Chapter 6: I give it all to you

.

The Rings, The Vows and The Falsehoods

.

Main cast:

Park Jimin, 24 y.o (Male)

Min Yoongi, 18 y.o (Female)

Other cast:

Jung Hoseok, 18 y.o (Female)

Kim Namjoon, 18 y.o (Male)

Jeon Jungkook 24 y.o(Female)

Switch gender, Romance.

Rated: sesuai kondisi aja lol

YoonMin / MinGa / MinYoon, BTS, Bangtan Boys, Bangtan Seonyeondan.

WARNING: bahasa baku dan non-baku dicampur

.

Hai hai Ore balik lagi dengan membawa chapter extra panjang nih wkwkwk maafkeun kalo tambah aneh ceritanya ;_;

.

FF asli punya dan bikinan Ore!

Happy reading, sayang-sayangku(?)

.

.

.

.

.

"Nona Yoongi kenapa?!" security rumah tersebut berlari dari pos penjaga ketika melihat anak majikannya terpejam lemah yang diemban oleh seorang lelaki asing dari cctv. Padahal tadi pagi nona manis ini terlihat sehat-sehat saja saat di antar pak supir menuju sekolah.

Ia mendorong pagar ke samping agar lelaki asing itu, Jimin, dapat masuk. "Yoongi demam, pak." Jawab Jimin dengan nada khawatir. Buru-buru security tersebut menunjukkan jalan ke pintu dalam garasi yang menembus langsung ke dapur.

"Nanti tuan masuk saja lalu naik ke lantai dua. Pintu pertama dekat tangga itu kamar nona Yoongi."

"Oke, terima kasih."

"Mama... pusing…" terdengar suara lemah dari Yoongi yang memejamkan matanya di dekapan Jimin. Bibirnya sedikit pucat. Jimin jadi iba menatap Yoongi yang kesakitan. Tanpa sadar Jimin mencium singkat puncak kepala gadis yang sedang demam itu. "Ssstt.. tahan bentar, ya." Bisiknya pelan.

Jimin langsung memasuki dapur Yoongi dan menaiki tangga besar di dekat sebuah grand piano dengan tergesa-gesa menuju lantai dua. Pelayan rumah Yoongi yang terkejut melihat kedatangan mereka pun setengah berlari mengekor di belakang Jimin dengan raut wajah secemas wajah Jimin.

"Orang tua Yoongi ke mana?" tanya pria tampan itu pada pelayan. Keringatnya turun dari kedua pelipis setelah memasuki sebuah pintu putih yang digantungi boneka beruang memegang papan kayu bertuliskan 'Yoongi's Room'.

"Tuan besar sedang ada proyek di Jepang dan nyonya menemaninya." Pelayan tersebut menjawab seraya sibuk melepas boots milik Yoongi yang sudah dibaringkan di tempat tidurnya dengan sangat hati-hati oleh Jimin. Jimin menyelimuti tubuh Yoongi dengan selimut. Ia mendudukkan dirinya di single sofa beludru berwarna coklat muda dan mengelus surai halus Yoongi yang basah karena keringat, menyingkirkan rambut-rambut yang menghalangi wajah cantiknya yang memucat. Yoongi meracau kecil, Keningnya masih panas…

"Tolong bawakan air dingin berisi es batu dan handuk kecil." Perintah Jimin kepada pelayan tanpa sedikit pun mengalihkan padangannya dari gadis yang terbaring lemah di tempat tidur. Jari Jimin menyentuh pelan pipi mulusnya seakan ingin menenangkan Yoongi yang kesakitan. Jimin tidak tahu Yoongi ternyata terlihat rapuh dibalik keserba-bisaan yang ia miliki. Sepertinya sekarang batas limit kekuatannya sedang terkuras.

Tak beberapa lama pelayan itu datang membawa barang yang diperintahkan Jimin, "saya taruh di meja kecil ini ya, tuan."

"Thanks. Dan maaf ya saya sudah lancang masuk ke rumah ini tanpa permisi. Saya… uhm.. teman Yoongi." Ucap Jimin sembari mengambil gagang telepon rumah di meja kecil dekat ranjang. "Oh, sebelumnya tolong sambungkan saya dengan nomor orang tua Yoongi. Saya ingin bicara tentang keadaan Yoongi."

Pelayan tersebut tersenyum kecil, "Tidak apa, tuan. Terima kasih sudah membawa nona ke sini." Kemudian ia menekankan beberapa angka untuk menghubungi majikannya dan berjalan keluar kamar setelah tersambung.

Jimin menempelkan gagang telepon di telinga seraya memeras handuk dan ditaruhnya di atas kening Yoongi.

"Halo?" terdengar suara wanita paruh baya. Jimin menegakkan tubuhnya di sofa. Ia merasa gugup juga berbicara dengan orang tua Yoongi untuk pertama kali. Jimin menarik nafas dan dihembuskannya pelan.

"Permisi.. Saya.. Park Jimin."

Wanita paruh baya itu, mama Yoongi, terkejut mendengar suara pria disebrang. Dengan heran ia mengecek layar ponselnya, benar kok ini nomor telepon rumah. "Nak Jimin? Anaknya Presdir Park? Kok, bisa menelepon dari rumah saya?"

"Begini.. Saya sehabis bertemu Yoongi di sekolahnya hari ini. For the first time." Jawabnya Jimin sedikit kaku. "Dan pas saya antar Yoongi sampai rumah, tiba-tiba dia jatuh sakit.. "

"Oh, my.. Is she okay now? Anak ini tuh suka sekali melakukan kegiatan-kegiatan yang melelahkan. Sudah tahu kalau capek-capek langsung drop, masih saja begitu." Nada cemas terlontar dari mulut Mama Yoongi.

"Sekarang ia masih demam. Saya sedang mengkompresnya dengan air dingin." Jimin mencelupkan handuk kembali ke ember merah dan setelah diperas ia menepuk-nepukkannya di sekitar leher Yoongi.

"Terima kasih nak Jimin sudah mengantar Yoongi. Sampai repot-repot mengompresnya. Saya akan take off besok pagi-pagi buta dan langsung pulang untuk mengecek keadaannya."

"Ah, tak apa.. Anda tidak usah khawatir, besok pagi pun mungkin Yoongi akan membaik nanti sehabis saya beri dia obat penurun panas." Jimin menenangkan mama Yoongi. Ia menyudahi kegiatan mengompresnya dan kembali duduk santai di sofa. "Dan maaf saya sudah lancang masuk ke rumah anda.."

"Tidak.. tidak justru saya lega ada kamu yang menjaga Yoongi. Setelah saya sampai di Korea, saya harap secepatnya bisa bertemu denganmu dan ibumu, nak Jimin."

"Baiklah.. Berhati-hatilah anda di Jepang." Kemudian keduanya memutuskan sambungan. Jimin menaruh gagang telepon ke tempatnya semula. Pelayan rumah Yoongi masuk kembali sebentar membawa segelas air dan obat penurun panas.

"Yoongi, ayo diminum dulu obatnya." perempuan setengah sadar itu dengan patuh duduk—dibantu Jimin—di ranjangnya sementara untuk minum obat. Yoongi menelan obatnya dengan sekali teguk. Pelan-pelan Jimin membaringkan kembali tubuh Yoongi .

Lama ia duduk dalam heningnya kamar Yoongi yang sayup-sayup terasa AC menyejukkan ruangan. Jimin memandang Yoongi dan tersenyum. Yoongi sudah tertidur tenang tak terlihat kerutan di antara dua alisnya lagi. Kalau dipandang dari dekat, wajah Yoongi memang seperti bayi yang cantik. Kulit semulus kulit bayi, bulu mata yang lentik, bibir tipis dan hidungnya yang menggemaskan. I'm thinking so far, Jimin menggeleng membuyarkan pikirannya.

Ia melirik jam rolex yang melingkar indah di pergelangan tangannya, pukul 23.11 KST. Sepertinya ia harus pulang..

Sebelum bangkit dari sofa ia refleks mencium kening Yoongi yang tidak terlalu panas lagi akibat kerja obatnya dan kompresan dingin yang Jimin tempelkan. "Selamat beristirahat, Yoongi.. Cepatlah sembuh!"

Kemudian Jimin menghilangkan diri di luar pintu kamar Yoongi dan menuruni tangga menuju pintu keluar.

"Titip Yoongi, ya." Pesan Jimin pada pelayan dan security Yoongi yang mengantar Jimin sampai pagar.

.

.

Selimut merah muda bermotif bunga sakura tertendang jatuh ke lantai. Tubuh kecil Yoongi menggeliat nyaman pada ranjangnya seperti biasa. Sinar matahari menyirami kamar khas perempuan milik Yoongi dari jendela yang sudah terbuka lebar tirainya, menyilaukan mata gadis itu yang masih terpejam. Dengan malas, Yoongi menggapai-gapaikan tangan ke jam kecil di nakas. Seakan tersadar dari kenyataan, Yoongi terduduk kaget melihat angka di jamnya. Setengah sepuluh!

"ASTAGA, AKU TELAT!" Ia menggeser bokongnya hendak menjejakkan kaki, tiba-tiba memekik kaget.

"Mulai hari ini kan sudah libur kenaikan kelas. Nona lupa?" entah dari mana datangnya, si pelayan sudah berada di kamar Yoongi sedang membereskan bekas kompresan tadi malam.

"Astaga, kamu hampir buat jantungku copot.." sahut Yoongi sembari mengelus dada menenangkan jantungnya yang malang. Pelayannya hanya tertawa.

Oh, iya, ya. Hari ini Yoongi sudah memulai hari liburnya. Setelah hari-hari sibuk mengurus festival kesenian dan belajar menghadapi ujian akhir kenaikan… Finally, yeay! Batin Yoongi riang.

Ia kemudian bangkit dari ranjangnya dan berjalan menuju pintu kamar dengan bersenandung. Tetapi langkahnya tertahan melihat pantulan dirinya di cermin besar. Loh, kok dirinya masih memakai dress dan stocking hitam? Ia mencoba memutar kembali adegan kemarin di mana ia menaiki sedan merah Jimin, bercengkrama sebentar, kemudian kepalanya yang sedikit pusing lalu berjalan terhuyung di depan gerbang rumahnya… lalu… Jimin…

"Nona sudah sembuh?" pelayannya menyentuh kening Yoongi. "Syukurlah.. Kemarin anda sedikit demam. Untung teman anda yang.. ehem.. tampan itu membawa anda sampai ke sini, loh. Bahkan menunggu anda sampai membaik." Cerita pelayan itu kepada Yoongi tentang peristiwa yang ia lihat semalam. Malam-malam nona cantiknya digotong seorang lelaki dewasa dan dengan sepenuh hati merawat nonanya itu yang sedang sakit. Bagaimana ia bisa lupa akan kejadian layaknya pangeran dan seorang putri?

Yoongi memunculkan semburat rona merah kembali yang kontras dengan kulit putih pipinya. Ia mengingat bagaimana Jimin mengemban tubuhnya dengan sabar dari halaman depan rumah ke kamarnya, mengompres lalu memberikannya obat dan… dan… mencium puncak kepala juga kening Yoongi!

"Tumben nih, nona bawa teman lelaki selain tuan Namjoon. Lebih cakep lagi. Pacarnya, ya, non?" Goda pelayan Yoongi yang siap kabur ke belakang pintu kamar ketika Yoongi melempar bantal ke arahnya.

"Sok tahu, deh. Dasar." Kenapa sih orang-orang di sekitarnya suka sekali menjahilinya? Yoongi mendengus seraya mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi di dalam kamarnya tersebut.

"Jangan lupa turun ke bawah ya, nona. Sarapan sudah siap. Nyonya dan tuan besar barusan juga sudah datang dari Jepang."

.

.

Yoongi mengambil segelas air dari lemari pendingin untuk membasahi rasa kering ditenggorokan. Ia membawa gelas tersebut ke meja makan di mana semangkuk sereal rasa buah-buahan sudah dibuatkan oleh pelayannya. Itu adalah menu sarapan favorit Yoongi selain roti tawar beroleskan selai stroberi dan susu vanilla. Yoongi mengambil tempat duduk diujung meja tersebut dan mulai menyantap sereal.

Mama Yoongi datang dari dari arah kamar tidur untuk menghampiri anak perempuan satu-satunya tersebut, mengecup pelan kening Yoongi yang masih asik menyendokkan sarapan ke mulut kecilnya sendiri. Kemudian mama Yoongi duduk di samping untuk menanyakan keadaan Yoongi.

"Good morning. Dear… Katanya kau sakit kemarin?"

"Morning, mam. Umm.. tapi sudah membaik. Biasa, tiba-tiba drop." Sahut gadis itu setelah memasukkan satu sendok terakhir ke mulutnya. Ia lantas meraih gelas berisikan air untuk diminum.

"Syukurlah kalau tidak apa-apa." Ucap Papa bergabung dengan mama dan Yoongi. "Ah, ya, kemarin papa dengar dari mama kamu sudah bertemu dengan anaknya Ibu Presdir Park Company, ya?"

Yoongi mendelik sekilas ke papanya dan mengangguk. "Kok, tahu?"

"Itu kemarin nak Jimin nelepon ponsel mama dari sini ngabarin kamu demam. Terus papa nguping gitu." Jawab mama Yoongi.

Terlihat wajah cerah papa tanpa menghilangkan kesan galak di kerutan bawah matanya. Ia manggut-manggut senang seraya bertepuk tangan singkat. "Bagus, Yoongi. Terus menjadi dekat dengannya, ya. Supaya perjodohanmu lancar." Yoongi memutar bola matanya dengan jengah. Bukannya khawatir anaknya sakit malah senang karena Jimin dan dia sudah bertemu.

"Besok mama sama papa berniat ngajak kamu bertemu mrs. Park dan Jimin. Untuk membicarakan perjodohan ini. Kamu sudah libur sekolah, kan? Lagian juga besok hari minggu. Siap-siap, ya." Perintah papa dengan nada jangan-pernah-coba-coba-menolak-perintah-papa. Yoongi yang sudah tahu sifat papa, hanya bisa mengiyakan permintaannya dengan lapang dada. Mamanya tersenyum berusaha menghibur Yoongi yang sedikit cemberut menatap papa keras kepalanya.

.

.

Ke esokkan harinya.

Segelintir manusia berbalutkan pakaian semi-formal yang terlihat mahal itu memasuki sebuah restoran mewah yang menyediakan Chinese Cuisine. Restoran itu didesain serba merah dan beberapa ornamen khas Tionghoa menghiasi setiap ruangan restoran tersebut.Harum masakan menguar dari segala arah membuat perut Yoongi yang kosong keruyukan dan tanpa sadar ia membasahi bibir bawahnya dengan lidah.

"Pa, lapar, nih. Nanti bebek pekingnya dingin, tuh. Kasihan minta disantap dari tadi."Rengek Yoongi seraya menunjuk bebek panggang yang menggiurkan di meja bundar, di hadapan Yoongi dan kedua orang tuanya. Papanya menggeleng keras. Mama Yoongi hanya tertawa kecil.

"Gak sopan. Tunggu tamunya dulu baru makan bareng-bareng." Sewot papa Yoongi. Yoongi memajukan bibirnya dan mengutuki Jimin di dalam hati kenapa lelaki itu tidak segera datang. Tidak tahu apa Yoongi belum mengisi sebutir nasi pun ke lambung siang ini. Eh, sudah sarapan sih.. Cuma ya sekarang ia merasa lapar lagi.

Panjang umurnya, deh, si Jimin oppa. Batin Yoongi ketika melihat sesosok pria tegap melewati pintu masuk restoran dengan mengenakan kemeja fit body biru tua yang kedua lengannya dilipat sampai siku, menampilkan jam tangan di pergelangan tangan kiri. Rambut hitam Jimin seperti biasa di sisirkan ke belakang, membuat dirinya terlihat apa ya istilahnya.. cowok banget? Ia menggandeng seorang wanita paruh baya yang Yoongi yakini itu adalah ibunya Jimin. Kemudian mereka berdua bergabung bersama di meja yang keluarga Yoongi pesan.

"Aduh, maaf tadi ada kemacetan di pertigaan dekat sana. Jadi tidak enak datang terlambat.." Ibu Yoongi meminta maaf. Yoongi mendengus melihat Jimin meringis seraya melafal kata 'maaf' dengan tidak bersuara ke arah Yoongi.

"Tidak apa-apa. Mari kita makan dulu hidangannya sebelum mendingin." Senyum papa ramah kepada Jimin dan ibunya. Dengan senang hati Yoongi pun mengikuti perintah papanya kali ini, tetap dengan gaya makannya yang sopan tak seperti cacing diperutnya yang sudah buas mengaum.

Di bawah meja, Jimin dengan usil menendang pelan kaki Yoongi yang sedang menyantap dengan penuh penghayatan disebrang. "Aw! Oppa!" desis Yoongi pelan kepada Jimin yang mengulum senyumnya. Jimin tiba-tiba saja gemas melihat Yoongi yang sok-sokan makan dengan elegan padahal jelas sekali ia sangat kelaparan. Sangat terbaca di wajah Yoongi.

Yoongi kesal, ia menendang balik lebih keras ke tulang kering Jimin yang sontak meringis kesakitan "Nice feedback."

Papa Jimin kemudian berdeham, spontan mereka berdua terdiam pura-pura menyantap kembali makanannya masing-masing. Ibu Jimin dan mama Yoongi hanya melirik. Suasana menjadi hening dan mereka menyelesaikan santapan dengan tenang.

"Jadi," papa Yoongi mengelap mulutnya dengan serbet, "mau kapan tanggal pasti untuk pernikahan Yoongi dan Jimin dilaksanakan, Mrs. Park?" tanya papa Yoongi seperti biasa, to the point.Yoongi dan Jimin hampir tersedak yang sedang meminum air putih dari gelas. Ibu Jimin tertawa dan ia letakkan alat makannya.

"Haduh, kayak biasa mr. Min gak main basa-basi dulu. Secepatnya kalau bisa tidak mengganggu jadwal sekolah Yoongi, ya." Ibu Jimin tersenyum. "Oh sebelumnya.. Halo, Yoongi. Saya mrs. Park, ibunya Jimin. Telat banget ya baru memberi salam ke kamu."

Yoongi membalas uluran tangan Ibu Jimin dengan sedikit canggung, "Tidak apa, mrs. Park. Saya Yoongi, senang bertemu dengan anda."

"Nah, mr. Min dan mrs. Min, kenalkan ini anak saya. Park Jimin ayo memberi salam." Jimin menjabat tangan kedua orang tua Yoongi.

"Jimin ini sudah bertemu Yoongi sebelumnya, kan." Mama Yoongi tersenyum pada pemuda berkemeja biru tua tersebut. "Bahkan ia mengantar Yoongi yang sedang sakit saat itu sampai rumah."

"Oh, begitukah , Jimin?" Ibu Jimin menengok ke sosok anaknya seolah mengatakan you did well my son. Jimin hanya tersenyum.

"Baguskan berarti mereka sudah kenal satu sama lain.. Jadi kita tak usah khawatir pernikahan Yoongi dan Jimin dilaksanakan secepatnya. Bulan depan, seminggu sebelum Yoongi masuk sekolah kembali?" Papa Yoongi berucap bahagia setengah berapi-api.

Entah mengapa saat papa mengatakan itu, perasaan Yoongi diliputi awan gelap yang menggantung. Takut.. Asing.. Khawatir.. Kehidupan pernikahan itu seperti apa? Seketika tatapan Yoongi kosong dan tangannya mengepal di depan jantung, kalut akan perasaannya sendiri.

"Yoongi sedang libur musim panas sekarang?" ibu Jimin menimbang-nimbang. Yoongi mengangguk.

"Jimin sendiri bagaimana? Siap?" mama Yoongi bertanya pada Jimin yang menghembuskan nafas berat.

Sebenarnya memang semua serba mendadak. Tadi pagi ibunya berkata jika ini tidak dilaksanakan secepatnya, upacara kenaikan pangkat menjadi Presiden Direktur di perusahaan orang tuanya akan terus ditunda oleh ibunya. Sedangkan Jimin sendiri sebenarnya khawatir sosok yang telah mengandung dirinya itu mulai sering mengeluh sakit akibat banyaknya kerjaan sebagai Presdir menggantikan mendiang ayah yang telah lama berpulang—di samping ambisi liar Jimin untuk memimpin perusahaan itu sendiri—.

Kepala Jimin hampir pecah. Ia memijat sebentar pelipisnya yang sedikit pening.

"Bagaimana nak Jimin?" tanya mama Yoongi sekali lagi.

Dengan penuh pertimbangan dan tatapan ibu Jimin yang berbinar-binar penuh harap, akhirnya Jimin menjawab "Saya siap kalau Yoongi pun siap."

"Yoongi sudah siap, kan?" tanya papa Yoongi tidak sabar. Yoongi yang masih menatap kosong meja makan di hadapannya hanya mengiyakan pelan. Jimin mengdesah kembali.

"Good! Kalau semua setuju, segera kita persiapkan semuanya!" lalu kedua orang tua Yoongi dan ibu Jimin tertawa lega. Tak sadar bahwa kedua manusia berumur 18 dan 24 tahun tersebut melamun jauh di antara pikiran-pikiran yang yang menggelayuti hati mereka.

.

.

Setelah perbincangan panjang di restoran, mereka meninggalkan tempatnya. Papa Yoongi menyuruh Yoongi untuk ikut ke mobil Jimin saja, sedangkan ia meminta ibu Jimin untuk mau diantar oleh mobilnya bersama sang istri. Permintaan itu disambut baik oleh ibu Jimin.

"Bye, Jimin. Ibu diantar pulang mr. dan mrs. Min, ya. Baik-baik dengan Yoongi!" Ibu Jimin melambai lalu masuk ke dalam mobil hitam milik keluarga Yoongi. Meninggalkan anak tersayangnya dengan Yoongi di parkiran.

Jimin mengacak rambutnya frustasi seusai ia melihat kepergian mereka, kemudian mengajak Yoongi untuk masuk ke dalam sedan merah Jimin. Yoongi mematung di sisi mobil.

Jimin baru sadar sekarang, sedari tadi obrolan dengan para orang tua tentang pernikahan Yoongi hanya membisu dengan pikiran yang entah kemana. Mata gadis itu sedikit berkaca-kaca, lantas Jimin menghampiri untuk berdiri di hadapannya. Ia meraih kedua telapak tangan Yoongi dan menggenggam tangan mungil itu dengan erat.

"Kenapa?" tanya Jimin dengan lembut. Sedangkan yang ditanya hanya menggeleng keras yang justru membuat genangan airmata di pelupuk matanya menetes. Jimin kaget melihat Yoongi menangis sekarang. Jantungnya seperti diremas menatap calon istrinya menurunkan butiran-butiran air dari matanya yang kecil.

"Jangan menangis, Yoongi… Kamu kenapa? Takut dengan obrolan yang dibicarakan orang tua kita tadi?" tanya Jimin mengelus pipi Yoongi yang basah, berusaha menghilangkan airmata di sana. Yoongi mengangguk lemah dan masih tersedu-sedu.

"Yoongi, don't cry anymore. It hurts me seeing the tears come down on your face..." Jimin membawa kepala Yoongi ke dadanya, mengusap lembut surai gadis manis tersebut sembari membisikkan beberapa kalimat agar ia berhenti tesedu. Jimin paling tidak tahan melihat perempuan menangis.

Lima menit lebih, barulah Yoongi tenang besandar di dada Jimin. Jimin masih mengusap-usap rambutnya.

"Sudah tenang?" Jimin mendorong pelan bahu Yoongi untuk mensejajarkan manik matanya dengan gadis tersebut.

"Sudah, oppa.. Maaf aku tiba-tiba menangis." Yoongi tersenyum membuat mata sembabnya yang kecil tertarik ka samping. Jimin ikut tersenyum lega seraya mengelus kelompak mata Yoongi yang sembab itu. Tiba-tiba terlintas ide di otak Jimin untuk mengganti suasana jelek ini.

Jimin menarik tangan Yoongi, membawanya ke kursi penumpang di depan. Ia kemudian mendudukkan dirinya sendiri di samping Yoongi dan memasang savety belt untuknya dan untuk Yoongi.

"Kita mau kemana?" tanya Yoongi yang kebingungan, harusnya sih ya pulang ke rumah.

"Myeongdong." Jimin menjawab dengan riang. Ia menyalakan mesin mobil.

"Hah?"

"Yup, kita kencan di Myeongdong!" Jimin menjalankan sedan kesayangannya keluar dari parkiran dan segera menuju ke pusat perbelanjaan terkenal juga salah satu tempat hangout terbaik, Myeongdong.

.

.

Sedan Jimin sudah sampai di daerah Myeongdong. Terlihat dari balik kaca mobilnya banyak sekali kerumunan orang-orang hilir mudik masuk ke deretan toko-toko, kedai minum dan restoran-restoran yang unik bermerk lokal maupun internasional di seluruh penjuru jalananini. Baru ingat, hari ini weekend. Pantas saja ramai. Jimin memarkirkan mobilnya di pinggir jalan, untung saja ia beruntung mendapatkan tempat.

Jimin berlari mengitari mobil, membukakan pintu untuk Yoongi, "Yuk, turun."

"Mau ngapain kita di sini?" ucap Yoongi setelah turun dari mobil.

"Kan dibilang tadi kita kencan."

"Kencan memang kayak gimana, sih? Ngapain?" Yoongi dengan polosnya bertanya kembali.

Ya, ampun.. Anak ini beneran polos banget. Batin Jimin menahan tawanya. "Memang kamu belum pernah kencan sebelumnya?"

"Boro-boro. Jangan ketawa! Pacaran saja belum pernah.. tahu artinya saja nggak." Yoongi menggembungkan kedua pipinya seraya menatap malu aspal di bawah high heels-nya. Jimin selalu gemas jika Yoongi sudah bertingkah seperti itu. Ingin saja ia gigit kedua pipi putih mulus tersebut yang merona cantik.

"Serius belum pernah?"

"Untungnya apa aku berbohong, oppa.. Gak usah kaget begitu. Dasarnya mau mengejek, kan."

Jimin tertawa renyah. Hati Jimin entah mengapa menghangat mengetahui betapa polosnya orang yang akan ia nikahi dalam waktu dekat ini. She is just innocent girl who has pretty face and good attitude.

"Ih, berburuk sangka saja." Jimin mengambil jemari kanan Yoongi lalu ia eratkan di genggamannya, "Aku bukan mau ngejek kamu, justru aku mau kasih tahu kencan itu seperti apa."

"So, Let me be your first boyfriend for today." Dan Jimin segera menarik Yoongi untuk masuk mengikutinya ke sebuah butik dengan merk terkenal.

Jimin berkata seperti itu lantas Yoongi merasakan jantungnya berdebar keras dan perutnya seperti ada yang menggelitinya, geli. Perasaan ini sama seperti yang ia rasakan saat dan setelah Yoongi bernyanyi di festival sekolahnya seraya menatap dalam manik mata Jimin yang hitam pekat. Apa aku sakit lagi?

.

.

"Selamat, datang di toko kami. Ada yang bisa saya bantu?" Pelayan butik itu tersenyum ramah kepada Jimin dan Yoongi.

"Saya membutuhkan satu setel baju casual + sepatu kets untuk dia," Jimin menunjuk ke arah Yoongi, "dan satu lagi untuk saya sendiri."

"Baik, tunggu sebentar." Pelayan itu berjalan ke arah deretan baju.

Yoongi menatap heran Jimin yang masih menautkan jarinya di jari Yoongi. Bahkan, Jimin pun bersenandung riang seraya memilih-milih pakaian yang disandingi dengan tubuh Yoongi. Kok, jadi belanja pakaian dan sepatu? Yoongi kan tidak butuh.

"Oppa. Kenapa kamu bawa aku ke butik?" pertanyaan yang dilontarkan Yoongi tadi membuat Jimin berkacak pinggang.

"Kita kan mau jalan-jalan ke sana kemari, kamu masih mau pakai pakaian formal gini sama high heels kayak gitu?" Jimin menunjuk penampilan formal Yoongi yang dipakainya untuk makan siang bersama para orang tua tadi. "Aku sih gak mau."

Jimin kemudian sibuk memilih-milih pakaian kembali. Oh, iya.. Benar juga…

Tak lama, pelayan butik tersebut membawa benda-benda yang diminta oleh Jimin dan langsung saja ia mendorong pelan Yoongi ke fittingroom untuk segera mengganti pakaiannya.

.

.

Pukul dua siang di Seoul saat ini ternyata sedikit terik juga. Walaupun udaranya panas tak menutup kemungkinan ramainya pengunjung di Myeongdong. Jimin dan Yoongi bergabung dalam keramaian tersebut setelah keluar dari butik yang mereka datangi.

Yoongi sudah menanggalkan dress mini yang ia ganti dengan kaus putih bergambar dream catcher tak berlengan dengan celana jeans pendek sepaha yang memperlihatkan kulit mulus tanpa cacatnya. High heels-nya pun ia sudah ganti dengan sepatu kets berwarna senada. Rambut coklat panjangnya ia biarkan tergerai.

Yoongi berulang kali melirik ke sosok tampan Jimin berjalan beriringan sembari menggandeng tangannya. Yoongi jadi tak bisa mengontrol sudut bibirnya yang secara tak sadar tertarik ke samping, Jimin terlihat lebih fresh dengan poni yang diturunkan di keningnya. Biasanya kan ia sisir ke belakang.. Hati Yoongi tiba-tiba berdesir. Wajah Yoongi mulai memanas, apalagi ketika orang-orang melihat ke arah mereka sembari berucap 'Pasangan yang cocok, ya!' atau 'aku iri'.

Seperti tersalur perasaan yang dirasakan Yoongi, Jimin yang sekarang memakai kaus putih bergambar sama seperti milik Yoongi dengan jeans panjang yang sobek-sobek—yang kata Jimin ia pilih karena sedang kekinian di kalangan remaja muda— di daerah lututnya, merasa hari ini ia tidak menyesal mengajak Yoongi ke sini. Perasaan berbunga-bunga terus mekar di hatinya, yang membuat Jimin terus memungkiri ada hal lain yang ia rasakan terhadap Yoongi. Memungkiri perasaannya yang diam-diam terus berubah terhadap Yoongi.

Selama berjalan-jalan di Myeongdong, sering kali mereka berhenti ke sebuah toko-toko hanya untuk sekedar melihat atau memuaskan rasa penasaran. Tak jarang pula mereka tertawa bersama jika melihat barang yang unik seperti rambut palsu yang menyerupai rambut panjang setengahnya artis bernama G-Dragon di music video Fantastic Baby. Jimin mencoba rambut palsu tersebut yang lantas dibalas gelak tawa Yoongi.

Selanjutnya mereka berhenti di toko bermerk lokal di mana menjual aneka macam kacamata dan topi-topi dalam berbagai bentuk. Jimin mengambil sebuah kacamata dengan frame hati besar dari rak lalu ia pasangkan ke wajah Yoongi. Jimin tertawa tak henti-henti melihat kacamata tersebut melorot karena hidung dan wajah Yoongi berukuran mungil. Yoongi hanya mendengus sebal lalu mencubit lengan pria yang suka mengusilinya itu.

"Aww, sakit banget deh cubitannya."

"Biarin." Yoongi menjulurkan lidah. Ia melepas tautan jarinya dari Jimin untuk mengambil beanie lucu berwarna hitam yang tertangkap matanya dari jejeran topi di samping rak kacamata. Ia lalu memasangkannya ke kepalanya sendiri.

"Pantas tidak?" tanya Yoongi ke Jimin setelah ia memakaikannya di kepala dan membereskan rambut ke belakang. Sebenarnya Jimin ingin langsung berbicara 'apapun pasti pantas untuk dipakai kamu', tapi ia urungkan. Ia pura-pura menimbang-nimbang penampilan Yoongi yang bahkan sebelumnya hanya memakai kaus dan jeans pendeknya saja sudah sangat menarik.

"Ummm.. Gimana, ya…" Jimin terkekeh.

"Kalau tidak pantas ya bilang tidak, dong." Cibir Yoongi yang hampir melepaskan beanie hitam tersebut jika saja Jimin tidak menahan gerakan tangannya.

"Eits, cocok kok cocok." Jimin tersenyum hangat ke Yoongi, ia menautkan kembali jari Yoongi di tangannya. "Kita beli itu ya, kenang-kenangan buat kamu. Abis ini beli minuman. Haus, kan?"

Kupu-kupunya terbang lagi di perutku... Batin Yoongi yang memegangi dadanya, berusaha menenangkan jantung yang dengan tanpa permisi terpompa lebih cepat. Yoongi jadi takut kalau Jimin akan mendengarnya.

Mendadak gadis mungil itu merasa takut kembali mengingat obrolannya dengan para orang tua tentang pernikahan datang memenuhi pikirannya.

.

.

Jimin mengambil pesanan satu Ice Americano untuknya dan satu Vanilla Milkshake untuk Yoongi dari meja kasir. Jimin berjalan keluar dari kedai minuman tersebut menuju gadis yang hari ini sedang dikencaninya.

"Nih, punya kamu." Jimin menyodorkan Vanilla Milkshake ke depan Yoongi. Yoongi dengan wajah muram mengambil minuman tersebut.

Jimin jadi merasa janggal, kenapa senyum Yoongi tiba-tiba hilang?

"Kenapa lagi, Yoongi?" buru-buru Jimin menghabisi minumannya dan mendekati Yoongi yang masih betah berdiri di dekat pintu masuk kedai. "Ayo, milkshake nya diminum. Kalau gak dingin, kurang enak."

"Jimin oppa.. Aku takut.." Yoongi yang tidak mengindahkan perintah Jimin malah meneteskan airmatanya. Lagi, dua kali dalam sehari ini. Jimin jadi cemas lalu mengambil minuman yang sepertinya sudah tidak diminati lagi oleh yang punyanya. Ia menaruh minuman itu sembarang.

"Hei.." Jimin mengelus pucuk kepala Yoongi, "Takut kenapa? Coba katakan padaku.."

"Aku ini kan tidak tahu apa-apa… Kamu tahu sendiri.." Yoongi meloloskan airmatanya dari kedua pelupuk mata. "Aku tidak bisa membayangkan pernikahan itu seperti apa.. Aku takut membayangkan kehidupanku akan seperti apa setelahnya.. Aku takut dengan aku yang gak tahu apa-apa ini… Aku takut mengecewakan papa, mama, ibu kamu dan juga kamu sendiri.."

Hati Jimin mencelos. Seorang anak perempuan berusia 18 tahun menangis karena perjodohan yang sebenarnya Jimin bisa tolak kalau saja ia tidak disudutkan ke dalam pilihan ambisi dan ibunya. Seorang anak perempuan polos menangis karena Jimin telah membuatnya masuk ke dalam dunia yang seharusnya bukan sekarang waktunya ia masuk. Jahatnya Jimin membuat seorang anak perempuan ini tidak dapat merasakan seperti apa itu jatuh cinta terhadap pria yang seharusnya dapat lebih membahagiakan dirinya..

Jimin menangkup wajah Yoongi, menghapus airmata yang keluar menggunakan ibu jarinya. Jimin menutup kelopaknya matanya sembari memantapkan semua yang telah ia pertimbangkan matang-matang. Sudah saatnya aku melepaskan semua.. Aku tidak boleh egois..

Jimin lalu menarik lengan Yoongi untuk segera beranjak dari tempat ia berdiri. Yoongi yang masih menangis hanya bisa tercengang melihat Jimin membawanya masuk ke dalam sebuah Jewelry Shop. Untuk apa ia membawanya ke tempat ini?

Jimin memilih dengan cermat sepasang cincin yang terpajang di dalam kotak kaca di toko perhiasan tersebut. Jimin mengambil salah satunya yang berbentuk seperti flower crown berwarna emas yang bertahtakan berlian putih di setiap bunganya. Sedangkan yang satu lagi berbentuk rantai melingkar berwarna emas dan bertahtakan satu berlian putih itu ia tetap simpan dalam kotak cincinnya.

Saat itu, pukul 5 sore, di hadapan orang-orang yang berada di sini, di keramaian sebuah toko perhiasan Myeongdong, Jimin menekuk satu lutut kakinya dan tangannya meraih tangan mungil Yoongi yang masih bertanya-tanya.

"Maaf, ini terkesan tak ada persiapan dan seharusnya aku mempersiapkan ini, Yoongi.." Jimin berbicara sembari mendongak menatap wajah Yoongi. Yoongi yang sudah berhenti menangis, kini hanya bisa terdiam.

"Aku pikir, aku juga akan sulit menjalani kehidupanku ketika aku dan kamu dijodohkan. Tetapi sekarang..."

Jimin menutup matanya.

Buang semua kegoisanmu.

"Asalkan itu sama kamu…"

Bohong pun tak apa.

"Aku pasti bisa menjalaninya…"

Simpan rapat-rapat semua kenanganmu di masa lalu.

Jimin membuka matanya setelah menghela nafas panjang dan tersenyum ke arah Yoongi yang matanya hampir tak berkedip karena takjub dengan hal yang di lakukan Jimin sekarang. Apa seperti ini yang namanya dilamar?

"Will you marry me, Min Yoongi?"

Goodbye, Jeon Jungkook. My first love.

Seketika suasana toko perhiasan ramai mendengar lamaran Jimin terhadap Yoongi. Jimin menyematkan cincin berbentuk flower crown itu ke jari manis tangan kiri Yoongi. Kemudian Jimin bangkit berdiri dan memeluk tubuh mungil milik perempuan yang akan dinikahinya sebulan lagi.

Yoongi yang tak tahu harus bagaimana hanya bergumam, "Terima kasih, Jimin oppa…" Seraya membalas pelukan hangat Jimin.

.

To Be Continued

.

.

.

Tolong ingetin Ore please kalo kalian udah bosen sama ff yang makin ga jelas ini ;_;

Buat semua yang masih mendukung ff ini; ngebaca, pm, ngereview, ngefav, ngefollow;
THANK YOU A LOOOOT~~~~~ aku ada karena kau ada /nge wink/
Maaf blm bisa bales kalian satu-satu. Aku sebenernya belum selese ujian HAHAHAHA

Kalo punya waktu, R&Rnya ditunggu ya hehehe :3 bisa juga bantu Ore bikin alur buat chapter selanjutnya, otak Ore udah mentok lol

SEE YOU NEXT TIME!
(~^o^)~I love U~(^o^~)