Sebelum masuk ke cerita, saya ingin mengucapkan terimakasih pada LvNa-cHaN yang memberitahukan adanya plothole dalam cerita saya. Di chapter sebelumnya Romano memanggil Prussia potato-bastard-versi-kakak, padahal tahun 1588 kan yang ada masih Holy Roman Empire, bukan Germany. Sejujurnya, saya pingin percaya kalau HRE dan Germany tu orang(?) yang beda (biar kisah cinta Italy makin ruwet XP –dilempar pasta-), tapi setelah coba ubek-ubek literatur sejarah nyari solusi buat plothole ini, saya mau nggak mau akhirnya nerima kalo Germany tu kemungkinan besar emang inkarnasi HRE, ato minimal cucu/ponakan/apanya lah. Soalnya di abad 16, apa yang kita kenal sebagai Germany sekarang itu ternyata sebuah 'negara' yang terdiri dari state-state, dengan tak kurang dari 30 pangeran langsung di bawah komando Holy Roman Emperor. Dan karena belum punya Boss sendiri, belum bisa dihitung jadi Nation kan ya… (Paman Hidekaz, tolong bilang teori saya salah! Saya pingin liat HRE dan Germany rebutan Italy! -dilempar wurst-) Ahem. Intinya… yap, saya mengakui cerita saya ada plothole, dan saya nggak bisa ngebantah karena sejarah nggak bisa bohong :P Jadi, semua yang berkaitan dengan Ludwig/Germany di chapter sebelumnya akan saya ganti menjadi HRE, dan julukan Prussia juga saya ganti jadi albino-bastard soalnya 'potato-bastard'-nya sendiri masih harus nunggu 2 abad lagi untuk eksis. Sekali lagi, terimakasih untuk LvNa-cHaN dan kejeliannya menangkap plothole ini (sekaligus secara nggak langsung bikin saya belajar sejarah Germany XDD). Untuk para readers, maafkan Author yang tidak kompeten ini –nunduk dalem-dalem-

Dan menjawab kuis(?) di chapter sebelumnya, jumlah kata 'awesome'nya ada 22. Untuk Ha Efalent yang menjawab 21 dan Pilong 099711 yang menjawab 20, cuman beda dikit kok, jangan nangis ya… -ditendang ke Mars-

Oh ya, dan review reply untuk para anon reviewers:

To nyasar-chan : Yahhh kok nyerah… -dicekek- Oke, ini sudah diupdate. Makasih sudah mereview ya :)

To Akachi : Yeahhh! Ketemu sesama penggemar SpainXEngland! (walaupun saya lebih suka kalo dibalik sih :3 -dihajar-) LOL padahal humor saya gaje semua gitu, hahaha. Anyway, makasih sudah membaca dan mereview ya :)

Umm… *toel toel readers* Masih belum pada ketiduran kan? *dihajar rame-rame* Kalau begitu mari kita masuk ke chapter berikutnya :) Selamat membaca dan semoga menikmati.

Dan sebelum lupa, Hetalia milik Paman Hidekaz yang akhir-akhir ini kayaknya lagi suka ngegambar Oyabun XDDD


Bloody Sun, Heavy Rain

Chapter 4 - Crisscrossing Destinies

England turun dari kapalnya, diam-diam bersyukur akhirnya menginjakkan kaki ke tanah yang padat setelah empat bulan lebih terombang-ambing di atas ombak. Mengibaskan debu dari jubah birunya atas dasar kebiasaan, mata hijaunya memandang pelabuhan dan lingkungan sekitarnya dengan penuh kekaguman. Padahal belum setengah tahun berlalu sejak dia pergi meninggalkan koloninya ini, tapi America telah berkembang begitu pesat. Pelabuhan yang dulunya begitu sederhana, sekarang sudah ramai dan mulai banyak dikunjungi kapal. Bagaimana dengan America sendiri ya...

"Englaaaaand!"

Belum sempat England berbalik ke arah suara itu, sosok kecil berambut pirang menubruknya di pinggang, membuatnya jatuh terjengkang. "B-Bloody hell…"

"England, aku kangen! Kayaknya udah lama banget sejak kamu terakhir kali ngunjungin aku! Eh, eh, kamu bawa oleh-oleh nggak? Boneka prajurit yang kamu kasih waktu itu lucu banget loh!" Bocah pirang dengan sehelai rambut mencuat itu, America, mengoceh berapi-api sambil menduduki pinggang Motherland-nya yang tepar. England mengangkat tangannya untuk facepalm, bagian belakang kepalanya terasa senut-senut setelah menghantam tanah dengan kejam. Ternyata walaupun pelabuhan dan kotanya sudah berkembang, personifikasi negaranya masih tetap saja polos dan kekanak-kanakan. Namun... bukankah justru itu alasannya menyayangi koloninya yang satu ini?

"America, kau berat…" England berusaha keras untuk tersenyum walaupun hasil akhirnya lebih mirip meringis. Sejak kapan America jadi seberat ini…?

America menggembungkan pipinya—gesture yang cukup membuat darah England naik ke wajahnya dan fungsi 'dere' nya menyala—lalu mulai merajuk. "Tapi Englaaaand! Aku kan kangen… kamu ke mana aja sih? Selama kamu pergi, aku cuma bisa main sama si bison nih!" Dia mengayunkan tangan kecilnya untuk memperagakan dirinya main putar-putaran sama bison sahabatnya. England sudah membuka mulutnya hendak berkomentar ketika salah satu tangan America tanpa sengaja menyenggol perutnya, tepat di luka bekas pertempurannya dengan Spain yang belum kering. Mata hijau England melebar.

"AKKH!"

America berhenti bergerak, menatap ngeri England yang mencengkeram perutnya sambil mendesis kesakitan. Negara muda itu berdiri dan langsung berlutut di samping Motherland-nya, ekspresinya diwarnai kekhawatiran.

"E-England? Kamu nggak apa-apa kan? Kamu…" Mata safir cerah itu membelalak melihat titik-titik berwarna merah mulai menembus kaus putih England.

"England… kamu terluka?"

Walaupun dilanda rasa sakit, England panik juga melihat wajah America dipenuhi kengerian dan bibirnya mulai bergetar.

"E..eehhh b-b-bukan...erm maksudnya aku memang luka, tapi nggak parah kok, beneran! Sekarang udah nggak sakit lagi kok! W-Wagh, jangan nangis, America!" England benar-benar sudah melupakan rasa sakitnya begitu melihat America menunduk dan gemetar, tampak sangat menyesal.

"Ehhh nanti malem aku masakin scone yang banyak deh, ya? Terus… errr aku suapin deh. Pokoknya jangan nangis ya America, please?" bujuk England putus asa, mengeluarkan segala macam jurus gentleman-nya.

"Pfffttt…"

England cengok saat America mengangkat kepalanya, menunjukkan bukannya air mata melainkan cengiran lebar.

"Hahaha England tertipu! Aku nggak nangis kok! Weeek~" America tertawa terbahak-bahak menyaksikan ekspresi England yang membatu. Alis pemuda British yang kelewat tebal itu mulai bergerak-gerak. Jadi, dari tadi dia dikerjain nih? America (nya) yang manis, polos, dan so sweet itu... siapa yang ngajarin sampai jadi jail kayak gini, hah!

America masih saja terkekeh, membuat England harus berjuang keras mengontrol kedongkolannya yang sudah sampai kerongkongan.

"Hahahaha! Aku tahu kok, kalau luka di perut itu terjadi saat seorang...umm apa itu namanya...ah ya! Saat seorang uke me...me...melahirkan!"

England hanya menatapnya bengong, rahangnya sudah hampir jatuh ke tanah. Teori absurd begitu siapa yang…

"Matthew yang mengajariku, katanya dia diajari sama paman France. Wah, berarti England seorang uke dong? Dan baru saja melahirkan? Wah keren!" America nyerocos riang, sementara ekspresi England makin lama makin membatu, sebelum akhirnya memancarkan aura membunuh.

France kodok goblokkkkk! Ke neraka aja lo!


"Hachih! Ha—CHIH!" Di rumah Spain, France bersin-bersin hebat.

"Buset dah Francis! Kalo mau nyebarin virus jangan di sini!" bentak Prussia, mengangkat buku 'The Awesome Way to Hide Frying Pans - For Dummies' yang tengah dibacanya untuk melindunginya dari serangan liur France. Mereka sedang duduk-duduk di ruang tamu, karena Romano ngotot tidak memperbolehkan France berada di ruangan yang sama dengan Spain. Walaupun dalam hati Prussia mengakui bahwa keputusan Romano itu didasari alasan yang cukup awesome, tetap saja dia agak sebal harus menemani France sekaligus mencegahnya meraep furnitur(?) atau kura-kura Spain.

Kini, Nation yang terkenal oleh kemesumannya itu tengah mengelap ingusnya dengan sapu tangan polkadot pinknya yang norak, mengibaskan rambut pirangnya yang berkilauan. "Yahhh… Wajar aja sih kalau abang Francis yang fabulous ini banyak yang nggosipin..."

"Adanya juga banyak yang ngutuk," komentar Prussia yang langsung membuat France pundung di pojokan.

CIP! CIP! CIP!

"Gilbird!" Prussia berseru senang, melemparkan bukunya begitu saja untuk membuka jendela dan membiarkan burung peliharaannya memasuki kamar. Dia mengambil surat dari paruh Gilbird, melihat sekilas amplopnya yang berstempel lambang keluarga Habsburg.

"Dari Autriche?" France mengintip dari balik bahu Prussia, ekspresinya menyiratkan keingintahuan.

"Bukan, dari Spain. Ya iyalah dari Austria, siapa lagi yang bakal pakai stempel keluarga Habsburg kalo bukan mereka berdua?" Prussia berkomentar sinis sambil membuka amplop berkelas itu dan membaca surat balasan Austria—yang untungnya tidak ditulis dalam not-not musik.

"Kepada Prussia.

Aku mengerti, akan kuusahakan. Untuk sementara aku sudah menyebarkan rumor bahwa keributan yang kita dengar empat bulan terakhir di sekitar British Isles itu Hong Kong yang mengadakan uji coba petasan, tapi aku tidak tahu sampai kapan berita palsu ini akan bertahan. Oh ya satu hal lagi. Rumor beredar bahwa sedang ada wabah tipus dan disentri merebak di sekitar Eropa Utara. Aku tidak yakin apakah England juga terkena tapi kalau ternyata iya, kalian tidak perlu takut dia akan menyerang dalam waktu dekat dan bisa berkonsentrasi memulihkan Spain. Sejujurnya, aku juga ingin pergi ke sana menjenguk Spain. Tapi dengan berbagai macam pertimbangan, mungkin sebaiknya aku di sini saja memantau keadaan. Lagipula, aku harus mempersiapkan konser untuk bulan Desember. Hungary titip salam untuk Spain dan South Italy. Semoga beruntung.

- Dalam nama musik, Kaisertum Österreich

P.S: Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Spain, aku akan memainkan Chopin di hari pemakamanmu. "

Prussia terkekeh. Dasar Austria, ngancem kok nggak awesome gitu. Dia melipat surat dari aristokrat itu lalu memasukkannya ke dalam saku jubahnya.

"Duhh Gil! Cepet amat sih bacanya! Abang belum selesai baca nih! Si Autriche bilang apa? Eike boleh ngawinin dia?"

"Nggak, dia bilang kamu boleh nge-raep Antonio." Prussia menjawab asal, tidak berpikir akan dampak yang mungkin dihasilkannya di masa depan.

"Yay! Aku datang, Toni-chan!" France langsung berlari menuju kamar calon korbannya, menebarkan hawa kenafsuan sepanjang jalan.

Prussia terdiam sejenak tanpa kata, pelan-pelan menyadari kesalahan fatal yang baru saja dilakukannya. Sedetik kemudian dia langsung berlari mengejar rekannya, mengikuti jejak pakaian yang bertebaran di sepanjang jalan sambil berteriak putus asa.

"Oi France! Kamu nggak ngerti arti sinisme ya? Dasar nggak awesome!"


England menghela napas berat, memotong-motong kentang menyiapkan makan malam. Tadi dia menghabiskan hampir sejam berusaha membersihkan otak America yang tercemari ajaran sesat France, dan setelah inipun masih ada Canada. Memikirkannya saja sudah membuat kepalanya pusing dan perutnya bergolak.

"Ouch!" England refleks memasukkan ibu jarinya yang teriris ke mulutnya, berusaha menghentikan darahnya. Lumayan dalam juga lukanya. Aneh, tidak biasanya dia seceroboh ini. Pemuda British itu meraba-raba laci mencari kain lap untuk membersihkan pisau yang berlumur darah. Alis tebalnya bertemu. Ini perasaannya saja, atau lacinya memang terlihat asimetris? Come to think of it, rasanya hari ini dapur America terasa lebih panas dari biasanya...

"England, kamu tadi teriak ya? Ada apa?"

England menoleh memandang koloninya yang melongok ke dalam dapur, kekhawatiran mewarnai wajahnya. Tunggu dulu...kenapa America bisa ada dua...atau tiga?

Belum sempat otaknya mencerna, rasa pening yang amat sangat tiba-tiba menyerang kepalanya. Dia sempat melihat ekspresi ketakutan di wajah America sebelum kegelapan menyambutnya.


"Nnggh..."

Romano tersentak dari lamunannya, mata hazel-nya langsung terpancang pada Oyabun-nya yang terbaring di ranjang, sebagian besar lukanya sudah dibalut perban.

"Spain?" bisiknya penuh harap. Jangan-jangan Spain akhirnya tersadar? Tidak… mata hijaunya masih tertutup rapat, namun ekspresinya tampak tersiksa. Kepalanya menoleh ke sana kemari, keringat mengaliri dahinya. Bibirnya bergetar, mengeluarkan bisikan serak.

"L-Lovi...jangan Lovi..."

Romano terkesiap. Mimpi buruk?

"Jangan...tolong jangan Lovi... Ambil aku, bunuh saja aku... Tapi jangan sentuh Lovi... Por favor... Apapun selain Lovi..." Spain terus mengigau, suaranya berikut sekujur tubuhnya gemetar, tampak sangat ketakutan.

Romano merasakan tenggorokannya sesak. Dia meraih tangan Spain—yang ternyata suhunya beberapa derajat di atas rata-rata—dan menggenggamnya sekuat tenaga. "Bodoh... Aku di sini, Antonio..." bisiknya di telinga caretaker-nya, wajahnya memerah begitu nama asli Spain yang dia pernah sumpah sampai matipun tidak akan pernah diucapkannya akhirnya meluncur keluar dari mulutnya.

Wajah Spain berangsur-angsur mulai menenang, napasnya yang tadinya putus-putus mulai lebih teratur. Tapi mimpinya, apapun itu, sepertinya masih menghantuinya.

"Lovi... 'ku sayang... Lovi..."

Romano merasakan seolah darahnya berkumpul di pipinya. Masih menggenggam tangan Spain, dia perlahan beringsut naik ke atas tempat tidur, memposisikan wajahnya tepat di atas wajah Nation yang diam-diam disayanginya itu.

"A-Aku juga, bodoh..."

Masih memerah, dia menurunkan wajahnya perlahan-lahan, merasakan napas Spain di bibirnya. Panas… apakah Spain sedikit demam? Dia juga tampak terengah-engah… jangan-jangan dia butuh, apa namanya itu, napas buatan? Romano menggigit bibirnya, kepalanya terasa mau meledak karena emosi yang bertubi-tubi. K-Kalau cuma napas buatan sih… dia juga bisa…

"Yo Toni-chaaan! Datanglah ke pelukan abaaaaaaang~ Eh, Romano? Kamu… jangan-jangan…"

Jujur, seumur hidupnya Romano belum pernah merasa sebegitu geramnya sampai ingin memutilasi orang. Atau lebih tepatnya seorang Frenchman kelebihan hormon yang tengah berdiri telanjang di depan pintu kamarnya.

"WINE-BASTAAAAARD! SIAP-SIAP AJA KEHILANGAN MATA DAN NYAWAAAA!"

Beberapa detik kemudian, France sudah berlari-lari telanjang di koridor rumah Spain, Romano mengejar berapi-api di belakangnya sambil mengayun-ayunkan kapak perang. Prussia mengawasi adegan abnormal itu sejenak, menelan ludah, lalu kembali membaca bukunya sambil bersiul-siul seolah tidak terjadi apa-apa.

Sementara itu di kamar yang tadi mereka ditinggalkan, mata hijau toska itu mulai terbuka perlahan.

"Lovi…?"


America menatap termometer di tangannya, alis matanya yang untungnya cukup normal berkerut dalam kekalutan.

39.8.

"Kok bisa jadi begini sih, England? Kamu kebanyakan makan scone sih..." Nation muda itu bergumam perlahan seraya mencelupkan handuk ke dalam baskom air dingin lalu memerasnya, kemudian menaruhnya di dahi England yang panas. Dia menatap Motherland yang membesarkannya itu, Nation tempat dia bergantung, tempat dia berlindung, tempat dunianya berputar, yang sekarang terbaring lemah di ranjang dikalahkan oleh demam.

"Hhh... S-sconeku nggak salah apa-apa... Ka-kayaknya sih aku kena...wabah..." England berkata tersengal, seolah setiap tarikan napas dilakukannya dengan susah payah. "M-Mungkin ini tipus... atau disentri... atau dua-duanya...uhuk!" Wajah England mendadak memucat dan dia mencengkeram perutnya. America dengan tanggap langsung menyambar baskom logam besar dan menaruhnya di bawah dagu England, mengernyit sedikit ketika Nation sakit itu memuntahkan isi perutnya ke dalam baskom.

"M-Makasih..." England berbisik, nyaris tidak punya tenaga untuk berbicara. America tersenyum maklum sambil menyingkirkan baskom penuh muntahan itu di bawah tempat tidur, mata birunya tidak melepaskan pandangan dari Motherland-nya yang kini terbaring tak berdaya, pucat dan terengah-engah. America merasakan sesuatu terbangun dari dalam dirinya, hasrat yang kuat untuk melindungi seseorang yang berharga.

" K-kamu... jangan deket-deket aku dulu America...nanti ketularan..." England berkata lemah, mengangkat tangannya untuk mengelus pipi koloninya itu. Di luar dugaan, America malah menangkap tangannya di tengah udara lalu menggenggamnya dengan kedua tangan kecilnya. Mata birunya yang biasanya teduh kini dipenuhi tekad.

"Aku sudah memutuskan. Mulai sekarang, aku akan jadi hero yang melindungi England!"

-tbc


A/N: Ahhh Oyabun, mengapa saya tidak bisa berhenti menyiksa dirimu? Salahkan tampangmu yang menawan, sejarahmu yang kelam, kondisimu yang dibebani kemiskinan... -lari menghindari lemparan banteng- Ohhh Igirisu, mengapa… -tepar dijejelin scone duluan-
Gomen ya baru update sekarang *kluk* Seminggu kemarin saya stress final exam sama report yang nggak ada habisnya *diteriakin "Woii jangan curcol!"* Emmm dan walaupun terus terang saya kurang pede nulis pairing ini, akhirnya USUK-nya jadi juga, walaupun gaje. Nggak tahu kenapa, saya rada susah dapet feel-nya karakter America *dihajar fans US* Jadi kalo ada yang aneh ato berpotensi jadi plothole (lagi) ato bahkan OOC, jangan ragu-ragu ngasih tahu saya ya…

Omake (Warning: masih ada France)

Spain: *ngigau* Nghh...L-Lovi...jangan Lovi...

Romano: *menggenggam tangan Spain, khawatir* A-Aku di sini, bodoh...

Spain: Ngg ke kanan dikit dong Lovi...kalau tidak nanti hasilnya tidak memuaskan kita berdua...

Romano: *cengok* Hah?

Spain: *masih ngigau* Lubangnya kan di situ tuh...dimasukin yang bener ya... Perlu aku kasih contoh?

Romano: *blushing, darahnya mulai naik sampe ubun-ubun* Sp-Spain bego! Seenaknya jadiin aku objek mimpi mesummu! Makanya kan aku bilang jangan keseringan hang out sama si France bas...!

Spain: *masih aja ngigau* ...terus tanahnya diratain, dan jangan lupa disiram setiap sore ya... Bulan depan sudah siap dipanen…

Romano: *cengok, blushing, membuang muka* Mi-Mimpi nanem tomat toh...

France: *nepuk-nepuk punggung Romano, nyengir* Sekarang siapa coba yang mesum?

Nggak tahu ah. Perasaan makin lama makin gaje… *headdesk* Kritik, saran, maupun komen lewat akan sangat membantu Author memulihkan diri dari sindrom post-exam yang nggak sembuh-sembuh ini *dilempar ember*

Sneak peek for the next chapter:

"Kurasa ini yang mereka sebut 'calm before the storm'."

"B-Bodoh! Spain bodoh!"

"Tapi England, kau belum sembuh benar!"

"Balas dendam katamu? Seharusnya aku yang bilang begitu, Inglaterra..."

"America, you git! Jangan mendekat!"

Stay tuned for the next (and last) chapter :)

-Ryokiku