"Tenang saja, apapun yang terjadi aku pasti akan minta maaf padannya," ujar Naruto.

"Aku juga akan mengatakan perasaanku yang sesungguhnya terhadap Hinata, kali ini aku akan berusaha, Ayah dan Ibu di surga, berikanlah aku kekuatan ..."

You Take My Breath Away

Disclaimer: "Jan-Ken-Pon"

"Huurrraaayyyy, kali ini Aoi yang menang, berarti hak cipta Naruto menjadi milik.. jleb jleb jleb (suara kunai dan shuriken yang menembus badan).

"Bwahahaha... tidak semudah itu Aoi, sampai kapanpun hak cipta dari manga Naruto akan menjadi milikku, Masashi Kishimoto sensei..."

"Baj***an kau Kishimoto, kau menggunakan cara yang licik, aku tak akan membiar.. Jleb Jleb Jleb (Aoi tewas tak berkutik)

"Hahahaha, dengan begini Naruto tetap menjadi milikku," seru M. Kishimoto senang.

Story lineby Aojiru

Warning: AU, OOC

Part 2

Dan keesokan harinya ...

"Selamat pagi..!"

"Oh, Hinata ..., selamat pagi!, bagaimana keadaanmu, apa kau sudah merasa baikkan !" tanya Shikamaru.

"...!" Hinata menatap Shikamaru dengan ekspresi bertanya-tanya.

"Lho! Bukankah alasan ketidak hadiranmu kemarin adalah karena kau sedang tidak enak badan! bukan begitu?"

"A- anu, aku sebenarnya ..."

"Kalau memang kau sedang tidak enak badan, dirumahku ada bumbu dapur yang sangat lezat, ibuku yang membuatnya, resep dari klan Nara yang diwariskan secara turun-temurun sejak berabad-abad yang lalu, kalau kau menaburkan bumbu itu ditubuhmu, badanmu pasti akan terasa enak ..." ujar Shikamaru dengan air liur bergelimangan di sekujur mulutnya dan siap menyantap Hinata.

"Hiiii ..."

"Oi Hinata, cepat kemari, tinggalkan saja laki-laki bodoh itu," ujar Sakura.

"Ap .. bodoh," ujar Shikamaru terkejut.

Hinata segera meninggalkan Shikamaru yang sedang shock dan tertunduk lesu di lantai sambil menyesali dirinya sendiri sehabis dikatai bodoh oleh Sakura.

"Hinata.. apa kau sudah baikan, aku sudah mendengar hal yang terjadi dua hari yang lalu saat kau bersama Naruto itu.."

"Ya, aku tidak apa-apa.. terima kasih sudah mengkhawatirkanku, Sakura." Ujar Hinata.

"Haah" Sakura menghela nafas panjang.

"A- ada apa.." tanya Hinata.

"Kau ini.. entah sudah berapa kali kuperingatkan, jangan sampai berurusan dengan laki-laki, karena mereka semua itu adalah mahluk yang bodoh dan tidak berguna, tidak terkecuali siapapun, semua laki-laki sama saja, kau harus ingat itu." Terang Sakura.

"I- iya, maaf.."

"Kau harus belajar banyak dari orang sepertiku.." terang sakura.

"I- iya.."

Tiba-tiba sesorang dari belakang menyela pembicaraan mereka berdua.

"Ng!.."

"Maaf Sakura, boleh aku pinjam pulpenmu.."

"Kyaaa... Sa- Sa- Sasuke-kun, i- ini.. silahkan, kau boleh pakai yang manapun yang kau suka, ka- kalau perlu kau boleh mengambil semuanya.."

"Ah, terima kasih, tapi aku hanya butuh satu saja.." jawab Sasuke dengan gayanya yang khas.

"Kau ini, tidak perlu sungkan begitu, aku kan jadi malu, hehehe.." dimata sakura, Sasuke terlihat sedang memuji penampilannya.

(ternyata benar bahwa 'cinta itu buta' ya!, atau memang Sakura yang.. (_ _; )

"Apanya yang jadi malu.. aku kan hanya meminjam pulpenmu saja.." jelas Sasuke.

"Ah.. Sasuke ini, ternyata kau sedikit pemalu ya.. fufufu"

"Hah...!" Sasuke hanya ternganga dibuatnya.

Hinata yang melihat ekspresi Sakura yang senang bukan main itu, menjadi sweatdrop karenanya.

"Hei Sakura, a- anu.. bentuk matamu berubah jadi love tuh, Sakura.. hei, Sakura.."

Sakura sama sekali tidak menghiraukan perkataan Hinata, dia sedang sibuk terpesona melihat Sasuke yang sedang menulis menggunakan pulpen darinya.

"Sakura.. Sakuraaaa.. bagaimana dengan apa yang baru saja kau katakan tentang laki-laki itu..."

Sontak Sakura segera memalingkan wajahnya ke arah Hinata, dan menata kembali rambutnya yang sempat ia acak-acak saking tak kuasanya ia melihat pesona yang dikeluarkan oleh Sasuke.

"Ehem!, jadi begitulah.. semua laki-laki itu sama saja, karena itu kau harus ekstra hati-hati menghadapinya..." sambung sakura dengan penuh wibawa sambil membetulkan posisi dasinya yang berantakan.

"Haaahhh" Hinata hanya menghela nafas panjang mendegar perkataan Sakura barusan. "Dasar Sakura.."

Tiba-tiba dari arah pintu terdengar sebuah teriakan yang penuh dengan semangat.

"Semuanya .. selamat pagiii!"

Rupa-rupanya itu adalah Naruto, entah mengapa hari ini dia datang dengan penuh semangat.

"Fufufufu, semalam aku sudah makan ramen, dan tadi pagi pun menu sarapanku juga ramen, jadi sekarang ini tubuhku penuh dengan ramen (err!) maksudku penuh dengan semangat, apapun yang terjadi hari ini aku pasti akan mengatakannya pada Hinata."

Dengan gayanya yang petantang-petenteng, ia melangkahkan kakinya masuk kedalam kelas, bak seorang komandan upacara ketika melangkah memasuki lapangan upacara, saat kedua matanya menerawangi seisi kelas, ia mendapati Hinata sedang asyik berbincang-bincang dengan Sakura.

"Hi- Hinata ..." ujarnya semangat. ^_^

Hinata menolehkan wajahnya, dan saat ia mengetahui bahwa itu adalah Naruto, Hinata langsung membuang wajahnya seolah tidak menganggap keberadaan Naruto disana.

"Hi- Hinata ..." ujarnya lesu. _

"Rupanya dia masih marah soal urusan kemarin, aku harus mengatakan padanya kalau itu semua hanyalah kesalah pahaman semata, juga aku harus mengatakan perasanku yang sesungguhnya pada Hinata.

Sambil cengangas-cengenges ngga jelas, Naruto mendekati Hinata guna memperjelas masalah yang terjadi diantara mereka, tentu saja bersama Kiba yang menjadi penyebab utama terjadinya masalah kali ini mengkuti di belakangnya.

Belum sampai ia ketempat Hinata, semangatnya yang makin lama makin menipis membuatnya menjadi ragu-ragu untuk melakukannya. Ia terlalu takut akan tatapan Hinata yang menatapnya dingin.

"Aduhh.." seru Naruto tiba-tiba sembari berlutut memegangi tulang kering kaki kanannya.

"Ada apa Naruto?" tanya Kiba.

"Sepertinya luka lamaku saat bertarung melawan monster dari abad ke 5 kembali kambuh.." balasnya sambil merintih.

"Ng!, bukankah itu luka saat kau digigit oleh Akamaru tempo hari, lagipula luka itu tidak terlalu dalam kan, jadi pasti sudah sembuh."

"Aku tidak bohong, rasanya sakit sekali..."

"Kau hanya merasa gugup, dengan sedikit keberanian kau pasti bisa melakukannya.."

"Tapi.. tapi.. tapi.."

"Sudahlah, ayo.." ujar Kiba sambil mengangkat kerah Naruto. (seperti mengangkat anak kucing yang sedang meringkuk bersalah setelah menumpahkan sebotol susu di atas sofa)

Kemudian Kiba meletakan Naruto (emangnya barang!) persis dihadapan Hinata.

DAG DIG DUG DAG DIG DUG

Jantung Naruto berdebar sangat kencang, ia masih ragu kalau ia bisa melakukannya. "Apakah aku bisa melakukannya..."

Naruto kembali menatap Kiba dengan pandangan kalah sebelum bertanding, tapi saat itu Kiba menepuk pundaknya dan mengangguk sambil mengacungkan ibu jarinya ke atas. (Nice Guy ^^)

Dari situlah ia mendapatkan keberanian, ia berbalik ke hadapan Hinata dengan semangat menggebu-gebu.

"Hinata!" ujarnya dengan lantang.

Hinata berbalik kehadapan Naruto, tatapannya kala itu benar-benar tajam dan sangat mendiskriminasikan, sehingga Naruto kembali ciut dibuatnya.

"A- a- anu.. aku.. itu.."

"Apa yang kulakukan.. kanapa aku malah gugup seperti ini.. padahal sudah sejauh ini.. aku tak boleh mundur ... aku pasti bisa.. aku pasti bisa melakukannya.."

Naruto membulatkan tekadnya, tapi ia masih tidak sanggup untuk melihat wajah Hinata, karena itu ia menundukan wajahnya.

"A- anu, Hinata, a- aku mau minta maaf soal yang kemarin, semua itu ha- hanya salah paham saja, kalau kau tidak percaya, kau boleh menanyakannya langsung pada Kiba, dialah yang menjadi penyebab semua kesalah pahaman ini, selain itu, yang ingin kukatakan kemarin, soal Hinata, sebenarnya..."

"Lho!, Hinata ... kau dimana ..."

Capek-capek Naruto bicara, ternyata saat itu Hinata sudah beranjak dari tempat duduknya, dan kini ia sedang berjalan untuk meninggalkan kelas.

Dengan tergesa-gesa Naruto melempar tas nya ke arah bangku tempat ia duduk, kemudian ia segera berlari mengejar Hinata.

"Hinata, tunggu aku, dengar dulu penjelasanku ..."

"Huh!" keluh Hinata.

"Sudah kubilang 'kan, itu hanyalah kesalah pahaman semata, aku sama sekali tidak bermaksud begitu.."

Tapi Hinata sama sekali tidak menggubrisnya, Hinata tetap berjalan dan mengacuhkan Naruto, ia menutup kedua matanya dan melipat kedua tangannya di dada, menandakan ketidakpeduliannya terhadap Naruto yang sedang berusaha membujuknya.

Akibatnya..

JDUGH

Karena Hinata menutup kedua matanya, ia jadi tidak dapat melihat apa yang berada di depannya saat itu, hal itu membuat wajahnya berbenturan dengan tiang penyangga gedung yang tepat berada persis didepannya dan membuatnya jatuh tersungkur.

"Itai ..." ujar Hinata sambil mengelus-elus keningnya yang memerah karena benturan tadi.

"pft.. pft.. ff..."

"BWAHAHAHA... HAHAHA... HAHAHA... GYAHAHAHAHA.. HAHAHAHA..."

Bukannya menolong, tapi Naruto malah menertawakan kejadian itu tanpa mempedulikan perasaan Hinata, ia terus tertawa sampai air matanya keluar, ia bahkan sampai berguling-guling di lantai sambil sesekali memukulnya dan menghentak-hentakkan kakinya.

Tentu saja Hinata yang malu sekaligus geram tak bisa tinggal diam melihat tingkah Naruto yang seperti itu, hal itu membuat kesabarannya habis.

PLAAKK

"Aduh.. sakiitt!, apa yang kau lakukan Hinata ..." gerutu Naruto kesakitan, tapi perasaan ingin tertawa masih tersirat di wajahnya.

"Huh," Hinata yang tambah kesal kembali pergi meninggalkan Naruto yang tengah kesakitan.

Setelah puas mengelus-elus pipinya yang kesakitan, Naruto kembali mengejar Hinata.

"Hinata .., tunggu aku .. aku sama sekali tidak bermaksud menertawakanmu.."

Saat itu Hinata sudah berada jauh didepan dan membuat Naruto kebingungan mencari kemana Hinata pergi, ia menoleh kesana kemari mencari sosok Hinata dan untungnya saat itu ia sempat melihat sekilas sosok Hinata tengah memasuki sebuah pintu.

"Di sana kau rupanya ..., Hinata ..."

Naruto segera berlari mengejar, saat tiba didepan pintu yang dimasuki Hinata, ia dengan tergesa-gesa membuka pintu itu tanpa pikir panjang.

BRAKK (suara pintu terbuka)

"Hinata, walaupun kau mecoba untuk menghindariku, tapi aku ..."

"Lho!."

Saat itu Naruto tak sanggup untuk melanjutkan kalimatnya, karena saat itu yang dia lihat adalah suatu hal yang amat sangat ingin ia lihat dalam hidupnya walau hanya sekali, tapi saat itu bukanlah kegembiraan yang tampak diraut wajah Naruto, melainkan perasaan gugup dan ketakutan seperti melihat sesosok hantu.

"A- anu ..., akuu... maaf.."

"Dasar mesuummmm," teriakan para gadis yang sedang asyik berganti pakaian menggema di seluruh penjuru sekolah pagi itu.

"Gyaaa ..." teriak Naruto.

Naruto berusaha untuk menyelamatkan dirinya, namun saat itu dewi keberuntungan sedang tidak berpihak padanya, jadilah ia bulan-bulanan oleh seluruh siswi yang berada disekitar TKP. Semua gadis ikut ambil bagian dalam 'pesta' kali itu, dan suasanapun semakin bertambah meriah kala pria-pria yang sedang Bad Mood tanpa pikir panjang ikut memukuli Naruto.

Untunglah saat itu Iruka-sensei sedang berkeliling, saat ia melihat ada sebuah keramaian dihadapannya, Iruka-sensei segera melerai dan menenangkan keramaian yang terjadi saat itu.

Setelah mendengar duduk persoalannya...

"Nah, sekarang kalian semua kembali ke kelas masing-masing, sebentar lagi pelajaran akan segera dimulai, urusan disini biar sensei yang menyelesaikannya," ujar Iruka-sensei penuh wibawa.

"Cih, sial padahal aku baru sempat memukulnya beberapa kali .." seru murid A.

"Kali ini kau selamat, lain kali ... akan kupastikan tidak ada lain kali ..." tambah murid B.

GLEKH ...

"Te- terima kasih Iruka-sensei, kau telah menyelamatkanku dari kematian ..."

"Huhh, lagi-lagi kau Naruto, apa sih yang kau pikirkan sampai kau membuka 'pintu terlarang' ini," ujar Iruka-sensei terheran-heran.

"Dengan begini, sudah tidak ada harapan lagi yang tersisa untukku.." ujar Naruto lesu.

"Hah!, apa maksudmu mengatakan hal seperti itu.." tanya Iruka sensei.

"Sebenarnya aku bermaksud untuk.."

"Narutooo ..." sebuah teriakan membuat Naruto menghentikan percakapannya.

Naruto menoleh ke asal suara tersebut, dan dia begitu terkejut begitu mengetahui siapa orang yang memanggilnya barusan, dia tidak pernah menyangka orang itu akan meneriakkan namanya lagi setelah apa yang terjadi.

"Hi- Hinata ..."

"Naruto .., apa yang terjadi ..., kenapa kau sampai terluka seperti itu ..." ujar Hinata khawatir.

"Hi- Hinata, anu.. bukankah tadi kau berada didalam ..." tanya Naruto penasaran.

"Kau bicara apa, aku baru saja kembali dari ruang guru, dan begitu melihatmu disini, aku langsung kemari ..." ujar Hinata.

"Eh! Ka- kalau begitu, yang tadi kulihat memasuki pintu ini ..."

"Mungkin kau salah lihat Naruto.." ujar Iruka-sensei.

"Saat itu aku memang agak terburu-buru sih..." jelas Naruto.

"Ma- maaf Naruto, kalau saja.. kalau saja aku mendengarkan apa yang ingin Naruto katakan, pasti hal seperti ini tidak akan terjadi, aku benar-benar menyesal .." ujar Hinata.

"Tidak, akulah yang seharusnya minta maaf karena telah menertawakanmu tadi, juga soal kejadian yang kemarin itu.."

"Tapi, tetap saja aku yang membuatmu seperti ini.."

"Tenang saja Hinata, ini bukan kesalahanmu kok, memang akunya saja yang sedang sial ..."

"Tapi, lukamu ..."

"Heh, luka seperti ini sih bukan masalah bagiku..." ujar Naruto sedikit sombong.

"Yah, tapi tetap saja kau harus pergi keruang kesehatan, lukamu itu harus segera dirawat," ujar Iruka-sensei.

"Ah, Iruka-sensei ini bicara apa, tadi 'kan sudah kubilang kalau aku tidak apa-apa, lihat aku bisa berdiri sendiri .." ujar Naruto sambil berusaha bangkit.

"Lihat, aku hebat 'kan ..." tambahnya.

Hinata tersenyum kecil menanggapi kelakuan Naruto yang seperti itu.

Namun karena luka yang dialami Naruto memang cukup berat, ia tak mampu untuk berdiri terlalu lama, matanya kembali terasa berputar-putar dan tubuhnya mulai kehilangan keseimbangan.

"Lho lho lho ..."

SREETTTT ... GUBRAKK...

Akibat kesombongannya sendiri, Naruto kembali terjatuh. Namun kali ini bukan hal itu yang menjadi persoalannya. Saat terjatuh tadi, Naruto berusaha untuk mencari sesuatu untuk berpegangan, tapi siapa yang menyangka kalau Naruto malah berpegangan pada rok Hinata, dan membuat rok itu melorot kebawah karena ulah Naruto.

JREEENGGG

Ekspresi mesum langsung terpampang pada raut wajah dua orang mesum disana, dan hal itu spontan membuat wajah Hinata memerah karena malu.

"KKYYYAAAAAA ..."

PPLLAAAKKK (lagi!)

Naruto kembali merasakan sebuah tamparan keras dipipnya, kemudian Hinata dengan segera menaikan roknya dan berlari pergi meninggalkan Naruto dengan perasaan malu sekaligus kesal.

"Hinata," teriak Naruto. "Tunggu dulu Hinata, ini (lagi-lagi)hanya kesalah pahaman, aku tidak sengaja melakukannya, itu hanyalah sebuah refleks, refleks ..."

"Pergi.. pergi sana.. aku tak mau melihat wajahmu lagi.." ujar Hinata sambil terus berlari.

"Tidak bisa, aku harus meluruskan kesalah pahaman ini.." teriak Naruto sambil berlari sempoyongan.

"Tidak, jangan dekati aku lagi…" teriak Hinata yang makin kesal pada Naruto.

"Tunggu Hinata.. Hinataa.. Hinataaa….."

To Be Contiuned…

Akhirnya, setelah sekian lama, inilah… Chapter 2. \\( ^o^)/ kampai\\(^o^ )/

Maafkan atas keterlambatannya yang amat sangat. ^_^;

Jangan marah ya sama Aoi^^ setelah ini Aoi akan berusaha lebih keras lagi.

Bagaimana menurut kalian tentang chapter 2 ini …

Tentang Sakura.. apa dia itu bodoh ya ^^, bilang kayak gitu ke Hinata, padahal sendirinya.. ketemu Sasuke langsung …. *getoked sama sakura Fc*

(fans Sakura jangan tersinggung yah, cuma bercanda kok^^)

Terus Naruto juga kelewatan, masa' orang kejedot diketawain ^^ (padahal Aoi juga begitu _)

Udah gitu, pake acara narik rok Hinata segala lagih, padahal suasananya udah bagus, tapi sekarang malah tambah runyem urusannya.

Jadi penasaran nih sama lanjutannya.. , (lho! O_o, Authornya situ 'kan, dasar bodoh!)

Kalo kalian juga penasaran, tungguin yah chapter yang berikutnya.

Oh iya, Aoi hampir lupa…

Terima Kasih ya sudah mau mampir dan membaca Fict yang membosankan ini, jangan kapok-kapok yah sama Fict buatan Aoi^^

Ditunggu lho refyunya.. ^_^

Sekali lagi Terima Kasih.

Salam Hangat ; Aojiru Biscuit Craker.