BoBoiBoy © Animonsta Studios
Element Dimension
.
.
.
Enjoy!
.
.
.
For #RGSurviveChallenge
.
.
.
Bekerja membantu sang kakek, pekerjaan seorang Boboiboy bila tidak ada waktu untuk melayani para masyarakat sebagai penyandang gelar super hero. Mengantar lalu-lalang cangkir-cangkir dengan asap mengepul kepada pelanggan. Tersenyum tanpa lelah kepada pengunjung, walau keringat beberapa kali berlalu dari pelipisnya.
Itulah kehidupan Boboiboy.
Berat, tapi ia melakukannya dengan ikhlas. Asal bersama orang yang dicintainya. Ada teman-temannya. Kakek yang selalu perhatian pada kondisinya. Juga sang robot bundar yang ikut menjadi teman curhatnya ketika Boboiboy berkeluh kesah.
Mereka yang membuatnya kuat dengan pekerjaannya.
Boboiboy tidak sekali berpikir andai dia tidak pada lingkungan dimana orang-orang mencintainya. Dia bersyukur mengenal orang-orang yang begitu penuh kasih kepadanya. Dan secara sirat, Boboiboy akan selalu melindungi mereka. Dia tidak mau alasan kesenangannya lenyap di depan mata selama ia masih menghembuskan napasnya.
"Boboiboy, kau lelah?" tanya sang kakek suatu hari.
Senyuman tipis dengan gelengan kecil . Bocah dengan topi jingga terpasang manis di kepalanya menjawab pertanyaan kakeknya, "Aku senang membantu kakek!"
"Jangan paksakan diri, ya? Kakek lihat badanmu kurang fit hari ini."
"Hanya kurang satu gelas coklat kakek doang kok, hehe."
"Kau ini. Kebanyakan minum es nanti bikin amandel."
"Iya kek. Boboiboy paham."
Laki-laki bernama Boboiboy itu kembali mengelap meja tender tanpa disuruh. Ditemani robot berbentuk bola mungil di sampingnya, ia kembali menjalani waktunya dengan mengurus jualan sang kakek. Sedangkan orang tua yang gemar memakai peci itu pun beranjak meninggalkan kedai untuk berbelanja.
BAM!
Suara ledakan terdengar cukup lama. Boboiboy langsung saja meletakkan lap dari tangannya pada meja secara asal dan berhambur menuju asal suara tersebut, yang ternyata tidak jauh dari posisinya. Pandangannya mendapati sosok robot bernuansa ungu berukuran besar bermata merah berhasil membuat tanah amblas di depannya. Di atas kepala robot itu, sosok alien berkepala kotak tertawa nyengir dari lokasi.
Boboiboy memandang sekitar. Ia mendapati bangku-bangku begitu acak posisinya dengan beberapa bagian ada yang menghitam gosong. Bisa-bisa dia bakal dimarahi kakeknya nanti. Dan yang paling membuat kedua matanya itu membesar, ia mendapati bocah seperantaraannya dengan kacamata itu terbaring tidak berdaya.
"Fang?! Grrrr... Adu Du!" pekik Boboiboy dengan menatap garang sang alien. Poin telunjuknya ia arahkan pada wajah musuhnya itu.
"Ada apa?"
"Grrr!" Boboiboy menggertakkan bibirnya mendapati tatapan meremehkan dari alien yang ia panggil Adu Du. "Kau apakan dia?! Keris petir!"
Satu kilatan kuning berbentuk pedang kecil langsung ada dalam genggaman tangannya ketika ia ayunkan. Tanpa menunggu lagi, laki-laki itu melemparkannya kepada musuhnya langsung. Namun dengan mudahnya robot yang menjadi tempat alien itu berdiri menahan serangan bocah itu dengan sebelah tangan besarnya.
"Kau kira keris lembek seperti itu bisa menyerang Mega Probe?" Adu Du mengejek. "Probe! Serang!"
Kedua lengannya langsung bertransformasi menjadi kedua alat penembak. Robot itu membidikkan lengannya pada wajah Boboiboy.
"B—Boboiboy ..." laki-laki berkacamata yang baru siuman dari pingsannya itu memanggil nama temannya kecil. Ah kenapa ia begitu susah untuk menggerakkan tubuhnya?
"Boboiboy kuasa lima!"
Disana tiba-tiba saja keluar lima bocah berwajah sama walau berbeda warna dan letak topi. Ada laki-laki dengan topi bernuansa hitam ke depan dengan corak merah kini menodongkan pedang merah dari tangannya pada musuh. Wajahnya begitu lekat dingin. Lalu ada juga laki-laki bertopi miring dengan nuansa jaket biru, putih, dan kuning mengendarai hover board dari udara. Ia mengambang. Beda lagi ada seorang anak laki-laki bertopi hitam bernuansa kuning menyala dengan topi terbalik berdiri. Kemudian, ada dua bocah yang saling membelakangi dengan warna jaket dan topi yang berbeda; merah menyala dan biru pudar.
"Kenapa lagi ada Adu Du ini? Tidak puas dihajar terus-terusan?!" laki-laki yang menodongkan pedang halilintar itu memalingkan kedua matanya jengkel.
"Wah apa yang dikatakan Adu Du benar~"
Halilintar—laki-laki bertopi hitam dengan corak merah menyala itu—mengedarkan pandangannya mencari siapa orang yang barusan menyahut. Tiba-tiba tempat mereka dirasakan sedikit mendung, dan semua pecahan Boboiboy paham ini pernah mereka alami sebelumnya. Makanya mereka agak kaget. Dulu sewaktu ada alien yang ingin menginvasi wilayah mereka, keadaan sekolah para Boboiboy itu yang menjadi korbannya. Memang hanya Halilintar, Taufan, dan Gempa yang paham sekali apa yang terjadi saat itu—dan perasaan takut mereka masih membekas.
Kepala laki-laki bertopi miring, yaitu Taufan, mendongak saat melihat dengan jelas apa yang menaungi mereka. Sebuah spaceship dengan ukuran selebar taman di seberang kedainya tampak berdiam dari udara. Kedua anak dengan warna merah dan biru tidak kalah panik memandang.
"Sudah saya bilang, ada anak bumi yang memang punya kemampuan seperti kemauan Anda."
Laki-laki dengan topi terbalik—dengan nama Gempa—merasakan firasat buruk dari apa yang dikatakan Adu Du kepada kapal itu. Mata emasnya bolak-balik memandang kapal dan Adu Du.
"Terima kasih untuk menunjukkannya." Suara itu menggema dengan tawaan kecil. "Dari sini, kami akan urus sisanya."
Bocah berkacamata yang tadi hanya menyaksikan kawannya berdiam, berusaha sekuat mungkin untuk bangkit. Napasnya menderu kepayahan, bahkan keringat menjalar dari pelipisnya. Ia juga ikut merasakan firasat buruk, apalagi ada musuh selain Adu Du datang ke bumi mereka. Ejo Jo saja sudah membuatnya kewalahan sampai pingsan saat itu. Kalau sampai terjadi dua kali ...
"S—sial ..."
Cahaya putih langsung menyilaukan semua Boboiboy untuk melihat siapa saja yang ada pada lokasi mereka. Pandangan para Boboiboy terlihat kosong untuk menatap, tidak tahu harus menuju kemana karena merasakan dimensi yang begitu hampa.
"BOBOIBOOOOYYY!"
Segera kekuatan gelap Fang aktifkan dengan membuat kubah bayang berukuran sangat lebar. Ia setidaknya mencoba, walau sebenarnya dia tidak tahu juga untuk apa melakukannya. Namun karena elemen kekuatannya memang berlawanan dengan serangan mereka, ia percaya apa yang dilakukannya setidaknya bisa membantu. Kenyataannya, ia kini bisa melihat sosok yang segera menarik para elemen Boboiboy itu satu-persatu ke atas.
Seperti makhluk astral, tapi mereka bisa menarik para elemental itu menaiki spaceship. Disana tampak Adu Du tertawa jahat.
Berkat kekuatan Fang—nama laki-laki pengendali bayang itu, Halilintar bisa melihat apa yang kini mengangkutnya ke atas. Sesosok perempuan tidak seperti ibu Adu Du—lebih tepatnya nyaris mirip manusia, memeluk pinggangnya ke atas walau tubuhnya tampak transparan.
"Lepaskan aku!" Halilintar menggoyangkan tubuhnya. Ia menyikut wajah perempuan itu namun tangannya tembus. "A—apa?!"
"Tusukan jari bayang!"
Bayang-bayang berujung runcing melesat menuju makhluk tersebut, ditusukkan tepat pada letak jantungnya jika ia berorgan seperti manusia. Sosok itu pun melebur menjadi seperti asap, dan Halilintar kini terjatuh mendarat pada tanah.
Napas Halilintar memburu seiring cahaya dan kubah bayang memudar, kembalinya dengan anggota Halilintar yang lain terseret masuk ke dalam kapal terbang itu. Bahkan Taufan, yang memiliki kegesitan tinggi hanya bisa mengerang ketakutan saat kepalanya akan masuk dalam pintu kapal disana. Ia yang paling terakhir ditarik setelah Air, Api, dan Gempa.
"TAUFAAAAANNNN! GEMPA! AIR! API!" Halilintar berteriak memanggil nama elemennya yang lain. Sorot matanya penuh dengan rasa takut berlebihan.
"Elang bayang! Kejar!" perintah Fang. Ia menunjuk poin pada kapal tersebut sebelum memudar sekedar mengomando. Tapi elang miliknya hanya meluncur lurus seakan tidak ada apa-apa disana. Kapal itu benar-benar hilang di tempat.
Kedua laki-laki itu terduduk lemas. Mereka hanya bisa memandang langit-langit kini. Tidak tahu mengapa tiba-tiba hal itu bisa terjadi, bahkan kenapa mereka tidak bisa sama sekali tersentuh. Dan sekarang masalahnya adalah—
"Aku takut pelupa lagi ...," lirih Halilintar dengan wajah horor.
"Paling kalau kau pelupa, aku bisa menahanmu," balas Fang. Dia anggota baru, jadi tidak tahu apa yang dialami Halilintar ketika kehilangan ingatan saat itu. Yang ia tahu, kalau pelupa paling tidak menahan pergerakannya saja sudah cukup.
"Kau tidak pernah lihat kalau aku mengamuk."
Fang pucat sebentar. Itu memang cukup terdengar menyeramkan di telinga pengendali bayang itu sendiri. Kesulitannya ialah menahan kawan tanpa menyakitinya, yang jauh lebih susah dari sekedar menyerang saja.
Halilintar bangkit dari duduknya dan membantu Fang ikut berdiri ketika tangan Fang diulurkan. Mereka mengedar sekitar. Bahkan sang kakek, Ochobot, beserta kedai dan rumah Boboiboy benar-benar lenyap. Adu Du dan Mega Probe si biang kerok semua ulah ini bahkan tidak tampak lagi batang hidungnya.
"Kurasa kita benar-benar diasingkan," Fang memecah keheningan sambil melipat dada. Haliilintar mendengus sebagai jawaban.
"Halilintar berhasil kau selamatkan, Fang?"
Suara itu ...
"Ochobot!" Fang berlari mendekat pada robot berbentuk bulat yang mengambang di dekat mereka. Ulasan senyum diberikannya pada pemberi kuasa mereka.
"Seharusnya kau biarkan saja dia ikut, kalau semua tidak bisa diambil."
Fang berdiam. Halilintar sedang mendekati mereka hanya memasang tampang datar kepada Ochobot.
"E—aku bukan bermaksud biar Boboiboy lenyap, tapi kalau Halilintar terpisah mereka gak bakal bisa jadi Boboiboy biasa, 'kan?"
Ringkikan jangkrik menggema sebentar.
"Eh iya ya ... Mending membiarkan semuanya pergi daripada cuma empat. Kenapa aku tidak kepikiran..."
"Itu lah kau."
"Apa kau bilang?!" Fang melotot kepada Halilintar.
"Ahaha ... sudahlah. Setidaknya hanya empat Boboiboy saja yang diculik," gadis berambut kuncir dua berkacamata sudah ada di samping mereka. Ia memakai topi kupluk kuning dengan dua pin terpasang manis pada sisi kiri. Perempuan itu berusaha membawa gadis berhijab ikut dengannya meski harus dengan membopong.
"Yaya kenapa?" tanya Fang khawatir.
"Dia cuma sedikit kelelahan ... tapi entahlah, dia tidak mau diajak bicara dari tadi."
"Ying ? Kalau kau bersama Yaya, mana Gopal?" tanya Haliintar.
"Katanya akan kesini sebentar lagi, tapi dari tadi belum datang kesini," desis perempuan serba berpakaian kuning itu yang dipanggil Ying.
"Aku sembunyi lah!"
Semua menoleh pada laki-laki bertubuh gemuk yang tiba-tiba saja sudah di sebelah Ochobot. Gopal—nama laki-laki itu—berdiri dengan wajah tidak tahu-tahu. Kedatangannya benar-benar merupakan misteri untuk Fang dan lainnya.
"Ochobot, bagaimana ini? Kalau Halilintar tidak bergabung bisa-bisa pantatku dibakar dia lagi!" tanya Gopal takut. Dia adalah korban nyata ketika Halilintar dengan brutal lagi seram menyerang mereka saat Halilintar lupa ingatan. Jadi wajar saja Gopal tidak mau kena untuk kedua kalinya.
"Betul juga, kalau Boboiboy tidak bergabung bisa-bisa semua mengamuk di tempat yang berbeda," pikir Ochobot.
"Sebenarnya, makhluk apa mereka? Seperti hantu, tapi mereka memakai kapal terbang," tanya Fang. "Dan janggalnya, mereka mempan dengan seranganku."
"Aku akan jelaskan, tapi dalam perjalanan kita nanti."
Semua menatap Ochobot kaget. "Perjalanan apa?" kompak mereka bertanya.
"Ying, aku boleh pinjam jammu?"
Ying langsung melepas jamnya lalu memberikannya pada sang pemberi kuasa.
"Memang, untuk apa itu?" tanya Halilintar.
"Aku akan beri kekuatan sesungguhnya dari jam ini. Tunggu saja."
=oOo=
"Kalau kau butuh apapun, kami akan berikan semua yang kau mau ... Adu Du."
"Senang berbisnis dengan Anda. Akan saya kabari hal lain jika saya butuh."
Wanita berumur paruh baya tanpa iris tersenyum dari depan monitor berlayar datar. Seperti isi kapal terbang biasanya, sekitar perempuan itu terdiri dari beberapa besi-besi yang diolah untuk menutupi kabel-kabel berwarna di dalamnya. Lantai berbahan dasar keramik yang terlihat licin namun jika dipijak tidak demikian.
"APA YANG KAU MAU?! LEPASKAN KAMI! KAMI TIDAK MELAKUKAN APA-APA PADA PLANET KALIAN!"
Gempa berusaha mungkin untuk membuka kerangka penjara dengan kedua tangan besarnya. Andai saja ia bisa membukanya, semua pecahan elemennya yang lain juga pasti bisa dilepaskan. Mereka dikumpulkan satu kurungan dekat dengan wanita yang melayang tanpa kaki itu. Tapi sudah beberapa kali dicoba, tanganya tidak bisa mengoyak sedikitpun besi itu.
"Tidak melakukan apa-apa?"
Perempuan itu melayang untuk mendekati sang pengendali tanah. Gempa ketakutan karena paras dari perempuan itu memang terlihat cantik namun juga seram. Seperti melihat sosok hantu.
"Tunggu sampai kalian mendapat tempat yang layak. Hihihi~"
"Bola api!"
Api melemparkan bola api yang ia olah dari tangannya kepada wanita itu. Ajaibnya, bola yang ia lempar langsung menipis lalu menghilang ke udara.
"Sudahlah, Api. Disini udara benar-benar dia padatkan walau kita masih bisa bernapas. Api tidak bisa bertindak liar," Air yang hanya duduk dengan menyenderkan punggungnya pada kerangka, menghela napas.
"Bahkan elemen air lebih pintar dari api, hoho."
Taufan menggertakkan giginya. Ia ingin sekali melemparrkan hover board miliknya kepada wajah perempuan itu, sangat ingin. Tapi kekuatan elemennya memang benar-benar dilumpuhkan sang gadis berpakaian gaun hijau berkerlap-kerlip itu. Dia hanya bisa duduk berjongkok dengan wajah menahan rasa kesal—melihat tampang meremehkan dari lawannya. Taufan memang tidak suka diejek.
"Kalian harus menurut pada dunia kalian jika ingin hidup. Aku jamin, apa yang kalian mau akan dikabulkan penghuni elemen masing-masing," perempuan itu kembali memaparkan wajah geli. "LALU AKU AKAN MENGUASAI SELURUH GALAKSI—AHAHAHA!"
"Ratu, kita sudah disambut oleh kedatangan Gnome."
Perempuan itu berhenti tertawa. Ia lekas membalikkan tubuhnya dan pria berpakaian ala pengwal itu membungkuk dengan duduk bersimpuh sebelah kaki.
"Tapi kita perlu sedikit 'bumbu' pada barang yang akan kita kirim. Bawa ramuannya?"
Pengawal pun menyodorkan satu buah botol berwarna hitam dengan batu hitam di atas tutup botol itu. Perempuan itu segera menarik botol itu lalu mendekati para pecahan Boboiboy yang sudah mencurigainya.
"Minum sedikit saja ramuan dari sini, dan aku akan janjikan teman kalian—Halilintar—tidak akan aku sakiti."
"Bagaimana kami percaya padamu?! Dia akan dibantu Fang untuk mengalahkan segala prajurit hantumu itu!" bentak Api. Api sempat melihat bagaimana Fang menyelamatkan Halilintar, makanya ia begitu yakin Fang pasti bisa membantu mereka nanti.
"Halilintar kalau di bawah kontrolku, pasti akan bisa menumbangkan kalian satu persatu."
Gempa tersenyum remeh, "Heh, lupa kalau dalam peraturan alam tanah tidak mempan dengan listrik?"
"Tapi sangat efektif untuk menumbangkan Api dan Air."
"Aku takkan mengampunimu!"
"Baik calon tuan tanah, aku capek untuk membujuk kalian. Kau pemimpin yang payah," wajah wanita itu yang tadinya pucat berangsur-angsur menjadi merah padam. "PRAJURIT!"
"AKKKHHHHHHHHH!"
Semua pecahan Boboiboy disengat dari dalam kurungan spontan. Mereka menjerit kesakitan di samping perempuan itu tertawa bahagia. Mengerang menderita sampai satu demi satu tumbang.
"Aku kagumi teknologi alien lumayan canggih, tapi masih kalah dibanding kekuatan sihir kami."
Penjara besi samar-samar menghilang. Para elemen yang terkapar kesakitan hanya bisa bernapas karena masih terbawa sakit akibat listrik tadi.
"Lucifer, our god from heaven with black-winged..."
Tutup botol dibukakan perempuan itu seraya merapal. Ia menutup matanya, lalu cairan hitam dari dalam botol membentuk panjang naik lalu memutari tubuhnya.
"You the ruler of the bad. Give me your strength to make more soldier to underworld!"
Cairan hitam itu memutar laju. Disaat yang bersamaan, listrik buatan kembali dilancarkan menyerang tubuh mereka. Air dan Gempa bersusah payah untuk mengatup mulut mereka. Mereka berdua tahu bahwa target cairan itu akan masuk melalui mulut mereka—seperti apa yang disuruh perempuan iblis itu sebelumnya. Mereka melihatnya begitu horor saat Taufan dan Api sudah menelan cairan itu dengan paksa.
Taufan dan Api bangkit dari pembaringan mereka begitu loyo seiring listrik tidak lagi menyerang mereka. Kedua mata mereka tertutup. Benar-benar mereka seperti mayat yang dikendalikan.
"Kalian berdua adalah prajurit Lucifer sekarang, yang berarti juga anak buahku. Aku perintahkan kalian untuk membuka mulut dua musuh kita ini!"
Kedua mata mereka terbuka sekejap. Gempa dan Air berusaha bangkit walau hanya dapat terduduk, dan sebisa mungkin mundur ke belakang menjauhi mereka yang mulai berjalan ke arah mereka.
"Kelihatannya ini benar-benar menarik. Aktifkan kembali udara bebas dengan tambahan nitrogen."
"Tapi kalau kapal ini terbakar, bagaimana?"
"Buatan alien memang lemah. Kita bisa meminta bantuan para klient kita nanti."
=oOo=
Halilintar duduk berjongkok memeluk kedua lututnya. Sesekali kepalanya ia gadahkan ke atas, memandang awan-awan yang berjalan dengan matahari yang lumayan terang menghangatkan bumi.
"Boboiboy—maksudku, Halilintar ... kau tidak ada rencana untuk menyusul Ochobot dan Ying dari pondok taman sana?" ajak Fang yang juga ikut duduk bersama Halilintar.
"Aku sudah beramanat untuk berjaga di sini," desah Halilintar.
"Aku ke sana ya?"
"Silakan lah."
Fang baru saja akan berdiri, namun gadis yang mereka tunggu akhirnya tiba secara langsung tanpa sepengetahuan. Perempuan berkacamata bundar itu memeluk robot kuning dalam dekapannya.
"Lama menunggu?" tanya Ochobot.
"Agak lah," jawab Fang. "Sudah selesai?"
Ying mengangguk. "Tadi aku bukan memakai lari cepat untuk sampai ke sini. Coba tebak apa yang kulakukan tadi?"
"Manipulasi waktu untuk lambat?" tebak Halilintar.
"Bukan."
"Kau hanya punya kategori stun dan haste," bantah Fang. "Apa lagi—ohhh... kekuatan dari Ochobot? Mau promosi ya?"
"Ying punya kekuatan teleportasi?!"
Yaya segera berhambr menuju mereka. Tampak dari wajahnya begitu bersemangat.
"Y—Yaya kok tahu?!"
"Tadi menguping dari Ochobot."
Semua menatap datar Yaya.
"Teleportasi? Kelihatannya keren," Gopal yang sedari tadi diam di sebelah Halilintar kini ikut bicara.
"Karena Ying memanipulasi waktu, dia punya bakat dalam bidang bermain waktu. Dia yang dulu hanya bisa lambat (slow) dan cepat (haste), kini kutambah berpindah (wrap) atau kata orang teleportasi," jelas Ochobot panjang. "Suatu saat kalau Ying mahir bermain jamnya, kekuatannya bukan lagi tiga kategori itu. Dia bakal bisa menggunakan kekuatannya untuk membatalkan kejadian (undo) dan melihat masa depan (future)."
"Tapi untuk apa teleportasi?" tanya Halilintar kembali.
"Kalian percaya tidak, kalau kapal mereka masih di atas kita?"
Semua ragu untuk menjawab. Mau dibilang iya, tapi di atas langit masih tampak wajar—dengan awan-awan berjalan juga matahari bersinar. Mau bilang tidak ... tapi mereka ragu kalau kapal itu pergi karena kapal itu hanya menggunakan penyamaran dengan menghilangkan diri kalau dipikir-pikir.
"Di dunia lain maksudnya. Kita gunakan kekuatan Ying untuk menuju ke sana."
"Kita akan pergi menuju daerah hantu?!" Gopal kelihatan panik untuk sekarang. Dari dulu dia sudah pernah dikenal penakut untuk urusan sulit apapun, apalagi melihat penampakkan dengan proposi tubuh berbeda dari manusia normal. Multi monster misalnya, juga monster koko. Kedua makhluk aneh dari dunia alien saja sudah membuat Gopal rela panjat pinang.
"Ochobot, kau berjanji akan menjelaskan apa yang terjadi dan mengapa mereka menculik diriku yang lain bukan?" Halilintar memilih bertanya daripada memperpanjang masalah Gopal yang tidak ada habisnya. Dari tadi ia selalu menunggu jawaban Ochobot akan itu.
"Kakek kayaknya nyasar. Kok sudah lama tidak kelihatan datangnya ya?" tanya Ochobot pada dirinya sendiri.
"Ochobot!"
"Enghh... baik kalau kau memaksa. Jadi, dalam semesta ini punya empat elemen dasar. Tanah, api, air, juga angin. Dan di dunia alien, mereka sudah akrab dengan para makhluk mistis yang menjaga keempat elemen itu," mulai Ochobot bercerita. "Lalu suatu hari, bangsa alien dan keempat penghuni elemen itu berkelahi karena alien dituduh melumpuhkan ketua elemen mereka. Mereka tidak pernah akur sampai sekarang."
"Adu Du merekomendasikan keempat bagianku untuk jadi pengganti ketua baru," Halilintar sudah membaca alur cerita dari Ochobot sendiri.
"Kalau mereka masing-masing di dunia mereka, Halilintar akan kesusahan mengingat alasan hidup. Aku akan bicara baik-baik dengan mereka bahwa kau lebih butuh mereka dari para rakyat itu sendiri. Atau ..."
"Atau Halilintar akan mengamuk."
"Lebih parah lagi. Atau alien akan menginvasi bumi. Jadi, kita perlu pergi ke empat dunia. Tanah, api, angin, air."
"Perlu kah kita melakukannya?" tanya Gopal ragu. "Dunia seperti dalam cerita Horbit itu?"
"Kau mau tinggal hingga ada kapal alien datang ke sini?"
"Aku ikut!"
Jawaban antusias Gopal sontak membuat keempat orang disana tertawa kecuali Halilintar.
"Siap semua?" tanya Ying. Semua membentuk formasi melingkar hingga tagan Fang dan Yaya digenggam Ying kiri-kanan.
"Teleportasi!"
=oOo=
"Aku menangkap sinyal jiwa aneh dari dunia tanah."
Perempuan itu hanya duduk di singgasana kapal tenang. "Manusia bukan? Aku sudah yakin Halilintar pasti akan mencari teman-temannya yang lain."
Seseorang menuangkan sampanye dari cocktail dan ia berikan kepada perempuan itu. Perempuan itu menerimanya, dan segera menegaknya sampai habis.
"Gempa, kau baik-baik disana."
Sosok laki-laki dengan jaket hitam bercorak kuning emas itu menggangguk dengan tangannya yang masih memegang botol sampanye. Ia melangkahkan kakinya ke depan, membuka pintu ruang utama perempuan itu duduk.
"Aku akan mengantar ketiga saudaramu yang lain ke dunianya masing-masing. Ingat rencananya, ya Gempa~?"
"Yes, my majesty."
=To be Continued=
A/N: Sebenarnya saya paling takut sama cerita ada controlling gituan tapi argh—nanti gak jadi survival game pulak! Deadline masih jauh kok ... walau gak jauh amat ahaha... *mencoba menenangkan diri*
Anyway saya berterima kasih sama penyelenggara challenge karena sungguh ini cukup menantang. Rencananya mau aplod di AO3 karena ini fantasy but disuruh dif fn doang ...
Takut sama the power of kepepet yahaha!
