Bloody Sun, Heavy Rain

Disclaimer : Hetalia milik om Hidekaz yang ganteng~ *dibekep*

Reply to Hakuryuu2026 (anda penggemar Saiyuki juga kah? *ditendang*)

Terimakasih... Iya, saya akan mempertimbangkannya. Tenang saja, Arthur nggak akan sadis-sadis banget kok, paling kejem paling cuma maksa Antonio makan sconenya *dilempar banteng* Rencana saya sih bikin dia lebih kejem kata-katanya daripada perbuatannya... *ngeles*

Baiklah, mari kita masuk ke chapter dua.


Chapter One - Beginning of an End

Juni 1588

"Ukh…s-sakit…." Spain perlahan membuka matanya, menggelengkan kepala mencoba menghilangkan nausea yang melanda benaknya. Sekujur tubuhnya terasa sakit, kepalanya pusing, dan dia bisa merasakan bau amis darah di mulut dan hidungnya. Apa yang...… Armadanya! Spain sontak menegakkan diri, matanya melebar tatkala teringat pada pasukan angkatan laut yang sangat dibanggakannya. Jantungnya terasa berhenti berdetak ketika dia menemukan bahwa dia tidak bisa bergerak.

"Kh…a-apa-apaan…"

Spain baru menyadari bahwa dia bersender pada sebuah tiang kayu, kedua tangannya diikat di belakang tiang itu dengan tali kasar. Dia merasakan besi dingin melingkari lehernya, rantai yang cukup panjang menjulur dari belenggunya. Ruangan tempat dia disekap berukuran sedang, berisi banyak boks kayu dan barel-barel yang dari baunya, kemungkinan besar berisi anggur. Lantai di bawahnya terasa sedikit bergoyang, yang hanya berarti satu hal; dia berada di atas kapal.

"Me cago en todo lo que se menea! " umpatnya keras, berusaha melepaskan tali yang mengikat tangannya. Dia meringis ketika dia merasakan tali kasar itu mengiris pergelangan tangannya, pastinya meninggalkan luka-luka goresan atau sedikitnya memar. Alisnya bertemu ketika dia berusaha mengingat-ingat, apa kiranya yang terjadi sehingga dia bisa mendarat di situasi seperti ini. Rambut pirang berantakan… Mata hijau terang… Alis mata yang kelewat besar… England—Arthur Kirkland—ada di atas kapalnya. Mengacungkan pedang sambil menyeringai. Spain ingat dia telah menarik keluar kapaknya, bersiap menghadapi Nation kepulauan tersebut, sampai sesuatu yang keras menghantam kepalanya dan dia tidak ingat apa-apa…

"Inglaterra…" desisnya penuh kebencian.

"You called?"

Spain mengangkat kepalanya, mata hijaunya yang biasanya ramah kini dipenuhi sinar kemarahan. Sepatu bot mewah itu memasuki ruangan dalam langkah kasual sebelum berhenti, memungut rantai yang tergeletak di lantai dan menyentaknya, memaksa Spain menengadahkan kepalanya, menatap langsung ke wajah England yang dihiasi seringai puas.

"Kau kelihatan sehat, Espana." Nation kepulauan itu menyindir, menggulung rantai yang panjang itu di tangannya, membuat Spain harus menjulurkan lehernya supaya besi yang membelenggunya itu tidak memotong jalur pernapasannya.

"La madre que te parió!" Spain kembali mengumpat dalam bahasanya, memandang garang mata hijau England yang sangat mirip dengan matanya sendiri. England hanya tertawa kecil sambil menarik rantai di tangannya. Dia tahu gesture sederhana itu sudah cukup untuk membuat Spain kehabisan napas.

"Aku nggak ngerti kamu ngomong apa dari tadi," komentarnya kasual, menikmati mata Spain yang melebar dalam kemarahan. "Mari bicara dalam bahasa yang kita berdua kuasai."

Sambil berkata demikian, dia berjongkok sampai selevel dengan Spain, masih menyeringai.

Spain menatap balik England, menolak untuk mengakui bahwa dirinya berada di bawah belas kasihan England. "Armadaku…apa yang kau lakukan? Kenapa kau…bisa ada di atas kapalku?"

England tertawa, tawa yang membuat Spain kian sebal.

"Oh Espana. Tak kusangka kau senaif ini," England menyahut, seringai masih tersungging di wajahnya yang tampan. "Kau sangka kau bisa begitu saja menginvasi kerajaanku, the United Kingdom of Great Britain and Northern Ireland, tanpa aku memberikan perlawanan? Jangan bodoh."

Spain menyipitkan matanya, pemahaman mulai memasuki otaknya. "Pirates…" dia mendesis, kemarahannya memuncak ketika England tersenyum dan berkata "Bingo!"

"Kau bilang kau akan menyingkirkan mereka!" Dalam hati Spain mengutuk diri sendiri. Tidak mungkin England dan bosnya menyingkirkan para bajak laut itu, yang begitu sering merampoknya, menjarahnya, menenggelamkan kapalnya. England benar, betapa bodohnya dia sampai melupakan kawanan gagak haus darah itu.

"Awak-awak kapalku…apa yang kau lakukan pada mereka?"

Alih-alih menjawab, England hanya menyeringai lebar, menarik keluar kain merah berlapis emas dan menyampirkannya di bahunya. Spain membelalak. Jubah Conquistadornya!

"Kembalikan! Bajingan! Bangsat! Son of a….kkkhhh!"

Spain tersedak ketika England menarik rantainya keras-keras, seringainya telah lenyap, digantikan tatapan tajam. Spain melempar kepalanya ke belakang, paru-parunya menjerit minta udara.

Tidak bisa…bernapas…

"Kamu ingin tahu soal awak-awakmu, hm?" England bertanya pelan, kembali menarik rantainya, tak peduli ketika bercak darah mulai menuruni leher tawanannya. "Mereka sudah berada di bawah sana. Bersama kapalmu yang mewah itu. Tentu saja setelah kami mengosongkannya dari barang-barang yang berharga," paparnya puas.

Spain menyipitkan matanya, masih berjuang mendapatkan udara.

Tidak…

"Soal armadamu itu, jangan khawatir. Kamu membawa sekitar 150 kapal kan? Kami baru menenggelamkan sekitar…" England berhenti sejenak untuk menghitung dengan jarinya sebelum melanjutkan, "…sekitar 25 kapal. Kamu masih punya banyak persediaan," ujarnya enteng. Spain menatapnya horor. 25 kapal tumbang…dalam waktu kurang dari seminggu?

Tidak….ini tidak mungkin… Armadaku…yang terkuat…

Mendadak tanpa peringatan, sayatan panjang muncul di bahu kanan Spain, memanjang sampai sikunya. Spain tersedak, tak sanggup berteriak bahkan setelah England mengendurkan rantainya.

"Wah, ada lagi yang tenggelam," komentar England. Mata Spain melebar. Dia bisa melihat api, pedang yang berkelebat, orang-orang berlarian… Jeritan ketakutan mereka yang sekarat, mereka yang tak berdaya terseret makin lama makin dalam ke dalam lautan gelap, perlahan mencekik dan mengambil nyawa mereka...

"Dilihat dari dalamnya, mungkin kali ini sekitar 4 atau 5 kapal tumbang sudah," England memeriksa luka Spain, tangannya yang berbalut sarung tangan menyentuh luka yang masih segar itu, membuat Spain berjengit.

"K-Kenapa… tidak kau bunuh saja aku?" Spain mendesis menahan sakit, mendelik pada Nation pirang tersebut.

England balas menatapnya, kedua mata hijau yang identik itu saling beradu pandang. "Mauku juga begitu. Sayangnya, Bossku menyuruhku jangan membunuhmu. Bagaimanapun, Bossmu masih kerabat Bossku. (1) Dia bahkan menugaskanku mengembalikanmu ke Spain. Menyusahkan saja." England menggerutu sejenak, sebelum seringainya kembali. "Tapi…tidak ada yang bilang aku harus mengembalikanmu dalam keadaan utuh, kan?"

Spain mau tidak mau merinding mendengar kalimat terakhir England.

"Bastardo…"

"A, a, jaga mulutmu, Espana." England memegang dagu Spain, memaksanya menengadah, sebelum berbisik pelan di telinganya. "Ingat status kita. Aku bajak laut, dan kamu tawananku. Aku bisa saja menyiksamu sampai hampir mati, dan Bossku tidak perlu tahu itu. Walaupun…sepertinya aku tidak perlu mengotori tanganku…"

Dia menyeringai ketika sayatan mulai muncul di pipi kiri Spain, mengucurkan darah segar. Spain bergidik. Apakah karena sakit? Bukan, ini….rasa takut…

"Kau akan menghancurkan dirimu sendiri, Espana," England berbisik, "Kau dan Armadamu yang menyedihkan itu. Dan aku akan berada di sini untuk melihat itu terjadi." Dia tertawa pelan di telinga Spain sebelum berdiri, menjatuhkan rantai yang sendari tadi dipegangnya.

"Jangan coba-coba melarikan diri, kita ada di atas kapal di perairan Nordic. Silakan saja, kalau kau ingin jadi makanan tengiri." England menambahkan, memandang puas sosok Spain yang meringkuk dan gemetar.

"Sampai jumpa besok, Espana. Kalau kau masih hidup…" dengan satu seringai terakhir, England menutup pintu kayu tersebut, sekali lagi meninggalkan Spain dalam kesendiriannya.

Begitu mendengar bunyi kunci diputar, pertahanan Spain runtuh sudah. Air mata mengaliri wajahnya yang terbakar matahari, menimbulkan nyeri di luka barunya di pipi. Nation Mediteran itu terisak sementara bayangan demi bayangan prajuritnya yang sekarat memasuki pikirannya, luka-luka baru bermunculan di berbagai tempat di tubuhnya. Kemudian terbayang olehnya Romano, yang menunggunya di rumah. Menunggu dirinya yang mungkin tidak akan pernah pulang.

"L-Lovi…maafkan aku, Lovi…" Spain terisak, air mata jatuh ke atas dadanya yang separuh telanjang, di mana sayatan baru mulai bermunculan.

"Aku tidak bisa menepati janji…"

-tbc


(1) Queen Elizabeth I of England dan King Phillip II of Spain memang masih kerabat, tepatnya half-sister-in-law. Bedanya, Elizabeth I beragama Protestan, sementara Phillip II seorang devout Catholic. Perbedaan agama ini juga salah satu yang melatar belakangi Anglo-Spanish War.

Spanish yang diucapkan Antonio sepertinya tidak perlu saya terjemahkan, yang pasti isinya pisuhan ;P

Omake (WARNING: kemungkinan akan menghancurkan tensi yang sudah dibangun)

England: Oi, Antonio!

Spain: Apa, Arthur-bastard? Belum puas kau menyiksaku sampai seperti ini, hah?

England: B-Bukan itu! Nih, coba lihat koran hari ini! Dan erm...selamat ya.

Spain: *membaca pelan-pelan* Umm...Spain...mengalahkan...Germany...1-0...dan maju ke final World Cup? Wah serius nih? Timku mengalahkan Alemania? Wahh!

England: *berdeham n blushing(?)* Erm...makasih ya, udah balesin dendamku ke Ludwig yang mulangin aku di babak perenambelas. Walaupun cuma 1-0, tapi tetap saja...

Spain: *nggak dengerin* Wahh! Sampai di rumah aku harus pesta tomat! Harus segera kasih tahu Lovi! Dan Francis juga! Dan Gilbert juga! Walaupun secara teknis aku juga ngalahin dia sih, tapi...bodo amat ah. Eh Arthur, kamu punya telepon di atas kapal nggak? Aku boleh pinjem?

England: *terdiam sejenak, sebelum fungsi tsunderenya nyala* Antonio bodoh! Bodoh! Selama seminggu nggak akan ada makanan untukmu! *lari keluar gaje* *Author dihajar fans Iggy*

Spain: *bingung* Lho, lho.. Oi Arthur! Aku salah apa?

*FAIL* Saya memang tidak ditakdirkan nulis humor... *pundung* walaupun akhirnya kesampaian juga sih nulis tsundere!Arthur...

Terimakasih buat yang membaca dan menikmati. Err saya butuh pendapat nih. Apakah plotnya agak terlalu 'dark'? Perlukan saya buat lebih ringan? Soalnya kalau bisa saya tidak ingin naikin rating sampai M... Kritik dan saran juga saya terima dengan senang hati. Stay tuned for the next chapter :)

-Ryokiku