Disc: BoBoiBoy © Animonsta Studios
Enjoy!
=oOo=
Tanah sebagai atap dalam lubang tersebut runtuh, begitu kedua tangan besar mulai dalam posisi mengenggam. Gempa dan Fang yang paling pertama sampai pada bibir lubang tersebut saling memandang. Ying, Yaya, Gopal menyusul mereka kemudian. Lalu Ais dan Blaze mendarat dari posisi mengambang untuk mendekat pada pecahan mereka yang punya karisma sebagai pemimpin.
"Kita tunggu mereka keluar," ucap Gempa memecah keheningan mereka.
Semua mengangguk mantap. Ying langsung menelentangkan tangan kanan ke depan sebagai bentuk siaga.
"Untuk kewaspadaan. Perlambat waktu," desis perempuan berkuncir dua itu.
"Tentang waktu, sebenarnya aku ada merasa hal janggal. Tentang lupa ingatan."
Semua menoleh pada si penanya. Orang yang ditoleh memperbaiki kacamatanya tidak mau memberi kata-kata lebih sebagai penjelas pertanyaannya. Ia rasa kalimatnya sudah pas untuk dimengerti.
"Aku tidak mengerti Fang bicara apa. kalimatnya gantung," ejek Gopal sambil menunjuk Fang. Mungkin Gopal memang belum paham maksud pertanyaan si pemilik kekuatan bayang.
"Uh—sudahlah. Setidaknya asal para Boboiboy tidak lupa ingatan saya."
Dhuar! Tanah meledak menimbulkan suara keras lagi menggetarkan pijakan mereka yang berdiri di bibir jurang. Ying mengerutkan alisnya, dan tangan kanannya segera menelentang sambil berseru.
"Perlambat massa!"
Bulatan transparan tercipta dengan ukuran cukup besar. Masing-masing mata telanjang anggota yang sibuk menyeimbangkan itu melihat Taufan dan Halilintar—atau Lava—bertarung di udara. Aura angin juga petir hitam yang menyelimuti dari aduan jarum angin juga tombak petir.
"Ais! Blaze! Lakukan kolaborasi kalian waktu itu!" perintah Gempa. "Ying hanya bisa menahan waktu 30 detik!"
Kedua orang yang Gempa panggil mengangguk. Kemudian Gempa menoleh pada Fang, yang disambut anggukan ringan dari lawannya.
"Kami akan mencari apa yang bisa kami bantu," Yaya maju ke depan mendekat pada Gempa dan Fang. "Kami akan pindah ke wadah yang aman. Kalian berjuanglah..."
Sebenarnya hati gelisah didera hati perempuan berhijab merah muda itu. Saat awal Halilintar membantu ratu iblis saja mereka sedikit kewalahan. Itu saat mereka masih belum kewalahan untuk bertarung. Berapa lagi stamina yang mereka ada, saat sudah terkuras banyak tenaga untuk bertarung hanya melawan Hailintar saja? Ratu Eclair belum mati. Ingat itu.
Tapi yang bisa Yaya lakukan hanyalah percaya. Mau tidak mau. Rela atau terpaksa.
"Sudah siap semua?" aba-aba Ying. Ais, Blaze, Gempa, dan Fang mengangguk serempak. Perempuan pemilik kuasa waktu menarik tangannya turun. Bola transparan yang menjadi area lambat pada wadah tertentu, lenyap. Kedua orang yang tadi ada dalam lingkup bola secara tidak kasat mata masih melanjutkan pertarungannya. Massa tidak mempengaruhi tekad mereka.
Arus-arus angin besar menerpa rambut-rambut keempat pemuda yang maju. Ying berlari ke belakang, yang kemudian keempat pemuda tersebut langsung mengeluarkan elemen terkuat mereka. Ais dan Blaze yang kembali berkolaborasi. Gempa menyelimuti tangannya menjadi emas kembali, membuat ukurannya jauh lebih besar dari tangan tanah biasa.
"Kau tahu, Boboiboy... awal aku memikirkan aku percaya punya kekuatan 'ini' ketika kau menoleh padaku untuk mengusir para zombie tadi."
Exorcist.
Fang pernah berharap untuk punya bidang dimana hanya dia saja yang bisa melakukannya. Setelah kepopuleran direbut Boboiboy—orang yang notabenenya dari mata Fang sendiri orang yang payah. Yah, dahulu Fang memang tidak suka Boboiboy karena belum tahu potensial terkuat si pemilik kuasa beragam elemen.
Dan sekarang ia sadar, bahkan malu untuk dahulunya merasa ia yang paling hebat dari Boboiboy. Meski ia sering khilaf menganggap dirinya hebat—tapi ia berfokus dimana Boboiboy dihilangkan dari daftar bandingan.
'Setidaknya, beri aku satu kesempatan untuk bisa unjuk kebolehan dimana hanya aku yang bisa!'
Fang mengadahkan tangannya ke depan. Tinju emas berhasil meninju laki-laki yang kini menolak arus jarum angin Taufan. Didentumkannya ke atas tubuh Halilintar, menuju ke arah arus api biru dari Ais dan Blaze keluarkan. Gempa melakukannya dengan baik.
Tubuh pemuda pemilik elemen petir kaku kedinginan. Ia tidak dapat berkutik dalam beberapa detik setelah terkena telak serangan api biru yang terlintas.
Disana, Fang melantangkan suaranya. Tepat lurus tangannya yang di depan menuju wajah Lava.
=oOo=
"Apa kau Yaya?"
Dari perpindahan cepat menggunakan teleportasi, Ying langsung bertanya demikian pada perempuan lain dalam anggota mereka. Menanyakan suatu hal dimana si pemilik nama sempat tercengang.
"A—apa maksudmu, Ying?" tanya Yaya.
"Aku mengenal Yaya sebagai orang yang berani ambil resiko saat temannya dalam bahaya. Tapi saat ini, kau menyuruhku membawamu dan Gopal untuk mundur."
"... Ingat, kalau kita terluka malah akan menambah beban Boboiboy juga Fang. Jadi lebih baik dari awal, kita tidak perlu berpartisipasi disana," ucap Yaya menjelaskan.
"Tapi biar begitu, kau akan maju."
Ucapan Ying seperti menggambarkan dia tengah takut. Memang benar, namun pilihan Yaya mundur bukan demikian. Yaya punya alasan kuat memilih jalan untuk belok dari pertempuran.
"Adu Du dan Probe tidak terlihat sejak kita menyerang ratu iblis. Juga ratu iblis sendiri. Kita bakal kehabisan stamina duluan kalau maju tanpa rencana matang."
Gopal menghela napas. "Aku setuju dengan Yaya, malahan. Aku rasa Adu Du tahu masalah kita."
"Raja game kembali bersuara," sahut Ying. "Aku ikut rencana kalian apa."
"Apa ada yang meminta bantuan?"
Suara perempuan yang terdengar dewasa menjadi sosok keempat dari obrolan mereka. Rasanya mereka kenal, walau hanya sementara tapi setidaknya mereka pernah menyantap jenis suara itu. Yaya dan Ying menoleh segera.
"Ibu Eloise!"
Sosok wanita dengan jubah tipis. Pada bahu ditumbuhi ranting-ranting kayu. Dia tidak sendiri disana. Ada tiga wanita lain yang asing dari mata ketiga anak-anak disana.
"Panggil saja saya dengan nama sebenarnya, Dryad," tawar perempuan itu disertai sunggingan senyuman. "Disini ada Eternelle, Lampad, dan Siren yang akan membantu kita."
"Jadi mereka ya, teman-teman dari bocah tumbalan kita dari ratu Eclair?" wanita berkerudung mendekat pada Yaya, kemudian berjongkok menyetarakan tinggi. Yaya sedikit bingung dengan tiba-tiba ada ulasan senyum tercipta dari kedua sudut bibirnya.
"Cuma kau yang belum bertemu kandidatmu. Tapi ngomong sudah kayak pernah ngobrol sama anakmu," wanita dengan kedua sayap burung membalas ucapannya.
"Eternelle..."
"Haha, kalian ini," Eloise—atau Dryad—tertawa ringan.
"Jadi... apakan ibu akan membantu kami?"
Pertanyaan Yaya membuat tawa Dryad terhenti. Lampad mengusap kepala Yaya ringan.
"Ibu Dryad dan kami akan membantu kalian," ucap Lampad meski kedua matanya tidak dapat tembus dipandang ketiga bocah disana. Oh mungkin percaya ucapannya saja sedikit memungkinkan untuk dipegang.
Gopal maju dengan sekali melangkah ke depan. "Tapi, bisa ceritakan pada kami? Awal Lava mendapat elemen petir. Dia menceritakan asal ia mati saja juga kehidupan awal kalian bersama kaum manusia."
"Lava mengarang," kata Dryad dengan tawa mengejek. "Dia bukan mati. Dia tidak bisa mati, karena dia Necromancer. Kalau kami bisa membunuhnya, sudah kami lakukan sejak dia bayi malahan."
"Lebih baik kita berargumen sambil bertarung," Lampad menegakkan kedua lututnya kembali. Begitu gagah ia mulai membuka kerudung yang selama ini menutupi rupanya.
Yaya dan Ying reflek menutup mulut mereka. Melihat bekas luka yang begitu banyak pada wajah perempuan yang membawa obor tersebut. Lampad sudah tahu reaksi anak-anak ketika meliihat wajahnya, dan ia hanya bisa berdeham tersenyum.
"Luka bakar ketika melawan Lava dahulu. Aku ingin memberi ganjaran padanya."
"Kami bisa antar pada lokasi mereka!" tawar Yaya pada Lampad.
"Kalian punya kekuatan teleportasi?"
Ying mengangguk, "Saya punya!"
"Boleh aku pinjam jam kuasamu?" perempuan dengan hanya berhiaskan aksesoris berat dimana hanya pinggul sampai kaki tertutup kain itu mendekat pada Ying. Perempuan berkuncir dua tersebut membuka jam yang terpsang manis pada pergelangan tangannya. Lalu ia menyerahkan benda tersebut pada Eternelle.
"Dengan begitu, kekuatan Eternelle untuk berpindah jadi sempurna deh," ucap perempuan setengah duyung, yang sedari tadi bungkam awalnya. Hanya ia sendiri yang masiih keenakan duduk manis pada bongkahan batu.
"Sempurna?"
"Dahulu, cara untuk menyegel Lava hanya dengan menyerahkan setengah kekuatan kami," Eternelle mengenggam jam tangan Ying. "Aku penguasa waktu dan udara. Tapi kini aku hanya mejadi peri jadi-jadian, berpura-pura bisa mengabulkan permohonan orang untuk mendapat kekuatan waktuku kembali. Sekarang tidak lagi, karena kekuatanku kembali."
"Jadi... kalian aslinya adalah pemilik kuasa-kuasa kami...?"
Eternele mengangguk. "Kita lanjutkan rinciannya nanti."
Seketika, semua orang yang berada dalam lingkup perempuan bersayap bidadari tersebut menghilang.
=oOo=
"Heyaa!"
Telapak tangan bersarung fingerless tepat mengenai wajah Lava. Beban tubuhnya membawa orang yang di bawah dia ikut arus. Mereka berdua terjun jatuh di sebelah lubang jurang yang dibuat Gempa.
"Keluar kau setaaaaannn!" teriak Fang dengan sungguh-sungguh. Walau mereka sudah mendarat pun, ia masih meregap sebelah tangannya mendorong-dorong wajah laki-laki mantan bertopi depan.
"FANG, NGAPAIN SIH?!" pekik Taufan. Ais dan Blaze serempak merasa geli. Masing-masing menutup mulut mereka yang masih berdiri dari udara.
"Fang 'kan punya kuasa bayang, kau tahu 'kan saat Halilintar diculik yang bisa melawan makhluk gaib saat itu Fang saja. Jadi, aku sih percaya saja."
Padahal Gempa sendiri yang membuat kalimat seakan percaya akan tindakan pemilik kuasa bayang, tapi dia sendiri menepuk jidatnya.
"Lawannya bukan main-main tau! Heran aku punya teman idiot kayak dia!"
Gempa tidak mengindahkan omelan Taufan. Karena dia sendiri merasa ada di pihak mengambang; percaya pada Fang dan setuju dengan argumen Taufan.
"Tch, kalian membuatku kehabisan kesabaran," Lava juga menaikkan sebelah tangannya, mendorong wajah Fang menjauh darinya.
"Belum."
Kedua iris merah delima itu terbelalak. Sorot mata pemilik kuasa bayang tampak serius. Apalagi setelah ada lingkup bola transparan kelabu tercipta melindungi semua laki-laki disana. Taufan pun yang awalnya meremehkan tindakan Fang hanya bisa terhenyak kini.
Suasana berubah menjadi gelap. Ditemani bulan bercahayakan merah darah. Dataran bernuansa warna nila. Dunia berubah drastis sejak bola yang dibuat Fang mulai diaktifkan.
Gempa, Taufan, Ais dan Blaze perlu waktu lama untuk mencerna semua kejadian spontan sekarang.
"Ayo cari Halilintar."
Kedua mata merah besar langsung muncul di depan keempat laki-laki pemilik kuasa elemen bumi. Disana muncul siluet laki-laki duduk pada bibir monster tersebut. Pantulan cahaya bulan merah membias pada kacamata yang dikenakan laki-laki tersebut.
"Fang... ini dimana?" tanya Gempa.
"Dunia bawah sadar Halilintar. Katanya dia dikurung disini, 'kan?"
"Dan monster itu..."
"Dia penghuni dunia bawah sadarku. Dunia ini dibagi antara aku dan Halilintar," jelas Fang. "Jadi aku juga bisa menciptakan sesuatu di dunia ini. Ayo naik."
"Naga... bayang, eh?"
Taufan terlebih dahulu naik pada punggung naga bayang milik Fang. Ais dan Blaze saling bertatap sebentar, kemudian mereka berdua menoleh pada Gempa yang sudah juga bergerak untuk naik.
"Berarti kami pingsan dong?" tanya Blaze yang paling terakhir naik. Monster tersebut bergerak meliuk-liuk secara diagonal menuju ke atas, mengudara.
"Bisa dikatakan seperti itu," jawab Fang. "Dunia bawah sadar Halilintar luas. Aku tidak hafal jalannya. Bahkan aku saja baru tahu dunia bawah sadar benar-benar ada. Aku benar-benar tidak percaya punya kekuatan ini."
"Kau meneriakkan seakan Halilintar kesurupan. Kukira kau bercanda."
Balasan Taufan sempat membuat Fang tertawa miris. Fang juga sedikit malu ketika mengingatnya. Namun bocah keturunan negara cina itu hanya bisa diam.
"Kami seharusnya bisa merasakan aura Halilintar karena dia bersama kami," simpul Gempa. "Ais, Blaze, Taufan... kalian bisa merasakan aura Halilintar?"
"Harusnya yang paling kuat itu Taufan," Fang ikut bersuara. "Coba timbulkan rasa yang membuat kalian saling membenci. Apa yang membuatmu dan Halilliintar berseteru saat sebelum Lava ada. Kalau tidak, kita bisa kedapatan Lava."
"Saling benci... hmmm," Taufan memasang pose berpikir.
"Lava juga ada disini?" Gempa masih menoleh pada Fang.
"Auranya kuat. Aku yang dari sini bisa merasakannya... saat alam bawah sadar, sepertinya dia orang yang levelnya diatas."
"Kereeennn! Ini benar-benar seperti ada dalam permainan fantasi!" jerit Blaze kesenangan.
Ais berdeham, "Saat ini aku malah kangen ranjang tidur..."
"Tidur terus kerjaan."
"Biarin. Sana juga hobinya main mulu," Ais merebahkan kepalanya pada kedua kaki Blaze yang dilipat. "Aku capek bertarung terus. Kalo kita kalah kenapa juga. Gak ada ruginya."
Ais merasakan aura tidak enak dari keempat laki-laki yang bersamanya. Semua langsung menoleh padanya, memicingkan mata.
"A—aku bercanda..."
"Ah!" Semua memandang laki-laki mantan bertopi miring. Taufan menaikkan tangannya kemudian menelentangkannya ke depan. "Dia ada disana!"
"Oh?" Fang mengawal naga bayangnya segera menuju dimana arah telunjuk Taufan mengarah. Tidak butuh waktu lama, mereka sampai dimana Taufan mengatakan pusat aura Halilintar ia rasa.
Disana memang ada Halilintar. Yang hanya bisa menunduk pasrah dengan kedua tangannya ditelentangkan. Rantai memaksaka demikian. Ujung lainnya direkatkan pada batang besi tanpa lubang pemasang—seakan dari awal dibuat tiang tersebut sudah disatukan dengan rantai besi.
"Halilintar!"
Kepalanya menoleh saat Taufan berseru. Perwakilan kuasa angin turun dari naga bayang jauh di atas udara, terbang bebas demi sampai paling pertama menghampiri rivalnya.
"Kau..."
Halilintar membuang wajah saat Taufan sudah mendarat sempurna lalu menghampirinya. Taufan tercengang melihat tindakan Halilintar.
Suasana senyap, bahkan saat naga bayang sudah mendarat pada daratan dimana Halilintar berada. Gempa. Ais, dan Blaze menunggu di tempat. Mereka bisa merasakan rasa sedih yang didera Taufan.
Ais yang kemungkinan besar paling mengerti Taufan. Mereka sama-sama pecahan yang condong lebih repot pada sesuatu yang bukan fisik, yaitu emosional. Mereka berdua pecahan yang paling rentan hatinya. Saat dipalingkan dari orang yang mereka peduli, yah... disana mereka menangis dalam hati.
"Untuk apa kau kesini?"
Ucapan pertama dari Halilintar setelah keheningan lama tercipta. Taufan sedikit menaikkan kepalanya karena mendapat secercah harapan.
"Kami kesini untuk kembali bersatu denganmu. Sebelum kita lupa kita siapa, ayo kembali..."
Taufan mengulurkan tangannya disertai memberi senyuman hangat. Gempa yang jauh disana ikut tersenyum.
"Kami 'kan kau juga," Gempa ikut angkat bicara.
"... aku musuh kalian sekarang."
Gempa pun menyegerakan melangkahkan kakinya cepat menghampiri Halilintar, "Kita satu. Ayo cepat kembali, kau juga Boboiboy. tidak ada musuh diantara kita."
"Kita hanya altar ego yang kebetulan diberi wewenang untuk hidup," timpal Ais yang ternyata ikut mempercepat langkahnya. "Kalau Boboiboy tidak ada rasa takut, dia takkan jadi Boboiboy yang Fang dan kawan-kawan kenal lagi."
"... tidak..."
Blaze maju, namun tidak menuju dimana Halilintar berada. Ia justru malah mendekat pada pangkal rantai. Blaze mengeluarkan bola api dari kedua tangannya, lalu menyerang rantai tersebut. Usahanya sia-sia. Besi itu tidak lebur.
"Blaze!" pekik Ais. "Jangan gegabah! Lava bisa saja sadar kita disini, kalau kau begitu!"
"Daripada hanya membujuk Halilintar namun dia sendiri juga tidak tahu bagaimana melepaskan diri, lebih baik bertarung dengannya saat sudah bebas!" balas Blaze. "Cih, terbuat dari apa sih ini rantai?"
"Itu rantai khusus. Kalian takkan bisa membebaskanku," suara Halilintar terdengar lemah. "Jadi daripada kalian hanya melakukan hal sia-sia... lebih baik pulang."
"Kalau pecahannya kurang, kami juga takkan bisa bersatu... lalu ikut dengan jalurmu sebagai musuh."
Ucapan Blaze benar apa adanya. Ais tertawa kecil.
"Biar kamu suka mementingkan duniamu, tapi rupanya kau juga bisa paham soal gituan. Aku bantu deh," sontak Ais mendekat pada Blaze.
Halilintar mengadahkan kepalanya lalu menoleh pada Ais dan Blaze yang salinng bergantian menyerang pangkal rantai. "Kenapa..."
Suasana senyap. Gempa dan lainnya sengaja memberi waktu Halilintar untuk meneruskan ucapannya.
"Kenapa... Aku tahu kalian semua berpihak pada Taufan. Kalian menyerangku. Kalian menganggapku lemah pada masa lalu. Kalianlah musuhku sebenarnya!"
Fang segera menyahut, "Kau tidak sadar kalau justru dirimu yang menyimpang, Halilintar!"
Halilintar menatap tajam Fang yang ikut-ikutan obrolan mereka seenaknya. Dia pikir ia siapa?
"Cobalah untuk sadar, apa yang telah kau lakukan pada orang-orang yang harus kau lindungi! Yaya, Ying, bahkan Gopal kau serang!" kecam Fang melanjutkan omelannya. "Kami bahkan berusaha mengembalikan kau pada tubuhmu, tapi kau malah menyuruh kami pulang! Kau tidak tahu malu, apa?!"
"Terserah apa ocehanmu. Aku tidak mau peduli lagi pada kalian—"
"Tidak..."
Taufan mendorong sedikit tubuh Fang sebagai isyarat agar pemiilik kuasa bayang mundur. Fang patuh. Ia melangkah mundur mengikuti aba-aba si pemilik kuasa angin.
"Ini semua salahku yang menganggap Halilintar lemah. Aku sebenarnya takut... takut kalau Halilintar dapat menjadi motivatorku padahal suatu saat ia bisa saja mengecewakanku... aku takut untuk kagum pada seseorang."
"Ternyata Taufan punya ketakutan?" tanya Gempa cukup kaget.
"Bukan hanya Taufan...," ucap Blaze.
"Semua pecahan punya ketakutan. Karena kita adalah perwakilan emosi Boboiboy," Ais menyambung ucapan pemilik kuasa api. "Aku juga punya ketakutan... untuk disalahpahamkan..."
"Aku takut sendirian," lanjut Blaze.
Fang terhenyak. Ia tidak percaya mereka begitu bisa jujur mengutarakan apa kekurangan mereka. Tapi disatu sisi, ia membenarkan mereka. Gempa juga mengangguk membenarkan.
"Aku juga... takut dimanfaatkan..."
Taufan dan Halilintar terdiam. Mereka tidak habis pikir dengan mengapa tiba-tiba ketiga pecahan itu berbicara hal yang seharusnya tidak perlu—mungkin.
"Tapi ketakutan ada karena ada keinginan," lanjut Gempa. "Aku takut dimanfaatkan, tapi aku punya keinginan disetarakan. Kau tahu—aku selalu dianggap paling kuat makanya selalu ditinggal sendirian. Aku biar begini, juga mau punya teman setara."
Blaze ikut bicara, "Aku sih cuma ingin dianggap teman~ Bagaimana denganmu, Ais?"
"... aku hanya ingin dihargai."
Taufan ancang-ancang menarik rantai yang mengikat si pemuda beriris merah, membuat semua elemental disana keheranan. Halilintar juga terdiam dari tadi, tidak tahu harus bertanggapan apa.
"Aku hanya ingin dianggap bisa... dan akan kubuktikan, dengan melepas rantai ini. Kalau Halilintar, maunya apa?"
Halilintar mendongak sejenak. Kemudian ia menunduk kembali. Buliran air jatuh lalu meresap pada tanah yang dipijakinya. Halilintar mengapit bibirnya, menahan isak yang kemungkinan akan membesar jika ia gegabah. Cukup beberapa bulir tangisan meleset keluar dari batas pelupuk mata.
"A—aku takut dianggap tiada—aku... aku hanya ingin menjadi ada..."
Secara ajaib rantai yang mengikat kedua lengan Halilintar melepuh. Menjadi butiran pasir yang kemudian terbang terbawa angin. Mantan bertopi miring memutar badannya menghadap laki-laki di terdekat sambil mengadahkan tangan. Halilintar memberanikan diri menyambut sambutan tangan Taufan.
"Selamat datang, Boboiboy..."
"Kau sendiri pun Boboiboy. Kau lagi lupa, ya?"
Taufan menyeka airmata yang membekas pada pipi Halilintar. "Waktu untuk kita lupa ingatan seharusnya sudah sejak siang kita disini."
"Hentikan tindakan senonohmu. Kau tampak jijik."
"Jadi, kau memihak mereka ya... Halilintar..."
Semua—Fang, Gempa, Blaze, Ais, Taufan, dan Halilintar—langsung berbalik menuju suara yang lumayan mnggelegar itu berada. Pria dengan tengkorak binatang bertanduk menghiasi kepalanya. Mata merah delima—yang tidak kalah seram dari milik Halilintar—menatap semua anggota disana intens.
"... Lava... aku tahu perasaanmu sebagai orang yang merasa disudutkan."
"Hanya tahu, tapi kau juga menentangku bukan?!"
Tatapan dingin Lava semakin menjadi. Sibakan rambut hitam cepak tampak normal, sampai ada aura merah yang mulai keluar. Fang langsung memang kuda-kuda untuk menyerang. Namun sebelum Fang mengambil tindakan, Halilintar mengadahkan tangannya. Satu tangannya yang lain mendorong Taufan pelan ke samping.
"Tapi mereka adalah aku... itu sama aja aku egois. Aku juga akan dianggap tidak ada, kalau aku tidak bergabung dengan mereka..."
Pemuda dengan jubah mengerikan itu terdiam. Dari posisinya yang berdiri pada dataran gelap, kedua lututnya ia tekuk. Lava duduk pada tanah sambil meringkuk. Aura yang sempat samar-samar tercipta memudar. Menghilang seiring waktu.
"Aku senang punya teman yang lebih dewasa dariku. Aku jadi malu pada diriku sendiri, menentang keras sampai menyusahkan semuanya."
"Hah?!" Taufan kini terkesiap melihat musuhnya malah mewek. Mengingatkan dia pada Ais saat masih awal-awal menjadi member baru mereka.
"Lava sebenarnya adalah pemuda baik. Ah intinya dia mirip dengan aku sih," Halilintar menggaruk pipinya yang tidak gatal. "Kalau keras kelewatan kek aku. Kalo goyah mirip Air."
"Kok aku sih?!" Ais menyeletuk tiba-tiba, tidak terima dibanding-banding dengan orang lain.
"Sudahlah...," Gempa melerai perseteruan Halilintar dan Ais. "Lava... kami benar-benar tidak tahu kau orang baik. Kami kira kau akan membunuh Halilintar dan mengambil raganya, makanya kami berusaha keras mengalahkanmu."
"Aku hanya tidak mau Halilintar bertarung setengah-setengah," Lava mendongakkan kepalanya.
"ITU SETENGAH-SETENGAH?!" Fang dan Taufan main celetuk. Mereka berdua korban nyata saat Halilintar mengamuk—bisa digambarkan seperti itu—pada momen Halilintar tertawa psikopat.
"Ya, itu setengah-setengah," balas Halilintar merasa menang. "Sekarang tahu 'kan aku kuat?"
Fang bersama Taufan, Blaze, dan Ais kini menatap Halilintar intens. Yang ditatap grogi sendiri.
"AIH AYO CARI GOPAL DAN LAINNYA!" teriak Halilintar grogi. "Bumi juga bakal disepakati akan damai, meski kalian mengalahkan kami atau tidak juga! Alasan Lava kembali hanya mau menunjukkan penemuannya berguna! Hanya Eclair yang menyebut Lava orangnya jahat!"
"Kok kamu yang sewot," Lava pun berdiri. "Eclair hanya tidak tahu bagaimana berbicara bahasa manusia yang penuh norma. Dunia setan memang sedikit kasar ucapannya. Kami menyebut dendam, tapi bagi manusia itu membuktikan. Atau mungkin saja kami jahat."
"Jadi dia dimana?"
"Untuk menjelaskan pada keempat ratu dimensi elemen, entah apa."
Halilintar mengangguk.
"Tapi terima kasih untuk jujur-jujuran denganku. Sungguh, aku senang memiliki teman sepertimu."
Lava tersenyum. Dan senyumannya begitu menawan. Pemuda beriris merah bergelar Halilintar itu terperangah. Beberapa saat kemudian, ia ikut tersenyum.
"Kau tidak lemah, Halilintar."
"Bukan. Dari awal kuat dan lemah tidak ada. Semua punya kelemahan seberapa tangguh dia bertarung."
'Taufan pun bisa menjadi kuat karena menginginkan aku kembali. Gempa juga berevolusi karena ingin melindungi teman-temannya. Ais dan Blaze berubah karena tidak mau Taufan mati.'
"Semua bisa menjadi kuat."
Saat Halilintar menyudahi kalimat akhirnya, tubuh mereka tampak memudar.
"A—apa ini?" Fang yang terlebih dahulu memperhatikan tubuh mereka langsung berseru kaget.
"Kalau kalian di bumi nanti, jangan lupakan aku ya?"
"Hah?! Maksudnya?!"
Halilintar berlari mencoba menghampiri Lava. Tangan kanan ia luruskan ke depan, ingin menggapai tubuh sang necromancer setengah manusia itu.
Namun tubuhnya mulai tak tampak. Jemari-jemari yang harusnya bisa menyentuh tubuh Lava, tembus pandang.
"Dari awal aku memang tidak ada. Tapi walau aku hanya karakter game, aku juga mau dianggap ada."
Ada...
Kata itu...
Bukannya Halilintar sempat mengucapkan kata itu, saat Taufan mengajaknya berdiskusi apa keinginan masing-masing elemen Boboiboy? tapi Lava juga satu perasaan dengannya. Jarang sekali, Halilintar bisa menemui orang yang sama—satu pemikiran.
=oOo=
"Oi oi, baru kutinggalkan sebentar belanja kau ketiduran?"
Boboiboy tidak tahu apa yang terjadi padanya. Tiba-tiba ia menemukan dirinya terbaring di lantai kedainya sendiri. Di depan sudah ada kakek Aba yang menampakkan raut wajah cemberut.
"Eh—pagi kakek."
"Pagi?! Ini sore! Sudah sudah, kau mandi saja lalu istirahat."
Boboiboy langsung bangkit dari tempat ia tertidur. Ia lekas pamit pada sang kakek kemudian berlari ke rumah. Laki-laki bertopi jingga terbalik itu melakukan rutinitas yang disusun si kakek saat di kedai tadi. Mandi, kemudian beristirahat setelah menunaikan shalat wajibnya.
Ia mendapati si robot bundar yang sudah merebahkan badannya pada ranjang. Boboiboy ikut menaiki ranjang bergambar astronot dan benda-benda angkasa tersebut.
"Aku didapati ketiduran itu kenapa?"
"Aih aku juga ketiduran awalnya."
"Eikh? Ketiduran juga?"
"Ho'oh."
Boboiboy memasang pose berpikir, "Lalu, Fang dan lainnya?"
"Coba saja tanya besok. Kenapa langsung mencari mereka?"
"Aku tadi mimpi elementalku jadi jahat kecuali Halilintar. Tapi habis itu Halilintar yang jadi jahat. Air sama Api berevolusi. Kau jadi jahat juga, karena diciptakan iblis."
"Eh begitu?" Ochobot kaget mendengar pernyataan Boboiboy. "Kelihatannya kau perlu tidur. Besok sekolah bukan?"
"Iya sih. Yah, selamat malam Ochobot."
Robot kuasa menenggelamkan teropong matanya. Lubanng yang menjadi dimana matanya diletakkan mengatup. Namanya juga robot, cara tidurnya berbeda dari manusia hidup. Seperti komputer yang harus mati dengan menekan shut down, atau televise yang harus menekan tombol off. Namun Ochobot visa mati otomatis.
'Aku juga ada di dunia itu. Rasaya begitu nyata, dan ada memori yang sepertinya melekat dengan mimpi itu. Aku sebenarnya, milik siapa?'
=end=
A/N: Terimakasih untuk para reviewers: Rani Ray Reandy, khairun, Alifah537, Khairun269, IceCandy03, Alika043, Nikenraya, rikatoki02, Fandhia Taufan, Mizuki Kanzaki, Mahrani29, NaYu Namikaze Uzumaki, Yamazaki Yako, Lika Like919, Chatarina Hinda Pusparegina, Alifah537, DesyaNAP, Imut Chan, Vivi Ritsu, lumutness, Echaa, M4dG4rl, lettuce strong, Chocolate Bubbletea, Isha Kirara, Healice Adelia, Lilpink 29, D 'Gee-eun' oktaviani, DianneRistan542, Diandra35, Chikita466, Summer Nami, florine27, ColaNana, Eka Febri, Aisa De Familie, meeyahjee keeyoshee waifu, Rouchan24, MASK, Angga anggraina, dan Destry Widya Rachmandani; favers; dan followers!
Ceritanya gantung? Sengaja. Wordnya udah melebihi target biasanya. Wahaha /bangga
Karena banyaknya kerjaan (biadab maso) saya, kemungkinan besar untuk menggambar dan mengetik akan diberhentikan sementara. Bulan November akan ada jadwal padat dimana saya berperan sekali, makanya gak boleh santai. Desember hanya liburan 11 hari setelah semesteran. Bimbing anak-anak tour juga. *baca schedule*
Tapi saya tetap akan mengawasi author yang masih mengikuti event First Impression.
Oh saya berterimakasih sekali pada pembaca dari Malaysia yang bisa mengerti tulisan (maso-dewa) saya. Karena beberapa author Indonesia saja ada yang gak ngerti (seni-maksa) tulisan saya sendiri, saya mengira ketikan saya tak akan dinutis negara tetangga.
Salam,
lampion malam 0w0 )7
