Disc: BoBoiBoy © Animonsta Studios
Enjoy!
=oOo=
Dahulu sihir mendominasi ras manusia. Menjadi awet muda. Kebal. Adanya makhluk mistis yang merupakan perwujudan evolusi manusia haus hal instan. Adat istiadat. Peghormatan dengan melaksanakan tradisi leluhur secara turun temurun juga merupakan wujud pelestarian agar sihir selalu ada dan berkembang menjadi kebutuhan.
Makhluk mistis hadir dalam kehidupan ras lemah karena dipercaya. Mereka merasa memiliki tempat. Mereka punya tempat tinggal yang nyaman. Dan sebagai ganti dari jamuan para ras dengan pengetahuan tinggi, para makhluk mistis memberi sebagian ilmu mereka untuk diterapkan dalam kehidupan manusia. Timbale balik dari semua hal spesial yang diberikan oleh para manusia.
Tapi hidup tidak selamanya harmonis.
Para makhluk semakin semena-mena memperbudak manusia. Memberi ilmu dengan syarat meminta pengikut abadi, yang selalu melayani mereka selama-lamanya. Satu kematian bagi ras manusia setiap bumi berhasil mengitari matahari satu putaran, dengan kriteria paling ideal yang dimiliki sesamanya. Tidak lagi peduli akan jeritan ketidak ikhlasan para sanak saudara.
Penderitaan menghadirkan keinginbebasan.
Disaat itu bangsa penghuni masa depan hadir. Mereka menyebut diri mereka sebagai manusia lain planet, atau 'alien'. Yang membawa sesuatu dimana cocok dengan peran manusia sebagai makhluk berpengetahuan tinggi. Yang membuat manusia mulai tertarik. Tanpa tumbal ketidakjelasan.
Teknologi.
Membuat mesin. Peradaban berubah menjadi industri maju tahun demi tahun. Para makhluk gaib dicampakkan. Kemudian tanpa hal tersurat, mereka mulai dibuang.
Para alien memberi bekal pada manusia bagaimana untuk membuat sesuatu praktis, jauh lebih mudah dari menunggu sesuatu yang tidak jelas. Sihir lambat laun tidak lagi digunakan. Mereka dianggap sisi jahat. Siapapun manusia yang menguasai ilmu praktis dengan ayunan tongkat sihir, akan dibakar tanpa sisa. Menjauhkan tradisi memberi tumbal. Mereka menunjukkan masih menyayangi sesamanya.
Sejak awal kedatangan para alien, semakin membuat manusia maju. Mereka (para manusia) dapat membuat hal mustahil menjadi nyata. Dapat membuat hal berat menjadi ringan. Karena teknologi, kehidupan manusia menjadi sempurna.
Mungkin nyaris sempurna.
Alien memberi syarat, jangan ada yang memberitahu keberadaan mereka pada generasi penerus. Maka, ingatan manusia akan keberadaan mereka dilenyapkan dari memori. Tidak akan ingat lagi siapa pelopor pertama yang mengajari manusia akan 'mesin'. Karena tujuan awal alien...
Ingin mendominasi bumi dan seluruh manusia menjadi milik mereka, suatu saat nanti. Dengan mengusir para makhluk gaib, yang bisa menahan kekuasaan mereka dikemudian hari. Membuat manusia tidak percaya lagi dengannya. Itu awalnya mereka hadir.
Karena mereka hidup berdampingan.
=oOo=
Setidaknya, ada satu makhuk yang masih peduli pada nasib para manusia. Dia setengah manusia, memiliki intelektual tinggi walau tinggal dalam dunia jauh dari peradaban ras setengahnya itu. Makhluk yang juga bisa merakit robot, dengan sedikit sihir untuk membuat bahan yang ia perlukan menjadi nyata.
Dia laki-laki. Dari potongan rambut juga tingkahnya, yang melihat pasti langsung menyebutnya demikian. Laki-laki yang diasingkan dari kaum makhluk mistis karena ia diramalkan punya sisi pengkhianat sejak kecil. Dari cara ia hobi melakukan apa yang ras mereka benci saja, itu sudah menguatkan takdirnya sebagai orang yang bisa menghancurkan kepercayaan para makhluk mistis.
"Kenapa kau begitu peduli akan nasib para manusia?"
Sosok wanita dengan tanduk kecil berumur 10 tahun dari fisik manusia itu, duduk berjongkok di sebelah laki-laki yang mengutak-atik sebuah bola. Kedua sayap kelelawar kecilnya terlihat manis pada belakang punggung perempuan dengan busana seadanya tersebut. Iris merah dengan pupil jarum itu menatap gerakan lawannya.
"Eclair, jangan ganggu."
"Kau sampai dianggap keempat spirit elemen ikut berkhianat. Bukannya pimpinan sudah mengatakan, kalau kita tidak akan bisa apa-apa lagi terhadap kaum manusia?"
Laki-laki tadi terhenti untuk memutar sekrup pada lubang yang ia fokuskan. Wadah berbentuk bola dengan berselimut besi masih ia pegang.
"Kesuksesan itu ada dua, Eclair. Satu, ignorance. Dua, kau bisa menemukannya nanti karena itu tidak penting bagiku."
"Lava..."
"Iya?"
"Aku mencintaimu."
Eclair memang spirit yang hemat kosakata, namun agresif saat didepan orang spesialnya. Jika ia menyebut demikian, Lava—nama laki-laki tersebut—sudah tahu itu bermaksud 'selamat berjuang, aku akan selalu setia mendukungmu'. Apalagi, guratan semu menghiasi wajahnya.
"Kau bisa dicap sebagai pengkhianat jika selalu bersamaku."
"Untuk sukses bersamamu, aku juga butuh ignorance. Mungkin succubus ini jatuh cinta padamu~"
Hanya Eclair yang bisa melihat sisi rela berkorban dari Lava. Saat semua spirit menganggapnya pengkhianat karena berusaha menyelamatkan manusia, hanya dia sendiri yang menganggap Lava adalah makhluk yang menghargai tinggi nyawa suatu makhluk. Eclair adalah spirit yang tidak gampang jatuh cinta, walau rasnya yang merupakan succubus adalah spirit penggoda hawa napsu.
'Karena yang pertama kali membelaku saat semua membuangku, adalah kau... Lava... aku sangat mencintaimu.'
=oOo=
Lava melayang sembari membawa bola dalam genggamannya. Kepalanya berhias tengkorak dengan kedua tanduk tinggi menjulang. Mata merah delimanya menatap fokus keempat makhluk wanita pada suatu daerah kelam dengan bermandikan cahaya bulan merah, pada kejauhan.
Keempat perempuan dengan tubuh nyaris mirip manusia berumur dewasa pun menoleh pada Lava. Lava mendarat, dan dengan percaya diri ia menjunjung bola yang ia genggam pada keempat wanita tersebut.
"Manusia hanya perlu dukungan kita, agar kita bisa kembali hidup harmonis bersama manusia! Aku hanya ingin menunjukkan sebuah bola yang bisa menyimpan kategori kekuatan kalian, semua kategori sihir. Membuat media dari sihir, kemudian ia bisa menggunakan kekuatan kita tanpa perlu belajar untuk mendapatkannya. Hanya perlu menguasainya."
"Anak kecil... " gumam wanita dengan tudung kepa dikenakan. Nyaris tangan kanannya yang mengenggam obor, mengibas robot tersebut untuk ia bakar. Lava segera menariknya kembali pada pangkuannya lebih cepat.
"Kalau manusia musnah, kita tidak akan punya kawan... 'kan? Jadi, robot ini akan memberi bekal kekuatan pada manusia yang dikeehendakinya. Yah, seandainya alien mulai menyerang. Lagian, teknologi dan sihir bisa bersanding."
"Lava, aku tahu manusia itu penting. Tapi... mereka tidak percaya kita lagi. Segera musnahkan buatanmu itu," tegas perempuan dengan ranting kayu tumbuh pada pundaknya. Rambut coklat tua panjang terbungkus kalung berupa dedaunan. Ia menatap Lava lembut.
"Aku percaya suatu saat manusia akan berterima kasiih dengan kita! Menambah ras kita lagi!" Lava memantapkan suaranya. "Ochobot adalah bukti nyata, yang akan mewujudkan harapan semuanya!"
Keempat perempuan tersebut saling memandang satu sama lain. Yang bertudung melirik pada wanita yang mengambang setengah ikan. Sedangkan satu wanita lagi dimana ditumbuhi ranting kayu, ikut melirik perempuan bersayap dengan membawa sangkar burung sebagai tongkat.
"Aku mohon, Dryad! Eternelle! Lampad! Siren! Aku sangat membutuhkan kalian! Kalian percaya bukan, kalau teknologi dan sihir yang kontra bisa menjadi satu?"
"Aku tahu dia memang pengkhianat, makanya aku sengaja hadir dalam undangannya!" perempuan bertudunng bernama Lampad membesarkan api dari obornya. "Kubakar saja dia!"
Kedua pupil Lava mengecil, terkejut. Semburan api dilancarkan dari sang obor sebagai inti, berulang kali. Lava mengarahkan lengannya ke depan, membentuk penghalang transparan sebagai antipasti serangan. Api-api memantul berbelok ke sisi kiri dan kanan.
"Jadi kekuatan pimpinan keempat elemen segini? Aku bisa membuat elemen yang keren dari kalian," ejek Lava. Ejekannya membuat ketiga pimpinan yang netral, malah memihak Lampad.
"Tidak ada sopan santunnya," ketus Siren. Tangannya ia ayunkan, menciptakan kilauan-kilauan yang berubah menjadi sebuah harpa dalam genggaman. Ia tarik, lalu menarik senarnya menggetar. "Dryad, mari berkolaborasi!"
Ranting-ranting dari pundak Dryad bergerak meluncur ke depan. Dalam hitungan detik, semua berubuah menjadi gundukan pohon besar karena percikan air yang muncul dari getaran harpa Siren.
"Yang dapat membelah pohon. Yang dapat menyakiti air. Aku bisa membuat elemen yang kuat dari itu."
"Jangan sombong!" Lampad membakar pohon-pohon membesar tersebut. Api merajalela. Kemudian muncul kupu-kupu betebaran di sekitarnya, berpecah menjadi angin deras yang mampu mengeret lautan api laju menuju Lava.
Lava menyaksikan hal tersbeut dengan kedua matanya membesar. Berakhir dibunuh oleh keempat pimpinan elemen mungkin cukup menjadi penghinaan baginya.
"LAVAAAA!"
Dari jauh, Eclair memacukan kedua sayap kecilnya menuju tempat api menyala. Sesekali ia terhuyung karena angin deras mencegahnya mendominasi udara. Namun, ia masih berjuang menuju tempat tersebut. Berlari pun tidak apa, asal ia bisa sampai. Setidaknya ia bisa melakukan sesuatu kalau-kalau sampai.
Namun saat ia nyaris akan sampai...
Yang ia lihat kini hanya pimpinan elemen, berdiri di atas kubangan hitam yang hangus terbakar.
Yang Eclair yakini, bahwa Lava—ras setengah necromancer—telah mati. Dengan hina.
=oOo=
"Dan sekarang aku kembali hadir, untuk melanjutkan ambisiku melestarikan ras manusia. Seharusnya kalian berterima kasih dengan kepedulianku," Halilintar memegangi sebelah wajahnya dengan tangan kanan. "Halilintar adalah elemen ciptaanku. Yang dibuat dari keempat elemen yang dulu menghinaku. Juga Ochobot."
"Kau... siapa..."
Taufan menyingkirkan rangkulan tangan Gempa untuk maju. Tertatih-tatih, ia maju mengikuti Halilintar yang jua maju berlawanan dengannya. Halilintar tersenyum.
"Necromancer setengah manusia. Lava," ucap Halilintar mengakui siapa jiwa yang kini menghuninya. "Halilintar kini kusekap. Dia akan kukembalikan, begitu misiku selesai."
"Kembalikan Halilintar kepada fisiknya, kumohon," mohon Taufan. "Dia temanku."
"Sudah kukatakan, aku akan kembalikan begitu ambisiku selesai. Ochobot!"
Langsung muncul wanita dewasa mengenggam sebuah bola yang kini enggan berfungsi di sebelahnya. Halilintar—atau mungkin sekarang bernama Lava—menyambutnya.
"Kau masih terlihat cantik, meski telah dewasa," puji Lava.
"Aku senang kau kembali. Awalnya, aku tidak tahu kau akan hadir dalam misi menjalankan cita-citamuu ini. Kau tidak pernah cerita kalau kau yang menciptakan elemen baru itu, sampai aku mendengarnya dari satu alien," Eclair melingkarkan kedua lengannya pada leher tubuh Halilintar. "Aku jenius, bukan?"
Lava hanya diam. Eclair membuka topi merah maron tersebut pelan. Taufan begitu kaku saat melihat Halilintar mau dipeluk oleh lawan jenisnya. Tapi jika mengingat dia bukan Halilintar...
"Setelah ini, aku siap untukmu. Ayo kita buat penerus yang punya darah jenius seperti kita," Eclair memanjangkan lidahnya seperti ular. Menjilat area belakang telinga lawan yang ia peluk. Tidak peduli dengan tubuhnya yang dua kali lebih tinggi dari hadapannya. "Aku sudah menunggumu beribu-ribu tahun cahaya."
"Aku cemburu."
Eclair bengong sesaat, "Hmm?"
"Kau bukan menikmati tubuhku, tapi Halilintar. Lepaskan."
Eclair membuka pelukannya. "Cuih. Padahal aku kangen."
"Tunggu sampai aku selesai," Lava menyisir helaian Eclair. "Tunggu di belakang. Kau tahu kapan peranmu ada. Karena kita menghadapi manusia, yang menyantap penemuanku."
"Aku sendiri saja, atau membayangkan Halilintar menjadi lembut begitu rasanya jijik?!" Fang membuka suara dengan nada tinggi. Bergidik sendiri di sebelah Gopal yang sudah membalik tubuh ingin tertawa. Gempa yang juga dari sana, langsung melirik Fang diam.
"Memang pribadi Halilintar seperti apa?"
"Dia itu dingin juga irit bicara—tunggu, siapa yang bertanya?"
Fang tidak lagi melihat tubuh Halilintar yang jauh dari mereka. Justru orang yang dicari-carinya ada di sebelah dia kini. Dialah yang bertanya. Fang merinding sejenak, ketika keempat mata mereka saling bertemu.
"Sudah kubilang, dia kukurung. Jiwa dari emosi buatan saja punya tubuh, mengapa pembuat program tersebut tidak demikian. Ya 'kan?"
Telunjuknya menyentuh dada Fang pelan. Fang langsung merasa tubuhnya bergoyang hebat. Dan tiba-tiba saja, tubuhnya tersungkur pada tanah dengan merasakan badannya begitu lemas.
"Pengendali bayangan ya? Hahaha, kekuatan kalian memang mencerminkan pribadi kalian."
"Bukaan tanah!"
Tubuh Halilintar terjatuh ke dalam tanah berlubang di tempat ia berpijak. Dengan cara spontan, ia tidak sadar kalau kini telah mencium dasar lubang tanah yang ia masuki.
"Blaze! Ais!"
"Dulu aku pernah dengar, adanya api biru yang memberi kesejukan dengan cara api," Ais melesat berlari menuju lubang tersebut. Segera ia melompat pada tengah lubang, kemudian kedua telapak tangannya ia arahkan padanya.
"Api lava!" Blaze yang ternyata ikut melompat sama seperti Ais, langsung melancarkan semburan api panas dalam jumlah tidak main-main.
"Blizzard!"
Hawa dingin mengitari semburan api yang dikeluarkan Blaze, dengan pantulan cahaya api membuat kilauan-kilauan kristal tampak berkilau. Api yang awalnya berwarna merah, langsung berubah menjadi biru. Namun bukannya berbentuk padat, ia masih berupa api yang masih dalam bentuk tidak pasti.
"Api aurora!"
Pelangi warna-warni muncul secara tiba-tiba dari atas lubang tersebut. Efek biasan dari kolaborasi Ais dan Blaze. Semua anggota yang dari atas tanah begitu merasa kedinginan. Hawa yang tidak main-main dibuat. Mereka yang jauh sudah merasa bagai di kutub utara, bagaimana dengan Halilintar ada di bawah?
"Pelindung taufan!"
Percikan-percikan api dingin keluar dari mulut lubang. Seruan itu...
"Taufan mana?!" jerit Gempa yang celingak-celinguk mencari laki-laki tersebut.
"Taufan! Kau gila!" Blaze memaki dari posisinya melayang. "Menyingkir dari Halilintar!"
"A—aku tidak bisa," terdengar suara berasal dari lubang yang dijadikan Gempa menahan Halilintar. Taufan yang rupanya ada di dalam lubang bersama Halilintar, menahan serangan kuat dari kolaborasi kedua pecahan baru disana.
"Prioritas kita adalah mengalahkan Halilintar!" Ais tidak seperti Blaze yang masih mengkukuhkan mengeluarkan elemennya. Justru ia memudarkan hawa dingin yang ia ciptakan kuat untuk menyelimuti api dari Blaze. "Taufan, mau mati konyol?"
"Karena lawan kita... bukan Halilintar..."
Gempa mendetumkan tangan bersarung tangannya, memberi atap pada Halilintar dan Taufan yang masih terkurung. Api berubah menjadi lautan magma dari batasan tanah tersebut.
"Taufan benar. Kita bukan mengalahkan, tapi mencoba membunuh Halilintar," desis Gempa.
Wajah Blaze sedikit terpapar bingung. Digenggamnya kedua tangan telanjang tersebut, dan ajaibnya magma dari atas tanah tersebut seakan terserap. Perlahan-lahan mulai mengecil, dan akhirnya tiada bekasnya sama sekali. Seakan tidak pernah diciptakan disana.
"Jadi, bagaimana?" tanya Blaze. "Argh semua itu membuatku bingung! Aku merasa tertekan!"
Ais mengenggam sebelah tangan Blaze, "Sabarlah. Semua akan ada jalannya."
"Terlalu banyak berpikir, hanya akan membuat Taufan mati di dalam sana!" seru Ying.
"Tapi kalau kita membuka, dia akan melumpuhkan kita semua..." Gempa menoleh pada Ying sembari mendekatinya. "Apa mau gunakan teleportasi? Namun hanya beberapa yang akan masuk ke sana."
"Tidak. Seharusnya semua masuk ke sana."
Laki-laki berambut hitam keunguan mencoba berdiri. Lutut kanannya ia papah pada tanah, sedang kaki kirinya mencoba lurus. Saat kaki kiri sudah 2/3 tegak, kaki kanan menyusul. Keduanya tegak bersamaan. Meski ia masih kaku untuk memijak.
"Kalian seakan berbicara Halilintar dari awal tidak ada, lucu kudengarnya," Fang bertatih-tatih menapaki kakinya untuk mendekat pada lubang berdiameter cukup besar. "Halilintar itu teman kita!"
Gempa terdiam mendengar penuturan Fang. Beberapa menit berselang, secercah senyum ia ulaskan. Gempa pun menyusul Fang.
"Kau butuh bantuan? Keras kepala sekali mau masuk ke lubang, dalam keadaan sekarat begitu."
Fang menoleh sedikit menatap Gempa, "Gini-gini aku tahu, hanya aku yang bisa mengeluarkan Lava dari tubuh Halilintar."
"Eh, bagaimana?"
Fang memantapkan senyumnya.
"Karena aku pengendali bayang."
=oOo=
Sedangkan dari dalam tanah yang tertutup tipis penghalang tanah jua tersebut, laki-laki mantan bertopi miring itu mendongak. Namun kegelapan petang tidak dapat menampakkan raut pengendali angin itu sekarang. Sebenarnya, dalam hati bocah dengan jaket nuansa biru-putih sedikit takut juga was-was.
Ada yang melototinya. Kedua iris merah delima itu tampak memantul bercahaya, meski dari ruangan gelap tanpa bekal secercah cahaya sekalipun. Melirik Taufan dengan sirat ingin membunuh.
"Kau tahu kau ada di pihak siapa?"
Tubuh Taufan dirasanya merinding sedikit. Entah keras kepala atau sok berani, Taufan menjawab sekedarnya, "... Halilintar."
Suara tawa memenuhi tempat tersebut. Dari suara normal menjadi menggema. Oke, itu cukup membuat Taufan semakin tidak menyangka ia bisa selamat kali ini.
Cercahan cahaya langsung muncul berwarna merah, tepat di depan pengendali angin berdiri. Taufan reflek terkejut melihat wajah Halilintar dekat dengannya. Kedua mata menyeramkan, dengan senyum penuh arti—yang Taufan sendiri pun tidak tahu apa maksud senyuman itu dibuat.
"Seperti pemilik tubuh terdahulu ini sangat berarti bagimu. Hanya kau sendiri yang kontra, tidak getir dihadapkan serangan mengancam nyawa."
Taufan menelan ludah, "Yah, aku memang takut sebenarnya."
Set! Satu tebasan darri pedang halilintar original menebas wajah Taufan tanpa tanggung-tanggung. Hidungnya sedikit terkena goresan dari ujung senjata lawan.
"Kalau tidak hati-hati denganku, kau bisa mati," ungkap Lava. "Dalam teori bertahan hidup saja, kau harus bisa memandang orang yang kau lindungi menjadi musuh demi diri sendiri. Kau takkan menjadi dirimu sendiri, kalau selalu memikirkan orang lain."
"Kau menasehatiku untuk bisa egois...," Taufan menggantung ucapannya demi mengusap aliran hemoglobin yang muncul pada luka hidung yang mengangga. "Tapi kau sendiri selagi hidup di duniamu apa itu, kau memikirkan nasib para manusia."
Lava terdiam telak.
"Lagian, Halilintar pasti juga berjuang mengambil tubuhnya kembali. Arti hidupku, adalah membantu orang yang butuh pertolonganku!"
"Berarti kau menganggap Halilintar lemah!"
Pancaran sengatan halilintar menuju ke arah Taufan. Pengendali angin segera membuat bola angin berukkuran sedang sebagai media banteng. Sedang ia sendiri menjaga jarak dengan melompat menjauh dari Lava.
"Halilintar bukan lemah, hanya butuh dukungan!" tangan kiri ia bentang lurus ke depan, sedang tangan kanan melekuk-lurus. Mengeluarkan angin-angin tajam yang melesat laju kea rah lawan yang ia bidik. "Panah jarum angin!"
"Tombak halilintar," Lava membelah jarum-jarum angin menjadi dua bagian setiap kali mereka maju ke arahnya.
"Jarum angin raksasa!"
"Apa?!"
Lava terpelanting ketika satu jarum berukuran lima kali dari biasa yang ia hadapi sebelumnya, menghantam wajahnya secara spontan. Lava terpelanting, sampai-sampai topi merah maronnya juga lepas dari kepalanya.
Taufan menarik-hembus napas teratur. Jari telunjuk kirinya membirik ke arah Lava yang terkulai, disambut tangan kanan yang bersiap untuk mengeluarkan kembali elemen yang ia kendalikan. Layaknya pemanah yang siap membunuh lawan yang kini knock-out.
"Kita bisa adakan duel sampai salah satu diantara kita mati, atau berdua yang akan mati!"
=oOo=
"Semua kekacauan yang pernah diramalkan pada beribu-ribu tahun cahaya lalu... akhirnya, mulai terwujud."
Wanita dengan berhiaskan kain pernak-pernik mendongak menatap langit cerah—yang seharusnya malam. Ranting-ranting kayu dimana bertengger dari pundaknya tampak manis berjejer. Halaian daun-daun terpasang manis pada helaian rambut coklat panjangnya.
"Mereka tidak bisa menaklukkannya sendiri. Mereka butuh kita sebagai pendukung," sosok manusia denga bertudung menutup wajahnya, menyahut. Tangannya mengenggam obor yang menyala.
"Kita bukan pendukung dalam arti mengerahkan kekuatan kita. Kita hanya perlu melakukan hal yang seharusnya kita lakukan, pada awal kita ditakdirkan bertemu bocah berdarah generasi kita."
Perempuan bersayap dengan memegang tongkat berujung sangkar burung ikut bicara.
"Memberi permata?" tanya perempuan bertubuh setengah duyung. Ia duduk manis pada sebuah bongkahan batu terdekat dari ketiga perempuan lain.
"Bukan, Siren. Seharusnya kau tahu maksudku apa," sahu perempuan bersayap itu masam.
"Benar apa yang dikatakan Eternelle," perempuan yang mewakili tumbuhan tersebut berjalan duluan ke depan. Disusul perempuan bertudung, dan dua wanita lain yang lebih cepat pergi ke depan dengan melayang.
"Kita akan ketinggalan, Dryad."
Perempuan bertudung tersebut ikut melesat menjadi cahaya merah, menyusul dua cahaya yang melewatinya barusan. Perempua yang dipanggil Dryad itu menahan langkahnya.
"Kalian salah. Bekal kesuksesan dari pertarungan ini, adalah menyadarkan orang yang dirasuki Lava. Karena hati hitam susah untuk disikat menjadi bersih seperti pertama kali membuatnya."
Kemudian cercahan cahaya mengkilap menyelimuti perempuan tersebut, tergantikan cahaya coklat yang ikut menyusul cahaya-cahaya lain itu.
.
.
Don't think be best, but do the best. That only make you be evil person, who do anything include use dirty plan.
.
.
A/N: Pertama-tama, ini adalah chapter pertama yang saya buat dengan tenggat waktu empat hari unggak mengetik dari yang lainnya. Memang sepertinya chapter ini cukup membosankan. Dan kedua, saya berterima kasih untuk beberapa author disini yang menominasikan karya saya dalam IFA 2015. Lulus seleksi saja saya senang, since saya bukan orang yang terbiasa populer. Sepertinya saya tahu siapa yang menominasikan karya saya yang ini. Cluenya dia review dua kali di chapter pertengahan dengan akun. YY?
Yah, except buat siapapun yang menominasikan saya termasuk best reviewer itu—ahaha, review kelas flame saya dijadikan best reviewer itu sesuatu. (maaf curhat bentar)
Saya membuat grup khusus untuk author BoBoiBoy, khusus nomisil Indonesia dalam facebook. Disana saya membuat event dan semacamnya, guna mempopulerkan lagi fandom yang mulai terbengkalai ini. Insya allah saya akan rajin aktif untuk mengreview karya yang saya anggap perlu masukan.
Sampai jumpa di chap terakhir!
