Bloody Sun, Heavy Rain

Disclaimer: Om Hide… *dibekep*

Review reply to Pepper

LOL Anglo-Spanish War emang bukan sejarah yang populer kok, kalo dibandingin sama Napoleonic War n semacemnya emang rada 'ga penting' sih *dilindes banteng lewat* Hahaha bener banget, cinta mengalahkan segalanya, bahkan masakan beracun sekalipun *dicekoki scone* Bakal ada USUK kok…tadinya mau saya sisipin di chapter ini tapi jadinya kepanjangan. Tunggu di chapter berikutnya ya :) Makasih sudah mereview :)

Baiklah, mari kita masuk chapter berikutnya.


Chapter 3 - Intertwining Hands

"Prusse…kau yakin ini ide yang bagus?"

"Kamu ngomong apa sih! Antonio itu teman kita. Apa gunanya teman kalau malah menghilang di saat sedang dibutuhkan? Memangnya kamu tidak menganggap Antonio sebagai teman? Dasar tidak awesome!"

"Tentu saja aku menganggap dia sebagai teman! Tapi… kalau sampai ketahuan Angleterre kalau kita mau menjenguk Espagne, bisa-bisa kita ikut dihajar…"

"Makanya kita pergi diam-diam, walaupun sedikit tidak awesome sih. Lagipula kenapa sih banci kayak gitu pake ditakutin segala? Masih sereman Hungary kali…"

France mengacak rambutnya frustrasi. "Kamu nggak ngerti, Gil! Angleterre itu sangat kejam! Tidak berbelas kasihan! Kamu nggak ngerti, karena kamu belum pernah berhadapan langsung dengannya! Jeanne d'Arc Napoléon… semua pahlawanku dia habisi dengan sangat biadab! Dan sekarang, armada Espagne juga kena! Ooh Antonio mon chér, abang Francis sangat mengerti perasaanmu, anak malang!" France mulai mengigiti sapu tangan polkadot pink yang dia samber dari jemuran Poland dengan lebay, air mata (buaya) nya berleleran ke mana-mana.

Prussia hanya bisa geleng-geleng melihat tingkah rekannya yang aneh bin tidak ajaib itu. "Cih. Tampang tsundere kayak gitu paling juga beberapa ratus tahun lagi bakal jadi uke salah satu koloninya ato apa kali," dengusnya sebal.

"Ihh nggak boleh! Iggy harus jadi uke-ku! Dan Espagne juga! Dan Autriche! Dan Suisse! Pokoknya semua bishie di Eropa adalah uke-ku!" France tahu-tahu berhenti nangis, masang pose menggigit mawar entah dari mana sambil ketawa mesum. "Yah…kecuali kamu, Prusse. Jiwamu jiwa lajang sih…" Prussia sweatdrop.

"Ya, ya. Pokoknya jangan lupa ngundang-ngundang kalo kamu udah nikah sama Russia ya. Ngomong-ngomong kayaknya kita udah mau nyampe nih. Tuh, pantainya udah kelihatan."

Kapal yang mereka naiki merapat ke pelabuhan La Coruna—mereka sengaja berlayar dari selatan untuk menghindari berpapasan dengan armada England—dan kedua personifikasi Nation itu serta-merta tercengang oleh pemandangan yang menyambut mereka.

"Mein Gott…"

"Mon Dieu… Ini…sisa-sisa armada Espagne?"

Prussia merasakan firasat buruk berkelebat. "Ayo cepat, Francis! Kalau armadanya saja seperti ini, aku khawatir dengan kondisi Antonio sendiri!" Tanpa menunggu lagi, Prussia langsung berlari, jubah putih Teutonic Knight-nya melambai-lambai di belakangnya.

Damn it Antonio…You better stay alive…

"Tunggu Gil! Aduh! Rok(?)ku nyangkut di pasak nih! Duhh Gilbert! Tungguin eike(?) donggg!"


Romano bersumpah, belum pernah dia merasa secapek ini kecuali sewaktu Spain mengerjainya di hari ulangtahunnya dengan menyembunyikan semua tomat mereka dan menyuruhnya mencari di seluruh penjuru rumah. Sudah hampir setengah jam berlalu sejak Spain roboh dalam pelukannya—tidak, itu bukan pelukan, dia cuma menahan kepala Spain supaya tidak terbentur lantai terus jadi semakin bego, itu saja. Sama-sekali-bukan-pelukan. Yah intinya, dia telah menggotong—atau lebih tepatnya setengah menyeret—Nation yang lebih besar itu dari pintu depan, dan itu bukan pekerjaan yang mudah. Butuh banyak waktu, tenaga, dan air mata(?) untuk memindahkan Spain dari pintu depan tempatnya kolaps sampai ke ruang tengahnya. Dan sekarang, Romano tengah menatap horror tantangan berikutnya.

S-Spain bego! Kenapa sih… kamarnya musti ada di lantai dua?

Walaupun tubuhnya tidak se-chibi dulu waktu pertama kali diadopsi Spain, tetap saja tingginya paling-paling baru mencapai pinggang Nation yang membesarkannya itu. Alhasil, dia hanya sanggup menopang bagian atas tubuh Spain, meninggalkan kaki dan paha Nation yang terluka itu terseret-seret di lantai meninggalkan jejak darah. Mata hazel itu berpindah dari Spain yang terkulai lemah di punggungnya, lalu ke tangga yang paling tidak ada 20 langkah itu. Romano menelan ludah.

P-Pokoknya kalau kita sampai jatuh, ini salahmu, bastard!

Gemetar, Romano melangkahkan satu kaki ke anak tangga, diikuti dengan kaki satunya. Dia bisa merasakan berat tubuh Spain menariknya ke bawah, tapi menolak untuk menyerah. Dia mengambil satu langkah lagi, menggeser posisi Spain di punggungnya agar makin mantap, lalu melangkahkan kaki satunya. Begitu terus sampai mereka tinggal kurang tiga anak tangga lagi dari tujuan. Walaupun bersimbah peluh, seulas senyum muncul di bibir Romano yang biasanya cemberut. Yosh, dia bisa melakukannya…

Tiba-tiba saja, kakinya menginjak udara.

Mata Romano membelalak ketika dia merasakan beban tubuh Spain di punggungnya hilang seiring dengan hilangnya keseimbangannya.

Merdaaaaaaaa!

"Romano!"

"Espagne!"

Mendadak, tangan kuat mencengkeram lengannya, mencegahnya jatuh berguling dari tangga. Romano membuka matanya yang sempat terpejam lalu menengadah, langsung bertatapan dengan mata merah darah dibingkai rambut pirang platinum yang menawan.

"Albino...bastard?"

Alis pirang itu naik sedikit. "Jelek banget sih ngasih orang julukan. Yang awesome dikit napa?" Penyelamatnya itu berkomentar sebal. Dia memberi isyarat dengan dagunya dan Romano menoleh ke arah bawah tangga, di mana France tengah memapah Spain sambil mengedip gaje ke arahnya.

"S-Spain!"

"Tenang, dia selamat. Bersyukurlah, aku dan Francis datang tepat waktu untuk mencegah kalian berdua jatuh gelundungan dari tangga." Personifikasi negara Prussia itu menatapnya, mata merah darah itu tampak melunak. "Kami hargai usahamu, Romano. Sekarang serahkan sisanya pada kami yang awesome ini ya?"

Romano hanya balas menatapnya, mulutnya terbuka tapi tidak ada suara yang keluar. Kakinya mendadak terasa lemas, punggungnya baru terasa ngilunya. Butir-butir air mata menetes dari mata hazel itu, membanjiri wajah bundarnya. Si bodoh itu…untung dia punya teman-teman bodoh yang bisa diandalkan…

Prussia menarik Romano yang mulai terisak ke dekatnya, menepuk-nepuk punggungnya. Dia melirik France yang masih berdiri menunggu dan berbisik. "Tolong urus Antonio dulu. Sisanya serahkan padaku."

France mengangguk mengerti, tanpa babibu langsung membopong Spain bridal style lalu setengah berlari menuju kamar si pemilik rumah. Prussia masih menepuk-nepuk punggung Romano, berusaha menenangkan anak yang sekarang menangis histeris itu. Yah, dia tidak bisa menyalahkannya sih. Romano masih kecil, wajar dia stress berat melihat Spain yang biasanya mengurus dan melindunginya sekarang pulang dalam keadaan begini. Prussia sendiri tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Holy Roman Empire yang sudah dianggapnya adik sendiri itu seandainya dirinyalah yang pulang sekarat dan berdarah-darah. Nation albino itu membelai rambut auburn Romano, menahan hasratnya untuk menyentuh keriwil yang menurut Spain bisa membuat Romano 'berserk'.

"Romano, kau sudah melakukan yang terbaik. Kami melihat jejak darah dari pintu depan; pasti kamu setengah mati menggotong Antonio sampai sini kan? Harus kuakui itu cukup awesome. Sekarang istirahatlah dulu. Nggak awesome kan kalau nanti Antonio bangun yang dilihatnya wajah-wajah muram?" Prussia berusaha membujuk Romano, mengeluarkan semua pengalaman dan insting (ngawur) nya dalam membesarkan nation lain.

"…k'sih"

"Hm?"

"…Makasih." Romano berbisik, wajahnya merah seolah-olah kalimat itu diucapkannya dengan tidak rela. Prussia melongo sejenak sebelum ketawa ngakak. Romano? Si jutek-galak-tsundere-campur-jadi-satu Romano, berterima kasih padanya? Wah, seandainya tadi dia bawa perekam, pasti sudah dia abadikan momen langka itu di blognya. Pasti komennya ratusan!

Romano cemberut, mukanya masih merah. "K-Kenapa ketawa, albino-bastard? Dasar nggak sopan! Udah, aku mau pergi nengok An—Spain aja! Sialan!" South Italy cilik itu pergi sambil mencak-mencak, asap bermunculan dari telinganya.

Prussia masih ngakak nggak jelas, memukul-mukul tembok di sampingnya selama tiga menit penuh, sebelum berhasil menguasai dirinya.

"Hh… Yah, paling tidak dia sudah lebih tenang sekarang. Oke deh. Sepertinya sudah waktunya bagi aku yang awesome ini untuk bergerak."

Dengan cepat diambilnya sehelai kertas dan sebatang pena yang dibawanya ke mana-mana (beginilah blogger sejati! *digetok*) lalu mulai menulis dengan kecepatan luar biasa. Begitu selesai, dia membaca ulang hasil kerjanya untuk memastikan tidak ada kesalahan tanda baca (nah…ini fanficcer sejati *disumpel scone*)

"Kepada Austria-yang-agak-kurang-awesome.

Mungkin kau akan langsung melempar surat ini ke perapian begitu kamu tahu yang mengirim aku, tapi tolong, sekali ini dengarkanlah ke-awesome-anku, yeah? Ini bukan surat yang biasa kukirim untuk mendeskripsikan betapa awesome-nya diriku; surat ini sedikit lebih penting.
Kondisi Spain sedang tida
k awesome, mungkin malah agak gawat. Dia gagal merebut vital region England dan malah armadanya dihancurkan dengan sangat tidak awesome. Tinggal masalah waktu sampai seluruh Eropa tahu bahwa El Imperio Español sedang tak berdaya dan mereka akan berlomba-lomba merebut vital región-nya. Sebelum itu terjadi, France, Romano, dan aku yang awesome ini entah bagaimana akan membantu Spain pulih secepatnya dan kembali awesome seperti dulu (tapi masih tetap lebih awesome diriku).
Walaupun agak kurang
awesome, kamu sebagai istri..err partnernya (1) tolong ulur waktu dengan menutupi kejadian ini dari Nation lain, terutama yang nggak awesome macam Russia atau Ottoman Empire.
Counting on you, pal.

Temanmu yang awesome, Königreich Preußen."

Yup, sudah cukup awesome. Prussia mengangguk-angguk bangga, melipat surat itu lalu menyelipkannya ke paruh Gilbird, burungnya yang setia. "Antarkan ke rumah Roderich yang nggak awesome itu ya, bird!" perintahnya. Gilbird mengangguk(?) lalu mengepakkan sayapnya menuju Eropa Timur.

Mata rubi Prussia terus mengawasi sampai Gilbird berada di luar jangkauan penglihatan, sebelum berbalik dan melipat lengannya, otaknya yang terlatih-tapi-jarang-digunakan mulai menyusun strategi.

"Sekarang masalahnya tinggal England…"

-tbc


(1) Jauh sebelum Austria dan Hungary menjalin pernikahan(?), sebenarnya Austria dan Spain pernah sama-sama berada di bawah dinasti Habsburg lewat arranged-marriage. Jadi yah, sebenernya hubungan mereka diartikan sebagai suami-istri juga nggak salah -plak- walaupun Spain entah bagaimana jadi makin dekat dengan France dan hubungannya dengan Austria akhirnya putus total saat War of Austrian Succession.

fail seperti biasa? *headdesk* Prussia mungkin agak sedikit OOC, tapi sedapat mungkin saya ingin mengeksplor sisi dewasanya. Seerror dan segeblek apapun, dia adalah pria yang membesarkan Germany *dilempar granat* France... saya bikin dia jadi pervert standar *dihajar penggemar France* Akhirnya, Bad Touch Trio muncul semua! *ditangkap satpam karena berisik* Satu lagi...maaf ya kalau SpaMano di chapter ini kurang 'buhyoo' *kluk*

Omake (WARNING: contains FRANCE. Read at your own risk)

Prussia: *menatap horor* Mein Gott... Francis! K-Kamu ngapain?

France : Uhhhh Gilbert ini mengganggu aja! Emang apa yang salah sih, kalau Kingdom of Love seperti daku jadi satu dengan Kingdom of Passion? *mengedip gaje*

Prussia: *facepalm* Otak mesummu tuh yang salah! P-Pokoknya, cepat singkirkan barang bukti(?) sekarang juga! Kalau Romano sampai lihat…

France: *mendesah kalut* Yahhhh padahal aku baru saja menikmati -piiipp- sama -piiiip- dengan menggunakan -piiiiip- sampai masuk ke -piiiip- dan jadinya -piiiiip- terus ya...

Prussia: *komat kamit baca doa* Aku nggak denger yang barusan...aku nggak denger yang barusan...

Romano: *tahu-tahu masuk kamar* Oi wine-bastard, albino-bastard! Aku bawa perban baru dan... *melotot melihat 'pemandangan'* A-A-A...ANJR*T! B*BI! B*NGS*T! Menjauh dari Antonio(ku), maniak-seks-penggila-pria-dan-waria! *niup peluit manggil mafia*

Prussia: *panik* H-Hei! Yang nge-piiiip- tu si Francis doang! Kenapa aku yang awesome ini ikut dikejar? Tidakkkk!

*FAIL* -memangnya kapan omake saya nggak fail? *headdesk*-

Oh ya sedikit quiz…ada yang bisa menebak ada berapa kata 'awesome' dalam chapter ini? :3 Yang berhasil menghitung dengan benar, namanya akan dipajang di chapter berikutnya (sebagai buronan -shot-) Hadiah yang nggak mutu tapi yah…maklum, Author lagi bokek -shot-

Sneak Peak for the next chapter:

"England...kamu terluka?"

"E..eehhh b-b-bukan...erm maksudnya aku memang luka, tapi nggak parah kok, beneran! W-Wagh, jangan nangis, America! A-Aku bikinin scone deh, ya?"

Coming up next, chibi!America. Stay tuned for the next chapter :)

-Ryokiku

EDITED