Latihan drama terakhir kali itu berakhir dengan kurang memuaskan, siapa lagi kalau bukan karena pasangan NaruHina yang berperan sebagai pangeran dan putri dalam drama yang akan di pentaskan kelas mereka saat festival sekolah nanti, dikarenakan hubungan mereka yang belum juga membaik sejak saat itu.
Dan kini bukan hanya hubungannya dengan Hinata saja yang berada dalam bahaya, tapi juga drama pertunjukan yang akan dipentaskan di festival nanti terancam berakhir dengan kegagalan.
Naruto akhirnya sadar, bukanlah Kiba dan bukan pula Shikamaru, melainkan hanya dirinyalah yang dapat menyelamatkan dunia ini (ehm!) maksudnya pementasan drama ini. dan sekarang dia harus berjuang sendirian sampai tetes darah penghabisan.
Mampukah Naruto menyatakan perasaannya pada Hinata? Dan apakah pementasan drama ini dapat berakhir seperti yang diharapkan?
Mari kita saksikan bersama-sama..
Berjuanglah... Naruto.
JREENG.. JRREENNGG.. JRREEENNNGGG...
(Author: kayak film Action ajah .)
.
.
.
You Take My Breath Away
.
.
.
Disclaimer:
Aoi: Iya deh, nyerah... Naruto emang milik mas Masashi Kishimoto.
Kishimoto: Eh! Padahal baru mau ta' kasih ke Aoi, ya udah kalau ngga mau.
Aoi: Ha! Yang bener! Kalau gitu sini deh, Aoi mau..
Kishimoto: Yee! Emang enak gue bo'ongin..
Aoi: \(ToT)/ Jahaaatt...
Warning: AU, OOC etc.
Story Line: Aojiru
Part 4
.
Sudah dua hari berlalu sejak latihan terakhir hari itu, berarti sekarang adalah saatnya untuk festival sekolah seperti yang ditunggu-tunggu. Sehari sebelumnya, para siswa dan siswi dari kelas Naruto yang tidak ikut berperan dalam drama, bekerja mati-matian untuk membuatkan panggung di raung aula, padahal kalau dipikir-pikir semua itu tidak akan bisa selesai hanya dalam waktu satu hari, karena itu banyak cerita yang beredar bahwa mereka membangun panggung itu dengan meminta bantuan dari para mahluk halus (emangnya Candi Prambanan _), tapi tidak ada yang mempercayai hal itu (ya iya lah!) mereka hanya berpikir bahwa itu adalah hasil dari jerih payah yang didapat setelah bekerja keras seharian penuh.
Pukul 7.55 am, masih tersisa lima menit sampai peresmian pembukaan festival tersebut, seluruh murid sekolah nampak begitu antusias menyambut festival sekolah kali ini, apa lagi festival sekolah ini tidak hanya terbatas oleh para murid saja, melainkan pengunjung yang datang dari luar sekolahpun diperbolehkan untuk ikut masuk dan berpartisipasi didalamnya, jadi para murid harus berjuang mati-matian untuk menarik pengunjung sebanyak-banyaknya demi meraup keuntungan yang besar.
Lima menit yang tersisa itu pun berlalu dengan begitu cepat, ditandai dengan dibukanya gerbang sekolah dan beberapa letusan rentetan kembang api yang walaupun diledakkan saat pagi hari namun keindahannya masih dapat tersampaikan dengan baik.
DUARR.. DUARR.. DUARR..
Sesaat setelah itu, para pengunjung yang memang sejak tadi sudah menunggu di pintu gerbang langsung masuk kedalam dan berhamburan ke segala penjuru sekolah, jumlahnya bisa dibilang cukup besar untuk festival yang baru saja dibuka, tapi itu bukanlah hal yang mengejutkan, karena festival sekolah ini memang sudah menjadi ajang yang ditunggu-tunggu setiap tahunnya, bukan hanya oleh para murid melainkan juga oleh warga yang tinggal disekitar lingkungan tersebut.
Terciptalah suasana riuh yang dihasilkan oleh teriakan para murid yang menjajakan standnya masing-masing, mereka saling beradu dan menunjukan daya tarik masing-masing stand yang tentunya memiliki ciri khasnya tersendiri, mulai dari yang menjajakan makanan, games-games berhadiah, ramalan bintang, kedai teh, pertunjukan drama, horor house dan lain sebagainya.
_-0-_
WAA.. WAA.. WAA..
"Huh, berisik sekali sih..." ujar Naruto sambil menutup telinganya, mencoba untuk meminimalisir kebisingan yang memang hampir memenuhi setiap sudut sekolah.
"Yah, mau bagaimana lagi.. yang namanya festival memang seperti ini 'kan.." utas Kiba.
"Iya.. tapi aku jadi tak bisa konsentrasi nih.. bagaimana kalau aku gagal menghafal dialognya dengan benar.."
"Tenang saja, masih ada waktu dua jam lagi kok sampai pementasan.. cukup untuk menghafal dialog yang hanya tinggal setengah halaman itu 'kan.."
"Entahlah.." jawab Naruto dengan agak malas.
"Lho.. kenapa kau malah lesu seperti itu..." tanya Kiba dengan nada khawatir.
Naruto menghela nafasnya. "Kau tau 'kan seperti apa hasil latihan terakhir yang kemarin lusa itu.."
Kiba memutar otaknya dan kembali mengingat kejadian dua hari lalu yang masih terekam jelas dalam ingatannya itu.
"Iya aku tau.. tapi kalau kau terus seperti ini.. semuanya malah akan bertambah buruk.. bersemangatlah..." ujar Kiba pada sahabatnya itu.
"Ya, aku tau.. aku akan berusaha.." balas Naruto.
Kiba hanya menatap Naruto yang masih saja terlihat enggan itu, kemudian ia berinisiatif untuk memperbaiki mood rekannya yang sedang buruk itu. "Hey, bagaimana kalau kita menemui Shikamaru.."
Naruto diam, sepertinya dia nampak ragu-ragu untuk menjawab 'iya', walaupun raut wajahnya berkata demikian. Kiba yang berhasil menangkap gelagat itu langsung melesat memimpin jalan dan berhasil membuat Naruto mengikutinya. Mereka berdua langsung menuju tempat yang mereka yakini Shikamaru berada disana, yaitu panggung pementasan tempat mereka akan melangsungkan pertunjukan drama.
_-0-_
TOK TOK TOK
"Shikamaru!" seru Kiba. "Oi, Shikamaru!" tambahnya sambil terus mengetuk daun pintu yang tak kunjung dibuka.
"Shikamaru.. apa kau ada didalam?" seru Naruto.
"Tidak, aku ada diluar.." ujar Shikamaru yang ternyata sudah berada di baling punggung Naruto dan Kiba.
"Oh! Mengagetkan saja kau Shikamaru.. kami mencarimu lho.." ujar Kiba.
"Justru aku yang mencari-cari kalian.. cepatlah bergegas ke ruang make-up, kalian pikir ini sudah jam berapa.. tinggal beberapa jam lagi kita akan tampil.." balas Shikamaru.
"Eh! Memangnya semuanya sudah berkumpul?" tanya Kiba.
"Tentu saja, sudah dari tadi tau.." balas Shikamaru
"Kalau begitu aku akan segera ke ruang Make-up.. ayo Naruto," ajak Kiba sambil berlalu pergi, secepat kilat tubuhnya kini sudah menghilang di balik pintu.
Tinggallah Shika dan Naruto, keduanya hanya diam saling pandang sampai akhirnya Shika memulai percakapannya.
"Naruto.. bagaimana!" tanya Shika.
Naruto terdiam sesaat sampai akhirnya ia menjawab singkat. "Entahlah.."
Shikamaru tersenyum kecil, ia menepuk pundak Naruto dan berkata. "Tenang saja.. cukup lakukan yang kau bisa.."
"Hmm" balas Naruto yang kemudian berlalu pergi ke ruang Make-up meninggalkan Shikamaru sendirian.
Shikamaru terus menatap Naruto sampai tubuhnya menghilang di sudut kanan lorong kelas. Setelah itu ia melepas wajah tersenyumnya dan menghela napasnya panjang. "Berjuanglah Naruto.."
Naruto terus berjalan sampai sebuah papan bertuliskan 'Ruang Make-up' menghentikan langkahnya. Kemudian ia membuka pintu itu dan melangkah masuk, sesaat kemudian...
BLETTAKK
"Aduh, apa-apaan sih!" ujar Naruto sambil memegangi kepalanya yang terasa sedikit sakit.
"Kemana saja sih.. kenapa baru muncul sekarang.." bentak Ino sambil memegang peralatan Make-up di kedua tangannya.
"Ma- maaf.. tadi aku tersesat dijalan..." pungkir Naruto.
"Alasan bodoh, memangnya kau pikir aku akan percaya dengan tipuan murahan seperti itu.." balas Ino dengan sedikit kesal.
"Kalau begitu, akan kukasih tipuan yang mahal deh, bagaimana?" goda Naruto.
"Grr.. kau ini ya.."
Tiba-tiba Kiba muncul disebelahnya. "Sudahlah Ino.. kalau tidak cepat kita bisa terlambat nih.. tidak ada waktu lagi 'kan.."
Ino melirik pada jam tangan di pergelangan kirinya, "Ya sudah.. kalau begitu kau duduk dulu disana," ujar Ino sambil menunjuk sebuah bangku yang dihadapannya terdapat sebuah cermin yang cukup besar, lengkap dengan alat Make-up yang tertata rapih disebelahnya. "Begitu selesai dengan Sasuke, aku akan segera mengurusmu," tambahnya.
Mata Naruto langsung tertuju pada Sasuke yang sedang duduk di kursi yang mirip dengan yang Ino tunjuk sebelumnya, ia mengenakan pakaian ala Eropa abad pertengahan, dengan dasi krem bergelombang yang juga terdapat pada ujung lengan di kedua pergelangan tangannya, ditambah dengan kumis(buatan) tipis ala Muttonchop1) berwarna cokelat, agar terlihat serasi dengan rambut palsunya yang juga berwarna sama.
Sontak Naruto menutup mulutnya rapat, mencoba untuk menahan tawanya melihat sosok Sasuke yang menurutnya terlihat sangat lucu, apa lagi dengan celana berbahan Suede2)yang melekat kuat di kulit pahanya.
Namun sedikit desiran tawanya yang tak dapat ia tahan mengalir keluar melalui sela-sela di bibirnya. "Pfft.. pfft.. pfft.."
Sasuke membalikkan wajahnya ke arah Naruto. "Hey, apa yang kau tertawakan Dobe!" ujarnya dengan mata yang meruncing tajam.
Naruto segera menutup mulutnya rapat dengan kedua tangannya, "Oopps." kemudian ia menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sasuke kembali membalikan wajahnya ke hadapan cermin, nampak semburat merah tipis merona di kedua pipinya, sepertinya ia juga tau kalau dandanannya itu memang terlihat sedikit aneh.
"Tenang saja Sasuke, ini masih belum selesai," ujar Ino seolah ia tau kalau Sasuke merasa tidak puas dengan hasil karyanya. "Nanti kalau sudah selesai, hasilnya pasti akan sangat memuaskan, ya," tambahnya mencoba menghibur Sasuke.
Sasuke hanya mendengus, sebenarnya ia pun enggan untuk ikut serta dalam drama ini, dia lebih memilih untuk sekedar menjadi penonton saja. Namun apa daya, seluruh kelas memaksanya untuk ikut dan membuatnya mau tak mau harus menerima 'tuntutan' dari teman-teman sekelasnya itu.
Naruto pun kemudian duduk manis di kursi yang telah ditentukan oleh Ino.
_-0-_
Satu jam kemudian...
"TARRAAA..." ujar Ino penuh semangat. "Bagaimana.. kalian suka 'kan?" tambahnya lagi.
Sasuke menatap ke cermin, tapi kemudian ia membalikan wajahnya ke arah lain dengan sedikit dengusan kecil dari mulutnya, namun sedikit senyuman yang tersungging dibibirrnya sudah cukup untuk membuktikan bahwa ia merasa puas dengan hal itu.
Sementara Naruto tengah bergolak-golek di depan cermin sambil memperhatikan dandanannya yang memang tak jauh berbeda dengan Sasuke, lalu ia mendekatkan wajahnya ke cermin itu dan menatapnya dalam, sesekali ia mengusap dagunya dengan bagian dalam telunjuknya sambil mengangguk-anggukan kepalanya. "Hm Hm.."
"Yah, cukup lumayan untuk seorang pentata rias kelas teri macam kau ini.." ujar Naruto.
BLETAK
"Aduh..." pekik Naruto.
"Dasar tidak sopan!" bentak Ino. "Kau juga kenapa malah mendengus seperti itu, padahal kau terlihat senang.." ujarnya pada Sasuke.
Naruto dan Sasuke pun segera membungkukkan badannya sambil berkata 'maaf'.
"Fufufufu.. baguslah kalau kalian mengeti.. selanjutnya katakan ini, 'terima kasih nona Ino, kami tidak akan membangkang lagi' sambil berlutut."
"Huh, enak saja! Siapa yang sudi," ujar Sasuke ketus.
"Benar! Kau ini gila ya, di kasih hati malah minta nambah.." balas Naruto.
"Hah! Emangnya makan, minta nambah.." seru Ino.
"Apapun makanannya, minumnya teh botol so*ro.." ujar Kiba.
HAHAHAHAHA...
Gelak tawa pun riuh terdengar memenuhi seisi ruangan, namun suara pintu terbuka yang cukup keras menghentikan tawa mereka seketika.
BRAKK..
"Oi, kalau kalian sudah selesai, segera bergegas ke balik panggung.." ujar Shikamaru. "Dari pada santai-santai disini, lebih baik kalian membiasakan diri dengan suasana panggung agar tidak tegang saat pementasan nanti.." tambahnya. "Setengah jam lagi penonton akan mulai memenuhi ruangan, jadi waktu persiapan kalian hanya sedikit.."
"Apa semuanya sudah berkumpul.." tanya Ino.
"Iya, semua sudah berkumpul disana, kita hanya tinggal menunggu sampai waktu pementasan tiba.." balas Shikamaru.
"Kalau begitu kita segera kesana sekarang," ujar Kiba semangat.
"Lebih baik setengah jam yang tersisa ini kalian isi dengan berkonsentrasi dan mengingat peran seperti apa yang harus kalian lakukan nanti.." ujar Shikamaru.
"Yosh, kalau begitu, ayo kita segera berangkat.." ujar Naruto penuh semangat.
Mereka pun berangkat menuju ruang aula..
_-0-_
"Aku dataaangg.." ujar Naruto dengan penuh semangat sesaat setelah membuka pintu aula bagian belakang.
Semua mata pun memandang ke arah pintu.
"Waahhhh.. kau cocok sekali dengan pakaian itu.." ujar Sakura terkejut.
Naruto pun tersenyum bangga. "Yah, apa boleh buat 'kan, dengan wajah setampan ini, kalau disuruh pakai apapun juga pasti akan terlihat ba-.."
"Sasuke, kau benar-benar hebat, seperti keluarga bangsawan sungguhan saja.." puji Sakura.
Semua gadis yang ada disana pun terpesona dan segera mengerubungi Sasuke layaknya gula dirubung semut.
"Ng! Ada apa Naruto.. apa tadi kau mengatakan sesuatu?" tanya Sakura.
"Ah, ti- tidak... lupakan saja.." jawab Naruto murung.
"Pfftth.. dasar Naruto, kau itu beneran bodoh ya?" seru Kiba.
"Apaan sih kau," sungut Naruto kesal.
"Tidak apa-apa.. tidak apa-apa, jangan berkecil hati seperti itu," ujar Kiba. "Setidaknya ada satu gadis yang sepertinya terpesona oleh penampilanmu kali ini," tambahnya sambil menggoyangkan kepalanya ke arah gadis tersebut.
Naruto pun menoleh ke arah tersebut, didapatinya seorang gadis tengah menatapnya kagum, yang mana di kedua pipinya tersirat warna merona kemerah-merahan.
"Hi- Hinata!" ujar Naruto.
Seketika Hinata langsung sadar dari keterpesonaannya, segera ia membalikan tubuhnya 180 derajat untuk berpaling dari Naruto, ia mendengus sambil melipat kedua tangannya di dada, mengisyaratkan bahwa hubungan mereka masih belum ada perubahan sama sekali.
"Haahhh, sepertinya keadaan sama sekali belum membaik, kalau begini terus, bisa-bisa drama ini berakhir dengan mengecewakan nih.. bagaimana menurutmu Shikamaru?" tanya Naruto.
". . . . . ."
"Shikamaru..."
"Oi Shikamaru, kau dengar tidak!" tanya Naruto lagi. Kali ini ia melakukannya sambil menolehkan kepalanya ke belakang.
"Lho! Mana Shikamaru.. apa dia tidak ikut bersama kita tadi..." tanya Naruto pada Kiba.
"Eh! Masa'.. aku tidak tau..." seru Kiba.
"Mungkin dia sedang ke toilet," ujar Sasuke.
"Semoga saja begitu.." seru Ino menimpali.
_-0-_
Di lapangan sekolah...
"Hah.. bagaimana ini.. padahal ini festival terakhir, tapi kalau begini terus, sepertinya semuanya akan sia-sia saja.." keluh Shikamaru yang sedang berjalan di tengah-tengah kerumunan festival.
"Coba aku punya ide bagus untuk memperbaiki hubungan mereka.. pasti aku tidak akan merasa khawatir seperti sekarang ini..."
Shikamaru terus berjalan sambil terus memikirkan festival dramanya yang terancam berakhir dengan tidak sukses, tanpa terasa ia sudah melewati keramaian festival itu dan kini ia berada di bukit belakang sekolah yang tak terjamah oleh keramaian festival.
"Lho! Kenapa aku bisa berada disini.." ujarnya ketika menyadari tempat dimana ia berdiri.
Semilir angin yang berhembus sepoy-sepoy, membuat daun-daun saling bergesekan dan menghasilkan melodi yang terdengar indah di telinga, menggoda Shikamaru untuk merebahkan tubuhnya di antara rindangnya pepohonan dengan beralaskan hijaunya rerumputan.
"Hmm, kalau disana sepertinya aku bisa mendapat ide bagus nih.."
Shikamaru segera berjalan menuju tempat itu, dan setelah sampai, segera ia rebahkan tubuhnya disana. Ia meregangkan tubuhnya, mencoba untuk melepas penat dikepalanya yang kian menumpuk, pandangannya menatap lurus ke atas, dilihatnya awan-awan putih riang berarak, hanya bergerak mengikuti kemanapun sang angin menuntunnya.
Ia memejamkan matanya, mencoba meresapi keindahan alam yang berada disekitarnya, mulai dari hembusan angin yang ia rasakan sangat lembut menyentuh kulitnya, bisikan dedaunan yang saling bergesekan begitu memanjakan telinganya, juga aroma rerumputan yang menjadi alasnya sangat membantuya untuk merefleksikan semua ketegangan yang ada dalam dirinya. Tak heran kalau dia merasa betah dan ingin berlama-lama disana.
"Nyamannya..." gumam Shikamaru kecil. Dan ia terus terlena oleh kenyamanan itu.
_-0-_
DUARR.. DUARR.. DUAR..
"Hah!.." ujar Shikamaru yang terkejut karena suara letusan kembang api barusan.
"Lho.. sejak kapan aku tertidur.." tanyanya pada dirinya sendiri.
Segera ia menatapkan wajahnya ke arah gedung sekolah, dan dilihatnya sebuah jam yang terpasang tepat di tengah bangunan utama gedung tersebut, dan jarum jam itu telah menunjukan pukul 11.25.
"AARRGGHHHH..."
"Su- sudah jam segini! Ga- gawat! Kalau begitu, berarti sudah satu jam lebih sejak pertunjukan drama dimulai..." ujar Shikamaru panik.
"Ka- kalau tidak cepat-cepat, bisa terlat nih.."
Kemudian ia segera berlari menuruni anak bukit menuju ruang aula tempat pementasan drama kelasnya dilangsungkan.
"Minggiirrr!... Minggiirrr!" teriaknya sambil mengayunkan kedua tangannya untuk memberi isyarat pada orang yang berada didepannya untuk menyingkir.
Beberapa menit kemudian ia sudah berada didepan pintu yang terpasang tanda larangan masuk selain kru, ia menarik nafas dalam-dalam, mencoba untuk membenahi irama nafasnya yang tak menentu.
Ia menarik gagang pintu perlahan, namun hal itu tetap tak membuat suara yang dihasilkannya menjadi tak terdengar. Semua rekan-rekannya yang berada didalam menatap siapa gerangan yang membuka pintu terebut. Awalnya mereka menatap dengan rasa penasaran, begitu mengetahui siapa yang membuka pintu tersebut, sontak pandangan dan raut wajah mereka berubah drastis, menakutkan!.
Shikamaru langsung pasang tampang memelas. "Ma- maaf.."
"Kemana saja sih, hampir saja dramanya gagal dipentaskan.." ujar Kiba dengan sedikit kesal.
"Eh? Dibatalkan?.. memangnya kenapa?" tanya Shikamaru.
"Iya, tadi sesaat sebelum pertunjukan dimulai, tiba-tiba saja Hinatak mogok main, dia sama sekali tidak mau naik ke panggung.." balas Kiba.
"Apa dia merasa grogi?" tanya Shikamaru lagi.
"Bukan! Sepertinya karena Naruto.."
"Memangnya dia melakukan hal bodoh apa lagi.."
"Tidak, bukan begitu, hanya saja.. mungkin Hinata masih merasa kesal karena ulah Naruto dulu, untunglah ada Sakura yang membujuknya dan akhirnya dia bersedia untuk tampil.." terang Kiba.
"Fuhh, baguslah kalau begitu.." ujar Shika lega.
BLETAK..
"Sa- saki~t.." rintih Shikamaru.
"Apanya yang bagus! Sejak tadi kami terus menunggumu 'pak sutradara'," ujar Sakura dengan nada mementak. "Dtambah lagi sikap Hinata yang sepertinya masih cuek terhadap Naruto, saat-saat seperti ini kau sangat dibutuhkan tau, apalagi kalau nanti terjadi sesuatu yang tidak berjalan sesuai dengan rencana.."
"Iya iya, aku kan sudah minta maaf.." balas Shikamaru melas.
"Sudahlah, lebih baik kita kembali melihat dramanya.. lagi seru nih.." ujar Kiba.
"Memangnya sudah sampai sejauh mana, aku tidak ketinggalan 'kan.." seru Shikamaru.
"Sudah, jangan berisik, kau lihat saja sendiri..." balas Sakura.
Mereke bertiga pun segera mendekati pintu tempat keluar masuknya para pemain dari panggung, dari situlah Shikamaru Cs menyaksikan jalannya pertunjukan.
"A- adegan ini.. kalau tidak salah adegan ini adalah saat dimana Naruto menantang Sasuke yang tengah menyandra putri Hinata. Naruto yang merupakan pangeran dari negeri seberang, berniat untuk menghalau Sasuke yang ingin menikahi Hinata hanya karena tergiur pada kekuasaan yang akan didapatkannya.." pikir Shikamaru ketika melihat Hinata dengan tangan terikat kebelakang dengan Sasuke yang tengah berdiri membelakangi Hinata satu meter didepannya, disusul dengan Naruto beberapa meter setelahnya.
Terlihat Naruto menghunuskan pedangnya. Sambil membusungkan dadanya, ia berujar dengan lantang. "Tenang saja putri Hinata, aku akan segera menyelamatkanmu dari pria jahat itu.."
"Bagus Naruto, semangat seperti itu yang kusuka darimu.." batin Shikamaru.
"TIDAK USAH..!" teriak Hinata.
Naruto: Heee..!.
Shikamaru: Heee..!.
Kiba & Sakura: Heee..!.
Audience: Heee..!.
Sasuke: Huh..
Para audience merasa terkejut atas penolakkan yang dilontarkan Hinata barusan, terdengar bisik-bisik saling bertautan diantara mereka.
"Kenapa jadi begini.." ujar Shikamaru sambil menepuk jidatnya pelan.
"Hinata..." ujar Sakura dengan nada mengasihani, mungkin ia sedikit mengerti apa yang Hinata rasakan.
"Hinata!" ujar Kiba, namun dengan nada yang berbanding terbalik dengan Sakura, ia berujar dengan penuh gairah melihat Hinata yang mengenakan pakaian model Decolletage3) itu. Alhasil sebuah pukulan oleh Sakura mendarat dengan sukses dikepalanya.
"Hi- Hinata.. kenapa malah disaat seperti ini.." ujar Naruto dalam hatinya. "Gawat.. dialognya.. dialognya.. aku harus bagaimana..."
Naruto berpikir keras sejenak. "A- apa yang kau katakan, la- laki-laki itu hanya mendekatimu karena kekuasaan, se- seharusnya kau tau itu.."
"Tidak apa.. itu masih lebih baik dari pada pria mesum yang hanya bisa mempermainkan hati seorang gadis dengan seenaknya.." ujarnya dengan sedikit histeris.
"Me- mesum!" Kata-kata penuh keterkejutan itu keluar bukan hanya dari mulut Naruto, tapi semua yang berada disana juga mengucapkannya dengan rasa kaget bercampur penasaran.
"Mungkin itu adalah pendapatnya saat aku secara tidak sengaja menarik roknya turun, dan maksudnya mempermainkan hati seoranga gadis itu.. pasti saat Kiba bicara seenaknya saat aku dan Hinata berada di kedai teh belum lama ini.." pikir Naruto.
Namun ia segera menepis semua kenangan itu, buru-buru ia meyakinkan Hinata bahwa itu semua hanyalah kesalahpahaman semata. "Tunggu dulu Hinata.. (ehm!) maksudku putri Hinata, aku.. aku sama sekali tidak sengaja melakukan itu semua, itu semua hanyalah kesalahpahaman saja, percayalah.." pinta Naruto.
"Bagaimana bisa aku mempercayai laki-laki sepertimu.." teriak Hinata. kemudian ia mendekati Sasuke. "Ayolah tuan Sasuke, bawalah aku pergi dari sini.. aku tak ingin melihat wajah pria itu lagi.." rengek Hinata.
Sasuke yang biasanya kalem pun dibuat kalang kabut dengan dialog yang sudah benar-benar keluar jalur itu, ia tak tau apa yang harus ia perbuat sekarang. "E- eto.." lalu ia menghadapkan wajahnya pada Naruto menccoba menanyakan jalan keluar dari masalah ini.
Namun yang dilihatnya bukanlah sosok Naruto yang biasa, melainkan adalah sosok Naruto yang tengah terbakar api kemarahan.
"SA~ SU~ KE~.. beraninya kau.."
"Oi.. oi.. tunggu dulu Naruto, apa kau lupa kalau ini hanya drama.."
"Sudah, jangan banyak bicara lagi. Kalau kau laki-laki, selesaikan dengan pedangmu," teriak Naruto sambil berlari dan mengacungkan pedangnya ke arah Sasuke.
Shikamaru dan Kiba yang berdiri di balik layar manggut-manggut sambil tersenyum. "Fufufu.. Bagus Naruto, itu baru namanya laki-laki sejati."
"Apanya yang bagus, dasar bodoh.. cepat pikirkan sesuatu, Naruto sudah gelap mata.. bisa-bisa semuanya berantakan.." ujar Sakura khawatir.
"Bicara begitu pun, tak ada yang bisa kita lakukan, kita hanya bisa menunggu dan berdoa pada tuhan agar semuanya berjalan lancar.." ujar Shikamaru tenang.
"Benar apa yang dikatakan Shikamaru, kita serahkan saja semuanya pada langit. Lagi pula kau seperti baru mengenal Naruto saja, walaupun bodoh, tapi dia tidak akan melakukan hal yang nekat seperti itu, semuanya pasti akan baik-baik saja," terang Kiba.
"Ka- kalian..." ujar Sakura terharu.
"Begitu ya, rasa percaya pada teman yang mereka perlihatkan padaku ini telah membuka mata hatiku.. aku percaya, semuanya pasti akan baik-baik saja seperti yang mereka katakan," ujar Sakura dalam hatinya.
KRESS.. KRESS.. KRESS..
"Ng..!"
"Popcornnya enak ya, Shikamaru.."
"Iya.. nonton drama memang paling enak sambil makan popcorn, habis ini aku mau tambah ah~"
"KALIAN INI YA...!"
"Gee.. Sakura.." ujar mereka berdua ketakutan melihat Sakura dalam mode tempur.
"Jadi kalian menikmatinya ya... teman lagi kesusahan kalian malah enak-enakan seperti ini.."
BAG.. BUG.. BAG.. BUG..
"Ampuun.. ampuun.. maafkan kami... ampun.."
. . . . . .
^_^;
"Oi Naruto.. kau bercanda 'kan?"
"Berisik! Cepat hunuskan pedangmu... Hyaaaatttt.."
"Cih, baiklah kalau itu maumu, aku akan meladenimu dengan serius.. Ciaaatttt.."
TRING.. TRANG.. TRING.. TRANG..
Note: Mereka berdua sama-sama menggunakan senjata mainan, suara tersebut berasal dari SFX yang dimainkan oleh para Sound Engineering kelas kakap yang sengaja disewa dari luar yang bernama Dosu, Zaku dan Kin. ^_^;
Sasuke yang memang lebih kalem dan bertarung tanpa beban tampil lebih unggul, berkali-kali ia membuat Naruto terdesak dengan tehnik pedangnya yang indah namun berkali-kali itu juga Naruto terus bangkit dan kembali menyerang Sasuke dengan gigih.
"Hyaaaaatt..."
TRANG.. TRING.. TRANG.. TRING..
BRUGH..
"Sial..." ujar Naruto yang kembali terpental oleh serangan Sasuke.
"Ouww.." ujar para audience serentak, seolah ikut merasakan apa yang terjadi pada Naruto. Entah sejak kapan para audience juga merasa antusias dan benar-benar menyaksikan pertunjukan drama ini dengan penuh ketegangan.
"Sudahlah, menyerah saja.. kau tidak akan bisa menang dariku.." ujar Sasuke sambil mengacungkan pedangnya kearah Naruto yang tengah tergeletak.
"Ja- jangan meremehkanku Sasuke, Hyaatt.." balas Naruto yang tak gentar sedikitpun.
Pertarungan sengit kembali terjadi, kali ini bahkan Naruto yang balas menekan Sasuke, hingga akhirnya satu serangannya dapat menembus pertahanan Sasuke dan berhasil melukainya.
Para audience kembali ber_wah-wah_an ria ketika melihat serangan Naruto berhasil mengenai Sasuke.
"Fufufu.. kau lihat itu Sasuke, karena itu jangan anggap remeh aku.."
"Boleh Juga kau Naruto.. kalau begitu bersiaplah, terima ini..."
Dentingan benturan pedang kembali terdengar, sayangnya Naruto kembali terdesak, ia kembali menerima serangan Sasuke berkali-kali, namun ia kembali bangkit dan terus melawan. "Aku tidak boleh kalah disini.. aku harus menang, aku harus memenangkan pertarungan ini.. demi Hinata.. ini semua demi Hinata.."
"Hyaaatt..." teriak Naruto sambil kembali menyerang Sasuke.
Semangat itu, kekuatan itu dan tekad itu tersampaikan dengan baik pada Hinata yang memang sejak tadi terus memperhatikan pertarungan mereka, tanpa sadar hatinya juga ikut terluka setiap kali menyaksikan Naruto terjatuh, walaupun masih bisa berdiri, namun sepertinya tenaganya yang tersisa hanya tinggal sedikit.
Dan akhirnya...
TRANG...
Pedang Naruto terlepas dari genggamannya dan terpental cukup jauh untuk bisa ia gapai, kini ia berhadapan dengan Sasuke dengan tangan kosong.
"Fufu.. bagaimana? Apa kau akan menyerah.." tanya Sasuke dengan seringai penuh kemenangan di wajahnya.
"Huh, mana bisa aku menyerah disini dan membiarkan gadis yang kucintai hilang dari pandanganku begitu saja," ujar Naruto penuh semangat.
DEG
Hinata yang mendengar hal itu tergoyah hatinya, "Na- Naruto..."
"Sampai mati pun aku takkan membiarkannya, dengan tangan ini, aku pasti bisa mengalahkanmu, majulah...!"
"Kalau kau segitu inginnya pergi ke alam sana, aku akan mengabulkan permintaan itu.."
Ternyata yang tersisa dalam diri Naruto hanyalah semangat. Tanpa pedang, ia bahkan tidak bisa mengimbangi Sasuke dalam pertarungan itu, Sasuke dengan begitu mudahnya dapat melayangkan serangannya langsung mengenai Naruto.
BUGH
"Cukup"
DUAGH
"Hentikan"
DUGH...
"Aku..."
BUAGH
"Aku akhirnya mengerti"
AAHHN(?)
.^\\\^.
BUGH
"Kalau aku juga"
BRAAKK..
Hantaman keras tubuh Naruto yang membentur lantai menyudahi perjungannya, tubuhnya sudah terasa amat lelah, bahkan untuk kembali berdiri. Nafasnya yang mengalir tak beraturan itu pun bahkan tidak dapat ia normalkan kembali, akhirnya perjuangannya harus terhenti disini.
Sasuke berjalan mendekati Naruto, senyuman kemenangan terpampang jelas menyeringai di bibirnya. Ia berhenti melangkah ketika tubuh Naruto sudah persis berada dihadapannya. "Kuakui kau adalah lawan yang cukup tangguh hingga mampu mendesakku sejauh ini, tapi walaupun begitu, pada akhirnya akulah yang tertawa paling akhir, dan kali ini aku akan benar-benar menghabisimu, Naruto." ujar Sasuke sambil mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, untuk menikam dada Naruto dengannya.
Naruto tersenyum, tapi itu bukan berarti ia merasa senang mengetahui bahwa ia akan mati disini. Entah perasaan apa, tapi ia merasa ia hanya ingin tersenyum saja. "Sepertinya, sampai akhirpun aku tak bisa mengatakannya padamu Hinata, bahwa sebenarnya.. aku sangat mencintaimu.. aku sangat mencintaimu dan ingin selalu berada didekatmu, aku ingin menjadi orang yang bisa membahagiakanmu. Tapi kini, sepertinya itu semua hanya tinggal mimpi-mimpi kosong yang tak berarti.. karena sebentar lagi hidupku akan segera berakhir.. memang singkat, tapi kenangan yang pernah kita lalui bersama, walaupun tidak seindah yang kuharapkan, akan selalu kusimpan dalam hatiku untuk menemaniku kelak di alam sana.. selamat tinggal Hinata, semoga kau berbahagia selalu."
Setelah itu Naruto memejamkan matanya, menunggu saat-saat kematiannya tiba.
Setelahnya terdengarlah teriakan yang keluar dari mulut Sasuke. "Mati kau.."
"HENTIKA~N" balas suara yang tak kalah kerasnya dari teriakan Sasuke.
Belum sempat Naruto membuka matanya, tubuhnya merasakan sesuatu yang hangat tengah mendekapnya. Ia jadi ragu apakah ia harus membuka matanya atau tidak, tapi rasa penasaran yang menjalar ditubuhnya terlalu kuat untuk ia tepis, dengan perlahan ia angkat kelopak yang menutupi kedua matanya, dan saat itu ia melihat seorang gadis tengah mendekapnya erat, dan walaupun wajahnya tidak dapat ia lihat, tapi ia yakin kalau itu adalah Hinata.
"Hi- Hinata.." gumam Naruto
"Kumohon.. jangan bunuh Naruto, jangan bunuh Naruto.. karena aku.. karena aku mencintainya.. aku sangat mencintainya.. aku tidak ingin kehilangannya.. aku tidak mau.. aku tidak mau.." teriak Hinata histeris.
"Hinata.. apa dia sungguhan berkata seperti itu.. apa ini hanya aktingnya saja..atau.."
TES..
Naruto sedikit terkejut ketika merasakan sesuatu yang hangat menyentuh pipi kanannya. Rasa penasarannya membuatnya menjulurkan tangan kanannya, mencoba untuk mengenali benda tersebut. Benda itu, walaupun tak dapat ia genggam, tapi ia dapat mengetahuinya. Hangat dan lembut, mengalir menuruni pipinya dan jatuh ke lantai.
"I- ini.. apakah ini.. Hinata.."
Kemudian ia kembali mendengar suara Hinata yang kali ini terdengar sedikit gemetar, "Kalau kau masih ingin membunuhnya.. bunuhlah aku juga.. karena aku tak akan sanggup.. aku tak akan bisa kalau harus hidup tanpa Naruto disisiku.. aku tak akan bisa.."
Sasuke yang melihat keteguhan hati pada diri Hinata segera menyarungkan kembali pedangnya, kemudian ia membalikan badannya dan melangkah pergi meninggalkan mereka berdua, tapi sebelum itu ia berujar pada Naruto.
"Huh, berkat gadis ini, nyawamu selamat Naruto, karena itu kau berhutang nyawa padanya, berterima kasihlah karena telah ditolong olehnya.. dan satu hal lagi, gadis ini tidak sedang berpura-pura, aku bisa melihat dari matanya, dia mengatakan sesuatu langsung dari lubuk hatinya.."
"Dan aku juga tidak tertarik mendapatkan kekuasaan dengan cara seperti itu, akan kudapatkan kekuasaan dengan caraku sendiri, aku akan menguasai kerajaan ini dengan caraku sendiri, pasti!" Kemudian sosoknya perlahan-lahan menghilang di sudut kegelapan.
". . . . ."
"Uhuk.. uhuk.. uhuk.."
"Ah! Naruto, apa kau baik-baik saja.." tanya Hinata yang terlihat khawatir.
"Hi- Hinata.. se- sepertinya.. karena pertarungan tadi.. kelima indraku sudah tak dapat berfungsi dengan baik.. aku tak bisa melihat dan mendengar suaramu dengan jelas lagi, li- lidahku pun sudah terasa kaku sekali..."
"Ka- kalau begitu aku akan membawamu ke dokter.."
"Ti- tidak perlu.. ka- rena sebentar lagi waktuku akan tiba.. aku hanya ingin me- mastikan satu hal saja sebelum semuanya terlambat.." ujar Naruto yang suaranya sudah mulai terputus-putus.
"A- apa itu Naruto.."
"A- apakah kau mencintaiku, Hinata?"
"Eh!.. a- aku.. sebenarnya.."
"Jawablah.. a- aku su- sudah lama ingin menanyakannya padamu.. ka- rena sejak dulu.. aku sa- ngat mencintaimu.. Hinata.."
"Na- Naruto.. aku.."
Seketika tangan Naruto bergerak menyentuh wajah Hinata, dia merabanya lembut dan mengelus pipinya perlahan. "Se- sepertinya kedua mataku sudah tidak dapat me- lihat la-gi.."
"Dan sebentar lagi.. mung-kin telingaku.. ya-ng tidak dapat mende-ngar lagi.."
Kemudian tangannya bergerak turun, meraba disekitar lantai dan disana ia menemukan tangan Hinata yang ia cari, lalu ia membelaikan tangan itu pada wajahnya yang sudah nampak pucat pasi itu.
"Hinata..ta-nganmu hangat.. aku su-ka.." ujarnya sambil terus membelaikan tangan Hinata pada wajahnya.
Setelah itu, bibirnya terus saja bergerak, tapi tak satupun kalimat yang keluar dari mulutnya.
Hinata mulai menitikan air mata melihat pemandangan itu, melihat orang yang sangat ia cintai berada dalam pangkuannya lemah tak berdaya. "Na- Naruto.. aku.. aku juga mencintaimu Naruto.. aku juga selalu mencintaimu.. maafkan aku karena telah membuatmu menunggu begitu lama, karena aku takut kalau perasaan ini hanya kurasakan sendiri.."
"Naruto.. kau mendengarku 'kan.. kau mengerti apa yang kukatakan barusan 'kan.." tanya Hinata.
Tak ada perubahan apapun pada ekspresi wajah Naruto, sepertinya memang hampir seluruh indra ditubuhnya telah berhenti berfungsi, kecuali kedua tangannya yang masih menggenggam kuat tangan Hinata.
"Naruto.. aku mencintaimu... dan aku akan selalu mencintaimu sampai kapanpun juga.. karena itu.."
Hinata mendekatkan wajahnya pada wajah Naruto. Lalu dengan lembut ia menempelkan bibirnya pada bibir biru Naruto yang walaupun terasa dingin, tapi ada sebuah sensasi lain yang membuatnya merasa nyaman, sehingga ia membiarkannya cukup lama.
Setelah Hinata melepas ciuman itu, nampak senyum kecil menghiasi bibir Naruto, ia tersenyum, mungkin ciuman itu telah menyampaikan betapa Hinata juga amat mencintainya dan akan selalu mencintainya.
Tak lama kemudian, tangan Naruto yang tadinya menggenggam kuat jari-jari Hinata jatuh terkulai bagai tak bertulang, hembusan nafas yang memberinya kehidupan itu pun tak lagi terasa.
Lampu ruangan perlahan meredup sampai akhirnya hanya menyisakan lampu sorot yang menyinari mereka berdua, dimana Hinata tengah memeluk kekasih hatinya yang kini terkulai lemah tak bernyawa, ia mendekapnya begitu erat, seolah memberikan salam terakhir untukknya.
Tirai-tirai dari kedua sisi panggung mulai merapat ke tengah, perlahan menutupi dua sejoli yang harus berpisah disaat mereka seharunya merasa bahagia karena akhirnya kedua hati mereka bisa menyatu.
Dan tepat ketika tirai tertutup rapat, gemuruh riuh tepuk tangan dari para audience segera terdengar dari seluruh ruang aula menandakan kepuasan yang mereka dapatkan, siul-siul pujian dan linangan air mata sedikit banyak juga terlihat disana.
Tak henti-hentinya tepuk tangan itu memeriahkan suasana siang itu, apalagi ketika tirai kembali dibuka, dimana para kru, pemain dan semua yang turut membantu dalam pementasan itu saling berdiri sejajar dan bergandengan tangan satu sama lain, lalu membungkuk bersamaan untuk menyampaikan rasa terima kasihnya pada para audience yang datang saat itu.
Setelah tirai kembali ditutup untuk yang kedua kalinya, para audience pun satu persatu mulai meninggalkan ruangan, menyisakan Naruto beserta seluruh teman sekelasnya yang walaupun terlihat lelah, tapi raut wajah mereka menampakkan kegembiraan yang luar biasa.
Segera mereka saling memberikan semangat atas suksesnya pementasan drama kali ini.
"Yo Naruto, apa-apaan kau ini, bisa-bisanya kau terlihat sangat keren seperti itu.." ujar Kiba sambil meninju lengan Naruto pelan.
"Iya.. ditambah lagi, naskah buatanku kan happy ending, kenapa malah jadi seperti ini, walaupun yang seperti ini tidak buruk juga sih.." sambung Shikamaru.
"Hahaha.. kalian seperti tidak mengenalku saja.. aku ini 'kan jenius.." ujar Naruto sambil menggaruk-garuk kepala Hinata yang berdiri di sebelahnya.
"Hey, garuk kepalamu sendiri dong.." omel Hinata sambil menepis tangan Naruto dari kepalanya.
"Maaf.. maaf.. aku terlalu senang sih.. jadi salting deh.." balas Naruto yang kini menggaruk kepalanya sendiri.
"Lho! Ada apa ini, kenapa tiba-tiba aura diantara kalian jadi terlihat berbeda, sepertinya jadi lebih harmonis.." ujar Sakura yang melihat Hinata terus bersanding di samping Naruto.
Hinata hanya diam saja, tapi rona diwajahnya berubah merah.
"Hehehe.. sebenarnya kami sudah baikan lho.." ujar Naruto riang. "Ditambah lagi, sekarang kami.."
"Oh iya! Yang tadi itu sungguhan 'kan," potong Shika. "Bagaimana rasanya..hah? hah?" tambahnya sambil menaik-turunkan alis matanya dan menyenggol-nyenggol Naruto dengan sikunya.
"Apaan sih kau Shika, bikin malu saja.." ujar Naruto blushing.
"Bu- bukan kok, yang tadi itu hanya pura-pura saja, ya kan Naruto." ujar Hinata angkat bicara.
"Iya, yang tadi itu menyenangkan lho, jadi kepingin lagi.."
DUGH
"Aduhh.." pekik Naruto kesakitan karena pinggangnya di sikut oleh Hinata.
"Hee.. jadi yang tadi itu sungguhan ya.. heba~t.." ujar Sakura exited. "Hinata, setelah ini kau harus menceritakan padaku detail keseluruhannya, ya." Tambah Sakura sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Ah! Sakura.." balas Hinata malu-malu.
"Jadi, hubungan kalian sekarang ini apa?" tanya Shikamaru.
"Ka- kalau itu.." ujar Naruto blushing.
"Bicara apa sih kau Shika, ya sudah jelas dong, hubungan mereka itu sekarang sudah resmi menjadi suami istri, hehehe.." goda Kiba.
"Ngawur..." teriak Naruto yang bertambah blushing.
"Ohoi.. ohoi.. ada yang lagi berbunga-bunga nih.." goda Kiba lagi.
"Awas kau ya Kiba.." ujar Naruto.
"Sudah-sudah.. bagaimana kalau kita mengadakan pesta.." ujar Shikamaru.
"Hee pesta! Uangnya dari mana.." tanya Kiba.
"Nih, kali ini usaha keras kita tidak sia-sia.." ujar Shikamaru sambil menunjukan sekerinjing uang ditangannya.
"Kita pestaaa~" ujar Kiba senang.
"Ya.. kita adakan pesta atas keberhasilan pementasan drama kita, juga atas terbentuknya sepasang kekasih yang sempat salah paham dan akhirnya bisa menyatukan perasaan mereka berkat rencanaku yang hebat ini.. hahahahaaa" terang Shikamaru bangga.
"Rencana apa.. kerjamu cuma tidur saja tuh.." seru Sakura.
"Itu juga termasuk bagian dari rencanaku tau.."
"Pemboho~ng.." ujar Sakura dan Kiba bersamaan sambil mengejar Shikamaru yang sudah berlari duluan.
_-0-_
"Bagaimana Hinata, apa kau mau jalan-jalan melihat festival, kita 'kan sudah resmi pacaran sekarang.." tanya Naruto.
"I- iya.. sepertinya menyenangkan," balas Hinata.
"Kalau begitu, mumpung lagi sepi, cium lagi dong.." pinta Naruto sambil memanyunkan bibirnya.
PLAKK..
"Aduh.. sakit tau.."
"Biarin.." jawab Hinata malu-malu.
"Kalau begitu di pipi.."
PLAKK..
"Di kening deh.."
PLAKK..
"Di..
PLAKK..
"Hei! Aku 'kan belum bilang apa-apa.."
PLAKK..
PLAKK...
.
_-OWARI-_
Pojok Author:
.
Hallo.. akhirnya.. LAST CHAPTER.. Hurayy..^^
Entah bagaimana, harus senang atau sedih. Senang karena akhirnya Fict ini bisa selesai dengan selamat, sedih karena.. (karena apa ya..,)
Yah, yang penting 'BANZAI' dulu deh, biar semangat.. se no.. BANZA~I.. yei \\(^o^ )/
Pertama-tama, Aoi mau ngucapin banyak terima kasih atas RnRnyah buat: Seichi, Good Air, Rhyme A. Black, Nagisa imanda, Aburame anduts, ZephyrAmfoter, Hanamoto Rena Chan, Chikara Kyoshiro^^, Hanya Orang Tidak Jelas, Crunk Riela-chan, Noname, Aoyama Haruna dan Mel Kazahana.
Terima Kasih atas segala sumbangsihnya pada fic ini, Arigato Gozaimas (_ _
Juga buat para readers 'gelap' lainnya yang telah sudi membaca fic Aoi yang masih sangat membosankan ini, Terima Kasih.^^
Aoi juga minta maaf, kalau masih ada kekurangan ataupun hal lainnya yang kurang berkenan di hati para RnR tercinta(Huekk) sekalian, sungguhpun hal itu Aoi lakukan bukan karena sengaja, melainkan karena Aoi juga hanyalah seorang manusia biasa.
Sebelum berpisah, Aoi minta kenang-kenangan dong (Ehm) maksudnya refyu gitu, agar di fic-fic yang berikutnya Aoi bisa berkarya lebih baik lagi.
Masukan, saran dan FLAME(yg paling Aoi benci), akan Aoi terima dengan lapang dada.
Eh, hampir lupa. Ada seorang RnR'S Aoi yang bertanya, "hubungan antara judul sama ceritanya apa?", namanya.. 'Hanya Orang Tidak Jelas'.
Jadi begini ya, Hanya(?)-san, sebenernya hubungan diantara keduanya itu ngga ada sama sekali (DOOONNGGG!).
'Lalu kenapa dibuat judul?'
Soalnya Chapter pertama fic ini Aoi buat sambil mendengarkan lagu dari grup band bernama Queen yang judulnya sama dengan judul fic ini yaitu 'You Take My Breath Away' (dasar Aoi si penjiplak!) dan kata-kata yang diucapkan Naruto di chapter pertama bagian awal itu adalah hasil terjmahan dari lirik lagu tersebut. Karena menurut Aoi bagus, jadi coba-coba deh bikin fic dari situ, eh ngga taunya ceritanya malah berkembang jauh dari lirik asli, dan karena alasan itu jugalah fic ini menjadi lama sekali dalam peng updet_annya (karena ngga ada ide _). Soalnya 'kan Aoi ngambil Basic-nya dari situ, eh tau-tau ceritanya malah melenceng jauh, jadi susah nyari ide buat lanjutannya lagi. Maaf kalau jawabannya mengecewakan, tapi itulah yang sebenarnya. ^_^;
Arti kasar dari kata You Take My Breath Away adalah.. 'Kau membawa nafasku pergi'(ehm) kalau salah, mohon dibenarkan. ^^
.
Kalau begitu sampai disini dulu
Sekali lagi Terima Kasih..
Mine Kitei Kurete, Doumo Arigato /(_ _)\\
Sampai jumpa di lain kesempatan.
Cao..
.
Salam hangat
Aojiru no Sekai.
.
Glosarium
.
1) Muttonchop : Kumis yang diperluas, sehingga bentuknya menyatu dengan cambang dan jenggot.
2) Suede : Kain tenunan yang menyerupai kulit namun berpermukaan lembut.
3) Decolletage : Pakaian wanita denganpotongan garis leher yang rendah seperti gaun malam, baju renang dan pakaian sejenis lainnya yang dirancang untuk menekankan tampilan payudara ^_^;.
