Different Way
Disclaimer : Masashi Kishimotto
Story Original by my self
.
.
.
Warning : AU, Typho, dan lain-lain karena fic ini jauh dari kata sempurna
DLDR
.
.
Happy Reading !
"Model laki-lakinya sudah ada"
"Eh, bukankah anda tuan Utakata, manager Exicite yang terkenal itu kan? Sungguh kehormatan bagi saya bisa bertemu dengan anda" Fujimaki menjabat tangan Utakata.
"Terimakasih tuan Fujimaki" balas Utakata beramah-tamah pada orang-orang disana, mereka larut dalam perbincangan ringan seputar pekerjaan. Namun perasaan tak dapat dibohongi, bibir senyum selebar apapun hatinya masih tetap tidak tenang.
Sakura masih bisa sabar menghadapi Hotaru yang memohon ingin dipotret bersama model laki-laki. Tapi kalau modelnya Utakata, apa dia masih bisa sabar? Dia benar-benar niat sekali memanasi Sakura, maunya apa sih? Senang sekali dia melihat Sakura menderita.
Tangan Sakura meremas keras bolpoin yang di pegang, walaupun tidak rusak hanya saja tangannya sedikit nyeri.
"Maaf nona Hotaru, anda memang model kami tapi anda tidak bisa melakukan kemauan sesuka hati anda. Disini saya yang mengatur semuanya dan anda hanya mengikuti interupsi saya" terang Sakura seraya memperlihatkan berkas kerjanya pada Hotaru dan wanita itu bersikeras untuk melawan Sakura.
"Aku ini model, jika tidak ada aku maka perusahaan ini tidak akan berjalan nona. Maka dari itu buat pemotretan ini menjadi sempurna dan jangan membuat aku marah" Hotaru membentak-bentak Sakura seakan ingin melahapnya. Oke , ini memang sepele tapi Sakura tahu maksud dan tujuan wanita pirang ini.
Sang pria yang sedari tadi menjadi bahan permasalahan mereka akhirnya turun tangan dan menghampiri Hotaru dan Sakura yang sedang bersilat lidah. "Sudahlah Hotaru, lagipula Sakura benar. Turuti perintahnya dan bekejasamalah dengan baik. Kau mengerti kan" bujuk Utakata.
"Kenapa kau jadi membela wanita ini? kau sudah tidak mencintaiku lagi, hah ?" Hotaru menunjuk Sakura dengan kasar lalu mengercutkan pipinya hingga mengembung, kesal pada pria yang dicintainya malah membela Sakura.
"Bukan , bukan seperti itu Hotaru. Aku hanya berusaha professional tidak memandang siapapun disini selama aku masih ditempat kerja" pria itu menggenggam erat pundak Hotaru dan menatapnya. "Kau model terbaik, lakukan pekerjaan ini dengan baik juga"
"T-tapi, aku ingin semua orang disini tahu bahwa kau adalah tunanganku"
"APA ?" sontak seluruh orang disana berteriak kaget terutama Sakura. Lihat kakinya gemetar dan bibirnya terkatup rapat sejak tadi.
Jadi ini maksud dan tujuan Hotaru, mencoba menghancurkan hati Sakura sekali lagi. Andai Utakata mengetahui perasaan Sakura, ingin rasanya ia berteriak lantang namun apa haknya? Apa dia harus melawan, mencegah atau mungkin berteriak bahwa dirinya mencintai Utakata? Tidak , Sakura tidak serendah itu. Ia sudah lelah ditindas oleh Hotaru. Sakura hanya bisa diam dan terpaksa harus menelan pil pahit lagi bahkan ini lebih pahit dari dulu.
'Jadi apa arti semua ini Utakata?Salahkah aku sudah mencintaimu ? Jika iya kau bunuh saja aku sekalian karena mencintaimu sama saja dengan membunuhku, rasa sakit itu tidak sebanding dengan apa yang aku rasakan saat ini. Aku sudah tidak bisa mearasakan air mataku keluar lagi Utakata. Kau pria pertama dan terakhir yang sudah menyakiti perasaanku. Aku benar-benar wanita paling bodoh didunia ini'
PUK ..
Seseorang menyadarkan lamunan Sakura dari belakang, menyentuh pundaknya dengan kedua tangannya. Tangan itu seolah menyalurkan kekuatan kepada Sakura, tangan kekarnya memegang erat dan menahannya agar tidak terjatuh.
Sakura menoleh kebelakang secara perlahan dan melihat siapa gerangan yang menepuk pundaknya itu. Oh ternyata dia Uchiha Sasuke yang sangat tampan dan berkilauan. Rasanya Sakura merasa sedikit lega karena Sasuke mengerti akan situasi saat ini.
"Sasu-" lirih Sakura dengan tatapan penuh harap.
"Kebiasaanmu yang sering melamun dan membuat orang lain menunggu itu salah satu sifat yang tidak aku sukai. Cepat lanjutkan pekerjaanmu Haruno, nona Hotaru dan Utakata sudah menunggu !" geram Sasuke.
"Eh ..." Sakura cengo. Dia fikir Sasuke akan membelanya atau melakukan adegan scene romantis seperti di sinetron-sinetron yang sering Sakura tonton. Seperti membelanya dengan kata-kata romantis atau memeluknya, tapi Sasuke? ahh sudahlah sepertinya itu tidak mungkin terjadi, Sasuke kurang peka. Cahaya yang berkilauan diwajah Sasuke barusan hilang sudah dimata Sakura.
"Apa kau bilang?" Sakura balas membentak Sasuke.
"Hey cepatlah Sakura, jangan membuat aku menunggu lama !" Tegas Hotaru seraya berkacak pinggang, rupanya wanita yang sedari tadi bergelayut manja dilengan Utakata sudah tidak sabar menunggu. Benar kata Sasuke, lakukan saja keinginan mereka. Toh Sakura sudah terlanjur sakit, tenang jangan khawatir ada pangeran berkuda putih dibelakangmu Sakura !
"Baiklah. Watase, ambilkan baju untuk Utakata yang selaras dengan Hotaru, aku ingin mereka terlihat sama" perintah Sakura pada salah satu kru disana.
"Baik nona Haruno" pria yang dipanggil Watase itu segera berlari menuju ruang ganti baju.
.
.
.
Sakura menopang dagu secara malas sambil menatap layar komputer didepannya dengan malas. Saat ini ia sedang melihat foto-foto Utakata dan Hotaru dengan pose-pose yang cenderung seperti poto preweeding dibanding sampul majalah.
Hatinya tertohok, sakit sekali melihat mereka tersenyum bahagia, senyuman itu seolah sedang mengejek Sakura. Ia meremas mouse dan rasanya Sakura ingin memakan komputer itu bulat-bulat.
Sabar , Sakura itu strong kan.
"Utakata no yarouuu, Utakata no baka , SHANAROOO !"
"Sakura, daijobu ?" Konan menghampiri Sakura yang sedari tadi duduk terdiam didepan layar komputer dan tidak bergerak selama hampir 30 menit. Ia mengkhawatirkan sahabatnya itu, pasti rasanya sakit sekali. Sesama wanita Konan mengerti perasaan Sakura.
"Hemm" Sakura menganggu lemah. "Konan?" lanjutnya.
"Aku mengerti perasaanmu Sakura, akan kuberi pelajaran pada si pirang bitchy itu karena sudah menyakiti Sakura, kurang ajar !" ia meremas tangannya dan mengepalkannya didada. Greget, iya Konan greget plus kesal juga karena sudah menyakiti sahabatnya. "Dan kenapa Utakata san bersedia juga , harusnya tadi kau menolak keinginan aneh si Bitchy itu, Sakura !"
"Tidak Konan, mereka sangat cocok kok. Lihat saja, Hotaru cantik dan Utakata tampan mereka serasi sekali kan. Lagipula apa salahnya, mereka kan sudah bertunangan" Sakura tersenyum palsu seraya menunjuk layar komputer.
Konan semakin khawatir, biasanya Sakura marah. Dan sekarang malah sebaliknya. "Saku.." Konan merangkul pundak Sakura, ia melihat air mata bening keluar dari iris hijaunya.
Tap tap ...
Derap langkah kaki memasuki ruangan , mendekati Sakura dan Konan yang sedang berada didalamnya.
"Ada dua hal yang membuat aku benci pada wanita. Yang pertama berlagak so' kuat padahal hatinya hancur dan yang kedua menangis karena itu sangat jelek"
Suara baritone itu, suara yang terdengar sangat menyebalkan ditelinga Sakura siapa lagi kalau bukan Sasuke.
"Jika aku melihat kau menangis lagi, maka aku akan memberimu pelajaran. Minumlah teh ini selagi hangat, sedikitnya bisa membantumu merasa nyaman" Sasuke berjalan mendekati meja Sakura lengkap dengan secangkir teh manis yang masih di hiasi kepulan asap, kemudian ia meletakannya dimeja tepat dihadapan Sakura.
Sedikitnya ini membuat hati Sakura nyaman walau bicaranya menyebalkan. Sasuke belum pernah mengkonsumsi kamus gombalan untuk wanita rupanya, jadi harap dimaklum kalau bicaranya seperti berinteraksi dengan preman pasar.
Sasuke lebih banyak bertindak dari pada banyak bicara, prinsip yang bagus.
"Oh astaga aku hampir melupakanmu, pria manis. Kau berperan penting disini" Konan sumeringah kala melihat perlakuan manis Sasuke pada Sakura. "Aku belum pernah diperlakukan seperti ini oleh Yahiko, laki-laki itu yang ada diotaknya hanya perempuan dan makanan. Beruntunglah kau Sakura, aku ingin Utakata melihat semua ini"
Bibir Sakura terangkat keatas , ia tersenyum manis sekali semanis teh buatan Sasuke.
"A-arigatou Sasuke" Sakura mengambil teh manis tersebut dan meminumnya secara perlahan. Nikmat sekali rasanya.
"Baru saja kau menangis karena Utakata, dalam sekejap kau bisa langsung tersenyum. Dasar kau ini, wanita penggoda" goda Konan seraya menyenggol bahu Sakura. Sasuke diam-diam tersenyum tanpa sepengetahuan mereka.
"T-tidak Konan, dia bukan siapa-siapa. Kami hanya bertemu dijalan" entah kenapa saat Sakura bilang bertemu dijalan , Sasuke mendelik tajam pada Sakura.
Konan mengulurkan tangannya pada Sasuke. "Perkenalkan, namaku Konan dan pria yang sedang duduk dipojokan itu namanya Yahiko" Telunjuk Konan menunjuk kesudut ruangan tepatnya pada Yahiko.
"Jangan tanya sedang menonoton apa dia karena dijam-jam sepi seperti ini adalah jadwalnya dia menonton, Yahiko tidak suka diganggu"
Sasuke geleng-geleng kepala melihat kelakuan orang dewasa yang sebenarnya rupanya tidak jauh berbeda dengan teman sekelasnya yang bengal , Naruto contohnya.
"Salam kena juga, panggil aku Sasuke. Uchiha Sasuke" Sasuke menjabat tangan Konan.
Different Way
Sakura melengguh panjang saat menyaksikan tumpukan berkas dimejanya yang belum dikerjakan. Tangan kirinya sibuk membolak-balikan dokumen sementara tangan kanannya sibuk bermain dengan komputernya. Sasuke yang sedari tadi setia duduk disamping Sakura hanya bisa membantu lewat doa saja. Kalau membantu, dia bisa apa? bisa-bisa digampar Sakura kalau ada kesalahan, jadi dia hanya menyaksikan tingkah Sakura yang berkutat dengan pekerjaannya.
"Kau selalu mengerjakan ini setiap hari? Aku lebih memilih mengerjakan Eksponen dan Logaritma sebanyak 20 halaman dibanding mengerjakan itu semua" cibir Sasuke.
"Pantas saja Yugao Nee-chan berkeriput seperti Itachi"
"Lalu apa masalahmu Sasuke? Disini aku yang bekerja bukan kau"
"Aku masih belum mengerti kenapa kau sampai mengaku-ngaku pacaran dengan seorang pria yang sudah bertunangan. Memalukan sekali" Sasuke, kenapa Sasuke mengungkit hal sensitive itu lagi. Padahal Sakura hampir melupakannya.
Empat sudut siku-siku muncul didahi lebar Sakura. "Jika kau hanya ingin menggangguku, pulang saja dan pergi kesekolah" tandas Sakura. Siapa sih yang tidak marah kalau sedang sibuk berkonsentrasi lalu ada orang yang mengganggu.
"Hm , kau melupakan perjanjian kita Sakura. Baiklah aku akan pergi tapi kau penuhi keinginanku juga. Padahal aku sudah melakukan perintahmu dan bersikap baik padamu hari ini" Sasuke kesal karena ia merasa sudah diusir oleh Sakura dan tidak dianggap keberadaannya.
Ia berdiri dan menyambar handphone putih Sakura yang tergeletak dimeja kerjanya, kemudian berjalan keluar sambil membanting pintu sehingga menimbulkan suara yang keras.
'Dduuaakk !'
Konan dan Yahiko yang berada diruangan sana ikut kaget.
"Kenapa dia membanting pintu?" Yahiko kepo .
"Pertengkaran kecil antara sepasang kekasih sudah sering terjadi kok. Jangan khawatirkan mereka" Balas Konan.
"Oh begitu ya" Yahiko kembali melanjutkan pekerjaannya yaitu, menonton.
Tiba-tiba ..
BRAKK...
Sakura menggebrak meja dengan keras sampai kedua temannya itu kembali terkejut. "Urusaiii !" teriakYahiko marah.
"Ponselku dibawa Sasuke" Sakura menjambak rambutnya kesal dan segera berlari keluar mengejar Sasuke. Beberapa orang yang lewat ia tabrak demi menemukan sosok pria bergaya rambut anti mainstream itu.
Kepala merah mudanya bergulir mencari-cari keberadaan Sasuke ditengah puluhan orang-orang disana namun Sasuke masih belum ditemukan. "Dimana bocah mesum itu. Cepat sekali menghilangnya, jangan-jangan dia telepotrasi lagi"
Sakura cemas bukan masalah ponselnya hilang diambil Sasuke, tapi ia khawatir antara Utakata akan menghubungi Sakura (kemungkinan hanya 35% dia akan kembali menghubungi Sakura) atau Sasuke akan menghubungi Utakata (Jika Sasuke memang mempedulikan Sakura).
"Bagaimana jika ada telepon dari Utakata, bagaimana kalau Sasuke mengancamnya, bagaimana kalau Utakata marah padaku gara-gara ulah konyol Sasuke. Kami-sama tolong aku jangan sampai Sasuke melakukan hal yang tidak aku inginkan. Awas kau yah" Sakura dihantui ribuan kemungkinan-kemungkinan buruk yang belum tentu terjadi dan tidak tahu apa maksud tujuan Sasuke mengambil ponsel Sakura.
Ia berlari menuju lift dan turun kelantai paling bawah. Segera berlari ketempat parkir mencari mobil hitam yang dipakai Sasuke.
"Demi video Hentai nya Yahiko, yang mana mobil Sasuke? Disini banyak sekali mobil hitam yang sama dengan Sasuke" Sakura nangis darah.
.
.
.
'Pletak'
"Aaaww, Ittai apa yang kau lakukan dobe?" Sasuke meringis kesakitan seraya memegang puncak kepalanya habis dipukul Naruto. Saat ini Sasuke, Naruto dan Sai sedang berada diatap sekolah. Asal tahu saja kalau Sasuke berangkat kesekolah pada saat 5 menit lagi bel pulang sekolah berbunyi. Tanpa memakai seragam sekolah pula dia masih memakai kemeja putih Itachi, entah bagaimana caranya ia bisa sampai diatap gedung sekolah tanpa memakai seragam.
Rupanya dia mendengar apa kata sakura ya.
"Aku tahu semua yang kau lakukan. Semalam kau pergi ke Bar dan menyewa hotel kemudian kau bermain dengan teman kencanmu kan , ttebayo? Aku tahu dari melihat penampilanmu saja" Naruto kesal sampai urat-urat didahinya muncul. "Dan yang hampir membuatku mati adalah ayahmu tadi menghubungiku, kau ingin membunuhku dengan puluhan bodyguard mu yang bertampang preman itu, hah !"
"Aku tidak menyangka Sasuke putra bungsu Uchiha Fugaku melakukan ini. Kau pasti pergi berkencan dengan tante yang kemarin kan. Lihat saja penampilannya yang kolot itu seperti Iruka sensei dan berbau lipstik" Ya, Sasuke sudah mendapat dua tuduhan ngawur dari kedua sahabatnya.
Sai memegang dagunya , memperhatikan penampilan Sasuke dari bawah sampai atas, memang benar. Itu terlihat sangat dewasa sekali dan mencurigakan, dan ganteng. Tapi kenapa dimata Sai seperti orang dewasa macam Iruka yang terlihat sudah lewat dewasa?
"Kau tidak perlu mencekikku Naruto. Dan apa-apaan tuduhan kalian itu sangat tidak logis sekali" Sasuke melepaskan cengkraman Naruto sehingga dasinya menjadi awut-awutan.
"Memangnya kenapa ayahku menghubungimu? Apa dia mengetahui aku tidak sekolah?" wajah Sasuke mulai pucat sambil membenahi dasinya.
"Tidak. Dia meneleponku hanya memberitahukan kalau nanti malam dia akan pergi patroli ke Suna selama dua hari karena ponselmu tertinggal. Ayahmu menyuruhku untuk menyampaikannya padamu lalu kemudian aku bilang Sasuke tidak masuk kesekolah"
"Dan kau yang memberitahukannya pada ayahku? Kau sama saja menjatuhkanku kedalam jurang, Naruto no baka !" teriak Sasuke melawan menarik kerah seragam Naruto.
"Aku menjawab sesuai kenyataannya saja Teme ! Aku sangat takut pada ayahmu" sergah Naruto
"Dan kau sudah mengacaukan semuanya. Arghhhh !" Sasuke menjambak rambutnya frustasi.
'Klontang ...
Sasuke menendang kaleng bekas yang kebetulan ada disana, melampiaskan kekesalannya sampai beberapa detik kemudian ada yang berteriak mengaduh kesakitan dibawah sana.
"Sasuke, kami mencintaimu" Sai menundukan kepalanya seolah berduka, diikuti Naruto.
"Ya , maafkan aku Teme. Tapi sebelumnya kau harus menempati janjimu dulu sebelum pergi. Mentraktirku 10 cup ramen"
"Dan membayar hutangmu padaku karena kau sudah kalah taruhan main bola denganku" lanjut Sai.
"Kalian pikir ayahku monster hah ! Aku tidak akan mati oleh ayahku sendiri dasar bodoh" bentar Sasuke pada kedua sahabatnya yang agak melenceng itu.
Ia mengurut keningnya perlahan, berfikir sejenak antara pulang atau tidak. Kalau pulang sekarang dia akan habis dimarahi oleh sang ayah.
Sasuke tahu kemarahan ayahnya seperti apa, bahkan Naruto dan Sai saja sampai tidak bisa tidur.
Ayah Sasuke sangat tegas bukan berarti tidak menyayanginya, ia ingin keluarga Uchiha itu keluarga yang terpandang dan terhormat dimata orang lain. Mulai dari pendidikan, profesi hingga perlakuan apapun ada aturannya. Sasuke memang tampan, pintar, tapi dia tidak suka dengan aturan bodoh Uchiha yang sudah diterapkan sejak dulu saat ia belum lahir. Ia sudah mempunyai aturan hidupnya sendiri, maka dari itu Sasuke agak sedikit bengal diantara teman-temannya. Dan paling bengal diantara keluarganya.
Apalagi sekarang, mengetahui Sasuke tidak masuk sekolah bagaimana jadinya? Sampai ditelinga Itachi masih bisa dikasih toleransi. Tapi kalau ditelinga pak Fugaku, enggak deh Naruto angkat tangan.
"Siapkan air panas untuk mandiku nanti Naruto" Ucap Sasuke sambil berjalan melewati mereka. Naruto sudah mengerti apa maksud Sasuke.
"Tidak , aku tidak akan membiarkan kau menginap dirumahku aku tidak mau ikut terlibat dalam masalahmu. Kau menginap saja dirumah Sai, ttebayo" cegah Naruto sambil menunjuk muka Sai tanpa dosa.
"M-maaf, kamarku sudah penuh karena Danzo Oji-san menginap dirumahku malam ini" Ucap Sai penuh dusta dibarengi senyum palsunya pada Sasuke.
"Aku hanya tinggal dirumahmu sampai nanti malam dobe, sampai ayahku pergi ke Suna. Kalian kuktraktir nanti" Sasuke akhirnya memutuskan untuk pulang kerumah Naruto dengan mengiming-imingi traktiran makan dikantin sekolah. Ia mulai mengkhawatirkan apakah Naruto dan Sai itu benar-benar sahabatnya? Bisa diajak kompromi kalau ada uang, dasar matre.
.
.
.
Malam harinya Sasuke yang sekarang berada dikamar Naruto bersama Sai juga. karena Naruto bilang Sai juga harus ikut tinggal dirumah Naruto sampai Sasuke benar-benar pulang kerumahnya. Ya saat ini Sasuke sedang dicari keberadaannya oleh keluarganya sendiri dengan jasa bodyguard. Maka dari itu Naruto mengajak Sai juga dengan alasan tertentu.
"Memangnnya kau sudah punya Kartu Penduduk untuk masuk ke Bar , Sasuke?" tanya Naruto sambil mengais sebuah gitar dipangkuannya. Banyak terdapat koleksi gitar dikamar Naruto dan ruangan itu sudah seperti markas mafia saja. Berantakan dan berbau asam , belum lagi poster-poster mengerikan yang tertempel didinding.
"Sudah kubilang aku tidak pergi ke Bar. Tadi pagi aku pergi menemui Sakura ditempat kerjanya"
'ctak' Sai menjentikan jarinya. "Sudah kuduga, kau berkencan dengan tante itu. Kau melakukan apa saja?"
Sasuke membanting tubuhnya lemas ke kasur Naruto dengan rambut yang masih basah dengan telanjang dada. Ya , Sasuke habis mandi sesuai yang dikatakannya tadi siang diatap sekolah. "Kami tidak melakukan apa-apa. Aku hanya membantunya untuk melupakan Utakata" tangan Sasuke meraih ponsel putih yang berada dinakas tepatnya milik Sakura.
"Siapa lagi Utakata?" sambung Naruto sambil memainkan gitarnya.
"Tidak ada urusannya denganmu" jawab Sasuke yang sepertinya soal Utakata hanya dirinya sajalah yang tahu. Tidak ada gunanya curhat pada teman pirangnya itu, menurut Sasuke.
Dahinya mengernyit saat melihat sepuluh panggilan tak terjawab dilayar ponsel. Ia tahu siapa yang sudah menghubunginya. Sasuke menekan tombol hijau dan menghubungi nomor barusan.
'tuuuuut'
"Kembalikan ponselku dasar pencuri, otak mesum, bodoh, bocah ingusan. Aku takan memaafkanmu" suara teriakan bercampur dengan helaan nafas yang memekikan disebrang sana sampai Sasuke menjauhkan ponsel itu dari telinganya.
"Aku akan mengembalikan ponselmu sampai kau menempati janjimu"
"Memangnya janji apalagi? Tugasmu sudah selesai. Kita tidak ada urusan lagi dan kembalikan ponselku"
"Tugasku memang sudah selesai, tapi tugasmu yang belum selesai. Ingat saat dikantor tadi pagi, kau akan memberikan ciuman lagi kan" Sasuke menyeringai, Naruto menjatuhkan gitarnya, Sai melongo.
"Ya tuhan , terkutuklah kau Uchiha !"
"Baiklah kalau begitu ponselmu aku sita. Jika kau mau mengambilnya lagi, datang sendiri kesekolahku di Konoha Gakuen dan lakukan seperti apa yang kulakukan tadi dikantormu"
"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti !"
"Oyasuminasai"
"C-Chotto matt-" –piip- telepon diputus sepihak oleh Sasuke dan mematikan ponselnya supaya Sakura tidak menelepon balik.
TBC
A/N : Ohayou minna, Mei muncul lagi untuk update WB. Oke Oke aku sadar kok kalau aku sudah membuat kalian menunggu lama untuk updatetan cerita abalku ini. Aku sempet wb dan mengalami kesibukan dalam pekerjaanku. Aku baru bekerja selama 2 minggu, senengnya. Tapi sayang gak ada waktu buat nulis ff T.T , tapi aku masih semangat nulis buat readersku tercinta yang masih setia menunggu updatetan DW.
Chapter selanjutnya akan kubuat sasusaku romantis tis tis :D
Oke cukup bacotan author gaje ini, silahkan berikan komentarnya. Ndak juga aku rapopo.
kissu kissu :* :*
