"Yoongi? Ada apa?" Jimin mengetuk pintu kamar mandi dari luar. Yoongi terlonjat kaget mendengarnya.

"No-nothing!"

"Gak ada apa-apa tapi lama banget di kamar mandi?" suara Jimin khawatir.

Yoongi menggigit bibir bawahnya. Well, sebenarnya ada masalah sih. Tidak mungkinkan dirinya menggunakan pakaian kasual di koper untuk tidur? Atau memakai jubah mandi? Atau memakai baju tipis itu?! Yoongi semakin frustasi.

"Serius, oppa. Gak ada apa-apa, kok. Sebentar lagi aku keluar."

Jimin menimbang jawaban Yoongi di luar. Kemudian akhirnya ia berkata sebelum meninggalkan pintu, "Ya, sudah kalau begitu."

Yoongi lega sesaat. Kemudian ia berjongkok membereskan pakaiannya yang berserakan di lantai. Ia menatap kertas yang terselip di antara pakaian lalu ia ambil dan membaca isi dari kertas tersebut.

Mata Yoongi membulat tak percaya akan kalimat yang baru saja ia baca.

Kepala Yoongi tiba-tiba terasa pening. Ia memijat pelipisnya sembari menahan amarah. Harusnya ia sudah bisa menebak siapa pelaku dibalik menghilangnya piyama-piyama lucu kesayangan dari koper Yoongi.

JUNG HOSEOOOOOOOK!

.

.

.

.

.

.

.

The Rings, The Vows and The Falsehoods

.

Chapter 10:

Let Me Take You to The Paradise! (Last Part)

.

Main cast:

Park Jimin, 24 y.o (Male)

Min Yoongi, 18 y.o (Female)

Guest:

Seventeen's Vernon, 14 y.o (Male)

CLC's Sorn, 14 y.o (Female)

.

Oreobox©copyright

.

Do you miss me? *tebar ciuman terbang*

Sebagai penebus dosa untuk kalian wahai readers tercinta yang menunggu, aku buat chapter ini puanjang sekalih. Bisa komplain di kotak review kalo chap10 membosankan saking panjangnya :' wkwkwk

Happy Reading!

.

.

Jimin merebahkan diri pada sofa panjang. Kepalanya ia tumpukan ke tangan kanan, sedangkan tangan lainnya sibuk mencari-cari channel tv menggunakan remote control. Hati Jimin sebenarnya sedang gundah mengingat ini akan menjadi malam pertamanya dengan Yoongi untuk tidur di ruangan yang sama. Dan, ya, satu ranjang. Jimin meniup poni dengan keras untuk mengenyahkan lamunan.

Saat tangannya berhenti pada siaran tentang dunia fauna, Yoongi keluar dari kamar mandi sembari menarik koper ke arah lemari. Jimin masih tak berani menatap Yoongi jadi ia tetap tertuju pada layar flat tv di dinding.

"Ka-kamu belum tidur?" tanya Yoongi gugup dari dalam lemari berdesain walk-in.

"Belum. Kamu tidur gih."

"Duluan saja, oppa."

"Kamu saja dulu." Suruh Jimin yang kembali menggonta-ganti channel tv.

"You first."

"Kamu."

"Kamu."

Jimin mendengus mematikan tv. Kemudian ia menduduki dirinya. "Ya sudah bareng-bareng. Kamu ngapain lama-lama di dalam sana?"

"I-iya bentar. Makanya Jimin oppa tidur saja, nanti aku nyusul ke sana."

Pria yang menjatuhkan poni ke dahinya itu mengerenyit bingung. Pasti ada sesuatu yang janggal sampai Yoongi bertingkah seperti itu. Jimin bangkit dari sofa tersebut lalu berjalan mendekat lemari.

"Eeeh, oppa jangan kemari, ya!" teriak Yoongi yang sia-sia karena sosok Jimin sudah muncul di depan pintu lemari walk-in.

"Kamu ngapa…in.. sih… Astaga, Yoongi." Yoongi spontan duduk berjongkok sembari memeluk kedua kaki. Jimin terpaku pada pandangan di depan matanya. Wajah Yoongi merah padam sampai merambat ke telinga.

Bagai sengatan listrik beribu-ribu volt menyerang jantung dan akal sehatnya, Yoongi sukses membuat Jimin jatuh dan jatuh lagi ke dalam pesonanya.

Pakaian dalam Yoongi samar-samar terlihat dari baju—Jimin berani sumpah di atas apapun ia sangat ingin merengkuhnya—sangat tipis dengan tali kecil di kedua sisi pundak halus Yoongi yang sedikit merosot ke bawah. Berulang kali Yoongi menaikkan tali itu karena terus-terusan melorot.

Yoongi menenggelamkan wajah merahnya di kaki yang ia peluk, "Kan aku sudah bilang, jangan ke sini dan cepatlah tidur duluan. Aku malu." Desis Yoongi dengan suara kecil.

Jimin hanya dapat memalingkan wajah dan meneguk air liurnya pelan. Ia kemudian menarik nafasnya cepat-cepat, mengelus dadanya sendiri agar jantung sialan ini berhenti berdegup keras. Menenangkan diri agar tetap pada kesadarannya.

"Kamu kalau tidur suka pakai baju seperti itu?" Jimin masih memalingkan wajahnya dari Yoongi.

Yoongi mendongak menatap Jimin lalu menggeleng keras. "Nggak! Ini kerjaan Hoseok menukar semua piyamaku dengan baju seperti ini. Aku gak ada pilihan lain selain menggunakannya sekarang."

Jimin menggaruk lehernya yang tak gatal dan tertawa hambar. Well done, Hoseok. "Usil banget."

"Memang."

"Terus kamu mau jongkok di situ sampai kapan?" Jimin berdeham.

Yoongi menggelengkan kepalanya lagi. "Ng-nggak tahu."

"Gini deh. Aku jalan dulu terus kamu ikutin di belakang. Nanti aku tidur di sofa, kamu langsung naik ke kasur, ya." Jimin mengigit ujung ibu jari kanannya, ia jadi gugup.

"Oke."

Setelah Jimin mendengar persetujuan dari istrinya, ia berjalan mengambil satu bantal dari tempat tidur lalu ia lemparkan pada sofa. Ia hempas tubuhnya di atas sofa tersebut dan menutup matanya.

"Sudah, Yoongi. Aku tidur, ya. Good night." Jimin pura-pura terlelap agar Yoongi bisa dengan santai tidur di atas ranjang. Bagaimana Jimin bisa tidur dengan nyenyak sedangkan ia tahu ada seorang perempuan cantik menggunakan baju seksi macam itu satu ruangan dengannya? Jimin juga hanya seorang laki-laki biasa, man, yang dapat merasakan gelisah saat ada wanita di dekatnya.

Yoongi mengintip keluar dari dalam lemari. Ia memandang sang suami yang sudah terbaring menekuk kakinya di sofa, lengannya ia gunakan untuk menutup mata. Yoongi mengendap-endap menuju tempat tidurnya.

Pantaslah jika Jimin menjadi resah melihat penampilan istrinya sekarang. Piyama di atas paha atau yang lebih tepat disebut lingerie itu menampakkan bentuk tubuh Yoongi yang sempurna. Kulit putih mulus, kakinya yang langsing dan juga perut rata Yoongi semua begitu terekspos. Oh, jangan lupa dengan belahan dada di depannya.

Buru-buru Yoongi menyelimuti diri dengan bedcover ranjang tersebut. Ia terbaring memunggungi Jimin. Uh, Hoseok. Bodoh. Bodoh. Bodoh.Yoongi meruntuki nama Hoseok di dalam hati.

Kamar menjadi hening dengan remang-remang lampu tidur yang sebelumnya dipasang oleh Jimin saat Yoongi di kamar mandi. Bau aroma terapi becampur asinnya air laut menguar di seluruh ruangan. Yoongi sepenuhnya terjaga, tidak ada rasa kantuk sedikit pun menghampiri karena rasa debaran jantungnya terus terpacu. Ini pertama kalinya Yoongi tidur satu ruangan dengan laki-laki selain papa dan sepupu-sepupunya.

Dengan ragu, Yoongi membalikkan tubuhnya menghadap sofa yang ditiduri Jimin. Yoongi menatap suaminya yang terlihat tak nyaman terbaring di sofa sempit dengan menekuk kedua kakinya. Ia jadi tidak tega dan merasa kasihan.

Yoongi mengelus sisi ranjang yang kosong. Yah, tempat tidur ini memang terlalu besar untuk satu orang. Tidak apa, tidak apa. Aku sudah menyelimuti tubuh dengan selimut jadi tidak akan terlihat. Yoongi menarik nafas pelan lalu menghembuskannya.

"Jimin oppa." Yoongi mencoba memanggil Jimin.

Yoongi tidak mendengar sahutan dari Jimin lantas memanggilnya kembali, "Jimin… oppa…"

"Yoongi harusnya kamu sudah tertidur, bukan?" suara Jimin tiba-tiba menjawab.

"Kamu belum tidur?" tanya Yoongi.

"Karena kamu tadi manggil, aku jadi terbangun." Jimin berbohong.

"Oh, maaf.."

Jimin masih menutup matanya lalu bertanya, "Ada apa?"

Suara gesekkan seprai dan selimut terdengar dari telinga Jimin. Mata Jimin refleks terbuka ketika sekelibat bayangan jatuh di depannya. Itu Yoongi, berdiri di hadapan Jimin sembari melilitkan selimut di tubuh mungilnya. Ia tampak seperti boneka salju, sangat menggemaskan. Shit.

"Kamu tidur di kasur saja, di sebelah aku." Ujar Yoongi tiba-tiba.

Jimin menatap lurus wajah Yoongi, tadi gak mau dekat sekarang malah mengundang. Jimin memberi seulas senyuman menolak, "Aku di sini saja, Yoongi. Sudah, sana kamu tidur."

Yoongi menggeleng wajahnya yang tidak tega melihat Jimin sulit bergerak pada ruang sofa yang sempit itu. Ia membungkuk sedikit lalu menarik ujung kaus Jimin dengan susah payah karena kedua tangannya juga sibuk menggenggam selimut tebal untuk menutupi tubuhnya. "Gak boleh. Nanti badan kamu sakit ditekuk-tekuk gitu."

Fuck. Endure your wild desire, Jimin…

Jimin akhirnya menuruti permintaan Yoongi karena memaksa terus menerus dengan menarik-narik ujung kaus yang melekat di tubuh berotot miliknya. Lelaki bertubuh gagah itu lantas berdiri dan dengan ragu mendorong pelan punggung Yoongi yang terbalut selimut untuk menuntunnya ke tempat tidur.

Suasana menjadi sangat sunyi padahal mereka berdua masih terjaga. Bukannya Jimin lebih senang berada di sofa sempit itu, sih. Tapi ia merasa lebih baik bersempit-sempitan ketimbang mengetahui Yoongi terbaring di sebelahnya. Yoongi tampak seperti kepompong besar karena lilitan bedcover putih. Jimin tertawa di dalam hati.

"Sudah tidur?" Yoongi membuka keheningan. Ia berbicara dibalik selimut yang ia tarik sampai hidung.

Yoongi mencuri pandang ke arah lelaki tampan di sisinya yang menatap lurus pada kelambu ranjang berhias kerang yang digantung, Jimin menggeleng pelan tanpa menyuarakan jawaban. Yoongi jadi ikutan Jimin menatap kelambu tersebut.

"Sama, aku juga gak bisa tidur." Yoongi bergumam lalu pandangannya mengedar ke seluruh ruangan. Ia berhenti pada tas kamera yang tergeletak di meja depan sofa. "By the way, baterai kamera masih ada, oppa?"

Jimin berjengit sedikit untuk melihat tas kamera di atas meja, "Ada kok. Kan bawa dua baterai, yang satu lagi diisi."

"Bawa sini, dong. Aku mau lihat-lihat hasil foto hari ini. Siapa tahu jadi mengantuk."

"Nyuruh yang lebih tua gak pakai 'tolong', nih?"

Yoongi nyengir kuda menoleh ke Jimin, "Please?"

Jimin tertawa kecil seraya berjalan ke meja untuk mengambil kamera DSLR-nya. Kemudian ia serahkan kepada Yoongi saat Jimin sudah merebahkan tubuhnya kembali di atas kasur. Seketika kecanggungan menjadi cair. Yoongi menekan-nekan tombol panah ke kiri pada kamera, ia tertawa keras pada layar digital kamera tersebut yang menampilkan wajah konyolnya—meniru gerak mata penari Pendet— saat makan malam di Langit Theatre.

"Ih, parah. Kapan ngambilnya, nih? Aku gak tahu." Tanpa sadar tubuh Yoongi bergeser mendekat sembari menyodorkan kamera ke Jimin yang juga sedang tertawa lebar. Kepala Yoongi menyentuh dada bidang Jimin. Pasangan itu akhirnya saling mengomentari setiap foto di kamera.

Jimin tiba-tiba teringat sesuatu. Ia menggapai dua buah bunga Kamboja di meja nakas samping tempat tidur. Yoongi menatap senang kepada bunga yang dibawa Jimin. "Kata pelayan restoran di sana, bunganya boleh dibawa. Kamu suka, kan?" Jimin menyelipkan bunga tersebut di telinganya dan di telinga Yoongi yang mengulas senyuman.

"Sini, aku mau pinjam kamera." Jimin mengulurkan tangan ke wajah istri manisnya. Yoongi memajukan bibir seakan berkata 'aku saja yang pegang' membuat Jimin tertawa geli. "Sebentar saja, kok."

Jimin membalik kamera agar lensa menghadap ke mereka. Pria yang memiliki senyum cerah tersebut spontan menarik Yoongi ke pelukannya yang lantas membuat Yoongi termangu.

"Nah..." Jimin mengeratkan tubuh Yoongi yang tiba-tiba memanas karena sentuhan tangan Jimin di bahu telanjangnya. Jimin tersenyum menatap lensa di kamera yang ia pegang, "SAY CHEESE!"

CKREK

Kamera tersebut menangkap wajah keduanya. Jimin buru-buru mengecek gambar yang ia bidik dengan mengembangkan senyuman puas, bangga karena hasilnya sesuai keinginan Jimin. "Kembaran pakai bunga di telinga. Lucu. Nanti kita cetak terus dipajang di apartment baru, ya." Cetus Jimin sembari menoleh ke sisi Yoongi di dada bidangnya.

Manik mata mereka bertemu. Yoongi tengah memandang Jimin dengan kedua pipi putihnya semerah tomat. Selimut tebal yang membelit Yoongi telah turun hingga pinggulnya. Jimin dapat merasakan debaran jantung Yoongi yang berada dalam posisi—ehem—sangat menempel di dadanya karena gerakan tak sadar Jimin saat merengkuh Yoongi tadi.

Dan, shit. Astaga, sudah berapa banyak umpatan yang Jimin lontarkan malam ini? Entahlah, Jimin tak pusing-pusing menghitung karena pikirannya sendiri tertuju pada perempuan di hadapannya.

This beautiful temptation, really, is too strong.

Bukannya menaruh kamera di nakas terdekat, Jimin malah sengaja berguling ke nakas seberang di sebelah Yoongi. Setelah ia menaruh kamera tersebut, Jimin membawa tubuhnya ke posisi yang tidak mengenakkan. Jimin menyangga tubuh di atas Yoongi dengan kedua lengan di sisi tubuhnya. Jimin menatap intens setiap inci wajah cantik sang istri yang melengos panik.

"Nga-ngapain? Geser sana." Ucap Yoongi yang tidak nyaman dengan posisi sekarang seraya menarik selimut ke atas. Namun gerakan itu terhenti karena tangan Jimin mengunci ke dua lengan Yoongi di samping kiri dan kanan kepalanya.

"Yoongi.." Yoongi masih menengok ke samping kanan, menghindari tatapan Jimin yang seakan membakar tubuhnya. Jimin menekan ibu jari ke dagu milik perempuan di bawahnya untuk mensejajarkan manik matanya dengan Yoongi.

"I always wonder, kenapa mata ini.. pipi merona ini.." Jemari Jimin mengelus dua mata Yoongi yang terus turun ke hidung dan pipinya, membuat Yoongi berdegup setiap jari Jimin menjalari kulit wajahnya. Jemari lelaki tampan tersebut berhenti pada bibir plum milik Yoongi lalu berbisik di belakang telinganya yang disemat bunga Kamboja "…dan juga bibir yang selalu menyunggingkan senyuman manis ini selalu sukses menarik perhatianku?"

Yoongi menelisik iris mata hitam milik Jimin mencari jawaban atas ucapan Jimin barusan. Apa Yoongi tak salah dengar? Jimin tertarik dengannya?

"Can I touch you? Aku akan menunggu kamu mengijinkan." Tanya Jimin dengan suara terdengar dalam pada Yoongi yang sedang mengigit pelan bibir bawahnya. Yoongi merasa asing dengan ketegangan penuh hawa panas ini. Ingin rasanya ia kabur dari kekangan Jimin dan menenggelamkan diri di laut luas sana. It's quite embarrassing yet I want to feel it, batin Yoongi penasaran. Mereka saling menatap tanpa berkedip, masing-masing merasakan degupan jantung yang tak terkendali. Yoongi tanpa sadar mengangguk memperbolehkan Jimin menyentuh dirinya.

Perempuan seputih susu tersebut hanya bisa menahan nafas saat bibir Jimin menjalari leher putihnya yang terus turun mengecupi bahu mulusnya tanpa jeda. Yoongi merasakan geli akibat sensasi bibir basah Jimin yang terus mengecupi tubuh Yoongi dan berakhir memberi beberapa kissmarks berupa garis merah di bahu dan buah dadanya. Kepala Jimin naik kembali dan langsung menyatukan bibirnya dengan bibir Yoongi yang tak siap selama beberapa detik.

"Sssh.. tophh.." Wajah Yoongi menjauh. Jimin menunggu Yoongi menghirup banyak-banyak oksigen ke paru-paru.

"Is it your first kiss?" tanya Jimin seraya membelai rambut di kepala Yoongi yang mengangguk malu untuk menjawab pertanyaan Jimin tadi.

Jimin berbisik kembali di telinga Yoongi, "Let me teach you." Kemudian Jimin lanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda.

"Open your mouth, Yoongi.. Jangan tegangkan rahangmu." Ucap Jimin rendah seraya mengigit kecil bibir bawah Yoongi yang mengerang kecil menuruti perintahnya. Ia lumat pelan bibir tipis yang manis dan semerah ceri milik Yoongi.

"Now, stick your tounge like this." Jimin menjulurkan lidah dan menjelajah masuk penuh hasrat di mulut Yoong yang terbuka. Yoongi hampir tersedak karena salivanya sendiri dan terbatuk pelan. "No, don't pull it, Yoongi... Good, balas gerakan lidahku persis dengan yang aku lakukan di mulutmu."

Mereka berciuman dengan sangat pelan namun malah membuat keduanya terasa gerah. Nafas hangat Jimin menerpa pipi merah Yoongi. Dengan instruksi Jimin, Yoongi memainkan lidah mereka berdua, menyesapnya dan saling tarik menarik mengeluarkan rentetan benang tipis saliva di ujung lidah. Yoongi merasakan tubuhnya memanas, ia menggeliat di bawah tubuh Jimin.

"Jim.. minh.." Lenguhan dari mulut Yoongi pun akhirnya lepas dari pertahanan. Yoongi merasa malu setengah mati saat suara menggelikan itu terlontar dari bibir yang sedang Jimin ciumi dengan intens. Yoongi bagai melambung tinggi, nafasnya menjadi sangat tak beraturan dan perasaan ingin disentuh lebih oleh sang suami di dalam hatinya membucah keluar. Apakah ini yang disebut gairah?

Tanpa melepas tautan bibir mereka, tangan Jimin secara perlahan menurunkan tali kecil di pundak Yoongi. Kemudian Jimin menyentuh beberapa kissmarks di pundak istrinya dan ia turunkan lingerie yang dikenakan Yoongi ke bawah. Perempuan mungil tersebut sekarang hanya terbalut pakaian dalam saja. Jimin memandang singkat dengan tatapan penuh kagum dan memuja akan tubuh Yoongi yang sempurna itu. Jimin pun melepas kaus hitamnya, saling memberi hantaran panas di kulit masing-masing.

Ia kembali memperkuat lumatan di bibir Yoongi, memperdengarkan suara kecipakan saliva yang keluar di sudut bibir mereka yang basah memenuhi kamar yang sebelumnya sepi tersebut. Yoongi beberapa kali mendesah memanggil nama sang suami, membuat Jimin akhirnya mengerang. Jimin meraba punggung halus Yoongi mencari sebuah kaitan.

Setelah sukses membuka kaitan di punggung Yoongi, Jimin kemudian melepas benda yang menempel di buah dada istrinya tersebut. Ia meremas pelan buah dada Yoongi dan memainkan ujungnya yang semakin membuat Yoongi meracau liar. Tangan Jimin yang bebas menjelajah kulit mulus Yoongi, meremas pantat kenyalnya, meraba halusnya paha Yoongi lalu ia tekan agar lebih maju ke tubuh Jimin. Sampai pada pakaian dalam bawah Yoongi yang ingin Jimin lepas…

Sontak Yoongi yang jantungnya sudah benar-benar ingin meledak tersadar 'this is too much, I can't handle it anymore!' menghentikan aktivitas mereka dengan segera memeluk leher Jimin. Nafas mereka seperti diburu saling bersahutan.

"Stop from here. I'm not ready. I'm sorry…" Tangan Yoongi gemetar merengkuh dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Jimin yang sedang berusaha menekan hasratnya yang memuncak.

Hold on, Jimin. Bertahanlah!

"Aku mengerti…Kalau kamu belum siap, jangan dipaksakan." Jimin merasa nafsu liarnya sudah tidak lagi mengusik, ia kemudian mengecup kedua telapak tangan sang istri yang gemetaran. Ia mengelus lembut surai panjang Yoongi yang berkeringat.

Yoongi dengan perlahan mendongak menatap wajah Jimin yang tersenyum. Pipi Yoongi memanas dan memerah mengingat kejadian beberapa menit lalu yang baru pertama kali ia alami seumur hidup. Ia baru tahu jika berciuman saja bisa membuatnya begitu kepanasan dan membawanya pada ke keadaan yang lebih intim.

Jimin mencium ringan bibir Yoongi yang sedikit memerah lalu memeluk Yoongi yang bertelanjang dada sama seperti dirinya. Mereka dapat merasakan debaran jantung yang menggila dari masing-masing pasangan.

Yoongi sangat malu dengan tubuhnya yang hanya tertinggal underpants. Tapi entah mengapa Yoongi merasa sangat bahagia saat ini karena ia dapat saling berbagi kehangatan dengan orang yang ia cintai.

"Maaf, oppa.." Yoongi memulai percakapan lalu melanjutkan, "That..was.. my first time.. s-so…"

Jimin jadi malu sendiri karena ucapan istrinya barusan, ia cepat-cepat menempelkan jari telunjuknya di bibir Yoongi "Ssstt. Sudah jangan berkomentar apapun, it was your first and I know it. Ayo tidur, tidur." Jimin menarik selimut dari kaki ranjang, menutupi tubuhnya dan tubuh Yoongi yang saling berpelukan.

Jimin mencium puncak kepala Yoongi sebentar lalu berkata, "Good night, Min Yoongi. Ah, salah. Park Yoongi, ya, sekarang."

Yoongi tersenyum di dada Jimin dan membalas "Good night, Jimin oppa. I love you."

Jimin sudah terpejam matanya.

Yoongi yang mengira Jimin sudah tertidur akhirnya terlelap juga dengan lubuk hati yang terdalam berharap suaminya membalas kalimat terakhir barusan.

.

.

Deburan ombak menerjang tebing terdengar sangat jelas karena pintu balkon yang Jimin buka sepenuhnya. Angin laut langsung menerpa tubuh atasnya yang tidak menggunakan pakaian. Jimin sedikit menyesal telah melewatkan momen sunrise karena terbangun pada pukul 9 pagi. Ia mengulet singkat lalu berjalan masuk kembali ke kamar.

Jimin yang bergegas ingin merendamkan tubuhnya di kamar mandi, seketika berhenti melihat seseorang bergelung di tempat tidur. Seseorang itu sedang tertidur damai dengan selimut masih berada di tubuhnya… yang nyaris telanjang. Jimin melihat bekas ciuman tersebar di dada dan bahunya. Ia berjalan mendekat dan mengambil kaus hitam di lantai yang ia kenakan tadi malam. Dengan hati-hati—dan tentu saja tidak ada nafsu— ia pakaikan pada tubuh Yoongi telanjang, takut ia masuk angin. Setelah selesai, ia mengelus surai coklat Yoongi yang berantakan. Jimin meringis. Apa yang telah aku lakukan terhadap anak polos ini tadi malam?

Untunglah Yoongi dengan tepat memberhentikan aksi Jimin—yang terkesan diurung hasrat liar—sebelum ia berlaku lebih jauh lagi terhadapnya. Jimin tidak mau membuat Yoongi takut akibat tindakannya semalam.

Jimin telah menyadari satu hal tentang Yoongi, terutama saat malam ini pertama kalinya mereka bersentuhan dengan tidak ada jarak. Tubuh mungil yang pucat milik Yoongi terlihat sangat rapuh, seakan ia bisa hancur dan terluka kapan saja. Jimin jadi ingin melindunginya, merengkuhnya dan tidak akan membiarkan siapapun berani menyakitinya.

Ya, setelah sekian lama Jimin berdalih, kini Jimin mengakui bahwa ada getaran yang timbul saat pikirannya menuju istrinya tersebut. Ia mengakui bahwa ia memiliki rasa lebih terhadap Yoongi. Jimin mulai terbiasa melihat Yoongi berada di sisinya. Yoongi sudah menjadi bagian dari Jimin.

Deringan nyaring sebuah ponsel pintar di meja depan sofa membuyarkan lamunan si pemilik. Ia mengecup singkat dahi Yoongi lalu beranjak bangkit untuk menggeser layar ponsel.

Jimin mengangkat telepon yang masuk, "Ya, sekretaris Hwan?"

"…."

"Harus sekarang juga?" Jimin berdecak mendengar suara sekretaris kantornya.

"…."

"Tuh, kamu tahu saya sedang berbulan madu…. Hah?... Iya, iya. Baiklah…. Oke, nanti saya kabari kamu lagi kalau sudah selesai." Kemudian Jimin menekan tombol ends call dan menghela nafas.

Dikira Jimin sudah jauh-jauh terbang dari Korea Selatan ke Indonesia akan terbebas dari pekerjaannya, tapi nyatanya tidak. Sekretaris kepercayaannya sudah mulai meneror Jimin. Untung ia membawa Macbook, just in case ada pekerjaan mendadak yang harus ia lakukan seperti ini.

"Mandi dulu, deh. Baru kerja." Jimin menguap keras sembari berjalan ke kamar mandi. Yoongi pasti akan bosan pada dirinya seharian ini.

.

.

Yoongi terbangun dari tidurnya karena mendengar cicitan burung dan suara ombak laut. Kamarnya sudah tidak diterangi lampu melainkan oleh sinar matahari yang masuk dari jendela besar di deretan pintu balkon. Yoongi menguap kecil di atas ranjang, ia sedikit berkeringat karena selimut tebal menutupi tubuhnya. Seakan terkejut, tiba-tiba matanya terbuka dan ia pun terduduk. Ia menyibak selimut tersebut lalu menutupnya lagi. Pipinya merona hebat. Kaus yang dipakai Jimin oppa kemarin. Tadi malam beneran bukan mimpi?

Yoongi menoleh ke sisi tempat tidur yang sudah kosong, hanya ada dua buah kamboja yang sudah layu. Mata Yoongi mencari sosok suaminya. Yoongi sebenarnya ingin segera ke kamar mandi, tapi karena ia malu akibat kejadian tadi malam ia jadi takut menatap Jimin. Yoongi menghembuskan nafas lega ketika melihat Jimin duduk pada day bed di balkon.

Cepat-cepat Yoongi menapakkan kaki ke lantai dan berlari. Namun di tengah perjalanan menuju kamar mandi, ia menepuk pelan keningnya karena lupa membawa benda yang tertinggal. Ia memutar arah kembali ke tempat tidur dan dengan kasar ia ambil lingerie dan branya di atas nakas samping ranjang. Pipi merah Yoongi menggembung seakan tersulut amarah melihat piyama tipis yang 'ewww' menurut perempuan bermata kecil itu.

Ini semua gara-gara kamu, Hoseok.

.

.

Terik matahari seperti berdiri di atas ubun-ubun menaikkan suhu di sekitar resort. Tetapi karena ini sedang di laut, jadilah banyak udara berhembus. Rambut hitam legam Jimin yang disisir ke belakang tertiup angin. Jimin merenggangkan tubuhnya yang lelah sebentar akibat terus-terusan menatap layar MacBook di atas kursi santai. Lelah juga sudah beberapa jam Jimin menghabiskan waktu mengerjakan pekerjaannya di sini. Ia membenarkan letak kacamata dan mau tak mau kembali bekerja.

Yoongi yang sudah membersihkan diri di kamar mandi dan berganti pakaian, menyadarkan tubuh di pintu kaca balkon untuk mengintip Jimin. Ke sana, ngga, ke sana, ngga, ke sana, ngga?

Bermenit-menit Yoongi berdiri di pintu, berharap suaminya mencari atau memanggil nama Yoongi. Tapi sepertinya Jimin sedang asik menggerakkan jemari di atas keyboard laptop sampai tak sadar Yoongi menghampirinya dan sudah duduk bersila di seberang kursi yang Jimin duduki. Yoongi berdeham.

"Eh? Sudah bangun?" Jimin memandang Yoongi sekilas.

Yoongi berdeham kembali. Ia mengibaskan surai coklat yang di sisi kanan dan kirinya ia kepang sedikit lalu diikat menjadi satu di belakang. "Sudah. Kok, gak bangunin kalau kamu bangun lebih pagi dari aku?"

"Gak apa-apa, kasihan soalnya kamu kayak capek banget."

"Oooh.." sahut Yoongi menatap Jimin yang memakai kaus abu-abu ditambah kemeja kotak-kotak besar berwarna putih-biru langit. Jimin sama sekali tak memandangnya, membuat Yoongi sedikit sebal.

"Sudah sarapan?" tanya Yoongi.

"Gak lapar. Tapi tadi aku memesan makanan buat kamu di meja depan sofa."

"Kamu gak makan?"

"Ngga."

"Terus, hari ini rencananya mau ke mana?"

Jimin melirik Yoongi, "Aku? Selesain kerjaan kantor ini di sini."

Mata kecil Yoongi membulat. Yang benar saja, sedang berbulan madu seperti ini masih saja mengerjakan pekerjaan kantor? Baru kemarin kita.. errr.. bermesraan.. Masa seharian ini cuma diam di kamar?

Yoongi melipat kedua lengan di depan dada dan cemberut. Jadi gini kalau Jimin oppa sedang dalam work mode-nya.

"Katanya kamu mau ajak aku ke private beach di resort ini?" tagih Yoongi.

"Kamu duluan ke sana. Aku ada kerjaan dadakan, nih."

Yoongi tambah cemberut. "Huh, ya sudah. Aku berenang sendirian saja di pantai."

"Hati-hati ya dan jangan lupa pakai sunblock." Jimin melambaikan tangan sekenanya tanpa tahu Yoongi memutar bola mata dengan sebal. Seriously, alone?!

"Sendirian banget, nih?"

"Terus mau gimana lagi? Aku ada kerjaan."

"Oke. Aku akan pergi sendirian dan memakai baju renang seksi biar banyak yang mau main denganku di sana." Cibir Yoongi sembarangan yang malah mendapat pelototan tajam dari mata Jimin. Well, akhirnya Jimin beralih menatap Yoongi tidak lagi menatap layar laptopnya.

"Coba saja. Memang berani buka-bukaan terus pamer bekas ciuman di badan kamu?"

Dan sebuah bantal kecil dari day bed terlempar keras ke wajah Jimin. Yoongi yang merah padam bangkit dari tempat duduknya dan berjalan masuk seraya menggerutu keras.

"Keterlaluan." Yoongi memakai sandal jepit dan topi fedoranya. Ia meraih kasar totebag di sofa lalu mengoceh dengan wajah yang memanas menahan marah juga malu, "Ini salah siapa sih yang bikin garis-garis merah di bandanku?!"

Pintu kamar yang dibanting Yoongi terdengar sampai ke balkon. Jimin cekikikan sendiri mengetahui Yoongi kesal setengah mati akibat ucapannya tadi. Perlu diingatkan lagi, Jimin memang suka menjahili Yoongi. Lucu banget ya kalau dia lagi marah-marah. Salah sendiri ngomong pakai baju renang yang seksi-seksi segala, kan jadi gemas.

Ah, aku harus cepat menyelesaikan kerjaan ini dan menyusulnya.

Mana tega sih Jimin membiarkan istrinya sendirian?

.

.

NOTE: mulai dari sini,
-Kalo ada percakapan dicetak miring gak di bold berarti itu lagiberbahasa Inggris.
-Kalo yang dicetak biasa berarti percakapan dalam bahasa Korea.

Yoongi menuruni undakan tangga ke bawah tebing. Setelah ia bertanya pada beberapa pelayan dari resort ini akhirnya ia menemukan pantai pribadi berpasir putih, Kubu beach! Ia berjalan riang melepas sandal untuk merasakan hangatnya pasir pantai di bawah kaki yang telanjang.

Yoongi terlihat begitu cerah dengan shirt dress kuning polos tidak berkerah berbahan chiffon di atas lutut dan celana denim pendek sepaha bercorak tribal yang tertimbun dress tersebut. Cocok sekali dengan topi wide-trim fedora yang ia pegangi di kepala sekarang karena takut angin akan menerbangkannya.

Perempuan mungil itu menatap takjub air laut yang biru jernih bergerak datang menyentuh ujung jemari kakinya. Kemudian ia memejamkan matanya dan menghirup aroma asin khas pesisir. Coba Jimin di sini sekarang, pasti ia akan terkagum-kagum juga.

Mengingat nama Jimin, Yoongi jadi kesal. Pipinya kembali menghangat. Semua salah Jimin oppa aku jadi gak bisa pakai off-shoulder dressku, malah pakai shirt dress berlengan panjang ini. Lagi di pantai malah menyembunyikan baju renang favoritku di balik baju. Ah, salah Hoseok juga!

Yoongi menarik nafas dalam-dalam dan ia teriak keras-keras ke laut di depannya. "MEEENYEEEBALKAAANNN-AWW!"

Sebuah bola pantai mengenai kepala Yoongi. Ia meringis, untung saja bola tersebut ringan jadi ia hanya terkejut. Ia menoleh ke arah asal bola dilempar dan mendapati dua anak remaja sedang terbengong memandangnya.

Anak perempuan yang mengenakan ban pelampung bergeming sedangkan anak lelaki yang membawa gitar dipunggung menyikut perutnya dan berbisik ketakutan menggunakan bahasa inggris, "Lihat, kamu melempar bola tepat ke kepala kakak itu!"

Yoongi berjalan mendekati dua anak tersebut yang mendadak mematung, takut Yoongi memarahi mereka. Yoongi hanya tertawa lepas dan mengembalikan bola yang tadi mengenai kepalanya, "It's okay. Aku gak marah."

Anak laki-laki jangkung berwajah kebaratan itu menghela nafas lega. Sedangkan anak perempuan berwajah melayu-barat tersebut mendekati Yoongi dan meminta maaf, "Maaf, kak. Aku tidak sengaja."

"Eh, iya gak apa-apa, kok! Gak sakit juga." Yoongi tersenyum hangat yang dibalas oleh keduanya. Kemudian Yoongi tergelitik untuk bertanya sembari menatap penasaran gitar yang dibawa si jangkung, "Bisa main gitar?"

"Ini?" Si jangkung menunjukkan gitarnya, "Oh, ini sih…"

"Ah, ngga, kak! Dia Cuma sok saja, baru dibeliin gitar sama ayahnya langsung dibawa liburan." Sela anak perempuan itu menepuk punggung si jangkung dan terkekeh.

"Hei!" Si jangkung itu berteriak kecil lalu tersenyum kecut menatap ke Yoongi. "Gitu deh, kak Hehehe. Masih amatir."

"Mau kakak ajarin?" tawar Yoongi tiba-tiba kepada mereka. Ia sih senang-senang saja mengajari mereka bermain gitar, toh Yoongi sendiri memang suka bermain alat musik. Kedua anak tersebut saling berpandangan dan sedikit heran.

"Hah, serius? Kakak bisa main gitar?" tanya si jangkung.

"Bisa, dong. Bahkan aku juga bisa bermain piano." Jawab Yoongi bangga yang lantas diberi tepuk tangan kecil. Setelah dipikir-pikir, untuk apa juga ia berbangga diri di depan dua bocah ini. Yoongi tertawa sendiri.

"Jadi.. mau gak,nih?"

Kedua anak itu kemudian sumringah dan menyeringai senang. Ada yang mau repot-repot ngajarin dan gratis..Why not? Mereka berseru bersamaan, "Mau dong, kak!"

Segera saja dua anak tersebut menarik pelan kedua lengan Yoongi untuk berduduk sila, tak peduli bokong mereka akan kotor akan pasir putih di bawahnya. Si jangkung menyerahkan gitar agar Yoongi dapat memangku benda tersebut di paha.

"Omong-omong, aku Yoongi dari Korea Selatan. Kalian?"

"Aku Sorn. Dan dia sepupu Sorn, namanya Vernon. Sorn dan Vernon tinggal di Amerika." Ucap si anak perempuan sembari melepas ban dari perutnya kemudian ia melanjutkan, "Ayah Sorn orang Thailand sedangkan ibu orang Amerika yang juga bersaudara dengan ayah Vernon. Salam kenal, kak."

Yoongi mengangguk paham. "Salam kenal semua. Okay, let's have fun!" ia kemudian menyuarakan antusiasnya tiba-tiba yang membuat dua anak remaja Amerika tersebut ikut berteriak girang.

Lumayan kan sekarang Yoongi jadi memiliki teman, memangnya harus ada Jimin saja Yoongi baru bisa bersenang-senang? Lihat, sendirian juga bisa!

.

.

"Dia di mana, ya?" Jimin berjalan pelan menyusuri undakan tangga batu menuju pantai di bawah. Mata sipit tajamnya masih mencari sosok mungil sang istri.

Tenggelamnya setengah tubuh matahari di sebelah barat menandakan ia telah sangat lama meninggalkan Yoongi berkeliaran sendiri di resort luas ini. Pekerjaannya memang banyak sekali, Jimin menyesal sebenarnya tidak bisa menemani Yoongi. Sekarang ia baru sempat menyusul ke pantai untuk menjemputnya.

Jimin membenarkan letak kacamata kerja yang lupa ia lepas dari wajahnya kemudian memicingkan pandangan. Ia berhasil menemukan Yoongi yang terduduk bersila dekat air laut yang bergulung-gulung saling mengejar di bibir pantai. Yoongi tengah asik… bermain gitar? Jimin lagi-lagi terkejut melihat Yoongi yang ternyata bisa bermain alat musik selain piano. Dan siapa itu dua anak berambut pirang yang sedang tertawa bersama istrinya? Sudah mendapatkan teman rupanya, pantas lama tidak kembali ke kamar.

Jimin perlahan berjalan untuk duduk pada kursi pantai terdekat, di mana suara percakapan dalam bahasa inggris Yoongi dan dua anak tersebut dapat terdengar jelas dari telinga lelaki berambut gelap itu tanpa Yoongi menyadari kehadirannya.

"Gimana? Mudah kan bermain gitar? Gak sesusah piano, kok." Yoongi mengacak-acak surai pirang Vernon dengan gemas.Vernon dan Sorn mengangguk setuju.

"Kak, thank you. Sorn sekarang bisa beberapa kunci dasar gitar walaupun gak punya gitar."

Yoongi tertawa kecil mendegar kedua anak itu saling beragumen siapa yang paling cepat bisa bermain gitar. Yoongi yang mulai pegal merenggangkan tubuh dengan cara mengangkat kedua tangannya. Kakinya ia selonjorkan ke depan sembari memandang air laut yang berubah warna jingga. Ia tersenyum melihat sunset dengan view yang lebih indah dibandingkan dari balkon kamar penginapan.

"By the way, kakak di sini liburan sendiri di sini? Ngapain coba sendirian, gak asik." ujar Sorn membuat Yoongi teringat kembali pada suaminya yang menyebalkan siang ini. Tanpa Yoongi tahu, Jimin tertawa tanpa suara di kursi pantai membayangkan Yoongi mengerucutkan bibir mungilnya.

"Aku gak sendiri, kok."

"Terus sama siapa?" sekarang giliran Vernon yang bertanya.

Jimin membusungkan dada, sama suami yang keren dong. Ayo bilang gitu, Yoongi. Percuma sih sebenarnya, Yoongi toh duduk membelakangi Jimin jadi tidak bisa melihat suaminya sedang menyombongkan diri.

"Emmm… sama teman.." Kedua anak berambut pirang itu menyuarakan huruf 'o' bersamaan mendengar jawaban Yoongi, terkecuali Jimin yang bersiap sewot tidak terima di belakang. Teman? Enak saja, Jimin itu sudah menjadi suami resmi seorang Min Yoongi. Tetapi Jimin terduduk kembali di tempat akibat kelanjutan perkataan Yoongi sesudahnya.

"Sama teman.. teman spesial." Vernon dan Sorn saling bersiul menggoda kakak bertubuh mungil yang tersenyum malu di balik gitar.

"Ah, asiknya bisa liburan sama orang spesial. Pasti dia orang yang kakak suka, kan? Sornsih cuma sama keluarga dan sepupu Sorn yang nyebelin ini."

"Huuu, nyebelin sih nyebelin tapi ujung-ujungnya main juga kan sama aku." Vernon menoyor kepala Sorn yang malah mengabaikan si sepupu usil. Sorn lalu bertanya kepada Yoongi.

"Gimana, kak? Itu, rasanya jatuh cinta." Sorn menebak-nebak.

Seperti apa itu jatuh cinta? Yang Yoongi tahu saat bersama Jimin itu manis. Seperti sedang memakan coklat, ketagihan di setiap gigitan untuk mencicipinya. Selalu terselip kebahagiaan saat menikmatinya. Terlalu manis sampai-sampai dapat melelehkan hati Yoongi hingga tak sadar kadang coklat pun bisa terasa pahit. Sama seperti hal yang Yoongi selalu rasakan, aneh dengan perasaan bahagianya yang tiba-tiba berubah nyeri.

"Aduh, kayak apa ya? Aku saja baru merasakannya.." ucap Yoongi.

"Waaah, first love?! How sweet!"

Melihat sepupu centilnya memekik girang, Vernon jadi penasaran juga. Dengan wajah tanpa tahu apapun Vernon bertanya, "Teman kakak itu membalasnya tidak? Seperti dia suka juga sama kakak? "

Yoongi mengigit bibir bawahnya. Sedangkan Jimin merasa tubuhnya seperti ditembak di tempat, terdiam kaku. Mereka mendengar jelas pertanyaan spontan Vernon yang sangat menohok keduanya.

Ah, begitu rupanya kenapa hatiku selalu nyeri dan resah, merasa diambang batas yang tidak jelas.. Aku tak tahu apakah Jimin oppa merasa sama sepertiku atau malah justru terganggu.

Jimin menunggu jawaban yang dilontarkan Yoongi, tapi nyatanya ia malah membenarkan letak gitar di pahanya. Yoongi memetik singkat senar mencari tangga nada dasar, lalu menjatuhkan bahunya karena mengehembuskan nafas berat.

"Aku gak pandai dalam mengetahui perasaanku sendiri apalagi perasaan teman spesialku itu terhadapku. Really, I don't know what to say but.. maybe I can express it through this song." Yoongi tersenyum singkat kepada dua remaja di hadapannya yang tengah bersiap mendengar permainan gitar Yoongi.

You're the light, you're the night
You're the color of my blood
You're the cure, you're the pain
You're the only thing I wanna touch
Never knew that it could mean so much, so much

Ingatan Yoongi melayang pada kencan pertamanya dengan Jimin. Di mana ia menyadari bahwa ia telah jatuh pada seorang lelaki berambut hitam yang tak lama ia dikenal. Pesonanya, tutur katanya, kelembutannya, sentuhannya..

You're the fear, I don't care
Cause I've never been so high
Follow me to the dark
Let me take you past our satellites
You can see the world you brought to life, to life

Jimin menutup wajahnya dengan telapak tangan. Lalu ia tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya. Memang benar beberapa tahun lalu Jimin pernah menaruh hati pada perempuan lain. Jimin sadar sekarang ini berbeda. Tidak, memang sangat berbeda daripada yang ia rasakan pada mantan kekasihnya. Yoongi.. membuatnya nyaman secara natural, membawanya pada perasaan aneh namun menggelitik untuk terus mencari tahu.

Fading in, fading out
On the edge of paradise
Every inch of your skin is a holy grail I've got to find
Only you can set my heart on fire, on fire

Yoongi memejamkan mata, ia bernyanyi sembari tersenyum. Pipi Yoongi merona mengingat sentuhan Jimin di kulit mulusnya semalam. Panas. Hangat. Hanya Jimin yang bisa membuat Yoongi seperti ini. Apakah Jimin merasakan apa yang ia rasakan terhadapnya?

Yeah, I'll let you set the pace
Cause I'm not thinking straight
My head spinning around I can't see clear no more
What are you waiting for?

Apa perasaan Yoongi sebegitu dalamnya terhadap Jimin? Jimin tak mengira akan sejauh ini. Jimin tahu dia pun sudah tertarik dalam medan magnet dari perempuan yang telah menjadi istrinya itu. Apa lagi yang Jimin tunggu? Apa lagi yang perlu diragukan lagi?

Love me like you do, love me like you do
Love me like you do, love me like you do

Akan lebih sempurna jika Jimin oppa menyukaiku juga sama sepertiku yang sangat mencintainya. Yoongi menampakkan gigi putih ratanya menatap Vernon dan Sorn yang terpana akan permainannya.

Touch me like you do, touch me like you do
What are you waiting for?

Tentu saja Jimin terus menatap sosok istrinya yang dengan lihai memetikkan senar gitar menjadi irama yang sangat enak untuk didengar.

Vernon yang tersadar dari rasa kagum akan permainan gitar Yoongi, menyenggol bahu Sorn yang terlihat tak senang karena sudah diganggu. Vernon tak mengindahkan tatapan seram Sorn malah menggerakkan dagunya menunjuk seseorang di belakang Yoongi. Mereka berbisik heboh.

"Jangan-jangan itu teman spesial kak Yoongi? Dari tadi melihat kak Yoongi terus." Bisik Vernon.

"EH? MANA? MANA?"

Jimin melihat dua anak berambut pirang tersebut menyadari keberadaannya. Lantas Jimin tersenyum hangat dan menempelkan jari telujuk ke bibirnya untuk tidak memberi tahu keberadaannya kepada Yoongi. Sorn dan Vernon mengangguk mengerti lalu berpura-pura tak memandang Jimin. Mereka berdua bertepuk tangan sesaat setelah Yoongi mengakhiri petikan gitarnya dengan indah.

"Indah, kak.. Suaramu, permainan gitarmu. Aku bisa merasakan apa yang kak Yoongi rasakan sekarang." ujar Sorn dan Vernon sembari berdiri mendekat ke tempat Yoongi yang sudah berdiri juga. Yoongi hanya tersenyum sekilas dan memeluk keduanya. Ah, andai dia bukan anak tunggal dan memiliki adik yang manis seperti mereka. Mungkin hari-hari Yoongi akan ramai bisa saling bercerita seperti ini.

"He should know that you truly fall for him." Vernon melirik Jimin sekilas, sedikit menyindirnya.

"Really a must." Timpal Sorn yang juga menyindir Jimin di belakang. Yoongi mencubit kedua pipi remaja tanggung tersebut dengan gemas, sok tahu banget sih ini bocah-bocah. Dan mereka bertiga kemudian tertawa bersama.

"Sudah mulai gelap langitnya, kak.." ucap Vernon setelah melepas pelukannya dari Yoongi. Mereka—termasuk Jimin—mendongak menatap langit yang tampaknya telah memudar warna jingganya.

"Time flies so fast. Aku harus kembali ke kamarku, aku lupa meninggalkan si teman menyebalkanku itu sendiri. Eh, entah ia mencariku apa nggak." Yoongi memajukan bibirnya dengan kesal. Jimin terkekeh tanpa suara. Gambaran baik Jimin di mata Yoongi berkurang satu ya ternyata, Jimin harus meminta maaf setelah ini.

"Kami juga dengan berat hati harus pamit.." Sorn kembali memeluk Yoongi, tak rela berpisah dengan orang yang baru saja dianggap sebagai kakaknya sendiri itu. "Sampai jumpa lagi, kak. Thanks ya sudah berbaik hati mengajari kami bermain gitar. I will treasure this like a precious memory of my best vacation ever."

Yoongi melambaikan tangannya ke arah dua bocah pirang yang sudah berjalan menjauhi dirinya. Ah, pantai Kubu ini terasa sepi sepeninggalnya Sorn dan Vernon. Ia juga harus pergi sekarang dan kembali ke kamarnya.

Sesaat setelah Yoongi membalikkan tubuhnya, ia menubruk tubuh kekar yang tengah berdiri di belakang. Hidungnya secara tak sengaja menyentuh dada lelaki tersebut dengan keras yang membuatnya merasakan linu. Ia pun sampai menjatuhkan topi fedoranya. Yoongi kaget menyadari siapa yang sedang mengambil topi yang terjatuh itu dan langsung memakaikannya kembali ke kepala Yoongi.

"Jimin oppa? Ngapain?" Yoongi masih terkejut Jimin tiba-tiba sudah ada di sini dan menemukannya.

"Loh, aku kan janji buat jemput kamu kalau sudah selesai kerjaannya." Jimin terkekeh sembari mengusap sedikit pasir di pipi Yoongi yang menempel. Jimin menautkan tangan mereka berdua dan segera beranjak menyusuri pantai.

"Baru sekarang?" Yoongi mendengus mengingat perihal kekesalannya pada Jimin tadi pagi. Perempuan semanis gula itu kemudian menghentikan langkah, ngambek ceritanya. Ia membuang pandangan ke arah air laut yang menyentuh telapak kaki mereka berdua.

Jimin hanya tersenyum sembari berdiri berhadapan dengan wajah cemberut sang istri yang menunduk ke bawah. Jimin menggenggam kedua tangannya dan mengecup sekilas ujung jemari Yoongi. Ia meminta maaf sudah membiarkan Yoongi sendirian.

"Aku gak tahu kamu pandai bermain gitar." Yoongi langsung menatap wajah Jimin dan terbelalak kaget. Jimin tertawa membiarkan istrinya bertanya-tanya.

"Dan seperti biasa, suara kamu bikin aku terjatuh berkali-kali jatuh ke dalam pesona kamu. Saking indahnya.." Yoongi mengernyit. Oke. Jadi sebenarnya, sejak kapan Jimin sudah berada di pantai ini?

"Lalu… Ini membuat aku harus mengakui suatu hal."

"Mengakui suatu hal? Apa?" Yoongi jadi pusing sendiri, Jimin mau mengatakan apa sih sampai harus berputar-putar dulu untuk membicarakannya.

Jimin maju selangkah ke depan Yoongi untuk memperkecil jarak di antara mereka. Yoongi hanya bisa mendongak gugup menatap wajah Jimin yang tersiram sebagian oleh termaram sinar bulan yang sudah muncul di langit.

"I'll let you set the pace cause I'm not thinking straight.. My head spinning around and I can't see clear no more. What are you waiting for?" Lelaki tampan itu melantunkan sepenggal lirik lagu yang tadi Yoongi nyanyikan sebelumnya.

Oh, gawat. Sepertinya Jimin oppa mendengar percakapanku dengan Sorn dan Vernon.

"Yoongi.." Tatapan Jimin sekarang berubah menjadi serius. Seakan tersihir, Yoongi sampai bergeming melihat wajah Jimin terus mendekat perlahan dan mencium lembut bibir mungilnya. Jimin menarik tubuh Yoongi dan memiringkan wajah sedikit agar mempermudah ia melumat bibir manis istrinya yang menjadi candunya sekarang.

"Yoongi. Yoongi. Yoongi." Jimin memanggil nama sang istri disela-sela ciuman tersebut. Setelah beberapa menit mereka begitu dalam berciuman, Jimin melepas tautan bibirnya. Jarak mereka masih dekat, kedua kening mereka menempel.

"Yoongi.." Jimin mengelus pipi Yoongi dengan sayang, "You are mine. You're always be mine."

"Aku tahu sekarang kamu begitu menderita karena ketidak jelasan perasaanku kepadamu. Aku menyesal membuatmu menunggu selama ini." Jimin mengecup sebentar bibir Yoongi yang sedang tersengal mencari udara. Kaki Yoongi sampai lemas karena mendapat ciuman tiba-tiba yang memabukkan dari suaminya.

"Sekarang aku mau menegaskan bahwa aku.. mencintaimu. Sangat mencintaimu."

Yoongi terdiam di tempatnya. Nafas masih tersengal. Sebentar, tadi Jimin mengatakan apa?

.

.

To be Continued :'D

.

.

Adegan rated M-nya maaf ya kalau di stop dulu dan hambar-hambar saja(?) /kabur/
Makasih banget yg masih setia nunggu ff lumutan ini wkwkwk Ore sempet kena writer's block nih ;_; ini juga gak Ore edit2 lagi, apa adanya saja ;_;

Buat semua yang masih mendukung ff ini; ngebaca, pm, ngereview, ngefav, ngefollow;
KAMSAHAMNIDA. ARIGATOU. MERCI. THANK YOU. TERIMA KASIH.

mohon maaf bgt blm bisa balesin satu2 komen dari kalian ;_;
jangan bosen2 sempetin komen di sini, itu semua bener2 jadi penyemangat Ore buat ngelanjutin ff ini ;_;

SEE YOU NEXT TIME!
(~^o^)~I love U~(^o^~)

.

Nb: siapa yang dateng ke fm bts tgl 11sept nanti? Cung hayo, mau barengan sama Ore gak? XD