Bloody Sun, Heavy Rain
Disclaimer: Om Hidekaz... *dibekep*
Review Reply to Pilong099711 males login
Ah ya, terimakasih sudah diingatkan soal flashback. Terimakasih juga reviewnya ya. Ini sudah diupdate :)
Baiklah, mari kita masuk chapter berikutnya.
Chapter Two - Parted Ways, Winding Road
Juli 1588
"Buka."
Spain menggeleng.
"Aku bilang, buka!"
Spain menggeleng makin keras, mengatupkan mulutnya rapat-rapat.
Urat-urat mulai muncul di dahi England. "Antonio Fernandez Carriedo, jangan buat aku mengulangi ini. Buka mulutmu sekarang dan makan scone-ku atau kamu nggak akan dikasih makan seminggu!"
Spain memalingkan wajahnya, ekspresinya jelas menyatakan lebih-baik-mati-kelaparan-daripada-mati-keracunan.
England mengurut jidatnya yang senut-senut. Sudah dua jam dia berjongkok di depan Spain berusaha memaksa tawanannya itu makan masakannya, dan sejauh ini hasilnya sia-sia alias sampai ambeyen pun scone di piringnya bakal masih utuh tak tersentuh. Sepertinya tidak ada cara lain selain mencoba…senjata rahasia.
Dia beringsut mendekati Spain, wajahnya tinggal beberapa senti dari wajah kecoklatan Nation Mediteran itu. Spain masih membuang muka, bertekad untuk tidak membuka mulutnya bahkan kalau England nekat menarik rantainya dan mencekiknya sampai dia jadi satu dengan Mbah Rome, dia tidak akan…
"Espana, South Italy datang menyelamatkanmu lho." England berbisik di telinga Spain. Mata hijau terang itu langsung membelalak.
"LOVIIII! JANGA…MMPHH!"
Tidak menyia-nyiakan kesempatan, England langsung menjejalkan tiga scone sekaligus ke mulut Spain yang akhirnya terbuka lalu membekapnya, mencegah Spain memuntahkan benda mematikan yang kini memenuhi rongga mulutnya. Spain memberontak, kelojotan beberapa saat, sebelum akhirnya tepar dengan mulut berbusa.
Menghela napas lega, England berdiri dan mengusap peluh di dahinya. Selesai sudah tugasnya. Dia berdiri, mengangkat piring scone-nya. Masih ada dua scone yang tersisa, tapi dilihat dari kondisinya, mustahil memaksa Spain makan lebih dari ini. England menatap masakannya, alisnya yang tebal bertemu, dengan cepat mendominasi dahinya. Memangnya apa yang aneh sih dengan masakannya? Yah, kalau dibandingkan wurst Prussia, pasta Italy, atau bahkan masakannya si mesum France itu memang masakannya berbentuk dan berwarna agak 'lain' sih, tapi yang penting kan bukan rupa tapi rasa, iya kan? England berpikir-pikir sambil memasukkan sebuah scone ke dalam mulutnya.
Mendadak tanpa peringatan, rasa perih yang amat sangat tiba-tiba menyerang perutnya. Dia langsung jatuh berlutut sambil mencengkeram abdomennya, piring scone-nya—yang untungnya terbuat dari logam—jatuh berkelontangan di lantai kayu. Mata hijau England melebar. Masa sih…masakannya sudah sedemikian parahnya sampai dia sendiri nggak tahan?
Belum hilang rasa kagetnya, tiba-tiba England merasakan sesuatu yang basah dan panas merembes menodai bajunya. Dia terbelalak ketika menyadari cairan yang kini juga menodai telapak tangannya itu.
Darah…? Apa-apaan ini… Masa scone-ku…
England mengeluarkan teriakan tertahan ketika bayangan demi bayangan memasuki pikirannya; pedang, api, prajurit yang bergelimpangan… dan seringai pahit terbentuk di bibirnya. Ternyata memang bukan karena scone-nya.
"Cih. Armadamu boleh juga, Espana."
Agustus 1588
Spain menyenderkan kepalanya ke tiang di belakangnya, terengah-engah berjuang mempertahankan kesadarannya. Pertempuran hebat sedang terjadi di daerah Ireland, menelan banyak sekali korban dari pihaknya. Sial…kalau saja bukan karena badai laknat itu, mungkin korban dari pihaknya tidak akan sebegini banyak…
Dia menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan tubuhnya yang gemetar, isi perutnya yang bergolak, kepalanya yang serasa mau pecah. Sudah tiga bulan berlalu, armadanya sudah nyaris mengitari seluruh British Isles. Dan dia masih tidak tahu kapan ini semua berakhir. Tentunya England juga mengalami penderitaan yang sama dengannya? Dia tidak tahu…dan terlalu lelah untuk mencari tahu.
Bertahanlah… Dia memohon pelan, pasti sudah menggenggam kalung salib di dadanya kalau saja tangannya tidak terikat di belakang. Bertahanlah…tinggal sedikit lagi…
Karena ada janji yang harus ditepati…
September 1588
"Kau bebas, Espana."
Spain mendongak, mata hijau yang kelelahan itu menatap England penuh kecurigaan. Mungkinkah dia hanya mempermainkan perasaannya? Keraguannya terjawab ketika England berlutut di belakangnya dan dengan satu ayunan pisau, memutuskan tali yang mengikat tangannya. Spain menggosok-gosok pergelangan tangannya yang memerah, berusaha mengembalikan peredaran darahnya yang terhambat, sebelum berdiri perlahan dan menatap England. Wajah pria British yang biasanya congkak itu tampak agak kusut, walaupun mata hijaunya masih tetap bersinar dengan kebanggaan dan keangkuhan. Walaupun tidak separah dirinya, sepertinya England juga merasakan dampak dari pertempuran armada mereka.
"Kapal akan merapat di pelabuhan Santander sebentar lagi," England berkata dingin, berbalik dan berjalan menuju pintu. "Jubah dan kapakmu ada di ruangan sebelah. Aku tidak ingin ada barang-barangmu tertinggal di kapalku." Dia berhenti sejenak di ambang pintu, menatap Spain dari ujung matanya dan melontarkan kalimat terakhirnya. "Kali berikutnya kita bertemu, aku benar-benar akan menghabisimu."
Spain menatap England pergi, masih tidak percaya akan perubahan nasibnya.
"Aku…bebas?" bisiknya, tangannya yang gemetar menggenggam kalung salib di lehernya, air mata panas mengaliri pipinya. Semua penantian itu sudah berakhir. Dia akan pulang, sebentar lagi.
"Damn... I was so close..." England mengutuk, membanting dirinya di sofa mewah yang menghiasi kamar pribadinya. Dia memejamkan matanya, lengan kanannya menutupi dahinya. Padahal dengan semua jebakan, bajak laut, sampai arus dan cuaca yang terbukti sangat tidak menguntungkan lawannya, dia pikir dia bisa menyingkirkan Spain untuk selamanya, dan menjadi penguasa tunggal ketujuh samudra. Tapi ternyata, negara Latin itu lebih tangguh dari yang diduganya.
England menatap perutnya yang dibalut perban. Sejauh ini dia kehilangan sekitar 100 orang dan 400 lainnya luka-luka. Tidak ada kapalnya yang tenggelam. Kondisi Spain mungkin dua-tidak, lima kali lebih buruk darinya.
Yah setidaknya, dia sudah membuat Spain lemah. Spain bukan lagi negara yang patut ditakuti di kancah perebutan kekuasaan Eropa. Nation yang dulu dijuluki Kingdom Where the Sun Never Sets itu sudah kehilangan kekuatannya, harga dirinya. Tinggal tunggu waktu saja sampai matahari itu terbenam sepenuhnya.
Aneh, padahal biasanya rumahnya selalu diterangi cahaya matahari.
Spain berpikir ketika dia berjalan terseok-seok menuju rumahnya, hujan deras menerpa tubuh lemahnya. Sudah tak terhitung berapa kali dia terjatuh membentur tanah dan bebatuan kasar, membuat beberapa lukanya yang telah mengering kembali terbuka lebar. Hembusan angin dingin menembus robekan-robekan besar di jubahnya, membuat kulitnya bagaikan ditusuk ribuan jarum. Entah sudah berapa kali pandangannya menggelap, kakinya bergetar, tubuhnya sudah nyaris pingsan. Hanya satu hal yang membuatnya bertahan untuk terus berjalan.
Lovi… aku pulang, Lovi…
Senyum kecil tersungging di bibirnya yang pecah-pecah ketika akhirnya dia sampai di depan pintu rumahnya.
"Lo…Lovi…"
Aku pulang, Lovi…
Air matanya nyaris mengalir ketika Romano—Lovi nya tersayang, membukakan pintu sambil marah-marah, kelihatan sekali habis menangis.
…dan aku janji tidak akan pergi lagi…
"S-Spain? Apa yang terjadi? Kenapa…kenapa bisa…" Dia melihat ekspresi ketakutan di wajah protektoratnya.
Maaf ya… Kamu pasti takut melihatku pulang seperti ini...
"B-Bodoh! Di saat seperti ini malah mengkhawatirkan orang lain! Dasar Spain bodoh! Bodoh!"
Ahaha~ aku memang bodoh. Tapi…aku orang bodoh yang beruntung bisa mengenalmu, Lovi…
Sesudah itu, Spain ambruk dan tidak ingat apa-apa lagi. Dia bahkan tidak mendengar Romano menjeritkan nama manusianya dan menangis untuknya. Sementara itu, hujan terus turun tanpa belas kasihan.
-tbc
A/N: ...fail? maksa? dua-duanya? *headdesk* Yep, chapter 2 dan 3 adalah flashback. Mulai chapter 4 alurnya akan maju terus, nggak ada lagi membalik-balik waktu. FYI...sepertinya usaha saya menulis dark FAIL sudah... *nangis* Maka dari itu, kritik dan saran akan sangat sangat sangat dihargai... *dilempar ke luar jendela*
Omake (WARNING: gajhe, garing, gak nyambung)
Spain: Khh...sialan kau, Inglaterra...
England: Hm? Sadar juga akhirnya kau, Espana. Gimana rasanya scone-ku?
Spain: Nggak tahu. Begitu masuk mulut, kesadaranku langsung hilang. Ngomong-ngomong...berapa lama aku pingsan?
England: Sekitar... 5 jam?
Spain: Busett!
England: Itu udah lumayan banget. China dulu pingsan hampir seharian. Si kodok mesum itu malah tepar dua hari penuh. Yang paling mending sih America, dia 'cuma' pingsan 2 jam waktu pertama kali makan dan setelah itu nggak pernah pingsan lagi. *bangga*
Spain: *menelan ludah* Turut berduka cita atas hilangnya indra perasamu, Ameri-chan...
England: Apa kau bilang?
Spain: Ng..Nggak. Umm oh ya Inglaterra, pernah mempertimbangkan bikin scone rasa tomat?
England: *dingin* Ditolak.
Spain: *nangis di pojokan*
*FAIL* *Author pundung bareng Spain*
Sneak peak for the next chapter:
"Prusse…kau yakin ini ide yang bagus?"
"Kamu ngomong apa sih! Antonio itu teman kita. Apa gunanya teman kalau malah menghilang di saat sedang dibutuhkan? Dasar tidak awesome!"
More characters! Stay tuned for the next chapter :)
-Ryokiku
