Title: No Kids Allowed

Characters: Oh Sehun, Luhan, Kris, Others.

Genre: Fluff-Angst-Crime?

Disclaimer: Semua character utama adalah milik Tuhan namun ada beberapa character tambahan fictional.

Entry untuk HunHan Indonesia (LINE OA).

Chapter 2 - Kencan Pertama


Akhir pekan memang merupakan saatnya bagi para pecinta untuk menghabiskan waktu bersama. Entah hanya sekedar minum di kedai kopi atau hingga menghabiskan malam bersama dengan cumbu mesra sana sini. Sama seperti pasangan yang lain, Luhan pun tak sabar menantikan date nya dengan Officer Oh, begitu Luhan terus memanggilnya.

Ia memainkan sedotan dari cup Bubble Tea, sesekali mencoba menyerput kembali seakan masih ada sisa minuman di dalamnya. Luhan tahu bahwa film itu tidak akan dimulai sampai 30 menit kedepan, namun Luhan telah menunggu hampir setengah jam dari waktu yang telah disepakati. Bukankah seorang polisi seharusnya tepat waktu?

Sebagian dari Luhan sadar bahwa dirinya sungguh kekanakan. Tidak seharusnya ia merepotkan seorang polisi yang tentunya, memiliki segunung kasus di meja kerjanya. Sebagian lain dari dirinya juga takut bila Sehun tidak akan datang. Namun ia memutuskan untuk tetap menunggu.

Pintu theatre pun dibuka. Sehun masih juga belum menampakkan batang hidungnya. Luhan mulai putus asa. Ia bangkit berdiri lalu berjalan menuju theater nomor 2 itu. Sayang bila tiket itu disia-siakan. Meski menonton sendiri, Luhan akan berusaha untuk menikmatinya.

Saat hendak merobek tiket itu menjadi dua bagian, sebuah tangan yang lebih besar mencengkram pergelangan tangan miliknya. Luhan pun lantas berbalik, mendapati seorang Oh Sehun berdiri di sana dengan tampannya.

"Aku tahu aku terlambat. Ayo," kata Sehun tanpa basa-basi dan langsung merampas tiket itu, memberikannya pada sang penjaga theater.

Luhan tak dapat menahan senyum lebarnya. Sehun pun masih saja menggenggam pergelangan tangannya dengan erat, seakaan takut Luhan akan tersesat bila dilepaskan.

Film James Bond terbaru dengan judul Spectre itu merupakan film pilihan Luhan. Selain karena ia penggemar film dengan genre action, ia juga berpikir bahwa film ini sangat cocok bila ditonton bersama Sehun.

Setelah lebih dari 2 jam film itu berlangsung, mereka keluar dari theater beriringan. Luhan masih saja tersenyum puas akan film yang baru saja diputarkan itu. Ia pun bergumam, "Manis sekali, seorang playboy seberti James Bond akhirnya menyerahkan pekerjaannya demi seorang dicintainya."

Sehun yang mendengar itu hanya diam. Dia tak mau ambil pusing dengan komentar Luhan, yang nyatanya sedikit menyindir kehidupannya itu.

"Sehun, kau ingin makan apa?" tanya Luhan sesampainya mereka di food court mall itu.

Sehun mengangkat bahunya ringan sambil melihat ke sekelilingnya. "Steak saja."

Luhan mengangguk mantap lalu menyuruh Sehun untuk mencari tempat duduk terlebih dahulu selagi ia memesankan makanan untuk mereka berdua. Sehun hanya menurut saja, langsung memilih tempat duduk terdekat yang ia lihat sementara Luhan langsung pergi untuk memesankan steak untuk makan malam mereka.

Setelah beberapa menit, Luhan duduk di depan Sehun dengan membawa nomor pembelian. Ia tersenyum sambil berkata, "Akan diantar dalam sepuluh menit."

Sehun tidak menjawab, ia hanya bermain dengan ponselnya.

"Sehun-ssi, kau bekerja di bagian apa?" tanya Luhan, mencoba untuk memulai pembicaraan.

"Aku seorang polisi detektif," jawab Sehun singkat.

Luhan mengangguk, semakin kagum saja dengan Sehun. "Kau keren sekali. Pekerjaan mu pasti berat."

Sehun mengangkat wajahnya dan memandang Luhan sejenak lalu menjawab, "Tentu saja. Kasus yang satu belum selesai, munculah kasus baru. Memecahkan kasus tak semudah itu, apalagi bila kau berurusan dengan penjahat internasional. Pekerjaan ini sungguh mengancam nyawa."

Luhan tertegun mendengar paparan Sehun. Mungkin itu pertama kalinya Sehun berbicara sepanjang itu kepada Luhan. Luhan terkekeh ringan lalu menimpali, "Apa kau suka melakukannya?"

Sehun bungkam tidak menjawab. Ia malah melempar pertanyaan kepada Luhan, "Mengapa kau bersikeras untuk mengajakku keluar?"

"Apa kau pensaran denganku?"

"Tidak," balas Sehun malas.

Luhan terkikik senang. "Tidak apa. Akan kuceritakan," katanya dengan antusias.

"Sebenarnya aku juga tidak tahu. Mungkin karena aku sangat menginginkan bagaimana rasanya pergi berkencan. Norak kah?"

Sehun mangangkat alisnya, tanda bingung. Hanya karena ingin pergi berkencan? Apakah itu benar-benar alas an Luhan yang sebenarnya? Haruskah ia mencurigai laki-laki manis di depannya itu?

"Tidak, aneh saja. Dilihat dari fisikmu, kau terlihat seperti seorang yang populer dengan wanita."

Luhan tersenyum pahit mendengarnya. Tentu saja, banyak wanita yang menginginkannya, bahkan mengemis cinta padanya. Namun bukan itu masalah utamanya. Masalahnya adalah,

"Aku menyukai laki-laki."

Sehun tak tahu harus menjawab apa. Maka ia pun diam.

"Kau tahu negara ini bukanlah negara yang sangat terbuka dengan homoseksual. Bila melihat temanku, Baekhyun, aku sangat bangga sekaligus sedih. Ia berani untuk mengakui bahwa dirinya adalah seorang gay. Aku memang pernah berhubungan dengan laki-laki. Namun mereka semua-"

Belum sempat Luhan menyelesaikan ucapannya, seorang pelayan datang dengan baki berisi steak pesanan mereka di atasnya. Luhan mengucapkan terima kasih dan pelayan itu pun pergi. Sementara Sehun, ia masih sedikit penasaran dengan kelanjutan dari cerita Luhan.

"Selamat makan!"

Mereka makan dalam diam. Sesekali Luhan memberikan komentar tentang steak yang mereka santap agar suasana tidak terlalu canggung. Dan Sehun tak menghiraukannya seperti biasa.

Seusai makan, Sehun tiba-tiba berkata, "Aku akan mengantarmu pulang."

Luhan tak menolak, tentu saja. Namun ia juga tak berkata apa-apa selain mengangguk girang, takut bila perkataanya akan membuat Sehun berubah pikiran. Mereka pun berjalan menuju ke arah parkiran dan Sehun dengan gesit membukakan pintu untuk Luhan. Hingga di dalam mobil, Sehun juga mencondongkan badannya hanya untuk membantu Luhan memaikaikan sabuk pengaman. Luhan merasa seperti ada kembang api yang meledak-ledak dalam dirinya.

"Kau tinggal dimana?"

Luhan lantas memberikan alamat asrama universitas nya yang memang cukup jauh dari sana. Sehun sedikit lega setelah mengetahui itu. Setidaknya Luhan bukan masih bocah sekolah menengah atas.

"Apa kau benar-benar belum Sembilan belas tahun?"

Luhan mengangguk dengan polos. "Ya, aku akan berumur Sembilan belas bulan April nanti."

Sehun agaknya sedikit terkejut dengan pernyataan Luhan. "Ternyata kau juga lahir di bulan April," timpalnya kemudian.

"Kau juga? Wow, tanggal berapa? Berapa usia mu?"

Sehun berhenti saat lampu merah menyala terang. "Haruskah aku memberi tahumu?"

Luhan mengerucutkan bibirnya sebal. "Tentu saja!" balasnya mantap. "Agar aku dapat memastikan bahwa aku tidak tidur dengan paman-paman mesum."

Sehun mendelik mendengarnya. Apakah ia mengatainya paman mesum?

"Aku akan berusia dua puluh delapan pada tanggal dua belas April nanti."

Luhan lekas mengambil ponselnya untuk menandai tanggal 12 April di kalendar ponsel miliknya. "Milikku dua puluh April," katanya tanpa ditanya.

Sehun menggeleng mendengarnya. Ia kembali melajukan mobilnya saat lampu hijau bergantian menyala. Ia sedikit penasaran dengan kata-kata Luhan yang tak sempat diselesaikan tadi. Meski itu bukan urusannya, entah mengapa keingin tahuannya itu tak dapat ditahan. Maka ia pun akhirnya bertanya, "Tadi… laki-laki itu kenapa? Maksudku, pekataanmu yang tadi sebelum pelayan datang."

Nice, Oh Sehun. Terdengar aneh.

"Oh… bukan apa-apa," jawab Luhan singkat.

Sehun mengernyitkan dahinya. Mengapa sekarang Luhan ingin menutupinya?

Gedung berlantai 5 itu pun mulai terlihat semakin dekat. Sehun menghentikan mobilnya di depan gerbang.

"Terima kasih atas hari ini," papar Luhan dengan tersenyum.

"Oh benar. Aku hampir lupa."

Sehun mengambil dompet dari sakunya lalu mengambil beberapa puluh ribu won dan menyodorkannya kepada Luhan. "Untuk mengganti uang tiket bioskop dan makan malam."

Luhan mendorong tangan Sehun menjauh lalu menggeleng perlahan. "Tidak perlu. Jika kau benar-benar ingin menggantinya, maka ayo pergi bersama lain waktu," timpalnya sambil menjulurkan lidah.

Sehun memutar bola matanya malas. "Kau benar-benar serakah. Pesonaku memang tiada duanya."

Luhan tertawa ringan sebelum menatap Sehun sebentar. "Aku benar-benar berterima kasih. Jujur saja, aku bukannya menyukaimu. Aku hanya ingin pergi berkencan dengan seorang sepertimu."

"Apa maksudmu?"

"Hanya saja, kau cukup menarik untuk dijadikan teman kencan. Selain dari segi fisik, profesi mu cukup menantang. Kurasa aku hanya ingin menjadikan salah satu fantasi ku nyata."

Sehun berpikir laki-laki di depannya ini sedikit aneh dan kekanakan. Atau mungkin, polos?

"Bolehkah kita menjadi teman?" tanya Luhan sambil menjulurkan tangan kanannya, menanti Sehun untuk meraihnya.

Sehun sesungguhnya tak ingin terlibat lebih jauh dengan bocah aneh ini. Namun entah mengapa, tangannya bergerak untuk menggenggam telapak tangan Luhan, tanda menyetujui.

Luhan yang kelewat senang pun memajukan badannya untuk mengecup pipi kanan Sehun. Ia memberi cengiran tak bersalah sebelum keluar dari mobil mewah Sehun. "Sampai jumpa!" serunya sebelum berlari kecil ke dalam gedung asramanya.

Sehun terbengong untuk sesaat.


"Astaga Luhan! Kau dari mana saja? Aku berkali-kali menelpon namun tak ada yang menjawab!"

Baru selangkah Luhan memasuki kamarnya, Baekhyun langsung saja mengoceh panjang lebar seperti ibu-ibu yang khawatir akan anak gadisnya yang pulang malam.

Luhan hanya menyengir lalu duduk di kasurnya sebelum menjawab, "Aku ada kencan!"

Baekhyun tertawa selepas Luhan menyelesaikan kalimat pendeknya itu. Berkencan? Luhan saja sedang tidak dekat dengan siapapun. Lalu siapa yang ia kencani?

"Kau ini, aku sudah tak ingin mendengar bualanmu lagi."

"Astaga Baekhyun! Kau tega sekali padaku?" Luhan mengela nafas dan memutar bola matanya. Apa yang harus ia lakukan agar sahabatnya ini percaya?

Baekhyun terkikik. "Lantas? Kau pergi dengan siapa?"

Luhan merebahkan dirinya di kasur dan mulai berguling-guling di atasnya. "Dengan Mr. Officer!"

Baekhyun menaikkan alisnya tak percaya. "Kau sungguh-sungguh bersama dengan ahjussi tua?"

Mendengar ejekan Baekhyun, Luhan langsung saja menendang tulang kering Baekhyun, yang menyebabkan sang empunya mengerang kesakitan. Baekhyun mengerucutkan bibirnya dan mengusap kakinya yang sedikit memar akibat tendangan Luhan.

"Kau ini! Kaki mu itu keras sekali tahu!"

Luhan menutup matanya seolah tak peduli. "Salah kau sendiri. Lagi pula, Sehun itu bukan seorang ahjussi. Dia masih berusia dua puluh tujuh tahun!"

Baekhyun mengangguk, mencoba untuk mempercayai Luhan. Tidak mungkin juga Luhan berbohong sampai se-detail itu. "Baiklah, ajaklah aku bertemu dengannya. Bagaimana dengan double date?" usul Baekhyun kemudian.

Luhan membuka matanya dengan cepat selepas mendengar usulan Baekhyun itu. Luhan menatap Baekhyun dengan mata yang berbinar, namun beberapa detik kemudian, pandangan itu menjadi sendu. Usulan Baekhyun memang menarik, namun terdengar mustahil juga. Bukankah mereka sepakat menjadi teman?

"Bagaimana?"

"Akan kuusahakan."


"Lu, aku duluan ya," pamit Kyungsoo sambil tersenyum ramah.

Luhan mengangguk dan membalas senyumnya sebelum melangkahkan kaki menuju cafeteria. Melihat ke seluruh penjuru ruangan, ia akhirnya menemukan Baekhyun dengan Chanyeol yang sedang suap menyuap mesra. Sungguh, ini membuatnya ingin memuntahkan sarapan paginya.

Namun Luhan tak ada pilihan lain. Ia juga tidak terlalu memiliki banyak teman dekat, hanya beberapa kenalan akrab namun tak ada yang seperti dua makhluk keturunan Adam di depannya ini. Luhan memandang mereka datar.

"Bisakah kalian berhenti?"

Chanyeol tak menghiraukan Luhan dan tetap menyuapi Baekhyun, sesekali mengusap ujung bibirnya bila didapati remah-remah roti yang Baekhyun makan. Bakehyun terkekeh geli lalu menyodorkan sandwich dan sekotak susu stroberi yang ia pesan untuk Luhan.

"Berterima kasih lah padaku, kau tidak perlu mengantri."

Luhan mendengus namun tak menolak sandwich dan susu itu. Ia merobek bungkus sandwich nya dan melahapnya dengan kesal. Chanyeol yang akhirnya jengah dengan sikap Luhan akhirnya mengalihkan pandangannya ke arah Luhan.

"Kau sedang datang bulan atau semacamnya?"

Luhan tersedak mendengarnya. Ia cepat-cepat meraih kotak susu stroberinya dan mengambil satu tegukan besar. Benar-benar menyebalkan!

"Yah! Kau kira aku perempuan?"

Chanyeol mengangkat bahunya ringan dan memberikan cengiran khasnya. "Kau tampan, tapi juga seperti perempuan. Bagaimana ya?" canda Chanyeol, yang sebenarnya sangat tidak lucu. Namun Baekhyun tertawa mendengarnya.

Luhan semakin geram saja dengan pasangan ini. "Sudahlah, aku ingin makan dengan tenang," kata Luhan tak ingin membesarkan.

Baekhyun mengambil potongan rotinya yang terakhir, mengunyahnya sebentar sebelum menelannya. Ia lalu berkata, "Bagaimana dengan double date nya?"

"Double date? Siapa? Kapan?" tanya Chanyeol dengan penuh keingin tahuan.

Luhan hampir tersedak untuk yang kedua kalinya. Bagaimana dengan double date yang Baekhyun tawarkan? Luhan juga tak berani menanyakannya pada Sehun.

"Luhan bilang ia berpacaran dengan seroang polisi atau semacamnya," jawab Baekhyun santai.

Keduanya, baik Chanyeol maupun Luhan menatap Baekhyun tidak percaya.

"Akhirnya anak ini laku juga," cibir Chanyeol.

"Kau ini! Aku tidak berpacaran dengannya. Aku hanya pergi kencan dengannya. Dan soal double date itu, akan kupikirkan terlebih dahulu!"

Chanyeol mulai bingung dengan pembicaraan ini. "Kau berkencan dengannya? Namun tak berpacaran?"

Luhan menggigit bibir bawahnya lalu mengangguk pelan. "Ya, begitulah."

Chanyeol menopang dagunya di balik telapak tangannya, lalu bertanya, "Apa kau memaksanya?"

Luhan menggeleng dengan cepat, mencoba untuk menyangkal pertanyaan Chanyeol yang nyatanya adalah benar. Chanyeol tertawa melihat Luhan namun ia tidak berencana untuk memojokkan sahabat kekasihnya itu lebih jauh.

"Aku jadi penasaran dengan orangnya."

"Kalau tidak salah namanya Soohyun? Soojun?"

Luhan memutar bola matanya untuk kesekian kalinya karena Byun Baekhyun. "Namanya Oh Sehun!" serunya sedikit lantang.

"Oh Sehun?" ulang Chanyeol.

Baekhyun mengangguk, mencoba untuk mengingat nama itu. "Kenapa?" tanya Baekhyun kemudian.

Chanyeol tersenyum samar lalu menggelengkan kepalanya. "Kemungkinan Oh Sehun yang kau bicarakan adalah sepupu jauhku."

Luhan tersedak (lagi) dan melayangkan pandangan tak percaya pada pemuda tinggi itu. "Kau serius?! Yang benar? Kau pasti bercanda!"

Chanyeol tak menghiraukan pertanyaan Luhan dan berdiri. "Sayang, aku ke kelas dulu," pamitnya pada Baekhyun lalu memberi kecupan manis di dahi pemuda berponi itu. Baekhyun tersenyum dan mengangguk sebelum melambaikan tangannya pada sosok yang semakin menjauh.

Luhan masih saja bengong dengan informasi yang baru saja didapatkannya. Ia harus menanyakannya pada Sehun!


Luhan bosan. literatur bahasa Korea yang dianggapnya kurang penting ini membuatnya jenuh. Terlebih yang mengajar di depan adalah Prof. Kang. Sungguh, guru botak itu seharusnya pensiun saja.

Ia menghela napas panjang dan menyandarkan kepalanya di jendela sembari menatap keluar. Ia terus memikirkan Sehun, terlebih mengenai perihal Chanyeol. Ia mengeluarkan ponsel dari tas nya, lantas mengirimkan sebuah pesan singkat kepada Sehun.

Aku ingin bertanya sesuatu.

Kau kenal Park Chanyeol?

Lama ia menunggu jawaban pesan itu sebelum ponselnya bergetar.

Tergantung.

'Dasar pelit bicara,' cibirnya dalam hati namun itu tak akan ia hiraukan untuk sekarang. Masih ada hal yang lebih penting untuk ia tanyakan.

Maksudnya?

Luhan meletakkan dagunya di telapak tangannya, sesekali menggoyangkan kakinya bosan. Tak lama setelah itu, ponsel hitam Luhan bergetar lagi.

Kau tahu ada berapa Park Chanyeol di Korea? Banyak sekali.

Luhan mendengus. 'Orang ini menyebalkan sekali,' pikirnya. Jika ia memiliki sepupu yang bernama Park Chanyeol, sudah seharus nya ia mengatakan iya dan tak perlu berputar-putar seperti ini.

Apa kau memiliki sepupu bernama Park Chanyeol?

Prof. Kang mengemasi barang-barangnya, tanda bahwa kelas telah berakhir. Luhan bersorak dalam hati lalu mengambil tas serta ponselnya dan berjalan meninggalkan ruang kelas itu secepat kilat. Terasa ada getaran ponsel di tangannya, ia langsung membuka notifikasi itu.

Ya. Memangnya kenapa?

Luhan membalas dalam hitungan detik.

Tidak apa, kebetulan saja sepupumu itu adalah kekasih sahabatku. Dunia memang sempit.

Tak lama kemudian, Sehun juga membalas dalam hitungan detik.

Begitu.

Luhan menghela napas kasar. Memang tak mudah untuk mencairkan hati seorang pangeran es. Ia memijit pelipisnya sejenak sebelum kembali melangkah menuju ruang auditorium. Di sana sudah ada Baekhyun dan Chanyeol yang duduk berdampingan. Ya, mereka memang ikut ambil bagian dalam drama musical untuk acara tahunan kampus.

"Hi, Lu," sapa Baekhyun singkat setelah matanya menangkap sosok Luhan yang menghampiri mereka.

Chanyeol menoleh pada Luhan dan hanya tersenyum ringan pada laki-laki berparas cantik itu. Luhan hanya mengangguk dan duduk di sebelah Chanyeol, sambil menunggu instruktur mereka datang. Ia lantas teringat sesuatu. Tentang Sehun!

Luhan menggoyangkan lengan Chanyeol dan tersenyum lebar. "Ternyata Oh Sehun yang kita maksud adalah orang yang sama!"

Chanyeol mengangguk, tak tampak terkejut dengan hal itu. Luhan bingung. Apa darah keturunan mereka memang dingin? Luhan menggembungkan pipinya kesal atas reaksi tak memuaskan dari Chanyeol. Berbeda dengan Chanyeol, Baekhyun merupakan orang yang serba ingin tahu.

"Wow, mungkinkah ini takdir?" godanya dengan menyengir.

Luhan terkekeh. Tak dipungkiri, candaan Baekhyun itu menimbulkan sedikit gemuruh dalam dirinya. Benarkah memang ini takdir? Ah, Luhan pikir semakin hari Sehun semakin membuat dirinya tampak konyol.

Instruktur Yoo datang. Instruktur muda dan tampan yang baru berusia dua puluh delapan itu memang mampu menggetarkan hati para wanita. Luhan pun mengaku bahwa ia sempat terpukau dengan instruktur seni ini.

"Baiklah, silahkan ambil posisi."

Baekhyun mengecup pipi Chanyeol singkat sebelum meninggalkan kursi tadi dan mengambil tempatnya di belakang piano putih besar. Ya, Baekhyun memang akan menjadi seorang pianist disini.

Sedangkan Luhan bersiap-siap diujung panggung. Ia memerankan peran utama dalam drama ini sebagai seorang pangeran yang terkutuk untuk 'tertidur' selamanya. Drama ini adalah remake dari sebuah dongeng lama populer, Sleeping Beauty. Luhan awalnya sedikit malu untuk menjadi seorang Sleeping Beauty, namun Baekhyun terus meyakinkannya bahwa ini adalah kesempatannya, terlebih Luhan mendapat kesempatan bernyanyi solo.

Setelah dua jam latihan itu berlangsung, semua kru dijinkan untuk pulang. Hari itu adalah giliran Luhan untuk membantu sang instruktur membereskan alat-alat musik. Ia tersenyum pada instruktur muda itu dan membereskannya dalam diam. Selama membereskan, Luhan merasa dipandangi oleh seseorang, yang tak lain adalah instrukturnya sendiri. Ia merasa sedikit tak nyaman maka ia mempercepat geraknya. Setelah selesai, Luhan meraih tasnya dan pamit pulang.

Ia mendesah lega setelah berhasil keluar. Keadan tadi sungguh canggung baginya. Ada apa dengan Instruktur Yoo? Ia menggelengkan kepalanya, seakan hal itu bisa membuang pikirannya jauh-jauh.

Mungkin perasaan ku saja.

Hari mulai gelap, gedung asrama laki-laki milik Luhan memang tak begitu banyak besenandung ringan sembari melangkah pelan menuju kamar asramanya. Koridor itu sepi, hanya ada Luhan di sana. Namun betapa tekejutnya ia saat melihat siluet seseorang berpakaian serba hitam. Orang itu tinggi ramping, dan Luhan merasa familiar dengan postur tubuh orang itu.

Menarik napas dalam-dalam, Luhan memberanikan diri untuk menghampiri orang misterius yang dianggapnya mencurigakan.

"Oh Sehun?!"

Yang merasa namanya disebut pun melonjak terkejut, mendapati seorang Luhan di hadapannya. Ia langsung membekap mulut Luhan dan menggerutu sebal.

"Kau ini! Kenapa keras sekali?!" bentaknya dengan volume pelan.

Luhan mengangguk dan menunjuk pada tangan Sehun yang masih membekap mulutnya itu, meminta Sehun untuk melepaskannya karena ia mulai kehabisan napas.

Sehun segera melepas tangannya dan Luhan menarik napas dalam. Ia berusaha mengontrol napasnya sebelum melayangkan tatapan geram pada Sehun. "Kau mau membunuhku?!"

Sehun memutar bola matanya ringan. "Kau selalu saja berlebihan. Apa yang kau lakukan di sini?"

Luhan mengernyitkan dahinya bingung. Bukankah seharusnya ia yang menanyakan hal itu?

"Kau aneh sekali. Sedang apa kau di kampusku? Tidak, terlebih, di gedung asrama ku? Jika kau mencari Chanyeol, kamarnya tidak berada di lorong ini."

Sehun membenarkan posisi topinya. "Aku tidak sedekat itu dengan Chanyeol. Sudahlah, aku pergi."

Luhan mengerjapkan matanya. Chanyeol memang menyebutkan bahwa Sehun hanyalah sepupu jauhnya. Namun dari nada bicara Sehun, sepertinya ada sesuatu di antara mereka. Luhan tahu itu bukan urusannya jadi ia tak berencana untuk menanyakan lebih jauh.

Luhan menggapai lengan Sehun, menggenggam nya erat. "Kau belum menjawab pertanyaanku. Apa yang kau lakukan di sini?"

Sehun berdecak malas dan menarik lengannya. "Bukan urusanmu. Kau lekaslah ke kamarmu."

Dan setelah itu, Sehun berjalan pergi meninggalkan Luhan hingga suara tapak kaki itu tak terdengar lagi. Luhan cemberut. Ia hanya penasaran dan ingin tahu. Ia tak bermasuk untuk ikut campur. Setidaknya, tak bisakah Sehun menjawabnya dengan baik? Bukankah mereka sepakat untuk menjadi teman?

Bahu Luhan langsung terjatuh lelah setelah kejadian tadi. Ia membuka kunci kamarnya dan melangkah masuk. Kamar itu sunyi sekali. Mungkin Baekhyun menginap di kamar Chanyeol malam ini.

Luhan mengacak rambutnya kasar. Ia merasa sangat lelah hari ini, begitu lelah hingga ia tertidur pulas tanpa membasuh wajah dan mengganti bajunya.


Oke, author ingin minta maaf untuk beberapa hal berikut:

1. Maaf update nya lama, author baru ujian. : (
2. Maaf author ngga biasa balas komen satu-satu, tapi author baca semua nya dan makasih banget buat yang udah mau komen. :D #palingsukabacakomen
3. Maaf author ngga bisa kasih tau dimana author nulis ff eng nya. Akun ini bahkan akun sampingan karna author kurang nyaman menulis fanfic yang rating nya M dalam bahasa indonesia. Author malu malu anjing (?). Maaf sekali ya, selamat bertemu di akun saya yang satunya karena akun itu memiliki nama yang sama di situs lain tersebut. :D (sumpah bukannya sombong ; ;)
4. Maaf bila ada typo!

Maaf, terima kasih dan please review ^^