Different Way

Disclaimer : Masashi Kishimotto

Rated : T

WARNING !

Sakura disini kira-kira seumuran dengan Konan, gak tua-tua amat kok.

AU, BadFic, Typos, kata-kata non baku, terinspirasi dari salah satu film Thailand.

Haruno Sakura – Uchiha Sasuke

Utakata

.

.

.

Don't Like Don't Read. I warn You, please don't hurt me !

.

.

.

Happy Reading !


"Sebentar lagi datang" ucapnya seraya melirik jam tangan yang melingkar dipergelangan tangannya.

"Siapa yang datang-ttebayo?" Balas Naruto

Sasuke sudah tak sabaran menunggu lama dihalte, sudah hampir satu jam ia duduk disana bersama kedua temannya. Kali ini Sasuke membawa pasukannya, Naruto dan Sai. Sesekali kepala Chiken Butt nya memutar, menyapu seluruh tempat dan mencari tujuannya. Siapa lagi kalau bukan perempuan yang sudah lancang menciumnya sembarangan. Ah rupanya Sasuke masih dendam dan ingin sedikit mempermainkan tante cantik itu.

"Memangnya Sasuke sedang menunggu siapa? Sebentar lagi gerbang sekolah akan ditutup" Kata Sai benar, memang waktu sudah menunjukan pukul 06;45 dan tinggal 15 menit lagi gerbang sekolahnya akan ditutup.

"Mungkin dia sedang diperjalanan" balasnya mencoba menenangkan kedua sahabatnya yang cerewet itu.

"Jangan bilang kalau kau menuunggu tante yang kemarin Sasuke Teme" tebak Naruto benar.

"Iya, aku memang menunggu dia. Karena tante itu sudah lancang menciumku di bus kemarin" balas Sasuke lurus dan tetap fokus mencari Sakura. Lihat ekspresi Naruto sekarang, mulutnya hampir menyentuh tanah karena kaget.

"A-apaaaaa? Kalian berciuman-ttebayo ? Tapi kenapa bisa?". Naruto ribut sendiri.

"Tante Siapa?" tanya Sai penasaran.

Sasuke memutar bola matanya bosan melihat tingkah Naruto yang cengengesan, kenapa dia yang sibuk sendiri padahal ini masalahnya Sasuke. "Nanti aku jelaskan setelah tiba disekolah, sekarang aku akan menemuinya dulu dan aku minta kalian menahannya sebentar".

"Ciuman apa sih Sasuke?" lanjut Sai lagi yang tak sabaran menunggu jawaban Sasuke.

"Itu dia" Kepala Sasuke mendongkak, matanya tak lepas menatap wanita itu yang berjalan mendekati mereka. Sakura kini mengikat rambutnya keatas , menampilkan lehernya yang mulus dan putih dihiasi kalung perak kecil dengan bandul bunga sakura. Khas dengan sepatu heels nya yang berbunyi 'tik tak', Sasuke sudah kenal walau baru bertemu sebentar dengannya.

"Aku tidak mengerti apa yang kalian bicarakan, heyyy Sasuke, Naruto jangan cuekin akuu" teriak Sai frustasi.

"Sekarang ! Sasuke memberi aba-aba dan ..

GREP

Naruto dan Sai mencengkram lengan Sakura dan menggusurnya paksa ke gang-gang kecil yang tak jauh dari sana. Sakura memberontak minta dilepaskan dari mereka.

"Lepaskan aku" Teriaknya pada kedua laki-laki berseragam sekolah itu.

"Selamat pagi tante, masih ingat aku?" Sasuke berlagak so' cool didepan Sakura seraya berkacak pinggang. Sedangkan Sakura sudah hampir meledak saat itu juga kala melihat wajah Sasuke ketiga kalinya.

"Kau tidak mendengar atau sudah tuli sih? Sudah aku bilang jangan menampakan wajahmu lagi ! Dan kau , arghhh sekarang malah bawa rombongan mesummu itu, jangan-jangan .." Wajah sakura mendadak horror dan panik.

"Tolon – hmmmppphh .." Dengan cepat Sasuke membekap mulut Sakura.

"Tante fikir kami ini akan melakukan kejahatan apa. Jika ada orang yang lewat bisa gawat" Saran Sasuke benar, kemudian ia melepaskan lagi tangannya yang menempel dimulut Sakura.

"Mppuuahh .. Kalian bertiga mau memperkosa aku?" bentak Sakura. Kalimat itu sejenak membuat ketiga pria terdiam sejenak.

"Harusnya aku yang mengatakan itu, nanti bisa dicium lagi olehmu" kata Sasuke sedikit menggoda.

"Oh my god, kau benar-benar ingin meraskan kemarahanku. Sekarang cepat katakan apa mau mu sekarang supaya kita tidak berurusan dan tidak bertemu lagi" teriaknya lagi.

Sasuke tersenyum kecil. "Lepaskan dia, Naruto, Sai" peringat Sasuke.

Sasuke mendekatkan jaraknya dengan Sakura membuat wanita itu bisa melihat jelas manik obsidiannya yang tajam. "Baiklah, kita memang tidak mengenal satu sama lain sebelumnya, tapi jika sudah berurusan denganku jangan berani melarikan diri dan selesaikan sampai tuntas. Aku hanya ingin tahu siapa namamu Tante, masa sih sudah berciuman tapi tidak tahu nama , benarkan Sai" Sasuke melirik temannya.

"hmm mungkin" Sai mengangkat bahunya acuh, dia sempat kaget sih saat melihat perempuan yang mencium Sasuke tadi ternyata seorang tante-tante.

"Haruno Sakura, panggil aku Sakura" jawabnya malas. "Sudah ya aku harus berangkat bekerja, buang-buang waktu" Ia berjalan dan menjauh dari sana meninggalkan ketiga laki-laki labil itu.

"Hey kau mau kemana tante urusan kita belum selesai" Teriaknya sesaat Sakura hendak naik bus. Langkahnya sempat terhenti sejenak. "Namaku Sasuke" Lanjutnya, namun nihil Sakura sudah masuk kedalam bus, entah kedengaran atau tidak.

"Memangnya penting, aku tidak peduli tchh" desis Sakura kesal dan segera duduk dikursi paling belakang Bus. Sempat trauma sih saat ia naik bus, matanya tak lepas menelisik satu persatu penumpang takut ada orang mesum lagi. Sakura bergidik ngeri.

Sakura melengguh panjang saat sampai dikantornya. Akhir-akhir ini Sakura selalu sial semenjak insiden ciuman itu , dan lagi kenapa harus CIUMAN ? dengan anak SMA lagi, tidak elit banget, fikirnya. Membolak-balikan berkas pekerjaannya yang setumpuk, bekerja dibagian editor memang cukup melelahkan. Harus ini itu, memeriksa, mengedit gambar, foto, membuat desain majalah dan sebagainya. Sakura mengurut dahinya perlahan, kepalanya sedang bergejolak panas. Saat ia membuka halaman berkas, terpampang seorang artis laki-laki dan perempuan anak sekolahan yang sedang menjalin hubungan special. Ya itu gossip seputar para artis. Entah kenapa bawaannya menjadi emosi setiap melihat anak sekolahan, Sakura melempar berkas itu kesembarang arah dan bergidik.

"hiiihhhh" Sakura melempar berkas itu kesembarang arah. Dan parahnya lagi berkas itu mendarat mulus dikaki sang wanita berhelai ungu muda, sang pemimpin redaksi, Yugao.

"Aku tidak membayarmu untuk melempar berkas , Haruno" tegur sang pemimpin. Sakura meriang, punggungnya panas merasakan Amarah si bos. Demi apa , sejak kapan Yugao-san ada diruangannya.

"Ah sumimasen , Yugao san, sumimasen" Sakura berojigi pada Yugao. Kemarahannya ia bawa ke kantor dan berakhir menjadi sial.

"Kau ini cermat, cekatan, dan rajin tapi aku kecewa melihat kelakuanmu barusan. Daripada bermain-main seperti barusan, buat desain dengan tema musim panas aku membawa daftar para modelnya. Tolong berikan daftar model ini pada Yahiko" Ucapnya tegas seraya memberikan lagi tumpukan berkas dan berkas tadi yang Sakura lempar.

Pagi-pagi sudah mendapat kuliah gratis dari si bos. Sakura mengelus dadanya sabar. "Tenang Sakura tenang, lelaki bernama Sasuke itu tidak ada disini dan tidak akan ada lagi. Keep calm and working .. Ganbatte" ujarnya menyemangati pada diri sendiri, menenangkan perasaannya dan kembali melanjutkan pekerjaannya.

Sakura melihat-lihat deretan nama-nama model beserta fotonya yang ada didaftar. Ini memang tugasnya Yahiko tapi tidak ada salahnya kan kalau cuma melihat-lihat saja. Tapi matanya terhenti di nomor 19.

"Hotaru Tsucigumo" ucapnya pelan. Tubuhnya mendadak menegang kala membaca nama itu.

"Super model ya, dia semakin cantik. Sangat pantas sekali dengan senpai Utakata" Sakura tersenyum kecut sambil melihat-lihat foto wanita yang ia kenal beberapa tahun silam, wanita yang membuat ia hancur dan patah hati. Dan luka lama itu masih tetap saja memberkas.

Ia tahu , memang tidak ada hak untuk melarang wanita itu pergi dengan lelaki pujaannya toh Sakura sedang tidak menjalin hubungan special dengannya kan. Kenapa harus sakit hati, Sakura bukan pacarnya kan? Ini kesalahan fatal yang dilakukan Sakura, sudah lancang mencintai Utakata yang sudah punya pacar.

Sakit hati lagi, Sakura memegang ulu hatinya , meremas dadanya yang sesak lagi.

Srek ..

Yahiko mengambil kertas yang sedari tadi Sakura pegang, merebut dari tangan Sakura. "Sudah ada ya, kenapa tidak diberikan padaku".

Sakura terhenyak. "Y-Yahiko? Kau mengagetkanku"

"Ini pekerjaanku , memilih wanita cantik adalah keahlianku. Aahhh lihat Sakura yang ini cantik ya , tubuhnya itulohh sedappp~" Yahiko nyeces, memperlihatkan foto model yang barusan Sakura lihat, itu fotonya Hotaru.

"Kau ahli karena kau suka wanita, dasar mesum" Sakura marah tanpa sebab, padahal Yahiko sering mengucapkan kalimat barusan tapi kenapa dia menjadi marah seperti ini, Yahiko menggelengkan kepalanya heran.

~~~ Different Way ~~~

"Konichiwa " sapa Utakata seraya menghampiri meja kerja Sakura, ia berjalan gagah dengan kedua tangan yang dimasukan kedalam saku celana.

Sakura berdesir saat mendengar suara yang familiar ditelinganya.

"Konichiwa Utakata-san" balas Sakura malu-malu. Konan yang ada disamping Sakura saat ini menyenggol-nyenggol bahu Sakura.

"Ekhmmm cinta lama bersemi kembali ... ekhmmm" goda Konan membuat wajah perempuan itu merona. Sakura mati-matian tidak salah tingkah dihadapan lelaki pujaannya itu.

"Mari, Sakura" Utakata hendak menggandeng lengan mulus Sakura, berjalan meninggalkan kedua temannya. "Aku pinjam Sakura sebentar ya" seolah meminta izin pada kedua teman Sakura, Utakata berhenti sejenak dipenghujung pintu dan melempar sebuah senyuman mautnya, Konan terpesona Yahiko cemburu.

"Jangan lihat dia, Konan" Yahiko menarik Konan kepelukannya.

.

.

.

Kedua pasang pria dan wanita itu berjalan memasuki sebuah restoran Tradisional Jepang. Utakata yang berjalan didepan diikuti Sakura dari belakang, ia bisa melihat jelas punggung kokoh sang pria.

Pemandangan ini tepat saat dia meninggalkanku, pemandangan ini sempat membuatku menangis semalaman melihat kepergiannya tapi sekarang punggung ini mengantarkan ku kedalam kebahagiaan. Fikirnya panjang lebar, Sakura terlalu dramatis.

" .. Sakura mau pesan apa?" tanya Utakata yang menyadarkannya dari lamunannya.

"Eh"

"Kau melamun lagi? Dari tadi aku tanya, mau pesan apa?"

"Ahahaha maaf" Sakura tertawa hambar lagi seraya menggaruk pipinya malu. Bias merah tercipta dikedua pipinya yang manis. "Samakan saja dengan pesananmu" Ujarnya dan ia mulai berani memanggil sang pria dengan tidak menyebut nama atau suffiks 'san' nya.

Selesai menyantap hidangannya, Sakura mulai menyusun beberapa kalimat untuk dibicarakan dengan Utakata. Sesulit itukah Sakura hingga ia bingung harus memulainya dari mana. Keduanya masih canggung, belum ada yang bicara. Hening masih setia menemani mereka.

"Sakura" "Utakata" ucapnya bersamaan.

"Kau saja" "Kau saja" ulangnya lagi dan itu terdengar seperti nyeleweng.

"Baiklah. Aku belum sempat menanyakan ini, apa kau sedang sendiri?" tanyanya. Ya itu pertanyaan yang Sakura tunggu-tunggu selama ini, rupanya lampu merah sudah menyala.

"Ya aku masih sendiri sejak kau pergi, ehh maaf" Sakura menutup mulutnya, kenapa kalimat itu bisa terucap sih. Sial ..

"Ahahaha kau memang seorang pekerja keras Sakura. Aku kagum padamu"

Kriiing ..

Suara ponsel berdering, Sakura tahu itu bukan ponselnya yang bunyi , itu punya Utakata.

Sakura bersumpah akan mengutuk siapa gerangan yang sudah mengganggu moment penting ini, Sakura memalingkan wajahnya.

"Ya ada apa"

"Tapi aku sedang sibuk"

"Baiklah aku akan segera kesana" –piip- , telepon diputus oleh sepihak dari Utakata. Wajahnya berubah menjadi kecewa karena makan malamnya harus terganggu.

"Maaf Sakura sepertinya ada sesuatu yang penting aku harus segera pergi, tidak apa kan pulang sendiri?" ucapnya kecewa seraya memegang kedua tangan Sakura diatas meja. Sakura terhenyak kaget menerima sentuhan lembut ditagannya, hangat, nyaman.

"Ya tidak apa-apa, aku mengerti kau orang sibuk. Kalau mau pergi, pergi saja aku bisa pulang sendiri"

Utakata mengehela nafasnya dalam, ia tersenyum lagi. "Kau lebih pengertian dari yang aku fikirkan, kalau begitu aku pergi duluan ya" CUP ..

Utakata meraih tangan mulus Sakura dan menciumnya lembut, Sakura meremang, merasakan bibir pria itu menyentuh punggung tangannya.

"Terimakasih untuk kencan malam ini" lanjutnya. Apa? Utakata menganggap ini kencan? Ya tuhan Sakura baru sadar kalau ini kencan pertamanya, dengan Utakata lagi. Kenapa dia sampai tidak sadar, jika tahu ini kencan mungkin Sakura akan memakai baju terbaiknya, ah sial.

Mereka berdua keluar dari restoran tersebut, Utakata menemani Sakura untuk memastikan dia sudah masuk kedalam bus. "Maaf aku tidak bisa mengantarmu, Sakura" ucapnya sambil melambaikan tangan tanda perpisahan.

"Tidak apa, jangan fikirkan aku. Terimakasih Utakata" Sakura membalas lambaian tangan sang pria. Kemudian ia duduk dikursi bus, punggungnya terasa panas merasakan aura sesuatu yang tak asing lagi. Sakura mengabaikannya, sekedar mengisi kekosongan, Sakura mengeluarkan ponsel dari tasnya.

"Kenapa kau menciumku?"

Suara itu, tubuh Sakura menegang. Dengan cepat kepala merah mudanya melirik kebelakang mendapati seorang laki-laki dengan rambut mencuat kebelakang yang sedang duduk santai melipat kedua tangannya didada.

"Kami-sama ampunilah dosaku, jika aku punya dosa kenapa balasannya seperti ini" Sakura pasrah dan mengusap mukanya bosan, mau turun busnya sudah jalan.

Bus yang melaju cepat tiba-tiba berhenti, mengerem secera mendadak. Seluruh penumpang terhenyak kaget saat ada beberapa orang dengan penampilan serba hitam dan ditutupi masker memasuki bus mereka. Sakura panik.

"Bus ini kami bajak, cepat serahkan uang kalian" Ujar salah satu dari mereka yang sepertinya dia adalah pimpinannya, mereka membawa senjata tajam berupa pisau lipat. Ia memaksa para penumpang untuk menyerahkan barang-barang berharga serta uang terutama pada wanita, karena mereka fikir para wanita itu lemah.

Wajah Sakura menjadi pucat, ia takut harus melakukan apa? Apa dia akan menyerahkan isi dompetnya yang tinggal beberapa yen lagi atau tidak, ah Sakura masih sayang nyawa selain pasrah akan memberikan seluruh isi dompetnya walau ia sadar saat ini keuangan Sakura sudah menipis. Sial ..

"Nona manis cepat serahkan uangmu jika tidak kau akan habis" paksa pria tersebut pada Sakura. Bukan cuma memaksa minta uang , orang jahat itu berani menowel-nowel dagu Sakura. Bulu kuduk Sakura merinding melihat sikap orang brengsek ini yang sangat menjijikan. Hey dia masih punya harga diri, SHANAROO ..

Grep ..

Lengan kekar lain mencengkram tangan pria jahat itu, melepaskan secara paksa tangan kotornya dari wajah Sakura. "Lepaskan dia bung, kau membuatnya takut" perintah Sasuke tegas, jiwa hero nya keluar, entah berani atau cuma ingin terlihat hebat dimata Sakura ia menjauhkan pria jahat bertubuh tinggi itu dari Sakura, ah entahlah hanya kami-sama, Author dan Sasuke lah yang tahu perasaan Sasuke sekarang.

"Hahaha siapa bocah kecil yang berani melawanku ini, Hah !" Si pria berbadan tinggi itu mengangkat dahunya seolah meremehkan Sasuke. "Kau masih sayang nyawamu nak? Jangan ikut campur dan pergilah" bentaknya sangar.

Hampir seluruh penumpang gemetar ketakutan terutama Sakura, keringat kecil keringat besar mengalir deras dari pelipisnya, Sasuke semakin khawatir.

"Anda sudah berurusan dengan orang yang salah tuan penjahat, anda tahu satuan kepolisian Uchiha?" ujar Sasuke yakin akan berhasil.

"Untuk apa ? memangnya kau akan melaporkan kami, silahkan bocah kami tidak akan takut" balasnya. Kemudian ia kembali memaksa Sakura untuk menyerahkan barangnya. "Cepat nona serahkan uangmu jangan buat kami melakukan kekerasan kecuali jika kau sudah tidak sayang nyawa"

Srek .. Sasuke mengeluarkan kartu pelajarnya dan memperlihatkan pada si pria jahat itu. "Perkenalkan, aku putra dari kepala kepolisian Uchiha, Sasuke Uchiha salam kenal. Oh sepertinya aku harus menghubungi ayahku" tangan Sasuke merogoh sakunya, mengeluarkan ponsel. Ia tahu ini cuma menggertak mereka saja karena Sasuke tidak pernah menelepon ayahnya duluan.

"Baiklah bocah kau menang kali ini. Cepat kita pergi, berada disini hanya buang-buang waktu" si pria jahat melepaskan cengkraman Sakura dan segera turun dari bus. Akhirnya semua penumpang serta sopir bus bisa menghela nafas lega berkat Sasuke.

"Wah kau hebat nak, terimakasih sudah menolong kami"

"Terpujilah tuan Uchiha , aku hampir mati barusan"

"Hey nak kau tidak usah bayar kali ini, kau seorang pahlawan"

Begitulah kira-kira pujian yang diberikan untuk Sasuke, ia kembali duduk dikursinya. Tidak sekarang beralih disamping Sakura. "Aku belum mendengarnya tante" kata Sasuke bangga.

"Mendengar apa?" balas Sakura malas.

"Setidaknya kau bilang terimakasih padaku, aku sudah menolongmu barusan tante Sakura"

Pernyataan Sasuke hanya dibalas dengan tatapan dingin Sakura, entah apa itu artinya antara bilang terimakasih atau tidak. Haruskah ia bilang terimakasih pada orang yang sudah mencuri ciumannya itu? Hell, Sakura berfikir dua kali untuk mengucapkan kalimat keramat itu.

"Tch, perempuan memang pintar menyembunyikan perasaan" dengus Sasuke kesal.

Tiba dihalte, Sakura turun dari bus dan berjalan menuju Apartemennya. Sepertinya ia berjalan tidak sendiri, ya Sasuke mengikuti Sakura.

"Sampai kapan kau akan mengikutiku" dengus Sakura kesal, langkahnya ia percepat dan menjauh dari Sasuke.

"Kau berhutang dua kali padaku tante" balas Sasuke, ia berlari kecil dan menyelaraskan langkahnya dengan Sakura.

"Baiklah jika kau memaksa" Kini Sakura berhadapan dengan sasuke. "Terimakasih tuan Uchiha kau sudah melindungiku" Sakura membungkuk sopan pada Sasuke, dengan terpaksa, sangat terpaksa.

"Sebenarnya ini adalah tugas pacarmu mengantar kau pulang. Membiarkan seorang wanita tua pulang sendirian dimalam hari, apa itu pantas?"

"Pacarku?" Sakura menautkan alisnya. "Oh Utakata, apaa? Kau melihat semuanya. Dasar tidak sopan" Sakura marah. "Tunggu coba katakan kalimat yang terakhir"

Sasuke memutar bola matanya bosan.

"Tentu saja tante, aku berada didalam bus itu dan melihat semuanya. Pacarmu , eemmm lumayan juga"

Sakura menyeringai, bola lampu dikepalanya menyala, ia berniat mengerjai Sasuke. "Ya benar dia pacarku yang tampan dan kaya raya. Hey kau cemburu ya, fufufufu"

CTAK .. Sasuke kalah telak, ia memalingkan wajahnya, sekilas Sakura melihat bias merah diwajah Sasuke. TETOT .. Sakura menang, puas rasanya bisa memojokan laki-laki itu, khukhukhu ...

"Sudahlah jangan sakit hati ya, cepatlah pulang ini sudah malam nanti kau dipenjara ayahmu loh" Sakura melambaikan tangannya dan berjalan melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti sebentar dan 10 meter lagi sampai ditempat tinggalnya.

"Jika dia memang pacarmu kenapa aku yang mengantarmu pulang?"

CTAK ... satu sama. Kalau difikir-difikir memang benar kenyataannya. "Baiklah aku akan menagih utangmu satu lagi" Tubuh Sasuke yang tinggi mampu menyelaraskan posisinya dengan Sakura. Ia berjalan mendekati Sakura, menghimpit tubuh Sakura hingga punggungnya menyentuh tembok pagar Apartemen.

Sasuke mendekatkan wajahnya yang hampir menyentuh bibir ranum Sakura.

Sakura bisa merasakan deru nafas Sasuke yang hangat dan aroma mint yang memabukan, ahh kenapa Sakura tidak berontak bahkan tubuhnya tak bergerak sedikitpun.

"Aku akan membalas yang kemarin karena tante sudah lancang menciumku" desis Sasuke yang membuat bulu roma berdiri, hey kata-kata Sasuke terdengar sangat erotis sekali.

"Kumohon jangan lakukan" tolak Sakura lembut, kakinya terus berjalan kebelakang mencari celah untuk kabur, sial Sasuke menguncinya dan tak bisa kabur. Kenapa ia tidak menolak? Sakura pasrah.

"Aku menyukaimu, tante" bisik Sasuke tepat ditelinga sakura. Mata mereka mendadak silau, rupanya itu lampu senter yang asyik menyoroti mereka dan ... dan itu adalah ..

"Hey, apa yang sedang kalian lakukan disana" suara pak satpan menggema, menegur kedua pasang muda mudi yang sedang berciuman dibawah sinar bulan. Tidak , mereka belum sempat ciuman sih. Mereka berlarian menuju Sasuke dan Sakura.

Bak pencuri, Sasuke ambil jurus langkah seribu , berlari secepat kilat menghindari kejaran si satpan pengganggu yang brengsek itu.

Sakura masih tetap diposisinya, tidak bergerak. "Dia menyukaiku? Dia menyukaiku?" ucapnya pelan. Jantung Sakura serasa dihantam batu berbentuk hati, perasaan antara tidak percaya, kaget, gugup dan benci tercampur seperti permen nano-nano. Sasuke siswa SMA yang dia benci karena sudah mencuri ciuman berharganya telah menyukai dirinya? Hell , Sakura dilema antara Sasuke yang menyukainya atau Utakata yang tidak jelas kebenarannya.

"Ibu, tolong aku" lirihnya


To Be Continue


A/N : Yuhuuuu DW update nih. Oh iya sekedar info, gak penting sih hhehe. Kenapa aku ambil Utakata sebagai orang ketiganya SasuSaku? Aku nyari tokoh yang terlihat agak dewasa, coo, tampan yang pasti siapalagi kalau bukan si Jinchuriki Kokuo itu. Kalau Gaara orang ketiganya , rasanya gak panteskan. Masa dia harus berseteru dengan Sasuke yang anak SMA. Sudahlah ini gak penting sih sekedar iklan doang, muehehehe.

Gomen kalau masih ada typho, aku males ngedit *dihajar readers*. Rieview? monggo, enggak juga ga papa.

Chapter ini udah gak nyomot lagi lagi film itu, ini asli a.k.a murni ideku.

Makasih yang udah coret-coret dikotak review, semuanya udah aku baca kok.

Kissu Kissu :*