DIFFERENT WAY
Disclaimer © Masashi Kishimotto
.
.
.
Story © Mei Azumi
.
.
Happy Reading
Sakura menerjap-nerjap matanya yang masih tertutup rapat, ia terbangun karena sinar matahari menerobos masuk secara paksa melalu ventilasi jendela. Merenggangkan otot-otot kaku dengan menarik tangannya keatas sehingga menimbulkan bunyi 'krek' di sana. Memang diusianya yang dibilang tidak muda lagi, Sakura sering mengalami encok karena lelah seharian bekerja, bukan karena dia sudah tua ya.
Ada cahaya kunang-kunang diatas kepalanya, pening dan terasa berputar. Sakura memijit kepalanya dan bangkit dari tidurnya perlahan. Duduk menyandar dikasur king size. Otaknya masih belum berjalan sepenuhnya, nyawanya belum terkumpul semua. Oh iya, Sakura ingat sekarang, semalam dia habis berkencan dengan Sasuke kemudian memergoki Utakata yang sedang bermesaraan di toko baju kemudian ia menangis dan mengajak Sasuke minum sake dan .. dan apa lagi ya. Hanya itu yang ia ingat, Sakura berasumsi kalau dia pingsan karena terlalu banyak minum, terbukti saat ia bangun tidur kepalanya masih pening sampai sekarang. Ah sakura punya toleransi rendah pada alkohol sampai mabuk berat, padahal dia cuma menengkak satu botol, itupun kadar alkoholnya hanya 45%.
"Utakata ..." lirih Sakura. Hanya itu kalimat pertama yang ia ucapkan saat bangun tidur. Fikirannya kembali pada pria berjelaga madu yang tampan itu.
"Kau masih saja mengucapkan nama laki-laki yang sudah menyakitimu, dasar bodoh" suara baritone seseorang memecah lamunan Sakura. Tunggu, bukankah dirumah ini hanya satu penghuni?
Sakura menoleh pelahan kearah pintu dan mendapati sosok pemuda tampan berpakaian rapi dengan dasi merah melingkar dilehernya. Ia menyadar dipenghujung pintu kamar Sakura dan melipat tangannya didada seolah dia sedang membangunkan fantasi Sakura.
"Omae ...!" Tunjuk Sakura cepat pada Sasuke dengan memasang tampang waspada. "Sedang apa kau diApartemenku !" teriak Sakura membuat siapa saja yang mendengar, telinganya akan berdengung. Teriakan romantis dipagi hari.
"Gaya mabuk orang dewasa benar-benar sangat merepotkanku" jawabnya pelan.
"Berani sekali kau menyusup ke Apartemenku tanpa izin dari pemiliknya. Dan .." Sakura memperhatikan penampilan Sasuke yang berbeda dari sebelumnya. Agak terkejut sih melihat gayanya sekarang, Sakura sempat bedebar. " .. kemana seragam sekolahmu?"
"Aku sudah menolongmu 2 kali, pertama kejahatan didalam bus dan sekarang mengantar orang mabuk ke Apartemennya. Ucapkan terimakasih padaku, jika tidak ada aku, kau akan menggembel dijalanan" perintahnya sambil berjalan mendekati Sakura. "Cepat mandi, aku akan mengantarmu bekerja" Sasuke melempar handuk tepat dimuka Sakura yang masih berhiaskan kotoran mata dan air liur, ieewwhh menjijikan.
Dan ini alasan Sasuke berpenampilan ala pekerja kantor , mengantar Sakura bekerja. Jangan tanya dari mana ia dapat baju itu kalau bukan dari kakaknya.
Di tempat lain …
"Anata , kau melihat kemeja putihku yang kemarin aku beli?" Teriak seorang pria tinggi dengan gaya rambut dikuncir longgar kebelakang, ia hanya mengenakan celana saja tanpa atasan, ya Itachi bertelanjang dada, sungguh pemandangan pagi hari yang cukup panas. Tangannya terus menjelajahi isi lemari baju sehingga tak sedikit baju-bajunya menjadi awut-awutan.
Seseorang yang dipanggil Anata oleh Itachi barusan menyahut dari luar dan memasuki kamar , menghampiri sang suami tercinta. "Kemeja yang mana?" Yugao mendekati Itachi lengkap dengan tas kecil ditangannya dan berpakaian rapi. Dilihat dari penampilannya, dia akan siap pergi bekerja.
"Hugo Boss yang baru ku beli kemarin, susah payah aku mencari model itu dan sekarang tidak ada. Aku harus memakainya sekarang" Itachi berkacang pinggang kesal dan ia sudah menyerah mencari kemeja kesayangannya itu.
"Mana kutahu" Yugao mengangkat bahunya pertanda tidak peduli. "Oh iya, tadi Sasuke kemari dan bilang kalau mobilmu akan dipinjam sehari lagi" kata Yugao sambil mengusap dagunya.
Satu fikiran tersirat diotak cerdas si sulung, bahwa insiden kehilangan kemejanya itu tak lain dan tak bukan pelakunya adalah Sasuke dan sekarang dia memakai mobil Itachi seenak udelnya.
"Sasukeee" geram Itachi.
Kembali ke Apartemen Sakura …
"J-jadi kau yang mengantarku sampai disini?" mata hijau nya terbelalak kaget, siapa sangka Sasuke bisa bertindak heroic begini? Sempat kaget dan tidak percaya sih, Sasuke yang selalu membuatnya sial ternyata masih punya sisi baik. Buktinya dia sampai di Apartemen dengan selamat berkat Sasuke.
Tanpa menjawab pertanyaan Sakura, Sasuke membalasnya dengan anggukan.
Sakura bangkit dari kasrunya, berjalan perlahan menuju kamar mandi. "Terimakasih sudah menolongku" cicitnya nyaris tidak terdengar. Oke kali ini Sakura tidak bisa membalas argument Sasuke karena ujung-ujungnya pasti akan kalah.
Different Way
Suasana didalam mobil masih hening, hanya suara kendaraan mobil yang memecah keheningan disana. Sasuke tetap fokus mengemudi sedangkan Sakura anteng melihat keluar jendela menghitung barisan mobil. Canggung , tentu saja canggung, terutama Sasuke. berbeda dengan semalam saat dia membawa Sakura pulang ke Apartemen karena kondisinya memang sedang tidak sadarkan diri. Kalau sekarang, sudah sadar 100%.
"Kau sudah punya SIM?" Tanya sakura memecah keheningan, pandangannya masih lurus menatap jendela kaca mobil.
"Belum" jawabnya santai.
"Kau sudah gila ! bagaimana kalau kita ditilang. Sasuke, bisakah kau berfikir sedikit logis hah" awalnya pertanyaan itu cuma basa-basi Sakura saja supaya mereka tidak canggung, tapi kenapa malah membuatnya panik. Sakura sudah salah bertanya.
"Aku yang tidak punya SIM, kenapa kau yang ribut. Setidaknya nikmatilah perjalanan ini tante" balas Sasuke kasar dengan muka sedikit ditekuk. Hilang sudah aura keindahan yang dipancarkan Sakura dimata Sasuke karena dia merusaknya dengan membentak Sasuke. Sasuke tidak jadi canggungnya.
"Bagaimana aku bisa menikmati perjalanan ini, yang ada aku menjadi takut" Sakura beralih menatap Sasuke dengan sangar. "Jangan panggil aku tante lagi, kau mengerti"
Sasuke tak mengindahkan perkataan perempuan cerewet disampingnya ini, karena ia harus tetap fokus berkendara. "Aku mau turun". Lanjut Sakura.
Tidak ada jawaban, Sakura sadar kalau dia diacuhkan oleh Sasuke, dia akhirnya menyerah dan berdoa pada Kami-sama supaya tidak bertemu dengan pak polisi dan sejenisnya. Akhirnya Sasuke bisa tenang dan konsentrasi.
.
.
.
Sesampai ditempat kerja Sakura, Sasuke turun dari mobilnya dan membukakan pintu mobil dari sisi kanan tepat Sakura duduk disana. Mempersilahkan perempuan cantik itu keluar dari mobil mewahnya dan berjalan memasuki kantor. Sakura merasa ada yang janggal disana.
"Kenapa masih mengikutiku? Kau hanya mengantarku saja kan"
"Aku harus memastikan kau masuk ke kantormu" balas Sasuke kalem seraya menatap punggung Sakura dari belakang. Cantik , rambut merah mudanya sengaja ia gerai dan bergoyang-goyang saat ia melangkahkan kaki.
"Kau fikir aku ini teman sekolahmu yang sering bolos , hah. Cukup sampai tempat parkir saja Sasuke, bagaimana kalau ada orang lain yang melihatmu" kata Sakura mencoba mengusir Sasuke dengan kata-kata lembut. Lembut dari mananya Sakura !
"Hm" jawabnya. Sasuke tetap terus mengikuti Sakura. "Aku hanya ingin tahu kau bekerja apa disini"
Sakura memutar bola matanya bosan. Ia tidak mau sesuatu hal buruk terjadi lagi disini. Sakura berjalan mendekati lift diikuti Sasuke dari belakang. Ia dapat melihat pantulan Sasuke dari pintu lift yang sedang menyeringai ke arahnya. Sakura geram ..
Saat ia menekan tombol lift, terbukalah pintu tersebut dengan perlahan. Tiba-tiba jantung Sakura berhenti sejenak karena dia melihat tiga orang yang sudah berdiri didalam lift, yang dua pria dan satu lagi wanita. Seandainya dia bisa naik tangga darurat Sakura mungkin akan langsung berlari menyusurinya , tapi berhubung sudah tidak ada waktu lagi Sakura terpaksa masuk dan berhimpitan dengan orang-orang itu.
Wanita itu menyeringai saat Sakura dan Sasuke memasuki lift dan berdiri disampinnya.
"Haruno Sakura , kah. Sudah lama tidak berjumpa" ucap Hotaru sinis dengan nada yang sengaja ditinggikan dan terkesan angkuh. Sakura gemetar, rupanya wanita pirang ini masih mengenalinya setelah sekian lama tidak jumpa.
Bibirnya mendadak kaku dan susah digerakan. Sakura gemetar bukan main, ia merasa sudah bersalah pada wanita ini karena sudah mengencani pria yang sudah mempunyai kekasih. Walau pada kenyataannya Utakata yang mengajaknya kencan, tapi tetap saja ia merasa bersalah. Ia tidak mau kejadian dimasa lalunya akan terjadi lagi disini, Sakura menjadi lemah saat berhadapan dengan Hotaru. Sakura terus menyalahkan dirinya sendiri yang sudah masuk kedalam lingkaran kehidupan mereka berdua. Cukup rasa sakit ini ada dihatinya, ia simpan dalam-dalam.
"I-iya, senang bisa bertemu lagi" Sakura menjawab sebiasa mungkin, karena kalau ia gemetaran terus didepan Hotaru itu terlihat sangat mencolok.
"Dan aku tidak. Aku masih membenci wanita dungu sepertimu" balas Hotaru pedas tanpa menatap Sakura yang ada disampingnya. Tatapannya masih lurus kedepan menatap layar penunjuk lantai dipintu lift. Wajah itu, wajah yang sama seperti dulu.
Sakura menggemertukan giginya untuk melampiaskan kemarahan. Rupanya Hotaru masih benci pada Sakura karena dia menyukai Utakata. Memang pada saat SMA dulu Sakura tidak pernah mengejar Utakata, tidak pernah meneriaki nama Utakata, tapi dimata Hotaru, Sakura adalah wanita dungu yang sudah lancang menyukai pacarnya. Entah apa itu sebabnya Hotaru sangat membenci Sakura dan senang menindas Sakura.
Sasuke mengerutkan dahinya sambil melirik sekilas Hotaru, sadar dengan situasi yang mendadak gerah ini mencoba cari celah untuk melindungi Sakura. Ia tahu Hotaru adalah wanita selingkuhannya Utakata. Sasuke kenal saat melihat baju kuning yang dibeli mereka tempo hari dulu. Ingat saat Sakura mabuk membeberkan semua isi hatinya pada Sasuke?
"Do you know this women, Lady Hotaru?" tunjuk si pria bule pada Sakura yang sedari tadi setia berdiri disamping Hotaru.
"Not so, but she used to interfere my fiancé. So disgusting !" jawab Hotaru, kini nadanya semakin meninggi supaya terdengar jelas oleh Sakura. Dan irish hijau klorofilnya mendelik tajam pada Sakura.
"Wow ! So embarrassing" balas pria yang satunya lagi, Theo.
Sasuke semakin geram pada Hotaru yang setiap perkataannya selalu menyakiti Sakura. Tangan kekarnya mencoba meraih tangan Sakura secara lembut dan memegangnya dengan erat, ia bisa merasakan keringat dingin menyebar ditelapak tangan Sakura. Ini bukan keringat biasa karena di dalam lift ini tidak ada AC pendingin. Sakura benar-benar membutuhkan pundak Sasuke.
"Apa maksudmu dengan mengganggu? Kita baru bertemu lagi sekarang kan" Dengan segenap keberanian yang dimiliki Sakura, ia mencoba melawan Hotaru namun dengan nada biasa. Khawatir jika salah sedikit saja wanita ini bisa mengacak-ngacak Sakura.
"Karena setiap kali aku bertemu denganmu aku merasa sangat terganggu apalagi jika kau masih mendekati tunangannku"
Hotaru melihat reaksi Sakura menjadi tegang dan sedikit terhentak saat ia bilang kata 'tunangan'. Sakura menebak bahwa tunangannya adalah Utakata, kalaupun bukan Utakata tunangan Hotaru untuk apa ia bersikap kasar sekarang. "Jangan bilang kalau kau sudah bertemunya disini, hell memangnya wanita ini sedang melakukan apa di tempat ini?"
"Aku bekerja disini, dan aku tidak pernah mendekati tunanganmu, tidak akan !" kata Sakura final dengan sedikit bentakan. Ia hampir tak bisa menahan emosinya namun Sasuke tetap menahan tangannya seolah mencegah Sakura untuk berbuat hal yang serupa.
"Sudah kuduga, orang macam sepertimu tidak mungkin menjadi model sepertiku. Pantas Utakata dulu tidak pernah melirikmu"
Ting ...
Pintu lift akhirnya terbuka. Hotaru yang duluan keluar, berjalan melewati Sakura dengan langkah cepat sehingga pundak mereka saling bertubrukan, tentu saja Hotaru yang sengaja melakukannya. Kemudian dua pria asing yang Hotaru rekrut menjadi asistennya, mengikuti majikannya dari belakang.
Sasuke masih memegang tangan Sakura, mereka masih didalam lift. Dan akhirnya cairan bening turun dengan bebas padahal Sakura sudah menahannya supaya tidak menangis dengan tidak berkedip. Tapi hatinya sudah terlanjur sakit oleh wanita itu.
Sasuke memegang pundak Sakura dan menatap lurus mata hijaunya yang sudah basah. Kini Sasuke tahu apa yang harus ia lakukan sekarang, Sakura sangat membutuhkan seseorang untuk bisa melupakan Utakata. "Ternyata wanita keras kepala sepertimu bisa kalah oleh dia, setahuku kau wanita yang kuat Sakura".
"Sasuke .." lirih Sakura. Entah kenapa hatinya mendadak lega, serasa mendapat pangeran pengganti baru. Perlahan Sakura bisa menerima kehadiran Sasuke.
"Ya Saki ?"
"Maukah kau menemaniku sebentar, aku akan mengalami hal yang berat sekarang" pinta Sakura lembut. Tidak peduli siapa pria ini sekarang, mau orang freak macam Lee pun Sakura terima tapi beruntunglah kau nak yang hadir sekarang adalah Sasuke.
Disini peran Sasuke sangat penting, dia bisa membuktikan pada Hotaru bahwa Sakura sudah mempunyai pengganti Utakata. Dia sudah lelah ditindas wanita itu terus, dia sudah dewasa berbeda dengan dulu dan dia tidak boleh diam saja. Sakura harus bertindak tegas dan mengakhiri penderitaan ini.
"Kalau sudah ada aku, kau sudah aman" kalimat final Sasuke sukses membuat Sakura tenang, serasa dilindungi oleh bodyguard ganteng. Ia menggandeng tangan Sakura keluar dari dift dan memasuki kantornya.
Mereka berdua berjalan melewati koridor, ada banyak karyawan-karyawan terutama perempuan yang melirik centil kearah Sasuke. Mereka berbisik-bisik membicarakan Sasuke dan dia sukses menjadi pusat perhatian.
"Aku baru sekarang melihatnya"
"Iya, aku juga tapi dia tampan sekali"
"Dia Haruno Sakura kan, yang bekerja dibagian editor. Dari mana bisa menemunakan pria Kawai itu?"
.
.
.
"Sakura, kemarilah" titah Konan sambil melambaikan tangannya. Sakura bisa menebak dari raut wajah temannya itu, Konan pasti akan bertanya sesuatu. Ia berjalan mendekati meja Konan, sedangkan Sasuke duduk dikursi yang berhadapan langsung kemeja kerja Sakura.
"Ya Konan ada apa?" pura-pura cuek didepan Konan dan seolah tidak terjadi sesuatu.
"Kau tahu satu kantor sedang membicarakanmu sejak pria manis itu mengikutimu. Bagaimana jika Utakata melihat dia?" tunjuk Konan pada Sasuke yang jarak mereka cukup jauh. Sakura menghela nafasnya pasrah dengan semua tutran Konan barusan, benar dugaannya kalau dia akan dihujan ribuan pertanyaan darinya.
"Aku sudah tidak peduli lagi dengan dia" Sakura melengos pergi menuju meja kerjanya seraya mengibaskan tangannya ke angkasa. Konan menekuk wajahnya, heran kemarin dia sempat nangis-nangis dan marah-marah karena Utakata. Sekarang Sakura menjadi acuh seolah sudah tidak peduli lagi.
"Apa kepala mu terbentur sesuatu Sakura?"
"Ya sepertinya begitu" Sakura melempar senyumnya pada Konan sesaat kemudian meraih kursinya dan meletakan pantat sitalnya dikursi empuk yang berhadapan langsung dengan Sasuke. Cobaan pertama mungkin sudah dilewati, kini ia harus berfikir lagi supaya lelaki didepannya ini bisa segera keluar dari lingkaran hidupnya, tidak melibatkan Sasuke yang menjadi korban patah hatinya. Sakura tidak mau merusak masa depan anak ini.
"Baiklah Sasuke, mungkin sebentar lagi akan segera tiba. Aku minta kau disini hanya satu jam saja lalu setelah itu kau boleh pulang kerumah" intruksi Sakura pada Sasuke seenak udelnya tanpa ada persetujuan dari kedua pihak.
"Aku hanya menemanimu tante, maksudku Sakura. Kenapa malah memerintahku tanpa seizin dariku? Dikasih hati minta jantung" cibir Sasuke, ia mulai membuka suaranya dan menyesuaikan diri ditempat baru. Sebisa mungkin ia harus berlagak menjadi orang dewasa sedikitnya penampilannya yang terlihat sangat dewasa dan tegas.
Sakura menepuk jidatnya yang lebar. "Oke, setelah ini aku akan memberikan sejumlah uang dan bonusku bulan ini jadi milikmu. Asalkan ikuti perintahku sekali ini saja, kau mengerti kan apa maksudku?" Sakura terpaksa memberikan pelayan ekstra baik pada pria ini. Dalam hatinya ia bersumpah ingin meremas bibir Sasuke yang setiap kalimatnya tidak sejalan dengan fikirannya. Sasuke benar-benar membuat Sakura gemas. Menyebalkan ...
"Maaf Sakura, orang sepertiku tidak bisa dibayar oleh uang yang bahkan jumlahnya tak terhitung sekalipun"
"Lalu apa maumu?" bentak Sakura sambil menggebrak meja.
"Aku mau kau membayar 'ini', Sakura Haruno" Sasuke mengusap pelan bibirnya dengan ibu jarinya pada Sakura. Mengerti akan isyarat itu, wajah Sakura menjadi memerah seperti kepiting rebus. "Bagaimana?"
"Jangan harap kau bisa menciumku lagi anak muda mesum"
"Baiklah kalau begitu aku tidak akan membantumu" Saat Sasuke hendak berdiri dari kursinya, dengan cepat Sakura menarik lengan kekar Sasuke. Menahannya supaya tidak pergi. Sial, pintar sekali dia memeras.
Sakura tergagap-gagap , rasanya sulit mengatakan ini. "A-aku ... se-setuju" Sudah ia duga Sakura akan melakukan apapun demi harga dirinya yang sudah tinggal separuh dimata Hotaru. Sakura ingin membuktikan kebenaran bahwa dia sudah bisa move on dari Utakata. Maka dari itu Sasuke menjadi bahan umpannya, kejam sih. Tapi Sakura tidak punya pilihan lain karena ini sudah tidak ada waktu. Semoga Sasuke tidak menyadarinya, fikir Sakura nista.
Sasuke menyeringai mesum pada Sakura, ingin rasanya segera melahap bibir ranum itu lagi. Hey Sasuke sadarlah ..
Derap langkah kaki menggema dari luar sana, terdengar dari sepatunya yang berbunyi 'tik tak' sudah pasti itu sepatu ber hak tinggi. Wanita itu membukakan pintu dan memasuki ruang kerja. Sakura yang sedari tadi bercokol dengan Sasuke langsung kembali normal dan melanjutkan pekerjaannya karena yang datang ke ruangan itu adalah pemimpin redaksinya, Yugao. Telat sedikit saja ia bisa dihujam lagi oleh si bos.
Punggung Sasuke mendadak panas.
"Sakura, model kita sudah tiba disini. Aku minta kau berada ditempat pemotretan untuk mendesain. Aku ingin mereka terlihat agak terbuka karena ini temanya musim panas, jadi kau yang mengintrupsi mereka supaya sesuai dengan desain yang sudah dirancang olehmu" perintah Yugao dengan tegas pada Sakura.
"Baik, Yugao san " turut Sakura patuh pada bosnya.
Sasuke mendadak tegang, bagaimana tidak yang berada dibelakangnya ini adalah Yugao, kakak iparnya Sasuke, istrinya Itachi. Ia bisa mengenal siapa yang ada dibelakangnya sekarang karena dari suaranya saja Sasuke sudah tahu tanpa melihat wajahnya.
Damn ... kenapa hal sepenting ini bisa lupa? Sasuke meruntuki kebodohannya yang ia bawa-bawa kemari, ia lupa kalau kakaknya bekerja disini juga. Salahkan Sakura yang tidak bilang dari awal kalau dia bekerja diperusahaan kakaknya, tapi ah sudahlah Sakura tidak akan peduli akan hal itu.
"Kau kenapa ?" Sakura mengernyitkan alisnya , sikap Sasuke yang tiba-tiba menjadi diam.
Tidak menggubris pertanyaan Sakura, Sasuke terus berfikir bagaimana caranya supaya sang kakak tidak melihat kalau didepannya ini adalah adiknya. Kalau ketahuan bisa gawat, lebih gawat lagi kalau sampai ditelinga Fugaku kalau anaknya sedang membolos dan kabur ke tempat kerja kakaknya.
Otak jeniusnya berfikir, dalam sekejap bola lampu diatas kepala Sasuke menyala. Meraih Koran yang bertengger dimeja Sakura kemudian membacanya, dalam artian menutupi seluruh wajahnya dengan Koran yang menjadi korban kebohongan Sasuke.
Terdengar suara Heels yang sepertinya menjauhi punggung Sasuke, sedikitnya ia merasa lega karena Yugao masih belum sadar siapa orang didepannya itu. "Konan, kau juga ikut Sakura. Mengatur para model dengan Yahiko" lanjut wanita bersurai ungu gelap itu. Ya, Yugao berjalan menjauhi mereka dan berjalan kearah Konan dan Yahiko.
'Cepatlah pergi dari sini nee san'. Batin Sasuke menjerit-jerit frustasi. Hey , harusnya kalimat itu yang dikatakan oleh Yugao.
Sasuke mendengar bunyi derapan pintu tertutup pertanda Yugao sudah keluar, akhirnya ia bisa menghirup nafas lega. Saat ia masih memegang kenop pintu, Yugao berhenti sejenak. "Aku merasa familiar saat melihat baju pria tadi" Yugao mengusap dagunya seolah berfikir. "Ah masa bodo" tangannya menutup pintu rapat dan kembali berjalan menuju ruangannya.
'Brakkk'
Sasuke melempar Koran dan menggerbrak meja Sakura. "Aku hampir mati, sialan"
Sakura terhentak kaget, Sasuke mendadak jadi agresif. "Kau kenapa?"
"Kau bekerja ditempat kakakku?" tanya Sasuke sarkatis.
"Terus apa masalahmu?" Sakura tanya balik.
"Yang barusan itu adalah kakakku !"
Krik krik krik ...
"Naniiiiii ?" teriak Sakura membuat seluruh penghuni ruangan beralih menatap Sakura dengan tatapan 'berisik-kagak-loe'. "Ah , sumimasen ... sumimasen" Sakura membungkuk, berojigi pada seluruh koleganya.
Different Way
© Mei Azumi
Bunyi khas dan kilatan cahaya jelas terdengar dan terlihat dari kamera canggih beresolusi tinggi supaya menghasilkan gambar maksimal. Tidak hanya bermodalkan kamera canggih saja kalau tidak dengan para model cantik dan berkaki jenjang yang senantiasa berpose bak dewi kecantikan. Salah satunya model berhelai pirang gelombang yang sudah bergaya dan mendapatkan beberapa hasil jepretan sang pemotret.
"Oke nice, bagus, maju sedikit .. okay .. nice, luar biasa Nona Hotaru begitu sangat mempesona, saya pribadi sangat menyukai anda" intruksi sang fotografer lantang dengan jari-jarinya yang lihay menekan tombol capture kamera dan tangan yang satunya lagi tengah melayang-layang diangkasa. "Silahkan istirahat dulu nona" lanjut staf yang lain.
"Kau, iya kau. Aku minta model akan lebih sempurna jika dipasangkan dengan laki-laki apalagi tema sekarang mengangkat musim panas, itu akan sangat cocok" Perintah Hotaru kepada siapa lagi kalau bukan Sakura yang mengatur segalanya. "Bagaimana menurutmu, Fujimaki-san" lanjut Hotaru meminta persetujuan juga pada fotografernya.
"Tapi disini hanya satu model wanita saja, aku melakukan ini sesuai dengan desain yang sudah aku atur. Anda hanya mengikuti intruksiku nona" balas Sakura tegas pada Hotaru lengkap dengan note serta papan dada ditangannya. Sakura mencoba sabar menghadapi model resek ini. Memang baru sekarang Sakura dihadapkan dengan modeling banyak permintaan seperti ini, tapi ia mengerti apa maksud Hotaru. Seolah sedang mempermainkan Sakura, mencari kesalahan secuil apapun dan dijadikan masalah kemudian dipecat, Hotaru bisa tertawa puas.
"Bagaimana jika aku menolak. Kalau hasilnya bagus, apa boleh buat kita bisa melanjutkannya, benarkan Fujimaki san?" Hotaru mengerling pada Fujimaki.
"I-iya sepertinya begitu, kebetulan tema kita sekarang belum ada yang berpasangan"
Sakura menghela nafasnya panjang. Dan kenapa si fotografer itu malah setuju pada orang lain bukannya pada staf sendiri, heran. Dia sudah termakan tayuannya Hotaru. "Aku akan menghubungi model prianya" Hotaru mengambil tasnya dan mengeluarkan ponsel, menekan tombol dial dan menyambungkannya.
"Bisa kau datang ke Queenshela sekarang juga?"
"Oh sedang ada disini? Kalau begitu datanglah ke lantai 5. Aku sedang disana, cepat ya sayang" kalimat terakhir Hotaru membuat Sasuke bergidik. Iya Sasuke masih setia dibelakang Sakura saat ini.
Sempat kagum pada wanita behelai merah muda ini, begitu sabar menghadapi orang seperti Hotaru. Mampu memisahkan masalah pribadinya dengan pekerjaannya, benar-benar telaten. Sasuke tidak akan mengecewakan Sakura dan bersikap dewasa.
Sang manager yang mengenakan kemeja berkerah motif dan celana hitam legam membuat mata siapapun terutama para wanita akan terpesona melihatnya. Utakata, dia berjalan santai menghampiri tempat pemotretan model majalah. Disana sudah ada para model, kru, fotografer, dan staf yang sudah bergumul. Ada yang menarik atensinya disana. Dua wanita yang selalu menghadiri mimpinya, terutama si pirang bertubuh seksi. "Hotaru? jadi pemotretanmu disini?" Utakata langsung bertanya. Ada rasa canggung dihatinya karena Sakura tepat berdiri dihadapannya.
"Baiklah model laki-lakinya sudah sampai"
"Astaga ! dia memanggil Utakata san. Semoga dia tidak melihat pria manis itu" Konan mengigit jarinya ketakutan , matanya terus menerus melihat Sasuke yang sedari tadi berdiri dibelakang Sakura. Ia tidak sadar bahwa Sasuke tengah memperhatikan gelagat setiap orang yang ada disini.
To Be Continue
A/N : Yuhuuu DW apudeto nih walau Mei akui sedikit telat coret, banget. hahaha .. Gomene minna Mei sibuk di RL urusin ini itulah, kemarin-kemarin habis melamar kerja. Mei lelah, sakit inilah itulah tapi tangan tetep gatel banget pengen cepet-cepet nulis dan finally aku bisa ngelanjut ff ini. Seneng deh bisa bertemu lagi sama readers2, senpai2 keceh disini.
maaf kalau gak puas, insyallh Mei maksimalin buat ff ini. Oh iya soal Drive Thru yang Ratem itu abal banget, aku nekat aja dipublish padahal itu ancur banget and rupanya respon kalian lumayan banget, aku seneng deh :') ... sesuai permintaan Readers dibuatin sekuel, aku usahain buat sekuelnya. Tapi gak janji yahh :* hehe ..
Arigachuuu sudah membaca, terimakasih para readers yang udah review Mei udah baca semuanya dan untuk para silent reader juga. Salam cintahh dari Mei no kawai istri sahnya Uchiha Itachi :* :*
kissu :*
