Naruto © Masashi Kishimoto.

Pairing : SasuNaru, GaaNaru, SasuSaku.

Genre : Drama/Angst/Family.

Rate : T.

Warning : OOC, OC, AU, typo(s), Boy Love, MPREG.

DON'T LIKE DON'T READ!

PAST © Yanz Namiyukimi-chan.

Masa lalu adalah masa lalu. Untuk beberapa orang, mereka memilih untuk meninggalkan waktu yang telah berlalu dan melupakannya—termasuk Naruto. Namun bagaimana dengan Sasuke? Orang yang lebih senang hidup dengan kenangan masa lalunya.

.

Chapter 2

.

.


.

.

Naruto langsung menundukkan kepalanya. Seumur hidup, ia tidak pernah terbesit untuk kembali bertemu dengan sosok Fugaku Uchiha di hadapannya.

"Saya juga tidak menyangka akan bertemu dengan Anda di sini," ucap Naruto berusaha setenang mungkin untuk tidak menunjukkan perasaannya yang sebenarnya. Sungguh berbanding terbalik dengan pikirannya yang mulai kalut ketika berhadapan dengan sosok pria di hadapannya ini.

'Ba—bagaimana bisa dia ada di sini? Bukankah ia tetap berada di Konoha?' Naruto hanya mampu bertanya-tanya di dalam hatinya. Tak sanggup menyerukannya ke dalam suara.

Sosok lanjut usia itu menatap tajam sosok yang lebih muda darinya itu. Lalu mendengus sambil membuang muka. Benar-benar ia tidak menyangka akan melihat tampang wajah di hadapannya itu di sini. Sosok yang ia kira benar-benar sudah menghilang dari hidupnya. Namun nyatanya terbalik, sosok itu belumlah lenyap sepenuhnya. Sosok itu masih bisa muncul di depan matanya—walau itu bukan berarti keinginan sosok itu sendiri.

"Mama~"

"Kyuu…"

Naruto langsung berjongkok, ketika melihat sosok putrinya yang sedari tadi ia cari. Menyambut Kyuubi yang berlari ke arahnya dan langsung mendekapnya dengan erat. Sejenak Naruto melupakan kejadian beberapa detik yang lalu. Ia terlalu cemas akan keadaan Kyuubi yang tiba-tiba hilang darinya. Dan betapa leganya perasaannya saat ini bisa melihat Kyuubi kembali.

Kyuubi memeluk ibunya. Wajahnya agak sembab tenggelam dalam bahu itu. Ia benar-benar takut saat tiba-tiba tidak menemukan sosok ibunya dalam jarak pandangnya. Ia tidak tahu jika semua akan berakhir seperti ini—terpisah dengan ibunya. Tempat ini terlalu kaku dan membosankan untuknya. Dan niatan jail pun membuat Kyuubi berpikir untuk bermain kejar-kejaran bersama ibunya.

Fugaku memandang sinis dan tersenyum mencemooh, "Apa dia anakmu?" tanyanya membuat Naruto tersadar dengan keadaan yang sebenarnya. Naruto menggerutu, kenapa sosok itu tidak tiba-tiba menghilang saja dari hadapannya saat perhatiannya teralihkan? Kenapa dia masih saja berdiri di sana?

Naruto berdiri. Kembali ia harus berinteraksi dengan orang itu.

"Ya," Naruto hanya bisa menjawabnya dengan pelan. Tiba-tiba suaranya hilang tertekan. Suaranya bener-benar tercekat di tenggorokannya. Ia ingin sekali lari. Jika bisa, ia ingin menghilang dari tempat ini dalam waktu sekejap. Ia tak mampu berlama-lama di hadapan orang ini. Orang ini mampu membunuh mentalnya dengan mudah. Membangkitkan kenangan masa lalu yang sudah lama ingin ia lenyapkan dari riwayat hidupnya.

Kyuubi bersembunyi di balik tubuh ibunya. Memandang takut sosok Fugaku. Ia tidak suka cara pandang Fugaku. Sorot dingin itu membuat Kyuubi merasa takut. Kyuubi mengeratkan genggamannya pada jas yang dikenakan Naruto. Semakin merengerut di balik tubuh Naruto, menyembunyikan hampir seluruh tubuhnya.

.

.


.

.

Di sekelilingnya gelap. Hanya penerangan minim yang membuat matanya bisa sedikit melihat sekelilingnya. Renji melompat dari pagar tembok yang ia panjat. Dengan pencahayaan yang kurang Renji menatap sekelilingnya. Dan saat itu Renji menyadari keberadaannya saat ini adalah di sebuah taman. Melewati semak-semak yang ada di taman itu, akhirnya ia menemukan bangunan yang ia cari. Sambil menyampirkan tas sekolah di bahunya, Renji tersenyum puas. Dan baru saja mengambil beberapa langkah, bola mata kelam itu langsung dapat menemukan sosok ibunya yang sedang berada di dalam gedung itu.

Lewat dinding kaca raksasa itu, Renji melihat Kyuubi—adiknya—berlari menghampiri ibunya. Bibirnya sedikit menyinggung seringai kecil melihat tingkah adik perempuannya itu.

"Dasar manja," gumamnya. Adiknya itu memang tidak bisa lepas dari sekeliling sosok ibunya.

Dengan santai ia melangkahkan kakinya, matanya masihlah terfokus pada sosok ibunya dan adik perempuannya yang sedang berpelukan.

Kini jaraknya tidak terlalu jauh. Ia bisa melihat wajah ibunya dengan jelas saat ini. Namun itu yang membuat Renji mengernyit bingung. Ibunya berdiri kaku dan wajahnya sedikit tertunduk. Terlihat sekali ibunya saat ini sedang gelisah. Lalu Renji menyadari jika ada sosok lain berhadapan dengan ibunya. Sebenarnya siapa orang itu? Bahkan ibunya tak begitu mantap saat menatap orang itu?

Berlari.

Saat itu juga Renji memiliki perasaan tidak enak tentang ibunya. Saat ia memasuki gedung, semua mata tertuju padanya. Para tamu undangan itu memandang risih kehadiran Renji berada di tengah mereka.

Bagaimana tidak?

Bagaimanapun saat ini, penampilan Renji sangatlah kacau. Rambut jabrignya berantakkan. Wajahnya pun dipenuhi luka memar. Seragam sekolahnya tampak kumal dipenuhi debu yang menempel.

Namun mereka tidak bisa menganggap jika Renji adalah anak sembarangan yang nakal. Melihat blazer yang dikenakannya tentu saja ia berasal dari sekolah kalangan elit.

Mengabaikan berbagai tatapan yang terarah padanya, Renji datang menghampiri ibunya. Di mana ayahnya sekarang? Kenapa ia tidak berada di dekat ibunya disaat seperti ini? Seharusnya ayahnya tidak meninggalkan ibunya sendirian di tengah orang-orang asing ini. Seharusnya ia tahu tidak semua orang rendah hati bisa menerima kehadiran ibunya.

"Mama? Apa ia tidak salah memanggilmu?"

Renji melangkah pelan. Ia bisa mendengar suara yang terdengar mencemooh itu. Apa maksud pria itu hingga berkata seperti itu di depan ibunya? Tanpa sadar Renji menyipitkan matanya. Menatap sosok pria yang ada di hadapan ibunya. Menatap ekspresi yang memuakkan dari pria itu. Lihat bagaimana ekspresinya, pasti orang ini merasa dirinya begitu tinggi hingga menatap rendah orang lain.

"Sebutan itu hanya cocok untuk orang yang bisa melahirkan… Apa kau tidak tahu?"

Naruto terdiam menatap Fugaku. Mulutnya terkatup rapat. Bibirnya bergetar tak bisa mengatakan apa pun.

Ia tahu! Ia tahu itu! Ini memang aneh. Tapi ia tidak bisa mengelak atau mencoba menutupinya karena bagaimana pun sebuah fakta yang bicara di sini.

"Apa yang Anda katakan, Tuan? Tentu saja ia pantas mendapat sebutan itu."

Naruto menoleh dengan cepat mendapati suara yang tidak asing lagi baginya. "Renji…" ia begitu terkejut akan kehadiran Renji—putra sulungnya—tanpa sepengetahuannya.

"Renji-nii~! Kau ke mana saja?" Kyuubi berlari ke arah kakaknya.

Renji mengelus pelan kepala Kyuubi, "Maaf… aku datang terlambat."

"Renji…" Naruto menatap khawatir putranya. "Apa yang terjadi? Kenapa dengan wajahmu?"

"Tidak apa, Kaasan," Renji menepis pelan uluran tangan ibunya yang ingin melihat keadaannya.

Naruto semakin menatap khawatir Renji. Bagaimana ia bisa berkata seperti itu? Apa ia tidak lihat wajahnya yang babak belur?

"Ouch~ apa dia juga anakmu, Naruto? Dia juga memanggilmu 'Ibu'?"

Renji menatap tajam, "Berhentilah berbicara dengan nada mencemooh seperti itu, Tuan. Apa Anda tidak tahu itu bisa menyinggung perasaan seseorang?" seru Renji dengan berani.

Fugaku terdiam menatap tajam bocah yang berani menatap balik tanpa merasa segan sedikit pun. Ia meniti penampilan Renji. "Berandalan…" gumammnya melihat penampilan Renji yang begitu buruk di depan matanya. Bagaimana bisa anak berandalan seperti itu bisa masuk ke tempat seperti ini? Sungguh menakjubkan bukan?

Fugaku menatap Renji dan Kyuubi secara bergantian.

"Aku bisa mengerti jika adik kecilmu masih bisa dibohongi dengan mudah. Tapi kau? Aku rasa kau tidak bodoh."

"Nii-san aku tidak mengerti apa yang dibicarakannya," bisik Kyuubi sambil memeluk erat pinggang kakak laki-lakinya itu.

Renji mendesis, "Apa maksud, Anda?"

Fugaku memalingkan wajahnya, melempar senyum sinis. Tampang memang terlihat menyakinkan, tapi tetap saja sebenarnya ia bodoh!

"Apa kau tidak tahu dengan gender orangtuamu sendiri? Kau memanggilnya 'Kaasan'?"

"Memangnya kenapa? Ada yang salah dengan sebutan itu?" Renji geram. Ia tidak suka nada main-main yang keluar dari mulut Fugaku.

Apa maksud pria tua itu terus mencela ibunya?

Apa ia membenci ibunya?

Tapi kenapa?

Apa ibunya pernah berbuat salah pada pria yang tak dikenalnya ini?

"Tentu saja! Apa perlu kujelaskan bahwa yang pantas menerima sebutan itu hanya seorang wanita."

Hentikan!

Kumohon berhenti…

Naruto hanya mampu melihat lantai-lantai di bawah pijakkan kakinya. Napas sedikit memburu. Sejujurnya Naruto ingin sekali menyumpal mulut itu untuk berhenti bicara. Tapi bagaimana caranya ia bisa membuat seorang Fugaku Uchiha itu diam? Sedangkan orang di depannya ini bukan tipe orang senang mengalah.

Renji menatap sinis. Kini ia tahu maksud dari orang ini…

"Lalu memang kenapa, Tuan? Kurasa itu bukan urusan Anda jika ibu saya bukan seorang wanita."

Fugaku terdiam. Itu memang benar. Ini memang bukan urusannya. Tapi entah bagaimana caranya, ia senang sekali membuat sosok Naruto terpojok atau pun menanggung malu di depan banyak orang. Lihat saja sekarang, sosok pirang itu kini terlihat tertekan bukan?

"Ya~ tapi apa kau tidak—"

"Tidak!" Renji langsung memotong dengan tegas. Ia sudah bisa menebak apa yang akan dikatakan Fugaku padanya. Ia menatap berani pria yang berumur jauh di atasnya itu. Dagunya sedikit terangkap menunjukkan sisi keangkuhan Renji. Seperti berhadapan orang sebayanya, Renji tak gentar sedikit pun menatap Fugaku yang mencoba menekan batinnya. Malah ia memberi sorot mata menantang pada pria tua di hadapannnya itu.

"Karena bagaimanapun dia adalah orang yang berhasil melahirkanku!"

Menggelikan.

Awalnya ia merasa kagum pada bocah di hadapannya itu. Ia belum pernah ditatap seperti itu apalagi oleh orang yang jauh lebih muda darinya. Namun mendengar kata selanjutnya yang lolos dari anak laki-laki di depannya itu mampunya membuatnya menahan tawa.

Benar-benar konyol! Perutnya rasanya benar-benar dikocok. Bahunya sedikit bergetar karena mencoba menahan tawa. Sungguh Fugaku merasa geli sendiri mendengarnya.

Apa ocehannya sedari tadi tak cukup membuat anak laki-laki ini mengerti?

Fugaku mendengus disela-sela tawa ringannya. "Sepertinya anakmu sudah tidak waras, Naruto. Dia bilang kau bisa melahirkan?"

Seketika emosi Renji langsung naik. Emosi yang tak terbendung lagi naik tak terelakkan. Bagaimana bisa pria itu menertawakannya?

"Kau…" Renji geram. Bahkan ia tidak sudi lagi untuk bersikap sopan santun di depan Fugaku.

"Renji!" pekik Naruto melihat putranya akan melayangkan tinju.

Mata gelap itu membelalak terkejut melihat kepalan tangan yang melayang di depan wajahnya. Fugaku masih belum bisa menormalkan pandangannya, meski layangan tinju itu berhenti tepat di depan wajahnya karena ada sosok yang menahannya.

"Tousan…" gumam Renji tertegun melihat sosok ayahnya.

"Jaga sikapmu, Renji!"

Nada itu tidak terkesan main-main. Matanya menatap dingin dan sedikit terselubung emosi terpendam di dalamnya. Ia tahu ayahnya sedang marah. Tapi tak lama kemudian tatapan Renji kembali sangar. Disentakan tangan miliknya itu agar lepas dari genggaman ayahnya.

"kau ke mana saja?! Kenapa Kaasan ditinggal sendirian!" bentak Renji pada ayahnya sendiri.

"Aku bilang jaga sikapmu!" desis Gaara.

Renji membuang muka. Kenapa ayahnya itu tidak membelanya?

"Dan jika Anda tidak tahu apa pun, sebaiknya Anda tidak berbicara macam-macam!"

Gaara melirik tajam Fugaku—sosok yang belum dikenalnya. Bagaimana bisa orang ini terus memojokkan Naruto? Sudah cukup ia hanya berdiam sedari tadi mencoba memahami apa yang terjadi antara orang ini dan Naruto. Ia tidak bisa membiarkannya. Dan sepertinya orang ini tidak tahu apa pun tentang Naruto.

Fugaku berhasil mengendalikan diri dari keterkejutannya. Ia mengambil napas dalam-dalam. Tiba-tiba saja ia merasa kepalanya pusing.

Ba—bagaimana… bagaimana bisa anak itu—

"Kuakui untuk putri kalian memang mirip," Fugaku melirik Renji. "Tapi sebaiknya kalian tidak salah pilih."

Lantas saja perkataan Fugaku membuat Renji naik pitam. Tapi untung saja Gaara menahannya.

"Renji!" Naruto menarik putranya menjauh. Putranya sudah tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Ia tidak bisa terus membiarkan Renji berada di sini.

Renji hanya bisa menatap penuh kebencian. Ia tidak menduga jika ia akan langsung membenci seseorang di mana mereka baru saja bertemu.

"Saya tidak tahu alasan apa yang membuat Anda berbicara seperti itu. Tapi yang perlu Anda ketahui, mereka adalah darah daging kami. Terserah Anda mau percaya atau tidak. Itu adalah urusan Anda," seru Gaara.

"Ayah…" suara lirih dan bergetar itu mengambil alih perhatian.

Sakura—wanita berambut seindah sakura itu—menatap bingung sekelilingnya. Ia tidak mengerti pada situasi yang ada di sekitarnya. Semua begitu berpusat pada keberadaan ayah mertuanya saat ini.

Sebenarnya ada apa? Bahkan kenapa ada yang berani mengunjingkan mereka di belakangnya?

"Naruto…"

Sakura terkejut menoleh menatap suaminya. Untuk pertama kalinya ia mendengar nada suara Sasuke yang berbeda. Sakura menatap Sasuke dengan lekat. Suaminya sedang terpaku. Pancaran matanya yang berbeda membuat Sakura mau tidak mau menahan tangis. Sasuke tidak pernah menatapnya seperti itu. Ia bahkan belum pernah mendapati Sasuke memanggil namanya dengan nada seperti itu.

Sebenarnya… sebenarnya seperti apa orang yang mampu membuat suaminya berubah 180 derajat seperti ini?

Naruto? Siapa dia?

Naruto berbalik kaku. Detak jantungnya lebih kencang dari sebelumnya. Perasaannya semakin kalut tak menentu. Ia tidak menyangka jika ia juga akan bertemu Sasuke di sini.

Kenapa? Kenapa disaat ia sudah memulai hidup barunya, kenapa ada saja segelintir masal alunya datang mengotorinya?

Renji tahu jika suasana di sekitarnya semakin tidak nyaman. Dan ia juga tahu jika ia juga tidak boleh terus mengikuti egonya. Beradu mulut dengan orang tua di depannya ini memang tidak akan ada habisnya. Lagipula ia harus melindungi perasaan ibunya saat ini.

Renji maju selangkah dan tetap menatap lekat Fugaku. Sebelum akhirnya ia membungkuk hormat dan kembali menegakkan tubuhnya. Fugaku masih memasang wajah kerasnya.

"Selamat malam, Tuan. Semoga ini adalah pertemuan terakhir kita," ucap Renji menunjukkan ketidaksudian jika mereka harus dipertemukan kembali.

Mereka—keluarga Sabaku—memilih untuk mengundurkan diri. Meninggalkan sejumlah pertanyaan menggantung pada para undangan yang menyaksiakan 'perdebatan' Sabaku-Uchiha itu.

Sasuke tertegun ketika sosok pirang yang sangat dirindukannya itu perlahan menjauh. Hatinya menjerit memanggil nama Naruto. Tubuhnya membatu. Tidak! Ia tidak mau jika harus kehilangan sosok itu lagi!

"Sasuke!"

Suara dingin itu menghentikan langkah kakinya untuk menyongsong sosok pirangnya. Air wajahnya kembali dingin. Sorot matanya pun kembali redup hingga bola mata itu berwarna hitam kelam.

Hampa…

Hatinya kembali merasa hampa.

Sasuke hanya mampu menatap kepergian Naruto yang perlahan hilang dari bayangan matanya.

.

.


.

.

"Kenapa kau datang dengan penampilan seperti ini? Apa kau ingin membuatku malu di depan banyak orang?" tanya Gaara menginterogerasi putranya.

Renji memalingkan wajahnya. Ia tahu ia salah. "Maaf. Aku tidak akan mengulanginya lagi."

"Apa kau berkelahi? Kau sedang mencoba menjadi sok jagoan, heh?"

Renji yang sedari tadi menyandarkan tubuhnya pada klap mobil, kembali menegakkan tubuhnya. Sorot matanya menatap balik tajam Gaara yang menatapnya penuh mengintimidasi. Ia tidak suka dengan tuduhan ayahnya.

"Aku tidak pernah memulainya!" desis Renji.

Gaara tersenyum remeh, "Apa itu berati kau boleh meladeninya?"

"Jadi kau lebih senang jika anakmu ini diam dipukuli?"

"SUDAH CUKUP!"

Suara Naruto mampu membuat mereka terdiam. Naruto menghela napas, "Tak seharusnya kalian seperti ini…"

Naruto tahu sifat putranya itu. Renji tidak akan pernah membuka mulutnya jika dia tidak mau. Ia bukan tipe orang yang terbuka bahkan pada keluargnya sendiri. Dan itu yang selalu membuat Naruto khawatir. Sedangkan Gaara tentu saja tidak suka sikap tertutup seperti itu.

Satu fakta bahwa kedua laki-laki yang ada dalam keluarganya sama-sama keras kepala.

Si mungil Sabaku hanya diam menonton interaksi antar keluarganya. Gadis kecil itu terlalu takut untuk ikut campur atau pun menyela.

"Siapa yang melakukannya?" pecah Gaara di antara keheningan yang sempat menyelimuti mereka. Dari nada bicara maupun raut wajahnya memang tidak ada yang berubah. Namun dari pertanyaan yang terlotar begitu saja dari mulutnya sudah cukup menunjukkan jika sebenarnya ia peduli pada si sulung.

Renji melirik ayahnya, "Tousan tidak perlu tahu. Aku bisa menyelesaikannya sendiri."

Diam.

Mereka saling pandang.

Gaara menatap tidak suka atas jawaban putranya. Renji terdiam membalas tatapan ayahnya. Sedangkan Naruto saling bergantian menatap Gaara dan Renji yang saling melempar tatapan itu.

Tatap.

Tatap.

Tatap.

Hingga akhirnya mereka—

Huh!

—saling membuang muka. Berhenti saling menatap.

Keringat dingin meluncur turun dari pelipis Naruto.

Kyuubi terkikik geli melihat pemandangan di depannya. Hahahaha… ayah dan kakaknya memang sama saja! Benar kata orang 'Buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya!' itu benar bukan?

.

.


.

.

"SASUKE~" dari kejauhan sosok pirang itu datang menghampirinya.

"Kenapa kau senang sekali berteriak, Dobe?!"

Mendengar seruan itu si pirang tersenyum lebar. "Jadi aku harus memanggilmu seperti apa? Seperti ini? Sasuke~ Sasuke~ Sasuke~" ucap si pirang sambil berbisik-bisik ketika menyebut namanya. Sedikit merasa geli juga jika ia benar-benar memanggil nama temannya itu dengan cara seperti itu.

Sasuke mendengus. Temannya yang satu ini selain pandai merecoki ia juga pandai membuat berbagai alasan.

Berbalik dan memulai melangkah pergi, Sasuke berniat untuk mengabaikan keberadaan si pirang. Namun lama-lama ia merasa aneh juga atas kediaman si pirang di sepanjang perjalanan pulang mereka. Tidak biasanya. Karena si pirang bodoh itu selalu berceloteh panjang lebar. Akhirnya ia memutuskan untuk menoleh dan melihat keadaan si pirang yang tiba-tiba saja aura keberadaanya menghilang di sekitarnya. Padahal tadi ia masih sempat merasakannya.

Alisnya langsung tertaut ketika temannya yang cerewet itu tertinggal jauh darinya. Malahan si pirang itu asyik berjongkok di depan sebuah toko bunga dengan wajah berseri-seri.

"Apa yang sedang kau lakukan, Dobe?" Sasuke datang menghampirinya.

Lagi-lagi 'Si Dobe' ini tersenyum lebar. Ia terlalu biasa mendapat seruan seperti itu dari pemuda raven ini. Walau kadang rasanya kesal juga terus dipanggil 'Dobe' tapi rasanya aneh juga jika Sasuke tidak memanggilnya seperti itu.

"Lihat Sasuke! Bunga ini cantik sekali!" ucapnya tidak lepas memandang bunga mawar yng merekah di depannya.

Kening Sasuke kini berkedut, "Kau seperti perempuan saja, Naruto."

Naruto cemberut, "Memangnya kenapa? Tidak boleh? Lagipula aku suka bunga karena mereka itu unik!"

Sasuke ikut berjongkok di samping Naruto.

"Bunga memiliki berbagai arti dilihat dari warna, bentuk dan besar kecilnya. Lewat bunga kita bisa mengungkapkan perasaan yang sulit kita sampaikan pada seseorang. Seperti bunga mawar ini yang memiliki arti 'Aku mencintaimu' sebagian orang mereka sulit mengungkapkan kata seperti itu. Kurasa bunga sangat cocok untukmu, Teme!"

"Untukku?" Sasuke menatap Naruto seolah berkata 'Yang benar saja!' ia tidak suka bunga yang membuat kebanyakan orang dianggap romantis.

"Iya! Aku yakin, kau belum tentu bisa mengatakan kata cinta pada orang yang kau sukai!"

"Aku tidak punya orang yang kusukai, Dobe!" desis Sasuke.

"Suatu hari kau pasti punya! Tinggal berikan bunga mawar ini, orang itu pasti langsung mengerti apa yang ingin kau sampaikan!" ucap Naruto dengan semangat

"Tapi tidak semua orang tahu dengan arti bunga, bodoh!"

"Ayolah… tapi semua orang tahu arti bunga mawar! Hanya orang bodoh saja yang masih bertanya saat kau memberi bunga itu!"

.

.

Dan Naruto merasa tidak percaya. Matanya berkedip beberapa kali menatap bunga mawar yang ada di depan matanya.

"A—apa maksudmu ini, Sa-Sasuke?"

Sasuke menyodorkannya setangkai mawar?

Apa-apaan ini! Kenapa Sasuke memberinya setangkai mawar padanya? Oke! Ia menyukai bunga tapi seingatnya temannya itu tidak begitu perhatian padanya hingga mau repot-repot membawakannya bunga hanya demi memberinya tumbuhan favorite-nya itu.

Sasuke berdecak. Matanya mendelik ke atas. "Kau bilang 'Hanya orang bodoh saja yang masih bertanya saat aku memberi bunga ini'. Dan kurasa kau benar-benar idiot!"

Naruto termangap-mangap. Ba-bagaimana bisa… Sasuke… dia…

"A—apa kau tidak salah?" Naruto masih tidak cukup yakin dengan maksud pemberian si pemuda raven ini.

"Idiot!"

"TEME!"

Lama-lama Naruto merasakan wajahnya memanas. Tidak menyangka jika ia yang akan mendapat sebuah pernyataan cinta?

Dari Sasuke?

.

.

Semilir angin yang berhembus dingin, Sakura masih terjaga memperhatikan wajah tidur suaminya. Ada segenggam perasaan hangat saat melihat wajah tidur suaminya itu begitu damai. Entah apa yang sedang diimpikannya hingga dapat mengundang seulas senyum tipis di wajah suaminya.

Apa suaminya itu sedang bermimpi indahkah?

.

.


.

.

"Kita akhiri saja semuanya, Naruto."

"Hah!"

Gaara ikut terbangun.

"Ada apa?" tanyanya sambil menghapus jejak peluh yang mengalir deras dari pelipis Naruto. "Mimpi buruk?"

Naruto hanya mampu menatap Gaara. Tak mampu menjawab. Pikirannya terlalu dipenuhi oleh mimipinya. Kenapa tiba-tiba saja ia memimpikan kejadian di masa lalunya itu? Apa ini karena pertemuannya dengan Sasuke dan ayahnya tadi malam?

Naruto hanya pasrah saja saat suaminya itu menarik tubuhnya. Mendekapnya ringan dan kembali membawanya berbaring dengan beralaskan bantalan dada suaminya. Dengan tepukan halus di punggungnya, Gaara melantunkan sebuah lagu pengantar tidur.

Suara yang mendayu-dayu membuat Naruto tergoda untuk kembali memejamkan matanya. Sedikit membenahi letak kepalanya Naruto mulai kembali merasa mengantuk. Dibawah perasaannya yang masih bimbang Naruto berharap tidak akan ada yang merusak kehidupan kecilnya yang saat ini sudah bahagia.

Ia berharap tidak ada bagian masa lalunya yang telah lama ditinggalkannya datang mengusik kehidupannya.

Dan sepenuhnya ia terhanyut bahkan lantunan lagu yang didendangkan oleh suaminya hanya tinggal samar-samar di telinganya…

I want stay like this.

.

.

TBC!

.

.


HOHOHO MINNA! YAN COME BACK! *disumpel sepatu* Mau UTS bukannya ngalapalin malah tulis fic *bener-bener dah* hehehe… fic ini Yan update! Masih ada yang penasaran sama kelanjutan fic ini?

GILA! Fugaku nganggap anak-anak Naruto itu hasil mengadopsi. Padahal gak tahunya… tapi kayanya dia belum tahu. Masih belum percaya dia! Terus! Terus! Ada flashback SasuNaru lewat mimipinya Sasuke~ moga kalian gak kecewa sama scene SasuNarunya.

Terus thanks buat yang udah review di chapter pertama kemarin terima kasih banyak! Yan belum bisa bales review kalian kali ini. Terus yang khawatir masalah pairing tenang aja ini fic SasuNaru jadi mungkin bakal penuh dengan flashback mereka.^^ *biar gak melenceng dari pairing*

Review please?