Naruto © Masashi Kishimoto.

Pairing : SasuNaru, GaaNaru, SasuSaku.

Genre : Drama/Angst/Family.

Rate : T.

Warning : OOC, OC, AU, typo(s), Boy Love, MPREG.

Renji : 15 tahun

Kyuubi : 5 tahun

DON'T LIKE DON'T READ!

PAST © Yanz Namiyukimi-chan.


Di dalam kamar yang bernuansa mewah itu, seseorang terbaring lelap di balik selimut tebal yang memberinya kehangatan. Ruang luas dengan pencahayaan temaram itu hanya berisi kehampaan. Hingga tak lama kemudian kelopak mata itu terbuka. Mata yang berwarna gelap itu menampakkan sinarnya.

"Naruto."

Itulah kata pertama yang terucap dari bibir Sasuke, di saat pagi menyambutnya.

.


.

Sakura, wanita dengan rambut panjang berwarna merah muda itu tampak asyik menata meja makan. Wajahnya langsung sumringah di kala matanya menangkap sosok suaminya memasuki ruang makan dengan pakaian kerjanya.

"O—Ohayou Sasuke-kun."

Sebaik mungkin ia menyapa suaminya. Namun saat itu juga ia menyesalkan pada nada gugup yang dikeluarkannya. Sakura selalu berusaha sebaik mungkin untuk tidak melakukan kesalahan. Ia selalu ingin menyenangkan hati Sasuke.

"Ohayou."

Tersentak, itulah yang Sakura lakukan. Ia tidak pernah menyangka bahwa Sasuke akan membalas ucapan selamat pagi darinya. Karena selama ini Sasuke tak pernah melakukannya. Tidak pernah sama sekali. Sasuke lebih senang mengabaikannya, meski sebanyak apa pun perhatian yang ia berikan.

Sasuke selalu mengabaikannya.

Tapi ia tidak menyerah. Sakura tahu bahwa suatu hari nanti penantiannya pasti ada balasannya. Apa yang ia lakukan tidak akan sia-sia. Dan semua usahanya mulai terlihat buktinya. Pagi ini jadi terasa berbeda. Sakura tahu hal seperti ini bukan sesuatu yang patut dibanggakan dari suara dalam tanpa intonasi milik Sasuke. Tapi hal itu sudah cukup membuat Sakura tidak bisa menahan senyum. Ia merasakan kesenangan luar biasa melandanya.

Sakura segera mengambil piring dan menaruhkan nasi di atasnya. Dengan suka cita menghidangkannya untuk Sasuke.

"Sasuke-kun kau ingin makan dengan apa? Ah, apa kau ingin sup tomat?"

Sasuke hanya menganggukkan kepalanya menerima tawaran Sakura.

Sakura tak henti-hentinya semasang senyum di pagi itu. Melihat suaminya yang mulai menyantap sarapan yang ia hidangkan membuatnya bahagia. Ia merasa bahwa kehidupannya telah lengkap.

.


.

"Kau masih tidak ingin memberitahu Ayahmu dengan siapa kau berkelahi?"

Renji menyantap sarapannya dengan tenang. "Aku sudah mengatakan, aku bisa mengurus diriku sendiri. Otousan tidak perlu khawatir."

"Aku tidak suka sikapmu itu, Renji."

"Aku tahu."

Gaara menatap putra sulungnya itu—berusaha mengintimidasinya. Namun pada kenyatanya putranya itu tidak terpengaruh sedikit pun. Ia tidak punya rasa takut padanya—bukan berarti Renji tidak menghormatinya. Renji cenderung keras kepala dan ia tidak akan mengatakan apa pun jika ia memang tidak ingin mengatakannya. Sifat keras kepalanya membuat Gaara sulit agar Renji mau mengikuti kehendaknya. Gaara peduli pada putra sulungnya itu, tapi entah kenapa ia selalu menolak perhatian yang ia berikan.

Gaara tidak pernah mengerti jalan pikiran putra sulungnya itu.

"Ma, ma, ma... Aku tidak suka kalian ribut di meja makan," lerai Naruto. "Makanlah dengan tenang, ne?"

Mereka pun makan dengan tenang sesuai keinginan Naruto. Naruto hanya tersenyum kecil saat melihatnya.

Selesai sarapan, Kyuubi si gadis cilik itu menenteng tas sekolahnya. Sesampainya ia di depan pintu rumahnya, ia duduk memasang sepatunya di susul oleh kakaknya. Renji bergerak cepat, bergegas menuju mobil ayahnya yang akan mengantar mereka ke sekolah. Namun bukan hal itu yang membuatnya cepat-cepat meninggalkan rumahnya.

"RENJI-NII!"

Melainkan sang adik yang mengamuk akan mengejarnya.

"Renji! Jangan menjahili adikmu!" suara Naruto terdengar sesaat setelah jeritan Kyuubi menggelegar.

Naruto menghela napas mendengar keributan di luar rumahnya dan menyerahkan tas hitam pada suaminya.

"Kami berangkat dulu," ucap Gaara sambil mengusap puncak kepala Naruto. Dan sebuah tarikan di lengan jas hitamnya membuat Gaara kembali berbalik menatap Naruto.

"Kau melupakan sesuatu."

Naruto mengambil satu langkah maju dan memiringkan kepalanya, memberi kecupan kecil di bibir Gaara. Naruto tersenyum manis saat melihat semburat tipis menaungi pipi suaminya.

"Ittekimasu," pamit Gaara langsung menghindari kontak mata dengannya.

"Renji-nii~!"

Dan Kyuubi masih berusaha membalas perbuatan sang kakak yang telah ia lakukan padanya. Tangannya yang pendek mencoba menggapai wajah Renji, namun tampaknya sia-sia karena tangan Renji terus menahannya. Bahkan pandangan matanya saja terhalang karena telapak tangan sang kakak bertengger di wajah kecilnya.

"Mama~" rengeknya saat mata biru itu menangkap sosok ibunya—meminta bantuan.

"Renji... Kaasan sudah bilang jangan menjahili adikmu!" Naruto mencubit sebelah pipinya.

Renji meringis sambil mengusap pipinya, "Makanya jangan punya pipi tembem seperti itu. Jadi minta dicubitin terus 'kan?" Renji melempar seringai mengejek pada adiknya. Sekali lagi ia mencubit pipi Kyuubi dengan gemas hingga sedikit kemerahan.

"PIPI KYUU GAK TEMBEM!" Jeritan gadis kecil itu melengking. Wajahnya cemberut tanda betapa kesalnya dirinya.

Ia tidak suka dengan orang yang bermain dengan pipinya—termasuk sang kakak tercinta. Ia tidak suka dengan pipinya yang gemuk menjadi sasaran orang-orang. Rasanya sakit saat mereka mencubit pipinya. Tapi seolah tidak mengerti, mereka terus saja menyalahgunakan pipinya itu. Persetan dengan sebutan betapa menggemaskan dirinya dengan pipinya yang temben itu. Kyuubi hanya ingin mereka berhenti menyentuh pipinya.

"Berhenti bertengkar," lerai Gaara disusul suara gemuruh halus saat mobilnya dinyalakan.

"Kalian baik-baiklah di sekolah," pesan Naruto pada kedua anaknya itu. Lalu Naruto mencium kening Kyuubi.

"Renji-nii jahat sama Kyuu, Ma~" untuk sesaat ia memeluk Naruto terisak pelan.

"Jangan dipikirkan..." Naruto kembali mencubit pipi Renji, "Lihat Mama sudah memberi pelajaran pada Kakakmu."

"Okaasan..." eluh Renji tidak terima menerima cubitan untuk kedua kalinya.

Kyuubi terkikik geli saat melihat wajah cemberut kakaknya itu, "Arigatou Mama!" Kyuubi menunjukkan wajah cerianya.

"Jangan sampai kena masalah lagi. Apalagi sampai berkelahi, ne?" ucap Naruto sambil mengacak-ngacak rambut si sulung. Renji melirik sosok Naruto sejenak sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya.

"Nah, sebaiknya kalian segera berangkat atau kalian akan terlambat."

"Ittekimasu..." pamit mereka.

"Itterasshai," senyum hangat dan lambaian tangan dari Naruto mengiringi kepergian mereka.

Naruto menghela nafas, keluarga kecilnya telah hilang dari pandangannya. Ia menarik kedua tangannya ke atas—meregangkan otot-otot tangannya yang kaku. Mengurus rumah tangga tidak sesulit seperti kebanyakan orang kira. Apalagi untuk dirinya yang sudah mengurus dirinya sendiri sejak ia kehilangan orangtuanya. Hanya saja akan semakin repot saat ia juga harus mengurus keperluan orang lain juga. Yang Naruto sadari ia tidak lagi hidup sendiri.

Ia mempunyai keluarga sekarang. Yang mencintainya apa adanya. Seburuk apa pun dirinya. Saat menyadarinya itu membuatnya bahagia.

Menikmati angin yang berhembus lembut, Naruto menghirup udara segar di pagi itu. Rasanya memang menyegarkan. Naruto menatap langit cerah di atas kepalanya dan bergumam, "Sepertinya aku akan pergi belanja."

.


.

Lantunan kecil itu mengiringi setiap langkah riang dari Sabaku no Naruto. Kedua tangannya penuh dengan kantung belanja kebutuhan sehari-hari untuk keluarganya. Cuaca yang cerah menambah mood baik di siang hari ini. Langkahnya terhenti saat ia melewati sebuah taman.

Senyum kecil menghiasi bibir Naruto. Ia ingat bahwa taman ini menjadi kunjungan pertamanya saat ia pertama kali menetap di Suna. Selain taman itu mengingatkannya pada kenangan manis yang ia tinggalkan untuk menjalani hidupnya yang baru, taman itu juga menjadi tempat yang sering ia kunjungi untuk menghabiskan waktu bersama Renji saat anak laki-lakinya itu masih balita.

"Dilihat dari manapun taman ini memang seperti taman yang sering kita kunjungi di Konoha."

Naruto tersentak mendengar suara yang datang dari sosok di sampingnya. Ah... bahkan ia tidak sadar sejak kapan sosok itu ada di sana. Tapi yang lebih mengejutkan adalah saat melihat siapa sosok itu sebenarnya. Dan saat itu udara di sekitanya terasa berat. Rasanya sulit bernafas.

"Sa—Sasuke..."

Pria itu tersenyum tipis. Matanya yang sayu itu membalas tatapan terkejut Naruto.

"Hisashiburi, Naruto."

.


.

Tidak pernah terpikirkan ia akan terjebak dalam situasi seperti ini. Membayangkannya saja ia tidak pernah. Ia tidak ingin. Karena Naruto tahu, ia tidak bisa menyikapi bagaimana situasi yang dia hadapi sekarang ini. Ia tidak tahu harus membawa alur situasi ini ke arah mana agar tetap berada dalam kontrolnya.

Sasuke menatap langit biru cerah yang terbentang luas di angkasa. Langit yang selalu mengingatkannya pada warna mata Naruto—orang yang dicintainya. Rasanya seperti mimpi, saat ia bisa bertemu kembali dengan orang yang dikasihinya itu. Tapi ia tahu, ini nyata bukan mimpi. Ia bisa merasakan aura kehadiran Naruto di sisinya, tidak seperti yang biasa ia rasakan. Meski ia melihat bayangan Naruto, rasanya hampa saat ia berada di dekatnya.

Aura kehangatan yang menguar di sisinya meyakinkan Sasuke bahwa sosok itu nyata. Meski suasana canggung hadir di antara mereka, tidak memungkiri perasaan nyata yang di hatinya. Perasaan itu membuncah di dadanya. Rasa rindu yang sejak lama menumpuk, tidak dipungkiri bahwa ia sangat merindukan Naruto.

Ia rindu sosok itu yang telah mewarnai kehidupannya. Ia ingin menyentuhnya. Ia ingin menunjukan betapa rindunya ia pada Naruto. Bahwa sosok itu tidak hilang dari pikirannya. Bahwa Naruto selalu mengisi hatinya. Ia ingin menunjukan betapa berartinya Naruto bagi hidupnya.

Tapi sisi lain berbisik padanya. Ia tidak boleh bertindak tanpa pikir mengikuti hatinya. Tidak boleh melakukan kesalahan yang membuat Naruto kembali meninggalkannya. Ia tahu bahwa hidup mereka berada di jalur yang berbeda sekarang. Ia tidak ingin melanggar batas yang telah dibuat.

Setidaknya, belum. Tidak untuk saat ini.

"Bagaimana kabarmu?"

"Ba—baik."

Sasuke tidak bisa menahan senyum saat mendengar suara itu merasuki gendang telinganya. Meski terdengar kaku dan memaksakan, tak membuat Sasuke mengindahkan riak aneh di punggungnya saat suara itu.

Suara Naruto. Suara yang telah hilang sekian lama dari hidupnya.

"Souka, senang bisa mendengarnya. Tapi kau tidak terlihat senang bertemu denganku, Naruto."

Tubuh Naruto menegang. Nada lembut saat namanya disebut oleh Sasuke memberikan sensasi dingin di perutnya. Naruto semakin tidak nyaman berada di dekat Sasuke.

Sasuke bisa melihat gelagat itu. Ia bisa merasakan kegelisahan Naruto yang seakan menjadi-jadi. Tiba-tiba Sasuke merasa takut.

"Naru—"

"Ba—bagaimana denganmu dan ... keluargamu? A—aku dengar kau sudah menikah dan mempunyai anak," Naruto memasang senyum memaksakan dan memberanikan diri menatap Sasuke. Ia harus segera mengakhirinya.

Ia harus segera pergi dan mengakhiri semua ini. Tapi bagaimana caranya?

"Baik. Aku sudah menikah dan mempunyai satu anak perempuan."

Entah kenapa saat itu cara bicara Sasuke menjadi dingin.

"Ha—ha... itu bagus. Apa yang aku lakukan di Suna? Bisniskah?" Naruto kembali mengalihkan matanya. Ia harus santai.

"Hn."

"Oh... Berapa lama?"

"Seminggu dan aku berencana untuk menetap di sini."

Ia tidak meyukainya.

"Souka..."

Terdiam Sasuke terus menatap Naruto. Sosok itu tak lepas dari matanya yang berwarna gelap.

"Naruto."

"Kenapa tiba-tiba kau memilih pindah ke sini?" sayang bagi Naruto ia tak memperhatikan perubahan yang terjadi pada Sasuke.

"Naruto."

"Ah, Sasuke! Apa kau tidak kerja hari ini?"

"Naruto!" Sasuke meraih tangan Naruto dan memaksanya menatap balik padanya. "Berhenti bicara omong kosong!"

Ia tidak suka melihat Naruto yang berpura-pura di depannya. Ia tidak suka saat Naruto memakai topeng untuk menutupi sesuatu darinya. Ada sesuatu yang salah. Ia bukan Naruto. Naruto yang ia kenal adalah sosok yang polos dan jujur. Ia tidak suka. Ia ingin sosok Naruto yang dulu.

Naruto yang selalu tersenyum hangat menyapanya.

Naruto yang senantiasa mengganggunya.

Naruto yang menatap penuh kasih.

Naruto yang senantiasa mencintainya.

Ia tidak pernah lupa sosok itu. Ia ingin Naruto-nya kembali.

Naruto tersentak saat tatapan itu memenuhi pandangannya. Bola mata sekelam malam itu seolah menariknya begitu dalam. Menariknya seolah ingin memenjarakannya. Mata yang memancarkan setiap emosi yang dimiliki sang pemilik.

Naruto tak ingin menatapnya. Ia ingin menghindari tatapan itu. Jika tidak, ia akan tahu bagaimana perasaan Sasuke untuknya. Tatapan itu, tatapan yang selalu bisa meluluhkan hatinya.

"Sasuke..."

"Naruto kau harus tahu—"

Ia tidak mau mendengarnya.

"—aku selalu mencintaimu."

Perasaan yang berusaha ia ungkapan padanya.

"Hentikan!"

"Aku tidak pernah berhenti mencintaimu."

"Lepaskan aku!" Naruto berusaha menarik diri. Ia ingin menjauh dari Sasuke. Ia tidak bisa terus berada di dekatnya. Pegangan Sasuke semakin keras pada tangan Naruto. Kenapa? Kenapa Sasuke begitu keras menahannya?

Dulu dia tidak seperti ini. Ia melepaskannya dengan mudah. Itulah kenapa ia berada di sini. Karena Sasuke telah melepasnya. Karena ia tidak berusaha keras untuk menahannya. Tapi kenapa sekarang ia begitu keras menahannya?

"Perasaanku tidak pernah berubah!"

Ia tidak ingin jatuh lebih dari ini. Ia tidak ingin kembali pada masa lalu yang ia tinggalkan. Sudah cukup!

"Naru—"

"HENTIKAN!"

Senyap.

Keduanya terdiam. Tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing. Mengendalikan emosi yang saling menggelora seolah ingin menelan mereka.

"Hentikan. Aku tidak ingin mendengarnya lagi, Sasuke..." bisik Naruto. Suara parau itu seolah menyadarkannya. Perlahan Sasuke melepaskan cengkramannya. Lengannya terkulai lemas di sisi tubuhnya. Tubuhnya seakan lumpuh.

Naruto...

Naruto menolak perasaannya. Perasaan yang tidak pernah mudah baginya untuk ia curahkan. Apa Naruto sudah tidak mengenalinya lagi? Itu kenapa ia tidak mengerti. Apa Naruto lupa bahwa ia begitu sulit untuk mengakui perasaannya?

Naruto mengambil langkah mundur, menjauh dari Sasuke. Saat itu Sasuke tahu bahwa Naruto akan kembali meninggalkannya. Ia ingin menahannya. Ia ingin menarik Naruto kepelukannya. Naruto tidak bisa meninggalkanya begitu saja. Tapi seolah tubuhnya ada di dimensi lain, ia tidak bisa bergerak.

Ia mencintai Naruto. Perasannya masih sama seperti dulu. Perasaannya tidak pernah berubah. Itu kenyataan yang harus Naruto tahu. Tapi kenapa Naruto menolak perasaannya?

"Sasuke aku tidak bisa menerima perasaanmu," sulit bagi Naruto untuk mengungkapkannya. "Kita telah memilih jalan yang berbeda."

Rasanya sakit untuk menerima kenyataan pahit.

"Kita tidak bisa kembali seperti dulu. Aku minta maaf. Kumohon jangan ganggu kehidupanku."

Semuanya tidak sama lagi. Semua tidak bisa kembali seperti dulu. Semua telah berakhir 15 tahun yang lalu, saat Sasuke telah memilih untuk melepaskannya. Ia tidak boleh mengharapkan apa pun dari masa lalunya. Ia tidak boleh berandai-andai. Karena mereka telah memutuskan ikatan ini. Mereka telah mengambil jalan kehidupan masing-masing.

"Kau masih mencintaiku 'kan, Naruto?" bisikan itu penuh kepedihan saat ia melewati sosok mematung Sasuke. Namun ia mengabaikannya. Naruto terus berjalan ke depan tanpa melihat ke belakang penuh kemantapan.

"Kau masih mencintaiku sama seperti aku mencintaimu bukan?"

Hanya desiran angin mengelilingi Sasuke, seolah menjawab pertanyaannya yang membutuhkan kepastian. Sasuke tahu tak seharusnya ia melempar pertanyaan seperti itu. Karena ia tahu apa jawabannya.

"Aku tahu kau masih mencintaiku Naruto. Aku mengenalmu lebih dari siapa pun."

Ia tahu. Lewat matanya, Sasuke tahu bahwa Naruto memiliki perasaan sama sepertinya.

Ring! Riing!

Ponsel Sasuke telah berdering. Ia merogoh saku celananya, mengangkat telepon itu dan menempelkan di telinganya. Ia tidak mengeluarkan sepetah kata apa pun, tapi seolah tahu teleponnya telah diangkat seseorang telah bersahut.

"Sasuke-sama Anda ada dimana? Fugaku-sama mencari Anda dan beliau marah saat mengetahui Anda tak kunjung tiba di kantor. Sasuke—"

Sasuke memutus telepon itu. Ahh... Dadanya tiba-tiba terasa sempit. Ia merasa sulit untuk bernafas. Untuk sekian lama kenapa orang itu selalu mengganggu hidupnya. Ia benci hidupnya. Ia benci orang itu yang selalu mengatur hidupnya.

Ia benci Uchiha Fugaku yang telah merusak hidupnya.


.

TBC atau mau Owari aja?

.


Ficnya bisa Yan anggap selesai sampai sini loh XD Walau endingnya jauh dari yang Yan harepin tapi Yan bisa bikin ini jadi ending dari fic "PAST" ini. Tapi gimana tanggepan kalian dulu aja deh *seolah itu bakalan berpengauh* XD

Selain itu, Maaf sebesar-besarnya. Yan updatenya lelet banget. Tadinya mau update minggu kemarin tapi gak jadi karena harus pergi ke Sumedang. Yan juga gak nyangka klo fic ini dapet review terus padahal fic ini udah lama banget. Ya, udah deh sampai di sini aja semoga kalian puas dengan chapter yang satu ini^^

Waktunya balas review...

aiska hime-chan, Dee, yunaucii, Guest, Amach cuka'tomat-jeruk, dessy fajar, ca kun, sea07, : Iya ini udah update. Thanks udah review^^ Maaf lama updatenya ya?

My Name Is Kuzumaki : Gaara gak tahu kalau Naruto punya hubungan sama FugaSasu. Naruto belum cerita sama Gaara.

Nayuya : *nyengir* Yan juga tahu klo Yan tuh lelet banget updatenya #ditampol Arigatou udah jadiin Yan author fav kamu^^ em... klo soal fic yang lain gimana nanti aja ya? *ngacir*

kanon1010, , haruna aoi, shin hyo neul, lovenarusaku : kejam nih! Kok malah mangkir dari SasuNaru T^T Tapi gimana liat nanti aja deh! *smirk*

Namikaze lin-chan, Kutoka Mekuto, laila. r. mubarok, widi orihara, gothiclolita89, Yamashita Kumiko : Renji anak siapa ya? Yan juga bingung #plak Kayaknya udah pada tahu Renji anak siapa. Tapi masalahnya gimana tanggapan Renji nanti setelah ia tahu^^

Gunchan CacuNalu Polepel : Yan Gun, kok dilema? Endingnya Naruto sama siapa 'kan gak bakal beda buat kamu Gun, kan kamu suka dua-duanya XD Sakura gak mandul. Sasuke udah bilang klo dia punya anak perempuan *please jangan kecewa

Richan : Seiringnya cerita bakalan ketahuan kenapa Fugaku benci sama Naruto^^

uchiha cucHan clyne : Iya dong Renji harus keren. Secara kan Yan suka cowok keren #plak Hahahaha... gak tahu^^ Yan juga mikirnya gitu. Sasuke emang nyebelin seenaknya, tapi Yan gak bisa benci sama dia^^

miao-chan2 : Hahaha... Iya ditunggu aja Sasuke vs Gaara nanti^^

tsunayoshi yuzuru : Ini kan main pairingnya SasuNaru jadi wajar kan klo Sasuke muncul 0.0

Ayuni Yukinojo : Sakura istrinya Sasuke^^ *please jangan tindas Yan

LaylaAzkia : Yeee kok galau? Sayang banget Yan gak bikin Sakura mandul. Kasian dicerita ini dia udah menderita *plak sok baik

Piringgg, erunaru. chan : Ne, kenapa malah nepsong sama adegan GaaNaru-nya? Yan kan bikin fic SasuNaru T^T

Thanks kalian udah review fic ini. Yan sangat menghargainya^^
eh, Na *alias eru* Kak Yan ganti cover fic ini sama si Kyuu buatan kamu. Makasih udah gambarin, Kak Yan suka^^ *nebarkissu*

.

Salam hangat Yanz Namiyukimi-chan