BoBoiBoy © Animonsta Studios
Element Dimension
.
.
.
Enjoy!
.
.
.
For #RGSurviveChallenge
.
.
.
Hanya satu yang Halilintar paham mengapa Yaya beserta Fang bersama-sama berusaha mengunci kedua pergelangan pecahan dia yang dominan berelemen tanah. Melilitkan suatu sulur berwarna emas yang diberikan Eloise agar dia tidak mendentumkan tinjuan pada tanah. Kekuatannya memang akan keluar ketika anggota geraknya bersentuhan dengan tanah, dan apa yang mereka lakukan bertujuan untuk menghalau 'kontak' itu.
"Sulur itu akan mengikat kuat kalau mencoba dilepas paksa. Kau ingat mantranya, bukan?" tanya Eloise kepada Yaya. Yaya mengangguk tanda mengiyakan.
Anak-anak lain sudah berkumpul pada kawannya. Yaya dan Fang yang paling terakhir menyusul kumpulan tersebut sambil mendorong pelan tubuh Gempa. Setelah Fang dan Yaya berdiri bersebelahan, Ying membuka suara.
"Sudah siap, semua?"
Semua anak-anak membentuk lingkaran segera saat Ying sudah berdiri siap di tempat. Masing-masing tangan mereka saling mengenggam tangan lain, membuat ikatan. Lain dengan Gempa yang ditahan Fang bersama Yaya; dimana satu tangan mereka yang seharusnya digunakan untuk mengenggam bersama akhirnya malah dialihkan memeluk pinggang Gempa.
"Aku kelihatan seperti penjahat," nada suara Gempa terdengar kesal. Irisnya hanya bisa berpaling ketika Fang dan Yaya menatapnya fokus. "Iya aku tahu, demi kebaikanku sendiri. Hahaha." Gempa tertawa garing.
Yaya tersenyum canggung. Sebenarnya dia pun tidak mau melakukan hal ini, apalagi terhadap Gempa yang terkenal paling tidak bisa membuat teman-temannya kesulitan. Ingat bagaimana Gempa mendapat evolusi keduanya saja, Yaya tahu bahwa Gempa itu orang baik; yang tidak mau sembarang menyakiti fisik apalagi batin temannya. Demi kebaikan. Yaya terpaksa melakukannya agar yang lain tidak...mati.
Yaya masih mengingat apa yang diucapkan penjaga hutan kepadanya. Semua anak-anak mengangguk sambil menolehkan pandangan pada Ying.
"Gempa itu inti elemen tanah. Sebenarnya dia bisa memperbudak para Gnome untuk menyerang kalian. Tapi dia mencegahku memberikan kekuasaanku padanya karena dia tahu itu yang terbaik."
"Teleportasi!"
"Aku tidak tahu bagaimana dengan elemen yang lain. Hanya kalian yang bisa menyelamatkan ketiga elemen yang lain dan bumi. Maaf, aku tidak bisa membantu banyak."
Perempuan paruh baya itu hanya bisa melambai manis, ketika anak-anak yang dihadapannya sekarang menghilang. Salah satu Gnome yang berdiri di samping perempuan itu mendongak sebentar. Ia menatap langit beserta daun-daun yang berhembus. Untung saja pohon kehidupan masih memiliki beberapa 'bagiannya' setelah ombak tanah waktu itu nyaris menelan seluruh bagian pohonnya. Ranting, dahan sebagian, dan daun-daunnya. Hanya setengah dahan yang terlepas.
"Untung saja ada pohon ini. Tanah tidak amblas setelah sebagian darinya ditarik oleh inti elemen itu."
"Hmm," Eloise berdeham.
"By his roots, actually tree protect the ground...the tree never told what his roots doing, make the ground ever misunderstanding to tree."
"Tanah selalu mengira miliknya dihancurkan oleh akar pohon. Kesalahpahaman pun terjadi," balas Eloise seusai Jack berkata dengan bahasa asing. "Bukan hanya tanah, bahkan manusia yang tidak tahu funsi akar pohon sebenarnya pasti akan mengira seperti itu juga."
"Penjaga, apa mereka akan bisa mendekatkan hati para inti elemen? Sedangkan Anda langsung menterjemahkan cara mendekati Gempa dengan mengukir pada tubuh Anda sendiri?"
Eloise terdiam. Jack masih mendongakkan kepalanya. Cangkang ungu mencuat dari punggungnya tidak menghalau kepalanya untuk menaikkan kepalanya dalam posisi terbaring itu.
"Saya mendengar salah satu anak berbisik pada temannnya, bahwa dia menemukan tulisan pada Anda ketika menjadi pohon."
"Mereka pasti mengerti."
Eloise membalikkan tubuhnya. Ia berjalan begitu anggun, pelan-pelan meninggalkan manusia kerdil di sampingnya. Jack masih berdiri dari tempatnya saat penjaga itu pergi.
"Setiap permainan pasti akan ada clue jalan keluar bagi playernya sendiri."
=oOo=
Tampak Yaya dengan gesit melewati beberapa pusaran angin di depannya. Dari bawah tangannya yang mengenggam tangan Ying, Ying menggaet Gopal, Gopal dengan tubuh gemetaran memberontak ketakutan ingin dilepas. Kakinya digenggam erat Halilintar yang memeluk perut Gempa bersamanya. Sedang Ochobot memegang belakang punggung Gempa.
"Fang, kamu enak pake elang bayang!" protes Gopal. Burung hitam dengan mata merah melesat terbang menuju arahnya setelah berputar menghindari pusaran angin yang melintas.
"Ha. Makanya tubuh diringanin. Ingat kejadian tempo lalu waktu kita jadi kecil?" ejek Fang sambil melipat dada. Gopal kini hanya bisa menggembungkan pipinya. Memang tempo Gopal sempat menaiki elang bayang Fang, dan mereka jatuh karena si burung keberatan beban.
"Dunia ini tidak ada dataran ya? Mereka berat..." keluh Ying.
"Padahal aku sudah meringankan tubuh kalian dengan kekuatanku," sahut Yaya. "Tapi benar, aku tidak lihat ada dataran di sini."
"Itu mereka!"
Semua mata anak-anak tertuju pada arah suara seruan. Sosok perempuan dengan beberapa helai daun (atau mungkin bulu yang dicat berwarna hijau, entah) menutupi pinggang sampai atas lutut, terbang melesat menuju arah mereka. Sayap yang bagaikan milik capung dengan kilauan hijau transparan mengepak berjumlah tiga pasang sayap. Ia membawa tombak bermata runcing.
"Pegangan yang erat!"
Sebuah pisau angin menuju mereka setelah makhluk itu mengayunkan tombaknya. Yaya membelokkan tubuhnya menghindar. Sedang Fang memeluk leher burungnya ikut menghindar. Dari kejauhan, terlihat titik-titik hitam yang semakin lama semakin membesar menuju ke arah mereka. Mereka adalah kawanan dari makhluk yang barusan menyerang mereka.
Kerumunan itu semakin dekat, dan wujud mereka pun tampak oleh mata telanjang anak-anak disana. Matanya yang terlihat seperti manusia namun berpupil merah. Rambut mereka yang berwarna hitam bercampur hijau namun acak-acakan—kalau kalian pernah naik motor yang melaju di jalan, keadaan rambut itu tidak kalah beda dengan para makhluk itu. Ada yang hanya berdada bidang, juga ada yang sedikit menonjol. Tidak hanya rupa manusia, bahkan naga-naga dengan nuansa warna serupa menemani mereka. Sayapnya yang bagaikan sayap burung berbahan daun. Ekornya yang panjang ditumbuhi bunga pada ujungnya. Tanduk yang bagaikan sulur. Hanya keempat kakinya yang tampak normal seperti gambar-gambar naga kebanyakan—walau ada sedikit beberapa daun kecil tumbuh pada mata kakinya.
Salah satu makkhluk seperti naga itu membuka mulutnya. Ia menembakkan bola angin yang mengenai burung milik Fang.
"AAAAA!" Fang berteriak. Burung yang ia kendarai menghilang menjadi asap karena terkena serangan telak musuh. Halilintar dan Gempa meneriaki nama Fang disana.
"Lepaskan aku, Halilintar!" jerit Gempa. Matanya masih fokus melihat Fang terjatuh.
"Mana bisa aku melepaskanmu! Kau mau jatuh bebas seperti Fang, apa?!" balas Halilintar marah.
"Aku bisa menyelamatkannya! AKU TIDAK MAU ADA TEMAN KITA YANG MATI! BIARKAN AKU MENYELAMATKANNYA!"
Tubuhnya ia berontakkan, membuat yang lain termasuk Yaya kehilangan keseimbangan. Halilintar dengan tangannya mencoba memeluknya lebih erat agar tidak lepas, namun kalau hanya satu tangan itu terlalu sulit dilakukan. Akhirnya Halilintar terpaksa melepaskan Gempa yang masih dengan kedua tangan terikat itu ikut terjun bebas.
"GEMPAAA! Tch! Bodoh!"
Yaya menghela napas pasrah. Bukan hanya kehilangan Fang dan Gempa, mereka sekarang dikepung makhluk-makhluk itu dengan formasi lingkaran—yang cukup lebar terpandang. Dia bergerak sedikit, naga-naga disana akan membuka mulut mereka siap menembak. Para makhluk itu terlihat sama besarnya dengan naga-naga hijau disana.
"Oh lihat, ini teman-temanku yang sedang ingin berkunjung ke rumahku! Aku sangat terharu. Apalagi...ada Halilintar disini! My lovely~"
Bocah berwajah sama dengan Halilintar itu mendongakkan lehernya dari salah satu naga. Ia tersenyum dengan memperbaiki topi miringnya. Halilintar menyipit matanya saat menyadari siapa yang barusan berbicara agak imut barusan.
"Taufan..." kecam Halilintar terdengar mendendam.
"Tidak enak kalau berkelahi dari udara, 'kan? Bagaimana kalau kita berbincang tentang petualangan kalian? Aku sangat ingin mendengarnya!"
=oOo=
Walau masih dengan terjatuh bebas, Fang berusaha menghilangkan rasa paniknya akan ketakutan jatuh dengan kepala hancur. Kedua tangannya ia usahakan maju, namun begitu gemetaran ketika membentuk burung.
"Ayolah! Elang bayang! Elang bayang! E...lang..." Fang kelelahan berteriak. Kenapa kekuatannya harus ada ketika dia harus berseru? Andai saja dari pemikiran, dia pasti akan selamat sekarang. Oh tidak, tentu saja. Dia takut nanti tidak bisa mengontrol kekuatannya dan bayang-bayang selalu keluar tanpa kehendaknya. Dia masih labil menahan emosinya. Usianya belum cukup, masalahnya.
Baik, sekarang ia meratapi mengapa suaranya terdengar ketakutan sekarang. Dulu juga karena suara, ia tidak bisa membuat harimau bayang berukuran semestinya. Mungil.
"FAAAAANNNNGGGG!"
Ada laki-laki terjun bersamanya sambil berteriak. Fang melirik orang tersebut, yang sangat familiar dikenalnya. Topi terbalik dan kedua tangan yang masiih diposisikan ke belakang. 'G...Gempa?'
Gempa mencondongkan badannya maju. Ia pun bisa menyusul Fang yang masih memposisikan badannya menghadapnya. "Bagaimana melepaskan sulur ini?! Dia semakin melilit keras kalau aku memberontak!"
"Hanya kau yang bisa melepasnya!"
"Hah?! Aku bahkan bertanya padamu!"
"Aku tidak tahuuuuu!"
Baiklah. Ini tidak akan ada ujungnya jika Gempa selalu bertanya. Lagian, pikirannya bergelayut bagaimana caranya ia dan Fang bisa mendarat sekarang. Mereka sepertinya akan kembali ke dunia dimana pertama bertemu Eloise. Ia bisa menilai dari pohon-pohon unik yang sama letaknya. Dan ... sebuah pohon yang paling besar agak lapang karena dahannya sedikit patah.
Ia memejam kuat matanya. Pikirannya terus membayangkan bagaimana jika ia telat sedikit saja menyelamatkan Fang. Ia akan menyesal, tentu saja. Tapi ada sesuatu yang membuatnya gelisah kuat.
Siapa yang bisa ia ajak berdebat sampai urat timbul dari pelipis lagi?
"Kalau Fang mati, aku juga akan membuat diriku mati!"
Gempa memposisikan tubuhnya kini dengan punggung siap mendarat pada tanah. Fang tercengang dari balik punggung pecahan rivalnya itu.
"Heh! Enak saja! Hanya aku yang boleh mati! Elang bayang!"
Sosok burung besar melesat terbang dan memberikan punggungnya pada Gempa. Laki-laki bertopi itu kaget saat mendapatinya mendarat pada dataran empuk. Ia memposisikan duduk dengan kedua paha saling menjauh, mendongakkan lehernya melihat pemilik bayang itu masih terjatuh bebas. Fang memejam matanya ketakutan. Berpikir bodohnya kenapa dia tidak menggunakan kekuatannya untuk menangkap dia baru Gempa. Sesibuk-sibuknya Fang merutuki kebodohannya, tubuh Fang malah terasa terjatuh dengan...meluncur.
Meluncur?
Ia membuka matanya dan melihat kilauan pelangi lebar ia arungi ketika dalam posisi terbaring. Tubuhnya meluncur bebas. Dan tidak berapa lama, ia merasakan tubuhnya kini dikelilingi koin emas. Suara gemericing dari tubrukan antar koin menghiasi pendengaran.
Dari atas Gempa menghela napas bersyukur. Dia tidak peduli darimana pelangi itu datang, bahkan Fang kini ada di mana. Ia hanya memikirkan, bagaimana caranya sang burung bisa menurunkannya.
"Pencuri!"
Fang mencoba bangkit dari tempat ia duduk, yang justru tubuhnya malah berguling bersama guci emas yang menjadi sandarannya mendarat tadi. Wajahnya tertutup oleh koin-koin yang terbang indah yang kemudian menutupi wajahnya. Matanya pun mencar celah timbunan koin, lalu mengintip sosok bertubuh mungil itu berdiri terbalik dari pandangannya.
"Kurcaci?"
=oOo=
Semua anak-anak saling duduk berjajar dengan canggung. Halilintar mengintip wajah teman-temannya satu persatu. Mereka berkeringat dingin.
Bagaimana tidak, jika di sekitar mereka para makhluk-makhluk aneh itu menjaga dengan lototan mata kebencian. Setelah mereka tertangkap, baru diketahui ukuran mereka begitu besar—mungkin dua kalai lipat dari ukuran manusia normal. Dan sialnya, Taufan tampak santai meski duduk di lantai bersama Yaya dan lainnya—malah kelihatannya senang di samping teman-temannya terpandang sebagai penjahat disini. Tidak salah Halilintar membenci Taufan sampai kapanpun.
"Jadi... kalian belum tahu mereka kan? Mereka adalah para sylph, peri penghuni elemen angin. Tubuh mereka memang sedikit raksasa dari manusia sebenarnya," kata Taufan dengan senyum khasnya. "Oh, sedang naga-naga itu draxie."
"Taufan... kenapa kau menyuruh mereka menyerang kami?" tanya Ying pilu.
"Menyerang? Mereka hanya mencoba mengamankan daerah ini. Jarang-jarang ada makhluk yang mau mendarat pada dunia mengambang mereka," sahut Taufan.
"MENGAMANKAN APANYA?!" teriak Halilintar. Para makhluk yang dipanggil Taufan sylph menodongkan tombak-tombak mereka padanya segera. Tapi itu tidak menyurutkan wajah marahnya Halilintar sekarang. 'Mengamankan katamu? Teman-temanmu digencet seperti ini dibilang pengamanan, siapa orang baik yang bisa menyerang temannya sendiri!' Halilintar hanya bisa mengomel dalam hati.
"Kau harus ikut kami mencari kedua elemen lain. Kasian kan kalau Boboiboy tidak bisa muncul karena kalian saling egois?" tutur Yaya.
"Kalian hanya ingin kekuatanku saja, 'kan?"
Kata-kata itu... Halilintar ingat Taufan pernah mengatakannya saat dirinya mengklaim evolusi dari angin; Taufan.
"Perjalanan kalian pasti berat. Beristirahatlah disini sebentar..," suara tawa kecil samar-samar tedenga dari arah Taufan. Senyum licik mengembang. "Atau mungkin selamanya~"
"Cari kata-katanya," bisik Gopal yang terduduk diantara Halilintar dan Yaya. Bersyukur dia bukan di pinggir seperti Ying dan Ochobot. Bisikannya bisa terdengar oleh lingkup temanya saja. "Cari petunjuknya."
"Hhh, tanpa kau suruh aku tahu," Halilintar tersenyum. Irisnya melirik Yaya. "Tiga... dua..."
"Kalian kelihatan mencurigakan. Jangan bisik-bisik dong," gerutu Taufan.
"Satu."
"Kuasa gravitasi!" seru Yaya. Sebuah lingkaran muncul dari tempat Yaya bediri, dengan jari-jari cukup lebar. Nuansa jingga dan putih bercahaya itu membuat semua makhluk dalam lingkupnya terjatuh. Mereka menempel pada lantai berdasar daun-daun yang menumpuk itu.
Yaya berjalan pelan menarik Halilintar. Tindakannya tercekat ketika Halilintar justru menggelengkan kepalanya.
"Kau butuh Gopal, aku...aku tidak bisa membantumu mencari kata..." Halilintar berusaha mendongakkan kepalanya. Seusai ia berbicara, kepalanya kembali terbaring mencium lantai.
"Sial, hentikan mereka!"
"Aku menunggu hasil usaha kalian. Kami akan menunggu dari penjara," ujar Gopal yang hanya bisa menyampingkan kepalanya. "Tapi bawakan makanan ya..."
Para makhluk aneh yang dijuluki sylph mencoba bangkit. Yaya terdesak apakah harus memilih Gopal yang bisa memecahkan kata-kata; atau Halilintar yang akan bisa menolongnya ketika ada makhluk aneh sepeti pengawal Taufan untuk menyerang mereka? Atau sahabatnya sendiri? Ying mungkin bisa dikatakan cukup pintar untuk mencari teka-teki, bukan? Walau ada alasan 'sahabat tidak mungkin meninggalkan sahabatnya sendiri'.
"Cari kata-kata dengan membantu para makhluk. Biasanya tulisan selalu terukir tidak jauh dari unsur elemen bumi yang kalian datangi."
"Angin... bagaimana kami bisa mencari tulisan pada sesuatu yang suka bekeliaran?"
=oOo=
Fang bersusah payah menyingkirkan koin-koin yang menimbun pada wajahnya. Aroma besi dan apapun itu sekilas menyerbak batang hidungnya. Apakah itu koin emas sungguhan? Fang ingin bertanya, namun pikiran lain membuatnya lupa melakukan hal tersebut.
Laki-laki berambut acak itu bersusah payah bangkit. "Kau... siapa?" tanyanya ketika telah memposisikan berdiri. Kurcaci di depannya hanya setinggi pinggangnya, dengan memakai topi ala pesulap dan jubah mini nuansa hijau serta bersepatu kulit hitam.
"Penjaga kuali emas, yang kini kau duduki!" katanya kasar. Fang reflek menjauhi tubuhnya ke kiri dari kuali tersebut sejengkal.
"M—maaf! Aku terjatuh dari atas bersama temanku," Fang mendongak dan langsung ingat Gempa masih di atas. Ia mengomando lewat telepati agar elang bayang mendarat. Burung hitam yang terbang dengan berputar itu terbang turun. Setelah mendarat, Gempa yang ada di atas itu bersusah payah melompat turun.
"Kau ini! Malah lebih menyelamatkan aku darimu!" omel Gempa.
"Aku tidak kepikiran dengan diriku sendiri. Entah kenapa."
Kurcaci itu melihat ilas apa yang membuat kedua tangan Gempa dari tadi ke belakang. "Terikat oleh sulur emas?" kucaci itu tertawa kecil. "Kau inti elemen tanah. Aku tahu kau."
"Namanya saja Gempa, pasti berkaitan dengan tanah. Sang penghancur~"
Gempa melirik Fang datar. "Namaku Boboiboy."
"Boboiboy Gempa."
"..ughh," semuanya benar. Gempa kini hanya bisa mengatup bibirnya. Panddangannya kini ia alihkan kepada kurcaci berjenggot yang hanya tertawa melihat perdebatan mereka tadi. "Apa kau tahu bagaimana cara melepaskannya?"
"Tentu saja tahu. Tapi, aku pernah dengar pohon kehidupan hampir mati karena kekuatanmu. Jadi jawabannya, aku takkan memberitahumu."
"Aku bisa melakukannya dua kali, jika tanganku masih terikat seperti ini," sahut Gempa. Dia mencoba menggertak.
"Aku tidak percaya," sebaliknya, kurcaci itu memeletkan lidahnya mengejek.
"Sepertinya Gempa memang lebih cocok jika terikat. Hahaha!" ejek Fang.
Gempa hanya bisa cemberut. Dia benar-benar disudutkan oleh seorang teman dan seekor (atau seorang) kurcaci. Fang menutup mulutnya. Dia tertawa meledak, sampai kedua matanya berair mata saking gelinya. Disaat itu juga suara perut Fang bebunyi, membuat semua menoleh padanya.
"Kau lapar?" tanya Gempa.
"Aku hanya makan donat lobak merah tadi pagi. Maaf. Kau tidak perlu khawatir padaku," dibalik kata kasar ringan Fang, ia sedikit menahan malu.
"Perut yang kelaparan kalau dibiarkan kosong akan menjadi maag loh," kata Gempa mencoba menakut-nakuti. Fang hanya berdelik seraya mendengus.
"Ngomong kayak dokter. Kau masih bocah SD, tahu."
Sang kurcaci mendekati kuali koinnya yang masih tergeletak miring. Ia menarik salah satu koin dari dalam. Emasnya berkilauan saat tertimpa cahaya matahari. Langkah kecil sang kurcaci pun beralih pada Fang. Ia memberikan koin itu pada sang bocah berkacamata.
"Lempar ini pada jurang tiada batas. Akan ada seorang peri dari elemen atas akan mendatangi kalian dan memberi kalian apa yang kalian butuhkan. Namanya Eternelle," jelas kurcaci itu sebelum Fang dan Gempa bertanya. "Dia akan memberi kalian makanan. Aku kasihan melihatmu yang keras kepala itu. Sudah lapar, masih bisa memaksakan perut menahan instingnya."
Fang menunduk malu. Gempa berusaha mengapit bibirnya agar tidak tertawa keras. Kalau kedua tangannya bebas, dia mungkin sudah menggunakan mereka untuk melakukan hal serupa.
"Aku gak perlu," Fang membuang wajahnya. Si kurcaci yang awanya iba, ingin sekali membatalkan penawarannya. Tapi lagi-lagi suara perut Fang yang berbunyi—bahkan lebih keras, membuat hatinya luluh.
"Terima saja. Aku yakin kau pasti butuh. Nanti kalau kau kelaparan, kau tidak bisa mengalahkan aku sebagai laki-laki populer," bisik Gempa. Fang terperdaya. Ia menerima koin itu langsung.
Kalau sudah diungkit kata 'populer', Fang itu bisa lupa harga diri.
Gempa tersenyum melihat Fang yang malu-malu menerima pemberian kurcaci. Satu pertanyaan dalam benak kepalanya terlintas, "Jurang yang kau maksud itu dimana?"
"Kalian lurus dari sana," kurcaci itu membentangkan tangannya ke depan lurus dari ia berdiri. "Kalian akan menemukan sebuah jurang. Tapi jurang pertama bukan jurang yang kumaksud. Itu jurang konon dihuni sebuah troll. Jurang tiada batas ada di bagian kedua."
"Jika bertemu dengan toll, kau harus bisa menjawabnya secara benar. Kalau tidak, dia akan mengambil apa yang si penjawab punya," sambung Fang yang kini menyimpan koin itu.
"Kalian tahu?" tanya kurcaci.
"Pernah nonton dari movie barbi and the diamond castle."
"Pffttt! Cowok sepertimu hobi nonton barbi rupanya?! AHAHAHAHA!" Gempa tertawa keras. Dan akhirnya ia melolong ketika Fang mendengus sambil menginjak kakinya. "AAAAA!"
"Daripada favorit menonton Dora, 'kan. Kalau aku kelaparan, kau akan kumasak sate."
=oOo=
Kedua anak laki-laki itu meminta permisi untuk menuju tempat yang dimaksud sang kurcaci. Ketika sudah memasuki kurang lebih lima belas menit dari awal berjalan, mereka tiba pada jurang yang dimaksud kurcaci tersebut. Terlihat kurang dalam, karena ada laut dari bawahnya. Karang-karang kecil turut menghiasi, dengan sekilas tampak pelangi pudar dikelilingi kilauan-kilauan air laut yag terbias cahaya matahari.
"Ini maksudnya jurang pertama, ya?" Gempa agak ngeri melihat laut di depannya.
"Jurang troll ya? Aku kira ini hanya bohongan," kata Fang datar. Ia berdiri dari belakang punggung Gempa.
"Kau 'kan yang tadi bilang karena hobi nonton barbi. Bagaimana sih?" gerutu Gempa.
"Eh aku gak bilang hobi nonto barbi!"
"Diam! Kalian berisik!"
Kedua laki-laki itu berhenti saling sahut-menyahut dan melengok suara seruan sarkasme barusan. Mereka mendapati lagi-lagi manusia mungil dengan jenggot berantakan juga bertubuh berbulu coklat kehitaman berdiri di depan mereka sambil berkacak pinggang. Wajahnya garang.
"Dia sepertinya malas mandi," komentar Gempa pertama, yang didapati pelototan dari makhluk itu langsung.
"Mentang-mentang kau pemimpin dunia tanah, kau mengejekku!" tukasnya. Gempa hanya bisa membulatkan sepasang matanya keheranan.
"A—apa?"
"Baik-baiklah dengan pemimpinmu ini...," desis Fang kecil kepada troll itu.
"Pekerjaan tetaplah pekerjaan. Biar siapapun orang di depanku ini," ketus sang troll itu. "Dan soal pekerjaan... kalian pasti mau menyeberang, 'kan? Jadi, apa taruhannya? Kalian akan menyeberangi jurang ini, jika kalian menjawab pertanyaanku secara tepat!"
Fang menghela napas. Dia bisa menggunakan elang bayangnya, sebenarnya. Tapi ia juga takut kalau mereka akan jatuh. Apalagi kelihatannya di seberang agak jauh. Tidak, Fang bisa melewatinya kok. Tapi karena takut bertemu pengganggu seperti barusan diserang makhluk udara, dia juga tidak berani. Terlalu lelah banyak berpikir, Fang hanya bisa menganggukkan kepalanya mengiyakan bersama dengan Gempa.
"Tapi... bila kalian tidak bisa menjawab, aku minta Eloise harus melayani kehidupanku!"
"Curang! Mana boleh mereka menjadi bahan taruhan! Tidak adil namanya!" sembur Fang tidak terima. "Lagian, taruhan itu melelangkan milik sendiri, bukan melelangkan orang lain!"
"Eloise bawahan Gempa. Aku rasa berarti Eloise 'milik' Gempa, bukan?"
"Bukan. Aku bukan pemimpin kalian. Aku hanya anak SD yang ingin bersatu kembali bersama pecahanku yang lain! Yang semuanya telah masuk di bawah kontrol Eclair kecuali Halilintar!"
"Jangan sebut namanya—kalau kau sebut..."
Perkataan troll terputus ketika adanya suara jeritan yang cukup keras. Sulur yang mengikat kedua tangan Gempa menyala seiring Gempa berteriak keras.
"Gempa! Gempa!" Fang meneriaki nama temannya itu berulang kali. Ia juga kaget melihat Gempa yang tiba-tiba bertingkah aneh.
"Gempa...apa yang terjadi padamu? Oh, kau meminta bantuanku karena ada troll di depan membangkangmu?"
"Khh... b—bukan, ratu..," Gempa tidak tahu sejak kapan ia memanggil orang yang berbicara dalam pikirannya dengan kata 'ratu'. Mulutnya berbicara sendiri, tapi ia masih sadar apa yang mau ia katakan.
"Temanmu masih belum sadar kau bersekutu denganku, ya? Tapi, mana temanmu yang lain?"
"Bersama... Taufan..," lagi-lagi Gempa tidak bisa mengerem mulutnya.
"Kau bicara pada siapa, Gempa?!" pekik Fang panik.
"Tanganmu diikat ya... aku akan kirimkan bantuan nanti. Mungkin aku akan menyuruh Taufan mencarimu. Kalau kau hilang, pelaksanaan kekuasaanku takkan jadi."
"O—oke, aku buat jembatan untuk kalian. Kau jauhkan bocah itu dariku!" troll itu berlari terbirit-birit lalu terjun ke jurang. Seiring tubuhnya jatuh bebas, terlihat akar-akar besar melilit menyeberang membentuk jembatan buatan ke arah depan.
Fang memegangi pundak Gempa dengan sesekali melihat jembatan yang terbentuk tiba-tiba itu. "M—maaf, aku diamanatkan Yaya untuk ini."
Buakh! Pukulan keras didaratkan pada kepala Gempa. Sebelah tangan Fang membentuk bayangannya menjadi tangan dan meraih sebuah balok berukuran sedang, sementara satunya lagi memegangi tubuh Gempa yang siapa tahu saja akan tumbang. Seperti apa yang diprediksikannya, Gempa kehilangan kesadaran dan jatuh layu.
Fang menurunkan tubuh Gempa pelan dan membaringinya. Kedua tangannya bebas. Ia membentuk tangannya seperti kepala harimau ke atas.
"Harimau bayang!"
Laki-laki berkacamata itu mengangkat tubuh Gempa hati-hati pada punggung harimau bayangnya. Menggeletakkan Gempa ala putri. Kepalanya direbahkan pada lengan kirinya. Ia duduk pada punggung harimau itu kemudian. Ia berharap ia mampu membawa berat tubuh mereka.
Mereka maju melewati akar-akar pohon yang melilit menyatu membentuk jembatan itu. Beberapa kali harimau bayang tergelincir karena angin yang cukup kuat mendorong tubuh mereka, namun Fang bisa menyeimbangkan tubuhnya hingga harimau tidak keberatan sebelah. Sesaat melewati jembatan, sang harimau mengrungi beberapa pohon jarang hingga sampai pada jurang yang dimaksud. Fang mengeluarkan koin dari sakunya, lalu melemparkannya pada jurang itu menggunakan satu tangan.
Keajaiban terjadi. Kupu-kupu putih bercahaya terbias matahari berjumlah jamak, beterbangan seperti bersorak bebas dikeluarkan dari toples berukuran jumbo. Fang melongo ketika beberapa kumpulan kupu-kupu membentuk sosok bertubuh wanita.
Tampak sosok padat seorang wanita paruh baya dengan rambut white-blonde membawa tongkat dengan ujung atas berbentuk sangkar burung kecil menggantung. Kedua dadanya ditampakkan sengaja, dan hanya tertutup lace yang bahkan masih menampakkan belahan dadanya yang besar. Bagian intimnya juga ditutup dengan kasus mirip dadanya. Tapi ada rumbai panjang dari pinggang sampai bawah kaki menutupi kedua paha dan pantatnya. Ia bertelinga panjang dengan belakangnya tersisip sepasang sayap putih atas turun. Dari punggungnya tampak kedua sayap besar mengepak anggun.
"Perkenalkan, aku Eternelle," sapanya ramah. Ia benar-benar terlihat seperti dewi dengan permata menghiasi dahi dan tubuhnya, juga bunga-bunga kaca menempel permanen pada helaian-helaian rambut panjang miliknya. "Jadi... apa yang kau harapkan dariku?"
Lamunan Fang terbuyarkan. Dia harus melihat kesulitannya dulu. Ia tidak boleh membuang waktu.
"Ada kurcaci yang bilang, kalau kau bisa memberi kami makanan." Wajah Fang terpapar sedikit tidak rela untuk mengatakannya. Dalam pikirannya, ia ingin memohon agar Gempa sadar—andai saja malaikat disana bisa merengut kekuasaan iblis dalam kesadaran Gempa.
Malaikat itu tertawa kecil, "Biasanya aku selalu mengabulkan permintaan. Tapi aku meliat wajahmu tidak rela untuk meminta ini. Aku memberimu kesempatan untuk meminta harapan lain. Katakan, apa yang kau mau."
Dengan wajah penuh harap, Fang bertanya, "Jika aku meminta sesuatu misalnya menentukan masa depan, apa kau bisa mengabulkannya?"
"Aku Eternelle. Tidak ada yang bisa menandingi keajaiban dariku."
Ada harapan bahwa ia mungkin bisa saja menyadarkan Gempa.
"Aku..."
Tapi ada juga sisi lain dimana ia ingin semua teman-temannya yang kemungkinan besar tertangkap, bisa kembali di depannya. Ia juga takut sendirian untuk menangani masalah dengan musuh makhluk-makhluk mistis berkekuatan over power. Tapi, bagaimana kalau teman-temannya rupanya bisa kabur? Siapa tahu saat ini mereka tengah mencari teka-teki untuk bisa mendekati hati Taufan, seperti apa yang dikatakan Eloise kepada mereka.
Semua itu membuatnya bingung.
'Ayolah Fang, waktu adalah uang!'
"Atau kalau kau masih butuh waktu berikir, panggil saja namaku saat kau membutuhkanku. Hanya saja, aku tidak bisa muncul secara cepat di hadapanmu. Misal kau melompat masuk ke lava gunung berapi, kau akan mati sebelum mengucapkan permintaan pertama dan terakhirmu ini."
Apa yang diharapkan Fang?
.
.
.
Sometime a dried leaf fall by itself, the wind hasn't to flow them everytime
.
.
.
1. Siapa yang harus Yaya pilih? 1). Halilintar; 2).Gopal; atau 3). Ying?
2. Apa yang harus Fang minta? 1). Meminta makanan; 2). Gempa kembali sadar; 3). Meminta teman-temannya bebas; 4). Menyimpan permintaan dan dikabulkan di lain waktu.
.
.
.
A/N: Kok jadi ingat fanfic sebelah yak? Soalnya kalau sekedar story saja untuk kategori survival game itu tidak cocok, lol. Baru dapat pencerahan dari fandom sebelah (syukur ada yang rekomendasi). Keterlambatan update ya? Maaf :') tadi rencananya mau stuck nulis, tapi fanfic ini belum selesai merasa ganjal juga di hati. ini juga baru sehat kaki, walau malah kedapetan asma sekarang. (Gempa: Penyakitan ya? /kenatabok).
Yang tanya kapan Air didatangi, itu paling akhir. Saya pun masih belum tahu apakah Air sehat wal'afiat (?) atau tidak hoho. Dunianya itu apakah dunia astral atau bukan, akan diungkap paling akhir. Kalian ikut saja alur sekarang (dunia elemen) ya hoho~ Adu Du, apakah kau adalah dalang dari ini semua?! (Adu Du: NANTI SAYA KENA TABOK KALO MUNCUL WOI /salahdialog)
