Lampu sorot menerangi setiap pasangan yang sedang menari di tengah taman terbuka, termasuk pasangan yang baru saja menikah tersebut. Yoongi dengan ragu meraih pipi kanan Jimin agar ia menoleh ke dirinya.

"Aku ternyata… mencintaimu, oppa."

Tiba-tiba Jimin merasa seperti sebuah truk yang membawa beribu-ribu tangkai bunga menabrak dirinya. Kelopak bunga-bunga tersebut terlepas dari putiknya dan terlempar di wajah Jimin. Ia meraba dada yang bergemuruh, ada bunga yang mekar di hatinya..

Kemudian Yoongi yang berseri-seri malu akan pernyataannya sendiri naik kembali di atas kaki Jimin, memeluk tubuh kekar sang suami lalu menyembunyikan wajah merah miliknya sendiri. Perlakuan Yoongi tersebut menyadarkan Jimin dari pikiran tentang truk bunga barusan.

Aku gak pernah nyangka akan dapat serangan langsung kayak gini dari Yoongi. Dia terlalu polos apa bagaimana, sih? Kacau, aku tak bisa mengontrol jantung sialan ini.

"Yoongi! Jimin oppa! Jangan bermesraan terus. Mama Yoongi dan Ibumu menyuruh kalian cepat kembali soalnya mau foto bersama dengan para tamu lalu bersiap-siap menutup acara resepsi katanya." Suara nyaring Hoseok mengiterupsi keheningan mendadak di antara pengantin baru. Thank you, Hoseok. I owe you. Jimin membatin lega.

"O-okay, we'll be there!" Jimin membalas dengan kikuk.

Yoongi menatap Jimin tersipu setelah melepaskan pelukannya. Ia dengan cepat mengecup ringan pipi kanan Jimin lalu beranjak dari tengah taman tersebut, setengah berlari menjinjing bagian depan gaunnya ke arah Hoseok yang terbengong melihat perlakuan Yoongi terharap Jimin.

Oh, ow. Sepertinya aku sudah merusak momen mereka berdua, ya? Hoseok masih terbengong di tempat meski Yoongi sudah menarik-narik lengannya untuk cepat bergegas meninggalkan tempat itu.

Dan bagaimana keadaan Jimin? Ada yang bisa menebaknya?

Exactly, ia pun mematung di tengah taman dengan telapak tangan mengusap bagian pipi yang dikecup Yoongi tadi.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

The Rings, The Vows and The Falsehoods

.

Chapter 9:

Let Me Take You to The Paradise! (Part 1)

.

Main cast:

Park Jimin, 24 y.o (Male)

Min Yoongi, 18 y.o (Female)

.

Oreobox©copyright

.

A~YO LADIES AND GENTLEMEN, ORE IS BACK!

Ini bulan madunya dibagi 2 part ya. Semuanya ekstra panjang. Malah Ore rasa 2 part aja gak cukup buat gambarin semuanya(?) LOL

Happy Reading!

.

.

.

.

.

Jejeran kursi tunggu di bandara begitu penuh oleh penumpang yang menunggu pada malam ini. Beberapa karena memang jadwal penerbangan mereka adalah tengah malam. Tetapi ada juga pesawat yang ternyata telat mendarat, maka jadilah mereka tertahan di bandara.

Yoongi terduduk di salah satu kursi, sayup-sayup menutup kedua matanya yang hampir tertutup oleh beanie hitam pemberian Jimin saat kencan pertama mereka. Kepalanya hampir terantuk ke depan kopernya akibat rasa kantuk yang menderanya sekarang.

Terdengar kekehan dari lelaki berkacamata yang berjalan mendekati Yoongi, Jimin. Yoongi yang tak peduli karena matanya terasa berat hanya melirik singkat sosok Jimin terduduk di sebelah, lalu ia sandarkan kepalanya ke pundak Jimin.

"Ngantuk, ya?" Jimin membenarkan letak beanie Yoongi agar tidak menutupi mata kecilnya. "Nih, aku sudah ngurus paspor dan tiket kamu. Ayo, sekarang beres-beres. Pesawatnya udah land off, tuh. Kita sudah bisa masuk."

"Hm. Aku mau di sini saja. Oppa saja yang pergi, ya? Ngantuk banget. Badanku pegal." Yoongi masih bergeming di tempat dengan mata tertutup. Jika Yoongi dikaitkan dengan urusan kantuk pasti moodnya berubah begini, deh.

Informasi saja. Setelah acara resepsi pernikahan mereka harus buru-buru berkemas dan lekas pergi ke bandara untuk mencapai jadwal penerbangan yang ibu Jimin salah pilihkan. Harusnya mereka berangkat besok jam 12 siang malah ibu Jimin memilih hari ini jam 12 malam. Dan lebih buruknya, ia mereservasi tempat bulan madunya juga dimulai besok! Semua maju sehari. Bagus sekali, bukan? Jimin sebenarnya ingin marah, tapi apa boleh buat. Jimin sendiri saat itu sedang sibuk dengan pekerjaannya tidak sempat memilih destinasi dan waktu sehingga ia serahkan semuanya kepada ibu tercinta.

Jimin meringis menatap Yoongi. "Gak mungkin dong aku ke sana sendirian. Kata Ibu tempatnya luas banget, kamu tega aku kayak orang bodoh gak ada kerjaan pergi sendirian ke tempat sebesar itu?"

Yoongi pura-pura tidak mendengar Jimin. Ia masih menutup mata. Biarin, kan yang keliatan bodoh Jimin oppa. Bukan aku.

Jimin yang gemas akhirnya menarik lengan Yoongi agar terbangun dan ia naikkan koper Yoongi ke atas troli bersama dengan kopernya sendiri. Yoongi mendengus sebal tak suka.

"Duh, iya nih aku bangun. Jangan ditarik, jalan biasa saja." Jimin akhirnya melepaskan genggaman di lengan Yoongi dan berbalik menautkan jemarinya dengan jemari istrinya tersebut. Ia menarik seulas senyum.

"Nah, gitu dong. Tidurnya dilanjutin di pesawat saja, ya."

.

.

"Sebenarnya kita mau kemana, sih? Aku belum tahu loh ibu kamu reservasi tempat dimana pakai paspor segala." Tanya Yoongi yang sudah duduk di kabin kelas utama pesawat di samping Jimin.

"Ke pulau tropis. Hebat, kan. Kesannya musim panas banget gitu." Jimin tersenyum cerah sembari memasangkan sabuk pengaman Yoongi.

"Ke mana itu?"

"Bentar. Aku lupa nama tempatnya." Jimin mengambil sebuah brosur berbahasa Inggris seperti denah untuk berkeliling di sebuah wilayah resort mewah dari dalam tas kamera DSLR yang ia pegang di dadanya.

"Oh. Ayana.. Ayana Resort and Spa."

"Aku belum pernah ke situ. Jauh gak?" Ujar Yoongi.

"Aku juga belum. Kata ibu sekitar 7 jam sampai bandara."

"Lama juga, ya..."

"Lumayan." Jimin mengangguk seraya memasukkan kembali denah tersebut.

Yoongi tiba-tiba menguap singkat. Rasa berat kantuknya datang menyerang lagi. "Oppa, aku tidur dulu, ya. Ngantuk." Yoongi menselonjorkan kaki yang tadi ia tekuk dan memposisikan tubuhnya dengan nyaman. Hanya selang beberapa detik ia akhirnya tertidur pulas dengan wajah ia miringkan ke kiri menghadap Jimin.

Duh, kasihan banget. Jimin menaruh tas kamera di kaki kursi lalu menyelimuti Yoongi dengan selimut yang disediakan maskapai penerbangan. Lelaki yang masih menenggerkan bingkai kacamata di hidungnya memandang wajah Yoongi yang sedang tertidur damai. Ia mengelus surai coklat yang tertutup beanie dan menghembuskan nafas berat.

Jimin belum bisa berkata-kata saat Yoongi mengatakan perasaannya ke Jimin di tengah taman. Untunglah setelah Hoseok memanggil mereka, Yoongi sama sekali tidak membahas apapun tentang itu. Entah karena lelah atau alasan lainnya, yang penting sekarang ia terbebas dari masalah itu untuk sementara.

Masalah? Apa masalahnya? Yoongi menyukai dirinya, lalu apa itu sebuah masalah untuknya?

Jimin menyentuhkan jemarinya ke pipi Yoongi sepintas. Tidak,tidak. Bukan berarti pengakuan Yoongi membuatku merasa tidak enak. Hanya aku saja yang seperti masih diliputi rasa ketidakpastian. Aku gak tahu apa yang aku rasakan sekarang terhadapnya. Aku belum berani memastikan dengan benar.

Jimin berdebat keras di hatinya sampai-sampai tak terasa ia pun ikut menutup kedua kelompak mata, menyusul Yoongi ke alam mimpi.

Pesawat take off pada pukul 01.00 KST. Kemudian pesawat tersebut melayang di udara dengan tenang, mengantarkan sepasang suami istri ini menuju tempat yang—kata ibu Jimin—sangat indah dan sering didatangi dewa-dewi alam.

Bali, Indonesia.

.

.

-
NOTE: mulai dari sini,

-Kalo ada percakapandicetak miring gak di boldberarti itu lagiberbahasa Inggris.
-Kalo ada percakapan dicetak miring terus di bold berarti itu lagi berbahasa Indonesia.
-Kalo yang dicetak biasa berarti percakapan dalam bahasa Korea.

Semoga gak bingung ya, guys :D
-

Langit biru yang cerah menghiasi pagi ini. Awan-awan putih terlihat berarak mengikuti arah hembusan angin.

Terlihat pesawat Korean Air mendarat dengan selamat di Bandara Internasional I Gusti Ngurai Rai pada pukul enam tepat. Jimin dan Yoongi yang sudah turun dari pesawat, berdiri berdampingan di dekat gerbang keluar Selatan beserta troli koper mereka.

"Yoongi, ternyata perbedaan waktu di Seoul dan Bali itu 2 jam. Di jam tanganku menunjukkan angka delapan, tapi aku lihat tadi saat kita turun di sini masih jam 6." Ujar Jimin kepada Yoongi yang celingukan ke sana ke mari, Yoongi penasaran karena ia belum pernah sekalipun berlibur di negara ini.

"Eh, kita sudah dijemput tuh sama resort kita." Ujar Jimin kembali sembari menunjuk ke arah seorang petugas—supir jemputan—berseragam biru tua memegang sebuah papan bertuliskan hangul yang menyebutkan nama Park Jimin dan Min Yoongi. Di bawahnya tertulis nama dari resort tersebut. Jimin dan Yoongi mendekatinya.

"Halo, nama saya Park Jimin. Dan ini istri saya, Yoongi." Jimin memperkenalkan diri kepada supir tersebut menggunakan bahasa Inggris. Yoongi hanya tersenyum. Sang supir menjabat uluran tangan Jimin dengan sopan.

"Halo, Sir. Park Jimin ya nama anda? Saya.. bertugas.. ini.. jemput anda dan.. duh, apa ya bahasa inggrisnya? Oh, ya! Menjemput anda dan juga istri -ri ikut saya… ke mobil." ucap supir itu dengan bahasa inggris yang patah-patah.

Jimin dan Yoongi yang paham maksud pak supir tersebut tersenyum ramah dan menjawab serentak "Yes. Thank you." Kemudian supir tersebut mendorong troli koper milik mereka dan berjalan menuntun Yoongi juga Jimin ke mobil yang disediakan oleh tempat yang akan diinapi selama 5 hari itu.

Supir tersebut membukakan pintu untuk tamunya. "Silahkan, Tuan... Eh, lupa pakai Indonesia.. maksudnya Silahkan, Sir, masuk." Supir itu menyuruh Jimin dan Yoongi untuk masuk ke dalam mobil. Ia sendiri langsung bergegas duduk dalam kursi kemudi dan menyalakan mesin.

"Kayaknya bahasa inggris bukan bahasa pertama mereka, deh." Jimin berbicara selagi Yoongi masuk untuk duduk di sampingnya di jok mobil minibus Alphard.

Jimin dan Yoongi tetap bersyukur bahwa mereka sedari kecil sudah diajari bahasa yang setidaknya rakyat di seluruh dunia mengerti.

Yoongi mengiyakan. "Pak supir dari tadi ngomong pakai bahasa asing lain. Terdengar kayak salah satu bahasa di film animasi Minions?" Jimin dan Yoongi saling berpandangan. Kemudian mereka tertawa cekikikan.

"Eh, benar juga. Yang bikin film Minions berasal dari negara ini, mungkin?" Tukas Jimin masih tertawa.

Pak supir yang tidak mengerti tamunya berbicara dan tertawakan apa di kursi penumpang hanya menyunggingkan cengir kudanya.

"Saya tidak mengerti anda semua ini kenapa tiba-tiba tertawa. Tapi ya sudahlah. Let's go!" ujar supir tersebut terdengar sok asik yang malah membuat Jimin dan Yoongi tambah tergelak.

.

.

Yoongi turun dari mobil dengan kaki kanan dahulu yang ia jejakkan. Ia membenarkan dress one piece santai berlengan pendek warna abu-abu yang sedikit kusut karena duduk terlalu lama. Yoongi merenggangkan otot tubuhnya dan menghirup aroma asin berasal dari pantai. Cicitan dari burung-burung yang terbang bergerombol membuat suasana semakin asri.

"Akhirnya sampai!" Yoongi tersenyum senang. Jimin balik tersenyum melihat Yoongi begitu riang, berbeda saat di bandara Incheon tadi malam yang juteknya minta ampun. Jimin berada di belakang mobil sedang membantu pak supir menurunkan barang bawaan mereka.

"Yoongi, sini bentar." Yoongi menengok ke arah suara Jimin di bagasi dan melangkahkan kakinya mendekat.

"Nih, aku titip tas kameranya. Aku mau ke resepsionis dulu sekalian bawa koper-koper ini biar dibawain sama bellboy ke kamar. Kamu mau ikut aku atau tunggu di sini?" ucap Jimin seraya mengalungkan tas kamera yang ia bawa ke leher Yoongi. Yoongi menggeleng lucu dan malah menggandeng lengan kanan Jimin.

"Aku ikut kamu saja. Biar sekalian langsung masuk." Tukas Yoongi yang masih nempel di lengan Jimin, lalu ia melanjutkan perkataannya sambil mengacungkan tas kamera Jimin, "Oh, oppa boleh aku pakai kamera kamu buat fotoin macam-macam di sini?"

Jimin mengusap puncak kepala Yoongi dengan gemas, ia tersenyum "Boleh, lah. Pakai saja sesukamu. Aku bawa memang untuk memfoto bukan cuma asal bawa-bawa saja."

"Yeay! Makasih, oppa!" Kemudian mereka berjalan—dengan Yoongi masih mengapit lengan Jimin yang jemarinya juga sibuk mengotak-atik menu kamera—menuju resepsionis di dalam lobby utama resort tersebut.

Lobby resort terbilang sangat luas. Tiang-tiang kayu yang menyangga di sekelilingnya menjadikan lobby itu layaknya panggung. Ukiran-ukiran yang mungkin khas tradisi wilayah ini menghiasi hampir seluruh dekorasi resort tanpa menghilangkan kesan modernnya. Angin laut berhembus dari setiap lorong yang tak berdinding di sepanjang jalan menuju meja resepsionis. Desiran ombak pun terdengar jelas.

Yoongi dengan kamera yang di pegangnya, mencoba menekan tombol shoot dan membidik asal ke beberapa dekorasi yang menurutnya menarik.

"Halo, selamat siang. Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang petugas resepsionis tersenyum dengan bahasa inggris yang fasih.

"Saya Park Jimin dari Korea Selatan. Sebelumnya saya sudah reservasi satu kamar. Bisa tolong dicek?"

"Ditunggu sebentar, ya." Ujar petugas itu ramah sembari mengecek data di dalam komputer. "Atas nama Park Jimin dari distrik Gangnam, Seoul. Memesan Ocean View Club Suite. Benar, Sir?"

"Yes."

"Tolong isi beberapa formulir ini. Saya akan membawakan kunci dan meminta pelayan mengantar ke kamar juga membawakan barang bawaan anda. Mohon tunggu sebentar." Jimin menggangguk mengerti kemudian dengan gerakan cepat ia selesai mengisi data formulir untuk menginap di resort tersebut.

Jimin menyenggol pinggang Yoongi yang masih nempel di lengannya selagi ia menunggu petugas resepsionis mengambil kunci kamar. "Hei, serius banget sih lihat-lihat kameranya. Suka?"

"Uhm." Sahut Yoongi masih memandang lekat kamera Jimin. "Aku suka fotografi tapi aku gak punya waktu untuk hunting dengan kameraku di rumah."

Jimin hanya ber-'oh' panjang melihat Yoongi sibuk dengan kameranya. Lama-lama ia bosan juga diabaikan hanya karena sebuah benda berlensa. Ia mendengus pelan seraya menatap ke dalam resort.

"Yoongi." Jimin tiba-tiba memanggil Yoongi.

"Ada apa?" Yoongi masih saja sibuk dengan kamera di tangannya.

"Tapi Yoongi, ini beneran deh." Ujar Jimin misterius.

Yoongi akhirnya mengangkat wajahnya dan berucap "Ada apa, oppa?"

Jimin menangkup kedua pipi Yoongi. Perempuan itu terkejut jarak wajahnya dengan wajah lelaki berambut hitam itu kini semakin mendekat. Seketika hati Yoongi berdebar kencang.

Lelaki bermata sipit itu memanggil nama Yoongi kembali. Hembusan nafasnya menerpa wajah putih perempuan cantik itu.

"Ke-kenapa sih manggil-manggil?" Yoongi menurunkan kamera ke bawah. Ia berusaha menunduk, menghindari mata Jimin.

Jimin lantas mengulum senyumnya melihat pipi Yoongi memerah di kedua tangan Jimin. "Yoongi, coba hadap sana." Jimin menjauhkan wajahnya dari wajah Yoongi. Ia menggerakkan kepala istrinya untuk menengok pemandangan yang tersaji di dalam resort tersebut.

Yoongi melebarkan mata kecilnya. Di dalam hati Yoongi spontan bergumam Oh, My God. Perempuan mungil itu terkesiap melihat pemandangan yang terhampar jauh di sana. Laut biru Samudera Hindia membentang luas dengan begitu indahnya. Wow, ternyata dalamnya resort ini lebih besar dibandingkan bangunan saat pertama kali Yoongi datang tadi. Tempatini didirikan di sebuah tebing yang menjorok ke laut.

Hal pertama yang terlihat di matanya adalah Infinity Edge Pool atau lebih mudah disebut kolam renang yang pinggirnya dibatasi kaca transparan sehingga kita berenang layaknya menyatu dengan alam tanpa ada batas Dari pandangan Yoongi sekarang, resort ini sungguh membuat mata terpana. Ia jadi ingin cepat-cepat menjelajah tempat bulan madunya ini.

Oh, iya. Honeymoon..

Ia teringat sesuatu yang membuatnya berdebar hebat tadi hingga sekarang. Seakan tersadar, Yoongi menengok kembali ke wajah Jimin yang sudah sepenuhnya menyeringai jahil. Kedua tangan Jimin masih mendekap pipi Yoongi.

"Bagus, kan pemandangannya?"

Yoongi mengangguk gugup.

"Makanya jangan lihat ke kamera terus." Tukas Jimin sedikit sebal karena dia diabaikan. /ciye cemburu sama kamera wkwkwk

Yoongi hanya mengangguk lagi dan bergumam 'maaf'.

"Kenapa memerah wajahnya?" tanya lelaki bermata sipit itu sengaja memancing sekarang. Entah mengapa Jimin sangat suka menggoda Yoongi.

"Ma.. Mana?" Yoongi kembali menunduk sembari berusaha melepaskan telapak tangan suaminya.

"Kok, malah nunduk?" Jimin terus menyudutkan Yoongi dengan perkataannya.

"Nggak… Ih, oppa jangan dekat-dekat." Cicit Yoongi semakin terdengar kecil.

Dan Jimin tergelak keras mengetahui istrinya sudah semerah kepiting rebus. Telapak tangannya kemudian ia lepaskan dari pipi Yoongi. "Kemarin berani banget cium-cium pipi. Sekarang malah gak mau lihat ke aku."

"Kan kamu duluan yang mulai."

"Hah? Siapa?" Ingatannya terputar kembali pada kejadian di altar saat ia terbawa suasana dan mencium bibir semerah ceri milik Yoongi. Jimin tergagap. "Eh, itu..."

Mereka merasakan aliran darah mengalir ke pipinya sehingga memunculkan semburat merah.

"Gak apa. Aku suka, kok." Ujar Yoongi pelan sembari melepas eratan tangannya di lengan Jimin. Kemudian ia berjalan kagok masuk ke dalam resort membawa kamera di leher.

Sedangkan Jimin berdeham lalu mengusap leher belakang melihat Yoongi menjauh darinya. Gak salah dengar, nih? Yoongi menyerangku lagi dengan ucapan terus terangnya itu.

Mereka benar-benar jadi canggung sendiri. Salahkan Jimin yang memulai kejahilannya yang berimbas pada dirinya sendiri merasakan kegugupan menyelimuti mereka.

"Maaf menunggu lama. Ini kuncinya. Dan ini pelayan kami akan mengantar anda sampai ke kamar. Have a nice day, Sir." Sang resepsionis telah datang kembali membawa kunci. Ia membawa seorang pengantar.

"Thank you."

Jimin mengambil kunci di meja tersebut lalu meninggalkan lobby, menyusul Yoongi yang sudah masuk terlebih dulu ke dalam resort.

.

.

Sepanjang jalan menuju suite room yang dipesan Jimin, Yoongi fokus membidikkan kamera ke sepenjuru pemandangan laut dari Ayana Resort and Spa bak lukisan ini. Tak jarang Yoongi dengan penuh semangat bertanya pada pelayan hotel yang mengantarnya. Semua yang berkerja di dalam resort ini untungnya sudah dilatih agar bisa berbicara bahasa Inggris—setidaknya English Basic—karena tempat ini sudah terkenal di manca negara sehingga banyak orang asing berlibur ke sini.

Jimin hanya bergeleng kepala melihat tingkah Yoongi yang sama seperti anak kecil menemukan mainan barunya. Yoongi mendekati Jimin sembari tersenyum riang.

"Di bawah tebing itu ada undakan tangga menuju pantai pasir putih namanya Kubu Beach. Nanti kita ke sana, ya!" Dari jalan setapak di atas, Yoongi menunjuk ke bawah tebing di mana terlihat sebuah private beach milik tempat ini yang sangat eksotis. Ada pula terlihat sebuah bar minum mewah dibuat di tebing-tebing yang menjorok ke laut.

"Siap nona cantik." Jimin menjawab sembari mengacungkan jempolnya.

Sampailah mereka di depan pintu kamar bernomor 023. Dari pintunya saja sudah terlihat ukiran dengan detail rumit yang sangat kokoh, memberi kesan etnik untuk kamarnya tersebut.

"Silahkan, sir dan madam, ini kamarnya. Jika ada kesulitan bisa hubungi service center dari pesawat telepon. Ada lagi yang anda butuhkan?"

"Untuk sekarang sepertinya tidak ada." Yoongi menjawab ramah di depan pintu yang sudah dibuka oleh Jimin. Jimin segera memasukan barang bawaan mereka ke dalam.

"Baiklah, madam. Saya pamit dahulu. Oh, jangan lupa makan malam nanti akan ada penampilan dari penari tradisional khas Bali. Mohon tidak melewatkannya karena ini sungguh memukau." Pelayan itu mengingatkan Yoongi sebelum ia membungkuk singkat dan melenggang pergi. Yoongi tersenyum mengiyakan lalu menutup pintu kokoh tersebut dan masuk ke dalam kamar.

.

.

Yoongi dengan kaki yang sudah beralaskan sandal dari resort duduk di atas tempat tidur king size bertirai di atasnya. Kedua bola matanya masih memancarkan rasa kagum dengan isi kamar yang dipesan suaminya ini. Kamar tersebut terlihat sangat besar dengan balkon yang juga lumayan luas menghadap ke laut biru Samudera Hindia. Semua didesain modern dengan sentuhan unsur-unsur tradisional yang elegan.

Jimin menyisirkan rambutnya yang sedikit basah karena keringat, baru saja selesai membereskan koper di lemari yang didesain walk-in.

"Gimana? Suka dengan tempat ini?" tanya Jimin mendudukan dirinya di samping Yoongi yang mengangguk.

"It's beautiful and I love it. I give 10/10 stars for this. Aku sering ke Hawaii, tapi aku merasa tempat ini jauh lebih cantik. Itu, loh, pemandangan asri dari luar balkon dan juga dekorasi unik seperti kayu yang diukir ini." Yoongi menyentuh kepala tempat tidur. Jimin setuju dengan pendapat Yoongi.

Sejenak mereka mengistirahatkan tubuh dengan duduk menumpu pada tangan yang ditaruh di belakang seraya menutup mata. Udara sejuk menerobos masuk dari pintu balkon dan terdengar jelas suara deburan ombak yang menabrak tebing di bawah kamar mereka membuat perasaan menjadi rileks dan nyaman.

Jimin membuka matanya, menengok ke wajah cantik Yoongi yang masih menutup mata sembari berseri-seri. Jimin secara tak sadar ikut tersenyum. Ia melihat keringat menetes dari pelipis istrinya.

"Aku lepas ya beanienya. Keringat kamu sampai keluar tuh gara-gara kepanasan." Ia melepaskan beanie dari kepala Yoongi dan menghapus keringatnya dengan tangan.

"Ayo, kita ke balkon saja. Anginnya sejuk." Lelaki itu memegang pergelangan tangan Yoongi dan menuntunnya sampai ke balkon.

Langit ternyata sudah berubah warna menjadi jingga, menandakan hari kian sore. Lampu di seluruh resort—termasuk dalam kamar mereka—otomatis menyala.

"Wah, sunset!" Perempuan bersurai panjang itu sedikit berlari ke arah pembatas kaca transparan setinggi dadanya dipinggir balkon. Jimin mengikuti di belakang.

"Indah, ya."

"Banget." Timpal Yoongi kagum yang bersandar sepenuhnya pada pembatas.

Jimin berdiri di belakang Yoongi yang masih memandang ke laut di pinggiran balkon. Sebenarnya, saat Jimin mengatakan 'indah', ada makna lain yang tersirat dari kata tersebut.

Tatapan Jimin menangkap siluet tubuh mungil Yoongi yang tersiram sinar jingga dari matahari terbenam itu. Hembusan angin menerbangkan rambut coklat panjangnya ke belakang. Sesekali Jimin melihat gerakan Yoongi menyelipkan sejumput rambut ke telinganya. Jantungnya seakan tersengat listrik sendiri saat Yoongi menolehkan wajah ke Jimin sembari tersenyum manis dan memanggil dirinya agar mendekat, "Oppa, sini deh. Bagus banget loh, kalau lihat laut dari sini."

Indah. Ya, yang dikatakan 'indah' oleh Jimin bukan hanya pemandangan laut itu saja melainkan perempuan yang berdiri di depan mata Jimin ini. Istri cantiknya.

Ah, perasaan Jimin terasa aneh kembali. Otaknya berfikiran tidak ingin mendekatkan dirinya dengan Yoongi, tetapi hati dan tubuhnya malah berkata lain.

Jimin refleks berjalan ke arah Yoongi dan memeluknya dari belakang. Sontak Yoongi terkejut dengan perlakuan sama saat mereka di fitting room sebuah bridal salon yang membuat hati Yoongi terus menerus merasa tergelitik oleh kupu-kupu yang terbang diperutnya. Yoongi suka, suka saat perasaannya terasa mendebarkan seperti ini oleh sentuhan Jimin. Suasana menjadi hening sejenak.

"Jimin oppa." Yoongi membuka percakapan kembali.

"Hm?"

"Nanti saat makan malam akan ada penari tradisional tampil di panggung besar yang kita lewati itu, loh, saat menuju ke sini. Pelayantadi mengatakannya padaku saat di sana."

"Oke. Kita ke sana nanti malam." Jimin menyandarkan kepalanya di atas kepala Yoongi. Matanya menatap kelautan yang terpantul warna jingga.

"Kita gak siap-siap, nih?"

"Sebentar, ya. Biarin aku nikmati suasana nyaman dengan kamu ini sedikit lagi." Jimin mengeratkan rengkuhannya di perut Yoongi.

"O-oh, baiklah.."

Nyaman.. Nyaman.. Nyaman… Jimin oppa bilang ia nyaman saat bersamaku. Yoongi tersenyum senang dan ia biarkan suaminya yang sedang berperang batin memeluk dirinya lebih lama.

.

.

Pengunjung asing maupun lokal memenuhi salah satu dari tujuh restoran yang disediakan oleh resort ini. Restoran terbuka yang dekat panggung besar itu dinamakan Langit Theatre. Lantunan musik dari instrumen tradisional itu menemani pengunjung yang sudah duduk di meja masing-masing sembari menunggu penampilan dari penari Pendet.

Jimin dan Yoongi menyusuri pagar kayu tipis setinggi lutut yang membatasi restoran. Mereka berdua buru-buru menghampiri pintu masuk yang dijaga dua pelayan. Dua pelayan tersebut tersenyum ramah ketika pasangan suami istri tersebut datang di depannya.

"Selamat datang di Langit Theatre. Sebelum masuk, silahkan sematkan bunga kamboja kuning di telinga masing-masing dan gunakan kain khas Bali di sekeliling pinggang anda." Salah satu pelayan memberikan dua bunga lokal dan juga dua kain coklat berlukiskan bunga-bunga cantik.

"Terimakasih. Wah, apakah ini termasuk bagian service dari acara ini?" Yoongi bertanya sembari mengikatkan ujung kain tersebut yang sudah ia lingkarkan pada rok span hijau lumut bawah lutut berendanya. Atasnya Yoongi gunakan kemeja polos putih menggantung. Ia kemudian membantu Jimin yang kesulitan memakai kain.

"Benar sekali. Anda beruntung menginap di sini saat Langit Theatre sedang menampilkan penari tradisional. Event ini jarang sekali dilakukan." jawab pelayan tersebut.

"Syukurlah ibu salah pilih tanggal. Jadi kita bisa menonton ini." Lelaki yang memakai kemeja putih dan celana pendek berwarna kuning kunyit itu tertawa seraya menyisipkan bunga di telinga Yoongi. Secara tidak sengaja mereka memilih warna pakaian yang sama, membuat Yoongi dan Jimin tampak serasi satu sama lain.

.

.

Tepukan tangan dari pengunjung riuh terdengar mengiringi para penari daerah yang menghilang ke belakang panggung. Pementasan tari Pendet sudah selesai digelar selama 15 menit.

"Para penari tadi sungguh cantik." Bisik Yoongi terkesima di samping Jimin yang sedang menyendokkan makanan terakhir di piring ke mulutnya.

"Hebat. Bagaimana bisa bola matanya digerakin kayak gitu?!" Yoongi menggerakkan kedua bola mata ke kanan dan ke kiri, mencoba menirukan para penari di atas panggung tadi. Jimin tergelak melihat wajah Yoongi menjadi sangat lucu akibat gerakan tak beraturan dari bola matanya.

Jimin mencubit pipi kiri Yoongi untuk berhenti. "Hei, hei.. sudahlah Yoongi. Kalau gak bisa, jangan dipaksa buat dicoba. Nanti matamu malah sakit." Jimin masih tertawa.

Waktu sudah semakin malam, Langit Theatre pun sudah sepi. Tinggal beberapa pengunjung yang masih bersantai dan yang baru datang.

Jimin menyerahkan kain yang dipakai tadi kepada pelayan di kasir, sekalian membayar makan malam.

"Bunganya tidak usah, sir. Silahkan dibawa." Ia mengembalikan dua bunga tersebut kepada Jimin.

"Oh, terima kasih. Istri saya sangat menyukainya. Ia pasti senang." ucap Jimin kepada pelayan itu. Yoongi menunggu Jimin di jalan setapak yang tidak jauh dari letak meja kasir.

"Yang di ujung sana istri anda?" tanya pelayan itu sembari memberi kembalian uang.

"Iya, benar. Kenapa?"

Pelayan itu menarik kedua sudut bibirnya. "Tidak apa, hanya saja dia terlihat begitu cerah dan sangat cantik. Sama seperti bunga di tangan anda."

Jimin tersenyum hangat menatap Yoongi yang sedang mengetuk-ngetukan kakinya menunggu Jimin. Lalu ia menengok kembali pada pelayan kasir di depannya "Yup. Bahkan dia tampak seperti peri bunga di mataku."

.

.

Setibanya Yoongi dan Jimin di kamar, mereka melepas alas kaki dan ditaruh di dalam rak lemari. Jimin mengambil kaus polos hitam tipis dari koper dan melepas kemeja putihnya. Jimin berjalan ke arah Yoongi terdiam menatap isi kopernya dengan tangan masih memegang penutup atas.

"Kenapa?" Jimin bertanya dan refleks Yoongi menutup kopernya.

"Ng-nggak, apa. Oppa, pakai dulu dong kausnya." Yoongi melengoskan wajah melihat Jimin bertelanjang dada. Jimin hanya terkekeh dan langsung ia jebloskan kaus hitam tersebut dari kepalanya.

Yoongi mensleting kopernya kembali lalu berdiri, "A-aku ganti baju di kamar mandi, ya." Yoongi menarik kopernya untuk ikut masuk ke dalam kamar mandi bersamanya. Jimin memiringkan kepala, heran kenapa Yoongi turut membawa kopernya ke sana?

.

.

"Gawat. Gak ada. Gak ada.. Gak ada!" Yoongi menahan teriakannya di dalam kamar mandi. Sedari tadi ia mengaduk-aduk frustasi isi kopernya. Setelah beberapa menit ia menyerah lalu mendorong kesal benda tersebut sampai menabrak bathtub.Perempuan itu lantas membasuh wajahnya dengan air yang mengalir di wastafel . Yoongi menatap marah cermin di depan.

Siapa yang mengganti isi koperkuuuu?! Aku yakin sebelumnya aku sudah memasukan beberapa setel baju tidur bergambar beruang dan kelinci ke dalamnya. Tapi kenapa sekarang…

Yoongi kembali memandang isi kopernya dengan horor dan menhembuskan nafas dengan kasar. Kenapa ada baju yang.. eww what is that? Baju tipis berenda dengan tali super kecil dan belahan dada panjang? Punya siapa? Aku gak merasa membawanya?! Kok, aku bisa gak sadar sih pas siap-siap ke restoran tadi?!

"Yoongi? Ada apa?" Jimin mengetuk pintu kamar mandi dari luar. Yoongi terlonjat kaget mendengarnya.

"Gak ada apa-apa, kok!"

"Gak ada apa-apa tapi lama banget di kamar mandi?" suara Jimin khawatir.

Yoongi menggigit bibir bawahnya. Well, sebenarnya ada masalah sih. Tidak mungkinkan dirinya menggunakan pakaian kasual di koper untuk tidur? Atau memakai jubah mandi? Atau memakai baju tipis itu?! Yoongi semakin frustasi.

"Serius, oppa. Gak ada apa-apa, kok. Sebentar lagi aku keluar."

Jimin menimbang jawaban Yoongi di luar. Kemudian akhirnya ia berkata sebelum meninggalkan pintu kamar mandi, "Ya, sudah kalau begitu."

Yoongi lega sesaat. Kemudian ia berjongkok membereskan pakaiannya yang berserakan di lantai. Ia menatap kertas yang terselip di antara pakaian lalu ia ambil dan membaca isi dari kertas tersebut.

Mata Yoongi membulat tak percaya akan kalimat yang baru saja ia baca.

Min Yoongi, selamat atas pernikahanmu. Aww, my baby is growing now. Selamat menapaki dunia dewasa kekeke
Dan yang benar saja, kamu masih memakai baju tidur kekanak-kanakan itu?!
Aku sampai kesal melihatnya, jadi aku tukar dengan piyama-piyama seksi baru sebagai hadiah pernikahan dariku ya!
Ah, Min Yoongi. Katanya kamu menyukai Jimin oppa? Jadi ayo goda dia dengan piyama ini agar ia tertarik denganmu. /tertawa iblis/ Sudah saatnya sahabatmu ini membuka wawasan Min Yoongi akan dunia dewasa ahahahaha
Sudah ya. Selamat bersenang-senang di hari-hari bulan madumu.
-dari yang tersayang, Jung Hoseok-

Kepala Yoongi tiba-tiba terasa pening. Ia memijat pelipisnya sembari menahan amarah. Harusnya ia sudah bisa menebak siapa pelaku dibalik menghilangnya piyama kesayangan dari koper Yoongi.

JUNG HOSEOOOOOOOK!

.

.

To Be Continued :'D

.

.

YUP, JIMIN DAN YOONGI HONEYMOON DI BALI! Siapa yang kemarin kasih komentar sependapat sama Ore?
Ini ceritanya Ore lagi menuangkan ingatan Ore saat tahun lalu pergi berlibur ke Ayana Resort and Spa Bali. Coba Googling deh. Sumpah indah dan terlalu indah untuk dilupain X'((

.

Maafkeun Ore yang udah ngadet otaknya dan update lama. Gemes gak sih liat Jimin sok-sok ga ngakuin suka ke Yoongi?! /lempar sendal/

.

Buat semua yang masih mendukung ff ini; ngebaca, pm, ngereview, ngefav, ngefollow;
KAMSAHAMNIDA. ARIGATOU. MERCI. THANK YOU. TERIMA KASIH.

Masih mau dilanjutin gak ff ini? Tolong komentar dan apresiasi dari kalian biar aku ada motivasi ngetik chapter 10nya KIHIHIHI chap9 ini jujur susah banget bikinnya ;_; /peluk Yoongi/

See you next time!
(~^o^)~I love U~(^o^~)