BoBoiBoy © Animonsta Studios

Element Dimension

.

.

.

Enjoy!

.

.

.

For #RGSurviveChallenge

.

.

.

"Aduh... kalian kok ninggalin aku sih..."

Dari dalam ruangan dimana dihampar dedaunan hijau yang besar, ada sosok bola dengan nuansa kuning dominan mengaduh. Menggunakan kedua kakinya yang berupa roda, dari tadi robot itu mengintip sana-sini mencoba mencari jalan keluar secara waspada.

"Bola kuasa begini malah ditinggal," gerutu Ochobot pada dirinya sendiri. Ia kini benar-benar takut, karena ia takkan bisa berkutik apa-apa ketika ditangkap musuh. Ia hanya bisa melakukan usaha yaitu kabur.

Pemberi kuasa, namun ia sendiri tidak bisa melindungi dirinya.

Kadang Ochobot pernah untuk setidaknya andai ia seperti robot milik musuh mereka itu; si Probe. Menjadi robot petarung yang bisa melindungi sendiri. Tidak perlu menyusahkan orang lain.

Namun angan hanyalah angan.

"Mereka benar-benar meninggalkanmu sendirian."

Suara yang terdengar familiar didengar Ochobot. Tadinya ia tidak mendengar suara apapun sebelum satu kalimat itu muncul. Bagaimana bisa ada 'dia'?

"ADU DU?!"

Sesuatu mengangkat tubuh mesin mekanik itu tinggi. Ochobot mengerang, mencoba melepaskan diri dari dua telapak tangan yang memeganngi kedua sisi tubuhnya sekarang.

"LEPASKAN AKU, ADU DU!"

"Ratu Eclair, aku sudah mendapatkannya," Adu Du tidak peduli dengan erangan robot kuasa. "Lagian bukan aku yang menahanmu, Ochobot."

"Bagus."

Ochobot menghadap depan dan menghentikan aksi sia-sianya. Memang benar, Adu Du berdiri di depannya. Namun sesuatu mendekati si alien berkepala kotak itu begitu anggun; seperti manusia yang mengikuti model internasional. Ia lirik ke belakang, mendapati sosok monster bertubuh manusia dengan otot kekar lagi besar mengenggamnya dengan hanya satu tangan.

"Apa... APA YANG KALIAN RENCANAKAN?!" teriak Ochobot ketakutan.

"Apa yang kami rencanakan?" Adu Du tertawa. "Aku baru dapat fakta tentangmu setelah berbincang dengan sang Eclair. Aku sungguh tidak percaya, aku dahulu menyia-yiakan sesuatu yang spektakuler!"

"Ochobot... diciptakan oleh professor yang menggilai sesuatu yang instan. Teknologi dan sihir, dialah yang dahulu memperkenalkan bahwa apa yang seperti 'langit dan bumi' itu ternyata satu."

Apakah Eclair tahu masa lalu Ochobot sendiri? Robot berbentuk bola itu kaget bukan main. Masa lalunya itu sebenarnya tidak ada yang tahu, bahkan tidak boleh ada yang tahu.

Tapi ia baru ingat, kalau dulu Eclair pernah ada dalam memori kelamnya.

=oOo=

Daritadi kedua iris Fang bermain-main. Melirik pada sosok perempuan dengan tubuh tidak normal dan apa yang digenggamnya secara bergantian. Apa? apa yang harus dipilihnya?

"Oy Fang, kau melamun kah?" tegur Gempa. Menunggu si pengendali bayang membuka mulut bukan main lamanya. Pasti melamun. Apa lagi?

"Enghh..." pemuda berkacamata itu menggeleng kepalanya kecil. "Tidak apa-apa..."

Wanita yang sedari tadi menunggu apa yang akan mereka lakukan terhadapnya, hanya bisa diam terpaku ketika pemuda di depannya kini menyodorkan sebuah donat kepadanya. Lumuran saus putih dengan pernak-pernik hiasan lainnya, terkemas rapi di dalam sebuah plastik untuk mencegah topping terkontaminasi dengan udara luar. Membuat sang harpie itu tergiur memandangnya.

Perempuan itu adalah seekor harpie, tentu saja. Karena dia punya sayap. Fang pernah tahu jenis makhluk tersebut karena ia juga hobi bermain game fantasy.

"Mau aku bukain?" tawar Fang. Ia mencoba menangkap mengapa perempuan di depannya hanya diam tidak bicara. Mungkin ia tidak tahu bagaimana memakannya.

"Bukain?"

Fang menghela napas. Ia langsung menarik kembali donat itu lalu membuka bungkusnya. Pemuda berambut hitam kebiruan itu memposisikan berjongkok, menyuapi perempuan itu yang masih duduk dengan kedua lututnya.

"Makanlah. Pasti enak," disertai senyuman lembut, Fang berharap usahanya membujuk manis membuat perempuan itu tidak sungkan menerimanya.

Di sisi lain, Gempa ikut memerhatikan mereka. Ia mengukir senyuman keci dari bibir tipisnya. Takjub dengan pemikiran rivalnya itu, yang lebih mementingkan siapa yang memerlukan dari sebuah ego. Biasanya... Fang selalu berbuat jelek. Gempa ingat Fang pernah menyelip barisan para anak-anak yang mengantri di kantin hanya untuk mendapat donat itu lebih dahulu.

Sekarang Fang memang benar-benar berubah. Menjadi lebih baik lagi dewasa. Meski dalam beberapa pertarungan dahulu, Fang selalu percaya kekerasan akan lebih jauh membuahkan hasil yang baik. Setidaknya dia sedikit maju untuk mengerti peranya sebagai orang yang dititip kuasa oleh Ochobot.

Melodi petikan mengiang pada telinga pengendali tanah. Begitu merdu dan memikat. Entah darimana dan mengapa ada orang yang mau-maunya mengambil waktu nyaris akan malam, hanya untuk bermain musik petik.

Datanglah... datanglah...

Meski hujan badai menghalang...

Datanglah... oh datanglah...

Karena sisikku takkan berkilau, tanpa sepasang netramu menjengkukku...

Tubuh laki-laki bertopi terbalik itu memutar 180 derajat. Lalu ia melangkahkan kakinya mencari asal suara itu berkumandang. Nada kesepian dengan terdengar sedih. Hatinya bergerak ingin mendamaikan rasa sendirian itu dengan sedikit waktu kehadirannya,

Ia tidak tahu apa yang akan ada di depannya, jika terus mengikuti hati.

Seperti layaknya sebutir debu yang terbawa arus air.

=oOo=

"Taufan, berhenti..."

Kedua pelupuk mata perempuan bermata empat itu menyipit. Ia sudah berapa kali menepis tangan pengendali elemen angin itu menyentuh pergelangan kakinya.

"Uratmu melilit dengan tulang. Kau harusnya mengerti itu."

Laki-laki bertopi miring mencoba menggapai kaki si perempuan pemanipulasi waktu. Dan lagi-lagi, tamparan tangan didapatkan dia.

Taufan berniat baik sebenarnya, untuk membuat perempuan setahun lebih muda darinya itu tidak lagi merintih kasakitan. Tapi bagaianapun metode penyembuhan, pasti pada awal ada saja yang namanya rasa tidak rela untuk sakit lebih dari apa yang sudah ada. Manusia saja jarang yang mau minum obat pahit. Bagaimana dengan seorang gadis yang harus mengikuti laki-laki yang pengetahuan IPA saja kurang, tapi dengan memainkan kakinya begitu kuat hingga menjadi sebab sensasi ngilu begitu besar?

"Hahh..." bocah bertubuh gempal mendesah. "Sampai kapan kalian saling keras hati begitu?"

"Kakiku sakit! Aku takut dia mematahkan sendinya!"

"Aku mencoba menolong, wahai perempuan labil yang tidak tahu mana waktu yang pas untuk berkeras hati!"

"Aku takkan berkeras hati, jika kau tidak berniat menyakitiku! Dasar kau!"

"Kalau mau sembuh, harus ikuti perintahku lah"

Gopal... kau semakin membuat suasana panas.

"Sudah. Sudah. Kalau Ying tidak mau, biar aku yang sembuhkan," Gopal menarik kedua tangannya lalu memijit-mijit satu persatu dari mereka. Suara patahan antar sendi tidak terdengar, tapi setidaknya cukup membuat Ying meneguk liurnya.

"Aku—aku bisa," Ying memaksakan kedua kakinya untuk tegak. Lumayan menahan nyeri sedikit, ia bisa berdiri seperti tidak terkena apa-apa. "Larian laju!"

Dan ia hanya bisa menempuh lari sepanjang 300 meter. Tubuhnya kembali terjatuh lagi.

"Ying!" kedua laki-laki itu segera menghampiri Ying. Taufan mungkin lebih cepat dari Gopal karena selain ia mempunyai hover board, tubuhnya mendukung untuk kelajuannya bergerak. Sesaat Gopal merutuki badannya yang seperti gajah bengkak.

Perempuan keturunan negeri tirai bambu pun menenggelamkan wajahnya pada lipatan tangannya. Kebetulan ia rebah dalam posisi telungkup. Ia tidak perlu memutar badannya dari hamparan rumput kecil dan bebatuan untuk menyembunyikan wajahnya.

Bwoosh! Angin laju menyusul kelajuan Taufan memakai hover boardnya. Betapa terkejutnya sang pengendali angin tidak lagi menemukan sosok Ying kembali.

Kepalanya mendongak ke atas lalu mendapati sosok naga dengan kedua tanduk kayu melambungkan tubuh Ying ke udara, dan segesit mungkin ia menggunakan punggungnya untuk menangkap apa yang ia lempar. Disana juga terlihat sosok laki-laki bertubuh gempal duduk di depan Ying. Naga tersebut berbelok menuju ke arah Taufan, memperlihatkan tubuhnya yang semakin lama terlihat begitu raksasa.

Naga dengan ukuran lebih dari 12 kaki itu mendarat tepat di depan Taufan. Sedikit ada hembusan angin yang dibuat dari kedua sayap berbahan daun merah dengan kilauan biru juga ungu, mampu membuat tubuh laki-lak bertopi miring terdorong.

Taufan menahan tubuhnya agar tidak terbawa dengan memposisikan duduk.

"Maaf aku lupa kamu, Phico."

Kepala sang naga diturun sedikit. Taufan memanjangkan tangannya setelah didekati sosok makhluk berbadan putih berloreng kuning itu, lalu membelainya.

"Hei, kurasa Taufan sudah sadar," bisik Gopal. "Meski tidak ingat dia telah melakukan apa dengan kita—mungkin—dia mau tuh bantu kita."

"Memang racunnya seperti apa sih?"

"Aih kau seperti tidak tahu saja. Kalau kau tahu siapa kau, tidak akan ada yang bisa mengendalikanmu."

"Jadi... dia sadar siapa dia?"

"Mungkin? Karena dia sadar dia suka menolong, makanya dia kembali 'kan? Ochobot pernah bilang kalau Halilintar lupa alasan hidup dia takkan terkendali atau berbalik jadi musuh kita. Seperti itu juga keadaan yang lainnya. Tapi Taufan sudah ingat."

"Racunnya tidak kuat... jadinya? Jadi yang membuat mereka lupa, karena memang mereka sendiri lupa siapa mereka?"

"Yap. Bukannya begitu, Ochobot?"

Mereka berdua saling memandang sejenak. Masing-masing menyamakan reaksi terkejut.

"Dan... aku rasa, kita melupakan sesuatu."

=oOo=

"Halilintar! Ayo berhenti!"

Sudah beberapa kali perempuan dengan kepala serba tertutup kain itu menyeru hal yang sama. Suaranya terdengar kecil, kehabisan suara. Namun mengapa dari tadi teriakannya tidak membuat laki-laki yang bersamanya itu menghentikan perlawanannya terhadap orang yang berwajah sama dengannya?

Duakh! Satu tendangan dari Api dikerahkan dan mengenai bahu kanan Halilintar. Api membuat lagi bola api serupa, lalu ia lambungkan dan mengenai dahi Halilintar. Berapa bola sudah dilemparkan Api?

Yaya menutup mulutnya. Hatinya teriris meihat pertempuran tidak seimbang—walau bagi Api itu seimbang, namun siapa yang akan menganggapnya setara jika kamu menguasai permainan yang kau buat sendiri sedang orang tiidak? Juga kerasnya hati Halilintar sendiri membuat hatinya semakin pilu.

Tidak tahan untuk melihat kesekian kalinya bola melambung dan menghantam bagian tubuh Halilintar, ia berlari. Mencoba menggapai tangan pengendali kuasa petir itu.

"Aku... aku akan berusaha. Aku punya jalanku sendiri, untuk menyelesaikan masalah di depanku..."

Kedua kaki Yaya terhenti sendiri.

"Aku akan buktikan, kalau aku memang kuat... aku akan coreng omong kosong Taufan dulu ... ukhh...!"

Tubuhnya tumbang. Kakinya berkata lain untuk niat kuat pemiliknya sendiri, ia menekuk hingga keseimbangan badan hilang kendali. Yaya memantapkan larinya untuk menangkap tubuh Halilintar. Ia berhasil memapah Halilintar.

"Ayolah Halilintar~ Kau bukannya... kuat, ya?" ejek Api. "Atau aku salah tanggap?"

"Api, ini tidak lucu! Kalau kau membunuh Halilintar, kau juga akan kena dampaknya!" kecam Yaya.

"Aku tidak membunuh! Aku... aku hanya ingin bermain..."

Api memang tercipta dari kepribadian Boboiboy yang merasa masa anak-anaknya malah diisi dengan peran yang tidak sehat bagi umurnya sendiri. Mungkin dia memang kesepian, namun tidak tahu harus mengajak siapa dan bagaimana menahan semua rasa ingin mengisi memori senang-senang.

Api mirip dengan sang landak. Maka... harus ada si kura-kura.

Air lah orang yang harus menjadi 'kura-kura' bagi Api.

Masalahnya, dimana dia? Dan Air, mungkin bisa jadi merupakan musuh mereka juga.

=oOo=

"Lepas! Lepaskan aku!"

Jeritannya ia buat keras guna dihiraukan. Sialnya, bagaimanapun ia melolong... hasilnya juga nihil. Mereka memang punya niat untuk menangkapnya. Hanya orang bodoh saja yang melepaskan apa yang direncanakannya sebelumnya, bagi sebagian orang.

Ochobot dikekang dalam suatu kurungan sel besi berukuran mini. Mungkin kurungan yang manusia biasa gunakan untuk mengurung monyet? Atau seukuranya. Kemudian kurungan yang ditempati Ochobot diletakkan pada lantai berbahan semen. Lensa robot berbentuk bola itu mengedar sekitar.

Hitam pekat. Hanya dibekali secercah cahaya dari obor yang dipegang pengawal yang membawa dirinya beserta kurungan.

"Ternyata racunku tidak berhasil. Aku sudah tahu dari Gempa, sebelumnya. Dia tidak bisa berkomunikasi denganku. Tapi aku tidak menaruh curiga karena aku sendiri belum pernah memakaikannya pada siapapun."

Suara pembuka berasal dari arah wajah perempuan yang terbiaskan pantulan obor. Wajah yang begitu menyeramka, dengan sisik yang tampak tertimbun dari sedikit areanya.

"KENAPA BISA BEGITU?! KAU PASTI TAHU SESUATU!"

Kurungan dimana Ochobot tempati ia goyang. Begitu kuat, namun hanya berlaku selama kurang lebih satu menit. Sang ratu iblis itu mendamaikan hatinya. Ochobot menahan ketakutannya. Ia berusaha sebisa mungkin yang ia mampu.

"JAWAB!"

"Kau tidak tahukah kalau mereka terlahir dari bagian ego!" jerit Ochobot ketakutan. "Kau pasti tahu tidak sembarang teknologi bisa membuat sesuatu berhasil 100 persen!"

"Ego... apakah dia produk gagalmu?"

Eclair memicingkan matanya menatap sang robot. Ochobot hanya bisa diam, dengan lensa biru sebagai matanya kini turun. Menggambarkan bahwa Ochobot tengah sedih.

"Aku tidak tahu... tapi, dampak buruknya memang jika mereka berpecah tidak akan bisa menjadi orang yang sama lagi..."

"Lupa ingatan ya? Menarik. Apa ada salah satu dari mereka yang demikian lalu menyerang?"

"Halilintar," ujar Ochobot jujur. "DIa, pernah menyerang kami."

"Dan kau?"

"Aku... apa?"

"Pasti ada efek samping dari itu."

"Kau bahkan pernah melihat secara langsung bagaimana profesor dibunuh oleh eksperimennya. Seperti itulah saat itu kondisiku."

"Jadi sama ya..."

Kedua lensa Ochobot mulai tenggelam masuk. Ia ingin istirahat, melupakan sejenak apa yang barusan bangkit dari buih kenangan kelamnya.

"Kau juga menahan sakit? Lucu. Kurasa Halilintar memang umpan yang cocok. Jangan-jangan dia memang mirip dengan eksperimen beliau yang gagal."

=oOo=

Sang harpie memakan donat dari Fang begitu lahap. Wajahnya yang begitu senang sempat membuat Fang fokus menatapnya begitu lama. Sudah lama sekali sang pengendali bayang tidak berbuat sesuatu untuk menyenangi seseorang—atau mungkin sosok aneh. Ia jadi mengerti mengapa ia nyaman melakukan semua pekerjaan baik yang dikomando oleh rivalnya.

"Hahaha, kau begitu lahap. Coba lihat, Gempa."

Perempuan itu mengangguk ketika Fang kembali bersuara. Namun respon dari orang kedua tidak kunjung bersuara sejak Fang mengajak bicara. Hei, dia marah atau apa?

"Boboiboy?" tegur Fang sambil membalikkan badannya. Ia celingak-celinguk mencari kemana rival yang barusana bersamanya?

"Gempa?" panggil Fang sambil berjalan, namun tidak meninggalkan harpie itu begitu jauh.

"Gempa!"

"Gempa! Kau jangan bercanda! Kita tidak boleh main petak umpet, apalagi waktunya malam!" Fang kehabisan kesabaran.

"Temanmu yang kedua tangannya ke belakang tadi, ya? Kukira dia hanya orang numpang lewat saja," harpie itu tampak cemas dengan Fang.

"Dia memang temankku, har—"

"Panggil aku Rebecca."

"Aku Fang," ia memperkenalkan dirinya. Astaga Fang, ingat waktu adalah uang! Ia menggelengkan kepalanya, lupa dengan apa yang harus ia fokus sekarang. "Kau ada lihat temanku, Rebecca?"

"Dia tadi diundang oleh Myta."

"Siapa dia?" kepala Fang agak dimiringkan, bingung.

"Dia... seekor siren. Temanku dari dunia air. Kami begitu akrab, tapi dia memang tidak pernah memenuhi satu permintaanku sekalipun sepanjang kami bersama."

"Kenapa? Bukannya kalian sahabat?"

"Myta suka menyendiri... tapi aku tidak tahu dia itu suka menyendiri atau tidak, karena juga kadang ia mengajak satu teman untuk menghampiri dia dengan memainkan harpanya."

Fang terhenyak sebentar. "Jadi mengapa aku tidak mendengar lagunya?"

"Karena kau fokus denganku."

Cukup masuk akal. "Baiklah. Aku cari temanku dulu. Selamat tinggal, Rebecca."

"Tunggu!"

Fang yang tadi ingin berlari terhenti kembali. "Apa?"

"Terima kasih untuk donatnya. Begitu enak," senyuman tulus dari sang harpie membuat pengendali bayang ikut membalas tersenyum. "Dan sebagai gantinya, kuharap kau mau memakai milikku."

"Aku bukan orang yang suka pamrih. Terima kasih buat tawarannya—"

Rebecca menahan pundak Fang. "Myta bukan orang yang suka ada pengganggu saat ada tamunya datang. Jadi, mungkin kau perlu 'dia' bersamamu."

"Dia?"

"Sayap icarus."

=oOo=

Kedua sayap besar dari dedauan itu mengepak kuat. pemiliknya—yang merupakan seekor naga putih—terbang menanjak turun begitu laju. Diatas punggungnya ada tiga orang yang bersusah payah menahan posisi benar agar tidak terbawa angin tolakannya.

"Dan disaat seperti ini tidak ada Ochobot—makanya aku takut memakai kekuatanku!" jerit Ying lumayan keras. Tubuhnya gemetar hebat karea ia nyaris melepas cengkeramannya pada tanduk sang naga.

Gopal juga memandang Ying takut. Sedang Taufan malah bersenang-senang memeluk salah satu duri kayu yang Taufan panggil Phico.

Terlihat pada ujung sebuah gunung berapi dimana percikan api berkeliaran meluap darinya. Ying membulatkan matanya ketika menangkap sesuatu apa yang membuat percikan tersebut ada. Sosok laki-laki berpakaian kategori panas itu saling bermain bola—lebih tepatnya laki-laki berpakaian merah agak jingga menendang bola pada laki-laki berjaket merah kehitaman di depannya.

"TAUFAN! LIHAT!" Ying menunjuk isi gunung berapi. "API DAN HALILINTAR BERTARUNG!"

"APA KAU BILANG?! AKU TIDAK DENGAAAAARRRRRR~" balas Taufan melankonis.

"TAUFAN, HALILINTAR ADA DI GUNUNG BERAPI!"

"AKU TIDAK DENGAAAAAAARRRRRRR!"

Tenggorokan Ying kering sudah. Namun disaat ia akan pasrah, sang naga memang akan terbang masuk menuju isi gunung yang ditunjuk Ying. 'Uh kalau tahu, mending aku tidak usah teriak,' gerutunya.

Dibantu pendaran cahaya bulan, Phico mendapatka tempat layak mendarat; yaitu pada bibir gunung berapi. Taufan menarik hover boardnya menuju dimana Halilintar memang sudah terlihat akan tumbang.

Yaya yang dari kejauhan melihat Taufan mendekati mereka. Reaksinya yaitu berlari ke hadapan Halilintar lalu merentangkan tangannya. "Kumohon, jangan sakiti dia lebih..."

"Hei Yaya, Taufan sudah sadar!"

Yaya mengerjapkan matanya. Kini pandangannya teralihkan memandang sumber suara laki-laki selain para Boboiboy. "Gopal? Ying mana?"

"Aku disini!" Ying melambai di sebelah Gopal.

"Kalian.. berhasil... ya?" Yaya merasa berdosa karena meninggalkan kedua temannya di atas. padahal dia yang kabur, justru temannya yang masih berada di lokasi gawat kini membantu karena berhasil menaklukkan Taufan. Rasanya Yaya begitu payah.

"GROOAAAAA!"

Ifrit mengaum marah melihat keributan dari reunian anak-anak di depannya.

"Kalian jangan halangi pertarungan aku dan Halilintar!" ketus Api disana. Ia mewakili kemarahan ifrit kepada mereka.

"Api! Egois dan kebutuhan itu beda! Kau tidak bisa selamanya membuat orang melayanimu kalau kau kesepian. Ingat, Api!" tukas Gopal.

"Apa urusanmu bocah bertubuh bengkak?!"

Bwoosh! Bola api diberikan Api kepada Gopal. Disaat itu juga Taufan melesatkan bola anginnya agar arah sang api terganggu; tidak sampai pada target penyerang.

"Api, aku tahu kok kalau kau hobi bermain. Aku tahu kok kalau kau begitu kesepian ingin bersama teman. Kita 'kan, sama," mulai Taufan. "Walau aku lebih santai menghadapi hidup darimu."

Semua menatap Taufan heran. Lagi-lagi pecahan yang pamernya kelewatan ini mengatakan hal yang tidak perlu diucapkan.

"Kau bisa bermain bersama kami, kalau kau tidak menyakiti kami. Kau bisa terus bersama kami, kalau kau bisa merawat kami."

Asalkan kau tidak mendesak suatu api membakar semua persediaan kayu bakar yang kau berikan pun, api itu akan terus hidup abadi sampai sang kayu yang ia lalap habis menjadi abu.

"Kau tidak perlu memaksakan sesuatu. Karena tanpa paksaan, asalkan dari hati yang tulus, kami akan awet bersamamu," sambung Gopal yang masih berada di atas kepala sang naga.

Kami akan menjadi kayu yang selalu menghidupimu. Karena tanpa kau pun, kami juga bisa kesepian sama sepertimu.

"K—kalian berjanji... berjanji akan selalu bermain bersamaku?" kedua iris merah jingga Api berkaca-kaca. Tidak berlangsung lama, muncul genangan air yang kemudian menitik menjadi air mata. Api menangis.

"Api masih mudah untuk dihasut karena dia masih mau mendengarkan orang meskipun terlihat cuek," bisik Ying. "Lagi-lagi, kau tepat. Hebat kau, Gopal."

"Dia itu menghargai setiap apa yang orang komentar tentangnya, tapi dia tidak mau memasukkannya karena menjadi beban. Karena itu Api berusaha mencari kegiatan yang dapat membuatnya lepas dari hal-hal yang membuatnya jengkel."

"Gempa yang suka memberitahu. Taufan yang suka menolong. Api yang suka mendengarkan. Kau bisa membuat lagi untuk Air?"

"Dia sulit karena orangnya tertutup. Lagian aku masih pusing karena kita masih kehilangan Ochobot!" geram Gopal menyesali diri.

Dari sana, Halilintar yang terbaring itu merutuk dirinya. Ia tidak berguna lagi untuk kali ini.

Dan kegelapan hati mulai meretakkan hati sang pengendali petir.

.

.

.

The river looks calm, but opposite from the inside of it

.

.

.

A/N: Kesibukan gambar saking santai, terkutuklah saya. Maaf ralat, chapter depan benar-benar akan jadi chapter terakhir karena saya butuh referensi lebih untuk endingnya. Hei yang penyuka fanfic ini, ada yang sudah melihat rupa Phico; naganya Taufan? Dia muncul juga saat awal Taufan jadi jahat kok, walau detailnya salah saat itu. Yang mau lihat rupanya bisa mengunjungi akun deviantart saya pada bio akun ffn saya ini. Saya berterimakasih dengan salah satu grup roleplay yang membangkitkan jiwa fantasi saya. Benar-benar menjadi tempat belajar saya menulis namun bisa dimengerti orang.

RG itu kependekan dari Riddle; Guess. Sesuai dengan jenis challengenya, saya harus mengikuti ketiga kosakata disana untuk dijadikan suatu cerita; seperti sekarang ini!

Saya berterimakasih dengan NaYu Namikaze Uzumaki buat partisipasinya membangkitkan saya menulis, yah walau stuck setengah dan baru saya lanjut setelah pesanan gambar selesai sih. Maaf atas keterlambatannya. *bow* Mungkin ada yang sadar disini, bagaimana mereka bisa sadarkan Air? Karena saya memasang promptnya sekilas pada satu adegan disini.

Thanks for your review, fav, follow, and who read this fanfic to this chapter! See you at the end chapter!