HARVEST LOVE
Pair : Naruto x Hinata
Warn : OOC, TYPOS, EYD, Terlalu banyak dialog, Dll.
Rate : T
Terinspirasi dari "HARVEST MOON BACK TO NATURE"
Namikaze Naruto 17 tahun, Hyuuga Hinata 16 tahun.
.
.
.
Matahari bersinar sangat cerah hari ini, seolah-olah sedang tersenyum senang melihat makhluk hidup di bumi melakukan aktivitas mereka seperti biasanya yang tak peduli dengan salju yang masih menutupi jalan-jalan dan menghiasi rumah-rumah dengan warna suci nan bersih mereka.
Namikaze Naruto, pemuda yang sempat dipindahkan— diusir sementara, sedang menatap ke arah luar jendela, helaian pirangnya bergerak-gerak seirama dengan arah angin yang menerpa wajah tampannya.
Kini pemuda tersebut tengah menikmati pemandangan hamparan putih yang menyegarkan mata dan menenangkan batinnya. Oh iya jika kalian bertanya-tanya dimana Naruto sekarang, saat ini pemuda tampan itu sedang duduk di kursi penumpang mobil milik seorang paman yang membawa keranjang-keranjang berisi sayur yang akan di bawa ke kota Kusa.
Memang sih sangat tidak elit melihat seorang pemuda tampan seperti Naruto menumpang mobil bak terbuka, terlebih lagi kini mobil itu sedang membawa cukup banyak keranjang sayur. Namun mau bagaimana lagi, jika ia menolak tawaran baik paman itu dan memilih menunggu seseorang menawarkan mobil tumpangan mobil terbarunya mungkin ia akan diculik atau lebih parahnya tertidur selamanya.
Pemuda tampan itu masih sayang dengan nyawanya, ia tidak mau mati konyol di tengah jalan karena kelelahan dan kedinginan. Ya! Pemuda itu kelelahan.
Salahkan kopernya yang terlalu banyak memuat pakaiannya dan ransel yang bergelantungan di tubuhnya! Ketika ia berhenti mengistirahatkan dirinya, beruntung sebuah mobil bak terbuka berjalan menghampiri sesosok laki-laki berambut pirang yang berhenti di pinggir jalan .
Dan dari sanalah seorang paman baik hati menawarkan tumpangan padanya.
Ok kembali ke Naruto.
Sejak tadi pemuda pirang itu masih diam memandangi keindahan alam yang tertutup putihnya salju, ia melihat ada bukit-bukit yang berwarna putih yang sudah lama tidak ia lihat secara langsung, dalam hati ia sedikit bersyukur dengan hukuman yang diberikan tou-sannya.
Setelah puas menikmati pemandangan dari jendela, Naruto mengalihkan perhatiannya ke jalanan yang tertutup oleh salju. Matanya terus memperhatikan ke arah jalan hingga akhirnya ia melihat persimpangan jalan dari kejauhan, yang satu lurus, yang satu ke kiri dan yang satunya ke kanan.
Paman yang sedang menyetir mobil mulai menginjak rem perlahan-lahan ketika persimpangan jalan itu sudah dekat, oh iya paman itu juga tidak lupa menyingkirkan kakinya dari pedal gas. Semakin lama, tekanan pada pedal rem semakin dalam. Membuat percepatan dan kecepatan mobil yang ia kendarai menyentuh nol meter per sekon.
"Maafkan aku, etto..." Jelas sekali paman itu mencoba mengingat nama Naruto.
"Naruto." Sambung Naruto.
"Ah iya! Maafkan aku, Naruto-san. Aku hanya bisa mengantarmu sampai sini karena sayur-sayur ini harus diantar ke Kusa secepatnya." Jelas sang paman sambil meminta maaf kepada Naruto.
"Ha'i aku mengerti paman, terima kasih atas tumpangannya." Kata Naruto sambil membungkuk hormat kepada paman yang sudah menolongnya. Pemuda itu berjalan menuju ke arah bak terbuka yang memuat keranjang sayur, dari sana ia menarik sebuah koper miliknya yang ia letakan di sana. Dan meletakannya perlahan-lahan di tanah, tak lupa pemuda itu juga menarik pegangan yang ada pada koper miliknya.
"Ngomong-ngomong Mineral Town ke arah mana, paman?" tanya Naruto pada sang paman, wajar saja jika ia agak lupa menuju ke kota yang lebih layak disebut desa itu. Sudah 12 tahun lamanya ia tidak berkunjung ke kota itu dari umurnya lima tahun hingga di usianya kini yang sudah menginjak tujuh belas tahun.
"Kau hanya perlu berjalan lurus saja. Lalu kau akan tiba di kota Mineral. Jaraknya kurang lebih dua kilometer." Jelas sang paman kepada Naruto dengan ramah, Naruto mengucapkan terima kasih kembali kepada paman yang sudah memberikan tumpangan kepadanya sebelum mobil itu itu berjalan menuju ke Kusagakure.
Naruto melirik ke arah jam tangan yang berada di tangan kirinya, jam menunjukan pukul sebelas tepat. Namun karena cuacanya sedikit agak mendung membuat pemandangan sekitar tampak seperti baru pukul delapan pagi.
Si Namikaze muda memperhatikan jalan di depannya— jalan menuju ke kota Mineral, sangat sepi. Seolah-olah tidak ada seorang pun yang berminat untuk mengunjungi kota tersebut. Bukan, lebih tepatnya seolah-olah kota itu tidak pernah ada. Uap napas Naruto mengepul di udara bersamaan dengan helaan berat pemuda tersebut, ia menarik pegangan yang ada di kopernya lalu berjalan santai menuju ke kota Mineral.
.
.
.
Di suatu ruangan seorang gadis tampak tertidur pulas di meja, wajah cantiknya tampak semakin cantik saat ia sedang mengistirahatkan diri. Sebuah pensil yang semula ia gunakan untuk melukis wajah seseorang masih setia berdiri di antara ibu jari dan jari telunjuk si gadis.
Di ruang tamu rumah tersebut, ada seorang wanita tua berambut ungu tampak sedang membungkus sebuah kotak merah kecil dengan sebuah kain dengan rapi. Dan juga ada seorang anak laki-laki dengan usia sekitar 12 tahun tengah menyapu lantai rumah sederhana itu.
Wanita tua itu melirik sejenak ke arah jam dinding yang menempel di ruang tamu sekaligus ruang keluarga tersebut, tak lama setelah itu ia menatap sebuah pintu kamar di sana. "Anak itu pasti sangat lelah." Gumam wanita tua itu pada dirinya sendiri, namun gumaman itu mampu di dengar anak laki-laki yang sedang menyapu lantai rumah.
"Sebenarnya aku tidak ingin membangunkannya akan tetapi ia pasti akan marah jika aku tidak membangunkannya."gumam nenek Chiyo.
"Konohamaru tolong bangunkan Hinata, aku ingin mengobrol bersama ibu-ibu lain di luar." Perintah nenek Chiyo kepada anak laki-laki berambut hitam itu.
Sedangkan di dalam kamar. Hinata yang masih memejamkan matanya mulai membuka matanya perlahan-lahan. Ia meregangkan otot-ototnya yang kaku akibat ia tertidur di meja, matanya menatap ke sebuah jam berbentuk buah apel berwarna merah di meja belajarnya.
Ketika melihat dua jarum yang menunjukan waktu saat ini, gadis itu tersentak dan langsung berlari menuju ke lemari pakaiannya. Mengeluarkan pakaian yang akan ia kenakan hari ini.
Di luar kamar, Konohamaru berjalan mendekati pintu kamar Hinata untuk membangunkannya. Ketika tangannya hendak mengetuk pintu kamar, pintu kayu itu sudah terlebih dahulu terbuka dan membuat Konohamaru terkejut karena nyaris ditabrak Hinata.
Ketika pintu kamar terbuka, gadis itu langsung berlari tanpa menutup kembali dengan membawa pakaian di tangannya. Tak lama setelah itu terdengar debaman pintu tertutup. Sedangkan Konohamaru hanya bisa menghela napas melihat tingkah kakaknya.
Selang beberapa waktu Hinata keluar dari kamar mandi dan sudah memakai seluruh pakaiannya, tak lupa pakaian semalam ia letakan di sebuah ember bundar berwarna pink.
"Tidak biasanya kau kesiangan Hinata-nee." Kata Konohamaru kepada Hinata, gadis itu menjawab "Tidak biasanya kau menyapu." Yang membuat Konohamaru berseru dan menunjuk-nunjuk kepadanya, "M-mau bagaimana lagi, Hinata-nee kesiangan! Jadi siapa lagi yang akan menyapu? Baa-san? Yang benar saja, bisa-bisa encoknya kambuh lagi."
Hinata mengerjap-ngerjapkan matanya sejenak mencerna perkataan Konohamaru, manik lavender itu terus memperhatikan anak laki-laki berambut hitam itu. Sadar diperhatikan oleh Hinata, Konohamaru menoleh dan mendesah, "Sudahlah tak perlu dipikirkan, jika dipikir-pikir lagi lebih baik aku menyapu daripada membaca JUMP minggu lalu."
"JUMP? Apa yang kau baca? Jangan katakan yang kau baca itu To-to... apa ya? To Love—"
"Te-tentu saja bukan!" dusta Konohamaru dengan wajah sedikit memerah tanpa disadari oleh Hinata, "Jika Hinata-neechan masih ada waktu untuk membahas itu bukankah lebih baik saat ini kau berangkat kerja?" ujar Konohamaru tenang yang mencoba menahan detak jantungnya yang baru saja berdetak secara abnormal.
"Ah benar juga! Kalau begitu aku berangkat!" seru Hinata sambil berlari kearah sepeda miliknya yang berada di dekat pintu keluar, tangan putih mungil gadis itu menuntun sepeda miliknya keluar dari rumah dan buru-buru mengayuhnya menuju ke tempat kerja.
Konohamaru menatap kakaknya sambil tersenyum sebelum masuk ke dalam rumah, setelah Hinata menghilang dari pandangannya. Anak laki-laki itu berbalik dan bersiap untuk melanjutkan acara bersih-bersihnya.
.
.
Di dalam sebuah mobil sedan keluaran terbaru, seorang pria tampak fokus menyetir dan mengabaikan seorang wanita yang memasang raut wajah sedih. Beberapa kali bibir wanita itu terbuka namun kembali menutup, menelan lagi kalimat yang siap ia lontarkan.
Minato melirik sedikit ke arah Kushina sebelum akhirnya berkata, "Ada apa, Kushina?" tanya Minato. Kushina kemudian memandangi suami yang tiba-tiba berkata seperti itu, dalam hati ia yakin Minato menyadari kalau ia sejak tadi mencoba mengatakan sesuatu.
"Ti-tidak ada apa-apa." Kata Kushina tergagap
"Apa kau masih tidak percaya jika aku memiliki koleksi etto... Ecchi? Jika kau tidak percaya, bagaimana setelah sampai di rumah kita menon—"
"APA YANG KAU BICARAKAN, BAKA?! MANA MUNGKIN AKU SUKA DENGAN YANG BEGITUAN!" sembur Kushina. Wanita itu menarik napasnya dalam-dalam dan membuangnya untuk meredam emosinya akibat ucapan Minato.
"Ano ne... kukira kau akan mengatakan '..bagaimana setelah sampai di rumah kita membuangnya.' Tapi siapa sangka, ternyata kau malah mengajakku menontonnya. Geez, majide dassai oyaji a.k.a Madao." Omel Kushina.
Minato tertawa kikuk mendengar omelan Kushina sambil mengucapkan kata gomen berulang-ulang. Laki-laki itu kemudian berdehem dan memasuki mode seriusnya.
"Jadi apa yang sebenarnya ingin kau katakan, Kushina?" tanya Minato.
"Apa kau yakin, Minato? Kau tahu sendiri, kan? Kalau Naru—" belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Minato sudah memotong perkataan Kushina dengan sebuah anggukan yang membuat Kushina terdiam.
Kushina masih menatap suaminya yang kadang tegas di waktu yang tepat dan kadang mesum di waktu yang tidak tepat.
"Naruto adalah anak nakal yang perlu diberi sedikit ketegasan." Ujar Minato.
Sedangkan Kushina sweatdrop di tempat melihat Minato berkata seperti, Iya aku mengerti tapi bukan itu maksudku. Batin kushina.
"Jika ia tidak mendapat perlakuan tegas, aku takut kalau ia akan menjadi maru de dame na ossan a.k.a Madao." Lanjut Minato dengan ekspresi meyakinkan.
Jangan mengatakan hal itu dengan wajah serius!, teriak Kushina dalam hati. Jika saja saat ini mereka berdua tidak berada di dalam mobil atau mungkin supir mereka yang membawa mobil. Dengan senang hati Kushina siap memukul wajah tampan tuan Namikaze yang terhormat dengan bogem mautnya.
Kushina masih diam dan menatap jengkel suaminya dengan aura membunuh yang menyeruak ganas, namun seperti biasa. Minato tidak menyadarinya.
"Tapi tenang saja." Sejenak, emosi Kushina mereda ketika mendengar perkataan Minato. Ia yakin kalau suaminya pasti tidak akan menghukum anak itu sampai keterlaluan.
Mobil yang ditumpangi oleh Kushina berhenti, tanpa mereka sadari mereka sudah berada di dekat parkiran rumah.
Sedangkan Minato masih diam sambil memejamkan mata dengan serius yang sempat membuat Kushina terpesona dan membeku beberapa detik.
Perasaan dulu saat ia masih seorang gadis SMA kembali terulang karena melihat paras tampan Minato.
"Kita bisa membuat anak lagi jika ia masih belum tersadar!" ucap Minato dengan girang yang membuat Kushina naik pitam dan melancarkan bogem mautnya, "HENTIKAN NAPASMU SELAMA LIMA MENIT, HENTAI!"
BUG!
Di dalam sebuah ruang tamu seorang suami istri duduk berdampingan dengan mesra, sang suami dengan wajah penuh memar mengaduh sakit ketika sang istri menempelkan sebuah kain yang telah dibasahi dengan air es.
"I-itai! Aku tak menyangka kalau kau serius menghajarku tadi, padahalkan aku hanya bercanda." Ujar Minato yang wajahnya kini sudah tak jelas wujudnya.
"S-salahkan dirimu sendiri! Sudah tua tapi masih tidak tahu diri. Jadi apa maksud perkataanmu 'tenang saja'?" tanya Kushina dengan ekspresi bersalah bercampur jengkel.
Sedangkan Minato menyeringai meski wajahnya sudah tidak karuan, "Kau pikir aku adalah seorang ayah yang tega menyiksa anaknya sampai mengusirnya di rumah tanpa memberikan bantuan?" tanya Minato pada Kushina.
Wanita berambut merah panjang itu terdiam sembari menatap baskom yang berisi air bercampur es batu yang menampilkan bayangan dari wajah cantiknya, "Aku tahu kau bukanlah orang yang kejam seperti itu, tapi apakah itu tidak terlalu berlebihan?"
Minato diam sembari tersenyum menatap langit-langit rumahnya, pria itu kemudian mengambil baskom yang berisi air es itu dari tangan Kushina dan meletakannya di meja lalu menarik wanita itu duduk di sampingnya.
"Aku pikir itu tidak berlebihan, itu adalah sebuah terapi yang pas untuk memperbaiki Naruto." Kata Minato, namun Kushina masih belum menangkap apa maksud Minato. Minato yang mengerti akan istrinya kemudian menjelaskan, "Aku sudah menyuruh orang untuk membantu Naruto mengurus perkebunan itu dan juga mengurus Naruto." Minato mengambil jeda sebelum menyediakannya,
"Dan aku juga yakin kalau lavender dari bukit itu bisa membuat Naruto menjadi seseorang yang lebih baik, bukan hanya itu juga. Usaha Tou-san juga mungkin bisa berjalan kembali." Kata Mnato santai.
"Jadi kau menggunakan anak kita untuk membangkitkan kebun itu? Bagaimana cara Naruto menjual hasilnya nanti? Pakai sedikit otak mesummu itu, baka!"
"Ma.. kalau itu bisa kita serahkan kepada mereka." Jawab Minato.
"Dengan kata lain Naruto tetap tidak mengerjakan pekerjaan kebun?" tanya Kushina.
"Tidak, Naruto harus tetap mengerjakannya meski tidak sebanyak porsi orang-orang yang kubayar."
Kushina sedikit tenang mendengar perkataan suaminya tersebut, tapi. Masih ada hal yang ia tidak mengerti.
"Lalu apa maksudmu 'Lavender dari bukit'. Aku masih tidak mengerti?" Kata Kushina.
"Bukankah kau yang menceritakannya padaku?" tanya Minato balik. Wanita berambut merah panjang itu berusaha mengingat-ngingat kenangan lama yang pernah singgah di memorinya. Namun hasilnya nihil, ia tidak mengingatnya.
MKushina tak mengingatnya dan Minato tahu akan hal itu. Ia rangkul wanita yang telah sah menjadi istrinya itu dan tersenyum manis di depannya. "Kau pasti akan tahu nanti."
TBC
Jelek?
Menurutku sih lebih parah dari jelek!
Entah kenapa ide ini tiba-tiba muncul setelah nonton Gintama Arc: Shogun Assasination yang terbaru (Inner: Lho kok bisa? Gak nyambung woi!), sayang ya sewaktu si Hijibaka, Gin, and Momochi nebas para Yato ada kinclong-kinclongnya gitu TT_TT padahal ngarep-ngarepnya gak ada kinclongnya sih :3, btw Sorachi-sensei pinjem kata "Madao" dulu ya :v #Digamparpakepisang
Makasih buat semuanya baik silent reader, ngasih review, follow, dan favorite. ^^
Makasih juga buat kk-kk, senpai-senpai, mas-mas, mbak-mbak, cici-cici, kokoh-kokoh yang udah ngasih saran banyak. ^^
Oh iya Selamat Natal buat yang merayakan! Semoga di natal tahun ini berkat Tuhan senantiasa melimpah bagi kita, dan juga buat tahun baru saya ucapin sekarang barang kali gak bisa hehe... Selamat tahun baru buat 1 Januari nanti! Semoga apa saja yang kita inginkan dapat terkabulkan/tercapai, sehat selalu, menjadi pribadi yang lebih baik, dll.
Sekian dari saya (^O^)/
