Naruto yang baru saja mendapat tamparan keras masih saja berlari mengejar Hinata, dengan tubuhnya yang sempoyongan (sehabis dipukuli murid-murid perempuan) ia terus mengejar Hinata yang masih dan bahkan bertambah kesal atas apa yang dilakukan Naruto padanya.

"Tunggu aku Hinataaa..."

You Take My Breath Away

Disclaimer:

Aoi : "Hey Kishimoto, kalau kau tidak menyerahkan Naruto padaku, maka nyawamu akan mela.. Jleb Jleb Jleb"

Kishimoto : "Memangnya kau pikir kau sedang berbicara dengan siapa, hah! Dasar bodoh!"

Aoi : "M- ma- maaf." ToT

Story line by Aojiru

Warning: AU, OOC

Part 3

Setelah bel masuk berbunyi, seluruh siswa kembali ketempat duduknya masing-masing dan bersiap untuk mengikuti pelajaran, tak terkecuali Naruto yang masih saja pusing memikirkan rencana minta maafnya pada Hinata yang kembali gagal di tengah jalan, setelah tanpa sengaja ia malah menarik turun rok Hinata. Dan tentu saja hal itu malah semakin memperkeruh suasana diantara mereka.

"Sigh.. padahal aku bermaksud untuk minta maaf, tapi kenapa semuanya malah tambah kacau seperti ini.." keluh Naruto sambil mengacak-ngacak rambut kuningnya.

Shikamaru yang melihat hal itu datang dan menghampirinya. "Yo Naruto, ada apa pagi-pagi begini sudah mengeluh seperti itu, jangan-jangan kau makan makanan basi lagi ya!" tanya Shikamaru.

"Ah, Shika ya," balas Naruto lesu.

"Ng! Ada apa? kenapa kau kurang semangat seperti itu, jadi kau benar-benar makan makanan basi lagi ya?" tanya Shikamaru lagi.

"Tidak kok, aku sudah berhenti makan makanan basi sejak kelas tujuh!, sekarang aku sedang kurang semangat biasa, nanti siang juga bakal semangat lagi.."

"Hm, begitu," ujar Shikamaru sambil manggut-manggut. "Baguslah.. sebab sepulang sekolah nanti kita akan melakukan latihan drama yang terakhir, mengingat festival sekolah yang sudah tinggal dua hari lagi, bisa gawat kan kalau kau tidak semangat seperti itu, kau dan Hinata 'kan pemeran utamanya, hehehe.."

Sontak wajah Naruto membatu dengan mulut ternganga lebar dan mata yang terbelalak dengan background hitam-putih dan garis-garis bayangan dibelakangnya setelah mendengar apa yang diucapkan oleh Shikamaru.

Shikamaru pun ikut terkejut melihat kondisi Naruto yang seperti itu.

"O- oi, ada apa Naruto, kenapa kau jadi membatu seperti itu... ja- jangan-jangan.. Medusa yang membuatmu jadi seperti ini.." ujar Shikamaru khawatit sambil mengguncang-guncangkan tubuh Naruto.

(Medusa: mahluk legenda yang berasal dari yunani kuno yang mana memiliki rambut berupa ular, konon kalau kita beradu pandang dengannya kita akan berubah menjadi batu. ^_^;)

BLETAK

"Aduh.." Sebuah jitakkan mendarat di rambut nanas Shikamaru.

"Bukan bodoh!" seru Naruto. "Aku ini sedang terkejut, apa kau tidak bisa melihatnya, lagi pula mana ada Medusa dijaman modern seperti sekarang ini," tambah Naruto yang kemudian kembali ke posisi terkejutnya.

"Syukurlah, kupikir Medusa," ucap Shikamaru lega. "Tapi.. kenapa kau tiba-tiba terkejut seperti itu?" tambahnya.

"Fuuhhh" Naruto menghela nafasnya panjang. Kemudian ia menceritakan kejadian yang terjadi antara dirinya dan Hinata. "Sebenarnya.. Hinata..."

.. . . . .

"APPAAA!" teriak Shikamaru terkejut setelah mengetahui kejadian yang sebenarnya.

Kini Naruto dan Shikamaru sama-sama berada dalam posisi terkejut dengan mulut menganga lebar dan mata yang membelalak keluar dengan background hitam-putih dan garis-garis bayangan di balik tubuh mereka.

Pintu kelas terbuka, dan masuklah Kakashi sensei yang akan mengajarkan pelajaran Matematika di jam pelajaran pertama pada pagi itu.

"Selamat pagi!" imbuh Kakashi.

Semua murid pun menjawab dengan serempak, "Selamat pagi!"

"Bagaimana? Apa semua sudah mengerjakan PRnya!" tanya Kakashi sensei.

"Sudah sensei.." tukas para murid kompak.

"Bagus!" ujar Kakashi tersenyum bangga. "Sebelum itu, bapak absen dulu ya... Ng!.."

" Lho! Naruto..! Shikamaru..! ada apa dengan kalian? Kenapa kalian membatu seperti itu..." tanyanya.

Sakura yang duduk tepat di depan meja guru mengacungkan tangannya keatas, kemudian ia menjawab pertanyaan Senseinya itu.

"Anu.. Sensei, mereka berdua sudah sejak tadi seperti itu, entah apa yang terjadi pada mereka.." terang Sakura.

"Hah!" Kakashi sensei menunjukan wajah terkejut. "Ja- ja- jangan-jangan.. Medusa yang..."

BLETAK

"Aduh..." sebuah kipas kertas mendarat keras di rambut jigrak Kakashi sensei.

"Tentu saja bukaaaan," terang Sakura dengan sedikit ketus. "Dasar, guru dan murid sama saja," umpatnya dalam hati.

"Fuh.. syukurlah, kupikir Medusa.. kalau begitu kita lanjutkan pelajarannya.." seru Kakashi.

"Eh! Jadi sensei tidak akan melakukan apa-apa terhadap mereka yang membatu seperrti itu? menolongnya misalnya, atau membawanya ke ruang kesehatan," ujar Sakura.

"Ah.. buat apa! biarkan saja mereka terus seperti itu, toh kalaupun mereka sehat kembali, mereka hanya akan mengacaukan pelajaranku saja seperti biasanya," ujar Kakashi sambil membayangkan berbagai macam kekacauan-kekacauan yang selalu ditimbulkan oleh Shika dan Naruto saat jam pelajarannya yang lalu-lalu.

"Ayo semuanya.. kita mulai pelajarannya!" ujar Kakashi sensei penuh semangat.

"Dasar guru gadungan.." sungut Sakura.

_-0-_

TENG TONG TENG TONG

Bel tanda istirahat pun berbunyi, semua murid nampak berlalu-lalang di sepanjang lorong kelas.

Kantin pun nampak ramai oleh para murid-murid yang kelaparan.

TRAKK (suara gelas yang diletakkan di atas meja)

"Baiklah.. karena terjadi keadaan yang tidak terduga yang kemungkinan dapat menghancurkan festival drama kita seperti ini, kita mulai saja 'konferensi meja bundar'nya dengan segera.." jelas Shikamaru sigap.

"Ng! konferensi meja bundar! Apa itu? rasanya pernah dengar deh?" celetuk Naruto.

"Oh! Jadi kau tidak tau ya Naruto?" tanya Kiba yang duduk di sebelahnya.

Naruto menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Konferensi meja bundar itu adalah pertemuan antara sekian banyak orang di dalam sebuah gedung yang ditengah-tengahnya terdapat sebuah meja berukuran besar yang bentuknya bundar.." terang Kiba dengan sok tau.

"Oh begitu! Tapi, kenapa mereka berkumpul di tempat seperti itu?" tanya Naruto lagi.

"Karena.. karena mereka semua ingin berdansa dan bernyanyi sampai pagi.. bukankah itu menyenangkan!" seru Kiba.

Naruto tersenyum lebar. "Iya.. sepertinya menyenangkan..."

Dan mereka berduapun tertawa dengan riang gembira.

Tentu saja hal itu membuat Shikamaru yang sejak tadi mendengarkan celotehan mereka berdua menjadi kesal karenanya, kebodohan kedua orang sahabatnya itu memang sudah tidak bisa dianggap remeh, sehingga membuat Shikamaru tak kuasa lagi untuk menahan emosinya.

"BUODDUOOHH!" teriak Shikamaru yang tentu saja membuat Naruto dan Kiba menutup rapat kedua telinganya..

"Konferensi meja bundar itu adalah pertemuan yang diadakan pemerintah Republik Indonesia dengan Belanda beberapa puluh tahun yang lalu," terang Shikamaru.

"Oh! Jadi mereka juga membahas mengenai perempuan?" tanya Naruto dengan bodohnya.

"Tentu saja tidak! Mereka itu... mereka itu... argh.. sudahlah, percuma menjelaskannya pada orang bodoh seperti kalian!"

"Huh, kau bilang begitu, padahal kau sendiri juga tidak tau 'kan!" ujar Naruto dengan pandangan merendahkan.

BRRAAAKKK

"Tentu saja aku tau," teriak Shikamaru sambil melabrak meja yang ada di depannya.

"Hohohoho...Shika marah ni ye.." ujar Kiba dengan nada menggoda.

"Iya.. Shika marah..." sahut Naruto mengiyakan.

Keduanya kemudian saling pandang, lalu mereka mulai berdiri dan menarikan tarian aneh sambil terus menyerukan kalimat 'Shika mara~h.. Shika mara~h..' tanpa mempedulikan orang-orang disekelilingnya, mungkin urat malu mereka berdua sudah sama-sama putus. Dan tentu saja hal itu membuat Shikamaru kesal.

"Grrr, kalian ini... sudahlah, kalau begitu aku pergi saja,.." bentak Shikamaru sambil berlalu pergi.

Naruto dan Kiba segera menghentikan tarian konyolnya itu.

"Eh! Tu- tunggu dulu Shikamaru... kami cuma bercanda kok, cuma bercanda.. iya kan Kiba?" ujar Naruto sambil gelendotan di lutut Shika dan memohon.

"Iya.. kami cuma bercanda.. jangan marah ya.." seru Kiba yang kini sedang berlutut di hadapan Shikamaru seperti seorang yang sedang berdoa di kuil.

Shikamaru mengacuhkan pandangannya dan melipat kedua tangannya di dada sambil mendesigh. "Huhh!"

"Ka- kalau begitu kami akan mentraktirmu puding coklat.." tukas Naruto.

Shikamaru melirikkan matanya, sepertinya dia mengerti apa yang dimaksud oleh Naruto. Dan seperti yang sama-sama kita ketahui, Shikamaru memiliki otak yang hebat, dan dia pun memanfaatkan keadaan itu dengan baik.

"Sebenarnya aku suka puding coklat, tapi aku juga ingin minum Vanilla juice, bagaimana ini..." sela Shikamaru.

"Baiklah, kami akan mentraktirmu puding coklat dan vanilla juice, bagaimana?" ujar Kiba menambahkan.

"Hmph.. DEAL" seru Shikamaru dengan senyuman penuh kemenangan.

_-0-_

Walaupun mereka menamainya 'konferensi meja bundar', tapi sebenarnya mereka duduk bersama di hadapan meja yang bentuknya persegi.

"Baiklah, segera kita mulai saja, inilah yang kusebut dengan 'Rencana untuk memperbaiki hubungan Naruto dan Hinata setelah kesalahpahaman yang terjadi diantara mereka akibat ulah Kiba yang seenaknya sekaligus meluruskan masalah yang terjadi setelah percobaan minta maaf Naruto yang pertama berakhir dengan kegagalan dan malah membuat keadaan menjadi semakin bertambah rumit lalu setelah itu membuat tim drama kita kembali adem ayem seperti sedia kala'."

"Fuhh, bagaimana.. keren 'kan, hahahahaa.." ujar Shikamaru dengan penuh semangat plus tertawa ala devilnya.

. . . . .

"Judulnya norak, kepanjangan..." bisik Naruto sweetdrop.

"Iya.. mana jelek lagi," sahut Kiba(juga dengan berbisik) sweetdrop.

. . . . . .

Setelah puas dengan tawa Devilnya, Shikamaru pun segera membisikkan isi rencananya pada Naruto dan Kiba...

"Jadi begini rencananya... Psstt... ppsstt... ppsssttt.."

_-0-_

Tanpa menunggu lama lagi, dimulailah rencana itu..

Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, Kiba memakai mantel panjang dan kaca mata hitam serta topi yang entah dia dapat dari mana itu, lalu ia segera bergerak mendekati Hinata yang sedang berjalan sendirian di taman sekolah, sementara Naruto duduk bersembunyi diantara semak-semak sambil menunggu aba-aba gilirannya untuk tampil.

Kiba berjalan dengan tegap mendekati Hinata, walaupun ia sendiri merasa sedikit gugup karena harus melakoni peran yang sama sekali tak pernah terpikirkan olehnya itu. Dalam benaknya, ia kembali mengingat apa yang di katakan oleh Shikamaru saat di kantin tadi...

"Begini rencananya... Kiba akan berpura-pura menjadi seorang perampok dan mencegat Hinata, lalu kau akan menodongkan senjata(mainan)mu pada Hinata dan meminta uang padanya, setelah itu Hinata yang ketakutan pasti akan berteriak meminta tolong, dan disaat Hinata sedang ketakutan itulah Naruto datang dan menghentikan Kiba serta memukulnya jatuh, tentu saja itu juga hanya pura-pura, setelah Kiba melarikan diri, Hinata pasti akan terpesona oleh kehebatan Naruto dan bertekuk lutut dihadapannya, dengan begini semuanya akan kembali beres seperti semula..."

Kiba memantapkan hatinya dan melangkah kehadapan Hinata dengan lugas.

DRRAAPP

Sebuah hentakan kaki yang keras membuat Hinata menghentikan langkahnya, ia menatap sosok aneh yang berdiri di hadapannya itu. Lalu sosok itu berkata dengan sedikit lantang kepadanya.

"Serahkan uangmu, Hyuuga," bentak Kiba sambil menodongkan senjata(mainan)nya ke arah Hinata.

. . . . . .

"Berapa!" tanya Hinata.

"Eehh! Ng.. itu.. ng.. anu.. se- se- sepuluh ribu.."

Hinata lalu merogoh koceknya.

"Nih!" ujar Hinata sambil menyodorkan uang dua puluh ribuan. "Karena tidak ada uang sepuluh ribuan, jadi kukasih dua puluh ribu saja ya, bagaimana.."

"Du- du- dua.. pu.. luh ri-bu.." ujar Kiba kaget.

"Ng! Memangnya kenapa kalau dua puluh ribu.."

"A- anu.. a- aku tidak punya ke- kembaliannya.." ujar Kiba.

Hinata tersenyum kecil mendengar ucapan orang yang ada dihadapannya itu, "Tidak apa-apa kok, kau boleh membawa semuanya."

"Se- se- se- semuanya.." ujar Kiba terbata-bata.

"Iya, kenapa lagi..." tanya Hinata lagi.

"Tidak.. pa- padahal.. ibuku saja tak pernah memberiku uang sebanyak itu... a- aku.." ujar Kiba dengan sedikit terharu.

Hinata kembali tersenyum. "Berarti ini adalah uang dua puluh ribu pertamamu ya." Tanyanya lagi.

Kiba menganggukkan kepalanya. "Hnn"

"Kalau begitu ambillah, kau boleh membeli apapun yang kau suka dengan uang ini.."

"Su- sungguh.."

"Hmm" balas Hinata mengangukkan kepalanya sambil tersenyum.

Sontak hal itu membuat kedua mata Kiba berkaca-kaca karena merasa terharu, ia mengusap kedua matanya dan menatap uang dua puluh ribu di tangannya yang terlihat berkilau bak permata yang indah, lalu ia mengangkat uang itu tinggi-tinggi dengan perasaan haru.

"Dua puluh ribu pertamaku.." Batin Kiba berucap.

Setelah itu Kiba berlari pergi meninggalkan Hinata sambil melambai-lambaikan uang dua puluh ribuannya dan pergi menuju kantin. Tak lupa ia meneriakkan kata terima kasih pada Hinata yang hanya tersenyum menatap kepergiannya.

Shikamaru yang melihat hal itu dari kejauhan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya saja setelah rencananya yang sempurna berhasil digagalkan oleh karena kebodohan rekannya sendiri. "Dasar bodoh!"

Sementara itu, Naruto...

"Lama sekali sih, katanya mau kasih tanda..." ujarnya sambil terus menunggu aba-aba untuk kemunculannya.

_-0-_

TRAKK *(lagi!) suara gelas yang diletakkan di atas meja*

"Tak kusangka.. rencanaku yang sudah begitu sempurna bisa gagal dengan cara yang amat memalukan seperti ini .." ujar Shikamaru sedikit depresi.

Kiba hanya tertunduk lesu mendengar pernyataan rekannya itu. "Ma- maaf.."

"Aku benar-benar tidak habis pikir.. bisa-bisanya kau terlena hanya karena uang dua puluh ribu itu.." ujar Shika lagi.

Dan lagi-lagi Kiba hanya bisa tertunduk dan berkata maaf saja.

"Dan satu hal lagi yang menjadi pikiranku.." ujar Shikamaru, kemudian ia menghentikan kalimatnya sejenak.

Lalu jari telunjuknya mengarah dengan mantap ke arah Naruto yang sedang duduk di sebelahnya. "Kenapa kau tiba-tiba gemuk seperti itu, Naruto..." bentaknya.

Kiba ikut meramaikan suasana dengan teriakkannya. "Iya.. ditambah lagi warnamu merah.." ujarnya penuh emosi, padahal beberapa detik yang lalu ia masih mengkerut seperti maling ayam yang tertangkap basah.

Kiba terus saja membombardir Naruto dengan umpatan-umpatan kasar yang keluar dari mulutnya. "Dasar tiran, pengecut.. bajingan.. kau pikir rencana hebat ini gagal karena ulah siapa.. dasar bodoh.. breng-.."

"Bicara lagi atau kubunuh kau.." potong Naruto dengan mengeluarkan aura membunuh yang besar.

"I- iya.. maafkan aku..." ujar Kiba dengan senyuman melas diwajahnya.

Naruto kembali berjuar. "Memangnya aku jadi begini gara-gara siapa.. Karena terus-terusan berdiam diri di semak-semak sambil menunggu 'tanda' yang tak kunjung muncul itu, tubuhku di hinggapi sekian banyak nyamuk yang tak terhitung jumlahnya, saking groginya aku jadi tidak menyadari keberadaan nyamuk-nyamuk yang terus menghisap darahku itu dan membuatku jadi seperti ini, jadi salah siapa coba..." ujarnya.

"Sudah-sudah.." lerai Kiba. "Siapapun yang salah.. aku sudah memaafkannya kok."

BBLLEETTAAKK

"Ini salahmu bodoh..." ujar Shika dan Naruto berbarengan sambil menjitak kepala Kiba.

Kiba hanya membalasnya dengan tertawa sambil mengusap-usap kepalanya yang benjol. "Tehehehe..."

"Sudahlah.. tak ada gunanya kita membahas masalah yang sudah lalu.. lebih baik segera kita susun rencana yang berikutnya," sanggah Shikamaru.

"Apa kau punya rencana lain, Shikamaru.." tanya Naruto.

"Iya.. kami hanya bisa mengandalkanmu dalam hal ini..." tambah Kiba.

"Ternyata kalian berdua memang tidak bisa diandalkan ya.." ujar Shikamaru, kemudian ia terdiam sambil memejamkan kedua matanya dan berpikir.

Dan tak lama kemudian..

"Hmm.. aku punya ide.. bagaimana kalau kau mengancamnya bahwa kau akan lompat dari atap sekolah kalau dia tidak mau memaafkanmu.." terang Shikamaru.

"Sepertinya bagus juga tuh.." sambung Kiba mengiyakan.

Naruto menopangkan dagunya sambil berkeluh. "Hmphh.. bagaimana kalau dia masih tidak mau memaafkanku.."

"Ya kau tinggal melompat saja.. gampang 'kan!" balas Kiba.

"Sembarangan! Kalau jatuh dari ketinggian seperti itu, siapapun tak akan selamat tau.."

"Tenang saja.. kami akan menangkapmu saat kau jatuh nanti.." terang Kiba dan terlihat Shikamaru menganggukkan kepalanya.

"Apa kalian yakin bisa melakukannya.." tanya Naruto

"Yah.. paling kalau kami gagal menangkap.. otakmu hanya akan berceceran di tanah.. kalau kau pasti akan baik-baik saja.. lagipula otakmu itu jarang di pakai 'kan, jadi kurasa kau tidak terlalu memerlukannya..." ujar Shikamaru santai.

"Brengsek! Kalau begitu lebih baik tidak.." kesal Naruto.

"Memangnya kau punya cara lain lagi.." seru Kiba.

"Walaupun cara itu berhasil, tapi kalau aku harus membayarnya dengan kehilangan nyawa, berarti sama saja bohong.." terang Naruto.

"Hey, berkonbanlah sedikit.. ini menyangkut nama baik kelas kita.." seru Shikamaru.

"Tapi ini menyangkut nyawaku... aku masih belum mau mati.. aku masih terlalu muda.." ujar Naruto.

"Sudah kubilang tenang saja.. kau tidak akan mati kok, paling-paling hanya otakmu saja yang berceceran.." tambah Kiba.

"Itu sama saja, bodohhh.."

"Apa! seenaknya saja kau mengataiku bodoh.. walaupun aku ini bodoh, tapi aku tak akan mengizinkan orang lain yang juga sama bodohnya denganku memanggilku bodoh, dasar bodoh..." teriak Kiba.

"Apa kau bilang.."

"Sudahlah, sesama orang bodoh jangan saling membodoh-bodohi.." seru Shikamaru.

"Diam kau, bodoh.." seru Kiba dan Naruto berbarengan.

Shikamaru terkejut, "Ap- apa.. kalian bilang aku.. bo- bodoh.."

Tanpa banyak kata lagi, Shikamaru pun terjerumus untuk ikut membodoh-bodohi rekan-rekan bodohnya itu.

"Berani-beraninya kalian menyebutku bodoh.."

"Bodoh tetap saja bodoh..."

"Kau juga bodoh, bodoh.."

"Bodoh kau, berani sekali kau menyebutku bodoh.."

Dan perang bodoh pun dimulai..

"Graaa.. gyyaaa... graoooo..."

"Bla.. bla.. bla.. bla.. bla.. bla..."

"Ba.. bi.. bu.. be.. bo.."

Dan tiba-tiba saja..

TENG TONG TENG TONG

Bel tanda masuk berbunyi, menandakan berakhirnya jam istirahat hari itu.

Sontak Naruto-lah yang paling terkejut dengan hal itu. dia tiba-tiba saja berdiri dengan kedua tangan menjambak pada rambutnya.

"Celakaaa... gagal sudah rencana minta maafku.."

"Ka- kalau begini, dia pasti akan membenciku, dia pasti akan membenciku selama-lamanya.."

"Hei-hei, tenanglah.. tidak sampai seperti itu 'kan.." ujar Shikamaru mencoba menyemangati temannya itu.

"Tidak, itu sudah pasti.. sekarang Hinata pasti sedang sangat membenciku.."

"Sudah kubilang tidak akan," tambah Shikamaru mencoba meyakinkan. "Lagipula kenapa kau begitu begitu yakin kalau Hinata akan membencimu.."

"Sasuke yang bilang, katanya kalau aku belum minta maaf sebelum jam istirahat berakhir, dia pasti akan membenciku selamanya, lalu setelah itu aku harus terus menerus tinggal didalam kandang anjing selamanya..."

"Dasar kau ini.. apa kau tidak sadar kalau kau itu sedang dibodohi.. saat ini Sasuke pasti sedang tertawa senang karena berhasil menipumu.."

Kiba tertawa mendengar hal itu. "Hahahaha.. kau memang benar-benar bodoh Naruto..."

"Diam kau.. kau sendiri juga kan, bukankah waktu itu kau terus-terusan memakai celana dalam perempuan selama seminggu setelah Sasuke meyakinkanmu bahwa itu adalah cara terbaik agar tidak tinggal kelas..."

Kiba terkejut mendengar hal itu. "I- itu.."

"Sudah-sudah, lebih baik kita segera masuk kelas, pelajaran berikutnya adalah pelajarannya Ibiki sensei kan, bisa gawat kalau terlambat." Seru Shikamaru.

Dan begitulah, mereka bertiga pun kembali masuk ke dalam kelas, akhirnya rencana mereka untuk memperbaiki hubungan antara Naruto dan Hinata gagal, namun bukan berarti mereka menyerah sampai disitu, selama pelajaran Ibiki sensei, mereka terus saja melancarkan aksi untuk membantu Naruto menyelesaikan masalahmnya dengan Hinata, namun apa daya, usaha mereka selalu diketahui oleh Ibiki sensei dan malah membuat mereka bertiga dihukum.

Dan pelajaran berikutnya pun tidak jauh berbeda, mereka masih juga terus berusaha, namun Anko sensei (yang mengajar saat itu) juga bukanlah orang yang bodoh, tindak-tanduk mereka selalu gagal ditengah jalan karenanya. Bahkan sampai jam pelajaran hari itu usai, Naruto masih belum juga bisa mengucapkan kata maaf pada Hinata.

Seperti yang dijanjikan, sepulang sekolah kelas mereka akan mengadakan latihan yang terakhir karena dua hari lagi festival sekolah sudah dimulai.

Namun tidak seperti yang mereka harapkan, latihan drama terakhir kala itu benar-benar berakhir dengan mengecewakan, siapa lagi kalau bukan karena pemeran pangeran dan sang putri yang diperankan oleh Naruto dan Hinata. Selama latihan, tak sekalipun Hinata mau disentuh oleh Naruto, bahkan menatapnya pun tidak, setiap kali Naruto mengucapkan dialognya, Hinata hanya mendesih sambil memalingkan wajahnya, dan tentu saja Naruto kuwalahan menanggapi hal itu.

"Cut.." seru Shikamaru.

Suasana ruangan pun nampak begitu tak bersemangat, setiap pemain yang mendapat peran dalam drama itu seolah ikut terkena imbas oleh kesalahpahaman sang NaruHina tersebut, menjadikan suasana latihan kian bertambah buruk.

"Fuhhh.." keluh Shikamaru untuk yang kesekian kalinya.

"Oke, dengan ini, kita akhiri latihan terakhir kita, walaupun memang hasilnya tidak seperti yang kita harapkan..." ujar Shikamaru sambil melirik pada NaruHina yang ada disana.

Naruto hanya bisa merespon dengan menundukan wajahnya saja, sementara Hinata masih saja bersikap acuh terhadap Naruto.

"Besok adalah waktu terakhir kita, karena itu hafalkanlah bagi kalian yang masih belum bisa menghafal dialognya dengan benar.. dan selanjutnya kita serahkan semuanya pada langit.."

Suasana hening tercipta selama beberapa saat.

"Ingat, hanya tinggal dua hari lagi sampai festival sekolah diadakan, gunakanlah waktu yang tersisa ini untuk menyiapkan mental kalian.. karena sekarang kita sudah kelas tiga, berarti ini adalah festival terakhir kita disekolah ini, aku ingin semuanya berjalan dengan lancar, dan dengan begitu kita bisa membuat kenangan yang indah untuk diingat saat kita meninggalkan sekolah ini nanti.." ujar Shikamaru.

"Dan karena itu.. Mohon bantuannya..." kemudian ia membungkukkan badanya dihadapan seluruh teman sekelas.

Seluruh kelas pun membalas dengan membungkukkan badannya dan berkata serentak. "Mohon bantuannya..."

_-0-_

Seluruh murid kemudian pergi meninggalkan ruang aula setelah mendapat tanda dari Shikamaru, tinggallah disana Shikamaru bersama Kiba dan Naruto.

Naruto berjalan perlahan mendekati Shikamaru, disusul dengan Kiba di belakangnya.

"Maaf ya Shikamaru, padahal sampai latihan kemarin semuanya berjalan dengan lancar..." ujar Naruto.

"Iya.. gara-gara kami, semuanya malah jadi berantakan seperti ini..." sambung Kiba.

Kemudian Shikamaru menatapkan ajahnya pada kedua sahabatnya itu. "Kalian ini kenapa sih.. kenapa malah jadi melankolis seperti itu.. bersemangatlah.."

"Ta- tapi kan..."

"Sudahlah, tidak apa-apa.. ini 'kan hanya festival biasa, walaupun aku memang ingin mengakhirinya dengan sesuatu yang bagus, tapi kalau tidak bisa... ya apa boleh buat 'kan.. tidak masalah bagiku.." tambah Shikamaru penuh wibawa.

Namun kata-kata itu masih tak mampu untuk menyemangati kedua sahabatnya yang tengah dirundung rasa bersalah itu.

"Hei.. bagaimana kalau setelah ini kita pergi ke kedai Ichiraku, kita makan ramen.. bagaimana.." tanya Shika.

Naruto dan Kiba hanya mengangguk.

"Kalian yang bayar ya..." tambah Shikamaru.

"Ehh.. mana mungkin, uaangku sudah habis saat istirahat tadi..." jelas Naruto.

"Bagaimana denganmu Kiba.. kau masih menyimpan uang 'dua puluh ribu itu' 'kan..." tanya Shika.

"GLUPP.." Kiba hanya bisa menelan ludahnya memgingat uang 'dua puluh ribu'nya berada dalam bahaya.

"Kalau begitu Kiba yang traktir.." ujar Naruto senang.

"Ta- tapi lain kali gantian ya.." balas Kiba.

"Hehehe.. tenang saja..." ujar Shikamaru meyakinkan.

"Huh.. aku tidak bisa mempercayai senyuman itu.." tambah Kiba.

". . . . apa maksudmu..."

"Ah, tidak... lupakan saja.."

"Kalau begitu ayo kita segera berangkat.. Go Ichiraku.."

_-0-_

HIV

(ehm!)

Maksudnya TBC...

A.N

Hallo semuanya..^^ *digetok so akrab*

Maaf lama menunggu.. ini pesanannya.. chapter 3... yei \(^o^)/

Terima kasih sudah baca, dan kalau sudah dibaca mohon di refyu.. (kata orang kalo udah baca tapi ngga di refyu bisa kualat lho.._..)

Engga kok, kalo ngga mau juga gapapa.. paling Aoi cuma nangis gara-gara sepi pe-refyu, huhuhuu

Sekali lagi terima kasih.. silahkan dinantikan chapter berikutnya..

(berbisik) Ditunggu lho refyunya.. pst psstt psstt

Kalau begitu Aoi pamit dulu. Mau ke pasar beli cabe, daagh.

Salam hangat selalu.

Aojiru n S

Selingan..

Hinata: Oi Kiba, kapan kau akan mengembalikan uang dua puluh ribu-ku itu?

Kiba: Eeehhhhhh..!