BoBoiBoy © Animonsta Studios
Element Dimension
.
.
.
Enjoy!
.
.
.
For #RGSurviveChallenge
.
.
.
Bagaimanapun, kalau Halilintar bersama Taufan pasti bala akan menimpanya. Atau kata lain, kesialan.
Entah ini hanyalah hipotesa laki-laki berpakaian serba hitam itu—semoga saja demikian—atau memang apa yang menganggu pikirannya terus terjadi. Taufan yang bertarung bersamanya malah menjadi sebab usahanya gagal. Seperti misal saat melawan robot pango.
Tapi Halilintar memang tidak bisa memarahinya juga. Sebagaimana dia menjauhi sang pria periang, dia lebih beranggapan Gempa yang lebih baik menangani kasus sendirian dari Taufan. Ada sesuatu yang harus ia jaga darinya, yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata.
"Hei Halilintar, aku—aku tidak bermaksud mencari ribut denganmu—serius!"
"Setelah mengatai aku paling lemah? Cih! Aku akan buktikan kalau aku lebih kuat dari siapapun!"
Halilintar percaya dirinya cukup kuat. Definisi petir ialah menghancurkan dari dalam, tidak seperti api yang merupakan kebalikannya dimana menghancurkan dari luar. Jika air adalah elemen penyembuh dari dalam jua —tidak heran ia yang selalu menjadi syarat wajib pertama untuk melakukan kewajiban agama islam karena ia mampu membuat 'apa yang didalam kembali ingat perannya', maka petir bagaikan virus yang bisa membuat elemen air tidak berkutik. Kata lain, hanya petir yang bekerja di 'dalam' bisa menyerang air yang punya peran serupa.
Itu juga berarti ia bisa menghancurkan seseorang dari dalam.
"Lalu Taufan, kau dan Api akan ke tempat Air berdua sedang kami harus menjaga Halilintar?"
"Kalian 'kan lebih dekat darinya. Lagian, Gempa lebih membutuhkan kami sekarang. Aku tidak bilang aku akan membawa Api turut serta."
"Taufan! Tunggu!"
Berbagai suara manusia dan alam bergabung menghiasi pendengaran sang pengendali petir yang masih terkulai. Memasang indera pendengarnya secara baik.
"Taufan, kau juga Boboiboy. Harusnya kau yang lebih tahu dari kami."
"Taufan punya masalah dengan Halilintar sendiri. Jangan memaksanya untuk menenangkan Halilintar."
"Yah benar kata Api. Adios semuanya~"
Suara percakapan sempat terhenti cukup lama. Kemudian tidak berangsur lama suara laki-laki memulai kembali ppercakapan.
"... Bagaimana denganmu sendiri, Api?"
"Aku masih berusaha menyeka tangisanku. Jangan suruh-suruh dong, ah."
"Kekanakan sekali."
"APA KAU BILANG, GOPAL?!"
"Ehh—tolong! Aku tidak bermaksud begitu!"
Halilintar memiringkan kepalanya untuk melihat bagaimana gambaran obrolan mereka sekarang. Gopal dan Api yang saling berdebat—menurut sudut pandang Halilintar sendiri (padahal jelas-jelas Gopal tengah menghindari amukan sang Api). Yaya dan Ying yang berlari menuju ke arahnya. Dan... Taufan yang terbang bersama hover boardnya meninggalkan lapangan gunung merapi.
Bahkan Taufan pun sedikit demi sedikit menjauhinya.
"Cih."
Yaya terhenti dari larinya kemudian menangkap pergelangan tangan kawan sekaligus sahabatnya. Ying ikut terhenti.
"TAUFAN! SETAN KAU!"
Set! Angin menabrak kedua perempuan itu, seakan ada yang melaju melintasi mereka. Halilintar menggunakan lari kilatnya untuk keluar dari gunung berapi.
"Eh? Halilintar!" Yaya mengaktifkan jam kuasanya untuk terbang menyusul Halilintar. Gopal dan Api yang sibuk sendiri, melongo kemudian melihat semua temannya pergi.
"ADA APA SIH?!" jerit Gopal dan Api bersamaan.
Ah iya, Yaya harus membawa Gopal keluar. Ia berbalik kembali, membiarkan Halilintar mengejar Taufan tanpa alasan yang ia ketahui.
=oOo=
"Hmmm, menarik."
"Jangan permainkan dia," pinta sang robot yang masih disekap dalam kurungan besi. "Aku mohon, hatinya paling rentan dibanding yang lain."
Sebenarny Api juga termasuk. Yah, tapi Api bukan pendendam seperti Halilintar. Yang selalu ingat apa yang orang nilai kepadanya sampai kapanpun. Karena Halilintar adalah orang yang condong menganggap dirinya sudah perfeksionis. Ketika dijatuhkan sedikit saja, ia akan ingat siapa orang yang telah membuatnya gugur.
"Tidakkah kau senang kalau pecahan yang paling lemah karena 'dirantai' ini, justru akan jadi diri laki-laki itu paling kuat?"
Rantai Halilintar hanyalah 'kepedulian'. Selama hal tersebut masih memenuhi pikiran dan hatinya, ia tidak bisa mengeksploitasikan potensial kekuatannya sendiri karena takut menyakiti orang yang harus ia lindungi. Itu yang ditangkap Ochobot pada apa yang Eclair maksud.
"Bagi Boboiboy, yang penting kuat karena melindungi orang. Bukan menjadi kuat namun menelantarkan semuanya... kumohon, jangan..."
Eclair mendengar permohonan Ochobot sebagai melodi baginya. Ia senang melihat siapapun menderita. Itu bagian kesenangan.
"Kau bilang Halilintar menjadi jahat karena mendengarkan musuh, bukan?"
Ochobot hanya bisa terdiam kini. Eclair menyumbingkan senyum iblisnya.
"Kita ke dimensi air."
=oOo=
Bocah bertopi biru ke depan duduk pada batu besar pada ujung akhir sungai menuju laut. Ditemani oleh sosok perempuan dengan kulit bersisik, mereka duduk tenang bertemankan melodi harpa yang memikat.
Ada laki-laki dengan topi terbalik berjalan menghampiri mereka dari atas dataran. Tubuhnya kaku dan melangkah layaknya robot. Sang perempuan yang masih bermain harpa itu menahan senar-senar bergetar. Melodi terhenti dari pendengaran. Pemuda tersebut terhenti dari langkahnya.
"Selamat datang menuju kematian."
Sambutan dari Air memang pendek, namun terdengar mengerikan.
Gempa menyipitkan matanya. Satu bulir peluh mengalir melalui pelipisnya. Sialnya, tangannya masih diikat padahal kematian terlihat sejengkal saja lagi.
"Musuh dalam selimut. Ratu tidak perlu orang yang bisa menyusahkan."
Gertakan gigi dilakukan Gempa. "Air, maaf aku hanya berusaha untuk mencari jalan keluar. Aku selalu mencari jalan bagaimana mengalahkan permainan aneh ini!"
"Jadi, bagaimana?" siren itu menopang dagu begitu genit dengan sebelah tangan.
"Buat dia tenggelam."
"Permintaan diterima~"
"DENGARKAN AKU DULU, AIR—"
Lagi-lagi senar harpa bergetar, menciptakan melodi berurut mengikuti kuat lemahnya tangan gemulai sang siren. Kaki Gempa tidak mau menurut pada pemiliknya. Kini ia berjalan seperti boneka yang dikendalikan.
'Tolong, Fang! Tolong aku!'
Semakin lama irama musik begitu terdengar mencekam. Menggambarkan suasana angker yang harus dihadapi Gempa kemudian. Secara definisi, tanah lemah dengan air. Bila ia basah, sudah pasti ia tidak bisa menggunakan kekuatannya. Ditambah lagi kedua tangannya yang masih berupa batu, menambah massa hingga ia cepat tenggelam.
Satu tapak kaki lagi akan membuat tubuhnya ikut terseret jatuh.
Ting!
Sesaat melodi kematian tidak terdengar oleh sepasang telinga Gempa. Sunyi senyap hanya bertemankan desiran sungai dan angin malam.
'Ada apa?'
"AIR! BERHENTI!"
Bwoosh! Angin besar nyaris akan menerbangkan topi Air. Pemiliknya menahan sang topi untuk terangkat. Ia mendongak, menemukan sosok laki-laki berparas sepertinya melayang di atas hover board angin. Topi miringnya ia tahan sekuat mungkin.
"Taufan? Kenapa—"
"Musuh kita bukan Gempa! Tapi ratu kita sendiri!" ucap Taufan. Gempa yang melihat salah satu pecahannya sadar siapa dia entah harus bersyukur atau apa.
"Kau sudah bersengkokol dengan mereka?!" wajah Air terlihat kelam dari biasanya. "Pedang air!"
"Pusaran taufan!"
Pedang air dan bola dari kumpulan angin beradu. Taufan membentangkan tangannya, menambah laju desiran angin membentuk pola bola.
"AIR! KAU TAHU, OTAKMU SEDANG DIPERMAINKAN!" peringat Taufan.
"Justru otakmu yang dipermainkan!" Slash! Pedang air memecah kubahan angin.
"Taufan!"
Ada yang menarik tangan Taufan cepat. Seandainya saja telat sedikit, kepala Taufan sudah terhempas oleh elemen dominan Air tersebut. Laki-laki yang masih mempererat aliran air berbentuk pedang pada tangan melotot, namun tersembunyi karena topi yang menunduk itu menutupi setengah wajahnya—termasuk sepasang indera penglihatannya sendiri.
"Eh... FANG, KAU TERBANG DI MALAM HARI?!"
Bulu-bulu sayap yang terbentang dari kedua lengan sang pengendali bayang. Berwarna berlawanan dari harusnya elemen yang Fang miliki. Para bulu yang lepas membuat terbangnya begitu menawan. Begitu penilaian Taufan sendiri.
"Aku memimjam sayap. Jangan mentertawakan aku," meski hanya dengan satu tangan, Fang masih bisa terbang dari derasnya air dan udara malam. Kepalanya lalu menoleh Air yang masihi berdiri menatap mereka. "Benar apa yang dikatakan Taufan, Air. Otakmu sedang dipermainkan. Kau lupa jati diri, dan saat ada yang mengaku ada dipihakmu, kau anggap musuh dari orang tersebut musuhmu juga."
"Aku ingat siapa aku. Bahkan aku ingat bagaimana menggunakan kekuatanku," Air yang berdiri dari karang pasca bertarung melawan Taufan, memperbaiki letak topinya. "Karangan kalian tidak berpengaruh padaku."
Gempa menghela napas pasrah. 'Tolonglah, biarkan aku beraksi, Eloise...'
=oOo=
Halilintar menendang batang pohon besar sambil mengukir ujung bilah pedang halilintarnya pada sang tubuh pohon. Mengamuk kesetanan, Halilintar berdecak marah namun tidak membuat sang pohoon tumbang.
"PENAKUT KAU, TAUFAAAANNNNN!" teriaknya marah.
"Eh dia itu kenapa sih? Marah-marah sendiri. Bawa-bawa perasaan sendiri. Aku merasa jengkel dengan pecahan Boboiboy satu ini."
Ying mengintip pada celah pohon. Merasa aneh dengan kelakuan Halilintar yang serba menyalahkan apapun. Biasanya dia kalem—walau tidak sependiam Air. Tapi cukuplah tidak membuat sekitar berisik.
Tapi sekarang kepala Ying serasa ingin pecah. Saking berisiknya.
"Padahal disana Taufan sudah kelihatan bertarung dengan Air," Yaya yang ikut mengintip di sebelah Ying ikut bersuara. Gopal yang terpaksa ikut negosiasi tanpa rencana itu hanya mendengarkan. Sambil menutup mulut Api—sebagai aksi waspada minimnya mereka semua akan tertangkap basah sang pengendali petir.
"Itulah dia, suka menyalahkan orang lain atas kekurangannya," gerutu Gopal berbisik. Ying dan Api mengangguk membenarkan. Yaya memutar bola matanya tanda tidak setuju.
Laki-laki serba hitam merah itu terduduk pada tanah. Semua anggota yang bersembunyi keheranan. Masing-masing memanjangkan lehernya.
"Khh, kenapa aku selalu takut menjadi lemah?" ia tersenyum tipis—dan beberapa seperti Gopal dan Api justru melihatnya sebagai senyum neraka.
Yaya paham akan Halilintar yang selalu ingin menjadi berguna bagi yang lain. Dia tahu saat itu alasan Halilintar berhasil dipengaruhi musuh mereka—Adu Du—hanya sebagai apresiasinya agar 'dilihat'.
Halilintar itu memang bagian Boboiboy. Tapi sebagai sosok yang terlahir dari memori Boboiboy yang mendominasi rasa takut, ia adalah sosok yang ingin diterima bagaimanapun jalannya. Ia berusaha membuktikan, bahwa apapun ia bisa lakukan dan tidak mau dipandang rendah. Harga dirinya sebegitu tinggi. Yang menjadi bagian sosok angkuh Boboiboy sendiri yang mendominasi sifat baik.
Halilintar hanya mau 'terpandang'.
"Asalkan kau melepaskan apa yang mengekangmu, kau bisa menjadi yang terkuat tanpa perlu gelisah menyakiti perasaan yang lain."
Semua anggota yang mengintip mengambil ancang-ancang ingin melawan. Yaya membentangkan tangannya menyuruh mereka jangan bergerak, "Stt! Jangan gegabah!"
Api berbisik dengan nada tinggi, "Hei Halilintar dalam bahaya!"
"Yang bahaya adalah kita bertindak gegabah! Halilintar akan kesusahan melindungi kita!"
Api kini hanya bisa menutup rapat mulutnya.
"Kau... untuk apa kesini!" Halilintar berdiri lalu menyiapkan kuda-kuda hendak melontarkan pedang halilintar yang sudah ia genggam. Sosok makhluk seperti manusia tanpa busana—dan hanya memakai pakaian dalam berhiasan—alias Eclair, datang membawa kandang besi berukuran sedang.
"Boboiboy! Tolong jangan dengar dia!" pinta sang robot yang tertahan dalam kurungan. Kedua iris Halilintar mengecil tanda terkejut.
"Ochobot?!"
"Serang aku, kalau kau ingin Ochobot juga kena. Fufufu~"
Halilintar memperbaiki posisinya begitu lemas. Pedang halilinntar lenyap dari tangannya. "Apa maumu?"
"Menjadi lemah memang tidak mengenakkan~ Aku memang mencari cara agar bisa kuat tanpa tanding. Kau mau ikut?"
"Aku tidak pernah mau setuju dengan negosiasi iblis memalukan sepertimu!"
Wajah cemberut dari Eclair. "Apa? Kau takkan menyesal mengikuti tawaranku."
"Lalu memanfaatkan aku menjadi seperti empat pecahanku yang lain, ya kan?"
"Mereka aku kendalikan, tapi untukmu pengecualian. Kau bebas menentukan hakmu."
"Jangan!" mohon Ochobot. "Dia tahu kelemahan kali—"
"Ish, tidak baik memotong pembicaraan orang lain. Ini obrolanku dan Halilintar, robot manis~"
Kurungan pun dibukanya lalu mengeluarkan Ochobot begitu paksa. Sang robot merintih seiring rasa takut menguasainya. "Tolong Boboiboy!"
Halilintar memandangnya takut. "Tch! Pedang halilintar!"
Perisai transparan berwarna hitam keunguan menghalangi kontak senjata Halilintar mengenai target.
"Jangan sentimen."
"Lepaskan Ochobot!"
"Sudah kukatakan, aku akan melepas Ochobot kalau kau ikut denganku~ Aku benar-benar takkan mengusik hakmu. Aku akan membantumu agar dipandang temanmu menjadi kuat. Karena kau hanya perlu menghancurkan 'rantai' yang selalu membelenggumu."
"Bola api!"
Perisai bening itu tidak juga amemudar. Bola api hanya bagai sebutir debu yang kemudian menghilang ditiup angin.
"Menguntit obrolan privasi orang itu tidak lucu!"
"AKKKKHHHH!"
Halilintar menolehkan kepalanya spontan. Keempat rekannya—Gopal, Yaya, Ying, dan Api—terkekan oleh bola bening kehitaman. Mereka menjerit-jerit, sampai suara mereka menggema pedih.
"Apa yang kau lakukan pada mereka?! LEPASKAN MEREKA!"
"KAU TIDAK PERLU ORANG YANG MENGEKANG POTENSIAL KEKUATANMU! HAHAHAHA!"
Ketakutan luar biasa membuat tubuh Halilintar bergetar. Ia gelisah, sedih, dan marah. Bercampur aduk melihat teman-temannya disiksa di dalam kubahan tersebut tanpa terlihat apa sebabnya.
"Lepaskan... lepaskan orang-orang penting dalam hidupmu..."
"Le...pas...kan...?"
Halilintar mendongak lamban, menatap Eclair takut.
"Kau tidak perlu memasukkan mereka dalam kategori orang yang harus kau lindungi. Karena mereka takkan pernah menganggapmu kuat, selama mereka masih hidup."
Kau takut melihat langit yang begitu luas karena kau punya sesuatu yang kau lindungi dimana bisa menyerangmu. Kau selalu merasa akan ditarik ke jurang yang dalam, karena kau punya beban untuk melindungi orang lain yang bisa meragukanmu.
"Dan jika kau lenyapkan apa yang membebanimu, kau akan bisa lakukan apa yang kau mau tanpa beban. Lepaskan teman-teman yang berarti dari hidupmu. Kau bukan hidup demi mereka."
Kabut hitam mulai menyelimuti Halilintar dimata kedua matanya terpejam. Ochobot yang memandang perubahan aura perwakilan elemen petir itu ketakutan.
"Kau benar..."
Kedua matanya yang menutup terbuka, menampakkan iris merah delima segar. Aura hitam bergabung dengan kilatan merah elemennya sendiri, membentuk ppetir bernuansa gelap.
"Aku tidak perlu melindungi orang yang meragukanku."
Eclair tersenyum kemenangan.
=oOo=
"AKU TAKKAN TERTIPU OLEH KALIAN!" bentak Air. "Myta! Buat mereka menghadang kematian mereka cepat!"
Tidak ada lantunan lagu yang terdengar. Air yang merasa janggal oleh kasus tersebut pun menolehkan kepalanya, dan tidak lagi menemukan sosok perempuan yang menemaninya. Ia berenang mengejar perempuan yang juga terbang dimana kaki unggasnya menggaet sebuah harpa berwarna keemasan.
"REBECCA! ITU MILIKKU! KEMBALIKAAAN!"
"Kejar aku dulu bweekk~"
Air menolehkan kepalanya melihat Myta yang berusaha menarik alat musiknya dengan sesekali melompat dari permukaan air.
"Sekarang kau tidak punya siren di sampingmu, dan kau sendirian," ucap Fang menarik kesimpulan.
"Biar sendiri, aku masih bisa menyerang," Air membuat air di dekatnya bergerak. Mereka naik, semakin lama semakin tinggi. Gempa dan Taufan membelalakkan mata mereka.
"Dia akan membuat tsunami!"
Teguran Gempa tidak berhasil. Ombak yang tinggi tersebut menerjang Fang dan Taufan yang tidak bisa menghindar, hingga mereka masuk ke dalam liquid biru itu. Gempa yang melihat suasana mencekam tersebut hanya bisa terdiam.
Tangannya terikat. Air adalah kelemahannya. Sekarang ia sendirian.
Ketakutan mendominasi Gempa kali ini. Biasanya rasa setianya untuk melindungi teman-teman membuatnya semakin kuat. Tapi keadaannnya benar-benar disudutkan. Gempa kini hanya bisa pesimis. "Tolong... tolong percaya dengan kami..."
Air menolehkan kepalanya lalu mendongak menatap asal suara. Gempa yang merasakan kedua lututnya lemas pun terduduk.
"Aku tahu dari awal kau hadir dalam kelompok kami, kau orangnya tertutup. Maaf, aku juga awalnya tidak mengerti alasanmu merahasiakan privasimu..."
"Lalu? Sia-sia mengemisiku. Kini, giliranmu—"
"Sejak kau tidak lagi dipercaya masyarakat, kau kehilangan penopangmu. Kau terlihat seperti sungai, ya? Dari mata telanjang kelihatan tenang, tapi hati berkecamuk."
Hati Air yang begitu banyak bekas retakan. Yang suatu saat bisa rapuh, menjadi hitam kemudian tidak percaya siapapun. Tapi sebagai tuntutan ia merupakan elemen pendamai, ia harus bisa menjalankan tugas yang selama ini berat dihatinya. Ia harus mengabaikan rasa yang selama ini membuatnya sakit.
Mengabdi pada masyarakat yang ia pikir semua tidak lagi percaya dengannya.
Yang membuatnya tidak percaya siapapun mengerti hatinya. Pelan-pelan menjadi pendiam, bahkan takut untuk menyampaikan perasaan sendiri yang ia anggap mungkin justru akan dipojokkan orang-orang. Orang yang takkan bergerak cepat karena takut mencampuri urusan orang yang membencinya. Malas.
"Aku yang salah karena tidak melihat hatimu, Air. Tapi tahukah kau, aku begitu iri denganmu?"
Iri?
"Kau dewasa. Lebih dariku, setelah masalah yang kau pikul begitu berat. Hei coba lihat Api."
Api bahkan tidak bisa menenangkan diri hanya karena masa waktu anak-anaknya terisi kegiatan dewasa. Hal yang menurut Gempa begitu sepele, dipermasalahkan Api begitu besar.
"Tapi Air begitu bisa menutupi masalahmu. Kau biarkan mereka berbicara sesukanya karena kau masih ingin percaya orang akan baik selama kau baik dengan mereka."
"Terima ... kasih..."
Air tersenyum lembut pada Gempa. Tidak heran ia begitu merasa percaya pada pengendali tanah, sejak dahulu Gempa memang merupakan figur pimpinan baik. Gempa yang mendapat balasan Air begitu lembut ikut tersenyum.
Tangannya ia bentang, membuat bola air berisi kedua orang yang ia tenggelamkan. Mereka berenang kesana kemari dengan napas tersengal. Segera bola air yang melayang tersebut diterbangkan di samping Gempa yang berdiri, lalu pecah hingga kedua orang di dalamnya tersungkur. Mereka batuk-batuk begitu hebat.
Tapi sesuatu terlihat janggal disana.
Dimana langit berubah menjadi gelap—lebih gelap dari malam hari tanpa sinar bulan. Bercampurkan langit berwarna merah darah. Petir-petir menyambar.
"Air, kau bisa lepaskan sulur ini?"
"Kenapa aku?"
"Karena yang bisa membuat tanaman tumbuh adalah air. Kalau dia panjang, ia akan menjadi longgar."
=oOo=
Nuansa kelam dimana petir-petir hitam menyambar masih terus mendominasi waktu malam tersebut. Suara tawa kejahatan menggelegar. Ada cahaya putih berkilau yang langsung menerobos memuncak menuju langit. Para makhluk-makhluk astral mulai turun secara ramai dari langit, memutari pilar putih seakan ia menjadi jembatan bagi sang makhluk gaib.
"Akhirnya tiba saatnya! Keempat elemen takkan bisa mengalahkanku lagi!"
Api menggetok barrier yang mengekan mereka sedari tadi. Seberapa kuat, ia tidak bisa memecahkan dindingnya.
"Bagaimana ini?" ucap Api pesimis. "Tolong—siapapun—"
"Uhh andai kita bisa transparan..." Gopal berandai-andai.
"Transparan?"
"Biar bisa keluar. Kelihatan masih di dalam, tapi sudah keluar. Jadi tidak ketahuan."
"Ohh!" Ying berho'oh ria. "Hei, kalian ingat dengan jam teleportasi?"
Semua memandang Yiing penuh harap. Ada secercah cahaya harapan, "WAH AYO YING!"
Sementara itu, Ochobot yang sebagai media terbawah pilar cahaya tersebut menjerit-jerit. Ia menjadi sumber tenaga dari alat pembuat gerbang antar dimensi lain menuju dunia mereka sekarang. Dimasukkan dalam wadah berbentuk tabung berbahan aluminium di luar. Yang cukup membuat tubuhnya yang lumayan besar itu muat di dalam lubang yang disediakan.
"Adu Du, aku sungguh berterima kasih dengan teknologimu ini. Aku akan menggantinya dengan para bangsa alien akan mengakuimu dan aku sebagai pemimpin."
Eclair bersimpuh pada suatu batu besar di dekat pelaksanaan tersebut. Sang alien kotak—Adu Du—ikut berdiri di sampingnya.
"Aku hanya melaksanakan kewajiban agar bangsa alien tidak lagi mederita tiada sumber makanan," balas Adu Du. "Juga kau tentunya."
"Hahaha, aku memang jahat. Aku harus mendapat apapun yang kumau—bahkan kalau bisa semua yang kuinginkan tercapai! Aku akan awet muda sebentar lagi."
"TORNADO MAGMA!"
Sebuah lesatan angin tornado bernuansa merah menuju ke arah Eclair dan Adu Du berdiam. Sang ratu iblis terlempar lalu menabrak suatu pohon terdekat yang lurus dari belakangnya. Diikuti Adu Du yang terlempar, namun ia sempat ditangkap robot besar berwarna ungu di udara.
Disana, Taufan dan Api menggeram pada Eclair yang baru bangun. "MANA HALILINTAR?!"
"Aduh kalian ini langsung main serang. Cobalah untuk duduk santai lalu nikmati kejutan yang akan kubuat sekarang ini," gerutu Eclair yang kemudian melayang ke udara. "Untuk apa mencari saudara yang sudah gelap mata?"
"Golem tanah!"
Tinjuan keras menghantam tubuh Eclair menuju udara atas. Eclair terlihat seperti mayat yang dibanting, apalagi gayanya yang lemas seakan menikmati siksaan dari para elemental kepadanya.
"Biar aku yang kalahkan dia. Turunlah hujan!"
Tes... tes...
Tetesan hujan turun berentetan menghujami perempuan tersebut. Tentu tidak mengenai target musuh, semua teman-teman Air termasuk pecahannya ikut terkena bekasnya. Sisa-sisa air hujan yang menggenang berkumpul ke atas, menyatu lalu membentuk sebuah ombak miring yang cukup tinggi.
Api dan Taufan tersenyum lega. Sepertinya mereka bisa mengakhiri permainan aneh dimana boss-nya sendiri tidak dapat berkutik oleh kekuatan mereka.
"HUJAN HALILINTAR!"
BLAARRR!
Aliran listrik berwarna hitam dengan gelegar dahsyat mengenai para elemental yang berada dalam arena. Mengikuti sifat listrik yang menghantar saat ada media basah yang terbuat dari hidrogen dan oksigen, mereka yang dari dalam lokasi langsung tersengat kesakitan. Taufan, Api, dan Gempa ambruk di tempat. Sedang Air yang memang jauh dari lokasi menyender pada pohon—lalu meremasnya melampiaskan rasa sakit pada tubuhnya.
"Hah?!" Gopal dan lainnya yang berlindung keluar dari pesembunyian. Kaget dengan seruan yang identik pada elemen kawan yang mereka hendak selamatkan.
Mereka tidak tahu kalau Halilintar sudah lain karena sibuk menderita. Saat disakiti Eclair waktu itu. Mereka berpikir Halilintar diculik.
Kedua iris merahnya yang tampak kelabu. Masih berpakaian biasa, namun auranya terasa lain. Mungkin aliran petir gelap yang menyelimuti tubuhnya.
"Halilintar..."
"AHAHAHA—KEKUATANKU MEMANG SEHARUSNYA SEPERTI INI!"
Tubuh para elemental merinding seketika. Tawa Halilintar yang menyerupai iblis.
"Benar. Ini kekuatanku. Aku tidak tahu ada kekuatan sehebat ini kalau aku sendirian. Aku merasa bebas, kuat, lagi bangga pada diriku!"
BLARR! Petir hitam menyambar kembali para elemental. semua—termasuk Air—terlontar cukup jauh.
Taufan meremas tanah kesakitan. Ia melihat lagi siapa orang yang sempat menyakitinya. Tidak mungkin, orang yang dulu bahkan tidak berkutik ketika melawannya bisa membuat semua takluk. Gempa; penguasa elemen yang seharusnya tidak cukup banyak efek pada petir pun ikut merasakan sensasi menyakitkan dari elemen tersebut.
Itu orang yang dulu ia bilang paling lemah. Paling merepotkan. Sok kuat. Taufan merasa termakan oleh ucapan remehnya sendiri.
'Dia bukan Halilintar yang biasanya...'
Atau justru merasa terbohongi karena Halilintar yang ia 'lihat' bukan Halilintar yang ia kenal.
.
.
.
Lightning could burn person in instant time, without exist his voltage
.
.
.
A/N: Sempat narsis sendiri kenapa ada video tamparan dari ff ini siapa yang kuat dari kelima elemen. Maaf yang kesinggung status facebook saya, saya memang aslinya takut kalau benar-benar disinggung karena bilang Hali lemah di chap kemarin.
Terimakasih kepada pembaca yang meninggalkan jejak karena suka dengan ff ini. Jujur, saya tersanjung dengan adanya yang masih setia membaca ff yang-kapan-selesainya-ini. TAPI SAYA BENAR-BENAR AKAN MEMBUAT CHAP DEPAN ADALAH CHAP TERAKHIR! *teriak*
*lalu author kabur sebelum kena tagih rentenir kenapa masih lanjut ff-nya*
