BoBoiBoy © Animonsta Studios

Element Dimension

.

.

.

Enjoy!

.

.

.

For #RGSurviveChallenge

.

.

.

"Uhuk! Uhuk!"

Dari depan wastafel, laki-laki dengan topi diletakkan terbalik itu terbatuk-batuk hebat. Juga beberapa kali suara besar seperti muntahan ikut mengiringi batuk itu. Tidak cukup lama, suara tersebut tidak terdengar kembali. Keran wastafel ia putar dan air mengalir bening darinya. Tangannya ia bentuk seperti mangkuk guna menampung air disana, ia dekatkan pada mulutnya dan berkumur.

Laki-laki itu membuka mulutnya lalu membuang air yang tadinya terbenam dalam mulutnya. "Hahh ... masih baik aku tadi berpikir cepat. Tapi perisanya saja sudah membuat kepalaku terhuyung-huyung ..."

Gempa mengingat-ingat kembali peristiwa ketika Taufan dan Api menyerangnya.

.

.

.

.

Tubuh kedua laki-laki yang terduduk itu gemetar hebat. Kedua mata mereka terbelalak ketakutan. Apa yang mereka hadapi adalah kedua orang yang kini dipermainkan ingatannya di bawah seorang iblis yang menyerupai manusia. Masalahnya, Air dan Gempa notabenenya tidak bisa menyakiti orang yang mereka sayangi. Mereka akan kesulitan untuk bertahan saat kedua saudara mereka itu akan mencoba menyerang.

"Pusaran angin!"

Api mempercepat langkahnya memasuki pusaran yang dibuat Taufan. Tangannya ia gadah pada inti putaran angin.

"Api puyuh!"

Gempa segera menarik Air dan menggunakan tangan bersarung tanahnya untuk berlindung. Percuma. Bagaimanapun, api kombinasi Taufan dan Api tidak bisa ia tahan karena tidak ada benteng tanah. Mereka berdua terlempar. Air menindih tubuh Gempa dengan posisi terbaring. Wanita yang terlalu asyik menonton itu tertawa.

"Pertarungan antar saudara itu lucu!" perempuan itu bertepuk tangan kagum.

"Aku ... ga bisa mengeluarkan elemenku sama seperti kamu ...," liriih Air sedih. "Kuharap Halilintar membantu kita sekarang."

Tatapan Gempa menerawang. Ia juga ikut sedih melihat wajah Air yang begitu pasrah menantikan keajaiban datang. Gempa ingin saja mengatakan hal yang manis, tapi keadaan mereka benar-benar terpojok hingga ia tidak yakin bahwa mereka bisa menghadapi masalah kali ini. Gempa tidak ingin munafik.

"Buka mulut mereka!"

Api dan Taufan mengangguk mengerti. Gempa yang masih di bawah tubuh Air memeluk saudaranya itu kuat. Api memaksakan tubuh Air untuk menjauh dari Gempa seberapa kuatnya mereka berpelukan, diikuti Taufan yang menarik kedua pundak Gempa ke atas. Gempa dan Air akhirnya tidak kuat untuk saling memeluk dan mereka terpisah. Api menahan langsung mulut Air, dan Taufan melakukan hal yang sama terhadap Gempa. Mulut mereka dibentuk kerucut mirip bebek.

Air meminumnya, dan Gempa menyaksikan itu dengan horor.

.

.

.

.

'Dan aku menahannya sebelum masuk pada kerongkongan. Syukur aku sedikit pintar,' Gempa menutup matanya lalu menghela napas. 'Tapi pengaruhnya masih ada terkadang. Bagaimana dengan mereka yang minum cukup banyak sampai seperti satu gelas?'

Gempa memandang wastafel di depannya datar. Menatap ekspresi wajahnya, mengandaikan bila wajahnya seperti saudaranya yang sudah bertampang layaknya mayat hidup. Ia bergidik sebentar.

"Gempa?"

Laki-laki bertopi letak terbalik itu menolehkan kepalanya, dan dari depan pintu ia dapati laki-laki berwajah sama dengannya. Hanya beda letak topinya yang tampak menunduk menenggelamkan kedua irisnya itu.

"Iya, Air?" Gempa berakting untuk berekspresi datar.

"Kapan ke aula? Ratu sudah menunggu. Nanti bisa-bisa kita membuat tamu marah."

"Gnome sedikit ramahan kudengar. Mereka akan baik-baik saja kalau aku belum keluar agak lama."

Gempa sebenarnya tidak yakin. Tapi ia pernah dengar dari ratu ketika kesadarannya pulih samar, kalau Gnome ia katakan makhluk yang baik.

"Mungkin saja. Kalau mereka batal menarikmu, rencana ratu bisa gagal."

"Rencana? Ratu ada diskusi denganmu?"

Air mengangguk, "Dia bilang dengan begitu ia akan awet muda dan menjadi spirit dengan sihir terkuat. Awet muda adalah sumber kekuatannya. Jika dia tua, dia akan mati."

"Kita harus bisa mempercepat pelaksanaan itu!" dalam hati Gempa sedikit jijik. Hanya demi biar tidak dicurigai dia tidak di bawah kontrol pimpinan jahat, ia harus memberi pengecoh. Air orang yang mudah mengamati dan curiga, jika ada satu hal janggal saja ia bisa mengendusnya.

"Padahal cara untuk melumpuhkan ratu juga karena mengumpulkan keempat pemimpin elemen. Kudengar begitu. Aku tunggu susulanmu."

Air meninggalkan Gempa yang berdiri terpaku. Kedua mata Gempa sedikit membesar untuk berekspresi kaget.

'Oh jadi begitu.'

=oOo=

Portal dari langit bernuansa kuning cerah terbuka dan memuntahkan manusia dari dalamnya. Kelima bocah dan anak gadis beserta satu buah robot berbentuk bundar itu terjun bebas.

"AAAAAAA!"

"Shh! Diamah, Gopal!" bentak laki-laki berkacamata itu kepada orang yang lebih tua setahun darinya. Kedua lengannya masih mengenggam kuat tangan gadis beketurunan negara sama dengannya, dan laki-laki yang masih berteriak ketakutan.

"Fang bisa mengeluarkan elang bayang. Yaya bisa meringankan tubuhnya untuk terbang. Aku dan Halilintar bisa memanipulasi kecepatan hingga kami bisa turun tanpa khawatir gravitasi menabrakkan tubuh kami pada tanah," kata gadis dengan topi kupluk kuning itu.

"Ochobot saja bisa terbang," timpal gadis dengan hijab merah muda. "Hayo Gopal mau mendarat bagaimana?"

"Kalian ini!" bocah bertubuh gendut itu menyahut dengan wajah masih terbilang khawatir. Semua tertawa. Pemimpin lingkaran itu—Ying—mencondongkaan tubuhnya selagi jatuh bebas. Semua masih mengenggam erat dua teman di samping mereka.

"Pegangan ya!"

Semua mengangguk. Ying melangkahkan kakinya di udara, dan semua orang di udara menghilang karena kekuatannya. Dari depan pohon yang besar, teman-teman Ying beserta dia sendiri berdiri dengan mendongak apa yang mereka tangkap.

"Pohon beringin yang besar," ucap Fang kecil. "Pasti umurnya sudah ribuan tahun."

"Lihat saja lingkaran batang pohonnya, benar-benar lebar," sambung Yaya.

"Apa yang membuat kalian tertarik dari sebuah pohon?" tanya Halilintar cuek. Kedua tangannya ia lipat di dada.

"Hei disini ada tulisan!"

Kelima bocah yang tadi sibuk melihat pohon, berbarengan menghampiri robot berbentuk bola itu. Tangan mekanik sang robot mengusap-usap batang pohon. Pelan namun pasti, tangannya menyapu habis debu yang menutupi tulisan itu. Lima pasang mata yang memerhatikan tingkah Ochobot memandang tulisan itu kemudian.

Love to telling, but hate to explain

"Suka bilang, tapi benci menjelaskan," Fang mengusap dagunya. "Maksudnya apa?"

"Entah. Mungkin tulisan iseng?" sahut Ochobot. "Sekarang kita coba saja menjelajah tempat. Siapa tahu ketemu pintu masuk."

Mereka semua menjelajah tempat tersebut dengan terpisah. Fang dengan mengendarai elang bayangnya mengitari sekitar hutan. Ying dan Halilintar sama-sama berlari cepat mengecek titik-titik yang mereka curigai merupakan sumber pintu. Lain dengan Yaya yang melihat ke dalam pohon besar satu-persatu.

Gopal dan Ochobot masih dari posisi awal mendarat. Mereka hanya bisa menunggu hasil informasi. Gopal tidak ikut berpencar karena tubuhnya yang besar sampai tidak punya kekuatan khusus untuk bisa menjelajah praktis seperti teman-temannya. Makanya ia ditugaskan menjaga Ochobot.

"Lama lah ini," Gopal mulai suntuk.

"Sabar lah."

Mereka berdua kembali terdiam. Gopal beranjak dari tempatnya berjongkok. Ia kembali lagi memandang pohon besar itu. "Hmm, aku merasakan pohon ini sepertinya portalnya," Gopal mengusap-usap dagu. "Dan kata-kata tadi, sepertinya berkaitan dengan pintu masuk."

"Gopal! Kau jenius!"

Gopal memang sering menonton acara-acara detektif. Walau tampang tidak meyakinkan pintar, hobinya hanya makan dan tidak suka belajar, tapi jika urusan misteri di depan matanya dia memang suka sekali berpikir kritis. Semua itu karena lagi-lagi hobinya yang menonton acara penyelidikan. Kadang Ochobot selalu berharap Gopal bisa diharapkan sekali saja. Mungkin kali ini Gopal bisa.

"Jadi dia bilang 'suka bilang, tapi ga suka jelasin' bukan?"

"Ochobot! Kami menemukan pintu portalnya!"

Gopal dan Ochobot menoleh pada Fang beserta elang bayangnya yang ingin mendarat.

"Semua sudah tahu disana?" tanya Gopal kaget.

"Sudah! Aku menjemput kalian saja lagi! Yaya dan Ying duluan ke sana bersama Halilintar!"

Ochobot membatin, 'Biar bagaimanapun, Gopal tidak cocok untuk masalah yang berhubung dengan kepintaran.'

=oOo=

Gempa mengitari pepohonan pelan. Di samping ia berjalan, sosok manusia mungil setinggi lutut Gempa dengan punggung dan bertopi cangkang keong ikut menggiring.

"Tanaman dan tanah saling bersinkron ya? Tanpa tanah, pepohonan tidak akan bisa hidup," kata Gempa. "Sebagai ganti tanah memberi asupan kehidupan sang pohon, pohon melindungi tanah agar tidak mudah terkikis dengan akar-akarnya."

"Betul sekali! Seperti itulah tugas dari penjaga hutan kepada kami! 'Dia' selalu melindungi kesejahteraan kami karena memberinya kehidupan bertetap!"

"Jika ada 'dia', untuk apa aku dibutuhkan? Kalian bilang sebagai inti sumber kehidupan, aku kalah kalau bersaing dengannya."

"Sebenarnya penjaga kami tidak suka dengan ratu kalian. Ambisi iblis Eclair itu terdengar sampai seluruh penghuni kaum spirit."

"Jadi ... aku sebenarnya tidak diinginkan bukan?"

"Kami punya alasan membeli tuan. Sebenarnya tuan juga inti yang bisa menghancurkan ratu iblis itu. Phoenix yang bahkan bulunya terbuat dari api pun akan mati oleh apinya sendiri, 'kan?"

'Phoenix juga bisa mati dengan kuasanya sendiri...'

"Dipohon inilah sumber kehidupannya," Gnome itu berhenti pada suatu pohon cukup besar. Kepalanya mendongak untuk memerhatikan cahaya matahari yang merembes pada sela-sela daun. Seketika, batang pohon itu sudah berlubang yang ukurannya tidak cukup besar, namun mampu dimasuki Gempa sendiri. Gnome itu berjalan masuk ke dalam batang pohon diiringin Gempa dari belakang.

'Apa maksud Air waktu di toilet itu adalah ...'

=oOo=

Fang berjalan bersama Ochobot dan Gopal menuju sebuah gua yang tidak jauh dari lokasi Fang menjemput kedua temannya itu. Sebenarnya mungkin menaiki elang bayang lebih praktis, hanya saja tubuh Gopal yang berat membuat snag burung tidak bisa dikendarai. Biar adil, Ochobot menyuruh Fang untuk berjalan bersama mereka tanpa kuasa. Pengendali bayang tidak keberatan, ia memang kasihan kalau meninggalkan Gopal sendirian berjalan. Halilintar dan yang lainnya sudah menoleh pada mereka dari depan gua.

"Kami sudah coba masuk, dan karena takut nyasar kami menunggu kalian. Jadi sekalian berbarengan perginya," kata Yaya. "Kalian akan kaget apa yang ada di dalam! Cantik sekali loh!"

"Berlian dimana-mana! Gua itu sungguh bercahaya!" sambung Ying semangat.

"B—berlian?!"

Gopal yang mendengar nama batu itu saja dengan kaki seribu memasuki gua tanpa tanggung-tanggung. Kedua iris merah delima Halilintar menuju arah Gopal dengan bibir sedikit dimajukan.

"Kalau ada apa-apa, baru tau rasa."

"Jangan mendoakan dong, Halilintar," sebat Yaya.

"Daripada kita hanya disini, kenapa tidak ikut masuk juga?" Fang yang menggendong Ochobot pun masuk ke dalam gua urutan kedua. Ying ikutan masuk di belakang dengan mengangguk sebelumnya. Halilintar dan Yaya saling berpandangan sejenak.

"Boboiboy ..."

"Hmm?"

"Kau tidak merasakan firasat apapun dari personamu yang lain? Kalian 'kan satu, seharusnya—"

"Aku merasakannya disini. Dari sejak kita jatuh ke langit," Halilintar memutar tubuhnya melangkah ke dalam gua. "Tunggu apa lagi? Kau mau lama-lama disana?"

Yaya memang tidak suka dengan sisi dingin Boboiboy ini. Sejak dari Petir berevolusi menjadi Halilintar; sampai menyerang mereka dengan bergaya sok keren, sejak itu Yaya agak segan kalau Boboiboy memecah dirinya menjadi tiga. Bukannya dendam, tapi Yaya takut Halilintar yang suka seenaknya itu jadi beban Boboiboy. Cukup Api yang saat itu mencemarkan nama baik pemimpin geng mereka, walau Api sebenarnya hanya tidak sengaja.

"Rasanya aku tadi sedang melayani para pembeli, bukan?"

"Hum? Maksudmu?" sahut Halilintar penasaran.

"Aku kaget kenapa mendapati diriku seperti telah diserang dan Ying seperti cowok merangkulku."

Halilintar memandang Yaya, "Juga bagaimana Fang bisa ditemukan terkapar dari meja pelanggan. Aku sedikit heran pada bagaimana para pelanggan tidak ada, bagaimana para hantu bisa memakai kapal angkasa, dan semua itu membuatku gila memikirkannya."

Halilintar muak untuk berpikir dan membiarkannya mengalir saja. Toh, ada yang lebih penting dari sekedar bernostalgia. Perempuan berhijab itu mengekori Halilintar. Tidak berapa lama mereka mengarungi isi gua yang cukup bercahaya itu, terlihat teman-teman mereka yang sebelumnya sudah masuk berdiri dari pintu gua lain. Halilintar dan Yaya mempercepat langkah mereka menghampiri.

Pepohonan banyak dengan rumah-rumah berukuran kecil mendominasi mata mereka saat memandang sekitar. Sinar matahari yang cukup terang namun sejuk membiaskan cahayanya pada sungai yang mengalir tidak jauh dari lokasi mereka, dan terlihatlah kerlap-kerlip cahaya indah mengitari dengan pelangi samar-samar berukuran kecil. Halilintar memimpin rombongan untuk keluar dari gua lalu menjelajah hutan tersebut. Beberapa kali Fang dan kawan-kawan yang di belakang Halilintar menggerakkan lehernya ke kanan kiri melihat semua pohon berlubang. Semua bertanya-tanya siapa yang menghuni dunia indah ini, pasti. Dan mereka menemukan jawabannya saat ada manusia kerdil dengan cangkang siput di punggungnya keluar masuk salah satu pintu pohon.

Yaya menghampiri makhluk itu, yang hanya dapat responan datar darinya. Biasanya kalau ada makhluk aneh bertemu manusia, mereka akan ketakutan lalu bubar untuk berlindung seperti di animasi-animasi buatan negara luar dalam dunia fantasi. Ternyata semua tontonan luar tidak seratus persen benar.

"Emm... permisi ... kamu ada lihat manusia seperti pria ini sendirian disini?" tanya Yaya dengan menunjuk Halilintar. "Cuma jaket dan topinya beda, urr celananya juga."

Makhluk itu mendongakkan wajahnya melihat Hailintar. Raut wajahnya tampak masam.

"Ada lihat?"

"Untuk apa kalian tahu?"

Semua memandang tidak percaya kepada makhluk itu. Dia menyahut begitu sarkasme.

"Kami ingin mencari Boboiboy yang lain—dan kami merasa dia ada disini. Jadi, kamu melihat atau tidak?" tanya Yaya sekali lagi.

"Sudah lah, kalian membuang waktuku! Aku mau pergi berkemas-kemas nih!"

Gopal mengusap dagunya. "Waktu itu kami kehilangan sahabat kami yang diculik hantu. Katanya dia punya rencana untuk menaruh pecahan Boboiboy ke dunianya masing-masing sesuai elemennya. Disini dunia tanah, jadi kami berfirasat dia ada disini."

"Hooo—jelas dia ada disini! Sekarang dia sedang berada di inti kehidupan untuk membuat dunia para Gnome terlindungi!"

Keempat anak-anak dan satu robot disana heran saat Gnome mau memberi Gopal informasi. Mereka mengira sepertinya makhuk kecil itu sekarang punya semangat untuk membalas.

"Gnome itu apa?" bisik Ying pada makhluk itu.

"Apa urusanmu?"

Halilintar meremas tangannya kesal, dan disaat itu Gopal langsung menahan pundak bocah bertopi itu. Dia mendekati telinga Halilintar untuk berbisik, "Kau ingat peringatan di pohon waktu itu?"

"Kenapa?"

"Ini ada kaitannya dengan itu! Kita tidak boleh bertanya tanpa membagi informasi!"

Halilintar membulatkan matanya. "Hoo... jadi kita harus membagi informasi dan dia juga akan memberi, begitu?"

"Iya. Seperti ini," Gopal melepas pundak Halilintar. Dia akan mencontoh bagaimana untuk berkomunikasi. "Jelas saja dia menjadi inti kekuatan, karena elemen yang dikuasainya memang tanah. Lagian, dia memang cocok sebagai inti dunia ini! Aku bisa bayangkan jika dia di sana."

"Benar sekali! Aku tahu dimana tempatnya. Siapa namamu, teman? Aku jack!"

"Aku Gopal! Pohon-pohon disini cukup banyak, dan aku yakin disini beberapa pohon sudah berumur rratusan tahun."

"Wah kau manusia tapi sudah tahu seluk beluk hutan ini!"

Gopal melirik semua temannya yang hanya bisa terdiam. Ia mengedipkan sebelah matanya. Kadang hobinya yang menyukai permainan konsol sedikit berguna untuk tema fantasi, 'kan?

"Aku mau pergi dulu pada pohonnya. Dengan membayangkan saja tidak cukup."

"Oh aku akan tunjukkan dengan senang hati! Ikuti aku!"

Gnome itu berlari. Gopal memberi aba-aba agar teman-temannya juga ikut menggiring manusia kerdil bercangkang siput yang sudah lari agak jauh dari mereka. Gopal paling duluan pergi disusul Yaya di sampingnya.

"Gopal, kok kamu tahu kalau dia tidak suka ditanya?"

"Ingat ketika Fang menterjemahkan tulisan di pohon? Memberitahu, bukan menjelaskan. Definisinya hampir sama, tapi mereka sebenarnya beda! Memberitahu itu akan diberikan tanpa bertanya, tapi kita tidak mungkin mendapat informasi yang kita inginkan tanpa pancingan yang bersifat memberitahu juga."

"Berita dibalas berita. Wow Gopal, kau pintar!"

Gopal sedikit tersipu. Andai dunia yang mereka tempati ini seperti permainan RPG yang pernah dimainkannya, apakah pujiannya akan sama? Gopal tidak pernah dipuji—malah ayahnya, Kumar, sering menodongkan rotan andai menemukan anaknya memegang stik game console saja.

Gnome itu berhenti pada suatu pohon yang cukup besar. Mereka berlima beserta satu robot itu pun terhenti, lalu bersama-sama mendongakkan kepala mereka melihat atas pohon.

"GEMPA!"

Semua memandang Halilintar, yang masih mendongakkan kepalanya. Lalu kembali melihat ke mana kedua mata Halilintar berfokus. Ada laki-laki dengan topi terbalik menutup matanya mengambang pada sebuah bola coklat transparan. Tubuhnya melayang-layang disana. Tanpa pikir panjang lagi Halilintar menggunakan lari kilatnya menaiki batang pohon untuk mencapai tubuh pecahan lainnya yang merupakan pengendali tanah.

"Dia tadi mengamuk, makanya kami kurung."

Gopal menoleh pada Jack. Sementara itu Halilintar yang sampai di depan Gempa itu menyentuh bola transparan. Ia berbisik, "Hei aku kembali. Dimana yang lainnya?"

Kedua iris emas bocah dari dalam bola itu terbuka. Napas kecilnya terdengar pelan dari sana. Ia menggeram, membuat Halilintar mundur ke belakang spontan saking kagetnya. Gempa langsung menubrukkan pundaknya pada bola itu beberapa kali.

"Dia di bawah kendali iblis."

"HALILINTAAARR! HATI-HATI, DIA BUKAN GEMPA YANG KITA KENAL! Argh—elang bayang!" Fang membuat elang bayang dan menaikinya menuju atas pohon. Halilintar masih dalam posisinya duduk dengan kedua tangannya ke belakang untuk memapah tubuhnya.

"Gempa...?"

"Kami bisa menyelamatkan teman kami, Jack! Kau tidak perlu membuatnya tersiksa seperti itu!" mohon Gopal. "Percayalah pada kami... kami temannya..."

"Kalian hanya perlu menemui penjaga kami. Dia adalah pohon terbesar yang cantik!"

Gopal memandang Ying dan Yaya, memberi sirat apakah mereka mau mencari. Kedua anak gadis itu mengerti dengan menganggukkan kepala serta senyuman kecil. Ochobot mereka biarkan tinggal.

Fang yang sampai pada ranting yang sama dengan Halilintar dan Gempa itu menarik tangan Halilintar segera. "Menjauh dulu. Kita akan pikirkan bagaimana menyelamatkannya."

"Setelah perjalanan kita yang sulit ini?!" pekik Halilintar. "AKU AKAN BERITAHU KAU... AKU TERIMA RESIKONYA MESKI DIA BUKAN GEMPA YANG KUKENAL ATAU APA, KARENA DIA ADALAH AKU!"

Aksi Gempa menubruk terhenti. Ia terduduk, memegangi kepalanya begitu kuat. Halilintar melihat sekilas buliran air mata jatuh dari pelupuk matanya. Titik air matanya tersentuh kontak dengan permukaan ia diam. Bola yang mengurung tubuhnya langsung hilang tergantikan kerlipan-kerlipan cahaya dari sekelilingnya.

"Mau dia jahat atau baik, mau dia tidak sebijaksana yang biasa kukenal, tapi—dia... dia tetaplah Gempa ..," Halilintar berdiri. Ia berjalan hati-hati menuju Gempa yang masih terduduk dan hanya diam di depannya. Sebelah tangannya ia ulurkan.

"Golem tanah!"

Raksasa batu muncul dan mencengkeram tubuh Halilintar. "G—Gempa ... ukhhh—"

"Kau diinginkan ratuku untuk menjadi boneka yang terakhirnya."

"Jari bayang!"

Tangan-tangan gelap membuka paksa tangan golem untuk dibuka. Halilintar ikut berjuang disana, untuk membuka lengan batu dengan menyangkutkan pedang halilintarnya di tengah. Golem dan Gempa meringis kesakitan setelah satu lagi pedang halilintar ditancapkan pada buku-buku jarinya.

"Tch! Kau ingin pertarungan?! Gerakan kilat!"

=oOo=

"Pohon terbesar yang cantik? Aku mengiranya bahwa pohon itu seperti pohon hias."

Ketiga anak-anak—Gopal, Yaya, dan Ying—tiba pada suatu pohon yang mereka lihat saat pertama kali mendarat dari dunia tanah. Yaya mendongak untuk melihat pohon itu lebih lama.

"Selama aku menanam, aku tidak pernah dengar ada pohon hias bisa memiliki lingkaran umur besar," kata Yaya. "Yang terbesar yang aku ketahui itu, hanya pohon yang pertama kali kita jumpai. Ya ini."

"Tapi pohon itu bukan pohon hias," sahut Gopal.

"Mungkin dia menyimpan pohon yang cantik! Kita coba cari celahnya!" Yaya begitu bersemangat dan berkeliling pada batang itu menggunakan terbangnya.

"Yaya!"

Yaya berhenti namun masih mengambang di atas. Ia mengarahkan jamnya dan melihat layar fatamorgana berbentuk bola yang tadi memanggilnya, "Kenapa Ochobot?"

"Fang dan Halilintar melawan Gempa! Kalian harus cepat menemukan pohon itu!" perintah sang robot dengan suara agak panik.

"Tapi bagaimana?! Kami bahkan tidak tahu maksudnya pohon cantik! Kami tidak menemukan celah dari pohon yang kami kelilingi ini!"

"Aku percaya dengan kalian. Hanya itu...yang bisa kulakukan..."

Layar fatamorgana itu tertutup. Yaya turun dan langsung duduk meringkuk kedua lututnya. Ying dan Gopal menghampiri.

"Kenapa, Yaya?"

"Halilintar dan Fang melawan Gempa. Halilintar tidak bisa menghadapi Gempa dengan mudah, apalagi Fang," Yaya mendesah. "Apa kita kembali saja?"

"Mana boleh kita kembali ..."

Yaya kembali menunduk lalu mendesah. Kepalanya ia angkat. Sembari berpikir, matanya terus menjelajak berlainan titik melihat sekitar, dan ia melihat sebuah tanaman kecil kering disana. "Tunggu, aku akan segera kembali."

"Yaya! Kau mau kemana—"

"Tunggu saja!"

Gadis berhijab itu menggunakan kekuatan jamnya lalu terbang meninggalkan Ying dan Gopal. Yaya menemukan kayu bambu. Ia turun lalu mematahkannya degan tinjuan setelah satu ruas dan menuju sungai untuk mengisinya. Setelah itu ia kembali dan menyiram bunga tersebut.

"Kukira kau mau membantu Halilintar dan Fang. Tadi kami sudah mau menyusul," kata Ying. "Untuk apa membawa bambu segala?"

"Kasihan tanaman ini kering padahal yang lain rimbun," Yaya menghampiri target tanaman yang ia maksud dan menuangkan air. Semua berdecak kagum dengan hati Yaya. Bisa-bisanya sempat berpikir untuk peduli pada tumbuhan, selagi masalah yang jika tidak dijalani baik akan berakhir buruk. Itu lah Yaya.

Gopal melihat hal yang aneh, ketika pohon besar yang tadi mereka cari menghilang. Membentuk cahaya kerlap-kerlip dan disana tampak wanita paruh baya dengan gaun mewah lengkap dengan sulur-sulur tanaman mengikat. Ia menyenggol Ying di sebelahnya sambil memberi isyarat ada wanita yang akan menghampiri mereka.

"Siapa namamu, nak?" kata gadis itu kepada Yaya. Yaya terperanjat.

"A—aku Yaya."

"Kau ... penjaga hutan ini?" tanya Ying langsung. Perempuan itu tertawa.

"Aku Dryad, pohon besar penjaga hutan ini. Namaku Eloise."

'Dia benar-benar cantik,' batin Gopal kagum.

"Teman kalian dalam masalah, bukan? Aku beritahu kalian sesuatu, tapi berjanjilah padaku bahwa kalian akan menjaga teman kalian itu baik ketika aku membantu kedua teman kalian itu nanti."

=oOo=

Pedang halilintar berusaha membelah bebatuan yang kini melindungi orang dari belakang bukit itu. Dari belakang, Gempa dengan satu tangan meletakkan telapak tangannya pada dahan pohon. Sedangkan tangannya yang bebas masih memegangi kepalanya. Kedua matanya menyipit kesakitan.

"Halilintar, Gempa sepertinya sadar!" teriak Fang. Dia menggunakan elang bayang miliknya untuk mendekat.

"Jangan mendekat! Sadar belum berarti pulih!"

Fang tidak mendengarkan. Dia masih mengomando elang miliknya mendekat.

'Jangan ... Fang ... Halilintar benar ...'

"Apa yang kau lakukan? Habisi satu saja."

Kedua mata Gempa terbelalak. Ia menoleh pada Fang yang akan mendekatinya menyipit. Tangannya ia kepal, meninju dahan pohon. Gundukan tanah berbentuk ombak muncul dari sisi pohon dimana terdapat Fang yang masih terbang.

"FAAAANNGGG!"

"H—hah?!"

Halilintar melepas pedangnya dan mengaktifkan gerakan kilat untuk menarik Fang segera. Ia sudah mendapatkan sebelah tangan Fang, namun ombak tanah begitu cepat menelan mereka sampai Ochobot dan Jack yang di bawah sendiri. Bahkan pohon yang menjadi arena mereka bertarung sudah bermodel lain. Dahan-dahan berpatahan dengan daun pohon tidak lagi lebat.

"T...teman-teman ..." Gempa tumbang pada dahan yang masih kokok dipijakinya. "Ahaha... AHAHAHA!"

"Ukh..." Halilintar yang beruntungnya masih belum tertanam tanah mencoba menarik Fang. Fang tadi sempat menggunakan perangkap bayang untuk menciptakan penolakan agar tanah tidak menimbun tubuhnya meski sementara. Sayang, Fang tidak bisa masuk ke dalam ia hanya tujukan kepada Halilintar.

"Kalau kau tidak bersatu dengan Boboiboy lain, kau sama saja dengan kehilangan dirimu biasanya. Aku harap kau bisa sadarkan Gempa ..."

Halilintar ingin menjerit. Ia marah dengan tindakan Fang yang memilih melindunginya dari diri sendiri. Mungkin jika Halilintar masih bisa kuat bicara, dia past sudah memaki Fang tak henti. Ia tidak sempat membalas kata-kata Fang sewaktu dalam ombak tanah.

"Kau puas, Gempa ...," Halilintar melotot kepada Gempa yang sudah berdiri di dekatnya. "KAU PUAS MENYAKITI TEMAN-TEMANMU SENDIRI?! KAU LUPA ALASAN KAU MENJADI GEMPA?! KAU LUPA KENAPA BISA MENGELUARKAN GOLEM NAGA TANAH?!"

"Kau banyak bicara."

Tangannya ia dentumkan kembali, dari belakang Gempa keluar tangan panjang dengan nuansa ungu dan jingga cerah menuju arahnya. Lagi-lagi Halilintar dicengkeram.

"Kau ikut denganku menghadap ratu. Tenang, kita semua akan menyatu. Air, Api, dan Taufan ditempatkan pada elemennya hanya untuk berjaga-jaga bila temanmu berhasil melewatiku mereka yang akan bertindak selanjuutnya."

"Jadi... rencana 'inti elemen' itu..."

"Ratu tahu resikonya. Dia hanya pura-pura menyepakati," Gempa tersenyum horor.

"Tumbukan padu!"

Gempa terlempar dan lengan tanah langsung luntur disaat itu juga. Halilintar terlepas dari cengkeraman lengan berunsur tanah itu dan terlempar. Seharusnya tubuhnya sakit jika terlempar. Tapi ada sesuatu yang menahan punggungnya dan menjadi alas empuk baginya.

Sulur-sulur membentuk bantal untuk menjadi landasan pembaringan Halilintar. Dia hanya terdiam ketika Ying dan Gopal menghampirinya bahagia.

Ia melihat sosok wanita dengan rambut digulung juga berkendo melayang kepada laki-laki bertopi terbalik itu. Tangannya ia gadah, secara itu pula tubuh Gempa mengambang pada udara. Wanita itu lebih mendekatkan tubuhnya pada laki-laki yang tidak bisa berkutik apa-apa. Jemari-jemarinya menusukkan pada tubuh Gempa secepat kilat—sampai Halilintar pun tidak bisa melihat bagian mana yang ditusukkannya.

"Apa yang terjadi...?"

Halilintar melengokkan lehernya saat melihat bayangan orang di sebelah ia berbaring. Laki-laki dengan tubuh besar membantunya berdiri.

"Maaf kami lama. Fang dan Ochobot dicari Ying."

Bocah bertopi depan itu menarik napasnya takut. Apa ada yang ingat kalau Halilintar takut hantu? Dia kira ia sudah meninggal menyusul teman-temannya.

"Makasih, ibu Eloise. Saya tidak tahu bagaimana keadaan kami tanpa ibu," Yaya yang ikut melayang di samping wanita menatap Gempa yang tertidur pilu.

"Kau bisa bawa Gempa bersamamu. Jika ada apa-apa, kau bisa kembali ke dunia ini. Aku tidak bisa membantumu karena kau tidak bisa meninggalkan dunia ini," balas perempuan itu. "Jangan lupa untuk apa tugasmu dan Halilintar terhadap Gempa."

Yaya mencoba ingat perbincangan mereka ketika di luar portal dunia para Gnome saat itu. Ia hanya bisa mengangguk. Sulur tanaman mengikat tubuh Gempa dan menariknya pada Yaya. Yaya merangkulnya. Sesaat ia memandang wajah Gempa.

"Gempa memang tidak di bawah kontrol iblis sepenuhnya, tapi dia bisa saja kembali jahat. Aku tidak bisa membantu untuk mencari penawarnya. Tapi aku percaya kepedulian hatimu dan Halilintar yang tahu seluk beluk saudaranya bisa menawarkan racunnya."

"Jadi kenapa beliau menyuruhku membawa Gempa?"

"Iblis itu tidak tahu bahwa aku mengetahui rahasianya. Gempa yang memberitahunya sendiri. Dia mengamanatkan padaku biar membawanya dan seluruh pecahan Boboiboy mengikuti kalian."

"Mereka bisa saja menghancurkan kami sebelum misi selesai."

"Setiap dunia memiliki kata-kata bijak. Pegangilah kata-kata itu untuk berhadapan dengan ketiga elemen lainnya."

"Tanah memiliki kata-kata bijak untuk memberitahu. Jaid, kami harus menganggapnya seperti pemimpin dan mengumbar semua rahasia kami?"

"Cara satu-satunya agar mereka bisa menyantap kepribadian mereka sendiri. Setidaknya mengingatkan pribadi mereka siapa."

Yaya menghela napas. Itu terdengar sulit, apalagi untuk umur akan beranjak 13 tahun seperti mereka.

=To be Continued=

A/N: Saya mengalami musibah saat hari raya pertama berlangsung. Dua hari gak bisa dalam posisi duduk sama berdiri lama setelahnya juga gelisah tidur. Untuk kenyamanan beristirahat, saya mematikan akun facebook saya untuk sementara sampai saya benar-benar dinyatakan sembuh (lagian ponsel saya suka mati sendiri sekarang kalau kelamaan dinyalakan). Jadi andaikata sampai fanfic saya lama update, saya mohon maaf. Tapi untuk ini saya punya kewajiban untuk menyelesaikan segera mungkin.

Untuk yang kurang paham, saya rekomendasikan bacanya pelan-pelan (saya pun sulit bagaimana menjelaskannya secara gampang). Yang menanyakan apakah main antagonist rupanya seperti apa, dia itu mirip Lilith—suaminya Samael, tapi pakaiannya masih tertutup (iya dia mirip manusia, bukan alien kepala kotak =w=). Kalau yang rajin baca mitologi pasti paham. Yang bertanya apakah tulisannya tuan bahasa inggrisnya memang 'majesty'. Yang bertanya mengapa Yaya dan Fang bisa ada dilokasi...mungkin di chapter ini agak samar diungkap.

Survival gamenya diungkap samar disini. Ada yang bisa menebak bagian mana mereka berusaha mengumpulkan clue dan tujuannya apa? Oke mereka sendiri pun masih bingung mau ngumpulin informasi mana /plak

Thanks for all you review, fav, and follow. Mind to review again, eh?