"Sudah selesai, dear. Sekarang kamu boleh membuka mata dan lihat dirimu di cermin." Sang penata rias pengantin tersenyum puas akan hasil polesan make-upnya di wajah perempuan yang sebentar lagi mengucapkan janji suci itu. Ia kemudian pamit untuk membereskan alat-alat make-upnya.
Perlahan Yoongi menggerakkan kedua kelopak matanya. Ia tertegun dengan pantulan di depannya sekarang. Rambut coklat Yoongi dikepang melilit di atas kepala seperti sebuah bandana kemudian ujung kepangan tersebut diselipkan di belakang menggunakan jepitan. Sejumput rambut di depan wajah Yoongi dibiarkan terurai. Seperti disanggul namun bergaya lebih santai dan sangat cocok dengan Yoongi yang berusia masih muda. Wajah putih pucat Yoongi kini berwarna karena telah dipoles make-up tipis yang terlihat natural. Hati Yoongi berdebar melihat dirinya sendiri.
"Ayo, coba berdiri. Ada tidak yang perluku benarkan tidak gaunnya." Pinta perancang baju pengantin Yoongi di samping meja rias.
Dengan patuh Yoongi beranjak dari tempat duduk dan berdiri tegang. Sungguh, dia benar-benar gugup sekarang. Iya beberapa kali tertangkap sedang menghirup lalu menghembuskan napas pendeknya agar mengurangi kegugupan tersebut.
"Oke, seperti yang aku duga, Yoongi. Kamu pas sekali dengan gaun yang kubuat dan dengan tatanan rambut seperti itu kamu terlihat menawan." Perancang itu berdecak kagum dan berbinar-binar lalu ia melanjutkan, "Bersyukurlah Jimin sangat sibuk saat kamu sedang mengepas gaun. Jadi ia sama sekali belum melihatnya, ini akan menjadi kejutan untuk Jimin sendiri nanti!"
Yoongi hanya tertawa kecil menanggapi pujian itu karena ia juga sedang sibuk dengan pikirannya sendiri.
Tiba-tiba pintu ruang rias itu terbuka, memunculkan sosok kedua orang tua Yoongi dan orang cerewetnya tersayang, Hoseok.
"Astaga Yoongi… Cantik sekali. Tapi mukanya jangan grogi gitu, dong. Bikin jelek saja." Hoseok terkekeh seraya mendekati dan memeluk singkat tubuh Yoongi untuk menenangkan sahabatnya tersebut. "Ini. Mahkota bunga dan buketnya."
"Makasih ya, Hoseok. Tunggu saja pas kamu ada diposisiku seperti sekarang. Aku akan tertawa sekencang-kencangnya sambil mengejek 'nah kan akhirnya kamu rasain juga apa yang aku rasain.'" Dengus Yoongi yang malah membuat Hoseok tergelak.
"Yoongiku.. Sudah mau menikah saja." Mama Yoongi mengusap airmata di kedua ujung matanya. Yoongi yang melihat mamanya sedikit terisak memeluknya erat.
"Kok mama yang menangis, sih. Sudah dong, ma… Nanti kalau Yoongi ikut menangis, make-up Yoongi luntur, loh." Yoongi mengusap punggung mamanya.
"Iya, deh. Mama berhenti, nih." Mama Yoongi tersenyum, menangkup kedua pipi putri tercantiknya. "I believe everything is going to be perfect if you face it with big smile. So, smile! Selamat atas pernikahanmu dengan Jimin."
"Terima kasih, ma.." Yoongi tersenyum. Nah, sekarang Yoongi jadi ingin menitihkan airmatanya, tapi ia harus tahan. Harus. Sebentar lagi.. sebentar lagi hidupku akan berubah..
Papa Yoongi berdeham pelan dan menepuk-nepuk bagian depan jas hitamnya. Dengan kikuk ia mengambil mahkota bunga di tangan kanan Yoongi lalu memasangkan mahkota tersebut di kepala putri semata wayangnya tersebut.
"Siap, Yoongi?" papa Yoongi memberikan lengan tangannya untuk Yoongi lingkarkan di sana. Yoongi dengan satu tarikan nafas menggapit lengan papa.
"Siap atau tidak, Yoongi mau gak mau harus, kan, pa."
Dan mereka keluar dari ruangan rias tersebut dan berjalan dalam diam dengan papa yang tetap membawa Yoongi di sampingnya.
Papanya menghembuskan nafas berat, ia seperti kesulitan mengutarakan hatinya. Ia menatap gundah suasana di setiap jalan setapak menuju tempat Yoongi mengikrarkan sumpah.
Pada akhirnya ego papa Yoongi runtuh. Ia menghentikan langkah kemudian berbicara, "Maafin papa, Yoongi. Papa sudah memaksa kamu sampai sejauh ini.." Papa tersenyum bersalah. Yoongi mengerjap kaget disampingnya. Dalam seumur hidup Yoongi, tak pernah ia dengar papanya mengaku salah sedikit pun.
"Percayalah. Semua ini papa lakuin untuk kebaikan kamu juga di masa depan nanti." papa mengecup pipi Yoongi dengan sayang sembari melanjutkan, "Selamat atas pernikahanmu, anakku. . Intinya, papa selalu sayang kamu."
My, God. Airmata Yoongi yang sedari tadi ditahannya lolos juga. Kenapa papanya malah berbicara begitu sih di saat-saat seperti ini? Yoongi kan jadi sedih dan terharu.
Papa Yoongi berdeham kebingungan malah memberikan sapu tangan dari saku jas ke anaknya. "Jangan menangis, ayo cepat usap. Kita harus kembali berjalan."
"Abis, papa sih pas kayak gini malah bikin Yoongi terharu." Yoongi hampir terisak.
"Awas nanti make-upmu luntur kalau tidak berhenti-berhenti."
"Oh, iya!" Buru-buru Yoongi menghentikan tangisannya. Ia mengusap pelan pipi yang sempat basah karena beberapa butir airmata menggunakan sapu tangan papa. Papa Yoongi hanya menggeleng dan tertawa kecil.
Setelah dirasa tenang,Yoongi dan papa menegapkan tubuh. Mereka menarik nafas lalu membuangnya secara perlahan.
"Siap?" tanya papa. Yoongi mengangguk mantap.
"Baiklah."
Dan terdengar lagu bersuasana khas pernikahan dari permainan grup musik klasik yang telah disewa, mengiringi papa dan Yoongi yang sudah tiba di tempat pengikraran. Mereka terlihat gugup berjalan pada jalan bertaburkan kelopak bunga mawar putih di antara kursi panjang tamu undangan menuju altar. Mengantarkan Yoongi kepada seseorang yang telah menunggunya di ujung sana.
.
.
.
.
.
The Rings, The Vows and The Falsehoods
.
Chapter 8:
The Flower is blooming
.
Main cast:
Park Jimin, 24 y.o (Male)
Min Yoongi, 18 y.o (Female)
.
Yang di atas cuma opening doang, kok. Nih lanjutannya :D
~Happy Reading~
.
.
.
Sore ini, di atas hamparan luas rumput yang hijau telah tertata rapih kursi-kursi yang terisi oleh tamu undangan untuk menyaksikan sumpah suci Yoongi dan Jimin. Karena hanya sebulan untuk mempersiapkannya, jadilah acara ini terbilang private dimana dari kedua pihak hanya mengundang beberapa tamu penting dan para kerabat terdekat saja.
Melihat dekorasi yang disuguhkan, tema rustic dan sedikit country-like yang dipadu dengan gaya vintage membuat suasana pesta pernikahan Yoongi dan Jimin terasa nyaman namun tetap elegan. Konsep yang sederhana, romantis, dan natural. Maka tak jarang di setiap mata memandang, banyak sekali dekorasi-dekorasi menggunakan rangkaian bunga, daun-daunan dan ranting pohon serta warna-warna pastel yang sendu menghiasi setiap sudutnya.
Diujung altar yang diberi backdrop sebuah arch bunga mawar putih dan sejumput ranting-ranting melengkung tinggi, telah bediri seorang penghulu membawa Al-Kitabnya. Oh, jangan lupakan juga Jimin yang tengah berdiri gugup memakai kemeja hitam dan tuxedo putih gading. Rambut Jimin disisir ke belakang, terlihat sedikit kelimis namun menambah aura maskulinnya. Ia tengah menunggu kedatangan calon istrinya, Min Yoongi.
Wow, sebentar lagi aku akan menikah… Gak pernah menyangka jalan ceritaku yang ditulis Tuhan bukan berakhir dengan perempuan yang kupacari selama 4 tahun, melainkan dengan perempuan yang aku kenal selama kurang lebih dua bulan saja.Jimin membatin tak percaya hidupnya bisa diputar balikkan seperti ini.
"Para undangan yang terhormat, mari kita sambut mempelai wanita yang didampingi oleh ayah kandungnya." Pembawa acara berbicara menggunakan mikrofon pada podium di samping altar. Para tamu berdiri dari tempat untuk menengok ke arah datangnya mempelai wanita dan menyambutnya. Seketika tubuh Jimin menegang.
Lantunan nada-nada lembut yang berasal dari instrumen viola, cello dan piano mulai mengiri kedatangan Yoongi yang sudah memasuki jalan setapak menuju altar bersama sang papa di sampingnya.
Jangan kalian tanya lagi bagaimana penampilan Yoongi yang dengan sekejap menyita pandangan dari setiap tamu undangan yang datang. Tak terkecuali Jimin pun dibuat takjub oleh Yoongi seperti biasanya.
Badan langsing Yoongi terbalut sempurna oleh gaun A-line berwarna putih gading berbahan renda cantik yang panjang menjuntai namun tidak menyulitkan Yoongi untuk berjalan. Atasnya memiliki potonganlengan sangat pendek yang menggantung di tepi bahu tanpa membentang sepanjang bagian bawah lengandengan v-neck backless sampai pinggul mengekspos punggung seputih susu milik Yoongi. Ditambah tatanan rambut Yoongi yang dipakaikan mahkota bunga, membuat dia semakin terlihat seperti peri di musim semi.
Jimin mengulurkan tangan sedikit gemetar di depan papa Yoongi yang sudah berada di hadapannya. Kemudian papa Yoongi menyerahkan telapak tangan Yoongi untuk digenggam Jimin. Sesaat hati papa Yoongi seperti tidak rela putrinya akan dimiliki oleh pria di hadapannya ini.
Setelah papa Yoongi duduk di bagian paling depan deretan kursi tamu bersama mama Yoongi, ibu Jimin, Hoseok dan Namjoon, Jimin mengajak Yoongi yang tengah bersemu merah ke depan penghulu di altar.
Jimin berbisik pelan, "Kok, belakangnya terbuka lagi?"
Yoongi membalas dengan rona merah muda —entah karena blush-on atau menahan malu— menempel di kedua pipi, "Kejutan buat kamu."
Hati Jimin seakan terpanah dan tiba-tiba menghangat. Jimin diam-diam tersenyum bahagia.
Pembawa acara melanjutkan membaca susunan kegiatan di kertas, "Dua mempelai dipersilahkan untuk mengikrarkan janji suci di hadapan Tuhan yang dipimpin oleh penghulu yang hadir."
"Jimin.. Yoongi.. Sudah yakin?" penghulu itu tersenyum memandang kedua pasangan. Yoongi dan Jimin saling berpandangan singkat lalu menatap penghulu kembali. Mereka mengangguk.
Penghulu tersebut tersenyum dan akhirnya ia membesarkan suaranya. "Para kerabat dan tamu undangan yang terberkati. Pada sore hari yang indah ini, anda semua telah berkumpul menjadi saksi berlangsungnya upacara yang suci untuk mengikat sebuah tali pernikahan. Apakah anda bersedia memberikan putri tercinta anda kepada pria di sampingnya ini?" tanya penghulu kepada papa Yoongi.
"Ya, saya bersedia." Dengan lantang papa Yoongi menjawab.
Oh, jantungku mau kemana kamu. Jangan melompat-lompat lagi. Batin Yoongi gugup.
Penghulu melanjutnya untuk memulai janji pernikahan. "Saudara Park Jimin." Jantung Jimin berdesir.
"Bersediakah anda di hadapan kuasa Tuhan dan disaksikan oleh hadirin di upacara ini, berjanji untuk ada di kala susah maupun senang? Berjanji untuk mencintai dan menjadi suami yang beriman untuk wanita di sebelah kanan anda?"
Jimin melirik Yoongi. Mencintai perempuan cantik ini… "Saya bersedia." Apakah bisa?
"Bersediakah anda mengambil Min Yoongi sebagai istri sah anda?"
"Saya bersedia." Tukas Jimin kembali.
Kemudian penghulu bertanya kepada Yoongi. "Bersediakah anda di hadapan kuasa Tuhan dan disaksikan oleh hadirin di upacara ini, berjanji untuk ada di kala susah maupun senang? Berjanji untuk mencintai dan menjadi istri yang berbakti untuk pria di sebelah kiri anda?"
Yoongi merasakan tenggorokannya sedikit tercekat. Yoongi melirik Jimin. "Saya bersedia." Jimin oppa akan menjadi suamiku…
"Bersediakah anda mengambil Park Jimin sebagai suami sah anda?"
"Saya bersedia." Ujar Yoongi masih menatap lekat manik mata Jimin yang juga menatapnya dalam.
"Sekarang, saya mempersilahkan anda untuk memberi tanda bukti pernikahan kepada pasangan masing-masing."
Hoseok maju ke depan memberikan dua buah cincin emas yang Jimin beli sewaktu ia melamar Yoongi.
Jimin mengambil cincin berbentuk flower crown. "Saya, Park Jimin, mengambil Min Yoongi sebagai istriku yang sah, atas nama Tuhan memberkati selama-lamanya. Amin." Jimin menyematkan cincin tersebut ke jari lentik Yoongi.
Selanjutnya Yoongi mengambil cincin berbentuk rantai yang melingkar. "Saya, Min Yoongi, mengambil Park Jimin sebagai suamiku yang sah, atas Tuhan memberkati selama-lamanya. Amin." Yoongi menyematkan cincin tersebut.
Jimin meraih jemari tangan perempuan lugu itu untuk dikecupnya setelah ia memasang cincin dijari Jimin.
"Dan saya atas kesaksian Tuhan mengumumkan dengan ini anda sudah resmi menjadi sepasang suami dan istri, bukan lagi dua melainkan menjadi satu. Satu takdir, satu cinta dan satu kebersamaan selama-lamanya…" Penghulu menutup upacara tersebut.
Suasana haru nan bahagia memenuhi taman tersebut. Hoseok menyeka airmata yang tak henti-hentinya turun dengan tissue yang diberikan Namjoon di sampingnya. Ibu Jimin dan mama Yoongi saling berpelukan senang. Sedangkan papa Yoongi? Pura-pura tegar padahal sedari tadi ia mengelap airmata di pipinya dengan jas di bahu.
Lalu para tamu berteriak senang, "Kiss the bride! Kiss the bride!"
Kedua pasangan suami istri baru tersebut saling bertatapan. Tanpa ragu-ragu Jimin yang ikut terenyuh suasana merengkuh pinggang Yoongi dan di dekatkannya wajah perempuan yang baru menjadi istrinya tersebut ke depan wajahnya. Yoongi menolehkan wajah dari wajah Jimin.
"Ji-jimin oppa… Lepaskan.. malu."
"Can I kiss you, my wife?" Jimin menarik pelan dagu Yoongi agar matanya sejajar. Jimin menatap intens setiap detail wajah Yoongi yang sedikit berkeringat di dahi. Oh, demi Tuhan, Yoongi sekarang terkunci pada tatapan itu tanpa bisa bergerak sedikit pun.
Yoongi yang belum sempat memperbolehkan, tanpa menunggu waktu Jimin meraih bibir tipis Yoongi. Ia menautkan bibir Yoongi dengan bibirnya dengan lembut. Yoongi membelalakkan kedua matanya.
My first kiss… with my first love.
Seketika suasana riuh dan tepuk tangan antusias menggema di udara.
.
.
Hari sudah menggelap. Pesta resepsi Yoongi dan Jimin diadakan di lokasi yang sama dengan tempat upacara pernikahan tadi sore. Taman tersebut kini sudah disediakan meja panjang dengan deretan sajian makanan di atasnya. Lantunan nada-nada romantis masih mendominasi pendengaran di sekitar tempat resepsi tersebut.
Pembawa acara kembali datang dan sedikit berteriak, "Bagi para tamu yang ingin berdansa, sudah di sediakan lingkaran besar di tengah taman dan pengantar musiknya."
Yoongi duduk di salah kursi kayu yang antik dengan Jimin di sampingnya. Mereka saling berpegangan tangan. Tubuh mereka sangat letih karena sedari tadi menyambut ucapan selamat yang datang dari para tamu.
"Mau berdansa?" ajak Jimin kepada Yoongi.
"Kamu gak capek apa?" Yoongi mengerucutkan bibirnya. Kepala Yoongi disandarkan di pundak Jimin.
Jimin terkekeh. "Jutek banget sih. Ayo, berdansa. Gak seru kalau kita kalah dengan tamu yang sudah di sana. Kalau capek, kaki kamu boleh naik ke kaki aku, kok. Tapi lepas dulu heels mengerikan itu." Jimin berjongkok melepas sepatu Yoongi lalu menariknya ke tengah taman. Yoongi yang tidak ada tenaga hanya pasrah.
Jimin merengkuh pinggang Yoongi agar tubuh Yoongi menempel padanya. Yoongi kembali berdebar hebat. Atas perintah Jimin, kaki Yoongi berpijak pada kaki suaminya di bawah. Kemudian pipi Yoongi menyandar di dada bidang Jimin.
Mereka pun mulai berdansa diiringi lagu lembut nan romantis.
"Masih cemberu saja, nih?" Jimin berbisik di telinga Yoongi.
"Sebel sama kamu. Tadi ngapain ci…cium aku segala di depan banyak orang?" tanya Yoongi malu-malu.
"Hukuman buat kamu."
"Memang aku kenapa sampai dapat hukuman?"
"Pertama. Kamu memakai gaun yang terbuka punggungnya. Kedua. Kamu gak mendengarkan perkataanku sewaktu di ruang pengepasan dulu. Dan ketiga…" Jimin terdiam.
"Ketiga?"
Jimin berdeham singkat lalu menatap sembarang sekelilingnya, "Ketiga… Kamu membuat semua tamu terpesona karena penampilan cantikmu sekarang."
Yoongi refleks turun dari kaki Jimin, terkejut. Jimin masih mengalihkan pandangannya dari perempuan di depannya. Yoongi dengan ragu meraih pipi kanan Jimin agar ia menoleh ke dirinya.
"Jimin oppa.. Coba menoleh ke arahku."
"Hm? Untuk apa?" Jimin merasakan detak jantung terpacu akibat elusan tangan Yoongi di pipinya.
"Jimin oppa.. Waktu itu aku belum tahu kenapa rasanya aku ngilu sekali."
"Ngilu? Kamu sakit?" Jimin akhirnya menoleh kembali ke wajah Yoongi. Yoongi menggeleng.
"Awalnya aku juga berfikiran seperti itu.. Tapi setelah aku pastikan sampai saat ini, ternyata aku bukan sakit."
Jimin menatap Yoongi dengan heran.
"Aku…" Yoongi menunduk. Harus tidak ya aku sampaikan ini?
"Iya, kamu kenapa, Yoongi?" Jimin menyingkirkan surai rambut coklat di wajah Yoongi. Lagu manis terdengar menggema di tengah taman ini.
"Aku ternyata… mencintaimu, oppa."
Tiba-tiba Jimin merasa seperti sebuah truk yang membawa beribu-ribu tangkai bunga menabrak dirinya. Kelopak bunga-bunga tersebut terlepas dari putiknya dan terlempar di wajah Jimin. Ia meraba dada yang bergemuruh, ada bunga yang mekar di hatinya..
Kemudian Yoongi yang berseri-seri malu akan pernyataannya sendiri naik kembali di atas kaki Jimin, memeluk tubuh kekar suaminya menyembunyikan wajah merah milik Yoongi. Perlakuan Yoongi tersebut menyadarkan Jimin dari pikiran tentang truk bunga barusan.
Aku tidak pernah mengira akan dapat serangan langsung seperti ini dari Yoongi. Dia terlalu polos apa bagaimana, sih? Kacau, aku tak bisa mengontrol jantung sialan ini.
.
.
.
To Be Continued LOL
.
.
Heeyaaaah akhirnya update juga(?) bulan madunya next chapter aja ya KIHIHIHIHI maap kalo chapter ini pendek dan ga dapet feel, susah banget loh ;_;
.
Beri komentar dulu coba, enaknya di mana mereka berbulan madu? Baru aku lanjutin chapter 9-nya XD
.
Buat semua yang masih mendukung ff ini; ngebaca, pm, ngereview, ngefav, ngefollow;
KAMSAHAMNIDA. Maaf belum bisa balas komentar. Nanti malam, ya? :3
.
SEE YOU NEXT TIME!
(~^o^)~I love U~(^o^~)
