Chapter 7: Could it be love?
The Rings, The Vows and The Falsehoods
.
Main cast:
Park Jimin, 24 y.o (Male)
Min Yoongi, 18 y.o (Female)
Other cast:
Jung Hoseok, 18 y.o (Female)
Kim Namjoon, 18 y.o (Male)
Jeon Jungkook 24 y.o(Female)
Switch gender, Romance.
Rated: sesuai kondisi aja lol
YoonMin / MinGa / MinYoon, BTS, Bangtan Boys, Bangtan Seonyeondan.
WARNING: bahasa baku dan non-baku dicampur
.
Hai kembali lagi dengan Ore di sini. /tebar convetti warna-warni/
Siapa yang rindu?
.
This is Fan Fiction belongs to Ore.
Happy reading, my honored readers^^
.
.
.
.
.
.
"Hoseok?" Yoongi memanggil nama sahabatnya yang cerewet lewat ponsel. Ia terduduk di sebuah sofa kulit coklat lumayan besar.
"Hhmm. Ada apa Yoongi?"
"Kamu lagi di mana, sih? Susah banget dihubungin dari kemarin-kemarin. Aku telepon ke rumahmu katanya lagi berlibur, ya?"
Hoseok melepas kacamata hitam di kepala, lalu menyengir lebar memandang langit yang begitu cerah dari tempat Hoseok sekarang. "Bingo! Aku berada di Malibu, nih. Padahal aku mau ngajak kamu juga, tapi kamu gak bisa, kan. Ya sudah aku pergi sendirian." Hoseok masih membiarkan tubuhnya berselonjor pada kursi pantai, berjemur di bawah terik matahari.
"Ih, mau ikut." Ujar Yoongi di sebrang telepon sambil mengkerucutkan bibir tipisnya, sedikit menyesal menolak tawaran Hoseok untuk berlibur bersama. "Tapi aku memang tidak bisa, Hoseok. Lagi sibuk."
"Dasar sok sibuk. Sibuk apalagi kamu sekarang? Waktu itu sibuk les, terus sibuk belajar buat ujian, setelahnya sibuk nyiapin festival.. Yang ini sibuk ngapain?" protes Hoseok yang kini menelungkupkan tubuhnya di kursi.
"Aku… emm.. tadinya mau minta kamu buat temenin aku. Pilih-pilih gaun gitu sama mama.."
"Gaun? Gaun buat apa?"
"Ehm…" Yoongi ragu, mengigit bibir bawahnya sembari memelintir anak rambut di kening. Dan akhirnya ia melanjutkan, "Gaun… Gaun untuk pernikahanku, Hoseok."
Langsung Hoseok terjatuh ke pasir pantai yang putih terhampar di bawah kursi saking kagetnya Yoongi mengatakan kalimat barusan. Para Pengunjung di sampingnya ikut terjengit kaget.
"Hoseok? Kamu gak apa-apa, kan?" tanya gadis polos itu dengan nada khawatir kepada sahabatnya yang terdengar seperti sedang terjatuh.
Ponsel yang sempat terlepas dari telinganya kini buru-buru Hoseok tempelkan kembali setelah ia duduk bersila di atas pasir sebuah pantai di Malibu. "MIN YOONGI COBA KATAKAN SEKALI LAGI? GAUN UNTUK APA?" pekik Hoseok memastikan telinganya tidak salah menangkap ucapan Yoongi.
"Duh.." Yoongi menjauhkan ponsel karena telinganya merasa pengang akibat teriakan dari sebrang. Ia sudah menduga pasti reaksi sahabatnya akan selebay ini.
"Jangan teriak-teriak, deh. Kalau gendang telingaku pecah, kamu memang mau tanggung jawab. Iya, gaun pernikahanku, Hoseok. Beberapa minggu lagi."
"Astaga… Aku gak nyangka bakal secepat ini, Yoongi. Aku tahu kamu sudah dijodohkan, tapi aku beneran gak nyangka papa kamu ngambil keputusan cepat seperti ini." ujar Hoseok setelah menenangkan diri sendiri dari keterkejutannya akan berita pernikahan Yoongi.
"Ya, begitulah papa. Aku gak bisa berbuat apa-apa selain nurutin maunya." Yoongi menitik-tumpukan berat kepalanya di siku kanan. Ia masih betah duduk di sofa kulit coklat di sebuah ruang tunggu.
"Tapi, Yoongi.." Hoseok yang ragu mau tak mau harus mengutarakan rasa khawatirnya terhadap teman sepermainannya dari kecil, "Do you have mutual feelings with him? With Jimin oppa?"
"Hm? Maksudmu? "
Sudah pasti Yoongi tidak mengerti.. Hoseok membatin cemas. "Istilah mudahnya.. Semacam kamu mencintai dia dan dia juga mencintai kamu.. Ada rasa-rasa kayak begitu tidak?"
Yoongi terpaku. Mencintai? Cinta? Yoongi tak tahu dan kurang begitu paham. Bahkan perasaannya yang bergejolak aneh saat bersama Jimin pun ia tak tahu itu dapat diartikan apa..
"Aku tidak tahu, Hoseok.." Yoongi berdalih.
"Kamu harus memastikan itu Yoongi… Aku malah takut kamu yang akan terluka pada akhirnya…" ucap Hoseok terdengar cemas.
Yoongi mencerna bulat-bulat kalimat yang Hoseok lontarkan di dalam hatinya.
Tok. Tok.
"Yoongi? Waktunya fitting gaun." kepala mama Yoongi muncul dari sebuah pintu memberitahukan bahwa gaun telah disiapkan untuk dicobanya.
"Baik, maaa." Yoongi spontan membalas mamanya dan cepat-cepat ia berbicara kembali dengan Hoseok untuk meminta izin memutuskan kontak untuk sementara.
"Hoseok-ah.. Sudah dulu, ya. Nanti disambung lagi."
"Yoongi, ingat-ingat perkataanku. Kamu harus memastikan perasaan kamu dan tentu perasaan dia juga. Pernikahan itu sulit jika tidak saling memahami apa isi hati kalian masing-masing." Perintah Hoseok dari ujung telepon di sana sebelum Yoongi sembarang mengiyakan dan menekan tombol ends call.
Yoongi menghembuskan nafas panjang dan menerawang pikirannya sebentar ke langit-langit ruang tunggu. Kemudian ia bangkit dari sofa dan berjalan untuk memutar kenop pintu di sebelahnya, menyusul sang mama yang sedang menyentuh gaun-gaun pengantin yang terpajang cantik pada etalase-etalase di Bridal Salon daerah Gangnam tersebut.
.
.
Sudah dua minggu berlalu semenjak Jimin melamar Yoongi di toko perhiasaan. Kejadian itu menjadi hal favorit yang paling sering terlintas di benak Yoongi akhir-akhir ini. Ia tersenyum malu mengingat saat itu tubuhnya direngkuh oleh dekapan Jimin di hadapan orang banyak yang mereka tak kenal. Yang lebih membuat tak dapat tidur nyenyak malamnya adalah saat Jimin menekuk sebelah lututnya lalu mengatakan 'asalkan itu sama kamu, aku pasti bisa menjalaninya'. Selama Yoongi hidup selama delapan belas tahun, tak ada seorangpun melontarkan kalimat yang sampai menyentuh hati Yoongi paling dalam selain ucapan Jimin itu. Yoongi mengangkat jari manis kirinya, memperlihatkan cincin berbentuk mahkota bunga melingkar indah di sana.
Dan sudah dua minggu berlalu semenjak Jimin melamar Yoongi di toko perhiasaan. Kini mereka sama-sama sibuk. Jimin yang sibuk mengurus pekerjaannya di kantor karena sebentar lagi ia akan menjadi pemegang sah jabatan Presiden Direktur di kantor orang tuanya, ditambah pengalihan hak memimpin perusahaan papa Yoongi ke tangan Jimin yang akan segera bergabung dengan perusahaan orang tua Jimin setelah ia menikah.
Sedangkan Yoongi sendiri sibuk menyiapkan detail pernikahannya seperti tempat, undangan, catering, pakaian dan lain-lainnya. Untunglah mama Yoongi dan ibu Jimin ikut membantunya, kalau tidak ia bisa mati berdiri sekarang juga.
Karena kesibukan keduanya membuat mereka tidak dapat bertemu selama dua minggu itu. Terkadang Jimin menyempatkan menelepon Yoongi yang pergi bersama ibunya dan mama Yoongi. Entah mengapa sekarang Yoongi selalu berfikir tidak merasa cukup jika hanya mendengar suaranya saja, ia merindukan sosok jahil Jimin.
Rindu? Ya, sekarang-sekarang ini Yoongi selalu merasa merindukan Jimin. Mohon jangan tanyakan alasannya, karena Yoongi sendiri dibuat heran akan hal itu. Pokoknya, ia ingin sekali bertemu Jimin!
"Hi, Yoongi. Sedang repot, ya?" Jimin berbicara dari ponsel pintarnya.
"Sudah tahu repot, bantu-bantu dong." Yoongi memegang ponsel di tangan kiri sembari memantulkan tubuh langsingnya yang memakai gaun terjuntai ke belakang pada cermin panjang di hadapannya.
"Masalah undangan dan reservasi tempat juga catering sudah selesai, loh. Tinggal fitting baju, kan?" jawab Jimin terkekeh.
"Enak saja. Gak seringan itu. Dasarnya mau tahu jadinya saja, nih." Ujar Yoongi sedikit sebal yang sedang membenarkan lipatan di bagian bawah gaunnya.
"Sebentar dulu, oppa. Jangan dimatikan teleponnya, ya." Yoongi menjauhkan ponsel dari mulutnya yang hendak berbicara pada pelayan Bridal Salon di belakang, "Unnie, aku mau nanti bagian sini tolong agak dipendekan lagi, ya. Aku rasa ini sedikit kepanjangan."
Pelayan itu mengangguk mengerti lalu mencatat pada sebuah buku besar yang tergambar detail desain gaun Yoongi dan berjalan keluar untuk memberitahu atasan dan para ibu di luar fitting room.
Kemudian Yoongi menyambung sambungan telepon kembali, "Hallo, oppa? Masih di situ, kan?"
"Hampir aku tutup, sih."
"Dasar gak punya hati."
Lelaki di sebrang tertawa nyaring mendengar suara kesal Yoongi karena candaannya. "Bohong kali… Jangan ngambek, dong."
Yoongi memutar matanya jengah. Jimin suka sekali membuat bibir Yoongi merengut dan karena sedang malas membalas Jimin ia mengalihkan pembicaraan, "Hari ini jadi ke sini, kan, ke Bridal Salon?"
Jimin merubah posisi ponselnya ke telinga sebelah dan berdeham singkat. "Nah, sebenarnya aku menelepon gara-gara ini.. Maaf aku gak bisa nyusul kamu ke sana. Kerjaanku ternyata baru kosong besok." Ucap Jimin dengan nada penuh sesal kepada gadis di ujung teleponnya.
Yah, gak ketemu lagi deh hari ini.. Batin Yoongi sedikit kecewa. Ia memandang wajahnya yang ditekuk pada pantulan cermin. "Apa boleh buat, ya, kalau sudah begitu… Lihat-lihat apartment-nya besok saja."
"Siap, nona Yoongi. Besok janji deh gak batal." Patuh Jimin pada perempuan yang diteleponnya sekarang, lalu ia menyeringai jahil "By the way.. Sedih, ya, gak jadi ketemu aku?"
Pipi Yoongi merona, ia menyentuh pipinya. Memang tadi Yoongi berbicara terlihat sekali, ya, rasa kecewanya? "Nggak sedih, saja. Sudah sana kamu balik kerja lagi, nanti gak selesai-selesai."
Jimin hanya bisa menggeleng dan tertawa pelan mendengar nada ketus Yoongi. "Ya, sudah. Ku matikan dulu teleponnya. Bye, Yoongi."
"Bye." Kemudian sambungan terputus.
Desahan panjang keluar dari mulut Yoongi. Jimin oppa mungkin masih sibuk dengan pekerjaannya.. Aku harus bilang mama me-reschedule pertemuan dengan agen real estate untuk melihat apartment.
Dengan gerakan cepat, Yoongi menanggalkan gaun pengantin setengah jadi miliknya dan menaruh gaun tersebut pada hanger yang di sediakan pelayan bridal salon. Kemudian ia mengambil pakaian yang ia pakai sebelum mencoba gaun pengantin tadi. One piece tosca muda selutut dengan potongan rok A-line dan tube top yang sangat mengekspos tubuh bagian atas terutama leher putih dan bahu mulusnya. Pakaian khas musim panas sekali.
Yoongi melirik ke arah pintu. Mama Yoongi dan ibu Jimin ke mana, ya? Matanya mencari-cari. Ternyata Yoongi sedang kesulitan menggapai ritsleting baju one piece-nya di punggung. Padahal ia sampai menunduk untuk menyentuh anak ritsleting tersebut tetapi tetap tidak tergapai karena tangannya yang pendek.
Yoongi masih menunduk berusaha untuk mencapai ritsleting , —dan dengan kebaikan Tuhan yang diberikan kepada Yoongi— terdengar debaban pintu tertutup, seseorang telah masuk ke fitting room. Mungkin itu mama atau ibu Jimin. Yoongi buru-buru meminta bantuan kepada siapapun itu di belakang tubuh mungilnya.
"Tolong naikan ritsleting di punggungku, ya. Aku kesulitan, nih."
.
.
Jimin mengulum tawanya yang hampir meledak selama menelepon Yoongi. Ia berbohong bahwa pekerjaannya belum selesai dikerjakan. Sebenarnya sore ini ia sudah bisa fitting tuxedo sekaligus menemani Yoongi ke agen real estate. Tiba-tiba saja otak jahil Jimin kembali muncul, ia ingin kedatangannya yang tiba-tiba di hadapan Yoongi mengejutkan gadis tersebut. Ia terkikik sendiri membayangkan wajah keterkagetan Yoongi nanti.
Jimin sudah tiba di depan Bridal Salon saat menelepon Yoongi tadi. Pintu kaca otomatis terbuka ketika Jimin melangkahkan kaki hendak memasuki ruko tersebut. Ia tersenyum mendapati ibunya dan mama Yoongi mendekat ke arahnya.
"Akhirnya datang juga si laki-laki. Kamu belum mencoba tuxedomu, loh." Ujar ibu Jimin setelah memeluk Jimin yang masih memakai setelan kerja kantornya. Mama Yoongi menyodorkan tuxedo setengah jadi milik Jimin dan mengarahkannya ke ruang pengepasan.
"Yoongi di mana, ya?" tanya Jimin mencari sosok Yoongi.
"Ada Yoongi di dalam ruangan ganti itu. Mungkin dia sudah selesai berganti baju. Masuk saja." Mama Yoongi menjawab dan kembali sibuk bertanya macam-macam bersama ibu Jimin dan sang pemilik bridal salon.
Jimin menyeret langkah kaki menuju pintu ruangan di mana Yoongi ada di dalamnya. Jimin memutar kenop pintu, pelan-pelan ia memasukan tubuhnya ke dalam dan menutup pintu tersebut.
Dan seketika itu Jimin terpaku pada pemandangan yang tersaji di hadapannya. Ide-ide untuk memberi kejutan pada Yoongi yang sedari tadi dimilikinya kandas saat itu juga. Punggung seputih susu milik Yoongi terlihat begitu saja di depan matanya. One piece with tube top, man.. Ia melihat Yoongi seperti sedang kesulitan.
Yoongi menunduk ke bawah berusaha menggapai anak retsleting di punggung tetapi ia akhirnya menyerah, kemudian Yoongi yang mendengar seseorang masuk keruangan tersebut—yang belum diketahui dirinya bahwa ternyata itu Jimin—menyuruh Jimin untuk membantunya menaikan resleting sampai ke atas.
"Tolong naikan retsleting di punggungku, ya. Aku kesulitan, nih."
Jimin masih bergeming. Haruskah Jimin maju mendengar perintah Yoongi atau kembali keluar?
"Mama? Mrs. Park?" Gadis itu berdecak karena tidak ada sahutan dari seseorang di belakangnya. Ia menolehkan wajahnya bersiap mengomel "Ini aku susah banget mau naikin ritsleting, tolong diban… tu, dong." Dan Yoongi benar-benar kaget akan sosok seseorang tersebut bukannlah mamanya ataupun ibu Jimin, melainkan Jimin sendiri!
"Jimin oppa?" Yoongi refleks menyandarkan punggungnya ke cermin besar.
"Hai, Yoongi." Jimin tersenyum sembari mengelus tengkuknya sendiri, grogi.
"Katanya gak bisa datang?"
"Eh, itu.. Sebenarnya aku bohong."
"?"
"Ceritanya mau ngagetin kamu gitu.."
"Ooh." Kemudian percakapan terhenti.
Yoongi mengutuki dirinya sendiri kenapa ia begitu sembarangan menyuruh orang untuk membetulkan ritsleting pakaiannya. Lihat akibat yang ditimbulkan sekarang. Jantung Yoongi seakan melompat dari tempat dan aliran darah memenuhi pipinya membuat wajah Yoongi merona, mengetahui punggung belakang yang tidak terutup sehelai kain pun tadi sempat terlihat oleh Jimin. And my bra… Ia malu benar. Sangat malu.
Jimin berdeham. "Mau aku panggilin mama kamu atau ibuku? Itu.. untuk membenarkan pakaian di belakangmu.."
Yoongi mengedarkan pandangan ke ruangan pengepasan tersebut dan mengigit bibir bawahnya, gugup. Ya, ampun.. Sudah terlanjur menyuruh Jimin oppa tadi, mau bagaimana lagi. Nanti malah jadi awkward kalau panggil mama. Dasar bodoh, Min Yoongi yang selebor.
Yoongi berdiri tegak tidak menyandar pada cermin lagi. Ia membelakangi Jimin, menaruh rambut ke depan dan menundukkan kepala sembari bergumam, "Oppa saja. Tolong, ya."
Jimin yang kikuk menaruh tuxedo yang dibawa tadi ke atas sofa coklat di samping pintu. Jimin melangkahkan kakinya sampai ke belakang tubuh Yoongi. Ia menatap Yoongi dari cermin di depannya.
"Aku naikin, ya." Ujar Jimin. /ambigu banget anjir. Ore./
Yoongi menutup matanya saat anak ritsleting itu bergerak pelan ke atas. Tanpa sengaja, jari Jimin menyentuh punggung Yoongi selagi ia menariknya. Sensasi dari setiap yang ditinggalkan di punggung Yoongi.. panas. Hembusan nafas Jimin pun terasa panas menerpa permukaan kulit Yoongi di sekitar pundak dan lehernya yang terekspos akibat pakaian musim panas yang ia kenakan.
Yoongi jadi menyadari bahwa ada satu lagi yang bertambah selain sosok Jimin yang ia tunggu-tunggu; sentuhannya. Yoongi sangat menyukai sentuhan tangan Jimin saat menggandeng tangannya, memeluknya.. dan saat Jimin tak sengaja menyentuhnya seperti sekarang ini.
"Done." ucap Jimin membuyarkan lamunan Yoongi.
Yoongi mendongakkan wajahnya dan tanpa sengaja saling tatap dengan mata Jimin di cermin. "Ma-makasih."
Tubuh Yoongi hendak dibalikkan namun Jimin menahan pergerakan Yoongi. Jimin malah melingkarkan lengannya di perut Yoongi dan manaruh dagu di ceruk leher gadis tersebut. Mata Jimin menatap serius cermin di hadapan mereka. Yoongi tambah gugup dibuatnya.
"Jangan pernah memakai pakaian seperti ini lagi, Yoongi." Desis Jimin di telinga gadis berambut coklat itu. Sontak Yoongi menggeliat karena saat Jimin berbicara dagunya bergerak di lehernya, geli.
"Memang kenapa?" tanya Yoongi.
Jimin ingin mengerang saja rasanya di telinga perempuan manis ini, tapi tidak benar-benar Jimin lakukan pada akhirnya. Duh, Yoongi memang benar-benar tidak menyadari daya pikat miliknya itu naik drastis ketika ia bertingkah polos seperti itu. Ditambah sekarang ia memakai pakaian yang menampakkan tubuh atasnya? Jangan harap Jimin memperbolehkan Yoongi keluar untuk menebar pesonanya kembali.
"Pokoknya gak boleh." Jimin mengeratkan lingkaran tangannya. Dengan sayang bibir tebalnya itu ia sapukan di permukaan kulit Yoongi dari ujung pundak sampai berakhir dengan menciumi tengkuk juga leher gadis yang memiliki aroma sabun buah-buahan itu. Dada Yoongi hanya bisa bergemuruh keras dan jantungnya berdetak kencang merespon sensasi yang baru pernah ia rasakan sekarang.
"Ji-jimin oppa.. geli.." desis Yoongi. Seakan tersadar, Jimin melepas eratan lengannya di perut Yoongi. Oh, my Godness. What am I doing?
Yoongi mengusap lehernya yang dicium Jimin tadi, kupu-kupu di perut Yoongi terbang lagi. Wajah Yoongi pasti merah sekali. Yoongi membalikkan tubuhnya ke Jimin.
Cepat-cepat Jimin memakaikan jas hitam yang ia kenakan ke tubuh gadis mungil tersebut. Jas yang kebesaran di tubuh perempuan bermata kecil itu menutupinya sampai ke paha.
"Pakai ya sampai datang ke rumah. Ingat. Jangan pernah pakai baju kayak gini lagi."
Anak kecil itu gak boleh pakai yang macam-macam, batin Jimin menegaskan bahwa perlakuannya sekarang hanya untuk melindungi Yoongi saja. Bukan karena tidak rela orang lain bisa seenaknya memandang Yoongi loh, ya..
Iya bukan tidak rela, kok. Benar, kan..? Tadi aku mencium leher Yoongi karena gemas saja, kan? Jimin terus saja memungkiri.
"Yuk, pergi. Aku nanti saja mencoba tuxedonya. Besok. Kamu temenin aku lagi, ya." Jimin mengajak Yoongi keluar dari ruang ganti tersebut. Mencoba mengganti suasana yang lumayan intens tadi, yang hampir saja Jimin tidak dapat mengontrolnya.
Yoongi hanya manggut patuh mengikuti Jimin keluar dengan jas yang kebesaran di tubuhnya. Yoongi tidak peduli dengan hal itu. Otaknya masih berputar. Jantungnya sama sekali tidak bisa dikontrol. His touch really drives me crazy. Kenapa ini?
Iya, benar. Hoseok. Yoongi harus berbicara dengan sahabatnya itu akan perasaannya yang selalu tidak tenang jika Jimin dekat-dekat dengannya.
.
.
Beberapa hari kemudian.
Hari menuju pernikahan Yoongi dan Jimin semakin dekat. 6 jari cukup untuk menghitung mundur sampai hari besar dua keluarga yang akan dipersatukan itu datang. Suasana di kediaman mereka masing-masing pun sudah terlihat memusingkan.
Dan di sinilah, di sebuah kedai minum terkenal, Yoongi sementara kabur dari lingkungan yang hampir membuat otaknya pecah. Di depan Yoongi, dua kursi telah terisi oleh kedua sahabatnya, Hoseok dan Namjoon.
"Jadi begitulah, Hoseok-ah. Namjoonie." Yoongi buru-buru menyeruput frappucino rasa cotton candy-nya.
"Hm." Kedua sahabatnya kompak hanya merespon gumaman.
"Kok cuma gitu responnya?"
"Coba ulangi lagi tadi ngomong apa saja." Namjoon berujar seraya menyendokkan sponge cake ke mulutnya.
"Iya coba. Aku mau dengar lagi ini benar Yoongi yang berbicara atau bukan." Hoseok menimpali.
Dari tadi ia berbicara panjang lebar, mereka tidak mendengarkan? Menyebalkan. Yoongi mengerucutkan bibir tipisnya. "Ih, gak ada siaran ulang." Protes perempuan yang akan segera menikah itu.
"Seriusan ini, Yoongi. Mau aku kasih tahu jawabannya gak?" Hoseok menunjuk Yoongi menggunakan garpu kecil yang ia gunakan untuk memakan cheese cake-nya. "Makanya cepat ulangi."
Yoongi semakin memajukan ujung bibirnya. Hoseok itu pintar memaksa dan Yoongi itu jarang sekali menang dari sahabatnya itu. Jadi sekarang, ia hanya bisa nurut untuk mengulangi perkataannya. Huh, tidak tahu apa aku tadi bersusah payah untuk mengungkapkan semuanya? "Iya deh aku ulangi."
Yoongi berdeham sembari mengaduk minuman dengan sedotan, "Aku gak tahu nih sekarang aku lagi kenapa." Pipinya merona kembali.
Lalu Yoongi melanjutkan dengan malu-malu, "Aku.. tiap hari bawaannya mau ketemu Jimin oppa terus."
"Hm." Namjoon mengiyakan, mulutnya masih terisi oleh kue.
"Aku selalu menunggu kedatangannya. Walaupun Jimin oppa sering meneleponku, tapi suara saja kurang."
"Hm." Giliran Hoseok yang mengangguk mengerti sembari meminum Green Tea Latte.
"Terus.." Yoongi melayangkan tatapannya ke lemari pendingin kaca yang berisi aneka macam kue. Ia menutup wajah dengan telapak tangannya. "Aku.. aku suka saat dia menyentuhku."
"Menyentuh seperti apa?" Selidik Hoseok. Namjoon sudah menghabiskan kuenya, kini ia fokus pada ucapan Yoongi.
"Yang ringan-ringan saja. Seperti saat Jimin oppa memegang tanganku… Memelukku…" mencium tengkukku juga, sih. Tapi gak usah dikasih tahu, deh. "…Kayak ada kupu-kupu beserta angin yang berputar di dalam perutku gitu.." jawab Yoongi yang wajahnya memerah.
"Hmmm.." Kedua sahabat Yoongi seolah-olah sudah tahu mengapa Yoongi seperti ini. Bukan seolah-olah lagi, sih. Memang benar-benar tahu sebenarnya dari awal Yoongi membicarakan isi hatinya ke mereka. Mudah sekali, kan, jawabannya?
"Bentar, bentar. Ada lagi." Telapak tangan Yoongi sekarang mengipas-ngipasi wajahnya yang memanas seperti di dalam sauna. Yoongi menyeruput sedikit minumannya lalu melanjutkan, "Aku selalu berdebar saat ada dia di sampingku. Jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya sampai gak bisa aku kendaliin. Padahal aku ingin terus bareng-bareng sama dia, tapi saat itu juga rasanya aku ingin kabur. Aneh, labil banget hati aku. Sebel sendiri kenapa sih aku kayak gini."
"jadi… Kalian tahu kenapa aku sekarang?" tanya Yoongi menambahkan.
Sudah pasti Yoongi tak akan sadar. Desah Hoseok dalam hati.
Dasar lemot. Namjoon tertawa.
"Namjoonieeee. Kok, malah ketawa? Terus kamu, Hoseok, malah diam. Tuh, percuma diulang juga." Yoongi melipat tangan dan bersandar di kursi. Ia cemberut.
"Kamu tahu gak, Yoongi?" Namjoon terkekeh. "Kamu ini lucu banget, ya, Tuhan…"
"Apanya yang lucu, sih?" Yoongi masih cemberut.
"Gini, deh.." Hoseok akhirnya berbicara, ia menatap ke Namjoon sebentar seakan-akan bertelepati. Namjoon pun mengangguk mengerti.
"Kamu itu lagi… jatuh. cinta." ujar Hoseok dan Namjoon bersamaan dengan penekanan di bagian 'jatuh cinta'-nya.
Yoongi hendak menyangkal namun ia mengkatupkan kembali mulutnya. Yoongi mengetukkan jari ke dagu, berfikir sejenak. Dirinya memang tidak tahu seperti apa jatuh cinta. Tapi yang pasti, ia menyadari ada yang berubah di dalam perasaannya. Pikirannya, hatinya dan matanya semua tertuju pada sosok pria berambut hitam dengan mata bulan sabitnya jika ia tertawa, Park Jimin. Apa benar ia menyukai calon suaminya?
"Aku.. jatuh cinta dengan Jimin oppa? Lalu apa yang harus aku lakukan?"
"Yoongi.." kedua tangan Hoseok meraih tangan Yoongi dan tersenyum. Matanya memancarkan sedikit rasa cemas menatap sahabat cantiknya di depan. Hoseok seperti ingin mengungkapkan sesuatu yang tertahan di mulutnya.
Namjoon mengerti kekhawatiran Hoseok. Jelas ini hal baru bagi Yoongi dan ia terjatuh pada seorang pria yang baru dikenalinya selama sebulan lebih. Di antara mereka bertiga, hanya Yoongi-lah yang belum pernah mengalami bagaimana menyukai seseorang ataupun berpacaran. Namjoon memegang erat tangan kedua sahabat baiknya.
"Yoongi.." Hoseok memulai perkataannya lagi, "Kamu gak usah cemas. Yang perlu kamu lakukan hanya menjalaninya seperti biasa. Kamu ngerasa degdegan, grogi dan malu di depan Jimin oppa itu hal wajar kok kalau kamu lagi jatuh cinta."
"Jadi beneran aku jatuh cinta sama dia?"
Namjoon tertawa kembali. "Kan kamu yang ngerasainnya, gemas deh jadinya kamu malah nanya ke kita. Iya, bawel. Akhirnya Yoongi bisa juga suka sama orang."
Hati Yoongi seperti disiram air. Ia kembali berdebar hebat dan wajahnya berseri-seri. Oh, jadi kayak gini rasanya menyukai seseorang…
Hoseok melihat layar ponsel Yoongi berkedip-kedip di dalam clutch Yoongi yang menyembul keluar. Lantas ia memberitahu Yoongi dengan dagunya menunjuk ke arah clutch emas berdinding transparan. "Tuh, ponselmu berkedip. Mungkin Jimin oppa sudah datang menjemputmu."
Yoongi segera meraih ponsel untuk membaca sebuah pesan singkat dan benar tebakan Hoseok itu berasal dari Jimin yang menunggu di dalam mobil depan kedai minuman. Yoongi membereskan barang bawaannya.
"Hoseok-ah, Namjoonie." Yoongi tersenyum, "Terima kasih sudah mau mendengarkanku."
"Gak usah sungkan gitulah kayak kita berdua itu orang lain saja buat kamu. Justru bagus kamu mau cerita ke kita." Namjoon membalas.
Mereka bertiga bangkit dari tempat duduknya berpelukan.
"Selamat, ya, Yoongi. Aku selalu berdo'a untuk kebahagiaanmu. Semoga rasa suka kamu bisa tersampaikan kepada Jimin hyung." Namjoon memeluk sayang Hoseok dan Yoongi.
"Aku juga selalu berdo'a yang terbaik untukmu, Yoongi. Kalau ada apapun yang mengganggu perasaanmu, bisa panggil kita kok." Timpal Hoseok.
"Terima kasih teman-temanku!" Yoongi mengeratkan pelukkannya sebentar. Dengan terpaksa ia lepaskan mengingat Jimin sedang menunggu.
Yoongi melambaikan tangannya singkat ke arah dua sahabatnya. Namjoon dan Hoseok membalas lambaian Yoongi yang setelah itu menghilangkan tubuhnya di pintu keluar kedai minuman.
"Namjoonie."
"Hm?"
"Kira-kira Jimin oppa akan membalas perasaan Yoongi tidak, ya?"
"Cuma waktu yang bisa jawab itu, Hoseok-ah."
"Semoga Jimin oppa memperlakukan Yoongi dengan baik."
"I hope so."
.
.
To Be Continued
.
.
.
Selamat berpuasa ya buat yang menjalankannya^^ maaf Ore malah munculin chapter yang sedikit kurang ajar ini(?)
Btw siapa yang udah ga sabar nunggu MV follow-up song "Sick" dari BTS? Wah beneran 'sick' banget Ore tadi malem teriak2 sendiri liat Jimin rambutnya merah. Dasar setan jahanam. /digeplak Jimin/
.
Buat semua yang masih mendukung ff ini; ngebaca, pm, ngereview, ngefav, ngefollow;
KAMSAHAMNIDA. Setelah ini aku balesin satu-satu komentar kalian ^^
Nah sekarang Ore mau coba nunggu respon dari kalian dulu buat bikin next chapter tentang pernikahan dan bulan madu Yoonmin. Who is with me? /ketawa evil/
.
SEE YOU NEXT TIME!
(~^o^)~I love U~(^o^~)
