Dan jika cinta berbicara padamu
Percayalah
Walaupun ucapannya bisa membuyarkan impianmu
.
.
The Fate Between Us
Chapter 2 : When We Close
.
A fic from BeenBin Castor Amewarashi
.
Genre : Hurt/Comfort/Tragedy/Romance
.
Rate : T+
.
Disclaimer : Bleach© Tite Kubo
.
.
Gin menyandarkan tubuhnya pada kursi rotan di depan meja kerjanya dengan wajah frustasi. Cuaca Seiretei hari ini memang sangat panas dan itu membuatnya frustasi karena tidak bisa menemukan sumber kesejukan yang bisa menghilangkan hawa lembap yang ia rasakan.
Ia memandang langit biru Seiretei dengan mata sipitnya sambil melonggarkan hakama shinigami hitam yang ia pakai. Gin benci panas. Cuaca panas hanya akan membuat pikirannya buntu dan akan membuat rambut silver indahnya lepek karena keringat. Disaat seperti ini ia berharap memiliki kipas seperti milik Urahara Kisuke untuk bisa digunakan, tapi sayangnya benda seperti itu tidak tersedia di Seiretei, atau bahkan bisa dibilang asing.
Urahara Kisuke. Mengingat nama mantan kapten divisi 12 itu Gin segera meraih dokumen yang tergeletak di atas mejanya lalu membuka lembar demi lebar halaman kertas putih itu dengan tidak sabar. Hanya satu hal yang perlu ia cari yaitu keberadaan Urahara Kisuke yang menghilang sejak seratus tahun yang lalu. Sempat terdengar desas-desus bahwa Urahara ada di Karakura tapi itu juga masih belum pasti. Dengan menemukan dimana Urahara berada itu berarti ia juga akan menemuka Hogyoku yang selama ini dicari oleh orang yang sangat ia hormati, Aizen Sousuke.
Pandangan matanya beralih dari dokumen yang berada di tangannya ketika seseorang membuka pintu kantornya. Senyum kecil terulas di bibirnya ketika mendapati perempuan cantik berambut orange blonde melangkah masuk mendekatinya.
"Gin, sampai kapan kau mau bekerja terus? Membosankan.." Perempuan itu, Matsumoto Rangiku, menarik kursi yang berada di depan meja kerja Gin lalu duduk sambil mengambil dokumen yang berada di tangan Gin. Namun, belum sempat perempuan bermata biru muda itu melihat isi dokumennya Gin telah merebut kembali dokumen itu.
Rangiku menatap Gin dengan kesal. "Hei, aku kan cuma mau lihat sebentar!" serunya sedikit jengkel dengan perlakuan Gin.
"Maaf Rangiku, tapi ini adalah dokumen rahasia," kata Gin. Ia segera meletakkan dokumen itu ke dalam sebuah lemari lalu menguncinya. "Dokumen itu sangat berbahaya jika dilihat oleh perempuan cantik sepertimu." Gin mengecup dahi Rangiku hingga membuat semburat merah muncul di kedua pipi putih mulusnya.
"Seberbahaya apa?" tanya Rangiku disela-sela tangannya yang mulai menggantung manja di leher Gin. "Sangat berbahaya," bisik pria berambut silver itu pelan ke telinga Rangiku.
Rukia sedang menuangkan adonan cake beraroma green tea ke dalam sebuah loyang ketika Byakuya memasuki dapur rumah keluarga Kuchiki itu. Byakuya tertarik untuk memasuki dapur ketika ia mencium ada aroma asing dan ternyata aroma itu berasal dari cake yang dipanggang Rukia, adik angkatnya.
Alis pria beparas tampan itu mengerut melihat cake berwarna cokelat keemasan yang berada di atas meja kayu polos tanpa taplak dengan uap panas yang masih mengepul. "Apa itu, Rukia?" tanyanya datar seperti biasa.
"Ini cake green tea Nii-sama. Renji membawa bahannya sebagai oleh-oleh dari Karakura," jawab Rukia sambil memasukkan loyang yang telah ia tuangi adonan tadi ke dalam oven tradisional bertungku api secara hati-hati.
Byakuya terus memperhatikan cake itu secara teliti, baginya benda lembut bagai sponge itu masih terlihat asing, ya karena ia belum pernah mencobanya. Rukia tersenyum kecil melihat wajah penasaran Byakuya yang terlihat sangat lucu. Ia lalu memotong cake itu menjadi sebagian kecil berbentuk prisma dan meletakkannya dalam sebuah piring kecil. "Nii-sama mau coba?" tawarnya sambil tersenyum manis.
Kepala keluarga Kuchiki ke-28 itu tidak menjawab tapi langsung mengambil piring itu dan memakan sepotong cakenya sampai habis. "Bagaimana? Enak?" tanya Rukia setelah Byakuya selesai memakang sepotong cake yang ia buat.
"Tidak buruk," jawabnya singkat lalu berjalan kembali keluar dapur, "bawakan satu potong lagi ke ruanganku nanti," sambungnya lagi ketika berada di ambang pintu.
"Iya!" jawab Rukia senang ketika kakaknya yang dingin itu ternyata menyukai cake buatannya.
Setelah Byakuya pergi ia kembali sibuk dengan cake-cake buatannya. Ada dua loyang cake yang ia buat dan satu sudah pasti untuk Byakuya dan beberapa potong untuk Renji. Ia mulai berpikir akan memberikan kepada siapa lagi sisanya, tidak mungkin kan ia menghabiskan satu loyang cake sendirian. Satu orang yang belakangan ini sedang dekat dengannya selain Renji dan Byakuya.
"Oh iya, kuberikan pada dia saja!" serunya riang sambil memotong cake green tea itu.
Aizen menutup dokumen laporan divisinya perlahan ketika gemercik air terdengar dari danau di halaman kantornya. Pria bermata cokelat itu melepaskan kacamatanya lalu beranjak dari meja kerja yang terletak tepat di hadapan pintu masuk ruang kerja. Ia melangkah menuju pintu geser yang menghubungkan antara ruang kerjanya dengan halaman kantornya lalu duduk di teras berlantai kayu itu.
Bibirnya sedikit tersenyum ketika seekor ikan koi meloncat ke permukaan danau sehingga membuat suara gemericik air terdengar lagi. Ia sangat menikmati suasana siang yang tenang seperti ini. Tenang dan damai, tanpa ada shinigami-shinigami bodoh yang berada didekatnya. Ya, dia menganggap semua shinigami bodoh, semua orang di Soul Society mematuhi apapun yang dikatakan kakek tua Yamamoto Genryuusai itu, tentunya dia juga. Tapi ia hanya mematuhi seadanya saja, sisanya ia mengikuti pemikirannya sendiri.
Tok.. Tok..
Kapten divisi 5 itu mengalihkan pandangannya dari danau menuju ke pintu masuk ruang kerjanya.
"Taichou, Kuchiki-san datang menemui anda," kata Hinamori Momo, wakil kaptennya.
"Masuk!" perintah Aizen singkat.
Pintu geser itu terbuka dan Aizen bisa melihat Rukia dengan pakaian shinigami lengkapnya yang baginya tetap terlihat manis. Sudah lebih dari tiga bulan sejak ia pertama kali bertemu dengan Rukia dan perempuan itu sering datang untuk mengunjunginya dan berbagi cerita.
Rukia masuk dengan membawa piring yang berisi beberapa potong cake aroma green tea yang ia buat tadi. Ia memutuskan untuk memberikan sebagiannya pada Aizen, salah satu orang yang sudah ia anggap juga sebagai kakak.
Mata violetnya sedikit tertegun ketika melihat Aizen yang duduk di teras kantornya itu. Rambut cokelat pria itu bersinar terkena sinar matahari dan wajah pria itu juga terlihat semakin tampan. Hal itu membuatnya agak sedikit malu untuk mendekat, walaupun mungkin terlambat baru menyadari itu sekarang.
"Ada apa, Kuchiki?" tanya Aizen membuyarkan lamunan Rukia.
Rukia menggeleng segera lalu ikut duduk di teras bersama Aizen. "Kau bisa memanggilku Rukia, aku tidak terbiasa dipanggil Kuchiki."
"Oh, baiklah Rukia. Dan.. apa yang kau bawa itu?" Aizen menatap potongan-potongan sponge cake hijau itu. Terlihat lezat bagi dirinya yang tadi pagi tidak sempat sarapan.
"Ini cake aroma green tea. Tadi aku membuat terlalu banyak jadi aku memberikan sebagian untukmu," jawab Rukia. "Aku tidak tahu bagaimana rasanya, tapi Nii-sama bilang tidak buruk," sambung perempuan itu ceria.
Aizen menatap cake itu sejenak lalu mengambil sepotong dan memakannya. "Enak," komentarnya setelah menelan satu gigitan. Ia melihat senyuman riang di wajah Rukia ketika mendengar komentarnya, benar-benar manis.
"Tapi darimana kau mendapatkan bahannya? Kupikir cake seperti ini hal yang asing di Soul Society."
"Renji membawanya dari Karakura, katanya dia membelinya di supermarket dekat rumah temannya." Aizen mengagguk mengerti. "Oh iya, aku akan membuat teh. Tunggu sebentar ya!" kata Rukia lalu pergi meninggalkan Aizen yang masih menikmati cake buatannya.
Rambut cokelat indahnya terbang tertiup angin sepoi-sepoi yang berhembus pelan. Ia ingat Gin pernah mengatakan bahwa ada kemungkinan Urahara berada di bumi, tepatnya di Karakura. Bibirnya tersenyum perlahan, senyuman yang berbeda dari yang biasa ia tunjukkan pada orang lain, senyuman licik yang muncul ketika ia menemukan sesuatu yang menarik.
"Karakura ya.."
Divisi 1. Batalion pasukan yang dipimpin oleh Yamamoto Genryuusai dan sekaligus menjadi divisi pimpinan menjadi lebih tenang pada malam hari. Hanya ada suara jangkrik yang menggema menghiasi malam dan hembusan angin sejuk yang menggelitik kulit.
Yamamoto Genryuusai atau yang biasa dipanggil Sou-taichou menyandarkan tubuh rentanya pada kursi kayu rotan yang ia duduki. Ia sedikit menguap ngantuk karena memang sekarang sudah menunjukkan jam sebelas malam. Di tangannya tergenggam sebuah surat yang tadi siang wakil kaptennya temukan di depan pintu ruang kerjanya. Surat yang cukup mengejutkan kalau dilihat dari siapa orang yang mengirimnya, Urahara Kisuke.
Yamamoto menghela napas lalu menatap langit gelap Soul Society yang malam ini hanya dihiasi sedikit bintang.
"Urahara Kisuke, apa lagi yang kau rencanakan sekarang?" gumamnya pelan lalu beranjak dari kursi rotannya.
"Tugas ke Karakura?!" seru Rukia kaget ketika Ukitake Juushiro, kapten divisi 13, memberitahukan tentang perintah untuk Rukia bertugas ke Karakura.
Ukitake mengangguk. "Tadi pagi Sou-taichou memberikan perintah padaku agar menugaskan mu ke Karakura," jelas pria tampan berambut putih panjang itu.
Rukia dan Ukitake, mereka berdua sekarang tengah duduk berdampingan di teras divisi 13. Pemandangan dari teras yang dihiasi dengan beberapa bunga mawar dan tulip itu jelas berbeda dengan pemandangan di teras milik divisi 5 dan divisi 6 yang sering dilihat Rukia. Divisi 5 atau tempat Aizen, pemandangan yang disajikan adalah sebuah danau dengan ikan koi yang hidup di dalamnya dan Divisi 6, tempat Byakuya, yang biasa dilihat Rukia adalah jejeran pohon sakura indah yang menyegarkan mata. Ya, setiap divisi memiliki pemandangan dari teras ruang kerja yang berbeda.
"Jadi bagaimana? Kau keberatan, Rukia?" tanya Ukitake memperjelas, karena ia tahu ini adalah pertama kalinya bagi Rukia untuk bertugas di dunia lain, dunia manusia.
"Tentu saja tidak taichou!" jawab Rukia riang dan mengembangkan senyum manisnya. "Tapi.. apa Nii-sama sudah mengijinkan?" sambung Rukia lagi.
"Tenang saja, nanti aku yang akan bicara padanya. Aku juga akan bilang supaya dia tidak terlalu over-protektif padamu." Ukitake tersenyum nakal dan disambut dengan sebuah tawa kecil dari Rukia. Ukitake memang sangat menyayangi Rukia, bahkan ia sudah menganggap Rukia seperti anaknya sendiri. "Kalau begitu kau akan berangkat besok pagi."
"Hai! Terima kasih Taichou! Saya permisi dulu."
"Kau mau kemana, Rukia?
Rukia tersenyum kecil pada Ukitake saat berada di ambang pintu. "Saya mau menemui Renji dan Aizen-taichou," katanya riang lalu menghilang di balik pintu.
Ukitake hanya bisa menggeleng melihat tingkah Rukia, namun beberapa saat kemudian ia menyadari sesuatu. "Entah kenapa perasaanku tidak enak," gumamnya pelan.
"Jadi bagaimana Aizen-sama? Apa kau benar-benar jatuh cinta padanya?" Gin menatap geli ke arah Aizen yang sedang sibuk tenggelam di antara tumpukan berkas-berkas divisi 5. Pria itu sudah sejak tadi menyerang Aizen dengan berbagai pertanyaan tentang Rukia, namun tetap saja Aizen tidak merespon sama sekali.
Gin mendekat ke meja kerja Aizen lalu duduk di salah satu sudut mejanya. Kapten divisi 3 itu menyeringai. "Kau benar-benar orang yang sibuk ya," godanya pada Aizen.
Merasa kesal karena konsentrasinya terganggu Aizen lalu menatap Gin dengan tajam. "Sudah kubilang itu bukan urusanmu, Gin," katanya tegas.
Gin tertawa kecil. "Aku kan cuma ingin bertanya sedikit. Ah ya, kudengar Rukia-chan ditugaskan kakek tua itu pergi ke Karakura, tapi itu juga katanya." Aizen megalihkan pandangannya lagi pada Gin. Jika yang dikatakan Gin benar, berarti ia bisa menggunakan Rukia untuk mencari Urahara, itu juga kalau Urahara benar-benar berada di Karakura.
"Urahara ada di Karakura. Kudengar dari salah satu petugas divisi 1 kemarin ada surat yang datang untuk Sou-taichou, dan pengirimnya adalah.."
"Urahara Kisuke," sambung Aizen menyelesaikan kalimat Gin.
Tok.. Tok..
Aizen dan Gin saling melirik ketika seseorang mengetuk pintu ruang kerja Aizen. Gin segera turun dari meja kerja Aizen dan berjalan membuka pintu.
Rukia muncul di balik pintu dengan ekspresi agak kaget karena melihat Gin yang membuka pintunya dan beberapa saat kemudian perempuan mungil itu langsung menunduk sopan. "Selamat siang, Ichimaru-taichou!" sapanya formal.
"Tidak perlu terlalu formal begitu. Kau pasti ingin bertemu Aizen kan?" tanya pria berambut silver itu. Senyumannya makin mengembang ketika melihat semburat merah muncul dari pipi Rukia.
"Gin, suruh Rukia masuk," perintah Aizen pada mantan wakil kaptennya itu.
Rukia masuk dengan diiringi Gin. Perempuan itu terhenyak kagum saat melihat Aizen sedang sibuk mengerjakan berkas-berkas divisinya, ia mulai berpikir bahwa ia telah datang di waktu yang salah. Dan satu lagi yang membuat wajahnya memerah, ekspresi Aizen yang sedang sibuk menambah ketampanan pria itu.
"Ada apa, Rukia?" suara ramah Aizen sukses membuat jantung Rukia berdebar dengan cepat. Dengan sedikit tergagap Rukia akhirnya menjawab, "Besok aku akan bertugas ke Karakura, jadi.. mungkin selama itu aku tidak bisa menemuimu."
Aizen tersenyum kecil melihat wajah polos Rukia yang memerah setelah mengatakan itu. Sangat manis, komentarnya dalam hati. Aizen lalu melirik Gin yang setia dengan senyum rubahnya. Ia menatap puas pada Gin, rencananya akan berjalan lancar.
"Selama di Karakura menurut Renji aku akan tinggal di rumah salah seorang kepercayaan Sou-taichou, kalau tidak salah namanya Urahara," jelas Rukia.
Secara tidak disadari Rukia, Aizen dan Gin semakin tersenyum samar.
'Bingo!' gumam Aizen dan Gin.
To be Continued
Balasan Review yang nggak Login :
Erick Ryuuzaki : Hoo.. Datar yaa?
Sunako-chin : Hoho.. Aizen kan aslinya udah licik. Kalo dibikin abek ntar jadinya agak aneh. wkwk
Agha Pratama Schiffer : Hum... Haha, agak ga kebayang ya? Ya, karena itulah gw bikin AiRuki ini. Ada Ichigo ga ya? Tergantung mood gw deh.
Neni Louph Hitsu : Haha.. Iyah, makasih.
Yuu a.k.a Tsh : Wkwkwk.. Dijamin bakal makin aneh deh.
Ninomiya Icha : Hoho. Okeh mbah!
Namie males login : Hahaha.. sip dah!!
Hiru Shii-chan : Haha.. Ya dibiasain deh liat nie pair antik.
Thanks for review! Pencet ijo-ijo *eh sekarang udah biru yah* dibawah ini lagi yah! Onegaishimasu!!
