Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto.

Genre : Romance, Hurt/Comfort

Pairing : SasuNaru, GaaNaru, SasuSaku.

Genre : Drama/Angst/Family.

Rate : T.

Warning : OOC, OC, AU, typo(s), Boy Love, MPREG.

Renji : 15 tahun.

Kyuubi : 5 tahun.

DONT LIKE DONT READ!

PAST © Yanz Namiyukimi-chan.

.


.

Sasuke menatap pantulan bayangan dirinya di cermin. Menatap sosok dirinya yang tampak begitu kuyu. Ia tampak begitu menyedihkan. Sungguh ia merasa begitu kasihan pada sosok yang ada di depannya itu. Wajah pucatnya tampak pasi, mata kelamnya menatap kosong seperti telah kehilangan jiwanya. Dia sudah tampak seperti boneka—benda yang tidak memiliki aura kehidupan.

Ah… sosoknya itu memang sebuah boneka. Boneka yang dibesarkan oleh seorang Uchiha Fugaku—ayahnya sendiri. Kenyataan itu… kenapa bisa ia lupakan? Ya, tentu saja ia ingin melupakannya. Kenyataan itu membuatnya telah kehilangan orang yang dicintainya. Kenyataan itu membuatnya membenci ayahnya sendiri.

Pandangan sang Uchiha jatuh pada sudut wastafel. Menatap lekat pada mainan karet yang menyerupai bebek. Sebuah mainan bebek karet yang lucu, berwarna kuning dengan moncongnya berwarna orange.

"Sasuke! Ini buatmu!"

"Apa-apaan kau, Dobe? Aku tidak butuh benda seperti itu!"

"Heeehh? Tapi ini lucu! Cocok buat Sasuke yang tidak ada lucu-lucunya sama sekali. Biar Sasuke jadi agak menggemaskan, hehhehe…"

Mata Sasuke kini tampak hidup. Putaran emosi tergambar jelas di matanya ketika bayangan dari masalalu kembali muncul diingatannya. Hanya hal-hal yang berkaitan dengan Naruto selalu membuatnya seperti ini. Begitu banyak kenangan yang telah mereka ciptakan. Kenangan yang selalu membuatnya terbuai. Kenangan yang membuatnya berandai-andai.

Telah banyak hal yang mereka lakukan. Telah banyak hal yang mereka lalui. Dan sepanjang ingatannya, senyum ceria Naruto-lah yang selalu menemaninya selama ini.

"Naruto…"

Apa kau dengar itu Naruto? Hanya memanggil namamu saja, apa kau bisa mendengar kerinduan itu di dalamnya?

Sasuke begitu putus asa. Ia begitu merindukan sosok pirang yang telah hilang selama 15 tahun dalam hidupnya. Ia ingat masa-masa dimana dekapan hangat yang selalu membuatnya merasa tentram ada untuknya. Ia rindu senyum ceria yang ikut mencerahkan harinya. Ia rindu kecupan manis yang saling mereka bagi.

Sasuke begitu merindukan Naruto. Ia begitu haus akan kehadiran sosok pirang di sisinya. Karena ia tahu hanya Naruto yang bisa membuatnya bahagia. Hanya Naruto yang bisa merubah dunianya.

Hanya Naruto.

Itu hanya Naruto seorang.

"Sasuke~"

"TEME!"

"Sa—su—ke."

"Sasuke."

"Ah!" Sasuke menyentuh dadanya.

Kenapa? Kenapa rasanya begitu sesak?

Kenapa? Bahkan untuk bernapas rasanya begitu sulit.

Kenapa kenyataan ini begitu menyakitkan?

Perlahan tubuh Sasuke mulai merosot tak sanggup lagi untuk berdiri. Perlahan pandangannya mulai mengabur.

.


.

"Dia baik-baik saja," ujar Tsunade yang merupakan dokter pribadi keluarga Uchiha. Ia telah memeriksa keadaan Sasuke yang ditemukan tumbang. "Hanya pastikan dia istirahat dengan baik dan tolong jangan terlalu memberikannya banyak tekanan."

"Tsunade-sensei... apa benar Sasuke-kun tidak apa-apa? Akhir-akhir ini dia sering tumbang. Apa itu tidak aneh?" tanya Sakura mengutarakan kekhawatirannya akan keadaan kesehatan suaminya.

"Dia hanya kelelahan. Kau tahu Sasuke adalah seorang pemimpin perusahaan besar, pasti banyak yang harus dia kerjakan. Maka dari itu tolong perhatikan pola makan dan jam tidurnya dengan baik."

Meski sang dokter telah menjelaskannya dengan baik, entah kenapa hal itu tidak bisa mengurangi rasa kekhawatiran Sakura.

"Ini Vitamin, pastikan dia meminumnya."

"Hai!"

Setelah kepergian sang dokter Sakura menghampiri sosok Sasuke yang kini terbaring di kasurnya, mendudukkan diri di tepi kasur sambil menatap wajah sang suami tercinta. Ditatapnya lekat-lekat paras pucat itu, begitu banyak kepedihan yang terukir di sana.

Meski suaminya tidak pernah menceritakan apapun, tapi Sakura bisa merasakan dengan jelas kepedihan mendalam yang dialami suaminya. Sasuke begitu tertutup. Ia selalu menenggelamkan dirinya dengan pekerjaan. Membatasi dirinya dengan dunia luar. Sakura tidak tahu apa yang telah Sasuke alami, tapi… Sakura ingin tahu! Ia ingin memahaminya. Apa yang ada dipikirannya, apa yang ia rasakan…

Karena itu… ia ingin memahami Sasuke!

Kenapa? Kenapa kau tampak begitu menderita, Sasuke!

"Sebenarnya… apa yang membuatmu seperti ini?"

.


.

Flashback.

Deg! Deg! Deg! Deg!

Astaga… jantungnya berdetak begitu keras dan terus bertalu-talu. Tanpa sadar ia telah menahan napasnya. Sakura telah begitu terpesona dengan sosok lelaki itu. Kulitnya yang putih, rambutnya yang hitam pekat dan auranya yang terus meminta perhatian. Dan saat melihat parasnya, sungguh membuat hidungnya kempas-kempis.

"Ah… Ini benar-benar gawat! Aku tidak bisa mengalihkan perhatianku! Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan?"

Sakura sudah merasa sangat penasaran dengan laki-laki yang akan dijodohkan dengannya. Ia telah memiliki photonya dan telah memiliki makan malam bersama dengan keluarga mereka. Tapi karena itulah Sakura menjadi tak sabaran ingin bertemu lagi dengan Sasuke. Ia telah jatuh cinta pada pandangan pertama...

Ketika ia menerima photo itu, Sakura merasa bahwa telah menemukan pangerannya. Belahan jiwanya… setengah hatinya… seseorang yang akan menjadi pelengkap hidupnya!

Jadi… di sinilah dia! Haruno Sakura dengan gagah berani menyusup masuk ke SMA Konoha tempat sang pangeran berada!

"Ahh… ahhh… dia bahkan lebih tampan dari yang ada di photo…"

"Sasuke! Kau marah ya?"

Souka? Sejak tadi ada yang terus mengganggu pikiran Sakura. Lelaki yang sedang bersama Sasuke itu… siapa ya?

"Aku minta maaf, ya? Aku traktir ramen deh!"

"Itu sih keenakan di kamu, Dobe!" Sasuke mendengus mendengar tawaran si pirang.

"Ehh?! Terus kamu maunya apa?"

Siapa laki-laki yang terus merajuk di samping Sasuke itu? Sakura agak penasaran. Terus… nampaknya dia yang telah membuat Sasuke cemberut sedari tadi.

"Kawaiii~" pikir Sakura tanpa sadar saat melihat paras si lelaki berambut pirang yang ternyata berparas manis. "Aduhh… jangan pasang wajah kecewa begitu…" Sakura merasa semakin gemas melihat wajah si pirang yang nampak kecewa karena tawarannya telah ditolak.

"Aku mau jus tomat. Dua!" seru Sasuke sambil mengacungkan dua jarinya. Dan apa-apaan dengan wajahnya yang serius begitu.

"Eh? Kenapa harus dua?" si pirang jelas merasa heran. Tapi…"Kau benar-benar maniak tomat ya, Sasuke…" harusnya ia tidak perlu merasa heran mengingat betapa sukanya pemuda raven itu dengan tomat.

"Satu untukku. Satu untukmu."

"EHH?! Untukku? Kenapa repot-repot sih! Kau tahu aku tidak suka tomat!" si pirang langsung menolak dengan keras.

"Umm… begitu ya? Tapi bukankah kau ingin menebus kesalahanmu, Na—ru—to?" seketika Naruto tampak pucat.

Bahaya… ia dalam bahaya! Naruto melihat kilatan aneh di mata Sasuke. Sialan… Naruto benar-benar memiliki firasat buruk tentang ini. Ditambah lagi seringai itu… seperti mengatakan sesuatu yang lain. Perasaan ini sungguh membuat Naruto merinding.

"Sasuke tidak akan memaksaku melakukan hal itu kan? Tidak! Tidak! Dia tidak akan setega itu kan?" Naruto benar-benar merasa sangat was-was.

Naruto sangat benci dengan tomat!

Seingatnya dari dulu ia memang tidak terlalu suka dengan tomat. Tapi karena beberapa alasan, sampai saat ini ia sangat tidak menyukai sayuran berwarna merah itu. Dan entah kenapa semakin lama ia menatap Sasuke, ancaman itu terasa semakin intens saja.

"YAK! TEME! TOLONG JANGAN HUKUM AKU SEPERTI ITU!"

Dari kejauhan Sakura hanya bisa berkedip-kedip melihat interaksi keduanya. Diantara semilir angin yang berhembus, Sakura merasakan sesuatu yang aneh menghampirinya. Entah kenapa melihat interaksi Sasuke dengan anak laki-laki pirang itu terasa begitu mengganggu. Bahwa mereka memiliki sesuatu yang tidak bisa dimilikinya.

Sesuatu yang tidak bisa ditembus olehnya.

Namun, Sakura tidak bisa menutupi bahwa pemandangan yang ada di hadapannya itu begitu menarik perhatiannya. Ia tidak bisa mengalihkan perhatiannya.

"Haha! Hahaha! Naruto! Kau manis sekali kalau sudah seperti itu!"

DEG!

Ah… Sakura merasa bahwa ia telah ditarik ke dunia lain. Apa yang sedang dilihatnya saat ini adalah sebuah pemandangan indah. Angin yang berhembus saat ini seolah menjadi harmoni yang mengiringi tawa Sasuke.

Ini pertama kalinya Sakura melihat ekspresi Sasuke seperti itu.

"Teme! Beraninya kau menggodaku seperti itu!"

Ternyata pemuda raven itu bisa memasang wajah seperti itu… Ini benar-benar berbeda dengan pertemuan mereka sebelumnya di meja makan keluarga Uchiha. Tampang bosan dan tidak tertarik sama sekali. Ekspresinya saat ini… benar-benar jauh berbeda.

"Kami-sama sepertinya aku benar-benar telah jatuh cinta."

Flashback end.

.


.

"Sasuke… apa yang telah terjadi? Apa yang membuatmu seperti ini?"

Hanya keheningan yang telah menjawab kegusaran yang dialami Sakura. Dan itu sungguh membuatnya frustasi.

.


.

17 tahun yang lalu.

Sasuke menapaki kakinya di trotoar, ia dalam perjalanan menuju sekolahnya. Disepanjang jalan ia telah menatap langit cerah yang terbentang di atas kepalanya. Ini adalah awal musim semi dan langit tampak benar-benar cerah. Bunga sakura pun mulai bermekaran menghiasi sepanjang jalan. Semilir angin yang berhembus terasa begitu sejuk.

Awal musim ini, Sasuke telah memasuki tahun keduanya di SMA dan Sasuke tak mengharapkan perubahan apapun di tahun keduanya ini.

"Ohayou, Naruto!"

"Ohayou!"

"Naruto Ohayou!"

Dalam sekejap mata Sasuke terpaku pada sosok pirang ceria yang berjalan bersama teman-temannya—tidak jauh dari hadapannya. Entah kenapa untuk beberapa alasan, sosok pirang itu selalu menjadi pusat perhatian. Mereka berbondong-bondong ingin menjadi temannya. Sikapnya yang ramah membuatnya terlihat tidak pilih-pilih dalam berteman. Selain itu… di sekitar pirang selalu ada aura keceriaan.

Untuk sesaat mata mereka bertemu pandang. Sasuke terpaku pada manik biru cerah yang saat ini menatapnya langsung.

"Ohayou…" dengan senyum manis Naruto menyapanya.

"Oha—"

"Naruto! Apa sepulang sekolah ada acara?"

"Eh? Tidak ada."

"Gimana pulang sekolah nanti, kita pergi ke tempat karoke yuk!"

"Ah… boleh! Boleh!"

Ah… ia bahkan belum sempat membalas sapaan si pirang, tapi orang-orang itu sudah menarik perhatiannya. Emang siapa yang peduli? Lagipula Sasuke jarang membalas sapaan selamat pagi orang-orang padanya. Jika dipikir-pikir Sasuke seperti itu. Ia selalu mengabaikan orang-orang di sekitarnya. Tapi ketika berhubungan dengan Naruto, ia tidak bisa mengabaikannya begitu saja.

Sasuke selalu ingin menjadi orang yang dekat dengan Naruto.

Sasuke menghembuskan napas lega, tanpa sadar ia telah merasa tegang saat ia sadar Naruto telah menyapanya. Matanya kembali mengamati si pirang yang semakin jauh dari pandangannya. Sasuke tidak bisa mengabaikan bahwa jantungnya telah berdetak antusias.

Mungkin… mungkin Sasuke boleh sedikit berharap akan perubahan di tahun keduanya ini.

Sasuke berharap ia bisa mengenal dan menjadi orang yang dekat dengan Uzumaki Naruto.

.


.

Pada tahun pertama, Sasuke dan Naruto tidak saling mengenal satu sama lain. Mereka berada di kelas yang berbeda, tapi selain itu, karena gaya hidup Sasuke yang suka menyendiri dan Naruto yang hanya peduli dengan orang-orang di sekitarnya, membuat mereka tidak ada kesempatan berinteraksi satu sama lain. Namun di akhir semester kedua, sesuatu hal telah mempertemukan kedua pemuda ini. Membawa awal cerita baru di antara mereka.

Sasuke adalah seorang penyendiri dan ia nyaman seperti itu. Karena sikap anti-sosialnya membuat teman-temannya menganggapnya aneh. Sasuke tidak keberatan akan hal itu. Selama ketenangannya tidak diganggu, Sasuke tidak peduli dengan apa yang dikatakan orang-orang di sekitarnya. Namun tak bisa dipungkiri bahwa parasnya yang tampan telah menarik banyak minat para gadis. Sikapnya yang tenang sering kali dianggap keren. Hal itulah membuat Sasuke terkenal dikalangan anak perempuan di sekolahnya.

Saat itu, gurunya telah meminta tolong pada Sasuke dan di sanalah awal pertemuannya dengan Uzumaki Naruto—di sebuah perpustakaan tua yang ternyata memiliki nasib yang sama dengannya. Naruto tidak berbeda dengan yang lainnya. Kesan pertama anak pirang itu yang didapat dari Sasuke adalah aneh. Si pirang bahkan sempat menertawakan sikap anehnya itu.

Sasuke tidak menyalahkan pemikiran itu. Lagipula mereka memiliki sifat yang berlawanan. Naruto anak yang periang dan Sasuke anak yang pendiam. Mereka benar-benar berbeda. Tapi Sasuke merasakan sesuatu yang lain kali ini. Biasanya Sasuke akan merasa terganggu ketika ada orang yang mencoba mendekatinya. Bahkan Sasuke tidak merasa tersinggung ketika Naruto jelas-jelas menertawakan sikap anehnya. Entah kenapa Naruto sedang menertawakan sesuatu yang lain.

"Ayo kita berteman!"

Sasuke terkejut saat mendengarnya. Setelah puas menertawakannya, lelaki pirang itu tiba-tiba menawarkan pertemanan dengan senyum hangat nan riang. Saat itu juga Sasuke telah memandang Naruto sebagai orang aneh. Meskipun Sasuke telah menganggapnya seperti itu, ia tidak bisa memungkiri bahwa ia merasa tertarik dengan anak berambut pirang itu.

Sejak saat itu… Sasuke selalu memperhatikannya…

.


.

Sasuke telah duduk di bangkunya sejak 15 menit yang lalu. Di tahun kedua ini, Sasuke menerka-nerka dimana kelas Naruto tahun ini. Ia berharap tahun ini mereka bisa berbagi kelas yang sama.

"Naruto! Sepertinya tahun ini kita sekelas lagi!"

"Hahaha… iya!"

"Naruto, ayo duduk di sini! Bangkunya kosong kok."

"Sankyuu… kalau begitu aku duduk di sini ya."

Seperti biasa si pirang langsung dikerumuni oleh orang-orang di sekelilingnya. Sikap ramah Naruto membuat orang di sekitarnya tanpa ragu mendekatinya.

"Sepertinya tahun ini kita sekelas, dattebayo!"

Sasuke benar-benar merasa terkejut saat Naruto tiba-tiba berkata seperti itu dengan sukacita padanya. Ah~ rasanya jantungnya nyaris copot tadi.

"Karena tahun ini ada Naruto di kelas ini, pasti akan ada banyak hal yang menyenangkan!"

"Pasti dong!"

"Nani sore? Kedengarannya seperti rencana pembullyan, dattebayo."

"Hahha! Naruto! Kau ada-ada saja!" mereka tertawa menanggapi komentar si pirang yang kini sedang cemberut tampak lucu.

Tadi itu benar-benar bikin kaget saja. Tiba-tiba berbicara seperti itu padanya. Tapi hal memalukan yang telah Sasuke sadari adalah ia telah memperhatikan Naruto secara terang-terangan bahkan tanpa disadarinya. Rasanya Sasuke tidak akan sanggup bersitatap dalam jangka waktu dekat dengan Naruto karena terlalu malu.

Tapi… tahun ini ia sekelas dengan Naruto. Ia akan menghabiskan tahun keduanya ini dengan pemuda pirang itu. Dengan Naruto yang saat ini sedang duduk di samping bangkunya. Saat menyadari hal itu, Sasuke tahu bahwa perasaannya selama ini yang ia rasakan, saat ini semakin tumbuh berkembang.

.


.

Semua orang tahu bahwa sosok Uzumaki Naruto adalah seorang anak yang ceria. Pribadinya yang hangat membuat siapapun ingin mengenalnya. Sejak pertemuan pertama mereka di perpustakaan, tak ada yang banyak berubah dalam kesehariannya di sekolah kecuali si pirang yang akan menyapanya di setiap kesempatan yang ada.

Sasuke pernah mencoba untuk dekat dengan Naruto, namun seolah tak diizinkan, si pirang selalu di bawa lari darinya. Naruto mempunyai banyak teman yang selalu mencari perhatiannya dan itu sulit bagi Sasuke untuk mendekati Naruto kecuali Sasuke mau berbaur dengan teman-teman si pirang.

Sasuke tidak mudah berbaur dengan orang-orang, maka dari itu Sasuke tidak memaksakan diri untuk mendekati Naruto. Namun saat di perpustakaan, hal itu benar-benar berbeda. Saat hanya ada mereka berdua, mereka benar-benar saling berbicara banyak hal. Tapi hal itu tidak cukup membuat Sasuke mengenal bagaimana sosok Naruto.

Dan ketika hal itu datang, Sasuke telah menemukan sisi kekanak-kanakan Naruto. Ternyata dia agak keras kepala dan juga polos. Tak ayal karenanya, teman-teman Naruto sering menggodanya. Dan sekarang ini menjadi salah satu hobi Sasuke—menggoda sosok Uzumaki Naruto.

.


.

"Nani?" tanya Sasuke sambil melirik sosok pirang yang ada di sampingnya. Kadang Naruto memang suka memperhatikannya dalam diam—meneliti sosok sang Uchiha. Sikap terang-terangannya itu sering kali membuat Sasuke gugup.

"Wajahmu kaku, Teme." seru Naruto dengan ekspresi tak berarti. Sasuke mengernyit menatap Naruto dan kemudian memilih untuk mengabaikan anak pirang itu.

"Hn."

Sasuke mencoba kembali untuk fokus pada buku yang sedang dibacanya. Wajahnya kaku? Dari dulu wajahnya memang sudah seperti ini, pikir Sasuke. Namun sepertinya, niatnya untuk mengabaikan si pirang di sampingnya tidak berhasil. Karena orang ini menarik perhatiannya dengan cara agak mengejutkan bagi Sasuke.

Sebelah tangan Naruto telah menyentuh pipinya. Perasaan hangat langsung menjalar ke seluruh tubuh Sasuke dan disusul dengan kehangatan tangan lainnya. Sasuke terpaku di tempat, sosoknya tercermin di bola mata biru Naruto dengan jelas. Untuk pertama kalinya Sasuke baru menyadarinya bahwa Naruto memiliki mata yang begitu bening.

Deg! Deg! Deg!

Astaga detak jantungnya berdetak kencang. Apa mungkin Naruto bisa mendengarnya? Tidak kan? Sasuke berharap Naruto tidak memiliki pendengaran yang begitu tajam. Karena itu akan sangat memalukan. Dalam situasi seperti ini, apa yang harus dilakukan Sasuke? Sasuke benar-benar bingung. Ditambah ekspresi Naruto saat ini sulit diartikan.

Ya, ampun! Hembusan napas Naruto menerpa wajahnya. Lama-lama ia bisa mati di tempat jika terus seperti ini. Lagipula—TARIKKK~

"Apa yang kau lakukan Naruto!" bentak Sasuke cukup keras setelah mendapat tarikan di kedua pipinya. Sasuke mendelik kesal ke arah Naruto, sadar bahwa ia telah menjadi korban dari aksi si pirang.

"Saa~" dengan cuek Naruto mengangkat kedua bahunya. "Aku kan sudah bilang wajahmu itu kaku Sasuke. Aku hanya ingin membantu."

"Membantu apanya?" Sasuke benar-benar tak habis pikir, kenapa ia bisa tahan di dekat Naruto dan memiliki perasaan untuknya. Sedangkan si pirang itu ada saja kelakuannya untuk bisa membuat Sasuke jengkel.

"Cobalah tersenyum…" Naruto menaruh kedua jari telunjuknya di susut-sudut bibirnya dan memberikan tarikan ke atas sehingga mulutnya tampak melengkung.

Sasuke yang melihat itu mendengus, "Tidak mau."

"Eehh? Ayolah Sasuke~" ucap Naruto memelas. "Senyum…"

"Tidak mau."

"Ayo Sasuke, sedikit… saja."

Sasuke meraih pergelangan tangan Naruto sebelum tangan itu kembali untuk bermain-main di wajahnya. "Kenapa kau begitu memaksa, Dobe?"

"Habisnya aku belum pernah melihatmu tersenyum, dattebayo!" Naruto bersidekap sambil cemberut menatap Sasuke. "Lagipula, kenapa banyak sekali perempuan yang suka padamu? Padahal mukamu datar kayak tembok gitu. Jadi aku pikir pasti ada sesuatu yang lain."

"Mana kutahu! Lagipula itu bukan urusanku."

"Ehh? Cueknya…" tanggap si pirang yang mendapat seruan jutek Sasuke. Namun tampaknya Naruto tak kehabisan akal. "Ya, mau bagaimana lagi… sepertinya aku memang harus memaksamu!"

Dalam sekejap Naruto sudah menindih tubuh Sasuke.

"Apa yang kau laku—"

Sialan… pantat Naruto menekan tepat di selakangannya. Apa Naruto tidak tahu di sana ada benda berharganya yang bisa aktif kapan saja? Terkutuklah mimpi basah yang selalu datang menemani tidurnya.

"Bersiaplah Sa—su—ke~" Ah... lihat! Lihat! Seringai puas Naruto di wajahnya itu. "Kau tidak akan bisa lari~"

Sasuke hanya bisa menatap waspada. Ya, tuhan… apa yang terjadi dengan Naruto? Apa yang dia inginkan? Sasuke tidak bisa menebak. Naruto kadang memang suka berpikir aneh dari kebanyakan orang normal.

"Naruto apa—"

Gelitik! Gelitik! Gelitik!

"Naruto—berhenti—"

Gelitik! Gelitik! Gelitik!

Sasuke meronta, berusaha menahan serangan tangan Naruto yang gencar menyentuh daerah sensitifnya. Namun Naruto begitu keras kepala, ia terus menggelitiki Sasuke dan mengabaikan permintaan si raven yang menyuruhnya untuk berhenti.

Hahaha! Ya, ampun Sasuke! Lihat, kau begitu tak berdaya di bawah sang Uzumaki Naruto!

"Pftt! Naru… hmpt! Hentikan…"

"Belum, Sasuke! Belum. Masih belum!"

"Aku… tidak… tahan… lagi… hmpt! Haha! Hahaha!"

Pipi Naruto tampak merona. Takjub dengan apa yang ada di depan matanya. Uchiha Sasuke… tertawa. Ia tertawa! Ini pertama kalinya Naruto melihat ekspresi seperti itu dari sang Uchiha.

"Hah… hah… Naru?"

"Hahaha! Sasuke! Kau tertawa! Ternyata kau bisa tertawa!" seru Naruto begitu girang. Ia telah berhasil membuat sang Uchiha Sasuke tertawa.

Sasuke menarik napas dalam-dalam, "Hah… tentu saja. Kau menggelitiku seperti itu." ucap Sasuke jengkel. Hah… ia baru tahu, ternyata tertawa bisa semelelahkan ini.

"Tapi… aku kira kau tidak bisa tertawa! Ini pertama kalinya!" Naruto masih tampak kegirangan. Si pirang telah menganggap hal ini adalah sebuah prestasi.

"Tentu saja bisa. Aku juga manusia."

"Demo! Demo! Urusi!"

Deg!

Ah… perasaan apa lagi ini? Lagi-lagi Naruto membuatnya seperti ini…

Sasuke menatap Naruto yang tersenyum hangat padanya. Tergambar jelas bahwa ia benar-benar merasa senang saat ini. Kenapa? Kenapa ia merasa begitu senang seperti itu hanya karena melihatnya tertawa? Benar-benar aneh!

Tapi… dia memang selalu seperti itu. Naruto selalu bahagia akan hal-hal kecil. Dia selalu tersenyum. Di awal pertemuan mereka sampai sekarang, Naruto selalu tersenyum hangat padanya. Naruto selalu melakukan hal-hal yang tak terduga. Naruto selalu menerobos masuk ruang pribadinya. Dinding yang menjadi batas antara dirinya dengan orang lain.

Hanya Naruto yang membuatnya seperti ini. Hanya Naruto yang membuat jantungnya berdebar-debar. Hanya Naruto yang bisa mewarnai hari-harinya. Astaga... ini gawat! Ia tidak bisa menghentikannya. Perasaan ini meluap begitu saja. Sasuke tidak bisa menahannya lagi.

"Sasuke?" panggil Naruto melihat si raven yang hanya diam saja. "Ah! Gomen! Aku menindihmu terus. Pasti be—"

Bruk!

"Sasu—ke?"

Dalam sekejap Sasuke telah membalik keadaan. Dalam sekejap itu pula Naruto telah merasakan sesuatu yang lembut dan hangat menyentuh bibirnya. Naruto terpaku saat menyadari apa yang telah terjadi.

Sasuke menciumnya. Menciumnya tepat di bibirnya.

Sasuke begitu terlena dengan kontak fisik yang terjadi antara dirinya dengan Naruto. Ia mencium Naruto. Ia mencium bibir Naruto. Bibir yang selalu berceloteh riang. Bibir yang selalu tersenyum ramah padanya. Bibir yang telah membuat gejolak aneh hanya karena memanggil namanya.

Panas.

Kehangatan tubuh Naruto membuat tubuhnya terasa panas. Perasaan intens ini telah mengundang gejolak lain. Membuat Sasuke ingin merasakannya lebih banyak lagi. Astaga ia tidak ingin berhenti.

Pemandangan pertama yang dilihatnya adalah mata sayu Naruto sebelum akhirnya bola mata sapphire itu bersembunyi di balik kelopak matanya. Pipinya telah memerah, sungguh ekspresi yang dilihatnya begitu manis. Sasuke bertanya-tanya, apa pipinya memerah juga?

Mata biru elok itu kembali menampakkan diri saat perasaan hangat di bibirnya mulai memudar. Mulut Naruto terbuka mencoba memanggil Sasuke di antara napasnya yang memburu. "Sa—"

Namun mulutnya kembali dibungkam. Sasuke kembali menciumnya bahkan lebih intens dari sebelumnya. Mulut Naruto yang terbuka membuat Sasuke dengan leluasa melahap bibir cherry itu. Sasuke benar-benar berani menciumnya seperti itu. Itu membuatnya lupa diri.

Sasuke merasakan remasan di bahunya. Naruto tidak mencoba mendorongnya ataupun memberikan perlawanan. Sasuke bertanya-tanya apa mungkin Naruto memiliki perasaan yang sama untuknya. Namun pikiran itu segera dibuang jauh-jauh. Sasuke memilih untuk menikmati ini. Naruto… kau benar-benar berani menggodanya seperti itu.

Bagaimana ia bisa untuk berhenti jika kau menggodanya seperti ini?

Di halaman belakang sekolah, di bawah pohon yang rindang, Sasuke dan Naruto telah berbagi ciuman pertama mereka dan juga french kiss pertama mereka…

.


.

Kau tahu Naruto? Tadi malam aku telah bermimpi indah. Aku bermimpi tentang masalalu kita. Bagaimana aku bisa bertemu denganmu. Bagaimana dirimu yang telah mewarnai hidupku. Bagaimana aku jatuh cinta padamu dan ciuman pertama kita.

"Renji no Sabaku, itu namamu kan?" ucap Sasuke pada remaja di hadapannya.

"Dare? Kenapa anda bisa tahu nama saya?" balas Renji berbicara sopan. Namun ia tidak menutupi bahwa ia menaruh curiga pada sosok pria yang berpakaian formal di depannya. Mata hitam kelam itu menyipit, ia belum pernah bertemu dengan pria itu sebelumnya. Ia sangat yakin, tapi pada saat yang sama Renji merasa tidak asing akan sosok pria dewasa itu.

Namun pria di hadapannya tidak menjawab. Sasuke hanya mengulas senyum tipis.

Naruto aku belum ingin menyerah. Gomen ne, karena aku laki-laki yang keras kepala

.

TBC

.


AHHHHHHH! Akhirnya selesai juga! Yan senang bisa update fic ini loh… *wink*

Terima kasih kalian yang udah baca fic ini sebelumnya bahkan sempat review. Yan seneng banget. Gomen, Yan juga gak bisa balas review kalian, tapi Yan senang baca review kalian. Terus buat pertanyaan kalian soal fic ini akan terbongkar satu-satu kok. Jadi ikutin terus ya, tapi gak maksa loh… Hahhaha *plak*

Sekali lagi makasih ya… please jangan lupa review dan juga jangan ragu kalau kalian punya masukan. Ohya, klo masih ada yang belum kebayang soal gaya rambut Renji yang diikat, kalian bisa liat cover fic ini. Klo kemarin Yan pake pict Kyuubi. Sekarang giliran Renji. Tapi jangan salah fokus ya…^^ Nanti malah ngebayangin incest RenNaru lagi *plak*

.

Sign : Yanz Namiyukimi-chan.

.