklat lurusnya.

Hoseok kembali bertanya dengan penuh ingin tahu, "Gemas, deh. Siapa sih dia, Yoongi-ah?"

"Mau tahu saja." Yoongi menjulurkan lidahnya kepada Hoseok lalu berjalan keluar dari toilet. Hoseok mengikutinya di samping Yoongi. Mereka mengobrol seraya kembali ke kelas.

"Gimana, ya. Abis kamu ini tuh orang terpolos yang pernah aku kenal. Boro-boro mikirin pacaran, dekat dengan lelaki selain Namjoon saja benar-benar jarang sekali. Malah kayaknya gak tahu arti pacaran, deh. Nah, ini. Gak ada angin topan gak ada gunung meletus, sudah bawa pria tampan saja di sampingmu." cerocos Hoseok memborbardir Yoongi yang sudah memutar bola matanya dengan jengah.

"Ih, apanya yang pacaran. Kami gak pacaran, tapi..." seketika Yoongi kelu akan ucapannya sendiri. "...nnggg.. Nothing."

"TAPI?" Hoseok meninggikan suaranya seraya menarik lengan Yoongi agar berhenti berjalan sejenak. Sebal juga lama-lama dibuat penasaran setengah mati. Tinggal jawab saja apa susahnya, sih?

Yoongi mengigit bibir bawahnya ragu. Matanya tak berani menatap tatapan penuh sidik dari Hoseok. Ia mengedarkan pandangannya ke segala arah berharap mengurangi kegugupannya.

"Tapi..." Yoongi yang menggantung ucapannya, cepat-cepat berjalan kembali ke kelasnya yang tinggal beberapa jengkal lagi sampai. Hoseok masih terus merengek. "Yoongi-aaah... Who is he?"

Sampai pada pintu kelas, akhirnya Yoongi menyerah juga dengan rengekan Hoseok. Ia mendecakkan lidahnya. Berisik, deh.

"Iya, iya aku kasih tahu, huh. Berisik kamu, Hoseok." cetus Yoongi disambut cengiran bahagia Hoseok. Lalu Yoongi dengan tampang polos menyambung ucapannya, "Disebut seperti apa, ya? Uhm... Sounds like.. Engaged? Tapi belum begitu, sih.. Dijodohkan tepatnya?"

Hoseok membulatkan matanya, sampai-sampai matanya seperti ingin keluar saja. Yoongi bergidik ngeri...

"ENGAGED?! DIJODOHKAN?!" teriak Hoseok kemudian mengundang pengujung beserta seluruh isi di kelas 2-2 menengok ke arah mereka dengan kaget, adapula yang penasaran. Tak terkecuali Jimin yang sedang duduk manis di salah satu meja pun ikut menengok ke arahnya. Spontan tangan Yoongi membekap mulut Hoseok yang kadang-kadang sering kelepasan volume. "SSSSTTTT!"

Hoseok masih menggumam heboh di dalam tangan Yoongi yang masih membekap mulut speaker Hoseok. "Demi Tuhan, sahabatku yang terbawel sejagat raya. Bisa lebih tenang tidak, sih?" Yoongi berbisik ke telinga sahabatnya itu. Ia kemudian menyunggingkan senyum permintaan maaf kepada seisi kelasnya dan menyeret langkah mendekati Namjoon yang berdiri dekat sebuah piano klasik membawa sebuah nampan penuh gelas.

"Hoseok, kenapa datang-datang langsung membuat heboh cafe kelas kita? Berisik, tahu." tuduh Namjoon kepada Hoseok yang sudah berhasil lolos dari bekapan tangan mungil Yoongi.

"Ini hebat, Namjoonie. Kamu harus tahu barusan Yoongi berbicara denganku bahwa ia..."

"Oke, oke. Nanti saja ya. Kasih tahu aku lagi setelah festival ini berakhir. Dan cepat layani tamu-tamu cafe kita yang sudah menunggu!" perintah Namjoon memotong ucapan Hoseok. Gadis cerewet yang belum selesai berbicara itu hanya bisa merengut ketika Namjoon menyuruhnya. Kalau nanti ya sudah basi dan keburu lupa, gerutu Hoseok. Dengan berat hati—karena mendadak berhenti bergosip—ia kemudian mengambil nampan kosong dan berjalan menuju pengunjung yang belum memesan apapun.

Fiuh, tenang juga akhirnya. Dalam hati Yoongi ia berterima kasih pada Namjoon yang menginterupsi keberisikan Hoseok.

Yoongi menggantung gaun Cinderella-nya di dekat jendela kemudian Yoongi juga mengambil nampan kosong dan berjalan heran ke arah Jimin yang belum memesan makanan atau minuman dari kelasnya.

"Heboh banget, ya, teman kamu." Jimin berbicara setelah Yoongi sudah berdiri di samping kursi yang ia duduki. Yoongi meringis.

"Maaf, ya. Dia memang begitu. Namanya Hoseok, sahabatku semenjak sekolah dasar." lalu Jimin membunyikan 'o' dengan panjang tanda mengerti.

"Loh, belum pesan apapun? Mau pesan apa?" Yoongi mengeluarkan secarik kertas untuk mencatat.

"Sengaja nunggu kamu yang melayani. Aku mau sama pelayan cantik saja." pinta Jimin dengan menarik kedua ujung bibirnya. Yoongi menyentil bahu Jimin dengan gemas seraya berbicara "Dasar genit."

Jimin pura-pura mengaduh dan terkekeh. "Siapa yang genit? Aku pesan earl grey tea dengan biskuit saja ya, cantik."

Yoongi memutar kedua bola mata dengan malas mendengarnya. "Satu earl grey tea dan sepiring biskuit. Ditunggu sebentar ya, Tuan Park Jimin yang genit."

Dan gadis bersurai coklat itu pun melenggang pergi mengambil pesanan, meninggalkan Jimin yang masih tertawa kecil.

.

.

.

Seperti yang dikatakan Yoongi sebelumnya, Festival Kesenian Seonyeondan ke-XX berlangsung sangat meriah. Setiap kelas menyuguhkan sesuatu yang menarik. Mulai dari acara pementasan drama, live music, melukis gratis dan sebagainya. Tapi menurut Jimin, kelas Yoongi lah yang paling diminati oleh setiap pengunjung. Entah itu karena pementasan drama kelas 2-2 berjalan sukses sebelumnya (salah satu hal yang Jimin sesali karena tak bisa melihat Yoongi berakting), cafe kelas tersebut cukup terbilang ramai dikunjungi. Mungkin juga karena kelas 2-2 mengadakan permainan instrument berupa petikan gitar dan alunan piano klasik yang mengiringi pengujung selagi menghabiskan pesanan mereka. Jimin saja sampai betah berlama-lama di sana yang tanpa sadar sudah memesan cangkir kedua dari earl grey tea-nya.

Oh, jangan lupakan mata Jimin yang hampir tak pernah lepas dari gadis pilihan ibunya tersebut. Alasan utama mengapa ia masih diam di tempatnya.

Bagaimana ia bisa mengalih pandangannya sedangkan Yoongi menebarkan daya pikatnya kembali. Just perfect in the way she is. Dress sederhana hitam bermotif bunga itu sangat cocok dikenakan Yoongi. Ditambah senyumannya yang tak pernah pudar dari wajahnya ketika melayani para pengunjung, suara tawanya saja membuat orang di sekitarnya ikut merasakan kelembutannya. Jimin menyukai surai rambut Yoongi yang jatuh menerpa pundaknya yang sekali-kali iya selipkan di belakang telinganya.

Jimin hanya bisa mendengus saat beberapa pengunjung mencoba berinteraksi lebih dengannya, membuat Jimin ingin sekali menarik tubuh Yoongi menjauh. Mereka melontarkan kalimat pujian atas keberhasilan Yoongi memerankan seorang putri Cinderella dan perempuan manis itu mengucapkan terima kasih berkali-kali seraya menampakkan gigi depannya yang rapih. Sebagus apa sih sampai banyak yang memuji? Jimin menebak-nebak.

.

.

Waktu bergulir begitu cepatnya dan tanpa terasa cafe kelas 2-2 pun sampai pada pesanan terakhir. Walaupun sudah menutup pesanan, kelas Yoongi masih ramai, malah ada beberapa anak kelas lain mengintip dari luar jendela. Salah satu teman kelas Yoongi maju ke panggung yang berukuran kecil, memegang standing mic di dekat piano dan gitar yang tersandar di kaki piano tersebut. Kemudian ia berbicara dengan mic yang terpasang,

"Halo, semuanya. Perkenalkan saya adalah pembawa acara dadakan. Untuk pengunjung yang masih berada di sini ataupun yang sudah pulang, terima kasih sudah datang ke kelas kami!" terdengar tepukan-tepukan tangan di penjuru kelas tersebut.

"Untuk kerja keras anak-anak kelas 2-2, terutama ketua kelas kami Kim Namjoon, terima kasih!" tepuk tangan terdengar kembali membuat Namjoon jadi salah tingkah sendiri.

"Dan terakhir, saya akan menyampaikan beberapa titipan pesan dari pengunjung saat pementasan drama dan saat cafe ini bekerja.."

Kemudian teman Yoongi itu membuka sebuah kertas di tangannya seraya mengacungkan ke depan, ke arah Yoongi berdiri "..Kepada Min Yoongi terima kasih atas performance-mu yang menakjubkan! Ternyata banyak juga penggemarmu, Yoongi!"

Yoongi hanya menunjuk dirinya sendiri dengan bingung saat namanya disebut-sebut. Hoseok dan Namjoon tersenyum lebar sambil mendorong-dorong pundak Yoongi pura-pura iri. "Duh, gadis populer.."

"Sebagai apresiasi untuk pengunjung yang sudah datang dan memberi penilaian positif terhadap kelas 2-2, kami tunjuk Yoongi menaiki panggung untuk menyanyikan sebuah lagu penutup!" tambah riuhlah ruangan kelas 2-2 tersebut.

Yoongi kemudian terebengong sesaat. Shit, apa maksud dari teman kelas kurang ajarnya itu menyuruh Yoongi bernyanyi? Memang ada tugasnya bernyanyi untuk penutup?

Jimin bertepuk tangan sedikit kaget. Menyanyi? For sure? Ia lantas menatap dengan penuh antusias Yoongi yang masih terbengong.

"Cepat, naiklah, Yoongi!" Dengan berat, Yoongi menyeret kaki untuk menaiki undakan tangga panggung. Teman yang tadi berdiri di panggung mempersilahkan Yoongi.

"Awas ya, kau!" Yoongi berdesis kesal dan temannya tersebut hanya nyengir lebar karena berhasil mengerjai gadis populer se-sekolahnya itu.

Yoongi duduk di kursi untuk memainkan piano. Dibukanya pelan penutup piano klasik tersebut, menampilkan deretan tuts-tuts berwarna hitam dan putih.

Ia edarkan pandangan ke semua bagian kelasnya dan.. Ia menangkap sosok pemilik mata tegas yang melihat lurus ke arahnya, Park Jimin. Ia menundukkan wajahnya yang memanas, mungkin sekarang sudah terlihat merah. Duh, bagaimana jika suaranya terdengar sumbang di depan Jimin? Seumur-umur ia bermain piano dan bernyanyi, tak pernah ia merasa segugup ini sebelumnya. Yoongi menarik nafas dalam-dalam untuk menghilangkan kegugupannya.

"Hai, Aku Min Yoongi." Yoongi menyelipkan rambut coklatnya ke telinga kanan yang menghalangi pandangan dengan canggung, "Aku akan menyanyikan sebuah lagu berjudul Lay Me Down by Sam Smith. I hope you like it."

ting.

Dentingan tuts pertama terdengar kencang di kelas itu. Dengan satu tarikan nafas, Yoongi mulai bernyanyi seraya menutup matanya.

Yes, I do, I believe
That one day I will be
Where I was right there
Right next to you

And it's hard
The days just seems so dark
The moon, the stars
Are nothing without you
Jimin seolah tersihir oleh suara lembut Yoongi dan alunan merdu permainan pianonya yang tak bisa dikatakan pemula.

Your touch, your skin
Where do I begin?
No words can explain
The way I'm missing you

Deny this emptiness
This hole that I'm inside
These tears
They tell their own story
Apakah ada hal yang tak bisa Yoongi lakukan? Batin Jimin bedesir aneh. Iya merasa dejavu dengan perasaannya sekarang.

Told me not to cry when you were gone
But the feeling's overwhelming, it's much too strong
Yoongi membuka pelan kelopak matanya, masih menarikan jari-jari manisnya ke atas tuts piano. Ia kemudian menarik nafas dalam-dalam dan dengan lantang ia menyanyikan bagian tengah lagu.

Can I lay by your side?
Yoongi menatap manik mata hitam Jimin, seakan Yoongi ingin mengunci Jimin di tatapan Yoongi yang dalam.

Next to you,
you...
Jimin merasakan nafasnya seperti tercekat.

And make sure you're alright
Jimin perasaannya merasakan sesuatu.. seperti sedang terjatuh?

I'll take care of you
Yoongi berfikir perutnya seperti ada kupu-kupu menggelitiki saat ia melihat wajah Jimin. Perasaan apa ini? Yoongi sungguh merasa sesuatu yang asing merayapi hatinya sekarang.

I don't want to be here if I can't be with you tonight.
Dan keduanya tetap saling memandang satu sama lain dengan makna yang tak bisa diungkapan oleh kata-kata. Mereka bertahan di posisi seperti itu sampai Yoongi menyanyikan lirik terakhir dari lagu tersebut.

Tepuk tangan penuh kepuasan sangat ramai terdengar sesaat setelah Yoongi berhenti dan mengucapkan kata 'terima kasih'

Teman Yoongi yang usil tadi kembali menaiki panggung dan berucap riang menutup partisipasi kelas 2-2 di acara festival yang diadakan satu tahun sekali oleh sekolahnya ini,

"That's the last from us! We apologize for the mistakes that we made. See you next year!"

.

.

.

Festival Kesenian Seonyeondan ke-XX telah resmi berakhir pada pukul 20.00 KST. Seluruh murid bergotong royong membereskan seluruh sekolah menjadi sedia kala. Setelah semua sudah terlihat rapih, Organisasi Siswa Intra Sekolah mengundang anak-anak dari semua angkatan untuk berkumpul pada api unggun besar di lapangan terbuka yang luas milik Seonyeondan. Semacam after party katanya, sih… Merayakan acara tahunan Seonyeondan kali ini berjalan dengan lancar layaknya tahun-tahun sebelumnya.

Karena Yoongi merasa tenaga seperti terkuras abis sampai ke pangkal-pangkalnya, ia meminta izin ke Namjoon dan teman-teman kelasnya untuk absen dalam after party tersebut. Ia sudah tak sanggup lagi bercanda gurau, apalagi ia yakin after party berakhir setelah hari berganti.

"Namjoonie, aku tidak enak badan. Aku izin pulang, ya." Tutur Yoongi sedikit lemah.

"Iya, gak apa-apa, kok. Pulang terus jangan lupa istirahat, ok?"

"Siap, ketua." Tangan Yoongi memberi hormat seperti sedang upacara.

"Pulangnya dijemput pak supir?" tanya Hoseok dan seketika itu juga ia menepuk pelan keningnya. Oh, ia lupa bahwa sudah ada Jimin yang akan mengantar sahabatnya itu pulang ke rumahnya. "Oh, iya.. ada Jimin oppa."

Yoongi melirik sepintas Jimin di samping kirinya, lalu ia mengehela nafas. Yoongi menjawab Hoseok sekenanya, "Iya.."

Kenapa suasana antara Jimin dengannya jadi awkward gini, sih? Setelah ia penutup di kelasnya tadi Jimin membungkam mulutnya.

Hoseok menepuk bahu Jimin ragu. "Tolong antar Yoongi sampai rumah dengan selamat, ya." Kemudian tersenyum.

Jimin tersadar dari selaman dalam pikirannya tadi, ia lantas menjawab dengan senyum, "Dengan senang hati, Hoseok."

Kedua sahabat Yoongi mengantarnya dan Jimin ke tempat sedan merah Jimin terparkir. Jimin membukakan pintu mobil, mempersilahkan Yoongi untuk duduk tanpa sepatah kata pun. Dengan canggung, gadis itu menghempaskan bokongnya di kursi depan samping kemudi. Ia melihat pria bertubuh tegap itu berlari kecil mengitari mobil, membukakan pintu untuk dirinya sendiri di seberang kursi yang Yoongi duduki.

Kemudian Jimin menyalakan mesin. Sampai kedua sahabat Yoongi selesai melambaikan tangan mereka dan masuk kembali ke area sekolah, barulah Jimin mengemudikan mobilnya ke jalan raya menuju rumah Yoongi.

"Rumahmu, ke arah mana?" tanya Jimin datar.

"Masuk tol dua kilometer lagi, nanti ambil kiri. Pas keluar ambil kiri lagi, dekat-dekat situ ada gerbang perumahan 'Seoul City'. Nanti masuk saja. Lewatin tiga rumah dari gerbang utama di sebelah kanan, sampai deh di rumahku yang gerbangnya warna hitam." tutur Yoongi dengan kaku.

"Oke."

Kemudian hening.

.

.

.

Di dalam mobil yang menderu, duduklah Yoongi dan Jimin dalam kesunyian panjang. Semenjak Yoongi turun dari panggung tadi, Jimin mendadak diam. Apa karena pas aku menyanyi mataku terus melekat ke arahnya? Apa Jimin oppa jadi merasa risih?

Yoongi mencuri-curi pandang ke arah Jimin yang memegang setiran. Mencoba mencari jawaban dari pertanyaannya barusan. Berharap juga sih Jimin akan menoleh kepadanya..

Dan klik. Mata mereka bertemu. Jimin menangkap basah gadis cantik itu sedang memperhatikannya. Buru-buru Yoongi menyembunyikan wajah memerahnya karena kepergok sedang menatap Jimin, menyembunyikan wajah dengan menggunakan tote bag di tangannya. "Eeeh, maaf oppa aku menatapmu lagi."

Jimin malah spontan tertawa melihat Yoongi seperti itu. "Gak apa, kok, Yoongi." Lelaki itu kembali memperhatikan jalanan di depannya.

Syukurlah suasana sudah kembali seperti biasa. "Lega deh kamu sudah tertawa lagi. Jangan marah lagi ya kepadaku." Tukas Yoongi yang terpantul senyumn leganya di kaca jendela.

Marah? Siapa yang marah? Jimin?

"Hah? Aku tidak marah."

"Terus kenapa dari tadi kamu diam saja?" Yoongi mengerucutkan bibirnya. Jari telunjuk kanannya ia mainkan di jendela, menulis sembarang pada embun yang terbentuk.

Oh, astaga. Jimin baru sadar sejak tadi ia terdiam mengacuhkan Yoongi. Bukan karena marah, kok, ia terdiam. Sungguh. Hanya saja Jimin sedang memastikan perasaan apa yang timbul saat ini di hatinya. Saat Yoongi bernyanyi seraya menatap lurus ke matanya…

"Aku gak tahu kamu bisa memainkan sebuah piano dan bahkan tadi kamu bernyanyi, Yoongi. That was awesome. Aku sampai tercengang." Puji Jimin mengalihkan pembicaraan.

Yoongi yang masih mengahadap ke jendela tiba-tiba berdeham lalu ia menarik kedua sudut bibirnya diam-diam mendengar pujian dari pria yang sedang mengemudi itu. Sedikit menjaga pride istilahnya. "Biasa saja, ah."

Tapi mau diam-diam pun tidak mungkin bisa Yoongi sembunyikan. Jimin masih bisa-bisa saja tuh melihat simpulan senyumnya. Tentu saja, semuanya terpantul pada kaca jendela di sampingnya. Biasa saja tapi senang juga dipuji, Jimin menggeleng seraya terkekeh pelan.

"Tapi menurutku itu gak biasa. Soalnya aku gak bisa."

"Kamu bisa belajar, kok. Ntar lama-lama juga jago." Tukas Yoongi sok menggurui.

"Aku gak mau belajar." Bantah Jimin yang masih memandang jalanan. Sontak Yoongi menengok ke pria di kursi kemudi tersebut.

"Katanya gak bisa, biar bisa ya belajar kan?"

"Aku maunya dengarkan kamu saja. Aku menyukainya saat kamu menikmati jari-jari kamu menari di atas tuts piano. Itu saja sudah cukup, kok."

Penyataan Jimin dengan wajah serius barusan mengagetkan Yoongi. Refleks ia memegang bagian jantungnya yang berdenyut. Wow.. sepertinya berdetak lebih cepat daripada biasanya. Mungkin karena keterkagetan tadi.. Eh, tapi kok, wajahnya memanas juga?

Mobil Jimin berhenti.

"Yoongi.." Jimin memanggil nama Yoongi. Yoongi masih diam seraya merasakan jantungnya yang berdetak cepat.

Jimin tak melihat respon dari perempuan tersebut akhirnya mendekatkan wajahnya ke arah pemilik nama itu. Yoongi yang entah kenapa masih memanas pipinya, memundurkan wajah sedikit menjauhi Jimin. Ia kemudian mendadak tergagap, "Ke-kenapa, oppa?"

Jimin semakin mendekat, hembusan nafasnya menerpa lengan Yoongi di dada yang membuat gadis seputih susu itu semakin kepanasan. Yoongi melirik AC di dasbor mobil. AC-nya nyala, kok, panas sih?

"Yoongi.." Jimin kembali memanggil namanya. Yoongi kenapa sih, Tuhan…

Dan lelaki berambut hitam pendek itu kemudian tertawa lepas melihat Yoongi di sampingnya ini sudah semerah kepiting rebus. Ia menjauhkan wajahnya dari gadis itu. Padahal tadi Jimin hanya berniat memberi tahu bahwa mereka sudah sampai di depan rumahnya. Tapi melihat reaksi Yoongi yang berlebihan, jadilah ia berfikir untuk mengisenginya.

"Tuh, sudah sampai depan rumah kamu." Jimin menekan tombol jendela dekat Yoongi ke bawah seraya menunjuk rumah bergerbang hitam, rumah Yoongi.

Yoongi yang gelagapan sendiri, berdeham pelan dan menegakkan posisi duduknya. Tangannya pura-pura menyisir surai halus panjangnya, "O-oh, sudah sampai. Kok, ga bilang."

"Dari tadi aku kan manggil-manggil nama kamu, eh kamunya malah ngelamun.' Jimin terus tertawa. Ia turun dari mobilnya dan membuka pintu untuk Yoongi. Tangan kanan Jimin terulur membantu Yoongi untuk turun dari sedan merahnya, dan dengan senang hati Yoongi menyambut tangan itu.

Loh, tangan Yoongi panas? Jimin menempelkan punggung tangannya ke kening Yoongi dan keningnya sendiri. Mencoba membandingkan suhu tubuh masing-masing.

"Kamu beneran demam." Jimin tiba-tiba khawatir suhu Yoongi lebih tinggi dari suhu dirinya. Pantas wajahnya memerah, ternyata bukan karena menahan malu karena aku isengi, ya.

Yoongi menurunkan punggung tangan milik Jimin. Kepalanya sedikit pusing, "Aku gak apa-apa, kok. Sudah depan rumah, nih. Kamu pulang saja, oppa. Terima kasih." Yoongi tersenyum lemah.

Baru tiga kali ia melangkahkan kakinya ingin masuk ke gerbang, Yoongi terhuyung hampir terjatuh kalau saja Jimin tidak cepat-cepat memeluknya dari belakang. Kemudian tanpa basa basi lagi, Jimin meraih belakang lutut kaki dan tengkuk leher Yoongi. Dikalungkannya kedua lengan Yoongi di leher Jimin, menyenderkan kepala gadis mungil itu di dada bidangnya. Setelah dirasa sudah seimbang, Jimin menggendong gadis itu seraya memasuki rumah besar berpagar hitam tinggi.

.

.

To Be Continued?

.

.

Pendek, ya? Maapkeun ;_;)/

.

.

Lols eksekusi adegan Yoongi nyanyinya jelek banget deh :'D maafkeun.. Adegan itu terinspirasi dari Lay Me Down yang discover Connie Clabot. Sampe baju Yoongi juga loh :3 tapi lirik yg dinyanyiin Yoongi ga nyambung sama adegannya. cm si Jimin kaya terpesona gitu sama Yoongi LOL /makin gaje/

Chapter 6 datang lebih lama ya, Ore mau hiatus dulu mau UAS /bakar sesajen/ /minta wangsit/

.

Buat semua yang udah mendukung ff ini; ngebaca, pm, ngereview, ngefav, ngefollow;
THANK YOU A LOOOOT~~~~~ aku ada karena kau ada /nge wink/

.

Kalo punya waktu, R&Rnya ditunggu ya hehehe :3
SEE YOU NEXT TIME!
(~^o^)~I love U~(^o^~)