BoBoiBoy © Animonsta Studios

Element Dimension

.

.

.

Enjoy!

.

.

.

For #RGSurviveChallenge

.

.

.

Yaya meyakini siapapun yang ia tarik, akan bisa membantunya kelak.

"Halilintar! Kau ikut denganku!"

Tidak peduli dengan keahlian Gopal sebagai seorang gamer, dimana mungkin saja ia akan bisa menyesali hal ini seandainya di dalam kesulitan untuk mencari teka-teki. Ia juga tidak ingat lagi dengan sahabatnya yang punya peluang lebih besar dalam cepat berpikir.

"Tangkap Halilintar dan Yaya!" suara Tuafan terdengar berat ditelinga Yaya. Perempuan dengan hijab merah muda itu segera menarik laki-laki bertopi ke depan, pada kekuatannya yang masih Yaya aktifkan.

"Kenapa kau—menyelamatkanku..," Halilintar menunda waktunya mendengar jawaban Yaya. Ia mengenggam tangan Yaya kuat. Halilintar bergerak tepat waktu setelah kekuatan Yaya tidak mempan lagi terhadap sylph.

Kecepatan angin masih kalah dengan kecepatan cahaya. Jadi, Halilintar memang bisa dengan cepat melampaui mereka; para makhluk aneh yang mau-maunya mengikuti perintah bocah yang hobi bersenang-senang itu. Ia mengaktifkan lari kilatnya.

Mau kemana? Halilintar tidak memikirkannya sejauh itu. Sampai mereka ingat kembali bahwa mereka sebenarnya diungsikan pada pulau mengambang, Halilintar baru ingat bahwa kini sudah jalan buntu saat berlari ke ujung pulau. Angin topan terlihat mengelilingi pulau mengambang yang mereka pijaki.

Halilintar memalingkan irisnya. Mencoba berpikir.

"Kita bisa terbang seperti meghindari angin puyuh waktu itu. Kau bisa berdiri di udara, bukan? Seperti melawan Mukalakus saat itu!" tanya Yaya. Halilintar yang tadi berpaling, melototi wajah Yaya masam.

"Tapi angin topan ini besar! Dia bisa menarikmu!"

Halilintar langsung memegangi tangan Yaya kuat. Jika tidak, kemungkinan besar ia yang justru ditarik Yaya sendiri.

"Lagian, kita sia-sia terbang. Kecepatan angin mereka lebih baik dari laju terbangmu."

"...Jadi?"

"Terjun bebas dengan kilatku."

Kedua pasang mata Yaya terbelalak. Ia tidak bisa berkomentar lagi. Teori darinya memang benar; terjun adalah satu-satunya jalan supaya mereka bisa lolos. Tanpa tanggung, tangannya ditarik bocah laki-laki bertopi depan dan mereka pun terjun bebas.

Para sylph menyusul mereka pada bibir daratan. Draxie yang dikawal memanjangkan lehernya ke bawah lalu menembakkan beberapa bola udara menuju mereka bertubi-tubi.

Satu bola mengenai punggung Halilintar telak, dan kestabilan mereka berdua jatuh terganggu. Tembakannya terlalu kuat sampai membuat wajah Halilintar kusut kesakitan. Hanya saja Halilintar masih teguh mengenggam tangan Yaya. Bagaimana juga, kami tidak boleh berpisah! tegas Halilintar dalam hati.

Bocah dengan topi miring datang paling terakhir bersama dengan hover board miliknya. Tubuhnya dibawa mengambang bersamaan papan kebanggaannya.

"Mereka jatuh ke dunia api!"

Taufan menghela napas. Dia kecewa, sedikit.

=oOo=

"Jadi... apa yang kau pilih?"

Masih dari posisi terakhir, malaikat itu berdiri mengambang menunggu jawaban pemanggilnya. Kedua sayapnya yang lebar terus mengepak; yang membuat perempuan dengan helaian emas panjang it uterus bisa berdiri dari dalamnya jurang yang tampak dalam.

Fang menunduk kecil. Awalnya jika diizinkan, ia pasti akan berseru langsung bahwa keutamaan Fang adalah membuat teman sekaligus pecahan yang dominan Boboiboy yang ia kenal itu kembali. Tapi ada yang janggal dalam pikirannya.

Alasan ia diberikan koin itu oleh sang kurcaci.

"Aku, hanya ingin makanan."

Bagaimanapun, kurcaci itu memberi karena satu alasan; yaitu karena Fang lapar. Fang akan merasa berdosa karena membelanjakan uang yang diberikan seseorang untuk membeli apa yang bukan diamanatkan sang pemberi.

Senyuman kecil dipaparkan oleh Eternelle. "Aku sudah tahu jawabanmu."

"Donat lobak merah yang banyak! Aku suka donat!" kata Fang riang. Iya, senyumnya munafik. Karena ia tidak mau malaikat iu mengetahui rasa tidak rela Fang mengucapkan permintaannya.

"Kau pemuda yang baik."

Tangan kanan Fang bercahaya. Sang pengendali bayang mengangkat tangannya ke atas, pensaran apa yang mengundang ribuan kerlipan cahaya itu. Mereka menghalangi pandangan matanya sementara. Dan ketika kumpulan itu memudar, satu donat lobak merah kini ada dari tangannya.

"Itu hanya bekalmu. Rasa lapar kalian berdua sudah aku penuhi. Kalian tidak perlu cemas untuk kelaparan sementara."

Kupu-kupu putih betebaran dengan tubuh malaikat itu mulai kehilangan bagiannya. Sang Eternelle akhirnya menghilang dari pandangan laki-laki berkacamata itu, dan kumpulan kupu-kupu putih naik ke atas dengan jumlah drastis.

Fang menghela napas kecewa. Iya, dia memang bodoh untuk tidak memanfaatkan kesempatan dengan baik. Ia malah mengikuti perasaan... lebih tepatnya amanat, daripada melihat apa yang penting di depannya. Kurcaci itu sendiri bahkan tidak mengharuskan mereka hanya meminta makanan, bukan?

"F...fang..."

Terpecah lamunan pemuda dengan rambut hitam keunguan itu. Ia melirik ke bawah, menatap wajah rivalnya yang kini siuman. Mata emas Gempa itu memantulkan wajah Fang yang menahan rasa kecewa berat.

"Wajahmu jelek, Fang," kata Gempa.

Mungkin jika Fang lebih mementingkan Gempa dari rasa lapar, ia akan menyesal seumur hidup.

=oOo=

Suara dentuman kecil dengan setelahnya ringisan menemani. Laki-laki beriris merah delima itu bersusah payah untuk berdiri dari duduk bebasnya. Sebelahnya, perempuan berhijab terbatuk-batuk hebat. Tabrakan dari dataran dan tubuhb mereka menyebabkan beberapa material kecil betebaran, dan Yaya menghisap sedikit debu disana.

Jatuh bebas tanpa rancangan keselamatan baru dilakukan Halilintar kali ini. Tembakan angin naga bernama draxie memang tidak main-main lajunya.

"Uhuk! Halilintar—kau... uhuk! Tidak apakah?" Yaya bertanya khawatir.

"Seharusnya kau memerhatikan kondisimu dulu... ukhh!" Halilintar yang tadi setengah berdiri, kini ambruk kembali. Napasnya tersengal.

Yaya sedikit canggung untuk mengajak lawannya bicara. Ia pun hanya bisa menyibukkan diri membersihkan ruangan respirasinya dengan kembali batuk. Halilintar beberapa kali mencoba berdiri, dan beberapa kali juga ia terjatuh. Yaya tidak tahan.

"Sudahlah! Kalau tidak bisa berdiri, jangan paksa—uhuk!" Yaya terbatuk.

"..."

"Aku memilihmu karena aku harus menjagamu dari ratu jahat! Makanya aku memilihmu!" ketus Yaya kembali.

Halilintar memandang wajah Yaya heran. Jadi, itu alasan mengapa Yaya menariknya?

Yaya hanya ingat, ia harus bisa menjaga Halilintar dari tangan orang jahat. Ke empat pecahan dia sebelumnya dikatakan sudah bersekutu dengan iblis, jika Halilintar kena bagaimana mereka bisa menyelamatkan bumi? Halilintar memang bekal keselamatan nyawa mereka sejauh ini. Yaya sudah tahu alasan mengapa Taufan dan Gempa belum bisa menyerangnya sepenuh hati.

"Mungkin otak memang terracuni. Tapi, tidak ada satu makhluk yang bisa meracuni hati seseorang untuk mengikuti kehendaknya secara instan."

Itu, adalah perkataan Gempa saat mereka masih di dunia tanah tempo lalu.

Yaya berusaha menjaga amanatnya kepada Gempa juga.

'Aku... memang tidak berguna...'

Halilintar dilindungi oleh gadis? Halilintar selama ini hanya menjadi beban dalam kelompoknya? Kepala laki-laki bernuansa hitam merah itu terasa tertekan—sakit.

"Halilintar itu sok kuat. Sok tegar. Padahal ujung-ujungnya, dia paling lemah dalam anggota kita."

Obrolan saat mereka masih di dunia lain dari Boboiboy. Halilintar mendengar gerutuan tersebut langsung pada orang yang paling ia benci; Taufan. Ia tentu tidak terima, dan mereka sudah berapa lama saling adu kekuatan jika Gempa tidak menghalangi mereka.

"Aku merasa terbebani karena selalu mencoba menjadi lemah di depannya. Kenapa dia tidak sekali saja, jujur dengan dirinya kalau dia itu paling lembek?"

"Ah.. panas..." keluh Yaya. Napasnya ia rasa sudah stabil. Halilintar yang melamun mengembalikan nyawanya pada dunia. Oh iya juga. Ia merasa kepanasan.

Perempuan itu bangkit dari duduknya, mendapati rupanya di sekitar penuh dengan warna merah jingga. Gelembung-gelembung yang tercipta, lalu meletus mengeluarkan uap yang cukup terlihat. Bersyukur dataran tanah cukup lebar, mereka masih diberi peluang untuk tidak tenggelam ke dalam cairan tersebut.

Mereka ada di dalam gunung berapi.

"Kita harus keluar dari sini!" Yaya tampak panik. Ia menarik sebelah tangan Halilintar yang masih terduduk. Hanya saja, laki-laki itu tidak mau bangkit dari duduknya.

"Aku akan mencari Api. Aku merasa dia ada disini."

"B—benarkah?!"

Halilintar mengangguk. Dalam hatinya sedikit ragu.

Sebenarnya, Halilintar ingin bilang lebih baik dia tidak bersama Yaya karena takut terbebani. Dia memang ingin mencari Api, tapi ia memang tidak tahu apakah Api ada di dalam gunung berapi. Berinisiatif saja, setidaknya.

"Halilintar, awas!"

Sebuah batu berukuran tubuh mereka dilambung sepeti meteor ke arah mereka. Yaya mengaktifkan kekuatan jamnya, mencipptakan gravitasi berat hingga batu yang melintasi mereka pun jatuh sebelum menimpa mereka.

"Batu darimana ini?" tanya Yaya dengan suara kecil. Ada lagi sebuah bola api menuju mereka. Api tidak memiliki massa seperti angin, yang menyebabkan radius lebar lingkaran kekuatan Yaya tidak mempan kepadanya. Halilintar juga tidak bisa bergerak karena kuasa gravitasi memengaruhinya walaupun ia kawan.

Keduanya terkena bola tersebut. Langsung lingkaran cahaya yang dibuat Yaya lenyap, seiring mereka berdua kini terpental akibat dentuman api yang meledak.

Halilintar meringis dengan mata mengerjap. Suara pijakan yang cukup keras terdengar mendekati mereka. Makhluk dengan tubuh bercampur magma juga lava itu muncul dari dalam cairan di sekitar mereka sebelumnya. Matanya merah fokus memandang dua anak yang sekarang tidak berdaya.

"Chefuro..."

Yaya hanya bisa mendesis kecil menyebut nama makhluk itu. Halilintar bangkit dengan bersusah payah. Ia mengeluarkan pedang halilintarnya saat makhluk itu juga menciptakan bola api dari tangannya.

Ada seekor Cherufo menyerang mereka. Halilintar beberapa kali melemparkan pedang halilintarnya namun ia dapat menepis mudah. Yaya sekarang ketakutan.

Ia melihat lagi dari dalam cairan itu. Sosok makhluk dengan bulu merah menggeram pada Halilintar.

"Ifrit..."

"Hei teman! Tidak seru kalau main bola dua lawan satu!"

Yaya menelan ludah melihat siapa yang membuat kedua makhluk besar itu diam. Laki-laki dengan wajah senada Halilintar, tersenyum bangga menaikkan topi merahnya.

"Api!" seru Halilintar.

"Bagaimana kalau aku dan Halilintar bermain satu lawan satu?"

=oOo=

Perut tidak lagi terasa panas. Fang dan Gempa berjalan kembali dimana pertama kali mereka jatuh di dunia tanah. Harimau bayang sudah lenyap karena waktu yang mulai akan malam. Matahari akan tenggelam, menampilkan kilauan indah dari jurang yang sempat mereka lihat pertama. Jurag dimana ada air laut disana.

Fang masih membawa donatnya. Berjaga-jaga, ia menyimpannya pada saku jaket yang dililitkan pada pinggang kemudian.

"Sepertinya kita harus menunggu sampai besok. Malam bukan waktu baik untuk elang bayang beraksi," kata Fang memecah keheningan diantara mereka.

"Kenapa tidak keluarkan naga bayang saja? Siappa tahu sampai."

"Woi."

Kalau elang bayang saja tidak bisa dikeluarkan, bagaimana dengan naga bayang yang harus menunggu konsentrasi penuh dari pemilik kekuatan untuk keluar? Ada-ada saja nih Gempa.

"Sekalian saja golem naga tanahmu. 'Kan waktu itu sukses menahan amukan naga bayangku."

"Aku bukannya tidak mau mengeluarkan. Jika aku merasa aman dengan dunia atas, dari dulu aku sudah mengajakmu demikian!"

Gempa juga lupa kalau tangannya masih diikat.

Chirp! Chirp!

Suara anak ayam atau burung? Fang dan Gempa serentak mencari asal suara tersebut dengan menggerakkan leher mereka kesana kemari.

Suara itu masih terdengar bahkan sampai mereka menemukan sosok gadis terdekat. Ia terduduk dengan kedua kaki dilipat, dan membuat kedua tangannya memangku punggungnya dari membungkuk. Suatu yang aneh dari fisiknya, adalah kedua tangannya yang ditumbuhi bulu burung dalam jumlah jamak. Setelah Fang melihat lebih teliti, bahkan ujung tangan dan kakinya menyerupai kaki ayam.

Ada apa lagi ini? Makhluk apa?

Gempa sudah ingin mengajak Fang menjauhi makhluk itu. Fang tidak bisa berhenti menatap wajahnya yang berharap belas kasihan.

"Gempa... aku kesana dulu."

Fang melajukan langkahnya mendekati perempuan berambut merah bertubuh aneh itu. Gadis yang tadi bercicit atau apa, merasakan bayangan tubuh Fang menutup tubuhnya.

"Chirp?"

"Ada apa?" Fang menyamakan tinggi mereka dengan ikut berjongkok.

"Chirp... chirp..."

"Ada yang terluka?"

Gempa yang melihat aksi Fang ikut juga iba. Ia hela napas cukup panjang lalu mendekati kedua orang yang pikiran dan fisiknya abnormal itu.

"Aku tidak terluka..."

Perempuan itu bicara dengan bahasa manusia?! Bahkan suaranya cukup merdu untuk didengar. Gempa yang tadinya berjalan mendekat sempat terhenti karena kejanggalan barusan.

"Aku kelaparan... Tadi aku terbang ke sini untuk mencari makan, lalu hari sudah mau malam dan aku masih belum menemukan buah-buahan yang kubisa makan. Aku tidak berani menyeberangi ke jurang sana untuk pulang. Juga aku tidak mendapat buah untuk disantap."

Wajahnya memang tampak memelas sampai hati pengendali bayang luluh. Kelaparan itu memang tidak enak baginya, apalagi yang sampai bersusah payah bermigrasi ke suatu tempat hanya untuk memenuhi kebutuhan jasmaninya.

Fangn ingat ia memiliki donat pemberian Eternelle. Tapi... apakah dia harus memberi makanan kesukaannya pada makhluk yang baru ditemui?

=oOo=

Masih pada dunia atas, Gopal dan Ying berlari bertatih-tatih meninggalkan tempat mereka berdua sempat ditahan.

Sebelum insiden seluruh penghuni sana mengejar Halilintar bersama Yaya, mereka memanfaatkan kesempatan tersebut dengan mencari jalan keluar. Mereka mengikuti dari belakang para sylph terbang tidak beberapa lama. Dan, berhasil untuk bersembunyi pada bilik pohon besar terdekat.

"Aku...aku takut ketahuan..." kaki Gopal gemetaran. Berlari memang bukan hobinya, dan fisiknya bahkan tidak mendukung untuk itu.

"Jangan bersuara nyaring saja, kita pasti bisa lolos," Ying menyenderkan kepalanya sambil mengadah pada pohon.

"Taufan saja masih disini, dia itu pecahan Boboiboy yang cukup menyeramkan kalau diajak bermain... hahhh..."

"Kau benar, Gopal..."

Cuaca semakin gelap dari atas. Sementara mereka masih mengstabilkan respirasi kembali berjalan, Ying ingat akan misinya untuk mencari kata-kata yang bisa membuat Taufan tersadar akan jati dirinya. Apa, tapinya?

"Gopal... "

"...apa...?"

Ying masih terengah-engah, "K—kalau kita berdua saja, kita bisa mencari kata-kata untuk Taufan sadar... bukan?"

"Kuharap begitu... "

Bahkan untuk Gopal yang merupakan kunci emas kesuksesan misi mereka bisa bernada pesimis. Nyawa sudah diujung tanduk seandainya mereka tertangkap.

Ying jadi mengkhawatirkan bagaimana keempat pecahan tadi ditangkap. Pasti mereka tidak kalah ketakutan dari mereka sekarang. Mereka masih mending hanya bermusuhan dengan musuh setengah teman, bagaimana dengan para Boboiboy sebelumnya yang terkurung bersama makhluk aneh lagi astral berkekuatan god moding?

"Aku menemukanmu!"

Jantung Gopal dan Ying bisa dirasakan terhenti sejenak.

"Oh bukan, aku menemukan kalian!"

Gopal memballik tubuhnya dan saat bertatap wajah dengan orang yang tidak asing dimana harus dijauhi, ia ngesot mundur lalu kemudian mengkerahkan tenaganya untuk berdiri. Sedang Ying ikut ngesot namun kakinya gemetaran. Ying tidak bisa selaju Gopal untuk mengambi ancang-ancang kabur.

"Kena kau!"

Tubuh Ying dipeluk pengendali kekuatan angin itu. Gadis pengendali dimensi waktu itu menggeliat memberontak. Kuatnya regapan Taufan sempat membuatnya putus asa setidaknya untuk bebas.

"Taufan! Aku Ying! SADARLAAAHH!" Ying menjerit ingin menangis.

"Kau tidak mau jadi permaisuriku? Kalau kita berpasangan, kita bisa memanipulasi dunia ini dari bawahan 'dia'!" seru Taufan membalas kata Ying.

Gopal sudah berdiri. Ia mungkin bisa saja langsung berlari mengamankan diri, mumpung pengawalnya belum menyambut mereka.

Tapi menjaga Ying adalah tugasnya juga.

"Hei Taufan! Kau pasti curang menggunakan elemenmu untuk menemukan kami, ya?!" teriak Gopal sambil menahan rasa takutnya.

"Hmm? Aku hanya mendengar suara kalian berbicara."

'Suara...?'

"Lepaskan, Taufan!" Ying memberontak. Taufan masih kokoh menahan tubuh perempuan keturunan china.

Kepala Gopal terasa terketuk dengan satu kata 'suara'. Ia ingat apa misi mereka langsung, dan juga ingat kalau suara merupakan bagian angin.

Angin itu tidak terlihat dan bebas.

Kau tidak perlu melihat, tapi kau perlu merasakan.

"Aduh!" Ying merasa kakinya sakit tiba-tiba. Tubuhnya yang ambruk tidak ditahan Taufan sigap dan Ying terduduk di tanah.

Kedua laki-laki disana diam melihat Ying mengaduh.

"A—aku keseleo," kata Ying. Kedua matanya terpejam. Gopal membulatkan matanya mengerti mengapa Ying tidak bisa kabur secepat dia. Ying tidak bisa menggunakan kekuatannya, kalau kakinya saja kesakitan.

Suatu yang tidak terduga terjadi. Gopal dan Ying syok melihat Taufan yang malah duduk berjongkok menyamakan tinggi dengan Ying. Ia menarik satu kaki Ying dan mengelus pergelangannya.

"Maaf, aku tidak tahu kalau kalian takut padaku sampai menyiksa tubuh sendiri... maaf..."

Dua kata 'maaf' keluar dari bibirnya.

"Tidak bukan kamu, aku yang salah. Kau tidak perlu membantuku," balas Ying tersipu.

"Aku akan sembuhkan kakimu cepat. Tenanglah, Ying."

"Kalau begitu carilah obatnya!" tegas Gopal ikut panik.

"KAU SIAPA AKU, BERANINYA MENYURUHKU!"

Pelototan dengan bentakan sarkasme dari Taufan. Gopal kaget.

Ah kalau Ying adalah dasar Taufan sadar sementara waktu, lebih baik Gopal tidak ikut campur. Ia sudah tahu kata kunci untuk kepribadian Taufan berikutnya.

"The voice don't need to see, just feel."

Yang artinya sama saja...

Kebaikan bukan dari landasan seseorang mau mengikuti perintahmu. Namun kebaikan berasal dari hati. kau hanya perlu merasa terpanggil untuk bergerak.

'Dia penolong tapi benci diperintah. Dia mirip dalam tokoh game yang pernah kumainkan.'

=oOo=

Cuaca sudah menampakkan gelapnya hari tanpa sang mentari. Namun tidak di suatu tempat dimana literan lahar mengelilingi suatu dataran yang terasa panas jika dalam kaki telanjang.

Yaya beberapa kali meremas kedua tangannya. Ia gerigitan saat menyaksikan pertandingan antar laki di depannya menurutnya tidak seimbang.

"Ayo Halilintar! Katanya kau kuat?"

Dengan wajah penuh bekas bakar? Apakah Halilintar sekuat itu menahan segala serangan kaki dari Api yang sangat mengfavoritkan permainan bola sampai itu menjadi jenis kekuatan api dia?

"Tendangan api!"

Bam! Satu bola dengan berkeliling api itu mengenai pipi kanannya, menyisakan luka bakar di letak yang dikenainya. Halilintar dengan peluh masih menghiasi wajah meringis.

"Katamu kalau aku bisa mencetak gol sekali, kau baru akan ikut kami bukan? Aku akan melakukannya," dengan penuh percaya diri, Halilintar menyeka keringatnya yang sudah bercampur dengan debu batu yang terbakar.

Api semakin bersemangat. Ia tertawa puas. "Tentu saja aku bakal menepati janjiku!"

"Halilintar, jangan memaksakan dirimu!" Yaya semakin meremas tangannya kuat ketika lagi-lagi bola api berdentum pada dada laki-laki beriris merah itu. Halilintar terduduk dengan pantat mendarat terlebih dahulu.

"A—aku tidak apa... hahh..." bola yang mengenai dadanya jatuh di dekat kakinya. Ia menciptakan pedang halilintar dan menggunakan pedangnya untuk melakukan lemparan seperti permainan baseball.

Ifrit dan Chefuro mengaum mengejek. Perempatan muncul pada kepala Halilintar ketika mendengarnya.

Bola yang dilambung Halilintar hanya bergerak sejauh 60 cm. Yaya menepuk jidatnya yang basah.

=oOo=

"Tuan, aku melihat target tuan ada diatas sana!"

"Aku sudah menduga, Gempa dari awal tidak pernah terpengaruh oleh racun ratu."

"Jadi?"

"... nyanyikan lagu nina bobo padanya."

Bulan bersinar terang. Dari cahayanya, ia memantulkan sebuah alat musik dengan senar berbentuk berdiri. Sebuah harpa diperlihatkannya.

Ada tangan dengan sisik memulai memetik senar tersebut.

.

.

.

Little fireball never be dangerous without wood beside it

.

.

.

A/N: Saya langsung memasukkan Api dan Air disini, jadi angin, api, dan air akan bergabung. Ambush?! Ya, chapter ini dibuat agak panjang jadi chapter depan (insya allah) adalah ending!

Siapa yang memilih Halilintar dan makanan, selamat kepada Isha Kirara dan Chocolate Bubbletea! Hadiah? Kalian bisa menagih Fanart tokoh Boboiboy satu karakter dengan headshot black white. Saya akan upload FA pada email masing-masing, dan yang merasa disebutkan bisa PM saya langsung~ Karena kalau share pada facebook berasa hadiahnya bagi bersama, betul atau betul? (gak terima juga gapapa, ahh... utang gambar saya udah numpuk Alhamdulillah gak ditumpukin /plok)

Semua clue akan terungkap di chapter depan, terima kasih kepada NaYu yang mencoba ikut berpikir! Saya salut ada author yang penasaran dengan cerita ini (sampai kebawa mimpi lagi). Padahal saya aja mikir cerita ini gak bisa tidur jadinya. Tentang Eclair, apa sudah terbayang dari chapter ini tentang pandangannya terhadap Gempa sendiri?

Juga, saya berterima kasih keada panitia challenge karena memantau saya layaknya mandor meminta jatah bekal anak buahnya /GAGITUOI