Cinta tak memiliki ataupun dimiliki,
karena cinta telah cukup untuk cinta itu sendiri
.
.
The Fate Between Us
Chapter 3 : Lie
.
A Fic from Heiwajima BeenBin Amewarashi
.
Genre : Hurt/Comfort/Tragedy/Romance
.
Rate : T+
.
Disclaimer : Bleach© Tite Kubo
.
.
Karakura. Sebuah kota kecil dengan kepadatan penduduk yang bisa dibilang cukup padat jika dilihat dari jumlah rumah yang menghiasi tiap-tiap komplek. Disamping itu, Karakura juga merupakan kota tempat di mana hollow paling banyak dilaporkan muncul. Dan karena hal terakhir itulah Rukia berada di kota ini, sesuai dengan perintah Yamamoto Sou-taichou
Helaian rambut shinigami divisi 13 itu berterbangan nakal mengikuti tarian angin sepoi yang bertiup melewati atap sebuah rumah kecil di mana ia tinggal. Rukia sudah berada di Karakura selama sebulan dan selama itu ia tinggal di rumah salah seorang shinigami setengah manusia bernama Kurosaki Ichigo.
Ichigo. Rukia selalu tersenyum ketika mengingat nama pria nyentrik itu. Nama yang cukup aneh untuk diberikan pada seorang anak laki-laki dan nama yang terlalu manis tentunya.
"Hei midget, lagi mengkhayal apa?"
Suara serak itu membuat Rukia berpaling. Ichigo berdiri di belakangnya dengan dua buah cangkir yang terlihat mengepul di masing-masing tangannya. Pria berambut orange itu memang selalu baik padanya, bahkan terlalu baik, walaupun terkadang juga menyebalkan. Ia mengenalnya dari Renji setelah mendapat kabar bahwa Urahara tidak bisa menampungnya karena kamar di rumah mantan kapten divisi 12 itu tidak mencukupi.
"Aku tidak sedang mengkhayal, jeruk!" bantahnya. Pipi mulusnya menggembung lucu hingga membuat Ichigo tertawa lalu ikut menemani shinigami mungil itu dengan duduk di sampingnya.
"Mau susu cokelat?" tawarnya sambil menyodorkan cangkir di sebelah kanan tangannya.
"Aku tidak bisa menolak jika kau telah membuatkannya, kan?" Rukia menerima cangkir itu lalu menghirupnya pelan-pelan. "Terima kasih," ucapnya kemudian.
Pria bermata cokelat musim gugur itu tersenyum membalas ucapan Rukia. Lalu setelah meniup susu cokelatnya ia juga menghirupnya dengan pelan. "Belakangan ini sepertinya intensitas kemunculan hollow meningkat ya, aku jadi khawatir."
Rukia menghela napas mendengar ucapan Ichigo. Ia memang tidak menyangkal jika intensitas kemunculan hollow seminggu ini meningkat. Ia sudah mencoba menanyakan hal ini pada Renji, namun wakil kapten divisi 6 itu juga tidak tahu penyebabnya. "Mungkin aku harus bertanya pada Urahara," usul Rukia membuat Ichigo menatap gadis bermata violet itu.
"Kalau begitu aku juga ikut!" seru Ichigo saat Rukia mulai menuruni atap rumahnya, menghentikan langkah gadis itu.
"Kau di rumah saja. Aku bisa sendirian kok," balas Rukia lalu menghilang dengan shunpo-nya tanpa sempat Ichigo membalas perkataannya.
Ichigo hanya bisa menggeleng sambil meratapi cangkir susu cokelat milik Rukia yang terletak bisu di sampingnya yang kini sendiri. Susu cokelat itu baru habis setengahnya. Ichigo tersenyum kecil lalu menatap birunya lazuardi yang terbentang luas di atasnya.
"Bodoh, aku hanya tidak ingin kau meninggalkanku sendiri," gumamnya pelan.
Tempat tinggal Urahara juga merangkap sebagai sebuah toko manisan, namun Rukia hampir tidak pernah melihat ada pembeli yang mendatanginya. Bangunan mungil itu terletak di ujung jalan, sedikit tertutupi oleh bangunan raksasa yang berdiri kokoh di samping kanan-kirinya.
Rukia mengetuk pintu yang terbuat dari kayu rotan itu dengan cukup keras. Tidak aja jawaban. Rukia mengetuknya kembali, kali ini lebih keras lagi.
Cklek..
Pintu terbuka dengan sendirinya. Rukia mengerutkan alisnya lalu menengok ke sekelilingnya. Tidak ada orang. Setelah menelan ludah, shinigami mungil itu memberanikan diri memasuki rumah Urahara.
Rumah itu kosong. Tidak ada tanda satu orang pun berada di sana. Rukia masih tetap mengelilingi rumah itu, membuka setiap pintu ruangannya tetapi tetap saja nihil, ia tidak menemukan siapapun di sana.
"Urahara-san.." panggilnya memecah keheningan yang tercipta dari kekosongan rumah itu.
"Aneh sekali, kemana mereka semua?" gumam Rukia.
Rukia mulai melangkah ingin meninggalkan rumah Urahara itu, namun sayangnya seseorang memukulnya dari belakang hingga gadis itu tidak sadarkan diri.
"Kisuke, apa kau yakin dengan hal ini?"
Seorang perempuan berkulit hitam dan rambut terkuncir kuda mengelus lembut helaian rambut Rukia yang sedang terbaring di sebuah futon. Perempuan bermata kucing itu sekilas menatap Rukia dengan perasaan bersalah lalu kembali menatap seorang pria yang sedang berdiri menatap sinar bulan dari balik jendela.
"Apa kau pikir kita punya jalan lain, Yoruichi-san?" tanya pria itu.
Perempuan bernama Yoruichi itu terdiam, menggigit bibirnya karena kesal dengan kondisi yang terjadi sekarang. "Tapi kenapa harus Rukia? Apa yang akan kukatakan pada Byakuya dan Ichigo nanti," ucap Yoruichi frustasi.
"Aku juga tidak tahu kenapa dari semua tubuh yang ada hanya tubuhnya yang bisa dijadikan tempat untuk menyembunyikan benda itu. Sial! Seharusnya aku menghancurkannya sebelum benda itu berkembang seperti sekarang!" Pria bernama Urahara Kisuke itu menggenggam erat tongkat kayu miliknya. Ia merasa powerless sekarang dan ia kesal dengan kenyataan itu.
"Tuan, saya sudah membawa hogyoku-nya." Seorang pria bertubuh besar dan kekar dengan rambut dikepang ala kadarnya masuk ke ruangan tempat Urahara, Yoruichi dan Rukia berada.
Urahara menatap Yoruichi sesaat lalu beralih mendekati Rukia yang terbaring tak sadarkan diri. Pria berambut emas itu menggenggam tangan mungil Rukia lalu berkata, "maafkan aku, Kuchiki-san."
"Tessai, masukkan hogyoku itu ke dalam tubuh Kuchiki sekarang!"
Pagi hari di divisi 6 berjalan tenang seperti biasa. Tapi itu bagi divisi 6, tidak bagi sang kapten. Kuchiki Byakuya, pria tampan dan kharismatik itu sejak tadi malam mempunyai firasat yang tidak enak mengenai adik angkatnya, Rukia. Bahkan pagi ini Byakuya belum menyelesaikan satu tugas pun yang diberikan oleh Sou-taichou padanya.
Byakuya sudah mencoba menenangkan pikirannya dengan menulis kaligrafi kesukaannya, namun percuma perasaan tidak enak di hatinya tidak juga menghilang. Ia tidak pernah memiliki perasaan seperti ini karena itu sekarang ia bingung harus melakukan hal apa lagi.
Dan karena itu ia memutuskan untuk pergi ke divisi 1 sekarang. Ia memiliki firasat kalau penugasan Rukia ke Karakura bukan karena untuk membasmi hollow di kota itu semata, pasti ada hal lain, begitu pikirnya.
"Kuchiki-taichou, sangat jarang sekali kulihat kau sudah keluar kantor pagi hari seperti ini." Suara itu menghentikan langkah Byakuya sejenak untuk menatap pria berambut cokelat itu, Aizen Sousuke.
"Bukan urusanmu," jawab Byakuya dingin seperti biasa. Ia memang kurang menyukai Aizen, entah kenapa ia merasa tidak nyaman jika berada di dekat kapten divisi 5 itu dan ia tidak mengerti kenapa Rukia bisa dekat dengan orang sepertinya
"Hm.. Bagaimana kabar Rukia di Karakura?" tanya Aizen.
Byakuya hanya menyipitkan matanya menatap Aizen lalu berlalu meninggalkan pria berkacamata itu tanpa menjawab pertanyaannya, tanpa menyadari Aizen yang mengembangkan senyumnya di balik Byakuya.
"Sombong sekali," ucap Aizen lalu kembali meneruskan perjalanannya menuju ke kantornya.
Byakuya bisa mendengar ucapan terakhir Aizen tapi ia samasekali tidak terganggu dengan hal tersebut. Byakuya sudah terbiasa mendengar gumaman orang yang mengatainya sombong atau angkuh atau apapun. Ia sudah kebal karena seorang kepala keluarga Kuchiki tidak boleh terganggu dengan masalah kecil seperti itu.
Byakuya sampai di pintu gerbang divisi 1 saat beberapa shinigami reguler sedang berlatih kidou di halamannya yang luas. Divisi ini mempunyai bangunan yang lebih besar jika dibandingkan dengan bangunan divisi lain, tentu saja karena divisi 1 adalah divisi utama dari Gotei 13.
Ruangan Sou-taichou berada di pusat divisi 1 dan hal itu membuat perjalanan Byakuya masih sedikit lebih jauh. Ia jarang mengunjungi divisi 1 secara individu seperti ini karena sering kali jika pergi ke divisi 1 hanya untuk rapat divisi bersama kapten lain.
Pria berkenseikan itu sempat mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam ruangan Sou-taichou ketika melihat kakek tua bernama Yamamoto Genryuusai itu sedang berbicara serius dengan Unohana dan Ukitake. Pintu ruangan itu sedikit terbuka jadinya Byakuya bisa sedikit mendengarkan pembicaraan antara tiga kapten veteran itu. Awalnya ia ingin beranjak pulang karena tidak sopan bagi seorang bangsawan untuk menguping pembicaraan orang lain tetapi inti pembicaraan tersebut membuatnya terkejut dan bertahan untuk mendengarkannya di sana.
"Urahara memasukkan hogyoku ke dalam tubuh Kuchiki? Kenapa bisa?" suara Ukitake terdengar meninggi dari biasanya. Pria tampan berambut putih itu hampir tidak pernah terlihat marah tapi sekarang wajahnya menunjukkan sedikit emosi.
"Yamamoto Sou-taichou, apa yang sedang anda dan Urahara rencanakan? Bukankah memasukkan hogyoku ke dalam tubuh seorang shinigami itu dapat menurunkan tingkat reiatsunya, itu berbahaya bagi hidup Kuchiki Rukia!" Unohana tidak kalah tingginya menentang keputusan Yamamoto.
BRAAK!
Ketiga kapten veteran itu menoleh ke arah pintu masuk ketika mendengar suara pintu yang terbuka secara kasar itu. Mata mereka membulat melihat seseorang yang berdiri di depan pintu dengan wajah yang memerah marah.
"K-kuchiki-taichou.." ucap Ukitake dan Unohana hampir bersamaan.
Gurat kemarahan terlihat jelas di mata abu-abu milik Byakuya. Ia mendengar seluruh pembicaraan itu dan ia tidak mengerti kenapa adiknya yang tidak tahu apa-apa bisa terlibat dalam hal ini.
"Sou-taichou, Unohana-taichou, Ukitake-taichou, tolong jelaskan padaku apa hogyoku itu dan kenapa kalian memasukkannya ke dalam tubuh Rukia?"
"Membosankaaaaan!"
Rangiku mengangkat gelas sakenya tinggi-tinggi hingga membuat beberapa tetesannya jatuh ke wajahnya yang sedang mabuk.
Gin hanya bisa menggeleng melihat tingkah Rangiku saat mabuk. Ia tidak tahu sejak kapan perempuan yang ia cintai itu mulai menyukai sake tapi ia rasa ekspresi wajah Rangiku terlihat manis ketika mabuk.
"Hei Gin, ayo kau juga harus minum!" Rangiku menyodorkan sebotol sake pada Gin namun pria itu menolaknya.
"Aku tidak bisa minum, maaf ya." Wajah rubahnya semakin melebar karena tersenyum, bagi orang lain senyuman ini menyeramkan tapi tidak bagi Rangiku, ia sudah terbiasa melihat senyuman itu sejak kecil, sejak ia 'dipungut' oleh Gin.
"Ahh tidak asyik! Seharusnya tadi aku mengajak Kira saja," keluh Rangiku sambil meletakkan gelas sakenya. Perempuan bertubuh sexy itu mendekati Gin yang duduk di sofa panjang yang ada di ruang kerja pria berambut silver itu.
"Sayang sekali Kira sedang sibuk sekarang, jadinya hanya aku yang bisa menemanimu." Gin menyambut tangan mulus Rangiku ketika perempuan itu duduk di pangkuannya dengan mesra.
"Gin, entah kenapa belakangan ini aku selalu takut jika suatu saat nanti kau akan pergi," ucap wakil kapten divisi 10 pimpinan Hitsugaya Toushiro itu.
Roman wajah Gin sedikit berubah walaupun Rangiku tidak menyadarinya. Pergi, ya mungkin suatu saat nanti jika mereka berhasil menemukan hogyoku ia akan mengikuti Aizen tapi ia masih tidak tahu pasti kapan hal itu akan terjadi.
"Kau tidak akan pergi jauh, kan?" Rangiku menatap lurus ke wajah Gin yang hanya berjarak beberapa centimeter dari wajah cantiknya.
"Tenang saja, aku tidak akan pergi jauh kok." Bohong. Untuk kesekian kalinya Gin berbohong pada Rangiku, ia merasa bersalah tapi semua ini juga ia lakukan untuk Rangiku. Ya, semuanya untuk Rangiku, untuk senyum perempuan yang sangat ia cintai itu.
"Syukurlah." Rangiku menggantungkan tangannya pada leher Gin hingga posisi mereka sekarang saling berhadapan dengan Rangiku tetap duduk dipangkuan Gin. "Kau tahu, aku sudah takut ketika belakangan ini aku selalu bermimpi kalau kau meninggalkanku." Rangiku menempelkan dahinya pada dahi Gin hingga hidung mereka secara otomatis juga bersentuhan.
"Aku takut jika mimpi itu menjadi kenyataan, makanya aku.." perkataan Rangiku terhenti ketika Gin mengecup bibir merahnya dengan lembut.
"Jangan lanjutkan, lupakan saja mimpi itu," ucap Gin pelan setelah melepas ciuman singkat namun penuh arti itu.
Rangiku mengangguk dengan wajah yang memerah seperti kepiting rebus. "Iya, aku akan melupakannya," ucapnya kemudian.
"Bagus." Gin tersenyum sambil mengelus rambut orange Rangiku.
Tok.. Tok.. Tok..
Suara pintu yang diketuk itu membuat Rangiku segera turun dari pangkuan Gin dan dengan segera Gin melangkah ke arah pintu tersebut. Aizen berdiri di sana, sedikit melirik Rangiku di dalam lalu memberi isyarat pada Gin untuk mengikutinya. Gin mengerti, pasti ada sesuatu hal lagi yang ditemukan oleh Aizen.
"Rangiku, aku pergi sebentar ya."
"Eh, mau kemana?"
"Cuma sebentar kok, aku janji." Jawaban itu sebenarnya tidak menjawab pertanyaan Rangiku tapi mau bagaiamana lagi, ia tidak bisa menjawabnya dan ia juga tidak ingin berbohong lagi.
Aizen dan Gin berjalan beriringan menuju sebuah ruangan kosong di ujung bangunan divisi 3. Ruangan itu sengaja dikosongkan karena sering menjadi tempat Gin untuk berlatih ataupun tempat untuknya dan Aizen berbicara.
"Apa aku mengganggu kalian?" tanya Aizen saat Gin membuka kunci pintu ruangan kosong itu.
"Hm.. Tidak kok, jadi ada apa Aizen-sama?" balas Gin, mereka berdua sudah masuk ke dalam ruangan yang lumayan gelap itu. Gin mengambil sebuah lilin lalu menyalakannya dengan kidou kecil yang dikuasainya karena ia tidak pandai dengan jurus kidou.
Aizen memandang sekeliling ruangan yang dihiasi beberapa lukisan hewan buas lalu menyentuh salah satu lukisan yang terpajang pada dinding ruangan di bagian selatan, sebuah lukisan macan yang memakan seekor burung gagak. "Sepertinya, sedikit lagi kita akan menemukan hogyoku itu."
Gin tidak berkomentar ia hanya terus mendengarkan ucapan Aizen. "Kita hanya harus mencari di mana Urahara menyembunyikannya."
"Sebentar lagi, pertunjukan besar ini akan dimulai," kata Aizen lagi.
Gin hanya terdiam, wajah rubahnya yang selalu tersenyum berubah murung dan memperlihatkan mata merahnya yang sendu.
"Rangiku, kau tahu ini adalah hal yang paling aku takutkan," gumamnya dalam hati.
~To be Continued~
